Tag: kemarau

  • Musim Kemarau, Wilayah Banyumas Mulai Kekeringan

    Musim Kemarau, Wilayah Banyumas Mulai Kekeringan

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Beberapa wilayah mengalami kekeringan, seperti yang terjadi di Banyumas, Jawa Tengah.

    Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Budi Nugroho wilayah yang terdampak kekeringan di wilayah tesebut mencapai 28 desa yang tersebar di 13 kecamatan.

    “Bahkan, RSUD Banyumas juga turut terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini,” ungkap Budi Nugroho seperti yang dilansir Antaranews pada Rabu (28/08/2024).

    Selanjutnya Budi menjelaskan, kekeringan ini berdampak pada 7.575 keluarga yang terdiri atas 23.846 jiwa.

    Baca: Kekeringan melanda Yogyakarta

    Karena itu, lanjut Budi, pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih yang bersumber dari APBD Kabupaten Banyumas sebanyak 133 tangki setara dengan 665.000 liter.

    Bantuan air bersih ini akan disalurkan kepada warga di 28 desa yang terdampak kekeringan termasuk juga RSUD Banyumas.

    Selain BPBD, bantuan air bersih juga disalurkan oleh PMI Kabupaten Banyumas sebanyak 44 tangki setara dengan 220.000 liter dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy sebanyak 1 tangki atau 5.000 liter.

    Pada kesempatan itu Budi mengatakan kekeringan tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga berdampak pada hutan yang menjadi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Banyumas.

    Baca: Sejumlah wilayah di Aceh berpotensi kekeringan hingga September

    Data yang dihimpun BPBD Banyumas selama musim kemarau tahun 2024 telah terjadi 12 kejadian karhutla di 12 desa/kelurahan dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 30,914 hektare.

    Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah atau rumput di lahan maupun hutan serta tidak membuang puntung rokok sembarangan agar tidak terjadi karhutla.

    “Apalagi saat sekarang sedang puncak musim kemarau dan angin juga cukup kencang, sehingga sekecil apapun api yang dibuat akan berisiko terhadap terjadinya karhutla,” ujarnya.

  • Kemarau Melanda Pulau Jawa, Ribuan Warga di Jonggol Krisis Air Bersih

    Kemarau Melanda Pulau Jawa, Ribuan Warga di Jonggol Krisis Air Bersih

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda Pulau Jawa. Sejumlah wilayah mengalami kekeringan, tak terkecuali wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Ribuan warga di wilayah ini mengalami krisis air bersih sejak beberapa hari yang lalu seiring dengan menurunnya intensitas hujan.  

    Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, M Adam sebanyak 1.847 jiwa di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor mengalami krisis air bersih.

    Baca: Wilayah Banyumas mulai mengalami kekeringan

    “Intensitas hujan yang menurun di wilayah tersebut, sehingga mengakibatkan sumber mata air warga berkurang dan warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya,”  jelas Adam seperti yang dilansir INews.

    Selanjutnya Adam menjelaskan ada dua kampung di Desa Sukanegara, Kecamatan Jonggol sebanyak 146 KK dengan 448 jiwa yang mengalami krisis air bersih. Untuk mengatasinya, pihaknya juga telah menyalurkan  10.000 liter air ke wilayah tersebut.

    “Pengambilan air bersih di Kantor BPBD Kabupaten Bogor dan PDAM Tirta Kahuripan Cabang Jonggol,” ungkapnya.

    Baca: Yogyakarta tetapkan status siaga darurat bencana kekeringan

    Selain itu, lanjut Adam, terdapat  465 KK dengan 1.399 jiwa di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol yang kekurangan air bersih. “Volume pengiriman air bersih 5.000 liter,” katanya.

    Dengan adanya bantuan tersebut, saat ini kebutuhan air bersih di wilayah tersebut sudah terpenuhi.

    Namun, jika masyarakat membutuhkan air bersih kembali, maka dapat berkoordinasi dengan aparatur desa setempat dan BPBD Kabupaten Bogor.

    “Kebutuhan air bersih untuk hari ini sudah terpenuhi,” katanya.

  • Musim Kemarau, Bandung Siaga Darurat Bencana Kekeringan

    Musim Kemarau, Bandung Siaga Darurat Bencana Kekeringan

     

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda beberapa wilayah di Indonesia. Kekeringan pun tak terelakkan. Status siaga darurat bencana kekeringan diberlakukan. Seperti di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

    Sejak status siaga darurat bencana kekeringan ditetapkan Agustus lalu hingga Oktober 2024,  Pemerintah Kabupaten Bandung mengharuskan semua pihak termasuk masyarakat untuk waspada.

    Sebab bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan berpotensi besar terjadi saat musim kemarau seperti saat ini.

    “Pemkab Bandung menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Bandung sejak 6 Agustus 2024 lalu hingga memasuki awal musim hujan mendatang,” jelas Bupati Bandung, Dadang Supriatna di Bandung seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Ribuan warga di Jonggol krisis air bersih

    Dalam menghadapi potensi kekeringan, katanya, pihaknya telah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung untuk memberikan pelayanan air bersih secara optimal kepada masyarakat.

    “Hasil dari pelaksanaan rapat dengan BPBD, kami tindaklanjuti dengan pelaksanaan kaji cepat, mengingat sampai saat ini banyak surat yang masuk ke BPBD untuk permintaan air bersih,” urainya

    Untuk memenuhi permintaan masyarakat, lanjut Dadang, BPBD telah menyiagakan pasokan air serta personel yang siap untuk dikerahkan saat terjadi bencana kekeringan di Kabupaten Bandung.

    Selain itu, pihaknya juga melakukan upaya pengurangan risiko bencana kekeringan.

    Baca: Kekeringan melanda Yogyakarta, status siaga darurat

    “Dalam beberapa hari terakhir ini terjadi peningkatan permintaan pasokan air bersih dari masyarakat kepada BPBD. Sudah ada peningkatan permintaan air minum dari desa-desa di Kabupaten Bandung,” ungkapnya.

    Berdasarkan info prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Kabupaten Bandung akan memasuki musim hujan awal Oktober 2024. Meski demikian, kata Dadang, beberapa wilayah kini sudah ada yang turun hujan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Uka Suska mengimbau masyarakat tidak membakar sampah rumah tangga saat musim kemarau agar terhindar dari kebakaran.

    Baca: Wilayah Banyumas mulai kekeringan

    “Jangan buang sampah sembarangan atau bakar sampah sembarangan. Masyarakat harus bijak mengelola sampah, secara ramah lingkungan,” ujar Uka.

    Menurutnya masyarakat dapat mengolah sampah tersebut menjadi pupuk organik.

    “Apalagi di musim kemarau ini, tumpukan sampah rawan terjadi kebakaran. Sampah rumah tangga, khususnya sampah organik bisa digunakan untuk pupuk organik tanaman,” jelasnya.

    Selain tidak membakar sampah, masyarakat juga diimbau untuk menghemat penggunaan air bersih yang biasa digunakan sehari-hari selama musim kemarau.

  • Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, tapi Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Musim Kemarau, tapi Sejumlah Kota Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Sebagian besar kota di Indonesia kini tengah dilanda musim kemarau. Meski demikian, masih ada sejumlah wilayah yang berpeluang hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir pada Kamis (19/09/2024).

    Dalam akun youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG), hujan ringan berpotensi terjadi di Kota Banda Aceh, Tanjung Pinang, Kupang, Mamuju, Ternate, Sorong, Ambon dan Jayawijaya.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan.  Kota Nabire berpotensi diguyur hujan lebat.

    BMKG mengimbau warga di Kota Tanjung Selor dan Merauke agar mewaspadai potensi hujan disertai petir yang akan terjadi di kedua kota ini.

    Sementara untuk Kota Jakarta, cuaca berawan tebal diprediksi menyelimuti kota ini dari pagi hingga malam hari.

    Sedangkan untuk kota-kota lainnya cuaca diperkirakan cerah berawan seharian.

    Suhu udara berkisar antara 16 hingga 35 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara antara 31 hingga 100 persen.

    Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Jayawijaya dan suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Palembang.

  • BRIN: Hujan Ekstrem Masih Mungkin Terjadi Hingga Akhir April Meski Sebagian Wilayah Indonesia di Era Transisi ke Musim Kemarau

    BRIN: Hujan Ekstrem Masih Mungkin Terjadi Hingga Akhir April Meski Sebagian Wilayah Indonesia di Era Transisi ke Musim Kemarau

    7cloud.asia – Meski sebagian wilayah Indonesia sudah memasuki masa transisi ke musim kemarau, hujan dengan intensitas sedang, deras, hingga ekstrem masih berpotensi terjadi hingga akhir April 2025.

    Peneliti Bidang Klimatologi dan Perubahan Iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan, kondisi cuaca ini dipengaruhi oleh berbagai gelombang atmosfer di sejumlah wilayah Indonesia.

    “Berkaitan erat dengan aktivitas berbagai gelombang atmosfer, yaitu Kelvin, Madden Julian Oscillation (MJO), Rossby, maupun pusat tekanan rendah,” kata Erma dalam keterangan tertulis, Minggu (6/4/2025).

    Menurut analisis BRIN, pertemuan antara Gelombang Kelvin dan MJO terjadi di Samudra Hindia dekat utara ekuator atau di Sumatra Utara dan Aceh pada 1-10 April 2025.

    Keadaan ini menyebabkan pembentukan awan konvektif atau awan yang membawa potensi hujan di sejumlah daerah di Pulau Sumatra.

    Baca: Kapan Indonesia Memasuki Musim Kemarau?

    Selain itu, kata Erma, Pusat tekanan rendah juga terbentuk di Kalimantan dan Laut Jawa utara di Jawa Timur. Ini menyebabkan pembentukan klaster awan masih dapat terbentuk di Kalimantan bagian tengah dan selatan.

    Erma mengatakan mekanisme hujan harian tetap bisa terbentuk selama 10 hari pertama bulan April apabila pembentukan awan dan hujan terjadi di Sumatra maka dalam waktu 12-24 jam.

    Kemudian penjalaran hujan bisa terjadi dari Lampung menuju Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. dan Jawa Barat.

    Sementara itu, kata Erma, hujan yang terbentuk di Kalimantan Selatan dapat menjalar menuju Jawa Timur. “Proses ini terjadi setiap hari sehingga hujan meluas masih dapat terjadi terutama di Jawa bagian barat dan timur,” tuturnya.

    Pada dasarian kedua atau tanggal 11-20 April, aktivitas Gelombang Rossby akan mengalami peningkatan dan terbentuk di Laut Banda-Maluku. Kondisi tersebut dapat memicu pembentukan badai vorteks kembar utara dan selatan.

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan cuaca ekstrem akan makin sering terjadi

    Erma menjelaskan, prakondisi pembentukan vorteks tersebut juga sekarang telah terjadi di perairan timur tersebut.

    Ini menimbulkan ketidakstabilan di atmosfer, sehingga cuaca ekstrem yang sporadis dapat terjadi tidak hanya di wilayah sekitarnya (Sulawesi, Halmahera, Maluku), namun juga di Jawa.

    Pada dasarian kedua April, Erma juga memperkirakan terjadi pertemuan antara Gelombang Kelvin dan Rossby di wilayah Jawa Timur-Bali-Lombok, sehingga dapat menyebabkan hujan deras hingga ekstrem yang persisten selama berhari-hari.

    Sedangkan pada dasarian ketiga April, pertemuan antara Gelombang Kelvin dan Rossby bergeser ke barat, yaitu wilayah Samudra Hindia dekat Sumatra bagian selatan.

    Dampaknya di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Sumatra bagian selatan harus kembali menghadapi peningkatan hujan kembali.

    Baca: Dampak pemanasan global pada pola cuaca

    Masa Transisi Musim Hujan ke Musim Kemarau
    Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan sejak Maret lalu telah masuk masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau di seluruh wilayah Indonesia.

    Disebutkan bahwa musim kemarau sudah dimulai bertahap. Pada bulan Maret, musim kemarau masuk bertahap di sebagian kecil wilayah Jawa Barat bagian utara, sebagian Pulau Madura atau Jawa Timur, sebagian kecil Kalimantan Utara, serta Nusa Penida di Bali.

    Pada bulan April, secara bertahap mulai terjadi di wilayah Lampung bagian timur, pesisir utara Jawa bagian barat, pesisir Jawa Timur, sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

    Pada bulan Mei mulai musim kemarau akan masuk bertahap di sebagian kecil Sumatera, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian Kalimantan Selatan, Bali, serta Papua bagian selatan.

    Baca: Cara kota-kota di dunia hadapi pemanasan global

    Selanjutnya pada bulan Juni, kemarau mulai di wilayah sebagian besar Sumatera, sebagian besar Jawa bagian barat, Kalimantan bagian selatan, dan sebagian kecil wilayah di Sulawesi dan Papua.

    “Musim kemarau 2025 di Indonesia diprediksi terjadi pada periode waktu yang sama dengan normalnya, yaitu sesuai dengan awal musim kemarau selama 30 tahun terakhir,” kata Dwikorita saat konferensi pers daring pada Kamis, (13/3/2025).

    Menurut BMKG, berakhirnya musim hujan di Indonesia ditandai dengan aktifnya Angin Monsun Asia menjadi Angin Monsun Australia.

    Suhu muka laut pada awal Maret 2025 juga menunjukkan adanya fenomena La Nina di Samudra Pasifik yang telah bertransisi menuju El Nino Southern Oscillation (ENSO) netral.

    Selain itu, kata Dwikorita, terdapat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada fase netral di Samudra Hindia. “Kedua fenomena tersebut (ENSO dan IOD) diprediksi akan tetap berada dalam fase netral sepanjang musim kemarau 2025.

     

  • Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    7cloud.asia – Titik api atau hotspot mulai ditemukan di beberapa wilayah. Salah satunya Riau yang tercatat ada 144 titik hotspot dan 81 hektar lahan terbakar hingga akhir April 2025. Riau memang wilayah yang sering dilanda kebakaran, karena berbagai faktor.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan wilayah Riau berpotensi terjadi kebakaran lahan meski tanpa ada pembakaran karena faktor angin dan gesekan ranting.

    Dalam rilis BMKG, Dwikorita menerangkan adanya musim kemarau yang terjadi dua kali di Riau menyebabkan wilayah ini menjadi sering terjadi hotspot.

    Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut pemicu kebakaran lahan

    Khusus Wilayah Riau, secara alamiah berpotensi mengalami dua kali musim kemarau, yakni pada Februari–Maret dan kembali pada Mei hingga Agustus, yang diprediksi menjadi puncak kemarau. Kondisi ini menyebabkan provinsi ini lebih sering mengalami hotspot dibanding wilayah lain.

    “Bahkan meski tanpa pembakaran, potensi kebakaran tetap ada karena faktor angin dan gesekan ranting. Maka prediksi berbasis data sangat penting untuk mitigasi,” jelas mantan rektor UGM ini.

    BMKG memperkirakan periode April-Mei 2025, risiko karhutla umumnya rendah. Namun beberapa area di Riau, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur mulai menunjukkan risiko menengah hingga tinggi.

    Bulan Juni 2025, peningkatan signifikan risiko karhutla terjadi di wilayah Riau (41,5% wilayah berisiko tinggi), Sumatera Utara, Jambi, dan sekitarnya.

    Baca: Curah hujan berkurang, titik panas mulai muncul di Riau

    Sifat kemarau diprediksi didominasi kondisi normal (sekitar 60%), namun 26% wilayah berpotensi mengalami kemarau atas normal (lebih basah) dan 14% bawah normal (lebih kering).

    Lebih jauh Dwikorita memaparkan, periode April-Mei 2025 risiko karhutla umumnya rendah. Sedangkan, Bulan Juli-September 2025, risiko karhutla meluas ke Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua.

    Wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua Selatan, Kalimantan Selatan, serta Bangka Belitung menjadi wilayah dengan potensi risiko karhutla tertinggi.

    Baca: Musim Kemarau 2025 lebih singkat, ini penyebabnya

    Kemudian pada Oktober 2025, risiko karhutla diprediksi tetap tinggi di wilayah Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

    Karena itu, BMKG bersama BNPB dan pemerintah daerah melakukan berbagai langkah antisipasi. Diantaranya mendorong upaya pembasahan lahan, upaya mempertahankan tinggi muka air di lahan.

    Selain itu, upaya lainnya adalah pengisian embung-embung serta kanal dengan memanfaatkan hujan yang masih ada saat periode transisi menjelang musim kemarau.

    Baca: Musim kemarau 2025 diperkirakan bulan Mei, waspada dampaknya

    Upaya penguatan lainnya juga dilakukan dalam bentuk penyiagaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), patroli udara, serta pengawasan lapangan secara berkala, khususnya di wilayah Riau yang saat ini telah berstatus siaga darurat karhutla.

    “BMKG berkomitmen untuk terus memantau perkembangan iklim dan potensi karhutla serta menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat dan pihak terkait demi mencegah dampak buruk yang mungkin terjadi. Dengan data yang akurat dan tindakan yang cepat, kita bisa mencegah bencana besar,” urainya.

  • Kebakaran Hutan dan Lahan Dilaporkan Mulai Terjadi di Sejumlah Daerah

    Kebakaran Hutan dan Lahan Dilaporkan Mulai Terjadi di Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Memasuki awal musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan mulai menerpa sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng).

    Menyikapi hal ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi kemungkinan kebakaran hutan di daerah masing-masing.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan di Jakarta, Senin (5/5/2025) mengatakan, pihaknya memantau dua kejadian karhutla masing-masing seluas 0,5 hektare di Kabupaten Lamandau dan 1 hektare di Kabupaten Kotawaringin Barat

     

    Baca: Musim kemarau 2025 diperkirakan berlangsung lebih pendek

    Kebakaran hutan di dua wilayah ini telah berhasil dipadamkan oleh petugas BPBD setempat pada Sabtu (3/5/2025).

    “Pemadaman telah dilakukan sejak awal kemunculan titik api dan saat ini kedua lokasi telah dinyatakan padam,” ujarnya.

    Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat sebanyak 38 kejadian karhutla terjadi di seluruh wilayah Kalimantan Tengah pada medio Januari hingga 4 Mei 2025, dengan sebaran 180 titik panas dan total luas lahan terdampak mencapai 25,46 hektare.

    Kabupaten Sukamara tercatat sebagai wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 6,90 hektare, disusul Kabupaten Barito Utara dengan 4,01 hektare.

    Baca: Kebakaran Hutan meningkat akibat perubahan iklim

    Menurut Abdul, penyebab kejadian masih dalam proses penyelidikan oleh aparat penegak hukum di masing-masing wilayah.

    Menanggapi tren karhutla yang terus berulang, BNPB mengingatkan pemerintah daerah untuk menyiagakan peralatan pemadaman, kendaraan operasional, personel, serta anggaran cadangan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan bencana.

    Langkah kesiapsiagaan harus terus diperkuat terutama di enam provinsi prioritas rawan karhutla yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.

    “Serta satu provinsi dengan penanganan khusus, yakni Kalimantan Timur,” kata Abdul, seraya mengingatkan supaya masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan diharapkan aktif melaporkan jika menemukan titik api di wilayahnya masing-masing

  • Musim Kemarau Belum Merata, Ini Penyebabnya

    Musim Kemarau Belum Merata, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Musim kemarau kini melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, musim kemarau masih belum merata bahkan masih ada wilayah yang mengalami cuaca ekstrem. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.

    Melalui akun resmi instagram Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada beberapa faktor yang menyebabkan musim kemarau belum merata.

    Diantaranya keadaan angin monsun Australia yang masih lemah. “Lemahnya angin monsun Australia terutama di wilayah Selatan Indonesia, memberikan pengaruh terhadap musim kemarau yang belum merata di wilayah Indonesia,” tulis BMKG.

    Hasil pemantauan BMKG pada akhir Mei 2025, indeks monsun Australia masih berada di bawah nilai klimatologisnya.

    Baca: Dampak fenomena kemarau basah

    Melemahnya angin musim kemarau tersebut membuat massa udara kering tertahan di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Kondisi ini memicu pembentukan daerah-daerah perlambatan angin (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) di sekitar ekuator. Akibatnya, pertumbuhan awan konvektif di wilayah-wilayah tersebut muncul.

    Adanya awan konvektif inilah yang sering membawa curah hujan sedang hingga lebat. Bahkan awan ini pula bisa membawa angin kencang, petir, hingga hujan es.

    Kehadiran awan konvektif semakin menyeramkan ditambah dengan kombinasi beberapa fenomena atmosfer di akhir bulan Mei 2025 lalu.

    Baca: Mengenal fenomena kemarau basah

    Kombinasi fenomena atmosfer yang dimaksud, yaitu Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang-gelombang atmosfer (Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Low Frequency).

    Seluruh faktor ini bersama-sama menciptakan intensitas hujan yang cukup tinggi. Akibatnya hujan ekstrem terjadi di berbagai wilayah, seperti di Raja Haji Fisabilillah Kepulauan Riau dengan intensitas 155,4 mm/hari.

    Hingga 9 Juni 2025, indeks monsun Australia akan mulai menguat. Saat menguat, aliran udara kering akan mulai memasuki wilayah Indonesia bagian selatan.

    Aliran udara ini juga dapat memicu potensi penurunan curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan.

    Hal ini mengindikasikan musim kemarau mulai meluas di wilayah RI. BMKG memprediksikan hal ini terjadi pada pekan kedua bulan Juni.

    Baca: BMKG prediksi kemarau 2025 lebih pendek

    Sementara pada awal Juni aktivitas gelombang ekuator seperti MJO, Low Frequency, Gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial masih cukup konsisten dan meningkatkan peluang terbentuknya awan-awan konvektif.

    Peluang ini semakin diperkuat dengan interaksi angin darat/laut maupun faktor geografis lainnya. Berbagai faktor inilah yang menimbulkan terjadinya hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat pada siang-sore hari.

    Pada beberapa daerah, hujan bisa disertai kilat/petir dan angin kencang. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dengan kondisi cuaca yang dapat berubah cepat.

  • Cuaca Hari Ini: Beberapa Kota Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Beberapa Kota Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Musim kemarau yang melanda Indonesia saat ini belum merata. Beberapa kota masih berpotensi diguyur hujan pada Sabtu (14/06/2025).

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Padang, Tanjung Pinang, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya.

    Selain itu Kota Denpasar, Mataram, Pontianak, Tanjung Selor, Samarinda, Banjarmasin, Makassar, Palu, Gorontalo, Kendari, Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire dan Jayawijaya juga berpotensi terjadi hujan berintensitas ringan.

    Kemudian hujan berintensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Palangkaraya, Jayapura. Dan hujan berintensitas lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi terjadi di Kota Bandar Lampung, Manado, Ternate dan Merauke.

    BMKG mengajak masyarakat agar mewaspadai potensi banjir rob yang melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Kepulauan Bangka Belitung.

    Banjir rob juga berpotensi melanda pesisir Pulau Jawa, pesisir Pulau Bali, pesisir Nusa Tenggara, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Kalimantan Tengah, pesisir Kalimantan Barat, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.

     

     

     

  • BMKG Pastikan Awal Musim Kemarau 2025 Mundur

    BMKG Pastikan Awal Musim Kemarau 2025 Mundur

    ruangkota – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan awal musim kemarau tahun 2025 mundur. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya kondisi curah hujan yang diatas normal.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan selama periode April hingga Mei 2025, kondisi curah hujan lebih tinggi dari biasanya. Padahal seharusnya masa tersebut telah memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

    Hingga awal Juni 2025, baru sekitar 19 persen zona musim di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau. Artinya, sebagian besar wilayah di Indonesia hingga saat ini masih berada dalam kategori musim hujan.

    Menurut Dwikorita, sebenarnya BMKG telah memprediksi melalui prakiraan iklim bulanan yang dirilis pada Maret 2025.

    Baca: Cuaca panas kemudian hujan lebat, mengapa?

    Dalam prediksi tersebut, BMKG mengantisipasi adanya peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

    Peningkatan curah hujan ini menyebabkan wilayah-wilayah tersebut belum dapat bertransisi sepenuhnya ke musim kemarau sebagaimana biasanya.

    “Prediksi musim dan bulanan yang kami rilis sejak Maret lalu menunjukkan adanya anomali curah hujan yang diatas normal di wilayah-wilayah tersebut, dan ini menjadi dasar utama dalam memprediksi mundurnya musim kemarau tahun ini,” ungkap Dwikorita dalam rilis persnya.

    Baca: BMKG ungkap penyebab musim kemarau 2025 lebih pendek

    Selanjutnya dia menjelaskan berdasarkan analisis BMKG terhadap data curah hujan di seluruh Indonesia pada Dasarian I (sepuluh hari pertama) Juni 2025, sifat hujan di berbagai wilayah mulai menunjukkan tanda-tanda pergeseran menuju kondisi kemarau.

    Sebanyak 72 persen wilayah berada dalam kategori Normal, 23 persen dalam kategori Bawah Normal (lebih kering dari biasanya) dan hanya sekitar 5 persen wilayah yang masih mengalami curah hujan Atas Normal.

    Wilayah Sumatera dan Kalimanta justru telah mengalami beberapa dasarian berturut-turut dengan curah hujan yang lebih rendah dari normal, sehingga indikasi awal musim kemarau lebih cepat terlihat di wilayah tersebut dibanding wilayah selatan Indonesia.

    Baca: Riau kerap dilanda kebakaran hutan dan lahan, mengapa?

    Pada bulan April hingga Mei lalu, beberapa wilayah di Indonesia bagian selatan memang mengalami kondisi curah hujan Atas Normal, termasuk Sumatera Selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian kecil Kalimantan, sebagian wilayah Sulawesi, dan Papua bagian selatan.

    Hal ini menunjukkan bahwa transisi musim kemarau tidak berlangsung seragam di seluruh Indonesia.

    BMKG memperkirakan bahwa kondisi curah hujan dengan kategori Atas Normal masih akan berlanjut di sebagian wilayah hingga bulan Oktober 2025.

    Karena itu BMKG menyatakan bahwa musim kemarau tahun 2025 cenderung akan memiliki durasi yang lebih pendek dibandingkan dengan normalnya dengan sifat hujan diatas normal.