Tag: sampah plastik

  • Unilever Akan Tingkatkan Pemrosesan Sampah Plastik

    Unilever Akan Tingkatkan Pemrosesan Sampah Plastik

     

    7cloud.asia – Unilever Indonesia akan meningkatkan pengumpulan dan pemrosesan sampah plastik pada tahun ini setelah berhasil memproses 62.360 ton sampah plastik pada 2022.

    “Angkanya masih dibahas, tetapi pasti akan ditingkatkan,” kata Kepala Divisi Environment dan Sustainability Yayasan Unilever Indonesia, Maya Tamimi di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (27/09/2023).

    Ketika menjawab pertanyaan seberapa besar kebutuhan plastik Unilever Indonesia pada tahun 2022, Maya mengatakan angka 62.360 ton itu sudah di atas kebutuhan plastik perusahaannya.

    Baca: Gunakan tumbler, langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan

    Artinya, sampah plastik yang diproses perusahaan itu melalui mitra dan kelompok binaan sudah di atas penggunaan plastik oleh perusahaan itu per tahun.

    Capaian pemrosesan 62.360 sampah plastik berasal dari pengumpulan sampah anorganik dari Bank Sampah binaan Unilever Indonesia dan jaringannya yang jumlahnya mencapai lebih dari 28.633 ton.

    Lalu dari hasil pemrosesan 33.727 ton sampah plastik di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) bersama para mitra.

    Baca: Infrastrutur guna ulang sudah disiapkan dari sekarang

    Sepanjang 2022 fasilitas refill yang terdapat di Bank Sampah binaan Unilever Indonesia berhasil mengurangi 1,6 ton penggunaan virgin plastic.

    Upaya Unilever Indonesia melatih dan memberi stimulan kepada lebih dari 4.000 Bank Sampah, Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), pengepul, telah meningkatkan kapasitas mereka mengelola sampah daur ulang.

    Dari seluruh titik kumpul sampah plastik tersebut, jumlah penjualan sampah plastik oleh mitra program mencapai lebih dari Rp95 miliar.

    Baca: Konsep guna ulang lebih efektif kurangi smpah plastik

    Salah satu mitra Unilever Indonesia adalah fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Cilacap yang menghasilkan Energi Baru Terbarukan (EBT) 70-80 ton per hari. 

    Proyek ini merupakan hasil kerjasama Unilever dengan Dinas Lingkungan Hidup Cilacap dan PT Solusi Bangun Indonesia.

    Komitmen Unilever Indonesia untuk penanganan sampah plastik di hulu dengan mendesain produk yang lebih bijak dalam penggunaan plastik baik dalam hal jumlah penggunaan plastik maupun jenis plastiknya.

    Baca: Pada 2030, Starbucks tak akan gunakan gelas sekali pakai

    Di tengah, mendorong kolaborasi pengumpulan dan pemrosesan sampah, sembari mendorong perubahan perilaku masyarakat.

    Antara lain dengan membina lebih dari 4.000 Bank Sampah di 11 provinsi yang dapat diakses secara digital melalui Google My Business dan Duitin.

    Kemudian membantu konsumen lebih bijak menggunakan plastik melalui berbagai inisiatif, seperti Program U-Refill berupa penyediaan fasilitas refill station di 300 Bank Sampah binaan yang tersebar di Jabodetabek dan Jawa Timur.

    Baca: Beragam aplikasi untuk penerapan konsep guna ulang

    Di hilir, Unilever Indonesia berinvestasi mengatasi masalah sampah kemasan plastik di bagian akhir pengolahan sampah.

    Langkah ini termasuk membantu meningkatkan kapasitas pengumpulan dan pengelolaan sampah di dua fasilitas RDF menjadi EBT yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan dinas lingkungan hidup setempat.

    Sumber: Antaranews

  • Kampanyekan Stop Wariskan Sampah, Tim The Rising Tide Tiba di Jakarta

    Kampanyekan Stop Wariskan Sampah, Tim The Rising Tide Tiba di Jakarta

    7cloud.asia – Tim The Rising Tide A Resonance 2023 yang mengampanyekan gaya hidup minim sampah plastik dengan tagar stop wariskan sampah, tiba di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Jumat (6/10/2023) siang.

    Tim The Rising Tide yang membawa pesan stop wariskan sampah tersebut telah melakukan perjalanan sejauh 3.141 kilometer secara quadrathlon dalam 35 hari dari Sabang menuju Jakarta

    Saat menyambut tim The Rising Tide, dari titik nol di Sabang hingga Jakarta, Panglima TNI, Laksamana Yudo Margono menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan kampanye stop wariskan sampah.

    “Dalam perjalanannya, dari Sabang ke Jakarta, melakukan triathlon, mereka juga menyampaikan kepada masyarakat untuk stop wariskan sampah dan mengumpulkan sampah, khususnya sampah plastik,” kata Panglima Yudo pada awak media di Mabes TNI Cilangkap, Jumat (6/10/2023).

    Baca: The Rising Tide berangkat dari Sabang

    Tim The Rising Tide bertolak dari Sabang menuju Jakarta 1 September, terdiri dari  delapan prajurit TNI yaitu 2 personel dari Komando Operasi Khusus TNI, 2 personel dari Matra Darat, 2 personel dari Matra Udara dan 2 personel dari Matra Laut.

    Perjalanan The Rising Tide kali ini meliputi bersepeda sepanjang 2.392 km yakni dari Titik Nol Sabang – Palembang.

    Lalu dilanjutkan dengan berenang sepanjang 70 Km melalui Selat Malaka, Danau Toba, dan Selat Sunda, serta Lari sepanjang 679 Km dari Palembang ke Jakarta.

    Menurut Panglima TNI, perjalanan The Rising Tide kali ini merupakan etape kedua, karena saat dirinya masih menjadi Kepala Staf Angkatan Laut, sudah dilakukan Triathlon dari Bali ke Jakarta, sepanjang 1.293 km.

    Baca: Serunya aksi bebersih sampah plastik di pantai yang dilakukan Pandawara

    “Mungkin berikutnya akan kita rancang lagi. Mungkin dari Merauke ke IKN. Sehingga gerakan kampanye ini dapat menggugah kepedulian masyarakat terkait bersih dari sampah,” tuturnya seperti dikutip kedaipena.com

    Ia juga menyatakan bahwa sampah plastik merupakan hal yang mengganggu dan membahayakan, baik saat ada di darat maupun di laut.

    “Mudah-mudahan ini dapat menggugah kepedulian masyarakat, baik yang kemarin dilewati, tapi juga masyarakat secara keseluruhan untuk bersama-sama peduli pada sampah,” imbuhnya.

    Panglima Yudo menyampaikan The Rising Tide ini merupakan kolaborasi antara TNI, KLHK dan Kemenko Marves.

    Baca: Pandawara kembali beraksi, Polisi ikut bergerak selidiki pembuang limbah

    “Saya memberikan penekanan kepada masyarakat, terutama generasi muda, supaya sadar, jika kita tidak memulai dari sekarang, maka ke depannya akan lebih berat lagi,” kata Yudo melanjutkan

    Karena itu, ia menyampaikan, The Rising Tide juga memberikan penyuluhan terkait gaya hidup minim sampah hingga akhirnya benar-benar stop wariskana sampah.

    “Pelajar dan pemuda sangat antusias dengan kegiatan ini. Baik etape Bali Jakarta, maupun etape Sabang Jakarta,” tandasnya.

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Polusi Sampah Plastik

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Polusi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Sampah palstik merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar yang dihadapi penghuni planet Bumi hingga saat ini.

    Pada tahun 1950, dunia memproduksi lebih dari 2 juta ton plastik per tahun, dan sebagian besar di antaranya kini menjadi sampah plastik yang mencemari lingkungan.

    Lebih 50 tahun kemudian, atau pada tahun 2015, produksi tahunan ini membengkak menjadi 419 juta ton dan memperburuk polusi sampah plastik di lingkungan.

    Baca: Masalah lingkungan terbesar, salah satunya pemanasan global

    Saat ini diperkirakan, negara-negara di seluruh dunia menghasilkan 300 juta ton sampah plastik setiap tahun yang dampaknya sangat signifikan bagi lingkungan.

    Sebuah laporan dari jurnal sains, Nature, menyebutkan bahwa saat ini, sekitar 14 juta ton sampah plastik masuk ke lautan setiap tahun.

    Selanjutnya sampah plastik ini merusak lingkungan dan habitat satwa liar dan hewan yang hidup di dalamnya.

    Baca: Mungkinkah dunia mencapai nol emisi pada 2050

    Penelitian tersebut menemukan bahwa jika tidak ada tindakan yang diambil, krisis sampah plastik ini akan meningkat hingga 29 juta metrik ton per tahun pada tahun 2040.

    Jika kita memasukkan mikroplastik ke dalam krisis ini, jumlah kumulatif plastik di lautan dapat mencapai 600 juta ton pada tahun 2040.

    Yang mengejutkan, National Geographic menemukan bahwa 91% dari seluruh plastik yang pernah dibuat tidak didaur ulang.

    Baca: Unilever akan tingkatkan pemrosesan sampah plastik

    Hal ini tidak hanya mewakili salah satu masalah lingkungan terbesar dalam hidup kita, namun juga kegagalan pasar besar-besaran lainnya.

    Mengingat plastik membutuhkan waktu 400 tahun untuk terurai, maka akan memakan waktu beberapa generasi hingga plastik tersebut punah.

    Kita tidak tahu apa dampak polusi sampah plastik terhadap lingkungan dan planet Bumi dalam jangka panjang.

    Baca:  Memakai tumbler, langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan

    Tetapi dengan apa yang kita rasakan saat ini, cukup kiranya menjadi alasan untuk mengurangi atau bahkan menghentikan plastik sekali pakai sehingga mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan. 

    Sumber: earth.org

  • Milenial dan Gen Z Bisa Jadi Kekuatan Penekan Produsen Lebih Peduli Lingkungan

    Milenial dan Gen Z Bisa Jadi Kekuatan Penekan Produsen Lebih Peduli Lingkungan

    7cloud.asia – Milenial dan Gen Z yang menjadi penduduk mayoritas Indonesia dinilai telah mempunyai kesadaran tinggi terhadap upaya pengurangan sampah plastik.

    Sebagai konsumen dengan populasi terbanyak, kesadaran untuk mengurangi sampah plastik itu maka milenial dan Gen Z  mempunyai kekuatan untuk menekan produsen agar peduli terhadap kondisi lingkungan.

    Peran milenial dan Gen Z dalam mengurangi sampah plastik ini diungkapkan Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar  dalam acara Green Press Community di Jakarta, Rabu (8/11/2023).

    “Milenial dan Gen Z harus membangun revolusi terhadap perubahan perilaku dalam mengelola sampah, karena itu yang bisa menyelesaikan persoalan sampah di Indonesia secara signifikan,” ujarnya

    Baca: Antusiasme gen z pada aksi pro lingkungan dinilai masih rendah

    Novrizal mengungkapkan, milenial dan gen Z sekarang sudah seperti “sufi” dengan sampah.

    Ia melihat, sejumlah anak muda pernah datang ke gerai Chatime membawa tumbler untuk kurangi sampah plastik. 

    “Tapi petugas tidak mau melayani karena beli minuman harus dengan kemasan botol plastik lengkap dengan sedotan yang sudah disediakan oleh perusahaan,” ujarnya.

    Setelah kejadian penolakan pakai tumbler tersebut, mereka kemudian menulis di media sosial masing-masing.

    Baca: Menggunakan tumbler, langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan

    Protes itu lantas memberikan tekanan terhadap Chatime dan akhirnya mengizinkan para pembeli membawa botol minum sendiri.

    “Kekuatan generasi muda adalah kekuatan besar untuk melakukan tekanan kepada para produsen. Tekanan yang dilakukan oleh generasi muda adalah tekanan dengan kekuatan atau perilaku yang ramah lingkungan,” kata Novrizal.

    KLHK mengajak generasi muda untuk melakukan revolusi perubahan perilaku dalam upaya pengurangan sampah plastik agar tidak mencemari lingkungan.

    Novrizal menuturkan ada lima langkah yang perlu dilakukan yaitu gerakan hidup minim sampah dengan membatasi dan mencegah penggunaan barang-barang sekali pakai.

    Baca: Infrastruktur guna ulang semakin banyak dibangun

    Gerakan hidup minim sampah harus menjadi karakter generasi muda, katanya.

    Langkah kedua, belanja tanpa kemasan dengan mulai membiasakan diri membawa tempat penyimpan sendiri agar tidak ada sampah yang dihasilkan dari kegiatan belanja.

    Kemudian menghabiskan makanan, karena sampah makanan yang dibuang ke tempat pembuangan akhir akan terdekomposisi dan menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.

    Padahal, ujarnya, gas metana 28 kali lebih berbahaya jika dibanding dengan karbondioksida.

    Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi diabaikan

    “Jadi persoalan serius ini, makanan yang tidak habis dibawa ke TPA, kemudian gas metana keluar. Itu penyebab yang lebih berbahaya ketimbang karbondioksida untuk penyebab perubahan iklim,” ucapnya.

    Langkah selanjutnya wajib memilah sampah di rumah dan harus menjadi kesadaran kolektif anak muda di Indonesia.

    Jika sampah sudah dipilah berikan kepada bank sampah atau social ecopreneur yang menggunakan sampah pilah itu untuk didaur ulang.

    Langkah terakhir adalah mengolah sampah organik di rumah menjadi kompos agar sampah organik tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Novrizal mengungkap beberapa daerah sedang kewalahan dalam menangani sampah akibat tempat pembuangan akhir penuh ataupun kebakaran.

    “Kalau lima hal itu bisa dilakukan, maka 90 persen urusan sampah bisa selesai di rumah,” ucapnya.

     

     

  • 10 Ide Kreatif Mendaur-ulang Kantung Plastik Sekali Pakai agar Tak Segera Jadi Sampah Plastik

    10 Ide Kreatif Mendaur-ulang Kantung Plastik Sekali Pakai agar Tak Segera Jadi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Kantung plastik sekali pakai menjadi salah stau penyumbang terbesar sampah plastik yang memicu masalah serius bagi lingkungan. 

    Karena itu penggunaan kantung plastik sekali pakai disarankan untuk dihindari untuk mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan.

    Meskipun berusaha untuk selalu membawa tas belanja guna ulang untuk kurangi sampah plastik, seringkali kita tak bisa benar-benar menghindari kantong plastik sekali pakai.

    Jika ini terjadi, jangan dulu galau. Pasalnya ada banyak cara kreatif untuk mendaur ulang kantong plastik sekali pakai dan membuatnya lebih bermanfaat dan tidak segera menjadi sampah plastik.

    Baca: Anak muda bisa jadi penggerak untuk kurangi sampah plastik

    Berikut ide kreatif untuk mendaur ulang kantung plastik bekas, sebagaimana dilansir Real Simple: 

    1. Tempat Sampah 
    Saat sedang mengupas buah dan sayuran, buang bagian yang tidak digunakan ke dalam kantong plastik terlebih dahulu sebelum membuangnya ke tempat sampah.

    Dengan begitu, kamu bisa mengorganisasi tempat sampah menjadi lebih bersih dan rapi.

    2. Kemasan Kado atau Hadiah
    Kantong plastik ternyata juga bisa digunakan sebagai pengganti kertas kado, lho! Dengan menggunakan sedikit kreativitas, kamu bisa membungkus kado atau hadiah menjadi cantik hanya dengan kantong plastik.

    Gunakan kantong plastik beragam warna agar kado atau hadiah tampak lebih menarik.

    Baca: Sampah plastik menjadi masalah serius bagi lingkungan

     

    3. Pelindung Kepala Darurat saat Hujan
    Di cuaca yang tidak menentu seperti sekarang, penting untuk membawa payung ke mana pun pergi.

    Kamu juga bisa menggunakan kantong plastik sebagai pelindung kepala darurat saat hujan. Selipkan kantong plastik ke dalam saku atau tas untuk digunakan sebagai pelindung kepala darurat.

    4. Pengisi Pot Tanaman
    Kekurangan tanah untuk tanaman dalam pot? Cobalah gunakan kantong plastik dengan memasukkannya ke bagian bawah pot.

    Dengan begitu, kamu bisa mengurangi penggunaan tanah dalam pot.

    Baca: Unilever akan tingkatkan pemrosesan sampah plastik yang dihasilkannya

    5. Pelindung Lutut
    Saat berkebun atau mengganti ban di jalanan, hindari kotoran dan noda di celana dengan mengikatkan kantong plastik di sekitar lutut.

    6. Sarung Tangan Sementara
    Gunakan kantong plastik sebagai sarung tangan untuk menangani hal-hal yang berantakan atau menjijikkan.

    Agar lebih mudah saat ingin dibuang, balikkan kantong plastik sehingga sisi yang kotor berada di dalam.

    7. Penahan Payung Basah

    Agar payung basah tidak mengotori rumah, kamu bisa memasukkannya ke dalam kantong plastik terlebih dahulu sampai kering, lho!

    Baca: Menggunakan tumbler, langkah kecil yang berdampak besar untuk lingkungan

    8. Pelindung Sepatu
    Jaga rumah tetap bersih dengan mengikatkan kantong plastik di sepatu saat masuk atau melindungi sepatu dari kotoran saat di luar rumah.

    9. Pelindung Buku Resep
    Selamatkan buku resep dari percikan bahan masakan dengan membungkusnya dengan kantong plastik saat memasak. Dengan begitu, buku resepmu akan tetap bersih dan dalam kondisi yang baik.

     

    10. Pelindung Kuas Cat
    Kamu juga bisa menggunakan kantong plastik untuk membungkus kuas cat agar tidak tercampur warnanya dengan warna lain.

    Caranya, tempatkan kuas cat ke dalam kantong plastik, ikat atau bungkus dengan karet gelang.

    Demikianlah beragam ide kreatif untuk mendaur ulang kantong plastik bekas menjadi lebih bermanfaat. Dengan sedikit kreativitas, kita bisa mengurangi limbah plastik sekaligus membuatnya bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

     

  • Bagaimana Pemerintah Jepang Kurangi Sampah Plastik

    Bagaimana Pemerintah Jepang Kurangi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Jepang merupakan salah satu negara yang concern pada pada sampah plastik  yang dihasilkan warganya.

    Pernah menjadi salah satu produsen sampah plastik terbesar di dunia, Jepang kini makin serius mengelola sampah plastik yang dihasilkan warganya.

    Melinda Joe dari BBCNews menuliskan pengalamannya mengurangi sampah plastik selama ia tinggal di Jepang. Dan, akan kami turunkan secara bersambung mulai hari ini  

    Setiap Selasa pagi ketika saya membuang sampah, saya melihat kantong sampah plastik bening berisi botol PET kosong yang ditumpuk di samping tempat sampah daur ulang berwarna biru.

    Di daerah tempat saya tinggal di Tokyo, Jepang, pemerintah kota menyediakan tempat pengumpulan kaca, aluminium, dan plastik setiap minggunya di titik-titik tertentu di sekitar lingkungan tersebut.

    Baca: Cara sederhana mengelola sampah rumah tangga

    Pada pukul 08.00, tempat sampah selalu penuh, namun volume sampah botol plastik meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan pemerintah kota untuk mengolah dan mengelolanya.

    Produksi botol plastik di Jepang telah melonjak hingga 23,2 miliar per tahun, dari 14 miliar pada tahun 2004.

    Meskipun negara ini memiliki teknologi daur ulang yang canggih, sekitar 2,6 miliar botol plastik dibakar, dikirim ke tempat pembuangan sampah, atau hilang ke saluran air dan lautan setiap tahunnya.

    Seperti kebanyakan penduduk Tokyo, saya sangat teliti dalam memilah sampah dan selalu membuang botol plastik ke tempat sampah daur ulang.

    Namun plastik sekali pakai – produk yang sebagian besar berasal dari bahan kimia berbasis bahan bakar fosil dan hanya dapat digunakan sekali – sulit dihindari di ibu kota Jepang.

    Baca: Ekonomi sirkular yang digadang atasi sampah

    Mesin penjual otomatis yang menjual minuman dalam botol plastik berjejer di jalan lingkungan tempat tinggal saya.

    Di tiga toko serba ada yang berjarak lima menit berjalan kaki dari apartemen saya, pilihan makanan siap saji untuk satu porsi – seperti kotak makan siang bento dan kantong berisi makanan. 

    Di supermarket, buah-buahan yang dibungkus dengan jaring polistiren, dikemas dalam karton plastik, dan kemudian dibungkus dengan cling film adalah pemandangan umum.

    Pada tahun 2014, Jepang menghasilkan 32,4 kg (71 pon) sampah kemasan plastik per kapita – nomor dua setelah Amerika Serikat, dengan 40 kg (88 pon) per kapita.

    Selama beberapa tahun terakhir, saya melihat semakin banyak sampah plastik di rumah saya.

    Baca: Membangun ekosistem guna ulang

    Selama pandemi, saya dan suami mengandalkan makanan yang bisa dibawa pulang dan makanan beku lezat dan hemat waktu yang tersedia secara online – pizza kemasan vakum, burrito bungkus plastik, dan kantong plastik berisi galet kentang.

    Suatu hari, saya menyadari bahwa dua pertiga dari sampah yang saya dan banyak orang hasilkan adalah adalah plastik.

    Khawatir dengan laporan bahwa polusi plastik di laut akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2050, saya khawatir kita sedang menuju ke jurang kenyamanan yang berkontribusi terhadap krisis plastik.

    Untuk mengetahui seberapa besar perubahan gaya hidup sehari-hari dapat mengurangi sampah, saya menantang diri saya sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama seminggu.

    Bahkan sebelum Jepang mulai memungut biaya untuk kantong plastik di toko retail, saya telah memilih tas yang dapat digunakan kembali untuk berbelanja.

    Baca: Mana lebih baik, daur ulang atau guna ulang

    Membawa botol air dan mengunduh aplikasi MyMizu, yang menunjukkan peta stasiun pengisian ulang di sekitar pusat kota Tokyo, membantu saya menghindari membeli air dalam botol PET.

    Untuk mengurangi sampah plastik saya secara signifikan, saya fokus pada pembatasan kemasan, pertama dengan mengurangi makanan yang dibawa pulang pada waktu makan siang, yang sering kali dikemas dalam wadah plastik, dan tidak berbelanja online.

    Pengemasan yang berlebihan adalah hal yang lumrah di Tokyo. Pegawai toko biasanya membungkus toples kaca dengan bubble wrap atau memasukkan sayuran ke dalam kantong plastik secara otomatis saat checkout.

    Bagaimana saya menyiasati pola ini untuk mengurangi sampah plastik yang dihasilkan, ikuti di tulisan selanjutnya.

    Sumber: BBC Environment

  • Mengungkap Masalah Sampah Plastik di Asia

    Mengungkap Masalah Sampah Plastik di Asia

    7cloud.asia – Masalah sampah plastik dulu hanya dihadapi negara-negara industri dan negara maju.

    Namun kini sampah plastik meningkat di seluruh dunia termasuk di Benua Asia – bahkan di negara-negara berkembang – karena pesatnya pertumbuhan ekonomi dan populasi.

    Globalisasi memperparah masalah yang ditimbulkan sampah plastik ini di banyak negara.

    Reporter Kyodo News Tetsuji Ida mengatakan, memproduksi plastik sekali pakai kini menjadi lebih murah.

    Lantas, dengan adanya globalisasi, semakin mudah bagi negara-negara, misalnya di Afrika dan Asia, untuk mengimpor barang-barang tersebut.

    Baca: Cara Jepang mengurangi produksi plastiknya

    “Di negara-negara seperti itu, air minum bersih sering kali tersedia dalam botol dan kantong plastik,” kata Tetsuji yang telah menulis tentang krisis plastik dan masalah lingkungan lainnya selama lebih dari 30 tahun.

    Tetsuji mengatakan, pada tahun 2019, Asia memproduksi 54% plastik dunia. Produksi sampah plastik ini terutama disumbang oleh China dan Jepang.

    Temuan lainnya, sekitar setengah dari sampah plastik yang ditemukan di lautan hanya berasal dari lima negara: China, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

    Pada ujungnya sampah plastik ini terurai menjadi mikropartikel yang tidak dapat terbiodegradasi sehingga menimbulkan potensi ancaman terhadap satwa liar dan kesehatan manusia.

     

    Baca: Sampah plastik di Natuna terbawa dari negara lain

    Polusi plastik berdampak pada hampir semua spesies laut, dan para ilmuwan telah mengamati dampak negatifnya pada hampir 90% spesies yang dinilai.

    Meskipun dampaknya terhadap manusia masih belum diketahui, mikroplastik telah terdeteksi dalam darah, plasenta, dan ASI.

    “Begitu plastik dibakar dan berakhir “di lingkungan, maka sangat sulit untuk diambil kembali,” kata Melanie Bergman, ahli biologi kelautan yang meneliti polusi plastik di Alfred Wegener Institute di Jerman.

    Nate Maynard, produser podcast iklim “Waste Not Why Not” yang berbasis di Taiwan dan mantan konsultan keberlanjutan, menunjukkan kurangnya sistem pengelolaan sampah di banyak wilayah sebagai hambatan utama.

     

    Baca: Sampah plastik menjadi masalah serius untuk lingkungan.

    “Ketika masyarakat tidak memiliki akses terhadap pembuangan limbah, mereka akhirnya membuang atau membakarnya, dan hal ini berdampak pada kesehatan serta dampak lingkungan,” katanya.

    Ia menambahkan bahwa “elemen manusia” sering kali diabaikan dalam diskusi mengenai dampak buruk limbah tersebut. dampak sampah laut.

    Pengelolaan sampah yang tidak tepat berakibat pada tingginya risiko penyakit seperti malaria, demam berdarah, dan asma. 

    Kontaminasi bahan kimia yang ditimbulkan sampah plastik, kata Bergman, merupakan nasalah lain yang tidak kalah berbahaya.

     

    Baca: Ide kreatif mendaurulang sampah plastik

    Di banyak belahan dunia,negara-negara berkembang tidak mempunyai dana untuk membangun pabrik insinerasi seperti digunakan di Jerman.

    “Sehingga Anda akan mendapatkan residu yang sangat beracun sehingga Anda harus menanganinya. pada generasi mendatang,” katanya.

    Jadi tak ada yang lebih bijak, jika kita mulai mengurangi atau bahkan sama sekali tidak menggunakan plastik sekali pakai untuk mengurangi sampah plastik.  

    Diterjemahkan dari tulisan Melinda Joe, wartawan BBC News yang tinggal di Tokyo, Jepang

  • Keren! Daur Ulang Sampah Plastik di Jepang Mencapai 85 Persen

    Keren! Daur Ulang Sampah Plastik di Jepang Mencapai 85 Persen

    Foto: zerowaste Indonesia

    7cloud.asia – Artikel ini masih mengupas tentang upaya Jepang dalam menekan dan menangani sampah plastik yang dihasilkan warganya.

    Melinda Joe dalam artikel yang ditulis di BBC News, menyebut bahwa Jepang menempati peringkat kedua di dunia setelah Jerman dalam pengelolaan plastik.

    Meskipun Jepang dipuji karena tingkat daur ulang sampah plastik yang mencapai lebih dari 85 persen, angka tersebut memberikan gambaran yang bagus mengenai situasi tersebut.

    Menurut Institut Pengelolaan Sampah Plastik yang berbasis di Tokyo, pada tahun 2020, hanya 21 persen sampah plastik yang menjalani daur ulang, yaitu menggunakan kembali plastik.

    Baca: Cara pemerintah Jepang kelola sampah plastik

    Sebanyak 3 persen menjalani daur ulang kimia, yang memecah polimer plastik menjadi bahan penyusun bahan sekunder.

    Lantas 8 persen sampah plastik dibakar, sementara 6 persen dibuang ke tempat pembuangan sampah.

    Sebagian besar atau 63 persen sampah plastik di Jepang diproses sebagai “daur ulang termal”, yang melibatkan penggunaan plastik sebagai bahan bahan bakar padat dan membakarnya untuk energi.

    “Artinya, dua pertiga sampah plastik dibakar. Di Eropa, ‘daur ulang termal’ ini dianggap sebagai pemulihan energi, bukan daur ulang,” kata Tetsuji Ida, jurnalis yang sudah 30 tahun menulis soal sampah.

     

    Baca: Warga Tokyo ini berusaha keras hidup tanpa plastik

    Ia menambahkan bahwa Jepang adalah eksportir sampah plastik terbesar. “Tingkat daur ulang hanya berlaku untuk apa yang tersisa di Jepang.”

    Pada tahun 2020, Jepang mengekspor 820.000 ton sampah plastik ke negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Taiwan – sekitar 46 persen dari total keseluruhan.

    Salah satu masalahnya, kata Ida, adalah strategi Jepang dalam menangani sampah plastik memberikan beban terbesar pada konsumen dan pemerintah daerah.

    Ia menyebut, proses daur ulang yang paling mahal ada pada tahap pemilahan sampah plastik.

    Baca: Mengulik perkembangan konsep guna ulang di Indonesia

    Pasalnya pemilahan sampah harus dilakukan secara manual sementara upah di Jepang sangat tinggi, dan pemerintah daerah menanggung biaya paling tinggi.

    “Artinya, bebannya ada pada pembayar pajak, sementara perusahaan hanya membayar biaya daur ulang – bukan untuk pengumpulan atau pengelolaan internal,” katanya. 

    Selain itu, Ida mengatakan bahwa inisiatif pemerintah, seperti undang-undang baru-baru ini yang mewajibkan dunia usaha untuk menetapkan target pengurangan plastik sekali pakai mempunyai dampak yang sangat kecil.

    “Bisnis yang gagal mematuhi peraturan akan disebut dan dipermalukan namun tidak ada denda atau konsekuensi hukum,” Pungkasnya.

    Baca: Gunakan tumbler untuk kurangi sampah plastik

  • Fakta Mengerikan Soal Sampah Plastik, Tak Ada Lagi Alasan Menunda Gaya Hidup Berkelanjutan

    Fakta Mengerikan Soal Sampah Plastik, Tak Ada Lagi Alasan Menunda Gaya Hidup Berkelanjutan

    7cloud.asia – United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan sebanyak 23 hingga 37 juta metrik ton sampah plastik mengalir ke laut setiap tahunnya pada tahun 2040.

    Jumlah ini setara dengan 50 kilogram sampah plastik per meter dari garis pantai di seluruh dunia atau dengan berat yang setara dengan 178 Kapal Symphony of the Seas, kapal pesiar terbesar di dunia.

    Sampah plastik tersebut sebagian besar berasal dari sumber polusi darat yang tidak tertangani dengan baik.

    Di Indonesia, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat pada tahun 2023, terjadi peningkatan timbunan sampah sebesar 20% di bulan Ramadan.

    “Komposisi sampah tertinggi di Indonesia didominasi oleh sampah organik berupa sisa makanan, yaitu mencapai 41,2% dan diikuti oleh sampah plastik 18,2%,” ujar Ketua KFLHK yang juga Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia beberapa waktu lalu. 

    Baca: Mencari solusi penanganan sampah plastik di Indonesia 

    Sementara sampah rumah tangga menyumbang terbesar jumlah sampah nasional  yakni hingga
    39,2%.  

    Dolly menambahkan, sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang mengancam kesehatan dan lingkungan.

    Dampak yang ditimbulkan dari sampah plastik, antara lain jika dibakar secara terbuka, dapat menyebabkan polusi udara yang dapat memicu penyakit kanker.

    Mikroplastik dan nanoplastik bahkan sudah mencemari berbagai ekosistem, dan sudah dapat ditemukan di dalam darah manusia yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan stroke.

    Pada dosis yang lebih besar, mikroplastik dapat mengakibatkan sakit kulit yang serius yang disebut chloracne.

    “Selain itu, sampah plastik juga dapat mencemari air dan tanah, mengganggu rantai makanan dan ekosistem,” imbuh Dolly.

    Baca: Pengembangan teknologi untuk tangani sampah plastik

    Dalam jumlah tertentu, sampah plastik dapat menyumbat saluran atau sungai yang dapat mengakibatkan banjir.

    Salah satu aksi yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut yaitu dengan menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

    Gaya hidup berkelanjutan merupakan gaya hidup yang memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kelestarian dan keberlanjutan lingkungan.

    Gaya hidup tersebut mengacu pada pola hidup yang mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk mendukung kesejahteraan jangka panjang agar lingkungan juga dapat dihuni oleh generasi mendatang.

    Gaya hidup berkelanjutan penting dilakukan dalam kehidupan sehari-hari karena memiliki berbagai manfaat bagi lingkungan.

    Baca: Empat model yang bisa diterapkan untuk pengembangan sistem guna ulang

    Antara lain berkontribusi besar dalam pelestarian keanekaragaman hayati, peningkatan kualitas udara dan air, pengurangan emisi gas rumah cara, pemberdayaan ekonomi lokal dan peningkatan kesehatan individu.

    Contoh gaya hidup berkelanjutan yang dapat dilakukan pada kehidupan sehari-hari, antara lain membawa tas belanja dan botol minum serta alat makan ramah lingkungan.

    “Kita juga bisa melakukan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), menggunakan transportasi umum, menghemat air dan listrik, menanam pohon dan mendukung produk lokal ramah lingkungan,” pungkas Dolly.

    Nah, setelah membaca fakta di atas masih kah kamu tak tergerak untuk bersikap lebih ramah lingkungan? Jangan ditunda lagi ya.

  • Aksi Keren Aktivis Greenpeace: Minta Unilever Segera Kurangi Sampah Plastik

    Aksi Keren Aktivis Greenpeace: Minta Unilever Segera Kurangi Sampah Plastik

    7cloud.asia – Sejumlah aktivis Greenpeace mengembalikan sampah-sampah plastik ke produsen, yang telah ditempel pada logo U raksasa, di depan Graha Unilever, pada Kamis (20/6/2024) lalu.

    Sampah plastik ini merupakan hasil pengumpulan sampah khusus brand Unilever selama satu minggu penuh yang dilakukan aktivis Greenpeace,

    Aksi ini bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban Unilever, untuk mengambil dan mengolah kembali sampah plastik yang telah mereka hasilkan.

    Menurut laporan Audit Merek (Brand Audit) dalam 5 tahun terakhir, Unilever merupakan salah satu perusahaan FMCG terbesar yang selalu masuk ke dalam daftar pencemar tertinggi, baik secara nasional maupun global.

    Audit Merek yang dilakukan di 4 negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mendapati Unilever sebagai pencemar teratas dengan jumlah total kemasan plastik sekali pakai sebanyak 1.851.

    Baca: Hasil audit Greenpeace temukan kemasan brand yang paling mencemari Bumi

    Secara global Unilever memproduksi saset dan berencana akan menjual 53 miliar saset tahun ini, atau setara dengan 1700 saset per detik.

    Saat ini Unilever global sedang membatalkan komitmen sebelumnya untuk mengurangi penggunaan plastik murni sebesar 50 persen pada tahun 2025 — target yang diperbarui kini berfokus pada pengurangan penggunaan plastik murni sebesar 30 persen pada tahun 2026.

    Dalam siaran pers yang dilansir di laman resmina, Greenpeace menyebut Unilever mengklaim menginginkan dunia yang ‘bebas limbah’, namun 99,8 persen kemasan plastiknya saat ini adalah kemasan sekali pakai.

    Analisis Greenpeace menunjukkan bahwa dengan laju saat ini, dibutuhkan waktu lebih dari tahun 3000 sebelum 100% produk plastik Unilever dapat digunakan kembali.

    Tanggung jawab produsen atas sampah dan secara khusus tentang saset tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.

    Baca: Upaya Unilever tangani sampah plastiknya

    Mewajibkan produsen, salah satunya industri manufaktur, untuk membuat peta jalan pengurangan sampah dari kemasannya sebesar 30%.

    Mengacu pada Permen LHK nomor 75 tahun 2019, hingga saat ini baru sebanyak 18 produsen yang melakukan pilot project dari 42 produsen yang telah mempunyai dokumen peta jalan.

    Walaupun Permen LHK nomor 75 tahun 2019 ini memerintahkan penghapusan kemasan saset dibawah 50 mililiter.

    Tapi dengan kondisi saat ini, tanpa adanya komitmen pengurangan produksi, dan transparansi kemajuan peta jalan pengurangan sampah oleh produsen, sampah saset akan terus mencemari dan membebani lingkungan.

    “Saatnya menagih tanggung jawab Unilever, sebagai salah satu produsen FMCG terbesar di dunia, untuk serius menjalani komitmen pengurangan produksi plastik mereka, serta mendesak mereka untuk membuka peta jalan pengurangan sampahnya,” ujar Ibar Akbar, Plastic Project Lead Greenpeace Indonesia.

    Baca: KLHK ajak masyarakat tak beli produk yang tak tangani sampah plastiknya

    Laporan brand audit saset ini melibatkan 25 organisasi di 4 negara di Asia, untuk melihat persebaran penjualan kemasan saset di negara-negara Asia.

    Untuk Asia Tenggara sendiri, konsumsi saset hampir mencapai separuh dari pangsa global dengan proyeksi mencapai angka 1,3 triliun saset terjual setiap tahunnya pada tahun 2027.

    Perjanjian plastik global yang sedang berlangsung proses negosiasinya antara negara anggota, menjadi satu-satunya peluang seumur hidup untuk mengatasi krisis plastik.

    Maka, Ibar menegaskan pentingnya untuk memiliki perjanjian plastik global yang kuat dan ambisius untuk mengurangi produksi plastik.

    Greenpeace juga terus mendorong beralihnya bisnis plastik sekali pakai ke sistem guna ulang.