7cloud.asia – Industri dan pertambangan nikel kini menjadi “bintang utama” di era transisi menuju energi terbarukan.
Pemerintah sedang tancap gas membangun smelter (pabrik pengolahan bijih nikel mentah menjadi logam nikel siap pakai), kawasan industri, serta berbagai pabrik turunan produk nikel, terutama di Sulawesi dan Maluku.
Secara ekonomi, industri nikel tampak menjanjikan: investasi masuk, lapangan kerja terbuka, dan ekspor melonjak.
Namun, di balik geliat hilirisasi nikel ini ada risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan yang menghantui pekerja dan masyarakat sekitar.
Bayangkan, logam nikel yang bisa menggerakkan mobil listrik dan menopang energi terbarukan justru bisa memicu kanker paru-paru melalui udara.
Baca: AS kaitkan nikel Indonesia dengan kerja paksa dan kerusakan lingkungan
Tubuh manusia sebenarnya butuh nikel dalam jumlah sangat kecil, untuk mendukung fungsi enzim tertentu. Namun, paparan nikel terlalu tinggi bisa berubah menjadi racun mematikan, terutama yang terhirup dari udara.
International Agency for Research on Cancer (IARC) dari WHO menggolongkan senyawa nikel tertentu sebagai zat karsinogenik yang berisiko menyebabkan kanker pada manusia.
Riset menunjukkan bahwa para pekerja tambang dan penduduk di sekitar kawasan industri nikel lebih rentan terkena kanker saluran pernapasan, termasuk kanker paru-paru dan hidung.
Zat ini tak terlihat. Ia menyelinap lewat debu industri, asap peleburan, bahkan air dan tanah yang tercemar. Dalam jangka panjang, paparan nikel bisa mengganggu fungsi paru, kulit, hingga ginjal.
Karena itu, pemerintah dan industri harus transparan dalam mempublikasikan data lingkungan, termasuk hasil pemantauan kualitas udara, air, dan tanah secara rutin. Pemantauan kesehatan masyarakat di wilayah tambang pun menjadi sangat krusial.
Baca: Tambang nikel pinggirkan nelayan tradisional di Sulawesi Tenggara
Kendati nikel menjanjikan masa depan energi bersih, jangan sampai industrialisasi yang terburu-buru justru menciptakan “zona mati” baru.
Masyarakat membutuhkan transisi energi yang bukan cuma ramah lingkungan, tapi juga ramah manusia dan berkeadilan
Dalam edisi terbaru Ask the Expert, The Conversation berbincang dengan Sani Rachman Soleman, Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Sani menjelaskan bahwa masyarakat yang rentan terpapar nikel bukan cuma pekerja tambang, melainkan juga ibu hamil.
Sebab, partikel nikel berukuran sangat kecil dari debu industri yang mengontaminasi udara, tanah, air, dan makanan, bisa masuk ke dalam tubuh, menembus plasenta, dan menyerang janin.
Baca: Sisi gelap tambang nikel di Indonesia
Nikel termasuk senyawa logam berat yang dapat memicu pencemaran. Kontaminasi nikel tidak hanya terjadi di udara tetapi juga di dalam tanah dan menyebabkan berbagai penyakit.
Infeksi saluran pernafasan atasvatau ISPA menjadi keluhan yang paling sering ditemukan di daerah tambang.
Kondisi lebih buruk, kontaminasi nikel dapat memicu bronchitis atau infeksi di paru-paru.
“Kondisi terburuk, jika proses pelepasan nikel berinteraksi dengan senyawa lain dapat menyebabkan, nikel karbonil. Di mana nikel yang mengendap cukup lama di paru-paru bisa memicu kanker paru-paru atau kanker hidung,“ terang Sani
Sementara nikel yang mencemari tanah dan kemudian mengontaminasi produk sayuran dan buah-buahan dapat memicu diare.

Leave a Reply