Tag: bali

  • Update Banjir Bali: Korban Meninggal Bertambah Jadi 14 Orang, 2 Orang Masih Dalam Pencarian

    Update Banjir Bali: Korban Meninggal Bertambah Jadi 14 Orang, 2 Orang Masih Dalam Pencarian

    7cloud.asia – Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh BPBD masing-masing dengan dibantu BPBD Provinsi Bali dan BNPB di tujuh wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Bali yang terdampak bencana banjir dan longsor.

    BNPB terus memantau perkembangan situasi pascabencana hidrometeorologi basah yang dilaporkan sejak Rabu (10/9/2025).

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat lebih dari 120 titik banjir yang menerjang tujuh wilayah administrasi kabupaten dan kota. Jumlah paling tinggi wilayah terdampak banjir berada di Kota Denpasar dengan 81 titik.

    Sedangkan di Kabupaten Gianyar terdapat 14 titik, di Kabupaten Badung 12 titik, Kabupaten Tabanan 8 titik, Kabupaten Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik. Di Kabupaten Klungkung, banjir berdampak di Kecamatan Dawan.

    Baca: Banjir Bali kali ini terbesar dalam 10 tahun terakhir

    Sedangkan tanah longsor, sebanyak 12 titik terdapat di Kabupaten Karangasem, 5 titik di Kabupaten Gianyar dan satu titik di Kabupaten Badung.

    Pusdalops BPBD kabupaten dan kota juga terus memutakhirkan pendataan di lapangan. Data sementara per Kamis, (11/9/2025) siang total korban meninggal dunia yang sudah ditemukan berjumlah 14 jiwa,  sedangkan 2 warga lainnya dinyatakan hilang.

    Rincian korban meninggal adalah sebagai berikut: di Kota Denpasar 8 jiwa, Kabupaten Jembrana 2 jiwa, Kabupaten Gianyar 3 jiwa dan Kabupaten Badung 1 jiwa. Korban yang hilang sebanyak dua jiwa teridentifikasi di Kota Denpasar.

    Baca: Beda penanganan banjir di Semarang dan Surabaya

    Sementara itu, ratusan warga mengungsi di beberapa titik pos pengungsian. BPBD Provinsi Bali menginformasikan 562 warga mengungsi, dengan rincian 327 warga di Kabupaten Jembrana dan 235 warga di Kota Denpasar.

    Fasilitas umum, seperti sekolah, balai desa, musala dan banjar dimanfaatkan sebagai pos pengungsian sementara.

    Dalam keterangannya, BNPB juga menyebutkan selain Bali dan Nagekeo, banjir juga dilaporkan terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Pesisir Barat, Lampung

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

     

  • Pergeseran Fungsi Pecalang: Dari Penjaga Ritual ke Pengawas Pariwisata

    Pergeseran Fungsi Pecalang: Dari Penjaga Ritual ke Pengawas Pariwisata

    7cloud.asia – Reformasi 1998 membawa banyak perubahan dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Di Bali, salah satunya adalah meningkatnya perhatian pada pengamanan adat yang dikenal dengan nama pecalang.

    Asal-muasal pecalang sebenarnya tidak begitu jelas dalam sejarah Bali. Ada yang meyakini pecalang sudah menjadi bagian dari kebudayaan Bali sejak masa kerajaan dengan sebutan beragam, seperti sikep, dolop atau sambangan.

    Mereka adalah barisan pengamanan, semacam telik sandi (mata-mata) yang bertugas untuk menjaga keamanan lingkungan kerajaan dari ancaman musuh.

    Seiring waktu, pecalang juga berkembang dan tumbuh di tiap desa adat dengan ciri khasnya masing-masing. Setiap desa adat punya ciri khas dan sebutan yang berbeda.

    Versi lain menyebutkan, pada 1965 barisan pecalang mengingatkan sebagian survivor seperti barisan tameng, milisi sipil berpakaian hitam yang terlibat dalam peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh PKI (Partai Komunis Indonesia).

    Namun, ada juga yang berpendapat bahwa pecalang dibentuk untuk menjaga parkir dan mengatur lalu lintas saat Pesta Kesenian Bali (PKB) yang mulai berlangsung pada tahun 1970-an.

    Terlepas dari asal-usulnya, momentum yang membawa pecalang dikenal publik luas adalah Kongres PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) Ke-V di kawasan Sanur, Bali pada 8-10 Oktober 1998.

    Penulis menyaksikan sendiri bagaimana suasana kala itu begitu meriah menyambut kongres. Ajakan menjadi pecalang untuk mengamankan kongres berseliweran sampai ke desa dan banjar—satuan komunitas terkecil di Bali.

    Baca: Tata kelola air yang berkelanjutan di Bali

    Selain satgas partai, PDIP memanfaatkan barisan pecalang untuk mengatur para simpatisannya yang datang berbondong-bondong ke Bali. Sejak saat itu, pecalang semakin dikenal sebagai simbol budaya Tanah Dewata.

    Dari segi bahasa, pecalang berasal dari kata ‘calang’ atau ‘celang’ yang berarti “waspada.” Namun dalam praktiknya, sejarah menunjukkan bahwa peran pecalang begitu lentur, sehingga sering dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk beragam kepentingan.

    Multifungsi pecalang
    Cairnya peran pecalang membuat mereka rentan dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Tidak terkecuali untuk sebagai barisan pengawas kepentingan pariwisata.

    Citra dan simbol tradisi menjadikan pecalang sebagai pintu masuk legitimasi dan melibatkan kearifan lokal dalam berbagai kepentingan.

    Setelah sukses mengawal kongres PDIP pada 1998, pecalang semakin dipercaya sebagai “jaminan keamanan Bali”. Banyak desa lantas membuat posko, memberi peralatan lengkap, bahkan menyediakan mobil patroli untuk mereka bertugas.

    Asal-usul, tradisi, cara hidup, cara menjaga alam, hingga merawat sesama. Semuanya berakar dari pengetahuan lokal. Ada yang sebatas mitos dan tinggal cerita, ada juga yang masih hidup dan relevan, bahkan menjawab masalah terkini.

    Tugas pecalang juga makin beragam. Mereka melakukan patroli keamanan desa, ikut dalam razia pendatang, melakukan sweeping pasca-Bom Bali 2002 dan 2005, hingga menjaga konser-konser musik.

    Pasca Bom Bali 2002 dan 2005, pecalang menjadi bagian penting dalam fragmen razia, penggerebekan, atau “penertiban” penduduk pendatang. Aksi sweeping ini dinilai penting untuk memulihkan keamanan dan kedamaian Bali pascatragedi bom.

    Baca: Pulau Bali diproyeksikan menjadi pulau pertanian organik

    Peraturan daerah Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali pada pasal 47 semakin menguatkan posisi pecalang. Dalam Perda tersebut, mereka resmi bertugas menjaga keamanan, ketenteraman, dan ketertiban dalam wewidangan atau wilayah desa adat.

    Pecalang juga diminta berkoordinasi dengan aparat keamanan negara, serta mendapatkan pelatihan dari lembaga berkompeten.

    Menurut Lontar Purwadigama Sasana, panduan moral dan etika Bali, syarat menjadi pecalang antara lain:

    Nawang kangin kauh: memahami arah mata angin dan medan tugas.
    Wanen lan wirang: berani dan tegas.
    Celang can cale: peka, cerdas, dan gesit.
    Rumaksa guru: berperilaku dan bertindak layaknya seorang guru.
    Sathya bakti ikang widhi: tulus dan ikhlas serta setia berbakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
    Krama desa adat: wajib terdaftar dan memiliki status hukum sebagai anggota sah di desa adat, serta memiliki kestabilan jiwa.

    Lebih dari sekadar penjaga adat
    Dalam perkembangannya, pecalang kini menghadapi sejumlah masalah yang lebih kompleks.

    Riset penulis menunjukkan, pecalang bukan hanya menjaga ketertiban upacara adat, tetapi juga sudah jauh terlibat dalam mengatasi berbagai masalah sosial, termasuk kriminalitas, narkoba, dan konflik sosial.

    Sayangnya, kontribusinya terhadap sistem pertahanan nasional belum sepenuhnya diakui. Padahal, pecalang bisa berperan penting dalam mendeteksi dan merespons ancaman nonmiliter di masyarakat, sekaligus menjembatani hubungan antara masyarakat adat dan aparat formal agar keamanan lokal lebih inklusif dan berbasiskan kondisi setempat.

     

    Untuk mendukung fungsi tersebut, penelitian penulis merekomendasikan perlunya peningkatan kapasitas pecalang melalui pelatihan keamanan, pemahaman hukum, dan keterampilan menghadapi ancaman modern.

    Dan hal ini hanya bisa terjadi dengan dukungan kelembagaan, pendanaan, serta integrasi formal ke sistem pertahanan nasional tanpa menghilangkan identitas adat yang menjadi dasar keberadaan mereka.

    Perkuat negara, dari desa
    Tanggal 17 Mei 2025 lalu, para pecalang yang tergabung dalam Pesikian Pecalang Bali (perkumpulan pecalang Bali)—yang mewakili 1.500 desa adat dengan total 13 ribu anggota—menggelar deklarasi bertajuk Gelar Agung Pecalang di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Denpasar.

    Ribuan pecalang tersebut menyampaikan tiga poin pernyataan sikap.

    Pertama, menolak kehadiran organisasi kemasyarakatan (ormas) yang berkedok menjaga keamanan, ketertiban, dan sosial dengan tindakan premanisme, kekerasan, dan intimidasi. Aksi premanisme yang berbaju ormas tersebut menimbulkan keresahan dan ketegangan di tengah masyarakat Bali.

    Kedua, mendukung aparat penegak hukum, seperti TNI dan Polri dalam penyelenggaraan keamanan dan ketertiban di Bali, serta menindak ormas yang melakukan tindakan premanisme dan kriminalitas.

    Ketiga, mendukung sistem pengamanan terpadu berbasis desa adat (Sipanduberadat) dan bantuan keamanan desa adat (Bankamda) dalam menjaga dan mengamankan wilayah Bali.

    Deklarasi tersebut menegaskan bahwa pecalang bukan sekadar penjaga upacara adat. Mereka bisa juga menjadi aktor penting dalam menjaga keamanan Bali dari berbagai ancaman nonmiliter di tingkat lokal.

    Namun di sisi lain, pelibatan pecalang dan institusi desa adat yang menaunginya menjadikan mereka rentan terhadap berbagai kepentingan yang ada.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: I Ngurah Suryawan (Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIP Universitas Warmadewa, Universitas Warmadewa) dan I Made Chandra Mandira (Dosen Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Pendidikan Nasional)

  • Cuaca Hari Ini: Waspada! Hujan Sangat Lebat Berpotensi Mengguyur Sejumlah Wilayah Termasuk Bali

    Cuaca Hari Ini: Waspada! Hujan Sangat Lebat Berpotensi Mengguyur Sejumlah Wilayah Termasuk Bali

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah termasuk Bali pada Minggu (26/10/2025).

    Dalam laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selain Bali, hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur wilayah Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

    Sementara hujan berintensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi juga terjadi di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua dan Papua Selatan.

    Sedangkan untuk wilayah Jakarta, pada pagi hari seluruh wilayah diprediksi berawan tebal. Peluang hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir terjadi pada siang dan sore hari.

    Seperti wilayah Jakarta Barat berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang. Wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur berpotensi diguyur hujan disertai petir. Wilayah lainnya diprediksi berawan tebal.

    Malamnya hampir seluruh wilayah Jakarta diprediksi berawan tebal. Potensi hujan dengan intensitas ringan hanya terjadi di wilayah Kepulauan Seribu.

     

  • Konsep Tri Hita Karana Penting untuk Menjaga Kelestarian Lingkungan di Bali

    Konsep Tri Hita Karana Penting untuk Menjaga Kelestarian Lingkungan di Bali

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ibnu Hasan Muchtar, memaparkan hasil riset mengenai implementasi Tri Hita Karana (THK) sebagai konsep pengelolaan lingkungan berbasis spiritual dan sosial di Bali, yakni di Denpasar, Badung, dan Gianyar.

    Dilansir di laman resmi BRIN, Ibnu  mengungkapkan, ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan menunjukkan menurunnya keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, antar sesama, dan alam. 

    “Revitalisasi Tri Hita Karana bukan langkah mundur, tetapi strategi untuk menghadapi perubahan dan tantangan global yang memengaruhi ekosistem pariwisata,” kata Ibnu, dalam Seminar Naskah Publikasi, Monitoring, dan Evaluasi Rumah Program Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN, secara daring, Rabu (26/11/2025).

    Tim peneliti juga merumuskan strategi melalui pendidikan karakter berbasis budaya lokal, pelibatan komunitas adat, dan harmonisasi kebijakan pemerintah.

    Baca Juga: Banjir di Bali dan NTT Tegaskan Pentingnya Pembangunan Kota yang Berkelanjutan

    Diskusi turut menyoroti keberlanjutan sistem subak sebagai warisan budaya Bali. Akademisi UIN Kudus, Moh. Rosyid, menegaskan, perubahan lahan, modernisasi, dan tekanan ekonomi mengancam kelestarian sistem irigasi tradisional tersebut.

    Dia merujuk pada banjir besar September 2025 sebagai indikator melemahnya daya dukung lingkungan Bali.

    “Alih fungsi lahan terjadi masif meskipun sudah ada sembilan peraturan daerah. Penegakan kebijakan perlu diperkuat agar sistem subak tetap bertahan,” tegasnya.

    Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Aji Sofanudin, menilai sistem subak seharusnya mendapat perhatian dalam agenda lingkungan internasional.

    Baca Juga: Negara dan Korporasi Jadi Pihak yang Paling Bertanggungjawab Atas Terjadinya Banjir Sumatera

    Dia mengapresiasi gagasan penyusunan buku kompilasi riset Green Religion dan mendorong pendekatan lintas agama dalam kajian keberlanjutan.

    Seminar ini menegaskan Tri Hita Karana dan subak bukan hanya warisan budaya, tetapi fondasi penting bagi keberlanjutan sosial dan ekologis Bali. 

    Tri Hita Karana adalah konsep hidup yang menekankan keselarasan hubungan antara manusia dengan manusia, alam dan sang pencipta (Tuhan).

    Konsep ini dipercaya mampu mewujudkan kehidupan yang peduli lingkungan dan sesamanya.

    Kolaborasi riset, sinergi kebijakan, dan peningkatan kesadaran publik dipandang menjadi kunci menjaga ketahanan lingkungan di tengah tekanan pembangunan dan pariwisata modern. 

     

     

    Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora

    Badan Riset dan Inovasi Nasional

    Alamat: Gedung B.J. Habibie, Jl. M.H. Thamrin No. 8,
    Jakarta Pusat 1034
    Whatsapp:
    Email: ppid@brin.

     

  • Taman Ujung Karangasem: Pernah Jadi Tempat Pembuangan Kini Jadi Tujuan Wisata Budaya Unggulan di Bali

    Taman Ujung Karangasem: Pernah Jadi Tempat Pembuangan Kini Jadi Tujuan Wisata Budaya Unggulan di Bali

    7cloud.asia – Taman Ujung sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Karangasem memiliki posisi penting dalam sejarah Bali. Kerajaan Karangasem sendiri merupakan kerajaan terbesar di Bali pada masa Bali Pertengahan/Arya.

    Bahkan ada yang menyebut, Kabupaten Karangasem identik dengan Taman Ujung. Sampai saat ini pun, Taman Ujung menjadi tujuan wisata utama bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Karangasem.

    Bisa dikatakan, Taman Ujung yang terletak di pesisir selatan Bali, tak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga pusat edukasi budaya yang penting bagi generasi muda karena menyimpan sejarah yang panjang dan mencerminkan pertemuan beberapa budaya.

    Desain Taman Ujung memadukan arsitektur tradisional lokal (Bali) dengan arsitektur Eropa, China, dan Timur Tengah. 

    Sebagai salah satu warisan budaya nasional dengan nilai sejarah, arsitektur, dan kearifan lokal yang tinggi Taman Ujung Karangasem yang dibangun di awal abad 20, kini ditetapkan menjadi cagar budaya

    Baca: Mengenal konsep Tri Hita Karana yang penting bagi kelestarian lingkungan di Bali

    Taman Ujung Karangasem juga menjadi ruang hidup budaya, dengan adanya tempat latihan tari bagi anak-anak serta berbagai kerajinan tradisional yang ditampilkan kepada pengunjung.

    Wakil Ketua Komisi X DPR, My Esti Wijayati di sela kunjungan kerja ke kawasan Taman Ujung, menegaskan pentingnya perhatian serius pemerintah pusat terhadap pelestarian Taman Ujung Karangasem.

    Dia menyampaikan, berdasarkan penjelasan Wakil Bupati Karangasem, pemerintah daerah selama ini telah memberikan kontribusi nyata dalam mendukung renovasi dan perawatan kawasan Taman Ujung.

    “Kemarin kami bertemu langsung dengan cucu Raja Karangasem sebagai pengelola kawasan ini. Kita patut bangga sebagai bangsa Indonesia karena memiliki warisan budaya yang luar biasa dan masih terawat dengan baik seperti Taman Ujung ini,” ujar My Esti dikutip Parlementaria Jumat (12/12/2025).

    Dalam kunjungan tersebut, My Esti juga diperkenalkan dengan berbagai tradisi dan kekayaan budaya Karangasem, termasuk kain tenun gringsing yang memiliki nilai historis dan filosofis sangat tinggi.

     

    Baca: Pergeseran fungsi Pecalang di Bali

    “Tenun gringsing ini luar biasa. Proses menyulamnya bisa lebih dari dua tahun, dan untuk menghasilkan warna tertentu bahkan membutuhkan waktu delapan sampai sepuluh tahun. Ini bukan sekadar kain, tapi warisan pengetahuan dan kesabaran yang luar biasa,” jelasnya.

    Namun demikian, My Esti menyoroti adanya kondisi fisik bangunan yang memerlukan penanganan serius. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap sejumlah pilar dan struktur bangunan yang mulai retak dan mengalami pergeseran akibat penurunan tanah.

    “Kami melihat langsung ada tiang-tiang yang sudah mulai renggang, fondasinya juga berubah. Area itu masih dilalui pengunjung, ini jelas berbahaya,” tegasnya.

    Ia menilai bahwa pembenahan kawasan cagar budaya tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan harus melibatkan tenaga profesional yang memahami prinsip pelestarian budaya.

    “Kalau hanya diserahkan kepada pengelola, tentu akan berat. Pemerintah harus hadir. Ada aspek teknis yang sangat prinsipil dalam pelestarian cagar budaya,” ujarnya.

    Baca: Pulau Bali diproyeksikan menjadi pulau pertanian organik

    My Esti meminta Kementerian Kebudayaan untuk segera memberikan perhatian khusus, termasuk melakukan kajian teknis dan tindakan pengamanan awal. Salah satu rekomendasi yang disampaikannya adalah menghentikan sementara akses pengunjung di jalur yang rawan.

    “Saran kami, jalur yang berisiko itu harus dihentikan dulu. Cari alternatif jalan lain. Bahkan untuk jalur VIP pun menurut saya tidak perlu dilalui kalau kondisinya sudah tidak aman,” katanya.

    Ia menekankan bahwa pelestarian Taman Ujung tidak hanya soal menjaga bangunan, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang melekat di dalamnya, mulai dari fungsi sosial, arsitektur tradisional, hingga hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam.

    “Di sini ada ruang menerima tamu, ruang bertemu masyarakat, dan lanskap yang menyatu langsung dengan laut. Ini warisan yang harus bisa dinikmati dan dipelajari oleh anak cucu kita,” tutur My Esti.

    Menutup pernyataannya, My Esti menegaskan bahwa Komisi X DPR akan mendorong sinergi antara Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Daerah Karangasem agar Taman Ujung sebagai cagar budaya dapat terjaga secara berkelanjutan.

    “Warisan budaya seperti ini bukan hanya milik Karangasem, tapi milik bangsa Indonesia. Negara wajib hadir untuk memastikan pelestariannya berjalan dengan baik,” pungkasnya.

    Baca: Pulau Bali jadi pulau terbaik versi DestinAsian Readers Choice Awards 2025

     

  • TripAdvisor Nobatkan Bali sebagai Tujuan Wisata Terbaik 2026

    TripAdvisor Nobatkan Bali sebagai Tujuan Wisata Terbaik 2026

    7cloud.asia – Bali mengukuhkan diri sebagai tujuan wisata terbaik dunia dengan meraih peringkat pertama dalam ‘The Travelers’ Choice Awards Best of the Best Destination List 2026” versi TripAdvisor.

    Peringkat pertama pada ‘The Travelers’ Choice Awards Best of the Best Destination List 2026, merupakan posisi tertinggi yang pernah diraih Bali dalam sejarah penilaian TripAdvisor.

    Sebelumnya, Bali konsisten masuk dalam jajaran Top 10 dalam kategori yang sama, namun belum pernah menempati peringkat pertama.

    Penghargaan ini disusun berdasarkan ulasan dan penilaian wisatawan global terhadap destinasi terbaik dunia sepanjang 2025.

    Dalam daftar tersebut, Bali berhasil mengungguli berbagai destinasi ikonik dunia, seperti London (pemenang 2024), Dubai, Hanoi, Paris, dan Roma.

    Baca: Bali dan Yogyakarta kian disesaki wisatawan

    Selain dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia, Bali juga meraih sejumlah penghargaan bergengsi lainnya, yakni peringkat pertama Destinasi Bulan Madu Terbaik (Honeymoon Destination)

    Juga Top 10 Destinasi Budaya Terbaik (Cultural Destination), Top 10 Destinasi Wisata Solo Terbaik (Solo Travel Destination), serta Top 20 Kota Paling Tren di Dunia (Trending Cities).

    Bali dikenal sebagai tujuan wisata unggulan berkat keberagaman yang dimilikinya. Keindahan alam berpadu dengan kekayaan budaya lokal, seni, tradisi, dan upacara keagamaan yang terus dilestarikan oleh masyarakatnya.

    Pengalaman yang ditawarkan Bali tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menghadirkan kedalaman makna bagi setiap pengunjung.

    Harmoni antara alam dan budaya inilah yang menjadikan Bali sebagai tujuan yang selalu dirindukan wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

    Baca: Berwisata sambil menyelami kehidupan masyarakat adat

    Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi kepercayaan dan penilaian positif wisatawan internasional yang mengantarkan Bali meraih penghargaan bergengsi ini.

    “Terima kasih atas ulasan dan rating yang diberikan kepada Bali melalui TripAdvisor. Terpilihnya Bali sebagai destinasi wisata terbaik di dunia versi Tripadvisor menunjukkan bahwa Bali masih jadi magnet pariwisata dunia,” katanya seperti dikuti Antaranews.com.

    Pencapaian ini diharapkan menjadi pemicu bagi peningkatan kualitas layanan dan penguatan prinsip pariwisata berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus menarik lebih banyak wisatawan berkualitas di masa mendatang.

    “Ke depan, kami ingin memastikan Bali terus tumbuh sebagai destinasi pariwisata berkualitas, yang memberi manfaat bagi masyarakat lokal, menjaga kelestarian lingkungan, dan menginspirasi dunia,” kata Widiyanti.

  • Pariwisata Jadi Kontributor Utama Timbulan Sampah di Bali

    Pariwisata Jadi Kontributor Utama Timbulan Sampah di Bali

    7cloud.asia – Aktivitas pariwisata terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap timbulan sampah di Bali.

    Sampah tidak hanya berasal dari wisatawan, tetapi juga dari aktivitas operasional sektor pariwisata seperti hotel, restoran dan kafe, dan pengelolaan kawasan wisata, hingga perawatan lanskap.

    Kondisi ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Studi Assessing Plastic Use and Pollution within the Tourism Sector in Indonesia yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, Kamis (5/2/2026).

    FGD tersebut merupakan bagian dari kajian nasional yang bertujuan memetakan penggunaan plastik dan pola pencemaran di sektor pariwisata Indonesia, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, hingga organisasi masyarakat sipil.

    Berdasarkan diskusi lintas pemangku kepentingan dalam FGD tersebut, terungkap bahwa lebih dari 50 persen timbulan sampah di Bali terkonsentrasi di empat wilayah utama, yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

    Keempat wilayah ini merupakan pusat aktivitas pariwisata, dengan kepadatan hotel, restoran, kawasan wisata, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

    Baca: Pulau Bali diproyeksikan jadi pulau pertanian organik

    Dilansir di brin.goid, kontribusi signifikan timbulan sampah berasal dari aktivitas pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Profesor Riset dari Pusat Riset Oseanologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Reza Cordova menegaskan, tantangan utama pengelolaan sampah pariwisata di Indonesia tidak hanya terletak pada keterbatasan infrastruktur, tetapi juga pada lemahnya basis data dan belum konsistennya pengelolaan sampah dari sumber.

    Selama ini, banyak orang berbicara soal sampah pariwisata, tetapi datanya masih parsial.

    “Padahal, tanpa data yang terukur dan representatif, akan sulit merancang kebijakan yang tepat sasaran, terutama untuk subsektor seperti villa, homestay, dan usaha wisata skala kecil yang jumlahnya besar namun belum sepenuhnya tercatat,” ujar Reza.

     

    Sampah organik masih mendominasi komposisi sampah, terutama sisa makanan dari hotel dan restoran, serta limbah hijau seperti daun, ranting, dan rumput hasil perawatan taman dan lanskap kawasan wisata.

    Baca: Bali dan Yogyakarta kian disesaki wisatawan

    Namun demikian, fraksi sampah organik tersebut masih kerap diperlakukan sebagai sampah residu dan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir.

    Padahal, menurut Reza, potensi pengelolaan sampah organik sangat besar jika ditangani dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan.

    “Fraksi ini memiliki potensi besar untuk dikelola melalui berbagai metode, seperti komposting, teba modern, pemanfaatan maggot, atau melalui kerja sama dengan pengolah sampah organik lokal,” jelasnya.

    Selain sampah organik, penggunaan plastik sekali pakai dalam sektor pariwisata juga menjadi perhatian dalam kajian ini.

    Mulai dari kemasan makanan dan minuman, perlengkapan mandi hotel, hingga kantong plastik dan kemasan sekali pakai lainnya masih banyak digunakan dan berpotensi menjadi sumber pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran laut.

    Baca: Eksploitasi pariwisata mengancam kawasan adat Bali Aga

  • BRIN: Keberlanjutan Pariwisata Tergantung pada Pengelolaan Sampah yang Baik

    BRIN: Keberlanjutan Pariwisata Tergantung pada Pengelolaan Sampah yang Baik

    7cloud.asiaFocus Group Discussion (FGD) Studi Assessing Plastic Use and Pollution within the Tourism Sector in Indonesia, mengungkap bahwa aktivitas pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap timbulan sampah di Bali.

    Sampah tidak hanya berasal dari wisatawan, tetapi juga dari aktivitas operasional sektor pariwisata seperti hotel, restoran dan kafe, dan pengelolaan kawasan wisata, hingga perawatan lanskap.

    FGD ini diselenggarakan di Denpasar, Bali, Kamis (5/2/2026). Kajian lapangan difokuskan di Bali karena provinsi ini merupakan salah satu tujuan wisata utama nasional dan internasional.

    Intensitas kunjungan wisatawan yang tinggi mengakibatkan Bali menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah dan pencemaran lingkungan.

    Profesor Riset dari Pusat Riset Oseanologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Reza Cordova menegaskan, tantangan utama pengelolaan sampah pariwisata di Indonesia tidak hanya terletak pada keterbatasan infrastruktur, tetapi juga pada lemahnya basis data dan belum konsistennya pengelolaan sampah dari sumber.

    Selama ini, ujarnya, banyak orang berbicara soal sampah pariwisata, tetapi datanya masih parsial.

    Baca: Klub Pantai Potato Head Bali bangun fasilitas pengolahan sampah plastik

    Reza menekankan bahwa keberlanjutan pariwisata tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan sampah yang baik dan bertanggung jawab.

    “Pariwisata adalah aset ekonomi dan budaya Indonesia. Agar tetap bermartabat dan berkelanjutan, pengelolaan sampah harus menjadi bagian integral dari sistem pariwisata itu sendiri,” tandasnya.

    Sejalan dengan temuan kajian tersebut, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki peran strategis dalam upaya nasional pengurangan sampah, khususnya sampah plastik dan sampah laut.

    Perwakilan TKN PSL Ahmad Bahri Rambe menyampaikan bahwa penguatan data timbulan sampah pariwisata menjadi kunci agar intervensi kebijakan yang dilakukan benar-benar berbasis bukti.

    “TKN PSL melihat sektor pariwisata sebagai salah satu kontributor sekaligus kunci solusi dalam penanganan sampah. Oleh karena itu, integrasi dan penguatan data timbulan sampah dari aktivitas pariwisata sangat penting agar kebijakan yang dirancang tepat sasaran dan berdampak nyata,” ujar Ahmad dalam FGD tersebut.

    Menurut Ahmad, pendekatan pengelolaan sampah yang selama ini masih banyak berfokus pada hilir perlu diimbangi dengan penguatan pengelolaan dari sumber, terutama di hotel, restoran, kawasan wisata, serta akomodasi wisata skala kecil.

    Baca: Sektor pariwisata jadi penyumbang timbulan sampah di Bali 

    Pemilahan sejak awal, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta optimalisasi pengelolaan sampah organik dinilai sebagai langkah krusial.

    “Tantangan terbesar bukan hanya pada teknologi atau infrastruktur, tetapi pada konsistensi penerapan di lapangan. Jika sektor pariwisata mampu mengelola sampahnya dengan baik dari sumber, maka beban ke TPA dan potensi kebocoran sampah ke lingkungan, termasuk ke laut, dapat ditekan secara signifikan,” lanjutnya.

    Dalam diskusi tersebut juga terungkap bahwa subsektor pariwisata skala kecil, seperti villa, homestay, dan usaha wisata berbasis komunitas, masih menjadi tantangan tersendiri.

    Jumlah unit usaha ini sangat besar dan tersebar, namun belum seluruhnya tercatat secara sistematis dalam basis data pengelolaan sampah.

    “Jika digabungkan, kontribusi sampah dari subsektor ini bisa sangat signifikan. Tanpa pendataan yang baik, potensi kebocoran sampah ke lingkungan akan terus terjadi,” ujar Reza.

    Baca: Eksploitasi pariwisata mengancam kawasan adat Bali Aga

    Meski demikian, FGD juga mencatat sejumlah praktik baik yang telah dilakukan oleh sebagian pelaku usaha pariwisata, seperti pemilahan sampah di sumber, pengurangan plastik sekali pakai, serta kerja sama dengan pengolah sampah dan bank sampah lokal.

    Praktik-praktik ini dinilai perlu diperkuat dan direplikasi secara lebih luas. Kajian ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk memperkuat pengelolaan sampah dan mendukung transisi menuju pariwisata yang lebih bersih dan berkelanjutan.

    Hasil kajian diharapkan tidak berhenti pada rekomendasi, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan dan praktik nyata yang dapat diterapkan di berbagai destinasi wisata di Indonesia.

    TKN PSL menilai kajian ini sebagai langkah strategis dalam menyusun peta jalan pengelolaan sampah pariwisata yang lebih terintegrasi, sekaligus mendukung target nasional pengurangan sampah laut.

    Rekomendasi yang dihasilkan dari kajian ini diharapkan dapat direplikasi di destinasi wisata lain, sehingga sektor pariwisata tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga bagian dari solusi pengelolaan lingkungan.

  • Mulai April 2026, Sampah Organik Tak Diizinkan Masuk TPA Suwung

    Mulai April 2026, Sampah Organik Tak Diizinkan Masuk TPA Suwung

    7cloud.asia – Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Bali bakal melarang sampah organik masuk ke Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Suwung mulai April mendatang.

    Untuk itu, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Bali akan menyiapkan petugas yang berjaga di TPA Suwung mulai Rabu (1/4/2026) untuk memastikan sampah organik tidak lagi dibuang ke tempat tersebut.

    “Ada petugas jaga di sana ya, kami akan jaga, makanya ayo bareng-bareng di TPA tanggal 1 April,” ujar Kepala DKLH Bali I Made Dwi Arbani di Denpasar, Kamis (26/3/2026) seperti dilansir Antaranews.com.

    Dwi Arbani mengatakan bahwa sebelum memasuki hari pembatasan sampah organik, petugas DKLH Bali bersama Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung terus mensosialisasikan kebijakan pemilahan sampah.

    Tak hanya ke masyarakat, sosialisasi juga dilakukan secara swakelola agar sopir truk sampah mereka tidak lagi membawa sampah campuran ke TPA Suwung.

    Baca: TPA Suwung akan disulap menjadi taman kota setelah ditutup total

    “Kami sampaikan sosialisasi bahwa akan ada perlakuan seperti ini dan mereka siap untuk lakukan itu,” ujarnya.

    Arbani menambahkan bahwa hampir setiap hari Pemprov Bali melalukan rapat dengan Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung terkait solusi bagi sampah organik yang tak bisa ditampung di TPA Suwung.

    Sejumlah langkah sudah dilakukan seperti di hulunya melalui teba moderen dan tas komposter dan di tengah melalui TPS3R dan TPST, sehingga semestinya pembatasan sampah organik nanti bisa dijalankan.

    “Hari ini masih bisa buang sampah organik sampai tanggal 31 Maret, kemudian kita edukasi lagi masyarakat dan para sopir truk bahwa tidak bisa masuk, kembali lagi sampah itu harus diselesaikan di sumber, saya rasa Denpasar dan Badung sudah siapkan strategi,” ujar Arbani.

    DKLH Bali mendukung penuh keputusan Menteri LH untuk membatasi masuknya sampah organik dan hanya mengizinkan masuk sampah residu dan anorganik yang tidak terolah.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Sebab, sampah organik dapat menghasilkan lindi yang mencemari laut dan air, sehingga solusinya adalah memilah sejak awal.

    Tak berhenti di pembatasan, Dwi Arbani juga mengingatkan bahwa selanjutnya pada 1 Agustus 2026 TPA Suwung akan ditutup total.

    Tak hanya petugas yang tegas mengawasi kebijakan ini, Gubernur Bali Wayan Koster juga memberi penegasan agar tidak ada lagi TPA serupa di kabupaten lain di Bali.

    Menurut dia, pengelolaan sampah dengan mengangkut dan membuang tanpa mengelola hanyalah bom waktu.

    “Pada 2027 saya akan memaksa bupati di Bali agar bisa mengolah sampah di sumber, tidak boleh ada TPA, kebijakan kita adalah BKK (bantuan keuangan khusus) 2027 prioritas untuk sampah di kabupaten/kota,” tutur Koster.

  • DPR Dorong Kebijakan Transportasi Publik untuk Kurangi Kepadatan di Bali

    DPR Dorong Kebijakan Transportasi Publik untuk Kurangi Kepadatan di Bali

    7cloud.asia – Ketua Komisi V DPR, Lasarus, mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan transportasi publik yang lebih terintegrasi guna mengurai kepadatan lalu lintas di Bali.

    Upaya tersebut menjadi penting mengingat mobilitas masyarakat dan wisatawan di Pulau Dewata terus meningkat, sementara pergerakan orang dari satu wilayah ke wilayah lain masih menjadi persoalan utama yang perlu segera ditangani.

    Lasarus mengungkapkan bahwa penanganan kepadatan di jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk pun dinilai perlu menjadi perhatian bersama.

    Ia menilai persoalan tersebut dapat diurai melalui pendekatan penataan transportasi yang lebih terintegrasi, sebagaimana yang pernah dilakukan dalam penanganan arus penyeberangan di Merak–Bakauheni.

    “Ini salah satu cara kita menyelesaikan persoalan di Ketapang–Gilimanuk ini. Kita urai seperti kita mengurai di Merak–Bakauheni,” ujar Lasarurs dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Menteri Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Gubernur Bali di Komplek DPR, Jakarta, Rabu (6/4/2026).

    Baca: Bali dan Yogyakarta makin disesaki wisatawan

    Politisi PDI Perjuangan ini menekankan, penanganan persoalan transportasi di Bali tak bisa dilakukan oleh satu kementerian.

    Dibutuhkan sinergi antara Kementerian Perhubungan, Kementerian PU, serta pemerintah daerah agar berbagai program penataan transportasi publik di Bali dapat berjalan efektif.

    Ia juga mendorong agar pemerintah segera merumuskan kebijakan transportasi publik yang dapat diterapkan secara nyata di daerah.

    Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus menekan konsumsi bahan bakar.

    “Kebijakan transportasi publik ini tolong Pak Menteri bisa studi dan melakukan tindak lanjut. Tentu harus didukung juga dengan pendanaan dari gubernur dan pemerintah daerah setempat,” katanya.

    Baca: Pariwisata jadi kontributor utama timbulan sampah di Bali

    Komisi V menilai penguatan transportasi publik juga dapat berdampak pada efisiensi penggunaan energi. Dengan meningkatnya penggunaan transportasi massal, kepadatan lalu lintas dapat berkurang dan konsumsi bahan bakar kendaraan pun dapat ditekan.

    “Tujuannya bagaimana kepadatan dikurangi, pemakaian bahan bakar juga otomatis bisa lebih efisien,” jelasnya.

    Di sisi lain, DPR juga menyoroti rencana pembangunan infrastruktur transportasi di Bali, termasuk pengembangan transportasi berbasis laut seperti water taxi.

    Pengembangan transportasi publik diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif mobilitas masyarakat sekaligus mendukung konektivitas antarwilayah di Bali.

    “Bali ini kan masalahnya siklus perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain itu yang jadi persoalan utama hari ini,” pungkasnya.

    Foto:KilasJatim.com