Milenial dan Gen Z Bisa Jadi Kekuatan Penekan Produsen Lebih Peduli Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Milenial dan Gen Z yang menjadi penduduk mayoritas Indonesia dinilai telah mempunyai kesadaran tinggi terhadap upaya pengurangan sampah plastik.

Sebagai konsumen dengan populasi terbanyak, kesadaran untuk mengurangi sampah plastik itu maka milenial dan Gen Z  mempunyai kekuatan untuk menekan produsen agar peduli terhadap kondisi lingkungan.

Peran milenial dan Gen Z dalam mengurangi sampah plastik ini diungkapkan Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar  dalam acara Green Press Community di Jakarta, Rabu (8/11/2023).

“Milenial dan Gen Z harus membangun revolusi terhadap perubahan perilaku dalam mengelola sampah, karena itu yang bisa menyelesaikan persoalan sampah di Indonesia secara signifikan,” ujarnya

Baca: Antusiasme gen z pada aksi pro lingkungan dinilai masih rendah

Novrizal mengungkapkan, milenial dan gen Z sekarang sudah seperti “sufi” dengan sampah.

Ia melihat, sejumlah anak muda pernah datang ke gerai Chatime membawa tumbler untuk kurangi sampah plastik. 

“Tapi petugas tidak mau melayani karena beli minuman harus dengan kemasan botol plastik lengkap dengan sedotan yang sudah disediakan oleh perusahaan,” ujarnya.

Setelah kejadian penolakan pakai tumbler tersebut, mereka kemudian menulis di media sosial masing-masing.

Baca: Menggunakan tumbler, langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan

Protes itu lantas memberikan tekanan terhadap Chatime dan akhirnya mengizinkan para pembeli membawa botol minum sendiri.

“Kekuatan generasi muda adalah kekuatan besar untuk melakukan tekanan kepada para produsen. Tekanan yang dilakukan oleh generasi muda adalah tekanan dengan kekuatan atau perilaku yang ramah lingkungan,” kata Novrizal.

KLHK mengajak generasi muda untuk melakukan revolusi perubahan perilaku dalam upaya pengurangan sampah plastik agar tidak mencemari lingkungan.

Novrizal menuturkan ada lima langkah yang perlu dilakukan yaitu gerakan hidup minim sampah dengan membatasi dan mencegah penggunaan barang-barang sekali pakai.

Baca: Infrastruktur guna ulang semakin banyak dibangun

Gerakan hidup minim sampah harus menjadi karakter generasi muda, katanya.

Langkah kedua, belanja tanpa kemasan dengan mulai membiasakan diri membawa tempat penyimpan sendiri agar tidak ada sampah yang dihasilkan dari kegiatan belanja.

Kemudian menghabiskan makanan, karena sampah makanan yang dibuang ke tempat pembuangan akhir akan terdekomposisi dan menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.

Padahal, ujarnya, gas metana 28 kali lebih berbahaya jika dibanding dengan karbondioksida.

Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi diabaikan

“Jadi persoalan serius ini, makanan yang tidak habis dibawa ke TPA, kemudian gas metana keluar. Itu penyebab yang lebih berbahaya ketimbang karbondioksida untuk penyebab perubahan iklim,” ucapnya.

Langkah selanjutnya wajib memilah sampah di rumah dan harus menjadi kesadaran kolektif anak muda di Indonesia.

Jika sampah sudah dipilah berikan kepada bank sampah atau social ecopreneur yang menggunakan sampah pilah itu untuk didaur ulang.

Langkah terakhir adalah mengolah sampah organik di rumah menjadi kompos agar sampah organik tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.

Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

Novrizal mengungkap beberapa daerah sedang kewalahan dalam menangani sampah akibat tempat pembuangan akhir penuh ataupun kebakaran.

“Kalau lima hal itu bisa dilakukan, maka 90 persen urusan sampah bisa selesai di rumah,” ucapnya.

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *