Tag: perubahan iklim

  • CSO: Perubahan Iklim Harus Jadi Bahasan di WPS High Level ASEAN

    CSO: Perubahan Iklim Harus Jadi Bahasan di WPS High Level ASEAN

    7cloud.asia – Menyambut Forum Tingkat Tinggi Perempuan, Perdamaian dan Keamanan (WPS High Level) yang diikuti negara-negara ASEAN pada 5-7 Juli 2023 di Yogyakarta, sejumlah organisasi masyarakat sipil (CSO) menyampaikan sejumlah isu krusial beserta rekomendasi penanganannya.
     
    Rekomendasi CSO ini akan disampaikan dalam side event, 4-5 Juli di di Hotel Ambarukmo, Yogyakarta.
     
    CSO yang terdiri atas AMAN Indonesia, Migrant Care, The Working Group on Women and PCVE, Asia Pacific Partnership for Atrocity Prevention (APPAP), Southeast Asia Women Peacebuilders, Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA), Asia Democracy Network (ADN), dan Southeast Asia Network of Freedom Expression (SAFENet) mendorong negara-negara ASEAN berkomitmen menduplikasi dan mengaplikasikan Resolusi 1325 tentang perempuan, perdamaian dan keamanan yang selama ini telah dijalankan oleh Indonesia dan Filipina. 
     
    “Forum pertemuan negara-negara ASEAN ini penting untuk mendorong komitmen inklusi perempuan dalam menghadapi berbagai macam ancaman keamanan yang berhubungan dengan konflik kekerasan, dan ancaman-ancaman baru seperti perubahan iklim, ekstremisme kekerasan, migrasi, keamanan siber, krisis kemanusiaan seperti pandemi, dan kekerasan militerisme, yang berdampak pada keamanan dan kesejahteraan perempuan,” ujar Ruby Kholifah, Direktur The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia dalam media breafing melalui zoom, Senin (2/7 2023).
     
     
    Perubahan iklim menjadi salah satu isu yang disorot CSO terkait WPS High Level ASEAN. Perubahan iklim dinilai dapat menyebabkan konflik sumber daya yang intens, seperti persaingan atas air, tanah, dan sumber daya alam lainnya.
     
    Konflik yang dipicu perubahan iklim ini seringkali memicu ketegangan antara kelompok-kelompok yang bersaing, memperburuk konflik yang sudah ada, atau memicu konflik baru. Dan, dalam kondisi ini perempuan menjadi kelompok yang paling rentan.
     
    Karena itu terkait perubahan iklim ini, WPS High Level perlu merespon ; 
     
    1) Interseksionalitas dan Inklusi dalam pengalaman perempuan terhadap perubahan iklim tidak homogen, dan kerentanan mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berhubungan seperti ras, etnisitas, kelas, dan usia.
     
    2) memastikan keterlibatan perempuan dalam proses perumusan kebijakan, mengidentifikasi dan mengatasi ketidaksetaraan gender dalam akses terhadap sumber daya dan manfaat dari upaya penanggulangan perubahan iklim, serta mempromosikan solusi yang responsif gender dalam adaptasi terhadap perubahan iklim. 
     

     
    Sejumlah isu krusial lain yang akan disuarakan dalam side event nanti antara lain adalah : 
     
    Krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar.
    Pelanggaran hak asasi perempuan di Myanmar menyebabkan perempuan menjadi korban serius. Perempuan menjadi sasaran kekerasan, pelecehan seksual, dan pemaksaan terkait konflik. Kami meminta ASEAN segera melakukan langkah-langkah berikut: 
     
    1) ASEAN harus mengakui pelanggaran mencolok junta terhadap the Five-Point Consensus ( 5 PC) dan memastikan setiap perjanjian di masa depan memasukkan komitmen yang terikat waktu dan terukur untuk membebaskan perempuan yang ditahan secara sewenang-wenang dan meminta pertanggungjawaban pelaku; 
     
    2)  menangani kebutuhan para pengungsi, menetapkan perlindungan pengungsi dan mekanisme rujukan seperti bantuan hukum, perawatan medis, dan dukungan psikososial,  mendukung rehabilitasi, reparasi, dan keadilan transisi yang berpusat pada penyintas, termasuk akuntabilitas pasukan keamanan, pejabat negara, dan peradilan.
     
     
    Migrasi atau pengungsi
    Ruby mengatakan koalisi CSO melihat konteks migrasi merupakan fenomena kompleks yang berimplikasi pada hak-hak perempuan, perdamaian dan keamanan.
     
    Kami berharap, ASEAN melakukan hal ini:
     
    1) Krisis di Myanmar telah memicu perpindahan besar-besaran penduduk, termasuk perempuan dan gadis, yang dipaksa mengungsi dari rumah mereka. Banyak dari mereka mencari perlindungan di negara-negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Masuknya pengungsi dan orang yang terinternalisasi (IDP) tersebut menghadirkan tantangan terkait perlindungan, bantuan kemanusiaan, dan integrasi sosial bagi populasi rentan ini; 
     
    2) Faktor marginalisasi dan ketidakadilan, serta sejumlah kerentanan buruh migran perempuan seperti kondisi tidak setara, terbatas akses, kesepian, mendorong pencarian spiritualitas, dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstremis yang menawarkan solusi surga. 
     
     
    Perkembangan terorisme
    “Ketiga, kami melihat bahwa pergeseran terorisme “from backyard to dining room” memberikan peluang besar keterlibatan perempuan dan anak dalam aksi teror,” ujar Ruby
     
    Kehadiran media sosial sangat membantu membuka ruang besar bagi perempuan terlibat dalam ruang-ruang indoktrinasi secara kuat, tanpa membuka identitasnya.
     
    Untuk itu ASEAN seharusnya; 
     
    1) mempertimbangkan keragaman pengalaman perempuan dalam pencegahan dan counter ekstremisme kekerasan. Pengalaman biologis, sosial, dan spiritual perempuan dalam keterlibatannya dengan VE, dengan pendekatan gender, akan membuka relasi ketimpangan gender, agensi perempuan, dan peran perempuan untuk perdamaian;
     
    2) mendorong institusionalisasi Rencana Aksi Regional ASEAN Pencegahan Radikalisme dan Ekstremisme Kekerasan (ASEAN PoA for PCRVE), dalam bentuk Rencana Aksi Nasional dan mengintegrasikan gender sensitivitas, untuk memperkuat penanganan cross border terorisme, termasuk menciptakan exchange learning penanganan Foreign Terrorist Fighters (FTF). 
     
     
    Keamanan siber bagi perempuan pembela HAM (PPHAM).
    Perkembangan dan penggunaan teknologi digital telah memberikan peluang bagi pembela hak asasi manusia untuk mendorong berbagai isu HAM dan keadilan sosial.
     
    Di sisi lain, pesatnya kemajuan teknologi tersebut juga membuka berbagai bentuk serangan digital. Pantauan Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) pada tahun 2022 memperlihatkan bahwa serangan digital terhadap kelompok kritis mengalami peningkatan dari tahun 2021 dan menunjukkan bahwa serangan digital di Indonesia merupakan serangan politik yang menyasar kelompok-kelompok kritis, terutama kepada pembela HAM.
     
    Berdasarkan laporan penelitian berjudul “Kami Jadi Target”, Perempuan Pembela HAM (PPHAM) diserang tidak hanya karena pendapat mereka, tetapi juga karena identitas mereka sebagai perempuan. 
     
    Ruang daring membuka pintu bagi bentuk-bentuk kekerasan baru seperti pelecehan online, doxing, pengiriman konten seksual eksplisit hingga ancaman pemerkosaan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara-negara Asia Tenggara. Maka penting melakukan sejumlah langkah strategis seperti; 
     
    1) mendorong adanya mekanisme pelindungan secara holistik bagi PPHAM di ruang digital; 
    2) memastikan keterlibatan perempuan khususnya dan masyarakat sipil umumnya dalam perumusan kebijakan terkait ruang digital agar lebih berperspektif hak digital dan peka gender.
     
     
    Menguatnya konservatisme
    Berkembangnya konservatisme, dan tafsir agama yang bias pada perempuan telah menyebabkan sejumlah pelanggaran kebebasan berekspresi dan beragama. Perempuan dan anak perempuan, dan kelompok rentan seperti LGBT menjadi sasaran utama atas serangan, persekusi, dan berbagai bentuk diskriminasi.
     
    Kerangka WPS ASEAN perlu memastikan bahwa; 
     
    1) korban diskriminasi, serangan dan pembatasan kebebasan berekspresi dan beragama mendapatkan dukungan penuh, komprehensif dan jangka panjang dari negara, ; 
     
    2) negara segera menghilangkan segala bentuk kebijakan yang berpotensi diskriminasi pada perempuan, anak perempuan dan kelompok rentan (agama minoritas, indigenous people, gender ketiga dll), dan menjalankan Deklarasi HAM secara utuh; 
     
    3) memastikan peran tokoh agama yang memiliki pikiran terbuka dalam dialog-dialog untuk mempromosikan tafsir progresif yang melindungi korban dan penyintas kekerasan berbasis gender.
     
    Penulis: Kustiah/Diolah dari siaran pers CSO
  • Senator AS Dukung Pengembangan Energi Terbarukan di Kepulauan Wakatobi

    Senator AS Dukung Pengembangan Energi Terbarukan di Kepulauan Wakatobi

    Senator Hawaii Christopher Lee bersama Bupati Wakatobi H. Haliana dan tim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mendengarkan penjelasan mengenai bisnis rumput laut di Desa Liya Togo, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 22 Juni 2023. (Foto: Putra Aditya/YSEALI)

    7cloud.asia – Bagi Senator Hawaii, Christopher Lee, Kabupaten Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara punya banyak kesamaan dengan negara bagian ke-50 Amerika Serikat atau Hawaii terkait kondisi geografis dan dampak perubahan iklim.

    Kedua kepulauan yang terpisah jarak ribuan kilometer sama-sama punya alam yang indah dan sumber daya laut melimpah. Tak cuma itu, keduanya juga punya masyarakat adat yang rentan terdampak perubahan iklim yang merusak sumber daya laut yang menjadi sumber penghidupan mereka.

    Oleh karena itu, kata Lee, penting untuk memulai transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, seperti panel surya, di pulau-pulau kecil untuk memitigasi perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global.

    “Pulau ini (Wakatobi) lebih siap dan posisinya lebih baik dari banyak pulau-pulau lain yang saya pernah lihat untuk memanfaatkan tenaga surya sebagai energi terbarukan. Tidak hanya bagi rumah-rumah, tetapi juga bisnis-bisnis besar. Jadi bisa mengurangi tagihan listrik dan memastikan jaringan listrik yang lebih bersih dan andal,” kata Senator Lee dalam wawancara dengan VOA pada akhir Juni di Jakarta.

    Baca: Terdampak perubahan iklim, desa ini kembangkan energi terbarukan

    Saat ini, Wakatobi mendapat pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Bahan bakar solar untuk PLTD didatangkan dari luar kepulauan yang pantainya menjadi salah satu surga bagi para penyelam.

    Dari 16 Juni sampai dengan 24 Juni lalu, Senator Lee berada di Indonesia untuk program pertukaran yang diinisiasi oleh Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI), program program pertukaran antar profesional muda di Amerika Serikat dan negara-negara di Asia Tenggara yang mencakup negara-negara ASEAN dan Timor-Leste.

    Kabupaten Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi tujuan utama Lee untuk melihat implementasi program fasilitasi perizinan pemanfaatan ruang laut bagi masyarakat adat di Wakatobi.

    Program terkait masyarakat adat itu tersebut diusulkan oleh Amelia Setya Nur Kumala dari Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk program pertukaran YSEALI Professional Fellow yang dia ikuti pada 2022.

    Baca: Perubahan iklim picu bedol desa di Pantura

    Belajar dari Hawaii

    Keberpihakan Lee pada pembangkit energi terbarukan, terutama pemanfaatan tenaga surya, untuk memenuhi kebutuhan energi di pulau-pulau kecil berangkat dari pengalamannya hidup di Hawaii.

     

    Lahir dan besar di Hawaii, Lee menyaksikan bagaimana pantai-pantai pulau itu terkikis, pasokan air tawar berkurang dan peningkatan frekuensi badai akibat perubahan iklim.

    Lee, yang juga senator termuda di Senat Negara Bagian Hawaii saat terpilih pada 2005, tidak tinggal diam. Sebagai langkah awal, dia berhasil menggolkan undang-undang terobosan yang menjadikan Hawaii, negara bagian pertama di AS yang memandatkan 100 persen listrik dari energi terbarukan pada 2045.

    Dari pengesahan undang-undang tersebut, warga Hawaii mulai memasang panel surya di rumah-rumah mereka untuk mendapatkan pasokan listrik secara mandiri. Ketika makin banyak konsumen di pulau itu yang memasang panel surya, perusahaan-perusahaan listrik mulai berusaha menghadang upaya itu.

    Baca: Ribuan desa pesisir terancam hilang akibat perubahan iklim

    Lee juga mengadakan konsultasi publik dan meloloskan undang-undang yang memerintahkan perusahaan listrik untuk memberi konsumen kebebasan memanfaatkan tenaga surya sebagai energi terbarukan.

    Transisi dari energi fosil ke energi terbarukan dengan menggunakan panel surya yang lebih murah juga berhasil membantu Hawaii menghemat lebih dari setengah miliar dollar dan mengurangi tarif listrik di Honolulu sebesar 20 persen.

    Keberhasilan Lee melakukan terobosan regulasi membuatnya dijuluki “Juara Surya” nasional.

    “Ini kisah yang sama yang terjadi di Hawaii, di Indonesia, Wakatobi, dan di negara-negara kepulauan di Pasifik. Kita menyaksikan kenaikan permukaan air laut, punahnya terumbu karang dan perubahan pola cuaca yang mengurangi pasokan air tawar,” kata Lee.

    “Jadi, masuk akal bagi saya untuk melakukan sesuatu.”

    Baca: Gelombang panas akibatkan ratusan orang meninggal di Meksiko dan India

    Menurut Lee, Hawaii sudah berhasil meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi negara bagian itu menjadi 40 persen, dari 10 persen pada 10 tahun lalu.

    Dengan kondisi geografi dan iklim yang mirip Hawaii, Lee yakin model pembangunan pembangkit energi terbarukan atau listrik  panel surya bisa diterapkan di Wakatobi.

    Apalagi, di Wakatobi masih banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk memasang instalasi panel surya dan baterai penyimpanan.

    “Di pulau-pulau kecil, seperti Wakatobi, ada komunitas dan desa yang lebih kecil. Anda bisa menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya dalam satu jaringan sistem kelistrikan yang mandiri. Ini lebih murah daripada mengubah jaringan listrik untuk jutaan orang,” kata Lee.

    Baca: Ini sisi gelap di balik transisi ke energi terbarukan

    Lebih jauh, Lee mengatakan secara umum Indonesia punya fleksibilitas membangun jaringan listrik dari sumber energi hijau dibandingkan Hawaii karena masih banyak pulau-pulau kecil di Indonesia belum terpasang jaringan listrik yang bersumber dari energi fosil seperti batu bara atau solar, katanya.

    “Transisi energi di pulau-pulau kecil di Indonesia, seperti di Wakatobi, lebih mudah daripada di Hawaii karena kami harus bersaing dengan warisan infrastruktur listrik yang mahal. Kami harus memikirkan secara finansial bagaimana transisi berjalan,” imbuhnya.

    Jadi, transisi ke energi terbarukan lebih mudah dimulai dari pulau-pulau kecil daripada langsung dalam skala besar, ujarnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Perubahan Iklim Jadi Momentum Tuk Jalani Gaya Hidup Frugal Living

    Perubahan Iklim Jadi Momentum Tuk Jalani Gaya Hidup Frugal Living

    7cloud.asia – Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan. Salah satunya adalah makin banyaknya orang yang menjalani gaya hidup frugal living.

    Dalam kondisi yang serba tidak menentu, masyarakat makin sadar bahwa memikirkan dana darurat itu penting. Itu sebabnya frugal living menjadi pilihan. Pandemi membuat seseorang semakin dapat mengukur bagaimana kondisi keuangan (financial), seberapa kuat pondasi keuangannya dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.

    Sejumlah pesohor seperti Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Ratu Elizabeth II, Leonardo  de Caprio, dan pesohor lainnya adalah beberapa contoh yang mempraktikkan gaya hidup frugal living ini.

    Baca: Gaya hidup minimalis lebih ramah lingkungan

    Frugal living secara sederhana sering diartikan sebagai gaya hidup hemat atau irit.  Pengeluaran diatur dengan ketat agar pendapatan bisa disisihkan untuk mengantisipasi kondisi darurat.

    Jhon White, seorang professor filosopi pendidikan  dalam tulisannya “The Frugal Life, and Why We Should Educate for It” menjelaskan bahwa frugal living harus diadopsi oleh generasi masa depan.

    “Pandemi Covid-19 dan perubahan iklim (climate change) harus menjadi momentum untuk mendeklarasikan frugal living dan mengajarkannya kepada generasi masa kini,” tulis Jhon White.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Jumlah penduduk dunia yang terus meningkat, sumber daya yang semakin terbatas mau tidak mau membuat manusia harus mengadopsi gaya hidup yang hemat, tidak menghambur-hamburkan sumber daya dengan percuma, tidak makan dengan berlebihan, tidak memproduksi sampah yang tidak perlu, dan masih banyak kebiasaan-kebiasaan buruk yang merusak bumi.

    Konsep hidup frugal living secara langsung dapat berhubungan dengan upaya-upaya menyelamatkan bumi dari pencemaran lingkungan.

    Oleh sebagian orang, frugal living mungkin dinilai dinilai pelit dan berlebihan.  Tapi, sesungguhnya konsep frugal living tidak sedangkal itu.

    Baca: Dampak fast fashion bagi lingkungan

    Frugal Living diartikan sebagai konsep dimana seseorang mengalokasikan dana yang dimilikinya dengan kesadaran penuh dan pertimbangan masak-masak.

    Pengadopsi frugal living akan mengambil keputusan dengan pertimbangan dan analisis yang baik disertai dengan strategi pencapaian tujuan keuangan masa depan yang jelas.

    Pengadopsi frugal living akan memilih memasak makanan sehat daripada membeli makanan di luar. Dia akan lebih memilih membeli produk lokal berkualitas ketimbang maniak merek tertentu.

    Penganut frugal living juga tidak memusingkan fesyen atau gadget yang terus menerus up to date selama apa yang dimilikinya masih bisa digunakan.

    Baca: Gerakan rumah mungil yang lebih ramah lingkungan

    Jadi, para penganut frugal living akan terus menikmati hidup berkualitas dengan standar yang mereka tetapkan tanpa harus goyah dengan pendapat orang lain, demi tercapainya tujuan keuangan jangka panjang yang telah ditetapkan.

    Kajian atas konsep frugal living semakin berkembang, tidak hanya menghubungkan gaya hidup dengan tujuan keuangan pribadi jangka panjang.

    Frugal living juga tentang keberlangsungan lingkungan dan kehidupan seluruh manusia di masa yang akan datang.

    Baca: Slow fashion yang lebih ramah lingkungan

     

    Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan dalam menerapkan Frugal Living antara lain

    1. Tujuan finansial (financial goals) yang jelas dan masuk akal.

    Tujuan keuangan tentunya sesuatu yang dibutuhkan, yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan kita.

    Merumuskan financial goals yang jelas dan masuk akal akan membantu kita untuk dapat mencapainya, agar semua upaya yang dilakukan tidak sia-sia.

    Tujuan keuangan bisa saja mengumpulkan dana pernikahan, membeli rumah, tabungan pendidikan anak, merencanakan pensiun dini, mengamankan dana darurat yang cukup, atau memiliki dana pensiun yang cukup.

    Baca: Slow city yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan

    2. Selalu analisis kebutuhan vs keinginan sebelum belanja

    Hasil analisis terhadap perilaku konsumen menunjukkan bahwa pengeluaran untuk memenuhi gaya hidup jauh lebih besar daripada pengeluaran membeli barang-barang yang dibutuhkan.

    Jadi dapat disimpulkan banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli barang yang tidak memberikan manfaat yang sesungguhnya diperlukan.

    3. Hindari utang konsumtif

    Bisa dibayangkan betapa kacaunya kondisi keuangan jika harus membeli barang konsumtif, yang mungkin saja tidak sepenuhnya dibutuhkan, namun harus dibeli dengan kredit. 

    Baca: Prinsip ramah lingkungan di tempat kerja

    4. Tidak terpengaruh tren

    Terus menerus mengikuti perkembangan fashion, gadget, mobil, atau benda-benda lain sangat dihindari dalam konsep frugal living

    Menghindari siklus konsumerisme dan tidak melakukan impulsif buying adalah perilaku yang harus dijaga dalam frugal living. Berhentilah memikirkan ekspektasi orang lain atas diri kita.

    5. Yakini hidup bukan untuk saat ini saja

    Masih ada hari esok, masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan, masih ada generasi penerus yang akan menggantungkan hidupnya di bumi ini. Frugal living tidak hanya untuk kebaikan diri sendiri, tapi untuk keberlangsungan bumi.

    Referensi :

    White Jhon. 2021. The Frugal Life and Why We Should Educate for It. London Review of Education 19 (1).

  • Perubahan Iklim Ancam Produksi Pangan, BMKG Buka Sekolah Iklim

    Perubahan Iklim Ancam Produksi Pangan, BMKG Buka Sekolah Iklim

    7cloud.asia – Perubahan iklim atau juga disebut krisis iklim mengakibtakan pergantian musim dan cuaca yang sulit diprediksi.

    Kondisi yang merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim iklim ini disebut akan sangat mempengaruhi budi daya tanaman dan produksi pangan, dan dalam jangka panjang bisa mengancam produksi pangan -baik pertanian maupun perikanan–di Indonesia.

    Studi yang dimuat di jurnal Nature Climate Change 11 seperti dikutip di laman resmi Greenpeace melaporkan, perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah memperlambat produksi pertanian global sebesar 21 persen sejak 1961.

    Baca Juga: Petani Kopi Kehilangan Produksi Akibat Perubahan Iklim

    Daerah yang lebih hangat, termasuk Indonesia, lebih meraakan dampak perubahan iklim, di mana penurunan produktivitas pertaniannya diperkirakan mencapai 30-33 persen.
     
    Salah satu contohnya terjadi pada 2019. Data BPS mencatat, produksi padi Indonesia pada tahun tersebut turun 7,8 persen dibanding tahun sebelumnya karena cuaca ekstrem.

    Pada Januari dan Februari 2019, banjir melanda sejumlah wilayah sehingga sawah-sawah tergenang. Sebaliknya, kemarau panjang terjadi pada Juli-Desember.

    Baca Juga: Nasib Nelayan Tradisional Terombang-ambing Dampak Perubahan Iklim

    Ancaman krisis pangan makin mencuat tatkala pada Maret 2020, Badan Pangan PBB (FAO) memperingatkan bahwa produksi dan distribusi pangan global bisa terganggu karena pembatasan pergerakan di masa pandemi Covid-19.

    Dilansir Republika.id, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, fenomena perubahan iklim mengakibatkan semakin meningkatnya frekuensi intensitas dan durasi cuaca ekstrem sehingga akan mengganggu kegiatan pertanian dan perikanan.
     
    Dampak perubahan iklim ini bahkan mengancam produktivitas hasil panen dan tangkap ikan.
     
     
    Dwikorita menambahkan, fenomena perubahan iklim juga menyebabkan sering terjadinya bencana banjir, longsor, banjir bandang, badai tropis, puting beliung hingga kekeringan.
     
    Berbagai kejadian ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang dipicu perubahan iklim ini juga dikhawatirkan mengganggu produksi pangan serta dapat berakibat pula pada terganggunya ketahanan pangan.
     
    Hal ini terjadi karena perubahan iklim mengakibatkan kondisi ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan gelombang panas yang lebih sering dan parah.
     

    Karena itu, BMKG mendorong terus dimaksimalkan sekolah lapang kepada petani maupun nelayan dalam mengantisipasi cuaca dan iklim ekstrem yang dapat berdampak kepada kegiatan pertanian maupun kegiatan melaut.

    Dia menjelaskan, sekolah lapang BMKG didesain untuk memfasilitasi literasi petani dan nelayan tentang pemanfaatan info BMKG dalam mendukung kegiatan pertanian dan perikanan secara lebih adaptif, produktif dan tangguh.

    “Pengenalan cuaca dan iklim bagi para petani dan nelayan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman petani dalam mensiasati metode dan waktu tanam agar tidak gagal panen,” ujar Dwikorita.

    Baca Juga: Peringatan Soal Perubahan Iklim Muncul Sejak 70 Tahun Silam

    Selain itu, dia berharap para nelayan juga dapat menyiasati waktu dan penentuan target zona tangkap ikan agar hasil tangkapan lebih produktif dan tetap terjaga keselamatan.

    Dwikorita mengatakan, sekolah lapang iklim telah menjangkau 451 lokasi di tingkat kabupaten di 33 provinsi serta telah melatih 16 ribu peserta selama 10 tahun terakhir.

    Sekolah lapang iklim ini kata dia, secara rata-rata berhasil meningkatkan sekitar 30 persen untuk komoditas pangan seperti padi, jagung dan hortikultura.

    Baca Juga: Gerakan Keadilan Iklim: Perlunya Melibatkan Kelompok Rentan dalam Adaptasi Perubahan Iklim

    Sedangkan, sekolah lapang cuaca nelayan saat ini sudah memfasilitasi 10.118 peserta di 159 kabupaten di 33 provinsi wilayah Indonesia sejak dimulai 2016. Dia menyebut, sekolah lapang cuaca nelayan ini juga dapat meningkatkan secara rata-rata hasil tangkapan ikan sekitar 20 hingga 30 persen.

    Karena itu, dia berharap melalui rakornas ini dapat diperluas cakupan forum sekolah lapang iklim dan sekolah lapang nelayan dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

    “Diharapkan dapat tersusun matrik rencana tindak lanjut secara cepat, komprehensif dan sinergis dengan melibatkan multisektor dan pihak terkait untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap ketahanan dan kedaulatan pangan,” katanya.

    Baca Juga: Terdampak Perubahan Iklim, Indonesia Berpeluang Dapatkan Dana Loss and Damage 

     

     
     
     
     
     
     
     

  • Gelombang Panas di Eropa, Apakah Dipicu Perubahan Iklim?

    Gelombang Panas di Eropa, Apakah Dipicu Perubahan Iklim?

     

    Foto satelit suhu permukaan sepanjang Eropa pada 10 Juli lalu. ESA/Copernicus Sentinel data (2023)CC BY-NC-SA

    7cloud.asia – Gelombang panas menerjang Eropa. Di Italia, misalnya, panas terik akan mencapai 40℃ hingga 45℃. Panas juga berpeluang melampaui temperatur 48.8℃, temperatur tertinggi yang tercatat di Sisilia pada 2021.

    Gelombang panas yang ditandai dengan suhu panas membara juga menyebar ke negara-negara lain di Eropa selatan dan timur, termasuk Prancis, Spanyol, Polandia, dan Yunani.

    Gelombang panas ini mempersulit rencana perjalanan orang-orang menuju tujuan liburan populer di seluruh wilayah Eropa

    Gelombang panas atau cuaca panas di suatu lokasi selama periode tertentu bisa sangat berbahaya. Fenomena merusak ini sudah beberapa kali terjadi di Eropa.

    Baca: PBB ingatkan tahun 2023 hingga 2027 bakal jadi periode terpanas

    Pada 2009, gelombang panas menyapu seluruh Eropa, menyebabkan kematian hingga 70 ribu orang. Tahun lalu, gelombang panas terjadi lagi dan menyebabkan hampir 62 ribu korban jiwa.

     

    Adapun gelombang panas kali ini disebabkan oleh fenomena cuaca antisiklon Cerberus–makhluk dari mitologi Yunani berupa monster anjing berkepala yang menjaga dunia bawah.

    Antisiklon, atau sistem bertekanan tinggi, adalah fenomena cuaca yang mengisap air dari bagian atas atmosfer sehingga menyebabkan masa kemarau dan cuaca yang tenang (formasi awan sedikit dan minim angin).

    Gerakan sistem bertekanan tinggi cenderung lambat, berlangsung hingga berhari-hari hingga sepekan. Di area yang luas, sistem ini bisa menjadi semipermanen.

    Baca: Gelombang panas di India tewaskan hampir seratus orang

    Ketika terbentuk di sekitar daratan yang panas seperti di gurun Sahara, sistem bertekanan tinggi kian memanaskan udara hangat sehingga temperatur jauh lebih meningkat lagi.

    Fenomena antisiklon dapat berakhir ataupun mereda sehingga gelombang panas dapat berlalu. Menurut Italian Meteorological Society, gelombang panas Cerberus dapat berlangsung hingga dua pekan.

    Pertanyaan muncul, apakah perubahan iklim berperan? Beberapa tahun belakangan, sistem bertekanan tinggi seperti yang melanda Eropa cenderung bergerak ke kawasan utara.

    Cukup sulit untuk menerka suatu fenomena seperti gelombang panas terkait langsung dengan perubahan iklim.

    Baca: Riset mengungkap emisi karbon catat rekor tertinggi

    Walau begitu, saat suhu terus menghangat, kita terus melihat perubahan pola sirkulasi atmosfer yang dapat meningkatkan jumlah kejadian temperatur ekstrem dan kekeringan di Eropa.

    Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengonfirmasi tren ini. Data mereka menunjukkan peningkatan frekuensi dan tingginya intensitas cuaca ekstrem sejak dekade 1950-an.

    Analisis terpisah turut menemukan peningkatan keparahan gelombang panas Eropa sejak dua dekade belakangan.

    Pada musim panas 2022, kawasan Eropa selatan dilanda suhu tinggi dari biasanya. Spanyol, Perancis, dan Italia mengalami temperatur maksimum harian melebihi 40°C. Lembaga Copernicus Climate Change Service Eropa mengaitkan kondisi panas tak biasa ini  dengan perubahan iklim.

    Prediksinya, fenomena panas menyengat akan menjadi lebih sering, intens, dan berlangsung lama di masa depan. Taksiran ini mengindikasikan bahwa tren serupa bakal terjadi tahun ini.

    Baca: Peran padang lamun untuk atasi kenaikan suhu bumi

    Bahaya panas ekstrem

    Gelombang panas dan suhu ekstrem menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti serangan panas (heatstroke) dengan gejala sakit kepala dan pusing. Dehidrasi akibat cuaca panas juga berdampak pada pernapasan dan aktivitas jantung.

    Sudah ada sejumlah kasus gangguan kesehatan terkait panas di Eropa akibat gelombang panas kali ini. Misalnya, tewasnya seorang pekerja jalanan di Italia dan berbagai laporan tentang serangan panas di Spanyol maupun Italia.

    Menteri Kesehatan Italia telah mengimbau warga dan pengunjung di daerah terdampak untuk berjaga-jaga, misalnya menghindari sengatan matahari langsung selama jam-jam kala hari panas. Ada juga saran untuk tetap terhidrasi dan menghindari konsumsi alkohol.

    Walau begitu, gelombang panas tak hanya berdampak bagi kesehatan. Ada juga imbas sosial dan ekonominya. Panas ekstrem dapat merusak permukaan jalanan dan menyebabkan rel kereta melengkung.

    Gelombang panas juga mengurangi pasokan air sehingga mengganggu produksi listrik, pengairan tanaman, dan air minum.

    Baca: Fenomena El Nino mendekati puncak, warga diminta antisipasi kekeringan

    Pada 2022, panas menyengat di Perancis menyebabkan pembangkit listrik negara nuklir tak bisa beroperasi secara penuh karena temperatur sungai dan rendahnya muka air mengganggu proses pendinginan.

    Sebuah penelitian menyatakan panas ekstrem memperlambat pertumbuhan ekonomi di Eropa sebesar 0.5% pada satu dekade silam.

    Saat suhu terus meningkat, gelombang panas akan semakin parah. Karena itu, penting bagi pemerintah di seluruh dunia untuk bertindak cepat dan tegas untuk segera mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Patut dicatat bahwa sekalipun kita berhasil meredam laju emisi gas rumah kaca hari ini, iklim bumi akan terus menghangat. Pasalnya, laut sudah terlanjur menyerap dan menyimpan panas.

    Walaupun laju pemanasan global melambat, dampak perubahan iklim di masa depan akan terus kita alami.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

  • Gugatan Iklim Efektif Mendorong Kebijakan Meredam Perubahan Iklim di Indonesia

    Gugatan Iklim Efektif Mendorong Kebijakan Meredam Perubahan Iklim di Indonesia

    Foto: LBH Jakarta

    7cloud.asia – Sejak tujuh tahun silam, dunia seolah mengalami “musim semi” terkait gugatan iklim. Gugatan iklim adalah upaya suatu pihak dalam mengajukan gugatan terkait persoalan perubahan iklim dan lingkungan di pengadilan.

    Sejak 2015, angka gugatan iklim yang menyoal isu lingkungan pemicu perubahan iklim ini tercatat naik dua kali lipat dibanding beberapa dekade sebelumnya.

    Angkanya mencapai lebih dari 2 ribu gugatan iklim yang diajukan di seluruh dunia – seperempat dari gugatan terkait isu lingkungan pemicu perubahan iklim ini didaftarkan sejak 2 tahun silam.

    Namun, sebagian besar perkara terkait isu lingkungan pemicu perubahan iklim ini tersebut berlokasi di negara-negara maju. Hanya sedikit gugatan iklim yang diajukan di negara-negara berkembang.

    Seperti apa kondisi gugatan iklim yang meyorot isu lingkungan pemicu perubahan iklim ini di Indonesia, berikut tulisan dari  Environment Editor The Conversation

    Di Indonesia, lembaga penelitian dan advokasi hukum lingkungan, Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) mencatat ada sekitar 16 perkara gugatan iklim untuk menuntut keadilan iklim.

    Mayoritas di antaranya diajukan oleh pemerintah untuk menuntut ganti rugi atas ke perusahaan yang diduga merusak lingkungan. Hanya terdapat lima gugatan yang didaftarkan oleh warga maupun organisasi lingkungan hidup.

    Baca: Tujuh komoditas Indonesia akan terdampak kebijakan Antideforestasi Uni Eropa

     
    Gugatan iklim di Indonesia. (ICEL)

    Direktur Eksekutif ICEL, Raynaldo Sembiring, mengemukakan bahwa warga Indonesia memiliki kesempatan besar untuk mendaftarkan gugatan iklim di lembaga peradilan.

    Harapannya, gugatan ini dapat menjadi pertimbangan pengadilan agar mendorong target pemerintah supaya kebijakan untuk meredam perubahan iklim bisa lebih ambisius.

    “Ini peluang yang cerah untuk gugatan iklim di indonesia,” ujar Raynaldo dalam diskusi Peran Pengadilan untuk Mengatasi Perubahan Iklim: Update Kasus Lingkungan antara Indonesia dan Belanda, di Jakarta beberapa waktu lalu.

    Baca: Gelombang panas mengganas, dampak dari perubahan iklim?

    Peluang besar gugatan warga 

    Raynaldo menuturkan, besarnya peluang gugatan iklim oleh warga dipicu oleh dua kebijakan: Undang Undang (UU) 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan dan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 2 Tahun 2019.

    UU Administrasi Pemerintahan mengatur perlindungan hak asasi manusia (HAM) sebagai salah satu asas penyelenggaraan pemerintahan.

    Sedangkan Perma 2/2019 memuat kewenangan pengadilan tata usaha negara mengadili gugatan atas tindakan pemerintahan – sebelumnya merupakan kewenangan pengadilan umum.

    Gugatan iklim, kata Raynaldo, dapat diajukan terhadap tindakan pemerintah yang dianggap tidak cukup mengatasi persoalan perubahan iklim. Gugatan dapat menyasar dokumen tertentu, seperti komitmen iklim Indonesia yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC).

    Dokumen ini merupakan janji tertulis negara peserta Perjanjian Paris untuk berkontribusi dalam menahan pemanasan suhu bumi ke angka maksimum 1,5C pada 2030 mendatang.

    “UU 30/2014 dan Perma 2/2019 memberikan peluang bagi warga negara untuk meminta pemerintah melakukan tindakan pemerintahan. Salah satunya untuk mengetatkan NDC kita,” ujar Raynaldo dalam keterangan lanjutannya kepada The Conversation.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Di Indonesia, sejumlah pihak mengkritik NDC pemerintah yang belum ambisius. Ini tercermin dalam analisis Climate Action Tracker (CAT), organisasi tingkat global yang memeriksa komitmen iklim setiap negara berdasarkan analisis ilmiah.

    Indonesia, menurut analisis CAT per November 2021, memiliki komitmen dan kebijakan iklim yang “highly insufficient” atau jauh dari memadai untuk meredam laju perubahan iklim.

    Artinya, jika NDC seluruh negara memiliki peringkat ini, maka pemanasan suhu global pada 2030 bisa mencapai 3-4C.

    Menurut Raynaldo, seluruh warga negara berhak mengajukan gugatan terhadap NDC. Warga dapat menggunakan ketentuan kewajiban negara untuk melindungi hak asasi manusia yang diatur di tingkat UUD 1945 hingga UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

    Namun, jangan buru-buru mendaftarkan gugatan ke pengadilan. Warga atau pihak tertentu semestinya mengajukan proses keberatan dan banding administratif kepada pejabat pembuat NDC: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    Baca: 21 Film lingkungan yang bakal membuka kesadaran kita

    Jika dalam tahap banding sang pejabat sudah setuju, maka warga bisa menghemat tenaga dan waktu untuk mengurus gugatan di meja hijau.

    “Kalau pejabat enggak setuju, maka lanjut ke PTUN,” tutur Raynaldo.

    Hal lainnya yang perlu disiapkan dalam gugatan iklim adalah bukti-bukti ilmiah yang kuat. Warga dapat menggunakan dokumen seperti laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

    Laporan ini merupakan rangkuman dari puluhan ribu karya ilmiah tentang perubahan iklim di seluruh dunia yang disusun oleh para ilmuwan. Dokumen ini juga memiliki legitimasi politik lantaran publikasinya harus disetujui oleh negara-negara anggota UNFCCC.

    Meski demikian, pemakaian alat bukti saintifik masih menjadi tantangan tersendiri di tanah air. Sebab, tak semua hakim memiliki kompetensi yang sama untuk menelaah dokumen-dokumen tersebut.

    Hal ini disadari oleh Doktor bidang Hukum sekaligus Anggota Kelompok Kerja Lingkungan Hidup Nasional Mahkamah Agung, Bambang Heriyanto.

    Para hakim, kata dia, mesti mendapatkan pendidikan dan pelatihan untuk memperoleh sertifikasi khusus untuk menangani kasus-kasus lingkungan hidup.

    Baca: Ancaman soal perubahan iklim sudah muncul sejak 70 tahun silam

    Tantangan lainnya adalah terkait keterangan ahli di persidangan yang bisa jadi saling bertentangan. Menurut Bambang, sudah menjadi rahasia umum bahwa pendapat ahli yang dihadirkan di persidangan akan seirama dengan pihak yang menghadirkannya.

    “Jalan keluarnya adalah menghadirkan ahli independen untuk acuan untuk hakim. Tapi masalahnya bagaimana pembiayaannya,” kata dia.

    Sasaran gugatan yang luas

    Gugatan iklim sebenarnya bukan hanya bisa menyasar dokumen NDC Indonesia. Menurut Guru Besar Ilmu lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Andri Gunawan Wibisana, gugatan iklim memiliki empat kategori:

    1) Gugatan dengan persoalan iklim sebagai argumentasi utama; misalnya gugatan dari organisasi lingkungan Urgenda Foundation yang menyasar target iklim pemerintah Belanda

    2) Gugatan dengan persoalan iklim sebagai argumentasi sampingan: misalnya gugatan yang diajukan organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia melawan Pemerintah Jawa Barat terkait izin Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tanjung Jati A Cirebon. Persidangan kasus ini masih berlangsung.

    3) Gugatan dengan motivasi isu perubahan iklim, tapi tak menjadi isu utama: misalnya gugatan kepada perusahaan tambang batu bara yang merusak lingkungan

    4) Gugatan tanpa motivasi perubahan iklim, tapi berdampak pada upaya pencegahan dan penanganannya: misalnya gugatan seputar aktivitas pertambangan minyak dan gas bumi

    Baca: Pertemuan G20 gagal capai kesepakatan pangkas bahan bakar fosil

    Andri mengatakan, sejauh ini gugatan iklim di Indonesia belum menyentuh kategori 1. Namun, berkaca dari kasus yang ada di tanah air, gugatan iklim di Indonesia tergolong unik dibandingkan perkara di negara lain.

    Andi mencontohkan dalam kasus kebakaran lahan, gugatan iklim di Indonesia yang berfokus pada tuntutan untuk pembayaran biaya pengurangan emisi (yang timbul karena perbuatan tergugat).

    Tuntutan ini membebaskan penggugat, dalam perkara ini adalah pemerintah, untuk membuktikan sebab-akibat dari tindakan tergugat dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

    “Meski ada juga sisi negatifnya yang menjadi tantangan tersendiri untuk ke depannya,” kata dia.

    Sumber: The Conversation

  • Riset: Generasi Z di Indonesia Memiliki Kesadaran Tinggi Soal Perubahan Iklim

    Riset: Generasi Z di Indonesia Memiliki Kesadaran Tinggi Soal Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Kelompok muda atau Generasi Z, seperti Greta Thunberg (Swedia), Vanessa Nakate (Uganda), dan Salsabila Khairunisa (Indonesia), telah memimpin dan menginspirasi gerakan perubahan iklim, beberapa tahun belakangan.

    Namun, beberapa studi awal di negara-negara Barat menunjukkan bahwa informasi terkait perubahan iklim tidak sampai ke kelompok muda yang disebut Generasi Z ini.

    Berdasarkan informasi ini, Angga Ariestya Dosen Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara melakukan riset bagaimana Generasi Z di Indonesia menyikapi perubahan iklim.

    Angga Ariestya yang pernah menerima dana dari Universitas Multimedia Nusantara dan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) melakukan penelitian awal untuk mengamati Generasi Z di Indonesia terkait perubahan iklim.

    Baca: Bagaimana media memotret aksi lingkungan Generasi Z

    Laporan hasil penelitian awal Angga ditulis di The Conversation seperti berikut ini.

    Penelitian saya menunjukkan kelompok muda atau Generasi Z Indonesia memiliki kesadaran tinggi soal perubahan iklim.

    Meski demikian, kesadaran tinggi ini tidak serta merta berujung pada komitmen mereka untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi perubahan iklim.

    Panel PBB untuk ilmuwan perubahan iklim atau The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2013, menyatakan, pada 2050, seorang anak yang lahir pada tahun 2000-an cenderung hidup di planet Bumi yang lebih hangat.

    Pada tahun 2000an suhu  Bumi telah naik 0,8°C hingga 2,6°C, dengan permukaan laut lebih tinggi 5-32 cm dibandingkan pada 1990.

    Ini berarti Generasi Z pada usia 50 tahun harus semakin sering menghadapi panas ekstrem dan bencana banjir.

    Baca: Pentingnya memilih pemimpin yang pro lingkungan di Pemilu 2024

    Penelitian Anthony Leiserowitz, Nicholas Smith, dan Jennifer R. Marlon, tahun 2011, menunjukkan relatif sedikit remaja Amerika (berusia 13–17 tahun) yang memiliki pemahaman mendalam tentang perubahan iklim.

    Sementara, hasil riset di Norwegia, tahun 2016, hanya 38,7% generasi muda menyatakan memiliki pengetahuan yang baik tentang perubahan iklim.

    Kedua riset tersebut setidaknya memberikan gambaran kesadaran kognitif Gen-Z di negara-negara Amerika Utara dan Eropa, negara-negara Barat yang kaya, atas perubahan iklim belum baik.

    Penelitian saya di Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara menunjukkan hal yang berbeda.

    Hasil penelitian awal saya menunjukkan kesadaran kognitif kaum muda sangat tinggi terhadap perubahan iklim.

    Saya meneliti respons mahasiswa generasi Z (kelahiran sesudah atau pada tahun 1997) yang tinggal di perkotaaan terkait dengan pemberitaan perubahan iklim.

    Baca: Film bisa jadi media kampanye soal perubahan iklim

    Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kesadaran kognitif (pengetahuan yang terbentuk tentang perubahan iklim), afektif (perasaan cemas atau takut atas pengetahuannya tentang perubahan iklim).

    Penelitian ini juga ingin memetakan konatif (keinginan atau komitmen untuk segera bertindak karena kesadaran kognitif dan afektifnya tersebut) atas perubahan iklim yang mereka baca dari berita daring.

    Penelitian awal saya mendapati bahwa nilai kesadaran perubahan iklim generasi Z lebih dari 80%.

    Yang menarik adalah kesadaran kognitif kaum muda ini tidak berkorelasi kuat dengan kesadaran konatif mereka.

    Berdasarkan uji statistik, nilai korelasi antara kesadaran kognitif dan konatif adalah 0.471. Semakin tinggi nilai (mencapai 1) semakin kuat korelasi.

    Artinya, kaum muda Indonesia masih enggan melakukan sesuatu untuk mengurangi masalah perubahan iklim walaupun memiliki kesadaran kognitif yang tinggi.

    Baca: Begini seharusnya kampanye perubahan iklim dilakukan

    Dalam penelitian ini, saya memilih partisipan secara acak dari mahasiswa UMN, rata-rata tinggal di kota Tangerang Selatan.

    Sampel yang diambil homogen, artinya memiliki karakter demografi yang sama, baik dari segi usia, pendidikan, dan rata-rata pendapatan.

    Saya membagi 110 responden ke dalam dua kelompok, masing-masing 55 orang.

    Saya memberikan partisipan kelompok pertama berita daring yang “dimanipulasi” dengan memberitakan tentang bencana kekeringan, kelaparan, dan banjir sebagai dampak perubahan iklim.

    Sementara, partisipan kelompok kedua mendapatkan berita daring tentang perubahan iklim tanpa “dibingkai” dengan bencana.

    Saya mengumpulkan responden ke dalam ruangan dan waktu yang bersamaan dan memberikan artikel-artikel yang memiliki pembingkaian manipulatif secara bergantian.

    Baca: Agar pendidikan memberi solusi bagi perubahan iklim

    Artikel-artikel tersebut dimuat dalam website fiktif, seakan-akan merupakan portal media daring.

    Setelah itu, para responden mengisi kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang kali.

    Pertanyaan mengandung unsur-unsur pertanyaan tentang pengetahuan, hal yang dirasakan, dan komitmen untuk bertindak terkait perubahan iklim.

    Tanpa pembingkaian berita, kaum muda ini sudah menyadari perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia dan menjadi ancaman serius bagi mereka.

    Apakah karena Indonesia merupakan negara yang rawan bencana sehingga kesadaran mengenai perubahan iklim terbangun sangat kuat di kalangan muda Indonesia?

    Hasil studi ini masih perlu kajian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana faktor geografis, sosial, dan budaya mempengaruhi kesadaran perubahan iklim.

    Baca: Peringatan akan perubahan iklim telah muncul sejak tahun 1970

    Membingkai pesan (Message Framing)
    Penelitian dari peneliti Inggris berjudul How do young people engage with climate change? The role of knowledge, values, message framing, and trusted communicators pada 2015 menunjukkan pembingkaian pesan dan informasi tentang perubahan iklim (message framing) dapat mempengaruhi persepsi dan tanggapan generasi muda.

    Dalam konteks pemberitaan tentang perubahan iklim, media seringkali mengonstruksi ketidakpastian, misalnya, membangun cerita bahwa perubahan iklim memiliki risiko atau berita bencana.

    Ini terlihat dari pemilihan judul (headline) atau teks (body text).

    Bingkai bencana ini, sebagian besar, menekankan konsekuensi negatif bagi kehidupan masyarakat, seperti masalah ketersediaan air dan makanan, naiknya permukaan laut dan suhu permukaan laut.

    Juga berbagai informais mengenai banjir, angin topan, kerusakan ekosistem dan keanekaragaman hayati, serta dampak kesehatan yang merugikan.

    Hingga saat ini, sepengetahuan saya, riset tentang pembingkaian berita perubahan iklim di Indonesia masih sangat jarang.

    Baca: Pesan lingkungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 

    Ini yang membuat saya melakukan penelitian terkait kesadaran Generasi Z akan perubahan iklim.

    Adam Corner, Direktur Riset Climate Outreach, di Inggris, mengingatkan dalam artikelnya bahwa membingkai perubahan iklim sebagai bencana lingkungan yang akan terjadi dapat berkontribusi pada rasa putus asa dan perasaan tidak berdaya, yang dapat menyebabkan kekecewaan, apatis, dan tidak aktif dari kaum muda.

    Sebaliknya, bingkai yang lebih positif dan emosional dapat memunculkan rasa harapan, keterlibatan, dan banyak lagi strategi konstruktif untuk mengatasinya dari kaum muda.

    Di masa depan, permasalahan disinformasi dan misinformasi tentang perubahan iklim akan semakin menjadi tantangan komunikasi perubahan iklim.

    Selain itu, diskusi publik tentang perubahan iklim akan lebih meluas di media sosial.

    Konsekuensinya, para pemerhati lingkungan, ilmuwan, pemerintah sudah harus mulai mempertimbangkan two step flow of communication.

    Yakni pelibatan influencer di media sosial dalam mengkomunikasikan perubahan iklim agar informasi yang berkembang dekat dengan keseharian individu.

    Baca: aktivisme perempuan lokal bagi lingkungan global

    Saat ini terdapat beberapa komunitas-komunitas anak muda di Indonesia yang bergerak dalam kampanye aksi perubahan iklim, seperti Climate Rangers, KeMANGTEER, Youth for Climate Change, dan masih banyak lainnya.

    Kalangan kaum muda yang cenderung hipertekstual (aktif membaca teks-teks pada media daring melalui tautan/link yang tersedia).

    Untuk meningkatkan kesadaran masalah perubahan iklim kuncinya ada pada penggunaan media sosial, komunikasi interpersonal (antara siapa dan siapa) yang termediasi internet, serta peliputan oleh media arus utama secara daring.

    Bagi semua yang terlibat dalam gerakan mengatasi perubahan iklim, selain diskusi publik, aksi nyata tetap diperlukan agar media sosial tidak hanya menjadi ruang publik semu yang menghasilkan clicktivist.

    Clicktivist adalah suatu aktivisme di media baru berupa klik semata tanpa terwujud dalam aktivisme di masyarakat yang memiliki dampak sosial dan lingkungan.

    Baca: Gaya hidup ramah lingkungan nggak cuma suka tanaman

  • Buka Kongres KMHDI, Presiden Jokowi Dorong Mahasiswa Kuasai Iptek Ekonomi Hijau

    Buka Kongres KMHDI, Presiden Jokowi Dorong Mahasiswa Kuasai Iptek Ekonomi Hijau

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (jokowi) mengajak generasi muda untuk mulai serius mendalami ekonomi hijau.

    Jokowi mengatakan, perubahan iklim tidak hanya dirasakan di Indonesia saja. Semua negara juga merasakan dampak perubahan ikim ini. Karena itu, green economy atau ekonomi hijau perlu dilakukan untuk mendukung transformasi hijau.

    Di hadapan mahasiswa anggota Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Jokowi minta agar mahasiswa mempersiapkan diri mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tentang ekonomi hijau.

    Baca: Presiden ajak warga beralih ke transportais publik yang lebih ramah lingkungan
     
    “Dalam mendukung momentum transformasi hijau, saya minta KMHDI untuk
    mempersiapkan diri mempelajari ilmu pengetahuan tentang ini (ekonomi hijau),” ujar Jokowi saat membuka Kongres Nasional Mahasabha XIII KMHDI 2023 di Universitas Tadulako, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
     
    Iptek ini, lanjut Jokowi, perlu dipelajari agar nantinya dapat melakukan inovasi baru untuk menghadapi berbagai tantangan dan perubahan, salah satunya yakni
    tantangan perubahan iklim.

    Selain itu, Jokowi juga mengajak mahasiswa untuk mempelajari beberapa hal, di
    antaranya terkait carbon trading (perdagangan karbon), carbon market (pasar
    karbon).

    Baca: Ekonomi biru untuk merawat kekayaan laut

    Presiden juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan climated entrepreneurship, waste recycling, dan battery technology sebagai upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
     
    Jokowi menambahkan, semua negara di dunia kini berbondong-bondong untuk ikut masuk ke dalam transformasi ekonomi hijau, seperti pembiayaan dan pendanaan.

    Dunia juga sedang berlomba untuk mengembangkan green energy atau energi hijau untuk menahan laju perubahan iklim.

    Baca: Nasib nelayan kian terpinggirkan, konsep ekonomi biru harus diperjuangkan

    “Karena itu, saya titip kepada KMHDI untuk menyosialisasikan jaga hutan, jaga air, pengelolaan sampah terutama sampah plastik. Selain itu, mengurangi polusi, karena polusi sudah menjadi masalah besar kita saat ini,” pesannya.

    Pada kesempatan itu Jokowi juga mengusulkan agar universitas atau perguruan
    tinggi dapat membuat jurusan dan fakultas yang mendukung transformasi hijau.
     
    “Dunia sudah berubah, kita harus memiliki inovasi dan keinginan untuk
    menyongsong perubahan-perubahan itu,” ujar Jokowi.

    Nurakhmayani disarikan dari Setkab. 

  • Pentingnya Green Skills untuk Antisipasi Perubahan Iklim

    Pentingnya Green Skills untuk Antisipasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Perubahan iklim adalah ancaman lingkungan yang semakin nyata pada dunia, sehingga dibutuhkan ketrampilan khusus yang disebut green skills untuk mengatasinya.

    Mengapa green skills dibutuhkan? Karena dampak perubahan iklim terutama dirasakan kaum muda yang jumlahnya mewakili seperempat total penduduk dunia, dan 86% di antaranya berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Perubahan iklim akan berdampak serius terhadap lapangan kerja, terutama angka pengangguran dan krisis biaya hidup, yang menempati urutan teratas dalam peringkat risiko global.

    Setidaknya ini yang ditemukan riset Global Risk Report tahun 2023 dari World Economic Forum, organisasi non-pemerintah dan lobi internasional yang berbasis Jenewa, Swiss.

    Baca: Generasi muda punya kesadaran lingkungan tinggi tetapi enggan bergerak

    Salah satu solusi alternatif untuk mengurangi risiko krisis biaya hidup dan pengangguran tenaga kerja akibat perubahan iklim adalah melalui peningkatan ‘keterampilan hijau’ (green skills).

    Apa itu green skills? Menurut United Nations Industrial Development Organization, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas mempromosikan dan mempercepat pembangunan industri, green skills adalah sebuah pengetahuan, kemampuan, nilai, dan sikap yang diperlukan untuk hidup, berkembang, dan mendukung masyarakat yang bersumber daya cukup dan berkelanjutan.

    Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), organisasi kerja sama dan pembangunan ekonomi internasional, mengklasifikasikan green skills, menjadi:

    Cognitive competencies: kesadaran lingkungan dan kemauan untuk belajar tentang pembangunan berkelanjutan, keterampilan sistem dan analisis risiko, serta inovasi untuk menjawab tantangan hijau

    Baca: Aksi lingkungan anak muda di mata media

    Interpersonal skills: koordinasi, keterampilan komunikasi dan negosiasi, lalu keterampilan pemasaran untuk mempromosikan produk dan jasa yang lebih hijau

    Intrapersonal competencies: kemampuan adaptif dalam menggunakan dan mempelajari alat teknologi baru, serta keterampilan wirausaha dalam menciptakan teknologi rendah karbon).

    Mengapa green skills penting untuk mengurangi risiko perubahan iklim? Alasan pertama adalah karena green skills menurunkan biaya hidup

    Green skills dapat menekan laju krisis finansial dan sumber daya alam. Biaya hidup tinggi terjadi akibat semakin langkanya sumber alam atau kekayaan lainnya dalam memenuhi kebutuhan manusia yang semakin besar populasinya.

    Penelitian Lucas Bretschger profesor dari Centre of Economic Research, ETH Zurich, Swiss, tahun 2013, menyebutkan bahwa manusia seringkali bergantung pada sumber daya tidak terbarukan sementara pertumbuhan populasi terus naik. Hal ini mempercepat laju penggunaan sumber daya tersebut.

    Baca: Bumi butuh aksi nyatamu, sudahkah kamu bergabung dengan aksi lingkungan

    Untuk mengantisipasinya, kita membutuhkan tenaga kerja beremisi rendah dan pembangunan berbasis sertifikasi atau pengukuran berkelanjutan.

    Pengukuran berkelanjutan ini bisa diaplikasikan ke dalam gaya hidup kaum muda melalui kompetensi hijau, seperti yang ditunjukkan dalam studi kolaborasi antara Clement Cabral dari Université Internationale de Rabat, Maroko dan Rajib Lochan Dhar dari Indian Institute of Technology Roorkee, India, tahun 2020.

    Kompetensi yang dimaksud merupakan gabungan dari:

    Pengetahuan hijau: pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan hidup seperti misalnya pengetahuan tentang praktik-praktik ramah lingkungan

    Keterampilan hijau: keterampilan terkait lingkungan semisal keterampilan mengelola sampah

    Sikap hijau: kecenderungan psikologis untuk mengevaluasi persepsi atau keyakinan mengenai lingkungan alam semisal sikap terhadap konservasi

    Perilaku hijau: perilaku untuk melestarikan sumber daya, mencegah orang lain terlibat dalam degradasi lingkungan, memulai tindakan untuk melindungi lingkungan dan menghentikan kerusakan lingkungan

    Kesadaran hijau: mengetahui dampak perilaku manusia terhadap lingkungan, contohnya kesadaran akan pembangunan berkelanjutan.

    Baca: 17 cara untuk lebih ramah lingkungan

    Dengan memiliki kompetensi tersebut, kaum muda dapat mengurangi ketergantungannya terhadap sumber daya yang tidak terbarukan sehingga mengurangi biaya hidup yang harus dikeluarkan.

    Salah satu contohnya adalah mengurangi biaya untuk membeli barang karena memiliki keterampilan daur ulang, penggunaan kembali (reuse), dan desain ramah lingkungan.

    Alasan kedua adalah green skills ciptakan green jobs. Definisi green jobs masih diperdebatkan.

    Namun, organisasi buruh International Labour Organization (ILO), dan badan PBB yang mengurusi isu lingkungan yaitu UN Environment Programme (UNEP), di tahun 2008, membuat satu pengertian tentang green jobs yakni sebuah usaha atau seperangkat tanggung jawab seseorang (termasuk wirausaha) yang berdampak minimum terhadap lingkungan dan menjaga keberlangsungannya.

    Green jobs memiliki dampak bagi pembangunan ekonomi bangsa, khususnya dalam meningkatkan produktivitas dan ketenagakerjaan pemuda.

    Bahkan, green jobs telah mengubah arah dan pemetaan bursa kerja dunia, yang tentunya semakin mendorong masyarakat dan komunitas global untuk beraksi bersama menurunkan emisi karbon atau aksi penyelamatan dari ancaman krisis iklim lainnya.

    Baca: Gelombang panas mengganas, dampak perubahan iklim?

    Lai Chee Sern,, dosen dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, mengemukakan bahwa sepuluh green skills yang paling sering bersinggungan dengan green jobs, adalah keterampilan mendesain, kepemimpinan, keterampilan manajemen;

    Green jobs juga meliputi keterampilan terkait energi, keterampilan perencanaan kota, keterampilan lansekap, keterampilan komunikasi, keterampilan pengelolaan limbah, keterampilan pengadaan barang dan jasa, dan keterampilan finansial.

    Dalam pelaksanaannya, peran dan arah keterampilan hijau ini masih harus diselaraskan dengan kebutuhan industri.

    Untuk memastikan keselarasan ini, Lai Chee Sern juga menyarankan adanya perbaikan kurikulum yang memasukkan green skills dan ketersediaan dari pelatihan-pelatihan yang mengajarkan keterampilan tersebut.

    Dengan semakin banyaknya inovasi, keterampilan, dan pelatihan hijau yang dilakukan untuk menjawab masalah krisis iklim, semakin tinggi pula peluang ketersediaan pekerjaan untuk mengurangi risiko pengangguran bagi kaum muda.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis: Gracia Paramitha, PhD Lecturer, School of Government and Public Policy Indonesia

     

  • Mungkinkah Dunia Mewujudkan Net Zero atau Emisi Nol pada 2050?

    Mungkinkah Dunia Mewujudkan Net Zero atau Emisi Nol pada 2050?

    7cloud.asia – Target dunia internasional untuk menurunkan emisi global menjadi net zero pada 2050 terancam gagal jika tidak dilakukan tindakan cepat. 

    Bayang-bayang kegagalan mewujudkan net zero atau emisi nol ini juga dialami sejumlah negara maju, termasuk Inggris.

    Dilansir BBC Environment pada Juni 2023 lalu,  penasihat iklim independen pemerintah mengatakan target net zero atau emisi nol pada tahun 2050 adalah bagian penting dari komitmen internasional Inggris. 

    Komitmen untuk mewujudkan net zero atau emisi nol ini dirancang untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim yang kini mengancam planet bumi.

    Baca: Perdagangan karbon untuk dorong ekonomi hijau

    Apa yang dimaksud dengan ‘net zero’ atau emisi nol? Net zero atau emisi nol berarti tidak lagi menambah jumlah total gas rumah kaca di atmosfer.

    Gas rumah kaca termasuk karbon dioksida (CO2) dan metana. CO2 dilepaskan ketika minyak, gas, dan batu bara dibakar, baik di rumah, pabrik, dan untuk menggerakkan transportasi.

    Emisi gas rumah kaca juga bersumber dari metana yang dihasilkan melalui pertanian dan pembuangan sampah. Gas-gas ini meningkatkan suhu global dengan memerangkap energi matahari.

    Di sisi lain, deforestasi atau penebangan hutan secara besar-besaran di seluruh dunia berarti semakin sedikit pohon yang dapat menyerap CO2 dan mengubahnya menjadi Oksigen. Kondisi ini memicu laju pemanasan global. 

    Baca: Masukan pakar terkait perdagangan karbon

    Berdasarkan perjanjian iklim Paris tahun 2015, 197 negara sepakat untuk mencoba membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5C pada tahun 2100.

    Untuk mencapai hal ini, para ilmuwan mengatakan bahwa net zero atau emisi nol bersih harus dicapai pada tahun 2050.

    Namun, PBB kini ingin negara-negara memajukan target nol bersih mereka dalam satu dekade untuk menghindari apa yang mereka sebut sebagai “bencana iklim yang semakin meningkat”.

    Apakah net zero berarti berakhirnya emisi gas rumah kaca?
    Tidak semua emisi dapat dikurangi menjadi nol, sehingga emisi yang tersisa perlu diimbangi dengan secara aktif menghilangkan gas rumah kaca dari atmosfer.

    Baca: Manfaat hutan mangrove sebagai penyerap karbon

    Hal ini dikenal sebagai “pengimbangan” atau metode kompensasi alami. Metode kompensasi alami itu mencakup penanaman pohon dan restorasi lahan gambut.

    Salah satu metode industri adalah penangkapan dan penyimpanan karbon yang melibatkan penggunaan mesin untuk menghilangkan CO2 dari udara dan menyimpannya, seringkali jauh di bawah tanah.

    Namun, teknologi yang disebutkan terakhir ini masih dalam penyempurnaan dan membutuhkan biaya yang sangat mahal. 

    Meskipun penyeimbangan ini penting, hal ini hanya dapat menghilangkan sebagian kecil emisi gas rumah kaca yang ada saat ini.

    Jadi para ilmuwan mengatakan pengurangan drastis penggunaan bahan bakar fosil sangat penting untuk mencapai tujuan net zero.

    Sumber: BBC.com, baca artikel asli di sini

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil Oksigen