Tag: film

  • Film “Laut Bercerita”: Kisah tentang Harapan, Kehilangan, Persahabatan dan Keteguhan Aktivis Mahasiswa

    Film “Laut Bercerita”: Kisah tentang Harapan, Kehilangan, Persahabatan dan Keteguhan Aktivis Mahasiswa

    7cloud.asia – Buat para penyuka novel best seller, “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori, tahun ini Anda bisa segera menikmati ceritanya di layar lebar.

    Saat mengumumkan pemeran Film Laut Bercerita, Selasa (24/2/2026) di Jakarta, rumah produksi Pal8 Pictures menjanjikan film yang mengisahkan para aktivis 98 ini akan tayang di bioskop di seluruh Indonesia tahun 2026 ini.

    Gita Fara yang juga menjadi produser film pendek dengan judul sama pada tahun 2017, mengungkapkan, film Laut Bercerita versi panjang ini, penonton akan dapat menikmati cerita yang lebih utuh tentang perjalanan Biru Laut.

    Karakter tokoh-tokohnya juga akan dieksplore lebih mendalam. Meski mengambil setting akhir dekade 1990an, Laut Bercerita terasa relate dengan kondisi saat ini.

    Namun demikian, kru film baik aktor maupun mereka yang bekerja di balik layar seolah sepakat untuk tidak mengaitkannya dengan kondisi politik saat ini.

    “Kami merasa cerita ini semakin relevan untuk saat ini. Kami ingin menekankan aspek keluarga, kehilangan, dan harapan,” ujar Gita Fara, Selasa (24/2/2026) dalam jumpa pers di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

    Untuk memproduksi Laut Bercerita, Pal8 Pictures menggandeng VMS Studio, Jagartha, Lynx Films dan Brandlink.

    Skenario film ditulis sendiri oleh Leila S.Chudori bekerja bareng Yosep Anggi Noen yang juga bertindak sebagai sutradara. Bertindak sebagai produser adalah Gita Fara, Budi Setyarso, dan Leila S.Chudori.

    Anggi mengungkapkan proses penggarapan Laut Bercerita cukup sulit dan penuh tantangan. Selain harus memindahkan setting tahun 90an senyata mungkin, dia juga menghadapi ekspetasi tinggi dari para pembaca novel Laut Bercerita

    “Selain menyajikan cerita yang sudah dipahami oleh pembaca novelnya, di film ini saya harus menghadirkan penceritaan yang bisa diikuti oleh penonton secara umum,” kata Anggi.

    Sementara Leila yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penulis resensi film di Tempo, mengingatkan bahwa membuat film berdasarkan novel tidak berarti memindahkan halaman demi halaman novel ke layar lebar.

    Dia menegaskan, film ini hanya akan mengambil soul atau pesan besar di balik novel yang ditulisnya.

    Leila mengaku, sejak awal menyusun skenario dia sudah diingatkan untuk mengikhlaskan adegan-adegan yang dia sukai karena adegan tersebut tak mungkin dipindahkan ke layar lebar.

    “Bahkan dialog-dialog pun ada yang perlu dirombak, karena ketika diucapkan ternyata tidak terdengar enak,“ ujarnya.

    Para pemain
    Kisah di film Laut Bercerita berpusat pada kelompok diskusi mahasiswa Winatra, dengan Biru Laut (diperankan Reza Rahardian) sebagai tokoh utama.

    Di Winatra ini, Biru Laut dipertemukan dengan Daniel Tumbuan (Kevin Julio), Ben Nugroho (Alex Perazon), Dewa Dayana (Sunu Dyantoro), Yoga Pratama (Arifin Bramantyo), Nagra Kautsar (Naratama), Natalius Chendana (Julius), dan Afrian Arisandy (Gala Pranaya).

    Anggota Winatra paham, membaca dan menulis adalah bentuk perlawanan. Namun, bergerak adalah langkah selanjutnya untuk melawan kelaliman.

    Bagaimana membaca dan mendiskusikan buku dianggap sebagai tindakan subversif atau melawan pemerintah. Namun dalam tekanan itulah, persahabatan dan rasa memiliki muncul di antara anggota Winatra.

    Tak hanya menggambarkan heroiknya gerakan mahasiswa di masa represif Orde Baru, Laut bercerita juga memotret bagaimana hubungan keluarga aktivis mahasiswa yang kemudian hilang diculik.

    Ada juga kisah cinta antara Biru Laut dengan salah satu pimpinan Winatra, Kasih Kinanti (diperankan Eva Celia).

    Reza Rahadian yang memerankan Biru Laut, mengaku cukup sulit secara emosional, tetapi dia mengungkapkan harapannya film ini bisa menumbuhkan kepekaan bagi penontonnya.

    “Semoga film ini bisa membuka ruang berefleksi terhadap permasalahan sosial saat ini.” ujar Reza.

    Ben Nugraha menilai Alex Perazon memiliki karakter kuat dan kompleks. “Saya sangat tertantang memerankan dia.”

    Sedangkan Kevin Julio mengungkap bahwa bekerja sama dengan sutradara Yosep Anggi Noen adalah cita-citanya.

    “Ketika saya diterima untuk menjadi Daniel Tumbuan, saya terharu sampai berkaca-kaca,” kata Kevin yang mengaku peran inilah yang mendorongnya untuk membaca novelnya hingga tuntas.

    Dian Sastrowardoyo dan Eva Celia yang membaca novel “Laut Bercerita” beberapa tahun silam mempunyai tokoh favorit masing-masing.

    “Waktu pertama kali membacanya, saya membayangkan kalau ada film panjangnya, saya ingin menjadi Anjani. Impian saya menjadi kenyataan,” kata Eva.

    Adapun Dian mengaku dia mengidolakan tokoh Kinan. “Saya merasa bahagia ketika ditawari peran ini,” katanya.

  • Film “Senin Harga Naik”: Paradoks Cinta dan Konflik dalam Keluarga

    Film “Senin Harga Naik”: Paradoks Cinta dan Konflik dalam Keluarga

    7cloud.asia – Bagi banyak orang, Lebaran adalah saatnya kembali bersama keluarga. Dan, kisah inilah yang dipotret dalam film “Senin Harga Naik” meski dalam perspektif yang berbeda.

    Film “Senin Harga Naik” sebagai film Lebaran tahun ini akan mengajak penonton untuk menemukan arti keluarga yang seutuhnya. Bahwa meminta maaf tak harus melulu datang dari anak-anak ke orang tuanya, tetapi juga bisa sebaliknya.

    Chand Parwez Servia, produser “Senin Harga Naik”, mengungkapkan bahwa film ini awalnya dia dedikasikan untuk almarhumah ibunya. Namun, setelah proses produksi selesai, ia menyadari bahwa pesan yang terkandung dalam film ini jauh lebih luas.

    “Film ini bukan hanya tentang hubungan anak dengan ibunya, tetapi juga tentang dinamika keluarga secara luas. Ini milik semua orang, milik setiap ibu, milik setiap anak yang punya ibu,” ujarnya saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

    Film Senin Harga Naik mendorong orang-orang untuk berani saling memeluk dan berdamai tanpa merasa bersalah, terutama di momen Lebaran yang sakral.

    Baca: Film “Laut Bercerita” memotret perjuangan aktivis 98

    Di tangan sutradara Dina Jasanti, film “Senin Harga Naik” sukses membangun atmosfer yang hangat. Pemilihan sutradara perempuan memberikan perspektif unik dalam menangkap detail-detail emosional dalam keluarga.

    Dina Jasanti mengakui bahwa tantangan utama dalam menggarap film ini adalah membangun konflik yang terasa nyata tanpa harus menghilangkan kehangatan hubungan keluarga.

    Menurutnya, inti dari perselisihan antara tokoh Bu Retno dan Mutia adalah perbedaan dalam menunjukkan kasih sayang atau yang dikenal sebagai “bahasa cinta”.

    “Padahal awalnya dua-duanya cinta, dua-duanya sayang. Cuman ya cara untuk menunjukkannya itu sangat berbeda,” jelas Dina Jasanti.

    Melalui film “Senin Harga Naik” penonton diajak untuk lebih peka dalam mencerminkan diri sendiri agar bisa lebih sabar dan menerima cara orang tua menunjukkan kasih sayang mereka yang unik.

    Rekonsiliasi butuh keberanian
    Film “Senin Harga Naik” juga menyoroti bahwa proses berdamai dalam keluarga tidak selalu harus berlangsung segera.

    Baca: Lima film pilihan para pengkaji film Indonesia

    Penulis skenario Rino Sarjono menekankan bahwa film ini bukan lagi soal memandang siapa yang kalah, melainkan bagaimana memandang keluarga dengan kesadaran baru untuk menghadirkan kehangatan.

    Dina Jasanti menambahkan bahwa rekonsiliasi memerlukan waktu, kesabaran, dan juga keberanian untuk mengakui kesalahan

    “Walaupun kita bisa mungkin agak ego, masih nggak bisa minta maaf, nggak apa-apa. Karena rekonsiliasi itu kan bukan cepat ya. Itu sesuatu yang satu hal yang berproses,” tuturnya.

    Menonton film “Senin Harga Naik” membuat saya merenungkan makna keluarga dan hubungan antara ibu dan anak

    Film “Senin Harga Naik” bukan hanya sekadar tontonan Lebaran, tetapi juga refleksi tentang pentingnya keluarga dan menerima perbedaan pendapat.

    Film ini mengajak kita untuk lebih memahami, menghargai, dan mencintai keluarga kita, serta berani memulai rekonsiliasi meskipun prosesnya tidak selalu mudah.

    Baca: Film “Suamiku Lukaku“ memutus narasi yang langgengkan KDRT

     

    Film “Senin Harga Naik” mengisahkan hubungan Ibu dan anak yang punya cara berbeda dalam mendefiniskan kebahagiaan. Konflik itu terbangun dalam sebuah rumah dan toko roti yang menjadi warisan keluarga.

    Film ini mengikuti perjalanan Mutia (Nadya Arina) yang pergi dari rumah untuk
    menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia lantas berkarier di sebuah perusahaan properti

    Tapi di tengah kariernya yang terus menanjak, dia harus kembali ke rumah. Pasalnya, kariernya bergantung pada keberhasilan menguasai rumah dan toko roti legendaris milik sang Ibu.

    Mutia ditugaskan untuk melobi pemilik toko roti Mercusuar, Ibunya, Retno (Meriam Bellina), agar bersedia digusur/dijual.

    Di momen-momen itulah kelokan emosi terjadi dan menguras air mata. Film “Senin Harga Naik” memiliki berbagai lapisan drama dari masing-masing karakternya.

    Mulai dari konflik anak perempuan dan Ibu, relasi mertua dan menantu perempuan, hingga keras kepalanya orang tua dan anak terhadap apa yang diyakini.

  • Film ”Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Lebaran Bukan Hanya Ajang Silaturahmi

    Film ”Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Lebaran Bukan Hanya Ajang Silaturahmi

    7cloud.asia – Menyambut momen Lebaran 2026 yang tinggal menghitung hari, RAPI Films mempersembahkan film Tunggu Aku Sukses Nanti.

    Film Tunggu Aku Sukses Nanti yang merupakan hasil kolaborasi sutradara Naya Anindita dan penulis Evelyn Afnilia ini dijanjikan bakal mengaduk emosi penonton

    Dengan ceritanya yang dekat, relevan dengan kehidupan nyata film Tunggu Aku Sukses Nanti akan mengajak kita merenung bagaimana mereka yang belum sukses harus menghadapi keluarga besarnya saat Lebaran tiba.

    Tokoh utama di film ini, Arga mewakili mereka yang saat ini masih berjuang untuk menuju sukses.

    Dalam jumpa pers yang dihelat pada Rabu (11/3/2026) Naya mengatakan, Tunggu Aku Sukses Nanti mengisahkan bagaimana Arga, si tulang punggung keluarga berusaha mewujudkan mimpi keluarganya, dan keluar dari ketergantungan keluarga besar.

    ”Bagi saya, ini film yang terasa personal dan juga dekat,” ujar sutradara Naya Anindita sambil menambahkan, film ini akan menghangatkan para pejuang hidup dan para tulang punggung keluarga dari sudut pandang Arga (Ardit Erwandha).

    Baca: Hindari pertanyaan basa-basi ini saat silaturahmi keluarga

    Ardit, yang pertama kalinya memerankan karakter utama di film drama, berhasil menampilkan lapisan emosi lelah, marah, dan peluh saat Arga berjuang untuk menjadi sosok yang ingin dihargai di keluarga besarnya.

    Tunggu Aku Sukses Nanti juga memotret realitas sosial yang mencerminkan dinamika banyak keluarga Indonesia di saat Lebaran. Naya dengan apik memotret dinamika kemeriahan Lebaran.

    Di mana, Lebaran kadang tak hanya menyimpan kisah indah hangatnya silaturahmi kelurga, tetapi juga ’persaingan dan pameran’ terselubung kesuksesan masing-masing.

    Ada saudara yang ‘menyebalkan’ yang selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan klasik, saling unjuk kesuksesan, hingga menjadi sebuah ruang perenungan bagi si karakter utamanya, Arga.

    “Film ini ringan namun menyentuh. Penonton akan merasa dekat dengan ceritanya, sehingga ketika keluar menonton, perasaannya akan hangat,” terang Sunil Samtani yang bertindak sebagai produser.

    Baca: Lebaran ramah lingkungan itu tak harus membeli baju baru

    Ardit Erwandha, yang memerankan Arga, merasa karakter yang ia perankan memiliki lapisan yang sangat dekat dengan perjuangan hidupnya. Sekaligus, ia juga belajar dari perannya.

    “Aku banyak belajar dari Arga. Dulu, kalau sedih itu selalu sok kuat, sekarang mencoba untuk belajar memvalidasi emosi itu. Kalau capek ya capek, enggak apa-apa. Selesai syuting film ini, aku bahkan nangis karena merasa sudah melewati tantangan yang aku takuti,” ungkap Ardit Erwandha.

    “Semoga para pejuang hidup dan tulang punggung keluarga bisa jujur sama diri sendiri. Bahwa capek dan marahmu itu valid. Semoga Tunggu Aku Sukses Nanti bisa memeluk kalian,” tambahnya.

    Selain Ardit Erwandha, Naya juga membawa puluhan pemeran bertabur bintang di film ini. Banyak di antaranya juga merupakan lingkaran pertemanan Naya, menjadikan film ini terasa begitu dekat dan personal bagi kreatornya.

    Lulu Tobing, Ariyo Wahab, Adzana Ashel, Maudy Efrosina, Fita Anggriani, Reza Chandika, Niniek L. Karim, Ayu Laksmi, Renitasari Adrian, Jamie Aditya, Afgan, Sarah Sechan, Marcella FP, Petra Gabriel Michael, Gusty Pratama, Rudy Kawilarang, Mitchel Surjadi, Ziyan.

    Serta penampilan spesial dari Vidi Aldiano hingga Tara Basro, Arie Kriting, Soleh Solihun, Indra Brasco, Jourdy Pranata, dan Yono Bakrie..

  • Semarakkan Hangatnya Lebaran Bersama Film Na Willa

    Semarakkan Hangatnya Lebaran Bersama Film Na Willa

    7cloud.asia – Mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 18 Maret 2026, Na Willa, siap membawa kebahagiaan di hari raya IdulFitri.

    Dibuat oleh para kreator film Jumbo yang telah sukses memeluk puluhan juta hati penonton dan keluarga Indonesia, Na Willa adalah film yang diadaptasi dari buku berjudul sama oleh Reda Gaudiamo.

    Film ini mengisahkan tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi. Dia percaya bahwa gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia terindah lagi penuh keajaiban.

    Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

    Film Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

    Baca: Film ”Tunggu Aku Sukses Nanti” mengisahkan Lebaran bagi mereka yang belum sukses

    Ryan Adriandhy sang sutradara menjanjikan, film Na Willa akan membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.

    Di film live action pertamanya, Ryan menyuguhkan kebahagiaan dunia anak melalui perspektif Na Willa.

    Dunia warna warni dipadukan dengan momen-momen keajaiban yang nostalgik dan membuat orang dewasa ingin kembali menjadi anak-anak.

    Film ini dibintangi oleh Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem.

    Baca: Hindari pertanyaan basa-basi saat kumpul Lebaran

    Daftar Bioskop dan Promo Nonton Film Na Willa
    Pada hari penayangan, Na Willa hadir lebih dari 1.600 show, dengan 478 layar di 445 bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk XXI, CGV, Cinepolis, NSC, Platinum, Kota Cinema Mall, dan Flix.

    Film Na Willa juga menjangkau jaringan bioskop independen seperti Sam’s Studios, Dakota, Sena Moviemax Cinema, Dakota Sengkang, Planet Cinema, BES Movimax, Movimax, Mopic Cinemas, Gajah Mada Tegal Surya Yudha Cinema.

    Juga JIG Cinema, MSB Cinema, Hollywood Cinema, Denpasar Cineplex, IGN Cinema, LTD 9, Rajawali Cinema, Moviplex, Local Cinema Lombok, Local Cinema Manado, hingga Golden Theater.

    Untuk pengguna GoPay, ada juga penawaran menarik berupa cashback hingga 25
    ribu GoPay Coins untuk pembelian tiket di XXI, CGV, dan Cinepolis melalui aplikasi GoPay, lengkap dengan ekstra gratis biaya admin.

  • 10 Tahun Berkarya, Palari Films Bakal Bikin Proyek Film Perempuan Lewat ”Desember Jani”

    10 Tahun Berkarya, Palari Films Bakal Bikin Proyek Film Perempuan Lewat ”Desember Jani”

    7cloud.asia – Sutradara dan visual artist perempuan Ariani Darmawan, pendiri Kineruku di Bandung, akan bekerja sama dengan Palari Films lewat film panjang perdananya, Desember Jani.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, disebutkan Desember Jani terasa istimewa karena akan menjadi film yang dibintangi, disutradarai, ditulis, dan diproduseri, semuanya oleh perempuan (all women project).

    Sejumlah nama tenar seperti Sigi Wimala, Chempa Putri, Hyori Mika, dan aktris senior Tutie Kirana akan beradu akting di film Desember Jani ini.

    Sementara, Ariani selama ini dikenal dengan film-filmnya yang banyak berkeliling festival film internasional seperti The Anniversaries (2006) yang tayang di Busan International Film Festival 2007.

    Juga film Sugiharti Halim (2008) yang berkompetisi di Clermont Ferrand Short Film Festival 2009.

    Baca: Mengikis pandangan seksis di industri film nasional

    Desember Jani akan menjadi film panjang pertama Ariani, sekaligus menjadi momen comeback-nya setelah sepuluh tahun hiatus.

    Film Desember Jani sebelumnya telah terseleksi untuk program Work-in-Progress di Hong Kong – Asia Film Financing Forum 2026 (HAF24), sebuah forum yang mempertemukan dengan para calon mitra kolaborator internasional.

    Desember Jani menjadi salah satu dari tujuh film yang diproduksi guna menandai 10 tahun kiprah Palari Film di panggung film nasional.

    Tujuh judul itu adalah Monster Pabrik Rambut, Desember Jani, Menari dengan Bayangan, Baju Tebal, I Wanna Dance with Myself, Goldfish, dan Strange Root.

    Dari seluruh proyek itu, Monster Pabrik Rambut menjadi film yang paling dekat jadwal tayangnya karena akan hadir di bioskop Indonesia pada 4 Juni 2026 setelah menjalani pemutaran perdana dunia di Berlinale 2026.

    Baca: Rahasia sukses adaptasi novel menjadi film

    Rumah produksi yang didirikan Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy, dan Edwin itu merayakan momen 10 tahun berkarya dengan mengusung tema tema A Decade of Voyage.

    Produser sekaligus Co-Founder Palari Films Muhammad Zaidy menyebut perayaan 10 tahun ini menjadi titik penting untuk melihat perjalanan yang sudah dilalui sebelum melangkah ke fase berikutnya.

    Sementara Co-Founder Palari Films, Meiske Taurisia mengatakan bahwa 10 tahun 10 karya adalah masa mengumpulkan kepercayaan.

    Dia berterima kasih untuk para penonton film Indonesia dan para kolaborator industri film baik dari para investor, mitra kolaborator, hingga pemeran dan kru.

    ”10 tahun ke depan adalah harapan dan tantangan keberlanjutan lewat ko-produksi sesama
    rumah produksi, kerja sama talenta muda, dan mengasah kreativitas. Palari Films akan terus berlayar melahirkan karya-karya yang mampu menjadi refleksi zaman, dan kami mengundang para partner baru untuk berlayar bersama,” tutupnya.

  • Kamila Andini Soroti Kekuatan Kolektif Perempuan di Film “Empat Musim Pertiwi“

    Kamila Andini Soroti Kekuatan Kolektif Perempuan di Film “Empat Musim Pertiwi“

    7cloud.asia – Kamila Andini bakal merilis film terbarunya Empat Musim Pertiwi di JAFF Market 2025. Sederet mitra produser eksekutif seperti Miles Films, Imajinari, Trinity Optima, Jagartha, Navvaros, dan TEAMUP menjadi kolaborator film ini.

    Saat mengumumkan detail filmnya di sela gelaran JAFF Market 2025, Kamila mengatakan Empat Musim Pertiwi akan membawa suara yang penting yang juga penting untuk didengar oleh banyak penonton.

    “Melalui karakter Pertiwi, yang ingin dibicarakan di film ini adalah kekuatan kolektif
    perempuan,” tambah penulis dan sutradara Empat Musim Pertiwi Kamila Andini.

    Empat Musim Pertiwi yang memiliki judul internasional Four Seasons In Java
    merupakan ko-produksi antara Indonesia, Belanda, Norwegia, Prancis, Jerman, dan
    Singapura.

    Sebelumnya, film ini telah terpilih untuk mengikuti berbagai program pendanaan
    internasional seperti Berlinale Co-production Market 2025, Tokyo Gap Financing
    Market 2025, dan Venice Gap-Financing Market 2025.

    Dalam ajang Tokyo Gap-Financing Market (TGFM) 2025 yang menjadi bagian dari Tokyo International Film Festival (TIFF), Empat Musim Pertiwi memenangkan dua penghargaan, yaitu Tokyo Project Award dan Kongchak Studio Award.

    Baca: Film ”Desember Jani” jadi all women project

    Tokyo Project Award diberikan oleh komite seleksi kepada proyek paling menonjol
    berdasarkan pertemuan langsung dengan para perwakilan proyek.

    Sementara Kongchak Studio Award merupakan dukungan dari studio berbasis di Kamboja, berupa layanan sound post-production.

    Produser Empat Musim Pertiwi Ifa Isfansyah mengungkapkan antusiasmenya dalam mengumumkan jajaran kolaborator yang turut mendukung perjalanan film ini.

    Menurut Ifa, dengan dukungan jajaran kolaborator ini menjadi film dengan skala terbesar yang pernah ditangani Ifa.

    “Senang sekali karena ini adalah film terbesar dari Kamila Andini yang selama ini saya produseri. Melibatkan banyak mitra, dengan dukungan pendanaan yang besar, namun tetap memberikan ruang kemerdekaan. ,” kata produser Empat Musim Pertiwi Ifa Isfansyah.

    Salah satu yang mendasari keterlibatan Miles Films di film Empat Musim Pertiwi adalah karena kesamaan visi yang dimiliki. Bagi Riri, Kamila Andini memiliki visi dan suara yang luar biasa.

    Baca: Mengikis pandangan seksis dari industri film nasional

    “Miles Films sudah berteman lama dengan Ifa dan Kamila Andini. Film ini memiliki cara pandang khusus, dengan kelompok pembuat film yang luar biasa, memberikan keyakinan akan menjadi film yang istimewa,” ujar Riri Riza mengenai kolaborasi Miles Films di film Empat Musim Pertiwi.

    Produser dan Co-Founder Imajinari, Ernest Prakasa mengungkapkan, sejak tahun ini Imajinari mulai memberikan dukungan dan menjalin kolaborasi dengan berbagai judul-judul film dan rumah produksi lain.

    “Saat membaca naskah Empat Musim Pertiwi, sebagai penonton film-film Kamila Andini, saya merasa naskahnya ada sentuhan yang berbeda. Saat membacanya, ada ketegangan. Namun, ada satu hal yang menjadi benang merah dari karya-karya Kamila Andini, yakni urgensi dalam membuat filmnya menjadi penting,” ujar Ernest Prakasa.

    Sebelumnya, Empat Musim Pertiwi telah mengumumkan jajaran lengkap pemainnya. Film ini dibintangi oleh Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Iswadi Pratama, Hargi Sundari, Totos Rasiti, Maryam Supraba, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradyana, Donikus, Shofia Shireen, dan Hana Aretha.

    Putri Marino sebelumnya pernah bekerja sama dengan Ifa Isfansyah dan Kamila Andini dalam serial hit Gadis Kretek. Bagi Putri, kolaborasi terbarunya bersama Ifa dan Kamila di Empat Musim Pertiwi menjadi sebuah proses yang menyenangkan.

    “Saat diceritakan naskahnya, dan kemudian membacanya, seru sekali. Menurut saya ini cerita yang penting. Saya memerankan karakter perempuan yang berada di lingkungan yang tidak mendengarkan apa yang ingin disuarakan,” ujar Putri Marino.

  • Film “Semua Akan Baik-Saja”: Keluarga Menjadi Tempat Pulang Meski Pernah Berseberangan

    Film “Semua Akan Baik-Saja”: Keluarga Menjadi Tempat Pulang Meski Pernah Berseberangan

    7cloud.asia – Sebuah kisah haru dan menyentuh dari sebuah keluarga yang saling terpisah ditampilkan dalam  trailer film terbaru karya sutradara Baim Wong, Semua Akan Baik-Baik Saja, yang dirilis baru-baru ini.

    Official trailer Semua Akan Baik-Baik Saja dibuka dengan sebuah kunjungan Happy Salma yang memerankan Tari, ke rumah susun adiknya, Langit, yang diperankan Reza Rahadian.

    Langit sudah lama tak pulang ke rumah Ibunya. Tari pun meminta agar Langit sesekali pulang, sekaligus menengok para keponakannya, anak Tari, yang tinggal di rumah sang Ibu.

    Namun, ketika Langit akhirnya pulang ke rumah, ia justru dikejutkan dengan pemandian jenazah Tari. Tari terkena serangan jantung. Kematian mendadak Tari pun membuat syok Langit, dan seketika mengubah jalan hidupnya.

    Ia yang sebelumnya menjauh dari rumah, kini justru mendapat amanah untuk merawat para keponakannya, termasuk salah satunya yang mengalami down syndrome.

    Kini, Langit bersama kedua adiknya, Bintang (Raihaanun) dan Banyu (Ari Irham), serta Ibu mereka (Christine Hakim), saling bahu membahu memikul beban bersama, termasuk untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anak Tari.

    Di tengah ujian yang tengah menerpa mereka, keluarga tersebut masih harus menghadapi konflik dari mantan suami Tari, Ilham (Teuku Rifnu Wikana), yang meminta paksa sertifikat
    rumah. Apa yang akan selanjutnya terjadi, dan apa yang akan dilakukan keluarga Langit?

    Film Semua Akan Baik-Baik Saja, yang dibintangi Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun, Ari Irham, Teuku Rifnu Wikana, dan Happy Salma.

    Menjadi film ketiga yang disutradarai Baim Wong, kini ia menggarap sebuah drama yang sangat dekat. Tentang sebuah ikatan keluarga sebagai tempat pulang, dan kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalu.

    Baim memilih pendekatan yang realistik, termasuk dengan latar yang dibangun di sebuah perkampungan di pinggiran rel kereta. Dengan jajaran ansambel pemeran terbaik Indonesia, Baim menunjukkan kepiawaiannya untuk menghadirkan cerita yang hangat dan menyentuh.

    Di film ini, dia juga menulis naskahnya bersama penulis film-film blockbuster Oka Aurora.

    “Saya memilih para pemeran di film ini berdasarkan karakter yang saya bayangkan.
    Saya tahu kelebihan mereka semua. Ansambel yang ada di sini, tentu semuanya sangat berkualitas. Kami membuat cerita ini sangat dekat dengan masyarakat Indonesia,” ujarnya. 

    Sementara itu, Reza Rahadian mengatakan, Baim Wong mampu menangkap ruh dan pesan yang ingin disampaikan di film Semua Akan Baik-Baik Saja dengan sangat jelas.

    “Ini adalah film keluarga, yang sejak awal saya membaca naskahnya sangat jelas. Disetiap keluarga, meski ada luka atau anggota keluarga yang melakukan hal yang
    berseberangan, film ini membawa spirit, bagaimanapun keluarga adalah tempat kita
    pulang.

    Menurut Reza Baim menangkap hal itu di film ini. Orang yang dinilai tidak memiliki fungsi di keluarga tapi memiliki sesuatu yang jadi bernilai.

    Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, film Semua Akan Baik-Baik Saja juga turut dibintangi oleh Aquene Djorghi, Malikha Shaquenna, Asri Welas, Rebecca Tamara, dan Ade Rai, Eric Estrada, Amanda Soekasah, Janna Soekasah, Aimee Saras, Ageng Carlitos, Alim, Nagra Pakusadewo, Chew Kin Wah, Kenzo Eldrago, dan Kiano Tiger Wong

    Film ini juga terasa spesial karena menjadi pertama kalinya binaragawan Ade Rai bermain film. Untuk peran ini, Ade Rai  sendiri bahkan Baim mempersiapkan treatment khusus. Ade Rai akan tampil berbeda dengan make up prostetik untuk kebutuhan karakternya.

    Kalin ini, Baim memberikan kebaruan dan peluang bagi para talenta baru di perfilman Indonesia.

    Bahkan, Baim mengambil langkah berani dengan menggandeng dua pemeran down syndrome, Alim dan Vanessa, yang untuk pertama kalinya bermain di film layar lebar. Film Semua Akan Baik-Baik Saja menjadi perjalanan kekaryaan berikutnya dari sutradara Baim Wong.

    Film Semua Akan Baik-Baik Saja akan diputar di bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026!
    .

  • Film ”Keluarga Suami Adalah Hama”: Dalam Hubungan yang Tidak Sehat, Perempuan yang Harus Menanggung Beban

    Film ”Keluarga Suami Adalah Hama”: Dalam Hubungan yang Tidak Sehat, Perempuan yang Harus Menanggung Beban

    7cloud.asia – Ini dinamika yang dihadapi perempuan yang adalah seorang istri
    (Raihaanun), yang tinggal bersama keluarga suaminya.

    Ia mengurus semua urusan rumah tangga, termasuk mengasuh sang mertua. Namun, dalam cuplikan tersebut, menampilkan beban emosional yang dialami Raihaanun.

    Di sisi lain, Omar Daniel sebagai suami juga harus menanggung semua beban finansial seluruh keluarganya. Situasi pelik tersebut membuat goyah kehidupan rumah tangga Raihaanun dan Omar Daniel.

    Begitulah garis besar film Keluarga Suami Adalah Hama yang dibintangi oleh Raihaanun, Omar Daniel, Meriam Bellina, Jeremie Moeremans dan Sitha Marino.

    Keluarga Suami Adalah Hamamerupakan salah satu slate yang diumumkan oleh VMS Studio pada akhir tahun lalu. Film ini diadaptasi dari film pendek fenomenal berjudul sama karya Aditya Santana yang diproduksi Adsfort.

    Film pendek Keluarga Suami Adalah Hama ini telah ditonton lebih dari 100 juta views di platform Noice. Ceritanya yang fresh sekaligus relate dengan banyak orang membuatnya sangat diminati.

    Keluarga Suami Adalah Hama bisa dibilang sangat berani mengangkat kisah yang selama ini tersembunyi di balik tembok rumah tangga, tapi dekat dengan kehidupan nyata di sekitar kita.

    Keluarga Suami Adalah Hama menggugat apa yang masih banyak terjadi di masyarakat. Dan, hal ini pula yang menjadi ketertarikan Anggy Umbara saat akan menggarap film ini.

    ”Di film panjangnya, penonton bisa lebih lengkap melihat konflik-konflik dan dinamika yang dihadapi oleh suami istri di sini, yang diperankan Omar dan Raihaanun,” ujar sutradara Anggy Umbara saat peluncuran teaser film pada Kamis (9/4/2026).

    Film drama Keluarga Suami Adalah Hama ingin menyoroti dinamika hubungan suami istri yang menghadapi cobaan bukan dari orang ketiga, tapi justru dari keluarga yang terlalu ikut campur.

    ”Ini adalah kisah yang bisa merefleksikan situasi banyak orang dan semoga bisa menjadi persembahan yang memberikan hiburan sekaligus pelajaran,” ujar produser dan CEO VMS Studio Tony Ramesh.

    Bagi Raihaanun, film Keluarga Suami Adalah Hama memberinya tantangan untuk menampilkan beban emosional yang dialami oleh banyak perempuan dan istri. Ia berharap film ini akan semakin membuka ruang diskusi tentang pentingnya hubungan yang sehat dalam keluarga.

    Film ini akan membuka banyak mata masyarakat tentang betapa pentingnya memberikan ruang yang aman dan komunikasi yang sehat untuk istri. Sehingga para istri tidak merasa ditinggalkan dan seperti berjuang sendirian di dalam rumah tangga.

    “Salah satu yang juga menjadi tantangannya di sini adalah bagaimana aku menampilkan dinamika sebagai seorang istri yang harus berinteraksi secara intens dengan keluarga dari suami,” ujar Raihaanun.

    Film drama keluarga terbaru dari produser Tony Ramesh dan sutradara Anggy Umbara ini diproduksi VMS Studio dan Umbara Brothers Film, bekerja sama dengan Adsfort.

    Film Keluarga Suami Adalah Hama akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026.

  • Pesan Reflektif Joko Anwar di Film “Ghost in the Cell“: Indonesia Sedang Tidak Baik-baik Saja

    Pesan Reflektif Joko Anwar di Film “Ghost in the Cell“: Indonesia Sedang Tidak Baik-baik Saja

    7cloud.asia – Ada pesan yang sangat reflektif tentang situasi Indonesia saat ini di balik film ke-12 penulis dan sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell yang diputar di bioskop di pada 16 April ini.

    Di film Ghost in the Cell ini, Joko Anwar dengan jenius menggabungkan berbagai genre, Mulai dari komedi, aksi hingga horor. Tema yang dibahas juga sangat beragam merefleksikan situasi Indonesia saat ini. Dari isu lingkungan, agama, dan politik.

    Joko Anwar mengatakan, hal ini karena situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini.

    “Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri,” kata Joko Anwar kepada wartawan saat screening, pada Jumat (4/2026).

    Melalui Ghost in the Cell, Joko Anwar ingin mengajukan sebuah pernyataan yang tegas
    tentang masih adanya harapan di tengah sistem yang kacau dan busuk di negara ini.

    Namun, dalam kekacauan ini Joko Anwar memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, uajrnya, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi. Setidaknya, sekian persen masyarakat Indonesia masih ada yang jujur, dan masih ada yang mau menyuarakan.

    Baca: Model minimal scene dalam film Ghost in The Cell

    ”Saya percaya semangat itu tidak akan pernah mati, karena itu yang membuat kita masih mau bernapas dan bersuara,” tambah Joko Anwar.

    Menurutnya, semangat harapan itu yang bisa membawa perubahan, bersama kolektivitas warga, seperti yang terjadi di filmnya saat para napi dan sipir akhirnya bekerja sama untuk melenyapkan ‘hantu’ yang sesungguhnya.

    Salah satu isu yang dibahas di film ini adalah tentang sistem yang korup. Serta agaimana seorang koruptor menjalani ‘hukuman’ namun masih mendapat privilese untuk bisa berbuat semau mereka.

    Produser Tia Hasibuan menyebutkan, meski secara isu dan cerita Ghost in the Cell sangat Indonesia, tetapi di sisi lain juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia.

    Saat world premiere di Berlinale, banyak dari penonton merasakan keresahan yang sama yang ada di film Ghost in the Cell ini, tentang sistem yang korup dan semangat harapan terhadap perubahan menjadi lebih baik.

    “Meski peristiwanya di Indonesia, seluruh aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan dari joke dan satir yang ada di film,” ujar produser Tia Hasibuan.

    Baca: Film “Pesta Babi” dan semangat anak muda merawat hutan adat

    Film Ghost in the Cell ini merupakan karya bersama rumah produksi Come and See Pictures
    dengan sajian pengalaman sinematik baru. Film Ghost in the Cell telah mendapat sambutan positif saat tayang perdana di Berlinale 2026.

    Film ini juga telah mendapat respons yang begitu tinggi di internasional dengan dibelinya hak penayangan film di 86 negara di berbagai benua.

    Secara keseluruhan, Ghost in the Cell dibintangi oleh 108 pemeran. Dengan jajaran
    ansambel bertabur bintang, Joko juga menuntut para pemerannya untuk mengeksplorasi kemampuan akting mereka seluas mungkin.

    Abimana, yang memerankan Anggoro, menyebutkan dalam salah satu adegan aksi, ada tempo yang dimainkan. Abimana menceritakan, adegan aksi di film ini yang melibatkan ratusan orang diciptakan secara long take, dan memerlukan kesiapan dan kematangan para aktor yang terlibat.

    “Secara keaktoran, sudah disiapkan arc character masing-masing. Anggoro, yang saya perankan, terikat dengan ibu dan keluarga. Di dalam penjara pun dia ciptakan keluarga yang dia pilih,” kata Abimana.

    Dalam akting itu bukan saja soal karakter, tetapi juga ada beat tempo. Misalnya dalam satu adegan fighting, tidak hanya satu beat tempo serius. Tapi juga jadi dance lalu ke drama, itu beat-nya berbeda.

    “Kalau para aktornya tidak mengerti beat yang digunakan, itu akan susah dan membuat berantakan syutingnya. Dan Joko sudah mempersiapkan beat-beat itu di tiap adegan,” tambah Abimana.

    Baca: Penyelamatan hutan adat Suku Awyu di balik tagar “All Eyes on Papua”

  • Film “Ikatan Darah“ Sajikan Signature Aksi Laga Khas Indonesia.

    Film “Ikatan Darah“ Sajikan Signature Aksi Laga Khas Indonesia.

    7cloud.asia – Adegan aksi laga yang berdarah-darah kental mewarnai trailer film aksi Ikatan Darah yang dirilis awal pekan ini.

    Film Ikatan Darah besutan sutradara Sidharta Tata menciptakan set yang sangat realis dari tempat-tempat yang sangat khas Indonesia seperti perkampungan padat penduduk dan gang-gang sempit.

    Penonton akan melihat berbagai adegan aksi laga baik duel hingga kolosal yang melibatkan ratusan ekstras yang bikin penonton tarik napas di layar besar.

    Sidharta Tata juga membuat berbagai koreografi aksi di film ini berjalan begitu dinamis dengan sinematografi yang semakin membuat penonton ikut berada di tengah pertarungan.

    Film Ikatan Darah yang akan diputar akhir April, juga menyajikan signature aksi laga yang sangat khas Indonesia.

    Baca: Pesan Reflektif Joko Anwar di Film “Ghost in the Cell“

    Alih-alih melibatkan senjata api, Tata memilih untuk di hampir semua adegan laganya menggunakan tangan kosong, memanfaatkan gaya laga tiap karakternya, dan beberapa senjata tajam yang sangat khas Indonesia.

    “Saya sedang menerjemahkan sesuatu yang berhubungan dengan lokalitas Indonesia. Yang saya lihat dengan pengalaman empiris saya, ya senjata tajam yang digunakan, dengan berbagai macam bentuk alat-alatnya, seperti celurit, golok, dan sebagainya,” ungkap Tata.

    “Bisa dilihat juga dari rekam jejak film saya, saya selalu tidak pernah lepas dari kultur Indonesia yang sangat Indonesia sekali. Jadi lokalitas itu yang saya anfaatkan, termasuk di Ikatan Darah,” tambah Tata.

    Dikenal dengan judul-judul series action-nya yang banyak dicintai penonton Indonesia. Kini, untuk pertama kalinya, Tata membuat film action layar lebarnya lewat Ikatan Darah, dengan produser eksekutif Iko Uwais.

    Sebagai penggemar The Raid, Tata sendiri mengaku bekerja sama dengan Iko Uwais
    adalah cita-citanya sejak ia menjadi sineas. Tata sudah sejak lama mendamba untuk
    menggarap film action.

    Baca: Film “Pesta Babi” dan Semangat Anak Muda Papua Merawat Hutan Adat

    Di film Ikatan Darah, Tata banyak belajar dari sang maestro laga Indonesia tersebut. Salah satu yang menarik adalah, di adegan fighting, ada kamera yang dilibatkan untuk ikut berantem. Elemen ini menjadi sesuatu yang baru untuk Tata.

    Dia menjanjikan sesuatu yang menarik dalam film Ikatan Darah ini, yakni kamera yang ikut berantem yang menurutnya belum pernah dia temukan sebelumnya.

    “Bagaimana kemudian tradisinya Uwais Pictures itu adalah menciptakan semua elemen harus bekerja, bekerja untuk mendukung koreo fight itu menjadi nyata. Termasuk bagaimana kemudian camera works itu berjalan,” ujar sutradara film Ikatan Darah Sidharta Tata.

    “Wah, itu aku melihatnya gila ya. Pengalaman yang sangat menyenangkan. Dan di final trailer, penonton bisa melihat dinamisnya fighting di film ini,” tambah Tata.

    Ikatan Darah dibintangi oleh Livi Ciananta, Derby Romero, Dimas Anggara, Teuku
    Rifnu Wikana, Abdurrahman Arif, Ramadhan Ruswadi, Agra Piliang, Ismi Melinda,
    dan aktris senior Lydia Kandou.

    Baca: Film “Laut Bercerita” dan Keteguhan Aktivis Mahasiswa