Tag: kesehatan mental

  • Bantu Anak Muda Atasi Kesehatan Mental, Ganjar Pranowo Luncurkan “Teman Cerita”

    Bantu Anak Muda Atasi Kesehatan Mental, Ganjar Pranowo Luncurkan “Teman Cerita”

    7cloud.asia – Politisi Ganjar Pranowo meluncurkan program khusus membantu anak muda menyelesaikan persoalan kesehatan mental. Menggandeng 1500 peer counselor, Ganjar membuat program bernama Teman Cerita

    Teman Cerita diluncurkan Ganjar Pranowo di Jakarta, tepatnya di Cafe Kopikina, Kemang, Sabtu (15/2/2025). Teman Cerita merupakan program unggulan dari Yayasan Nalar Naluri Nurani yang didirikan mantan Calon Presiden dari PDI Perjuangan ini.

    “Persoalan kesehatan mental ini menjadi isu penting yang harus kita selesaikan demi menyiapkan SDM unggul mendatang. Kami ingin membersamai anak-anak muda yang merasa memiliki masalah kesehatan mental dan bergandengan tangan mencari solusinya,” ucap Ganjar. 

    Menurut Ganjar Pranowo, maraknya dampak buruk problem kesehatan mental adalah kurangnya tempat untuk bercerita.

    Banyak anak muda memilih memendam persoalan yang dialami karena tidak memiliki ruang itu. Akibatnya, ketika tidak kuat, banyak anak muda yang menyerah hingga melakukan hal-hal negatif bahkan sampai bunuh diri.

    Menurut Survei I-NAMHS (2022), sebanyak 1 dari 3 remaja memiliki masalah kesehatan mental dan 1 dari 20 remaja memiliki gangguan mental.

    Baca: Ganjar Pranowo ajak anak muda teladani semangat Soekarno

    Sementara menurut badan kesehatan dunia, WHO, bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga remaja Indonesia, di mana menurut data BRIN, selama 2012-2023 tercatat 2.112 kasus bunuh diri dan 47 persen di antaranya dilakukan remaja.

    “Inilah alasan kenapa Teman Cerita penting kami luncurkan. Anak muda bisa menceritakan semua masalah kesehatan mentalnya kepada peer counselor kami melalui WhatsApp 0812 9999 8806 yang online setiap hari. Kamu bisa berbagi, menangis, marah, meluapkan emosi untuk menenangkan jiwa,” jelas mantan Gubernur Jawa Tengah dua periode itu.

    Peer counselor Teman Cerita, terang Ganjar, akan siap mendengarkan keluh kesah anak muda.

    Mereka juga akan mengidentifikasi masalah dan merekomendasikan untuk konsultasi dengan psikolog atau psikiater jika memang diperlukan.

    Peer counselor bekerja secara sukarela. Mereka adalah mahasiswa tingkat akhir atau lulusan Fakultas Psikologi yang terlatih dan bersertifikat.

    Program Teman Cerita merupakan langkah mengatasi keterbatasan jumlah psikolog dan psikiater di Indonesia. Sebab, tidak semua masalah mental harus dikonsultasikan dengan psikolog atau psikiater. Peer counselor bisa menjadi penyaring.

    Baca: Ganjar Pranowo sebut pemerintah harus terbiasa mendengarkan kritik

    “Saya meyakini, kalau bangsa ini kesehatan mentalnya jitu, maka nalar akan baik, nurani akan terasah dan naluri sebagai manusia dia akan bermanfaat. Itu bagian dari kekokohan bangsa kita jadi bangsa yang beradab,” tegasnya.

    Saat ini, jumlah psikolog klinis aktif di Indonesia belum mencapai 3000 orang. Sedangkan psikiater tidak sampai 1.100 orang.

    Padahal, jumlah penduduk Indonesia ratusan juta. Sehingga perbandingan psikolog/psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1:68.500.

    “Padahal standar WHO adalah 1:30.000. Sehingga diperlukan kolaborasi dan dukungan semua pihak untuk membantu anak muda mengatasi problem mentalnya,” pungkasnya.

    Sekjen Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Mulyanto mengapresiasi langkah Yayasan Nalar Naluri Nurani meluncurkan Teman Cerita. Menurutnya, itu langkah strategis dalam menyelesaikan problem kesehatan mental anak bangsa.

    “Kami mengapresiasi dan siap bekerjasama untuk menyelesaikan problem kesehatan mental. Benar apa yang dilakukan yayasan ini, membuka kanal atau ruang bercerita, karena persoalan kesehatan mental tidak hanya butuh solusi, tapi butuh didengarkan,” ucapnya.

  • Studi: Detoksifikasi Telepon Pintar Berdampak Positif pada Kesehatan Mental

    Studi: Detoksifikasi Telepon Pintar Berdampak Positif pada Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Sebuah studi baru menunjukkan bahwa menjauh dari ponsel pintar atau yang lebih dikenal dengan detoksifikasi ponsel dapat meningkatkan kesehatan mental.

    Dikutip dalam laporan Hindustan Times, pada Kamis (27/2/2025), sebuah studi baru dari University of Texas di Austin menunjukkan bahwa membatasi akses internet pada ponsel hanya selama dua minggu dapat secara signifikan meningkatkan kesehatan mental, suasana hati.

    Penelitian yang melibatkan 467 peserta berusia 18 hingga 74 tahun itu juga mengungkap detoksifikasi ponsel juga dapat membuat pelakunya jauh lebih fokus.

    Dalam studi ini, selain melacak kondisi kesehatan mental peserta, para peneliti juga mengukur tingkat perhatian mereka setelah satu bulan mengurangi penggunaan internet.

    Hasilnya mencengangkan: 91 persen peserta mengalami setidaknya satu perubahan positif, sementara 71 persen melaporkan peningkatan kesehatan mental, dan 73 persen merasakan peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan.

    Dalam studi itu salah satu temuan yang paling mencolok adalah efeknya terhadap suasana hati.

    Baca: Penggunaan ponsel secara berlebihan memicu risiko stres

    Para peserta mengikuti survei kesehatan mental standar yang menilai gejala kecemasan dan depresi, dan tanggapan mereka menunjukkan peningkatan yang signifikan.

    Penurunan gejala depresi sebanding dengan atau bahkan lebih besar daripada yang diamati dalam penelitian tentang obat antidepresan.

    Meskipun hal ini tidak menunjukkan bahwa menjadi offline ponsel dapat menggantikan perawatan medis, namun hal ini menyoroti manfaat nyata dari mengurangi waktu di depan layar.

    Tidak hanya kondisi kesehatan mental yang membaik, para peserta juga mengalami peningkatan yang nyata dalam rentang perhatian atau fokus.

    Para peneliti menemukan bahwa kemampuan mereka untuk fokus pada tugas meningkat secara signifikan, dengan efek yang sebanding dengan mendapatkan kembali ketajaman kognitif selama satu dekade.

    Studi tersebut juga mengungkap bahwa menjauhi internet menghasilkan pilihan gaya hidup yang lebih baik. Peserta melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan, menekuni hobi, bersosialisasi, dan bahkan tidur lebih baik.

    Baca: Detoksifikasi digital jadi cara sederhana terapkan Slow Living

    Semakin lama mereka tidak terganggu oleh gangguan daring, semakin banyak manfaat yang diperoleh, sehingga menciptakan siklus umpan balik positif.

    Adapun cara mengurangi mengurangi waktu menonton layar ponsel tanpa terputus, dimulai dari hal kecil dengan beristirahat sejenak, mematikan notifikasi, atau menetapkan batasan aplikasi.

    Detoksifikasi ponsel juga dapat dilakukan dengan menjadwalkan waktu tanpa teknologi saat makan atau sebelum tidur, mencoba detoks digital selama sehari, atau bahkan beralih ke telepon biasa.

    Menemukan aktivitas offline seperti membaca, berolahraga, atau sekadar menikmati momen dapat membantu memperkuat kebiasaan yang lebih sehat.

    Meskipun internet merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, penelitian ini membuktikan bahwa beristirahat sejenak dari internet dapat menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

    Baca: Langkah sederhana hindari jebakan FOMO

  • Waspada! Makanan Olahan Berpengaruh Pada Kondisi Kesehatan Mental

    Waspada! Makanan Olahan Berpengaruh Pada Kondisi Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Dear pembaca, mulai sekarang hati-hatilah dalam mengosumsi makanan. Pasalnya, pilihan makanan yang dikonsumsi berpengaruh pada kondisi kesehatan mental

    “Gagasan bahwa apa yang kita makan dapat mempengaruhi suasana hati dan kesehatan mental bukanlah hal yang mengejutkan,” kata Profesor neurobiologi Stanford Andrew Huberman mengemukakan sebagaimana dikutip Hindustan Times, Sabtu (19/4/2025)

    Kaitan asupan makanan dengan kesehatan mental ini terungkap dalam penelitian ilmiah dan klinis baru-baru ini. Penelitian itu menunjukkan hubungan kuat antara mengonsumsi makanan olahan dan gangguan kesehatan mental.

    “Perubahan pada mitokondria kemungkinan menjadi penghubung antara kedua faktor ini,” imbuh Huberman.

    Baca: Detoksifikasi digital berdampak positif pada kesehatan mental

    Dalam siniar dengan psikiater Chris Palmer dari Harvard pada 4 April 2025, Huberman mengemukakan bahwa ada banyak data yang menunjukkan makanan dengan proses pengolahan minimal lebih baik untuk kesehatan mental.

    Sebaliknya makanan yang melalui banyak proses pengolahan punya ekses lebih besar pada kesehatan mental.

    “Tentu saja hasil seperti ini bersifat korelatif. Ada banyak masalah gaya hidup yang mungkin menyertai konsumsi makanan olahan atau penghindaran makanan semacam itu,” katanya.

    Palmer mengemukakan bahwa banyak mengonsumsi makanan ultra-proses berdampak buruk pada kondisi fisik maupun kesehatan mental.

    Baca: Gangguan kesehatan mental bukan kelemahan

    Ia menyampaikan, hasil penelitian yang melibatkan lebih dari 300.000 orang menunjukkan hubungan langsung dan linier antara mengonsumsi makanan ultra-proses dan kesehatan mental yang buruk.

    “Di antara mereka yang mengonsumsi makanan ultra-proses setiap hari, beberapa kali sehari, 58 persen melaporkan kesehatan mental yang buruk,” katanya.

    Ia menambahkan, masalah itu hanya terjadi pada 18 persen orang yang jarang atau tidak pernah mengonsumsi makanan ultra-proses, yang biasanya minim serat serta berkadar gula, garam, dan lemak tinggi.

     

  • Kiat Memilih Buku Self Help yang Berdampak pada Kesehatan Mental

    Kiat Memilih Buku Self Help yang Berdampak pada Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Industri kesehatan merupakan salah satu industri dengan pertumbuhan pasar tercepat, dengan estimasi nilai global mencapai 6,3 triliun dolar AS atau sekitar Rp1,059 kuadriliun di tahun 2023.

    Gen Z dan Milenial atau Zilenial menjadi penyumbang besar atas pertumbuhan tersebut. Sebab, mereka menghabiskan lebih banyak uang untuk produk dan layanan kesehatan dibanding generasi seniornya.

    Namun, yang menjadi tantangan untuk industri kesehatan adalah minimnya batasan jelas. Akibatnya, influencer media sosial bisa dengan mudah menjelma menjadi ahli kesehatan atau kesejahteraan mental (well-being) yang tak jarang menyebarkan informasi tanpa dasar ilmiah.

    Apalagi, era sekarang begitu memudahkan penyebaran opini pribadi dan strategi yang belum teruji dan menempatkanya seperti sebuah fakta. Fenomena ini menyulitkan masyarakat membedakan antara arahan bermanfaat dengan informasi menyesatkan.

    Buku-buku self-help dan biblioterapi
    Salah satu metode menolong diri sendiri (self help) adalah bibliotherapy yaitu menggunakan buku untuk mendukung kesejahteraan mental kita.

    Jika seseorang ingin meningkatkan well-being, kemungkinan besar mereka akan mulai mencari buku self help untuk dibaca.

    Buku jenis self help menjadi penyumbang terbesar kategori nonfiksi. Namun, sebenarnya tidak semua buku self help memaparkan strategi yang terbukti efektif.

    Di Amerika Serikat, ada 15 ribu buku self help yang terbit setiap tahun. Di antara banyaknya buku self help tersebut, tentu sulit memeriksa kontennya satu per satu.

    Baca: Budaya baca di Indonesia berkaitan dengan norma sosial

    Sebagai seorang profesor psikologi dan pendiri klub buku terkait kesejahteraan dan peningkatan diri (self-improvement) yang berbasis bukti (evidence-based), penulis dapat membedakan buku self help yang didasarkan pada penelitian dengan buku yang hanya berisi opini pribadi atau tren kesehatan tertentu.

    Berikut lima tips untuk memilih buku self-help yang bisa dipercaya dan mengandung bukti jelas.

    1. Perhatikan latar belakang penulis
    Periksa terlebih dahulu latar belakang seorang penulis sebelum menyimpulkan bahwa buku yang mereka tulis adalah buku berbasis bukti. Ingatlah bahwa menulis sebuah buku tidak membuktikan bahwa penulis tersebut merupakan seorang ahli.

    Beberapa buku self-help didasari oleh pengalaman pribadi, bukan penelitian ilmiah. Pengalaman personal bisa membantu, tetapi strategi dari pengalaman tersebut belum diuji secara ilmiah sehingga belum tentu efektif.

    Carilah penulis dengan latar belakang akademis yang jelas seperti PhD atau doktor kedokteran dari universitas yang dikenal. Hindari karya dari penulis yang menyebut dirinya ahli hanya berdasarkan pengalaman pribadi.

    Mempertimbangkan latar belakang penulis penting. Banyak penulis profesional yang sekadar merangkum penelitian-penelitian yang sudah ada. Mereka tidak melakukan penelitian apa pun terkait topik yang ditulis.

    Maka dari itu, terkadang penulis terlalu menyederhanakan (oversimplifikasi) atau salah menginterpretasikan temuan penelitian.

    Tak sulit untuk melakukan pencarian singkat di internet untuk menilai apakah penulis yang bukunya ingin kita baca memang memiliki keahlian yang dapat mendukung tulisan mereka secara ilmiah.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”

    2. Jangan nilai buku dari popularitasnya
    Hanya karena laku keras atau dipromosikan selebritas, belum tentu sebuah buku didasari oleh penelitian ilmiah atau berbasis bukti.

    Buku self-help tidak seperti penelitian akademis yang melalui proses telaah sejawat (peer review) sebelum diterbitkan. Kadang-kadang, aspek keakuratan informasi buku self-help masih kurang dicermati.

    Kesuksesan sebuah buku bisa saja murni berkat strategi pemasaran, daya tarik emosional, atau ide yang sedang jadi tren. Bukan karena adanya pembahasan bukti ilmiah yang jelas.

    3. Perhatikan posisi penempatan buku
    Toko buku dan perpustakaan mengategorikan buku self-help di berbagai bagian misalnya bagian kesehatan, kebugaran, kesejahteraan mental, hingga spiritual. Tak menutup kemungkinan bahwa buku-buku di bagian tersebut merupakan buku yang berbasis bukti.

    Namun, ada baiknya melirik ke bagian ilmu pengetahuan dan alam pula. Menjelajahi bagian lain dapat memperbesar peluang kita menemukan buku yang berbasis bukti ilmiah yang kredibel.

    4. Terbuka dengan topik lain
    Pengembangan diri tak terbatas pada satu aspek kehidupan. Kesejahteraan mental juga terbentuk dari berbagai hal, bahkan beberapa ahli menyebut ada sembilan atau lebih dimensi yang membentuk well-being.

    Dimensi fisik, emosional, sosial, intelektual, spiritual, finansial, lingkungan, pekerjaan, dan budaya—semuanya dapat memengaruhi well-being. Namun, tak menutup kemungkinan ada dimensi lain juga yang berpengaruh.

    Ketika mencari buku self help, pertimbangkan untuk mengeksplorasi dimensi well-being yang belum benar-benar kita pahami untuk memperluas wawasan.

    Dengan cara ini, kita bisa mendapatkan perasaan bahwa kita telah mengembangkan diri lebih jauh. Kita juga bisa mempertimbangkan topik yang ingin kita pelajari lebih dalam dari perspektif ilmiah.

    Baca: Intervensi untuk meningkatkan minat baca di Indonesia

    5. Berpikir kritis saat membaca
    Buku berbasis bukti pun bisa memaparkan temuan yang mengejutkan atau bertentangan dengan apa yang kita ketahui. Ketika kita menemukan sesuatu yang tampaknya tak sesuai dengan pemahaman kita, carilah sumber tambahan untuk memeriksa kebenarannya.

    Buku self help yang kredibel akan memasukkan daftar pustaka yang berisi penelitian yang dibahas dalam buku. Ini memungkinkan kita memverifikasi klaim yang dibuat penulis dan memungkinkan kita membuat kesimpulan sendiri.

    Daftar pustaka juga bisa jadi informasi tambahan untuk memperkaya pemahaman kita tentang topik tersebut.

    Jalan menjadi lebih sehat dan sejahtera mental
    Membaca bermanfaat untuk kesehatan mental, termasuk membantu fungsi kognitif, mengurangi stres, meningkatkan durasi dan kualitas tidur, memperbaiki suasana hati (mood), dan menurunkan tekanan darah.

    Meski biasanya membaca dianggap sebagai kegiatan me-time, kegiatan ini juga bisa jadi cara membangun hubungan dengan orang lain. Menjadi bagian dari komunitas tertentu bisa mengurangi isolasi sosial, menurunkan rasa kesepian, dan meningkatkan koneksi dengan orang lain.

    Klub buku bisa menjadi ruang kita untuk mendapat manfaat dari kegiatan membaca dan berkomunitas. Saya mendirikan Reading for Well-Being Community Book Club di Carleton University.

    Penulis memilih buku berbasis bukti dari berbagai aspek well-being dan pengembangan diri untuk bagian Professor Pozzulo’s Picks. Penulis juga mewawancarai penulis buku yang saya pilih dalam podcast Reading for Well-Being.

    Setiap bulannya, anggota klub akan menerima buletin berisi buku pilihan dan tautan menuju platform digital tempat mengunggah ulasan buku.

    Ini termasuk papan diskusi yang memungkinkan anggota klub membagikan pendapat tentang buku tertentu. Tak ada biaya keanggotaan dan semua orang bisa bergabung.

    Entah membaca sendirian atau bersama kelompok, manfaat dari buku jauh lebih tebal dari halaman-halamannya yang terjilid. Jadi, ambil bukumu dan mulai perjalanan untuk menuju hidup yang lebih sehat dan terhubung.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Joanna Pozzulo (Chancellor’s Professor, Psychology, Carleton University). Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.

  • Warga Jakarta yang Punya Masalah Kesehatan Mental Bisa Akses JakCare

    Warga Jakarta yang Punya Masalah Kesehatan Mental Bisa Akses JakCare

    7cloud.asia – Dinas Kesehatan DKI Jakarta resmi meluncurkan JakCare, inovasi layanan kesehatan mental berbasis digital yang memberikan akses konsultasi psikologis melalui saluran telepon kepada masyarakat secara gratis, aman, dan 24 jam.

    Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan, program JakCare ini merupakan upaya untuk memperluas layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau.

    Ia menyampaikan, peluncuran JakCare ini juga merupakan bagian dari respons jangka panjang terhadap kesehatan mental warga Jakarta sebagai kota global, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendampingan psikologis.

    “JakCare hadir sebagai teman bicara yang dapat diakses kapan dan di mana saja. Masyarakat bisa langsung berkonsultasi dengan psikolog klinis dari perangkat digital mereka, tanpa perlu datang ke fasilitas kesehatan dan tanpa biaya,” ujar Ani, Kamis (22/5/2025).

    Baca: Memilih buku Self Help yang bagus untuk kesehatan mental

    Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat, hingga saat ini sudah 32 dari 44 puskesmas di Jakarta memiliki tenaga psikolog dan tersedia layanan kesehatan jiwa di 31 rumah sakit umum daerah (RSUD).

    “Dalam pelaksanaannya, JakCare menggandeng berbagai pihak, termasuk organisasi profesi dan fasilitas pelayanan kesehatan, untuk memastikan pelayanan yang diberikan berkualitas dan sesuai standar etik profesi psikologi,” katanya.

    Ia menjelaskan, JakCare memberikan telekonsultasi kesehatan mental gratis yang terhubung langsung dengan psikolog klinis. Pengguna bisa mengakses layanan ini melalui hotline 0-800-1500-119 atau melalui aplikasi JAKI.

    Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) dan Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) bersama Yayasan BUMN mengungkapkan bahwa 34 persen pelajar SMA di Jakarta bermasalah dengan kesehatan mental.

    Baca: Bantu atasi masalah kesehatan mental, Ganjar Pranowo luncurkan “Teman Cerita”

    Penelitian ini melibatkan 741 pelajar dan 97 guru, menemukan bahwa 3 dari 10 pelajar menunjukkan perilaku marah yang cenderung membuat mereka berkelahi karena gangguan kesehatan mental dan emosional.

    Ani menambahkan, selain telekonsultasi, masyarakat yang membutuhkan perawatan lanjutan akan diarahkan ke fasilitas layanan kesehatan jiwa yang telah tersedia di puskesmas ataupun RSUD Jakarta.

    “Kami ingin masyarakat tahu bahwa mereka tidak sendiri. Ada ruang aman dan profesional yang siap membantu lewat JakCare,” tandasnya.

    Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat mengunduh aplikasi JAKI (Jakarta Kini) di ponsel pintar, atau langsung menghubungi layanan hotline JakCare bebas pulsa di 0-800-1500-119.

    Baca: Usia 16-24 tahun menjadi masa kritis untuk kesehatan mental

  • Berlebihan Terpapar Konten Negatif Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental Anak

    Berlebihan Terpapar Konten Negatif Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental Anak

    7cloud.asia – Dear orang tua, mulai sekarang batasi akses anak terhadap gadget. Pasalnya, paparan konten negatif di media digital yang berlebihan dapat mengancam kesehatan mental dan perilaku anak.

    Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Phoebe Ramadina, M.Psi., Psikolog mengemukakan, ketika anak terlalu sering melihat konten negatif yang muncul seperti kekerasan mereka bisa menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa atau wajar.

    “Konten negatif yang sering muncul di media digital dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan perilaku anak maupun remaja,” kata Phoebe, dilansir Antaranews.com pada Kamis (5/6).

    Tak hanya itu, anak-anak yang terlalu sering melihat standar penampilan, kesuksesan, gaya hidup yang tidak realistis di media sosial bisa berdampak negatif pada kesehatan mentalnya

    Baca: Anak membakar rumah karena terpengaruh konten digital

    Anak bisa merasa rendah diri, tidak percaya diri, bahkan mengalami gangguan citra tubuh atau depresi.

    “Anak-anak yang belum matang secara emosional juga bisa kesulitan mengelola emosi mereka, menjadi lebih cemas, impulsif, atau agresif akibat konten yang memprovokasi,” ujar dia.

    Phoebe mengatakan tidak jarang pula bahwa anak kerap meniru apa yang mereka lihat di dunia maya, apalagi jika tidak ada bimbingan dari orang dewasa.

    Hal tersebut bisa mendorong munculnya perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, bullying, atau kenakalan remaja.

    Psikolog yang berpraktik di lembaga konsultasi psikologi Personal Growth itu mendorong pentingnya peran aktif orang tua dan lingkungan sekitar untuk mendampingi dan mengedukasi anak dalam memilih dan menyikapi konten digital yang mereka konsumsi.

    Baca: Dominan otak kiri dan kanan pada anak

    Dalam menghadapi dampak negatif media digital juga butuh kerja sama antara keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.

    Phoebe menyarankan saat di rumah orang tua bisa mulai dengan membangun komunikasi yang terbuka dan menjadi pendamping saat anak mengakses media digital.

    “Ini bukan soal melarang, tapi membantu anak belajar memilah mana konten yang sehat dan bermanfaat,” katanya.

    Kemudian saat di sekolah, guru bisa menanamkan pendidikan karakter dan keterampilan sosial-emosional, menyediakan layanan konseling, serta melibatkan siswa dalam kegiatan digital yang positif.

    Peran negara, kata Phoebe, juga sangat penting, mulai dari memperkuat regulasi terhadap konten berbahaya, menyelenggarakan kampanye edukasi yang luas, hingga mendukung riset dan layanan psikososial di tingkat komunitas.

    “Kolaborasi lintas sektor ini penting untuk menciptakan lingkungan digital yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh,” jelasnya.

    Baca: Penanganan anak berhadapan dengan hukum

     

  • Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia Naik dalam 30 Tahun Terakhir

    Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia Naik dalam 30 Tahun Terakhir

    7cloud.asia – Jauh sebelum pandemi Covid-19, angka kasus gangguan kesehatan mental telah menunjukkan tren peningkatan di level global maupun Indonesia.

    Pandemi telah membuat masalah kesehatan jiwa makin meningkat. Ini semestinya menjadi pengingat bagi mayoritas negara untuk memperkuat sistem kesehatan mental.

    Gangguan kesehatan mental merupakan masalah yang kompleks dan bisa bermacam-macam bentuknya, seperti dijelaskan dalam klasifikasi penyakit internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Dalam definisi itu, gangguan kesehatan mental mencakup banyak bentuk, termasuk depresi, kecemasan, bipolar, gangguan makan, dan skizofrenia.

    Bunuh diri, seperti kasus mahasiswa di Yogyakarta baru-baru ini, merupakan masalah besar gangguan kesehatan mental yang perlu menjadi perhatian dan dicegah oleh banyak pihak. Secara global, bunuh diri adalah penyebab kematian keempat di antara orang berusia 15-29 tahun. .

    Riset terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington terkait Global Burden of Disease (GBD) 2019 menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental tetap bertahan dalam 10 penyebab teratas beban penyakit di seluruh dunia. Tak ada bukti pengurangan secara global pada beban ini sejak 1990.

    Dalam konteks Indonesia, riset ini menunjukkan tren peningkatan jumlah gangguan kesehatan mental dalam 30 tahun terakhir.

    Selain naiknya jumlah kasus gangguan jiwa baik pada laki-laki maupun perempuan, temuan lainnya adalah gangguan kesehatan jiwa pada perempuan lebih tinggi dibanding pada laki-laki. Apa penyebabnya?

    Baca: Kiat memilih buku self lelp yang berdampak pada kesehatan mental

    Menurut Ilham Akhsanu Ridho, dosen dan peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, perempuan di Indonesia rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena mengalami beban ganda dalam keluarga dan tempat kerja.

    Selain dituntut oleh sistem sosial untuk mengurus pekerjaan di ranah domestik, perempuan juga dituntut bekerja untuk meningkatkan pendapatan keluarga, apalagi di kalangan kelompok miskin.

    Di sektor domestik, kerentanan sosial muncul saat perempuan mengurus rumah tangga, anak, perceraian (jika terjadi), konflik dengan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga. “Akar-akarnya bisa dilacak pada budaya patriarki,” kata dia.

    Secara umum, analisis lain juga menyatakan semakin tinggi beban pekerjaan rumah tangga, semakin tinggi juga kemungkinan perempuan mengalami stres.

    Temuan lainnya adalah makin tua seseorang, makin rentan pula mengalami gangguan kesehatan mental.

    WHO menyatakan gangguan mental dan neurologis di antara orang dewasa yang lebih tua menyumbang 6,6 persen dari total kecacatan (DALYs) untuk kelompok usia ini. Sekitar 15 persen orang dewasa berusia 60 tahun ke atas menderita gangguan mental.

    Lalu, berapa tahun masa hidup sehat yang hilang akibat gangguan kesehatan mental?

    Studi Global Burden of Disease (GBD) 2019, dengan perhitungan tingkat DALY (Disability-Adjusted Life Year) dari gangguan depresi menunjukkan makin tua kelompok usia, makin besar tahun hidup sehat yang hilang.

    Baca: Pentingnya kesehatan mental untuk kesehatan fisik

    Kelompok usia produktif, 15-64 tahun, merupakan kelompok yang paling banyak kehilangan tahun hidup sehat akibat gangguan depresi.

    Misalnya, orang Indonesia kelompok umur usia 50-69 tahun kehilangan hidup sehat lebih banyak (sekitar 580 tahun per 100.000 orang) dibanding kelompok usia usia 5-14 tahun (sekitar 60 tahun per 100.000 orang) akibat gangguan depresi (lihat grafik di bawah).

    Disability-adjusted Life Years (DALY) yang merupakan ukuran status kesehatan itu dinyatakan dalam metrik jumlah tahun yang hilang karena meninggal, sakit dan disabilitas.

    DALY dihitung dari gabungan jumlah waktu (dinyatakan dalam tahun) yang hilang akibat meninggal dini (Years of Life Lost, YLL) dan jumlah waktu ketika orang terpaksa hidup dengan disabilitas (Years Lived with Disability, YLD).

    Menurut Iqbal Elzayar, peneliti The Oxford University Clinical Research Unit in Indonesia (OUCRU ID), berdasarkan studi GBD 2019, faktor risiko yang berkontribusi terhadap gangguan mental depresi adalah pelecehan seksual masa kanak-kanak, perundungan, dan kekerasan dari pasangan.

    “Pada kelompok 15-49 tahun, pelecehan seksual masa kanak-kanak dan bullying menjadi kontributor risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan risiko lainnya. Sedangkan pada kelompok 70+, kekerasan dari pasangan lebih mendominasi,” kata kolaborator GBD 2019 dari Indonesia itu.

    Selain masalah sakitnya secara langsung, salah satu isu yang timbul dari gangguan kesehatan jiwa adalah dampaknya terhadap produktivitas masyarakat.

    Baca: Gangguan kesehatan mental bukan kelemahan

    Menurut Rizqy Amelia Zein, dosen Psikologi Kepribadian dan Sosial Universitas Airlangga, jika ada satu anggota keluarga memiliki masalah gangguan kesehatan mental yang berat, maka beban perawatan di keluarga tersebut meningkat.

    “Sebab, anggota keluarga yang lain harus membantu dan menangani yang sakit. Jadi bukan hanya produktivitas yang sakit yang terganggu, yang tidak sakit juga terganggu produktivitasnya karena harus merawat yang sakit,” kata Amelia.

    Karena itu, kata dia, isu-isu kesehatan mental menjadi perhatian serius di negara-negara maju, ketimbang di negara-negara berkembang. Sebab, kesehatan mental bisa berdampak atau mempengaruhi produktivitas masyarakat.

    Promosikan pentingnya kesehatan mental
    Untuk mencegah gangguan kesehatan mental, menurut WHO, ada beberapa langkah yang harus dilakukan negara.

    Pertama, mempromosikan kesehatan mental untuk semua orang dan melindungi orang-orang berisiko seperti anak-anak, remaja, dan pekerja. Program pencegahan bunuh diri juga patut digalakkan.

    Kedua, negara harus menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat. Dalam konteks ini, peningkatan anggaran untuk kesehatan mental menjadi keharusan.

    Tanpa adanya anggaran yang memadai, promosi, pencegahan, dan pengobatan atas masalah kesehatan mental sulit dilakukan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ahmad Nurhasim, Health+Science Editor, The Conversation

  • Sepertiga Anak Muda Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental, Tapi Sedikit yang ke Psikolog

    Sepertiga Anak Muda Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental, Tapi Sedikit yang ke Psikolog

    7cloud.asia – Merasakan sedih terus-menerus hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang disukai merupakan beberapa tanda gangguan kesehatan mental. Kondisi ini rentan dialami kaum muda Milenial maupun Gen Z.

    Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia usia 11-17 tahun (sekitar 15,5 juta orang) mengalami gangguan mental dalam kurun 2021-2022.

    Masalah kesehatan mental paling umum yang dialami kaum muda adalah kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.

    Sayangnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan hanya 10,4 persen kaum muda yang mendapatkan pengobatan formal.

    Angka ini menunjukkan lebarnya kesenjangan antara kebutuhan psikologis kaum muda dengan jumlah mereka yang mengakses layanan kesehatan mental.

    Enggan ke psikolog karena skeptis dan malu
    Kondisi mental kaum muda rentan terganggu akibat berbagai perubahan biologis dan psikososial yang signifikan, misalnya pubertas, kemampuan berpikir abstrak, pembentukan identitas diri, hingga tuntutan orang tua agar mereka hidup mandiri.

    Selain itu, kondisi mental kaum muda kian rentan terganggu akibat paparan media sosial, bullying (perundungan), kekerasan seksual, pola asuh keras, hingga kesulitan ekonomi.

    Meskipun sangat rentan mengalami gangguan mental, banyak kaum muda enggan mengakses layanan psikologis akibat sejumlah hal berikut:

    1. Minim literasi kesehatan mental
    Rasa skeptis terhadap tenaga profesional menghambat kaum muda mencari pengetahuan memadai tentang penanganan gangguan mental.

    Rasa skeptis ini membuat mereka cenderung merasa lebih nyaman untuk menyelesaikan masalah mental sendiri ataupun dengan bantuan orang terdekat (seperti teman dan keluarga).

    Media sosial memperburuk kecenderungan kaum muda dalam mengenali kondisi mentalnya. Studi dalam Qualitative Health Research mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial yang intensif bisa meningkatkan praktik self diagnose (diagnosis sendiri) yang membuat kaum muda kian enggan ke profesional.

    2. Rasa malu akibat stereotip negatif
    Beberapa kaum muda merasa malu untuk mengakses layanan mental. Hal ini disebabkan oleh pemahaman keliru mengenai stereotip negatif terhadap orang dengan gangguan mental, seperti dianggap lemah, berbeda, dan kurang kontrol diri.

    3. Akses layanan kesehatan mental terbatas
    Keterbatasan akses layanan kesehatan mental turut memengaruhi keputusan kaum muda dalam mencari pengobatan.

    Minimnya informasi layanan kesehatan mental, keterbatasan ketersediaan tenaga profesional (terutama di daerah kecil dan pedesaan), lokasi yang jauh dan mahal, serta waktu tunggu terlalu lama, bisa mengurangi keinginan mereka untuk mencari pertolongan.

    4. Respons negatif tenaga kesehatan
    Respons negatif dari tenaga kesehatan bisa menyebabkan kaum muda menunda atau berhenti berobat. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian yang melibatkan 90 kaum muda dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Papua.

    Riset tersebut mengambil responden yang mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar.

    Saat hendak berobat, salah seorang responden yang enggan disebutkan namanya mengaku menemukan banyak tenaga kesehatan (nakes) yang belum memahami kesehatan mental.

    “Saya dianggap orang gila ketika meminta surat rujukan ke fasilitas kesehatan pertama. Pun saat dirawat di rumah sakit, nakes menghujat dan meremehkan gejala depresi yang saya rasakan.”

    Seorang responden lain yang juga peserta BPJS Kesehatan bahkan mengaku kesulitan memperoleh rujukan untuk mendapatkan layanan psikiater di rumah sakit.

    “Setelah dua kali ditolak, dokter umum di puskesmas akhirnya memberikan surat rujukan saat saya menunjukkan bekas luka akibat melukai diri sendiri. Apakah saya harus mati dulu, baru mereka percaya bahwa saya sangat tertekan?”

    Respons negatif nakes berbahaya karena berisiko memperberat gejala gangguan mental pasien, serta meningkatkan kecenderungan menyakiti diri sendiri, hingga percobaan bunuh diri.

    4. Mahalnya biaya terapi non-BPJS
    Pelayanan kesehatan mental tergolong mahal, khususnya jika kaum muda tidak memiliki BPJS Kesehatan.

    Konsultasi psikologis di rumah sakit pemerintah berkisar antara Rp100 ribu-Rp500 ribu tergantung daerahnya. Adapun konsultasi kesehatan mental di klinik ataupun rumah sakit swasta berkisar Rp300 ribu-Rp1 juta.

    Keanggotaan BPJS Kesehatan sangat penting untuk menjamin berbagai macam terapi kesehatan mental kaum muda secara gratis.

    Pentingnya jaga kesehatan mental
    Kita tak boleh mengabaikan gangguan mental yang rentan dialami Milenial dan Gen Z. Sebab, kondisi ini bisa berdampak negatif, dari mengganggu keseharian, merenggangkan hubungan sosial, hingga meningkatkan risiko penyalahgunaan zat terlarang maupun seks tidak aman.

    Bahkan, kajian ilmiah dalam Clinical Practice & Epidemiology in Mental Health menunjukkan bahwa gangguan mental bisa mengurangi capaian akademis dan karier kaum muda di masa depan.

    Untuk itu, kaum muda perlu meningkatkan literasi kesehatan mental. Pun keluarga dan sekolah harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan suportif, termasuk mendeteksi dini (bukan mendiagnosis penyakit) masalah mental kaum muda.

    Literasi kesehatan mental bisa kita peroleh lewat berbagai upaya pembelajaran dan pelatihan dari jurnal kesehatan dan sumber valid yang terferifikasi oleh profesional.

    Penelitian membuktikan, peningkatan literasi kesehatan mental bisa mengubah perilaku kaum muda dalam mencari pertolongan psikologis.

    Lewat literasi kesehatan mental yang baik, kaum muda dan lingkungan terdekatnya bisa saling berperan aktif dalam mengenali, memberikan pengetahuan, menghindari stigma, serta mendeteksi dini tanda-tandanya.

    Deteksi gratis secara digital juga bisa dilakukan menggunakan fitur “Kesehatan Mental” di aplikasi SatuSehat Mobile milik Kemenkes. Jika kamu mengalami gejala yang mengarah ke gangguan mental, segera cari bantuan ke psikolog, psikiater, atau konselor.

    Semakin cepat gejalamu mendapat penanganan, semakin kecil dampak lanjutannya, dan kian besar pula peluangmu untuk pulih.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis:
    Hasna Fikriya (Peneliti di Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK UGM) dan,

    Firdaus Hafidz (Lecturer in Health Policy and Management UGM)

    Fiddina Mediola, dokter spesialis psikiatri, turut berkontribusi menulis artikel ini. spesialis psikiatri, turut berkontribusi menulis artikel ini.

  • Hati-hati! Ketergantungan Emosional kepada AI BIsa Memicu Gangguan Kesehatan Mental

    Hati-hati! Ketergantungan Emosional kepada AI BIsa Memicu Gangguan Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Seiring berkembangnya era digital, sejumlah riset menunjukkan munculnya fenomena baru: chatbot AI mulai digunakan sebagai teman curhat, terutama di kalangan kaum muda.

    Dua penelitian tentang teknologi dan perilaku manusia menemukan bahwa sebagian orang mulai menjalin hubungan sosial, bahkan emosional, dengan AI. Ikatan yang terbentuk dengan AI bukan hanya interaksi teknis biasa, melainkan berkembang menjadi ikatan psikologis.

    Meskipun bisa memberi rasa nyaman, keterikatan emosional dengan AI menyimpan sejumlah risiko serius. Apa saja risikonya, akan kami ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Berikut sejumlah risiko yang membayangi akibat ketergantungan emosional kepada AI:

    1. Terputus dari relasi sosial nyata
    Ketergantungan emosional pada AI berpotensi menarik seseorang dari relasi sosial nyata antarmanusia.

    Hal ini berisiko melemahkan kemampuan dan motivasi untuk bersosialisasi, yang sebenarnya penting untuk kesehatan mental dan keseimbangan hidup.

    Hubungan yang terlalu dalam dengan AI bisa menciptakan ekspektasi tidak realistis dalam menjalin relasi dengan manusia lain, bahkan bisa memperdalam rasa kesepian.

    Baca: Kiat memilih buku self help yang berdampak pada kesehatan mental

    2. AI bisa manipulatif juga
    Belakangan muncul perdebatan bahwa AI bisa didesain untuk memengaruhi perilaku pengguna. Hubungan emosional yang terbangun bisa dimanfaatkan untuk mendorong konsumsi, loyalitas, atau perilaku lain yang menguntungkan pihak tertentu.

    Penelitian 2024 menunjukkan bagaimana penggunaan AI dalam pemasaran di media sosial mampu memperkuat keterikatan emosional antara pengguna dan merek.

    Ketika pengguna secara intens berkomunikasi dengan akun brand tertentu, AI merekam pola dan preferensi mereka. AI kemudian menyajikan rekomendasi produk yang disesuaikan, seolah-olah memahami kebutuhan pengguna secara personal.

    Ketika pengguna mulai merasa “nyaman” dan “dimengerti,” keterikatan ini berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan loyalitas dan mendorong keputusan untuk membeli produk, tanpa disadari sepenuhnya oleh pengguna.

    3. Kesehatan mental
    Meskipun tidak secara langsung menimbulkan gangguan kesehatan mental, penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap AI berpotensi menimbulkan gejala kecemasan, memperkuat isolasi sosial, hingga mengurangi resiliensi emosional.

    Baca: Sepertiga anak muda rentan alami masalah kesehatan mental

    Bahkan, dalam jangka panjang mampu melemahkan kemampuan manusia untuk mengelola emosi tanpa bantuan teknologi. Relasi dengan AI yang tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu keseimbangan psikologis.

    Pada akhirnya, AI yang mungkin awalnya diciptakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, justru bisa menciptakan kerentanan baru.

    Perlu penyeimbang
    Menghindari dampak negatif dari ketergantungan emosional pada AI bukan berarti harus melarang penggunaannya. Hal yang dibutuhkan adalah pendekatan yang bisa menyeimbangkan antara pemanfaatan teknologi dan perlindungan bagi penggunanya.

    Salah satu pendekatannya adalah prinsip ethics of care, yang menekankan pentingnya hubungan antar individu, empati, tanggung jawab, dan perhatian pada kesejahteraan pengguna dalam jangka panjang.

    Namun, implementasi dari ethics of care tidak akan optimal tanpa dukungan sistemik yang berkelanjutan.

    Diperlukan kebijakan publik dan regulasi teknis yang mengikat untuk menetapkan standar desain AI yang bertanggung jawab, terutama untuk melindungi kelompok masyarakat rentan (anak-anak, remaja, lansia, orang dengan disabilitas) dari desain AI yang manipulatif.

    AI berpotensi meningkatkan keterasingan sosial dan memperluas jarak emosional antar manusia. Namun, jika dirancang dengan etika relasional, AI akan mampu menjadi sarana untuk memperkuat empati, koneksi, dan solidaritas.

    Sebagai pengguna, kita perlu memahami bagaimana AI bekerja dan bagaimana ia memengaruhi emosi kita.

    Literasi emosional digital menjadi penting agar kita tidak hanya tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga menyadari dampaknya terhadap kehidupan kita.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dyana Chusnulitta Jatnika (Dosen Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran)

  • Cara Minimalisme Meningkatkan Kesehatan Mental

    Cara Minimalisme Meningkatkan Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Kesehatan mental adalah topik hangat akhir-akhir ini—dan memang seharusnya begitu. Diagnosis kesehatan mental di AS meningkat hampir 40 persen antara tahun 2019 dan 2023.

    Kesehatan mental memengaruhi cara kita berpikir, cara kita merasa, cara kita berhubungan dengan orang lain, dan cara kita menjalani hidup.

    Dan, bagi banyak dari kita, hidup bisa terasa seperti kita hanya berusaha untuk tetap bertahan—mengelola stres, kewalahan, putus asa, atau kelelahan.

    Para peneliti dan psikolog semakin menunjukkan korelasi antara kekacauan dan kecemasan, antara terlalu banyak pilihan dan kelelahan dalam mengambil keputusan, antara terlalu banyak barang dan stres.

    Ada penelitian yang menunjukkan bahwa kekacauan meningkatkan tingkat stres dan membatasi kemampuan kita untuk fokus. Kekacauan memengaruhi tidur kita.

    Kekacauan menurunkan suasana hati kita dan meningkatkan kortisol. Kekacauan bahkan dapat menyebabkan pola makan yang tidak sehat, kebiasaan buruk, dan lebih banyak konflik di rumah.

    Datanya jelas: Terlalu banyak barang fisik di rumah dan kehidupan kita berdampak negatif pada kesejahteraan mental dan emosional kita.

    Namun, yang sering kali luput dari pembahasan adalah alasannya. Mengapa memiliki lebih sedikit barang membuat pikiran lebih jernih? Bagaimana tepatnya minimalisme meningkatkan kesehatan mental kita?

    Praktisi minimalisme, Joshua Becker menjelaskan alasan minimalisme akan meningkatkan kesehatan mental.

    Dan inilah alasannya:

    1. Minimalisme membantu kita memegang kendali
    Minimalisme memungkinkan kita untuk mengambil kembali kendali. Dan yang penulis maksud bukan hanya bahwa kita mengendalikan lingkungan fisik kita dengan menyingkirkan kekacauan. Minimalisme memaksa kita untuk menjalani kehidupan yang lebih terarah.

    Ini membantu kita menjalani hidup yang tidak sekadar terombang-ambing bersama massa, masyarakat, atau dipengaruhi oleh suara-suara lain. Minimalisme mengharuskan kita mengendalikan sumber daya, hasrat, sikap, pandangan dunia, dan pilihan kita.

    Ketika kita mulai menjalani hidup dengan sengaja berfokus pada apa yang penting bagi kita, kita menemukan lebih banyak kebanggaan dan kegembiraan di dalamnya.

    2. Minimalisme membantu kita fokus
    Ketika kita berhenti mengejar harta benda fisik, kita mulai mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Dimulai dengan: Apa yang benar-benar saya hargai? Apa yang saya inginkan dalam hari-hari saya? Apa yang penting bagi saya?

    Minimalisme memaksakan pertanyaan tentang nilai-nilai kepada kita. Dan pertanyaan-pertanyaan itu membantu kita menjadi lebih jelas tentang apa yang penting dan apa yang tidak, bagaimana kita ingin menjalani hidup dan bagaimana kita tidak.

    Tetapi lebih dari itu, minimalis menghilangkan gangguan sehingga kita dapat mulai benar-benar mengejar nilai-nilai tersebut—tujuan, kontribusi, makna.

    Dan ketika hidup kita selaras dengan nilai-nilai kita, ketika kita mulai hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, pandangan kita tentang diri kita sendiri juga mulai berubah. Kita mulai menyadari bahwa kita mampu dan aktif menjalani kehidupan yang berarti.

    3. Minimalisme menciptakan ruang
    Minimalisme membersihkan kekacauan dan menciptakan ruang. Di rumah dan di pikiran kita. Dan keduanya penting.

    Setiap barang fisik memiliki bobot dan menempati ruang—baik fisik maupun mental. Kita dapat melihat fisiknya—setiap benda di rak atau kotak di garasi membuat ruang hidup kita lebih sempit.

    Ruang mental yang dibutuhkan barang-barang kita lebih sulit dilihat dan diukur, yang membuatnya semakin berbahaya. Kebanyakan dari kita tidak menyadari betapa besarnya beban mental barang-barang kita sampai kita mulai menyingkirkannya.

    Setiap tumpukan, setiap kekacauan, setiap tugas yang belum selesai adalah pengingat halus tentang apa yang masih perlu ditangani dan berfungsi sebagai pengingat visual tentang uang dan waktu yang terbuang.

    Tetapi ketika kita membersihkan kekacauan, sesuatu berubah. Rumah terasa lebih ringan, begitu pula kita.

    4. Minimalisme mengarah pada gigantisme.
    Salah satu perubahan paling mengubah hidup yang terjadi ketika kita mulai mengurangi kepemilikan adalah ini: kita menemukan ruang untuk memberi lebih banyak.

    Kita berhenti memikirkan kekurangan kita dan mulai memperhatikan apa yang kita miliki. Dan ketika kita melihat kelebihan kita dengan lebih jelas, kita secara alami ingin membagikannya—dengan orang-orang yang kita cintai, dengan mereka yang membutuhkan, dengan tujuan-tujuan yang penting.

    Dan inilah keindahan giganisme: ia tidak hanya baik untuk orang lain, tetapi juga baik untuk kita.

    Studi secara konsisten menunjukkan bahwa orang yang murah hati mengalami tingkat stres yang lebih rendah, hubungan yang lebih kuat, dan kepuasan hidup yang lebih tinggi secara keseluruhan.

    Minimalisme membuka pintu menuju kehidupan seperti itu—yang merupakan alasan lain mengapa hal itu membantu meningkatkan kesehatan mental kita.

    5. Minimalisme membantu kita berfokus pada orang lain.
    Ketika kita terus-menerus mengelola barang, sulit untuk memberi ruang bagi koneksi.

    Waktu kita dihabiskan untuk membersihkan, mengatur, berbelanja, dan merawat. Beberapa studi memperkirakan kita menghabiskan dua jam setiap hari untuk mengelola barang-barang kita.

    Jadi, ketika kita menyingkirkan barang-barang yang berlebihan itu, kita memberi ruang bagi orang lain. Dan hubungan adalah salah satu pelindung kesehatan mental terbesar.

    Kita diciptakan untuk komunitas. Minimalisme membantu kita menemukannya.

    6. Minimalisme mengurangi kelelahan.
    Kita tidak selalu menyadari berapa banyak energi yang dibutuhkan barang-barang kita—sampai barang-barang itu habis.

    Setiap barang di rumah kita membutuhkan perhatian. Barang-barang itu harus dibersihkan, dirawat, ditata, diperbaiki, disimpan, dipindahkan, dan akhirnya disingkirkan. Dan ketika kita dikelilingi oleh terlalu banyak hal, kita mulai merasakannya—dalam pikiran dan tubuh kita.

    Namun, minimalis tidak hanya mengurangi kelelahan fisik, tetapi juga mengurangi kelelahan dalam mengambil keputusan.

    Rumah sederhana menghasilkan hari yang lebih sederhana dengan lebih sedikit keputusan yang tidak penting—yang berarti kita mampu membuat keputusan yang lebih baik tentang hal-hal yang penting—dan keputusan yang lebih baik menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

    7. Minimalisme meredakan perbandingan.
    Salah satu kebiasaan yang paling merusak kesehatan mental kita adalah perbandingan yang terus-menerus. Media sosial, iklan, bahkan jalan masuk rumah tetangga kita dapat secara halus berbisik, “Kamu tidak memenuhi standar.”

    Namun, minimalis mengundang pesan yang berbeda: Kamu sudah memiliki cukup.

    Ketika kita berhenti mengejar apa yang dimiliki orang lain, kita mulai melihat keindahan hidup kita sendiri dengan lebih jelas. Rasa syukur menggantikan rasa iri. Kedamaian menggantikan kecemasan. Ketenangan menggantikan kekacauan.