BRIN: Keberlanjutan Pariwisata Tergantung pada Pengelolaan Sampah yang Baik

Written by

in

7cloud.asiaFocus Group Discussion (FGD) Studi Assessing Plastic Use and Pollution within the Tourism Sector in Indonesia, mengungkap bahwa aktivitas pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap timbulan sampah di Bali.

Sampah tidak hanya berasal dari wisatawan, tetapi juga dari aktivitas operasional sektor pariwisata seperti hotel, restoran dan kafe, dan pengelolaan kawasan wisata, hingga perawatan lanskap.

FGD ini diselenggarakan di Denpasar, Bali, Kamis (5/2/2026). Kajian lapangan difokuskan di Bali karena provinsi ini merupakan salah satu tujuan wisata utama nasional dan internasional.

Intensitas kunjungan wisatawan yang tinggi mengakibatkan Bali menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah dan pencemaran lingkungan.

Profesor Riset dari Pusat Riset Oseanologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Reza Cordova menegaskan, tantangan utama pengelolaan sampah pariwisata di Indonesia tidak hanya terletak pada keterbatasan infrastruktur, tetapi juga pada lemahnya basis data dan belum konsistennya pengelolaan sampah dari sumber.

Selama ini, ujarnya, banyak orang berbicara soal sampah pariwisata, tetapi datanya masih parsial.

Baca: Klub Pantai Potato Head Bali bangun fasilitas pengolahan sampah plastik

Reza menekankan bahwa keberlanjutan pariwisata tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan sampah yang baik dan bertanggung jawab.

“Pariwisata adalah aset ekonomi dan budaya Indonesia. Agar tetap bermartabat dan berkelanjutan, pengelolaan sampah harus menjadi bagian integral dari sistem pariwisata itu sendiri,” tandasnya.

Sejalan dengan temuan kajian tersebut, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki peran strategis dalam upaya nasional pengurangan sampah, khususnya sampah plastik dan sampah laut.

Perwakilan TKN PSL Ahmad Bahri Rambe menyampaikan bahwa penguatan data timbulan sampah pariwisata menjadi kunci agar intervensi kebijakan yang dilakukan benar-benar berbasis bukti.

“TKN PSL melihat sektor pariwisata sebagai salah satu kontributor sekaligus kunci solusi dalam penanganan sampah. Oleh karena itu, integrasi dan penguatan data timbulan sampah dari aktivitas pariwisata sangat penting agar kebijakan yang dirancang tepat sasaran dan berdampak nyata,” ujar Ahmad dalam FGD tersebut.

Menurut Ahmad, pendekatan pengelolaan sampah yang selama ini masih banyak berfokus pada hilir perlu diimbangi dengan penguatan pengelolaan dari sumber, terutama di hotel, restoran, kawasan wisata, serta akomodasi wisata skala kecil.

Baca: Sektor pariwisata jadi penyumbang timbulan sampah di Bali 

Pemilahan sejak awal, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta optimalisasi pengelolaan sampah organik dinilai sebagai langkah krusial.

“Tantangan terbesar bukan hanya pada teknologi atau infrastruktur, tetapi pada konsistensi penerapan di lapangan. Jika sektor pariwisata mampu mengelola sampahnya dengan baik dari sumber, maka beban ke TPA dan potensi kebocoran sampah ke lingkungan, termasuk ke laut, dapat ditekan secara signifikan,” lanjutnya.

Dalam diskusi tersebut juga terungkap bahwa subsektor pariwisata skala kecil, seperti villa, homestay, dan usaha wisata berbasis komunitas, masih menjadi tantangan tersendiri.

Jumlah unit usaha ini sangat besar dan tersebar, namun belum seluruhnya tercatat secara sistematis dalam basis data pengelolaan sampah.

“Jika digabungkan, kontribusi sampah dari subsektor ini bisa sangat signifikan. Tanpa pendataan yang baik, potensi kebocoran sampah ke lingkungan akan terus terjadi,” ujar Reza.

Baca: Eksploitasi pariwisata mengancam kawasan adat Bali Aga

Meski demikian, FGD juga mencatat sejumlah praktik baik yang telah dilakukan oleh sebagian pelaku usaha pariwisata, seperti pemilahan sampah di sumber, pengurangan plastik sekali pakai, serta kerja sama dengan pengolah sampah dan bank sampah lokal.

Praktik-praktik ini dinilai perlu diperkuat dan direplikasi secara lebih luas. Kajian ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk memperkuat pengelolaan sampah dan mendukung transisi menuju pariwisata yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Hasil kajian diharapkan tidak berhenti pada rekomendasi, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan dan praktik nyata yang dapat diterapkan di berbagai destinasi wisata di Indonesia.

TKN PSL menilai kajian ini sebagai langkah strategis dalam menyusun peta jalan pengelolaan sampah pariwisata yang lebih terintegrasi, sekaligus mendukung target nasional pengurangan sampah laut.

Rekomendasi yang dihasilkan dari kajian ini diharapkan dapat direplikasi di destinasi wisata lain, sehingga sektor pariwisata tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga bagian dari solusi pengelolaan lingkungan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *