7cloud.asia – Sejak banjir bandang dan tanah longsor terjadi pada Rabu (26/11/2025), hingga Sabtu (20/12/2025) atau tiga pekan pascabanjir, aliran listrik di Sekerak Kiri, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, belum kembali menyala.
Kondisi tersebut membuat warga yang berada di pengungsian dan tenda darurat kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari mengisi daya handphone, memasak nasi, menonton televisi, hingga menyalakan lampu pada malam hari.
Aceh Tamiang merupakan salah satu daerah yang paling parah merasakan dampak banjir Sumatera.
Bantuan Penerangan dari Donasi Pembaca Tim Kompas.com menyalurkan bantuan dari donasi pembaca Kompas.com kepada korban bencana Aceh Tamiang berupa genset, sembako, lampu solar cell, alat ibadah, buah-buahan, alas tikar, susu, pampers, hingga pakaian.
Sebelumnya, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa Aceh Tamiang merupakan salah satu wilayah yang masih dalam tahap pemulihan sistem kelistrikan pascabencana.
Kondisi tersebut menyebabkan pasokan listrik belum stabil sehingga dilakukan pemadaman secara bergantian.
“Dalam pemulihan sistem interkoneksi kelistrikan Aceh, masih diperlukan manajemen beban untuk mengatur nyala dan padam secara bergantian sesuai tahapan pemulihan,” ujarnya kepada Kompas.com, dikutip Rabu (17/12/2025).
Ia memastikan PLN terus berupaya mempercepat pemulihan sistem kelistrikan di Aceh di tengah medan yang berat.
Pada sejumlah wilayah, termasuk Aceh Tamiang, pasokan listrik sementara disuplai melalui pembangkit diesel PLN dan diprioritaskan untuk fasilitas layanan umum seperti rumah sakit, PDAM, serta perkantoran publik.
Sekretaris Desa Sekerak Kiri, Abdul Gofur, mengatakan warga terpaksa mengandalkan lampu minyak atau lilin setiap malam karena belum ada penerangan listrik.
“Sampai hari ini belum ada penerangan. Warga kami pakai tisu campur minyak sayur atau lampu pakai minyak,” ujar Abdul Gofur usai menerima bantuan pembaca Kompas.com di Sekerak Kiri, Sabtu (20/12/2025).
Menurut dia, bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah penerangan, seperti genset dan lampu tenaga surya. Selain itu, warga juga membutuhkan kelambu karena jumlah nyamuk meningkat drastis pascabanjir.
“Kami butuh penerangan tapi yang perlu warga setelah banjir butuh kelambu karena nyamuk luar biasa, butuh selimut, alas tikar, bantal,” kata dia.
Abdul Gofur mengungkapkan terima kasihnya atas bantuan Kompas.com yang sudah memberikan bantuan genset, sembako, lampu solar cell yang sangat bermanfaat untuk mereka
Hal senada disampaikan Kepala Desa Tanjung Mancang, Tengku Saipul Bahri. Ia menyebut warga di desanya juga sangat membutuhkan genset karena listrik masih padam sejak banjir.
“Alhamdulillah ini sangat dibutuhkan seperti logistik, penerangan dan alat ibadah yang digunakan untuk salat sangat kami butuhkan,” kata Saipul.
Krisis Air Bersih dan Biaya Tinggi
Selain listrik, Saipul mengungkapkan bahwa wilayahnya juga menghadapi krisis air bersih. Hingga tiga pekan pascabencana, pasokan air belum pulih dan pihak desa masih mencari donasi untuk pengeboran sumur.
“Listrik belum merata, air sedang berusaha untuk donator pengeboran memang harga air dari Sibaulangit mahal Rp 2,8 juta satu tangki untuk satu dusun, ada lima dusun berarti lima tangki,” ucap dia.
Warga Dusun Baru, Sekerak Kiri, Aris, mengaku terharu saat menerima bantuan genset dan lampu tenaga surya dari donasi pembaca Kompas.com. Pasalnya, listrik di wilayah tersebut masih padam hingga kini.
“Alhamdulillah sangat terbantu, tadi ada penerangan terasa hampir tertegun, senang ada lampu tadi membawa kita semangat kembali,” kata Aris.
Ia menyebut selama ini warga hanya mengandalkan lampu minyak atau lilin setiap malam. Menurutnya, listrik kemungkinan baru kembali menyala dalam waktu lama karena banyak instalasi kabel yang rusak parah akibat banjir.
“Listrik belum menyala karena instalasi rusak parah, mungkin lama menyala sebulan belum tentu,” ujar dia. Selain penerangan, warga masih membutuhkan kelambu dan tempat tinggal yang layak.

Leave a Reply