Tag: penyakit

  • Studi Ungkap Perubahan Iklim Mendorong Penyebaran Penyakit Menular

    Studi Ungkap Perubahan Iklim Mendorong Penyebaran Penyakit Menular

    7cloud.asia – Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi penyebaran berbagai penyakit menular.

    Sebuah peta interaktif yang dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Hawaiʻi di Mānoa merangkum dampak berbagai bahaya iklim terhadap penularan beberapa penyakit pada manusia.

    Berikut ulasan Joshua Hadi sebagaimana dilansir dari Earth.org

    Penyakit yang ditularkan melalui vektor
    Faktor utama yang mendorong penyebaran penyakit menular terkait perubahan iklim adalah perubahan ketersediaan vektor dan daya infeksi.

    Karena vektor adalah hewan berdarah dingin (ektotermik), kelimpahan vektor, kelangsungan hidup, dan aktivitas makan diperkirakan meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Begitu pula laju perkembangan patogen dalam vektor ini (inkubasi ekstrinsik).

    Oleh karena itu, karena perubahan iklim global yang berlangsung cepat khususnya suhu permukaan global, beberapa penyakit akan berpindah atau berkembang ke wilayah geografis berbeda di seluruh dunia.

    Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran penyakit demam berdarah

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa distribusi malaria bergeser ke daerah yang lebih tinggi di Etiopia dan Kolombia pada tahun-tahun yang lebih hangat.

    Contoh lain adalah pengaruh suhu, curah hujan, kelembaban relatif dan angin pada nyamuk vektor yang mampu menularkan virus West Nile, dengan peristiwa iklim spesifik yang terkait dengan infeksi virus West Nile telah diamati di Eropa/Eurasia, Amerika Utara dan Amerika Selatan.

    Nyamuk Aedes albopictus, vektor virus chikungunya dan dengue, juga telah ditemukan di 13 negara Uni Eropa/Wilayah Ekonomi Eropa pada tahun 2023 – meningkat dari delapan negara pada tahun 2013.

    Sebuah studi terpisah memperkirakan penyebaran dengue ke negara-negara yang saat ini dianggap berisiko rendah atau bebas dengue, dengan perkiraan 2,25 miliar lebih orang berisiko terkena dengue pada tahun 2080 dibandingkan dengan tahun 2015.

    Secara keseluruhan, studi-studi ini menyoroti dampak besar perubahan iklim terhadap penyebaran penyakit menular yang ditularkan melalui vektor.

    Namun demikian, hubungan antara efek iklim dan penyakit yang ditularkan melalui vektor bersifat multifaktorial, karenanya tidak ada faktor tunggal yang dapat digunakan untuk memprediksi kejadian penyakit secara akurat.

    Baca: Dampak nyata perubahan iklim terhadap kesehatan manusia

    Faktor lain yang terkait dengan interaksi antara manusia, vektor dan lingkungan juga harus dipertimbangkan.

    Penyakit zoonosis
    Selain penyakit yang ditularkan melalui vektor, peristiwa iklim juga dapat menyebabkan meluasnya penyakit zoonosis.

    Secara khusus, variasi musiman yang ekstrem dalam suhu atau curah hujan dapat menyebabkan peningkatan sementara dalam ketersediaan pasokan makanan untuk hewan reservoir tertentu, yang mengakibatkan ledakan populasi.

    Hal ini telah dibuktikan dalam epidemi Hantavirus di Amerika Serikat bagian barat daya, di mana kondisi iklim menyebabkan peningkatan 10 kali lipat dalam populasi tikus pembawa penyakit yang terkait dengan ketersediaan makanan dan pengurangan jumlah predator.

    Wabah Hantavirus pada paru-paru atau jantung-paru lainnya di Panama atau Amerika Serikat, masing-masing, juga dikaitkan dengan meningkatnya paparan manusia terhadap inang reservoir hewan pengerat sebagai akibat dari curah hujan yang luar biasa lebat.

    Baca: Bahaya resistensi terhadap antibiotik pada kesehatan

    Di Australia, migrasi kelelawar terbang hitam yang terkait dengan perubahan iklim, reservoir utama virus Hendra, telah diidentifikasi sebagai kemungkinan penyebab terjadinya peristiwa limpasan pada populasi kuda selatan yang mengakibatkan infeksi pada manusia.

    Penyakit yang ditularkan melalui air
    Peristiwa cuaca ekstrem yang terkait dengan perubahan iklim meliputi meningkatnya prevalensi siklon yang dahsyat, gelombang badai, dan banjir.

    Peristiwa iklim ini memfasilitasi penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air dengan memobilisasi patogen di lingkungan dan membahayakan sistem pengelolaan air limbah.

    Secara khusus, negara-negara yang rentan terhadap iklim rentan terhadap wabah penyakit selama cuaca ekstrem, terutama karena kurangnya air bersih untuk minum dan mencuci.

    Hal ini dilaporkan terjadi pada penyakit kolera, diare pada bayi, pneumonia, demam berdarah, dan malaria di Bangladesh. Epidemi kolera juga telah dilaporkan di Afrika Timur akibat El Niño Selatan Osilasi 2015-2016.

    Baca: Penyakit leptospirosis yang sering menjangkiti warga korban banjir

    Studi lain yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Columbia menunjukkan bahwa siklon tropis di AS antara tahun 1996 dan 2018 dikaitkan dengan peningkatan infeksi Escherichia coli penghasil racun Shiga, penyakit Legionnaires, dan Cryptosporidiosis.

    Wabah leptospirosis global juga dikaitkan dengan banjir dan hujan lebat.

    Meningkatnya suhu laut juga menyediakan kondisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan bakteri.

    Kekhawatiran utama adalah penyebaran Vibrio cholerae akibat perubahan iklim, spesies bakteri yang dapat menyebabkan pandemi kolera.

    Viabilitas, pertumbuhan dan kelangsungan hidup V. cholerae serta interaksinya dengan inang hewan copepoda meningkat seiring dengan pemanasan lingkungan payau dan laut.

    Di Denmark, sebuah penelitian menunjukkan korelasi antara infeksi Vibrio dan Shewanella dengan suhu musim panas pesisir.

    Selain itu, patogenisitas beberapa bakteri yang ditularkan melalui air, seperti Shigella, V. cholera, dan Salmonella, diatur oleh suhu, biasanya meningkat pada suhu tinggi (terutama sekitar 37C).

  • Tidak Hanya Leptospirosis, Berikut Sejumlah Penyakit yang Sering Muncul Pasca Banjir

    Tidak Hanya Leptospirosis, Berikut Sejumlah Penyakit yang Sering Muncul Pasca Banjir

    7cloud.asia – Banjir yang melanda sejumlah wilayah Jakarta pada Senin (3/3/2025) dini hari telah surut pada Rabu (5/3/2025) malam.

    Namun, warga Jakarta yang terdampak banjir diminta untuk mewaspadai sederet penyakit baik kesehatan fisik maupun trauma mental setelah menghadapi bencana banjir yang cukup besar ini.

    Dokter Puskesmas Kramat Jati dr. Rachmat Aminullah mengatakan sejumlah penyakit yang paling sering muncul pascabanjir adalah gatal-gatal, trauma fisik, dan infeksi.

    “Yang paling banyak itu memang keluhan gatal-gatal, atau kita sering menyebutnya leptospirosis yang ditularkan oleh tikus atau hewan lain bisa terjadi. Gejalanya meliputi demam, dan nyeri di betis atau mata,” katanya dikutip Antaranews.com Jumat (8/3/2025)

    Tidak hanya leptospirosis, kondisi trauma karena terkena pecahan dan luka yang disebabkan dalam air, diare serta infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) juga jadi sejumlah penyakit yang timbul di saat bencana.

    “Kalau korban mengalami gejala-gejala, harus segera memeriksakan ke posko tanggap darurat terdekat untuk ditangani. Kita tidak boleh menganggap enteng penyakit yang kita rasakan,” tegasnya.

    Baca: Leptospirosis, penyakit yang sering menjangkiti korban banjir

    Lebih lanjut, psikolog klinis di Puskesmas Kramat Jati Marina Nurrahmani menjelaskan bahwa tidak semua orang yang mengalami bencana banjir akan terkena trauma.

    “Kebanyakan orang hanya mengalami stres, karena situasi yang tidak nyaman dan penuh ketidakpastian. dan itu wajar,” kata Marina.

    Namun, ia menekankan pentingnya mengelola stres dengan memenuhi kebutuhan fisik dan emosional, seperti makan dengan baik, cukup tidur, dan melakukan aktivitas fisik secara teratur.

    “Jika stres berlanjut bahkan setelah situasi membaik, bisa jadi itu trauma,” tambahnya.

    Marina juga menyarankan agar korban banjir mencari dukungan dari keluarga, teman, atau profesional jika merasa sangat tertekan.

    Baca: 11 Penyakit ini sering menjangkiti korban banjir

    Dengan ketinggian air lebih dari tiga meter, tenaga sanitasi Puskesmas Kramat Jati Ressa Chintiastuty mengatakan kualitas air bersih menjadi masalah utama pascabanjir.

    “Kalau sumber air juga ikut terendam banjir maka air kemasan pabrik jadi solusi paling aman. Air isi ulang juga bisa digunakan, tetapi pastikan tidak terdampak banjir dan sebaiknya dimasak dulu,” ujarnya.

    Untuk langkah pasca terjadinya banjir, Ressa menyarankan barang-barang yang sulit kering untuk diganti secara permanen.

    “Barang-barang yang sulit kering total itu saya sarankan memang harus diganti total, karena kita enggak bisa memastikan setelah dibersihkan dia itu sudah bebas dari kuman dan bakteri,” ungkapnya.

    Ressa juga menyarankan penggunaan hidrogen peroksida atau cairan disinfektan untuk membersihkan rumah, agar seluruh sisi ruangan benar-benar tersanitasi.

  • Mengenal Pneumonia: Penyakit yang Menyebabkan Meninggalnya Dua Artis Top Dunia

    Mengenal Pneumonia: Penyakit yang Menyebabkan Meninggalnya Dua Artis Top Dunia

    7cloud.asia – Pneumonia atau radang paru-paru disebut-sebut sebagai penyebab meninggalnya aktor senior Val Kilmer dan aktris terkenal Barbie Hsu beberapa waktu lalu

    Val Kilmer mengalami komplikasi kesehatan yang memicu pneumonia setelah sebelumnya berjuang melawan kanker tenggorokan yang didiagnosis pada 2014.

    Sementara, Barbie Hsu, pemeran Shan Cai dalam serial drama Meteor Garden, meninggal dunia pada usia 48 tahun karena pneumonia yang dipicu influenza setelah liburan di Jepang bersama keluarganya.

    Mungkin Anda bertanya-tanya apa itu penyakit pneumonia dan mengapa penyakit ini bisa menyebabkan kematian?

    Dikutip dari laman pacehospital dan ourworlddindata.org, pneumonia adalah infeksi paru-paru yang menyebabkan peradangan pada kantung udara kecil di paru-paru (alveoli)

    Baca: Vaksinasi untuk cegah Mycoplasma pneumonia pada anak

    Pada pasien pneumonia, alveoli dapat terisi cairan atau nanah, sehingga mengganggu pertukaran oksigen sehingga mengakibatkan batuk, demam, dan kesulitan bernapas.

    Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Serta memiliki tingkat keparahannya bervariasi dari ringan hingga dapat menyebabkan kematian.

    Jumlah anak meninggal akibat pneumonia telah menurun selama tiga dekade terakhir. Pada 1990, lebih dari dua juta anak meninggal akibat pneumonia setiap tahun, angka ini menurun hampir dua pertiga pada 2019.

    Penurunan ini dipengaruhi beberapa faktor seperti gizi anak, polusi udara, hingga sanitasi yang buruk.

    Baca: Dampak kualitas udara pada kesehatan anak

    Penyakit pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai jenis patogen, seperti:

    Bakteri: Streptococcus pneumoniae adalah penyebab paling umum. Infeksi bakteri biasanya lebih serius dibandingkan jenis lainnya.

    Virus: seperti virus influenza, RSV (Respiratory Syncytial Virus), dan bahkan Covid-19 bisa jadi pemicu penyakit ini.

    Jamur: sering kali menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

    Dikutip dari mayoclinic, tanda dan gejala pneumonia bisa bervariasi dari ringan hingga berat, tergantung pada faktor-faktor seperti jenis kuman yang menyebabkan infeksi, usia, dan kondisi kesehatan.

    Tanda dan gejala pneumonia adalah sebagai berikut:
    Nyeri dada saat bernapas atau batuk
    Batuk, yang mungkin menghasilkan dahak
    Kelelahan
    Demam, berkeringat dan menggigil
    Mual, muntah atau diare
    Sesak napas
    Kebingungan atau perubahan kesadaran mental (pada orang dewasa berusia 65 tahun ke atas)
    Suhu tubuh lebih rendah dari normal (pada orang dewasa berusia lebih dari 65 tahun dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah)

     

  • Perhatikan Empat Gejala Penyakit Lupus Berikut Ini, Jika Mengalami Segera Periksa ke Dokter

    Perhatikan Empat Gejala Penyakit Lupus Berikut Ini, Jika Mengalami Segera Periksa ke Dokter

    7cloud.asia – Lupus atau penyakit autoimun kronis berupa peradangan yang terjadi di berbagai organ tubuh seperti ginjal, paru-paru, jantung, kulit, tulang, dan sendi.

    Lupus dapat mempengaruhi berbagai organ, seperti kulit, sendi, ginjal, sel darah, otak, jantung, dan paru-paru. Meskipun lupus tidak menular, faktor genetik dan lingkungan dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ini. 

    Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi dr. Anna Ariane, SpPD, K-R mengatakan, lupus sering dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” karena banyak gejalanya yang menyerupai penyakit lain.

    Menurut dokter yang berpraktik di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menjelaskan, apabila pasien mengalami minimal empat gejala penyakit autoimun lupus maka dianjurkan untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter.

    Baca: Penyakit lupus sudah dikenali sejak abad ke-13 

    “Apabila ketemu empat dari gejala-gejala lupus segera periksa sehingga harapannya bisa ditemukan lebih awal, sebelum muncul (gejalanya) sudah berat misalnya ke rumah sakit ternyata sudah gagal ginjal,” kata Anna dalam sesi diskusi yang digelar di Jakarta, Minggu (1/6/2025)

    Anne menyebutkan sejumlah gejala yang ditemui pada penderita lupus antara lain demam lebih dari 38 derajat celsius dengan sebab tidak jelas, rasa lelah berlebihan, sensitif terhadap sinar matahari.

    Selain itu juga munculnya ruam kemerahan yang melintang dari hidung ke pipi, ruam kemerahan di kulit, nyeri dada terutama saat menarik nafas panjang atau berbaring.

    Pasien lupus juga bisa merasakan gejala nyeri dan bengkak di persendian, ujung jari tangan dan kaki pucat hingga kebiruan saat udara dingin, rambut rontok, sariawan di atap rongga mulut, kejang, atau kelainan lain yang ditemukan oleh pemeriksaan laboratorium.

    Baca: Perubahan iklim picu penyebaran penyakit musiman

    “Menurut studi dari RSCM, keluhan paling banyak adalah arthritis yaitu nyeri sendi atau radang sendi sebesar 84 persen,” ucap Anne.

    Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Reumatologi Indonesia itu menekankan pentingnya pemeriksaan dini agar pasien segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Diagnosis lupus, kata dia, dilakukan berdasarkan keluhan yang dialami pasien, pemeriksaan dokter, maupun uji laboratorium.

    “Diagnosis lupus harus dilakukan oleh dokter yang pernah menemui dan menangani kasus lupus,” imbuh Anne.

  • Ada 21 Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan, Termasuk Kontrasepsi

    Ada 21 Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan, Termasuk Kontrasepsi

    7cloud.asia – Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, jaminan kesehatan adalah program yang diselenggarakan secara nasional dengan landasan prinsip asuransi sosial dan prinsip keadilan.

    Tujuan dari program BPJS Kesehatan tersebut adalah memastikan seluruh penduduk Indonesia mendapatkan manfaat perlindungan kesehatan dan pemeliharaan kesehatan.

    BPJS Kesehatan menjamin beberapa pelayanan kesehatan untuk peserta aktif Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), termasuk kondisi gawat darurat.

    Akan tetapi, tidak semua jenis penyakit dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan 2025. Menurut Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, terdapat 21 jenis penyakit dan layanan yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

    Berikut 21 penyakit dan layanan yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan 2025:
    1. Penyakit yang termasuk dalam wabah atau kejadian luar biasa (KLB).
    2. Perawatan yang berhubungan dengan kecantikan atau estetika, seperti operasi plastik.

    3. Perawatan ortodontik, seperti pemasangan behel.
    4. Penyakit akibat tindak pidana, seperti penganiayaan atau kekerasan seksual.

    5. Penyakit atau cedera yang disebabkan tindakan menyakiti diri sendiri dengan sengaja atau usaha bunuh diri.

    6. Penyakit akibat konsumsi alkohol atau ketergantungan obat.

    7. Pengobatan untuk mengatasi mandul atau infertilitas.

    8. Penyakit atau cedera yang disebabkan kejadian yang tidak dapat dicegah, seperti tawuran.
    9. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri.
    10. Pengobatan dan tindakan medis yang digolongkan sebagai percobaan atau eksperimen.

    11. Pengobatan komplementer, alternatif, dan tradisional yang belum dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan.

    12. Alat kontrasepsi.
    13 Perbekalan kesehatan rumah tangga.

    14. Pelayanan kesehatan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk rujukan atas permintaan sendiri dan layanan yang tidak sesuai regulasi.

    15. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar fasilitas yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, kecuali dalam keadaan darurat.

    16. Pelayanan kesehatan terhadap penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja maupun hubungan kerja yang sudah dijamin oleh program jaminan kecelakaan kerja atau menjadi tanggungan pemberi kerja.

    17. Pelayanan kesehatan yang dijamin oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas yang bersifat wajib sampai nilai yang ditanggung oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas sesuai hak kelas rawat peserta.

    18. Pelayanan kesehatan tertentu yang berkaitan dengan Kementerian Pertahanan, TNI, dan Polri.

    19. Pelayanan yang telah ditanggung program lain.

    20. Pelayanan kesehatan yang diadakan dalam rangka bakti sosial.

    21. Pelayanan lainnya yang tidak ada hubungan dengan manfaat jaminan kesehatan yang diberikan.

  • Polusi Membuat Sakit Warga di Daerah Tambang Nikel

    Polusi Membuat Sakit Warga di Daerah Tambang Nikel

    7cloud.asia – Industri dan pertambangan nikel kini menjadi “bintang utama” di era transisi menuju energi terbarukan.

    Pemerintah sedang tancap gas membangun smelter (pabrik pengolahan bijih nikel mentah menjadi logam nikel siap pakai), kawasan industri, serta berbagai pabrik turunan produk nikel, terutama di Sulawesi dan Maluku.

    Secara ekonomi, industri nikel tampak menjanjikan: investasi masuk, lapangan kerja terbuka, dan ekspor melonjak.

    Namun, di balik geliat hilirisasi nikel ini ada risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan yang menghantui pekerja dan masyarakat sekitar.

    Bayangkan, logam nikel yang bisa menggerakkan mobil listrik dan menopang energi terbarukan justru bisa memicu kanker paru-paru melalui udara.

    Baca: AS kaitkan nikel Indonesia dengan kerja paksa dan kerusakan lingkungan

    Tubuh manusia sebenarnya butuh nikel dalam jumlah sangat kecil, untuk mendukung fungsi enzim tertentu. Namun, paparan nikel terlalu tinggi bisa berubah menjadi racun mematikan, terutama yang terhirup dari udara.

    International Agency for Research on Cancer (IARC) dari WHO menggolongkan senyawa nikel tertentu sebagai zat karsinogenik yang berisiko menyebabkan kanker pada manusia.

    Riset menunjukkan bahwa para pekerja tambang dan penduduk di sekitar kawasan industri nikel lebih rentan terkena kanker saluran pernapasan, termasuk kanker paru-paru dan hidung.

    Zat ini tak terlihat. Ia menyelinap lewat debu industri, asap peleburan, bahkan air dan tanah yang tercemar. Dalam jangka panjang, paparan nikel bisa mengganggu fungsi paru, kulit, hingga ginjal.

    Karena itu, pemerintah dan industri harus transparan dalam mempublikasikan data lingkungan, termasuk hasil pemantauan kualitas udara, air, dan tanah secara rutin. Pemantauan kesehatan masyarakat di wilayah tambang pun menjadi sangat krusial.

    Baca: Tambang nikel pinggirkan nelayan tradisional di Sulawesi Tenggara

    Kendati nikel menjanjikan masa depan energi bersih, jangan sampai industrialisasi yang terburu-buru justru menciptakan “zona mati” baru.

    Masyarakat membutuhkan transisi energi yang bukan cuma ramah lingkungan, tapi juga ramah manusia dan berkeadilan

    Dalam edisi terbaru Ask the Expert, The Conversation berbincang dengan Sani Rachman Soleman, Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

    Sani menjelaskan bahwa masyarakat yang rentan terpapar nikel bukan cuma pekerja tambang, melainkan juga ibu hamil.

    Sebab, partikel nikel berukuran sangat kecil dari debu industri yang mengontaminasi udara, tanah, air, dan makanan, bisa masuk ke dalam tubuh, menembus plasenta, dan menyerang janin.

    Baca: Sisi gelap tambang nikel di Indonesia

    Nikel termasuk senyawa logam berat yang dapat memicu pencemaran. Kontaminasi nikel tidak hanya terjadi di udara tetapi juga di dalam tanah dan menyebabkan berbagai penyakit.

    Infeksi saluran pernafasan atasvatau ISPA menjadi keluhan yang paling sering ditemukan di daerah tambang.

    Kondisi lebih buruk, kontaminasi nikel dapat memicu bronchitis atau infeksi di paru-paru.

    “Kondisi terburuk, jika proses pelepasan nikel berinteraksi dengan senyawa lain dapat menyebabkan, nikel karbonil. Di mana nikel yang mengendap cukup lama di paru-paru bisa memicu kanker paru-paru atau kanker hidung,“ terang Sani

    Sementara nikel yang mencemari tanah dan kemudian mengontaminasi produk sayuran dan buah-buahan dapat memicu diare.

    Baca: Tambang nikel pinggirkan masyarakat adat

  • Kenali Lima Gejala Awal Diabetes

    Kenali Lima Gejala Awal Diabetes

    7cloud.asia – Diabetes menjadi salah satu penyakit tidak menular yang diwaspadai bahkan hingga tingkat global. Jumlah penderita diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun, baik karena faktor genetik maupun gaya hidup.

    Pada beberapa kasus, diabetes diawali dengan fase pradiabetes, fase transisi saat kadar gula darah lebih tinggi dari gula darah normal dengan kondisi kadar glukosa di antara 100-125 mg/dL

    Dengan kadar gula darah sebesar ini, maka belum cukup tinggi untuk memenuhi syarat diagnosis diabetes.

    Mengutip Times of India, Sabtu (16/8/2025) pemeriksaan rutin bisa membantu mendeteksinya namun beberapa orang juga mengalami kondisi pradiabetes dengan gejala-gejala keanehan pada tubuh.

    Sayangnya hal itu kerap diabaikan karena terkesan sebagai masalah kesehatan yang tidak serius.

    Berikut lima gejala peringatan pradiabetes yang bisa diwaspadai oleh seseorang apabila sering mengalaminya sehingga dapat dilakukan pencegahan dini agar penyakit ini tidak berubah menjadi penyakit yang lebih parah yakni diabetes.

    Meningkatnya rasa haus dan sering buang air kecil
    Salah satu tanda awal pradiabetes adalah rasa haus yang berlebihan dan dikenal dengan nama polidipsia.

    Kondisi ini menyebabkan seseorang merasa haus lebih sering meski sebenarnya hidrasinya telah cukup dan karena kondisi akhirnya seseorang jadi sering buang air kecil.

    Ketika kadang gula darah tinggi, ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyerap kelebihan glukosa dan menyebabkan lebih banyak cairan dikeluarkan dari tubuh. Ini akan terjadi berulang dan menjadi salah satu tanda yang perlu diawasi sebagai gejala dari pradiabetes.

    Kulit yang menggelap
    Gejala signifikan dari tubuh yang mengalami pradiabetes adalah menghitamnya kulit di beberapa area tertentu seperti ketiak dan belakang leher.

    Kondisi ini memiliki nama medis akantosis nigrikansa, kulit-kulit di daerah lipatan seperti leher, ketiak, dan selangkangan mungkin tampak gelap dan seperti beludru.

    Gejala ini tentu menjadi tanda yang mengkhawatirkan dan sebaiknya apabila mengalami ini ada baiknya seseorang dapat melakukan pemeriksaan kesehatan ke tenaga medis.

    Kelelahan
    Kelelahan tubuh yang berulang dan rasa tak memiliki energi dapat menjadi gejala peringatan dari pradiabetes.

    Ketika kondisi ini terjadi berulang besar kemungkinan tubuh tidak mampu menggunakan glukosa sebagai energi dan biasanya kelelahan yang dirasakan tidak hanya terjadi pada fisik tapi juga mental. Kelelahan kronis bisa berdampak negatif pada konsentrasi, suasana hati, dan produktivitas.

    Apabila kelelahan tidak dapat dijelaskan dan terjadi dalam waktu yang lama meski sudah beristirahat, cukup penting untuk segera melakukan pemeriksaan kadar glukosa dalam darah.

    Penglihatan kabur
    Kadar gula darah yang tinggi juga dapat memengaruhi penglihatan menjadi kabur. Gula darah tinggi dapat menyebabkan pergeseran cairan di lensa mata, menjadi penyebab pembengkakan dan akhirnya penglihatan menjadi kabur.

    Gejala ini bisa datang dan pergi dalam jangka waktu yang panjang, sehingga konsultasi dengan dokter menjadi penting sebelum pembuluh darah di retina rusak dan tidak berfungsi sepenuhnya.

    Kebas atau kesemutan pada kaki dan tangan
    Kerusakan saraf dapat terjadi akibat kadar gula yang tinggi dan dikenal dengan kondisi bernama neuropati.

    Kondisi ini biasanya menyebabkan seseorang sering mengalami kesemutan, kebas, atau mati rasa di tangan dan kakinya. Gejala ini menjadi salah satu tanda krusial penderita pradiabetes.

  • Sempat Dieliminasi pada 2024, Wabah Malaria Kembali Landa Parigi Moutong

    7cloud.asia – Setelah sempat dinyatakan eliminasi pada 2024, wabah malaria kembali melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah sehingga ditetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

    Melansir palu.tribunnews.com, Dinas Kesehatan Parigi Moutong mendeteksi sebanyak 168 kasus di lima kecamatan di wilayahnya.

    Lima kecamatan yang terdampak dan masuk dalam status KLB Malaria adalah Sausu, Moutong, Bolano Lambunu, Taopa, dan Kasimbar.

    Status KLB tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Parigi Moutong Nomor 300.2.2/809/BPBD tentang Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Non Alam KLB Malaria tahun 2025.

    Status KLB berlaku selama 30 hari dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan dan perkembangan situasi.

    Baca: Polusi dan suhu tinggi picu perkembangan nyamuk malaria

    Berdasarkan penyelidikan epidemiologi, sebagian besar kasus merupakan penularan lokal (indigenous). Sumber penularan awal diduga berasal dari pekerja tambang yang terinfeksi dari daerah lain, yaitu Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

    Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani mengatakan kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat dan daerah.

    “Situasi ini sangat mengkhawatirkan, karena menunjukkan lemahnya sistem kewaspadaan dini dan pengendalian vektor malaria. Jangan sampai capaian eliminasi malaria hanya bersifat sementara tanpa strategi keberlanjutan,” ujar Netty dalam keterangannya yang diterima Parlementaria di Jakarta, Kamis (4/9/2025).

    Netty mendesak pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan memperkuat koordinasi dalam penanganan KLB malaria ini,

    Hal itu mulai dari penyediaan logistik kesehatan seperti obat antimalaria, alat diagnostik cepat (RDT), hingga kelambu, serta memastikan distribusinya tepat sasaran di wilayah terjangkit.

    “Jangan sampai masyarakat di lima kecamatan terdampak kekurangan obat atau perlengkapan pencegahan. Negara harus hadir dengan cepat, karena kesehatan rakyat adalah prioritas utama,” tegasnya.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Netty juga menekankan pentingnya penguatan surveilans migrasi dan sistem pelaporan kesehatan di tingkat puskesmas. Hal ini, kata dia, penting mengingat penularan malaria di Parigi Moutong diduga dipicu oleh mobilitas pekerja dari daerah endemis.

    “Mobilitas masyarakat, termasuk pekerja tambang, harus diawasi dengan ketat melalui deteksi dini. Kita tidak boleh lengah, apalagi malaria bisa menyebar cepat di wilayah dengan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk,” ungkapnya.

    Netty menambahkan, intervensi lingkungan dan edukasi masyarakat harus menjadi bagian integral dari strategi pengendalian.

    Gerakan pembersihan sarang nyamuk, pengelolaan genangan air, serta sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat harus digencarkan. Keterlibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aparat desa sangat penting untuk mendorong partisipasi warga.

    Pemerintah pusat juga diminta menyiapkan strategi jangka panjang dalam mempertahankan status eliminasi malaria.

    “Ke depan, kita perlu memastikan kesiapsiagaan yang berkelanjutan, bukan sekadar mengatasi ledakan kasus sesaat. Ini termasuk memperkuat riset, memperluas edukasi, serta menyiapkan skema pembiayaan kesehatan yang memadai,” pungkasnya.

    Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran demam berdarah

  • Langkah Sederhana untuk Mencegah Terpapar ISPA

    Langkah Sederhana untuk Mencegah Terpapar ISPA

    7cloud.asia – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sering terjadi pada masa pergantian musim seperti saat ini.

    Data resmi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta (Dinkes DKI) mencatat, hingga Oktober 2025, total kasus ISPA mencapai 1.966.308. Peningkatan mulai terasa secara nyata sejak bulan Juli 2025.

    ISPA adalah infeksi yang menyerang sistem pernapasan bagian atas dan bawah, seperti hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

    Penyakit ISPA umum terjadi, disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur, dan dapat menimbulkan gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam.

    Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama menyampaikan langkah-langkah yang dapat dijalankan untuk mencegah terjangkitnya ISPA.

    Baca: Kasus ISPA melonjak tajam dalam tiga bulan terakhir

    Dilansir Antaranews.com, pada Selasa (21/10/2025) Tjandra menekankan pentingnya penerapan pola hidup sehat untuk mencegah gangguan kesehatan dan serangan penyakit.

    Selanjutnya Tjandra menyarankan penerapan CERDIK untuk menghindari terpapar ISPA.

    Langkah ini yang meliputi Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok dan hindari polusi udara, Rutin beraktivitas fisik, Diet bergizi seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres dengan baik.

    Lebih lanjut, Tjandra mengingatkan pentingnya membiasakan diri mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, antara lain sebelum dan sesudah makan serta setelah tangan bersentuhan dengan permukaan yang mungkin mengandung kuman.

    “Selanjutnya, bila ada yang sedang sakit ISPA atau flu, maka jangan menulari orang lain, antara lain dengan menggunakan masker dan beristirahat cukup,” katanya.

    Baca: Dampak polusi udara di Jakarta bagi pekerja

    Dia juga menyarankan vaksinasi, terutama bagi orang dalam kelompok rentan seperti orang lanjut usia, individu dengan daya tahan tubuh lemah, serta individu dengan komorbiditas.

    Vaksinasi influenza, Respiratory Syncytial Virus (RSV), dan pneumonia bisa membantu melindungi tubuh dari infeksi saluran pernafasan.

    Ketika ditanya mengenai kebutuhan suplemen vitamin untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap serangan flu, Prof. Tjandra mengatakan bahwa tidak ada suplemen vitamin khusus untuk keperluan itu.

    “Secara umum, kalau makanan cukup bergizi maka sudah baik. Kalau mau makan vitamin, makan multivitamin, baik-baik saja,” kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu.

  • WHO Paparkan Kasus Virus Nipah dalam Publikasi DONs

    WHO Paparkan Kasus Virus Nipah dalam Publikasi DONs

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membeberkan tujuh hal terkait temuan penularan virus nipah di Bengala Barat, India melalui sebuah publikasi “Disease Outbreak News (DONs).

    Seperti diketahui, pada 30 Januari 2026 dilaporkan kejadian infeksi virus nipah di Bengala Barat, India masuk dalam DONs WHO.

    Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan bahwa dua kasus virus nipah yang banyak diperbincangkan, diketahui memiliki jenis kelamin satu laki-laki dan satu perempuan dengan rentang usia 20-30 tahun.

    Keduanya bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta yang terletak di Barasat.

    Pasien-pasien itu ternyata sudah mulai menunjukkan gejala sakit berat pada akhir Desember 2025 dan dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2026.

    Baca: Cegah penyebaran virus nipah, Singapura perketat skrining bandara

    Setelah diketahui, pada 13 Januari 2026 keduanya terkonfirmasi terinfeksi virus nipah berdasarkan pemeriksaan di “India National Institute of Virology” kota Pune melalui pemeriksaan RT-PCR dan ELISA.

    “Waktu saya masih menjadi Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, memang reputasi The India National Institute of Virology selalu terpuji baik, dan akan bagus kalau kita di Indonesia juga punya institusi serupa,” katanya.

    Prof. Tjandra melanjutkan para perawat kemudian dirawat di rumah sakit sampai 21 Januari 2026. Pada kasus perawat perempuan, kondisinya diketahui masih kritis di ruang ICU dengan menggunakan alat ventilator, atau ventilasi mekanik.

    Sedangkan perawat laki-laki mengalami gangguan neurologik yang berat akibat virus nipah. Kondisinya dilaporkan terus membaik.

    Sampai laporan ini dikeluarkan, katanya, belum diketahui dari mana sumber penularan virus nipah yang mengenai ke dua perawat ini.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    “Dengan belum ditemukannya bagaimana dua orang perawat di India ini tertular maka tentu sumber penular awalnya belum diketahui sehingga penanganannya belum sepenuhnya tuntas,” ucap Tjandra.

    The Indian National Centre for Disease Control pada tanggal 27 Januari 2026 resmi mengumumkan bahwa sudah tidak ada lagi kasus terkonfirmasi lanjutan dari kejadian di Basarat-Bengala Barat, India.

    Adapun WHO menyampaikan bahwa risiko kesehatan masyarakat akibat kejadian infeksi virus nipah yang terjadi saat ini, masuk dalam kategori moderat di sub nasional India.

    “Tetapi WHO juga menyatakan bahwa risiko kesehatan masyarakatnya kini di regional adalah rendah dan di global juga rendah,” katanya.

    Tjandra juga menyampaikan bahwa WHO sudah memasukkan virus nipah sebagai patogen prioritas untuk mengakselerasi penemuan alat dan upaya penanganan (medical countermeasures/MCMs) sebagai kesiapan respon pada epidemi dan pandemi, yang merupakan bagian dari cetak biru penelitian dan pengembangan WHO untuk epidemi.