Tag: kesehatan mental

  • Kesehatan Mental Makin Penting, Perlu Sosialisasi Sejak Dini

    Kesehatan Mental Makin Penting, Perlu Sosialisasi Sejak Dini

    Materi yang dibahas terkait kesehatan mental itu berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari seperti isu depresi, kesulitan tidur, kekerasan terhadap anak dan lain sebagainya.
     
    Baca: Jalan kaki itu bagus untuk kesehatan fisik dan mental

    Sosialisasi soal pentingnya kesehatan mental juga dapat dilakukan dimulai dari tingkat sekolah dengan memasukkan pembahasan soal bahaya perundungan atau dapat dilakukan di acara-acara perangkat desa.

    Bahasa yang digunakan juga dapat tidak menggunakan istilah medis jika sosialisasi dilakukan menyasar masyarakat awam.

    “Jadi materi-materi yang sangat menyentuh dari bawah, tidak usah pakai bahasa-bahasa medis,” tuturnya.

     
    Seperti diketahui bahwa usia remaja yang sedang dalam masa transisi rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Untuk itu sosialisasi tentang kesehatan mental perlu dilakukan di usia tersebut.
     
    Baca: Pengaruh lingkungan bagi penderita asma
    Sosialisasi juga dapat dilakukan menggunakan media sosial untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat umum akan isu kesehatan mental, mengingat masih ada stigma terhadap penderitanya.

    “Untuk mereka yang tidak bisa mengakses kenapa tidak dimulai dari RT/RW dulu, misalnya bahwa bullying itu tidak boleh atau tidak boleh memukul anak,” jelasnya.

    Langkah selanjutnya, katanya, memastikan akses kesehatan mental yang bisa dijangkau masyarakat umum seperti yang berada di puskesmas.

     
    Saat ini sudah tersedia layanan kesehatan mental di tingkat puskesmas yang dicover BPJS Kesehatan, namun masih banyak anggota masyarakat yang belum mengetahuinya. 

     

     

  • Riset: Usia 16-24 Tahun Adalah Masa Kritis untuk Kesehatan Mental

    Riset: Usia 16-24 Tahun Adalah Masa Kritis untuk Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Masa transisi dari remaja menuju ke dewasa – yaitu antara usia 16-24 tahun – merupakan masa kritis bagi kesehatan mental seseorang.

    Masa transisi ini sangat menentukan kesehatan mental seseorang, karena di masa ini seseorang dihadapkan pada banyak tantangan dan pengalaman baru. 

    Selain mulai memiliki legalitas hukum dan tanggung jawab yang meningkat, remaja di periode ini juga masih mengalami perkembangan biologis, psikologis, dan emosional yang sangat besar pengaruhnya bagi kesehatan mental mereka.

    Masa kritis untuk kesehatan mental ini akan berlangsung hingga usia 20an. Dan, jika tidak tertangani dengan baik maka akan sangat menentukan kesehatan mental seseorang. 

     

    Sebuah riset yang dilakukan peneliti dari Universitas Indonesia (UI) pada 2021 terhadap 393 remaja berusia 16-24 tahun memperkuat asumsi tentang masa kritis bagi kesehatan mental di atas. Laporannya diunggah di The Conversation.

     
    Hasil riset ini  didukung temuan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization (WHO)) yang mengatakan 1 dari 4 remaja di usia ini menderita gangguan kesehatan mental.
     
     

    Penyebab gangguan kesehatan mental ini beragam. Mulai dari aktifnya hormon reproduksi, perkembangan otak yang terus berlangsung, serta pembentukan identitas diri mereka. Hal ini tentu dapat disertai ketidakstabilan emosi atau pengambilan keputusan yang sering kali impulsif. 

    Penelitian itu menemukan bahwa banyak remaja Indonesia di periode transisi ini mengalami tantangan beradaptasi terhadap kehidupan mereka yang mulai berubah.

    Para remaja juga kesulitan mengatur waktu dan keuangan pribadi, serta mengalami peningkatan rasa kesepian saat belajar dan merantau di kota yang jauh dari tempat tinggal.

    Baca: Pentingnya sosialisasi kesehatan mental sejak dini

    Usia 16-24 tahun adalah periode kritis

    Riset di atas, yang dilakukan oleh tim Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Fakultas Kesehatan di Universitas Indonesia, mencoba untuk memetakan keresahan mental remaja di periode transisi 16-24 tahun dari seluruh Indonesia – terutama mahasiswa tahun pertama – melalui survey online.

    Sebanyak 95,4% responden menyatakan bahwa mereka pernah mengalami gejala kecemasan (anxiety), dan 88% pernah mengalami gejala depresi dalam menghadapi permasalahan selama di usia ini.

     

    Selain itu, dari seluruh responden, sebanyak 96,4% menyatakan kurang memahami cara mengatasi stres akibat masalah yang sering mereka alami.

    Pada periode ini, misalnya, banyak remaja tiba-tiba harus menjelajahi lingkungan yang baru, lingkaran pertemanan yang semakin luas, tuntutan pendidikan atau karier yang semakin berat, hingga budaya yang bisa jadi sangat berbeda – disertai dengan berbagai masalah dan konflik yang kerap muncul dari berbagai perubahan ini.

     

    Penyelesaian masalah yang paling sering mereka lakukan adalah bercerita pada teman (98,7%), menghindari masalah tersebut (94,1%), mencari informasi tentang cara mengatasi masalah dari internet (89,8%).

    Namun, sebagian juga berakhir dengan menyakiti diri mereka sendiri (51,4%), atau bahkan menjadi putus asa serta ingin mengakhiri hidup (57,8%).

    Berbagai masalah yang dalam masa transisi ini berisiko tinggi menjadi lebih buruk di kemudian hari apabila tidak ditangani dengan optimal.

    Baca: Kondisi lingkungan besar pengaruhnya bagi pasien asma

    Tidak banyak yang mencari bantuan

    Meskipun remaja periode transisi amat rentan mengalami masalah kesehatan mental, namun tidak banyak dari kelompok ini yang mengakses layanan kesehatan jiwa.

    Kurangnya layanan kesehatan mental di Indonesia – hanya sekitar 0,29 psikiater dan 0,18 psikolog per 100.000 penduduk – juga membawa tantangan tersendiri.

    Tapi, faktor lain yang juga menjadi penghambat, antara lain adalah layanan yang kurang sesuai dengan kebutuhan remaja di usia mereka.

    Dalam studi tersebut terungkap, para remaja mengatakan bahwa mereka mengharapkan layanan bantuan kesehatan mental yang menjamin kerahasiaan (99,2%), tidak menghakimi (98,5%), berkelanjutan untuk periode waktu tertentu (96%), serta dapat diakses online (84,5%).
     

    Mereka juga merasa berbagai layanan yang ada diisi oleh tenaga profesional yang kurang ramah (99,2%) dan belum terbuka untuk mendengarkan segala permasalahan yang mereka alami (99%).

    Baca: Mengapa ganja masih dilarang untuk pengobatan

    Stigma negatif tentang kesehatan mental yang berkembang di masyarakat, juga semakin menghambat remaja untuk mencari bantuan ke layanan kesehatan jiwa.

     

    Beberapa remaja usia transisi, misalnya, mengatakan takut menceritakan ke orang tua atau orang terdekat bahwa mereka datang ke layanan kesehatan mental karena takut dianggap sebagai orang dengan gangguan jiwa berat atau “kurang iman”.

    Selain itu, jawaban dari para responden kami juga mengindikasikan ada masalah kurangnya pengetahuan remaja usia transisi tentang masalah layanan kesehatan mental dan kemana mencari bantuan.

    Padahal, pemahaman remaja di periode ini tentang kesehatan mental sangat penting agar mereka dapat mengidentifikasi masalah sejak dini, sehingga mendapatkan bantuan yang sesuai.

     

    Meningkatnya ketahanan mental (resilience) seseorang pada periode ini akan berdampak positif tidak hanya terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan mereka, tapi juga keberhasilan mereka secara akademis, di lingkungan kerja, dan masyarakat.

  • 9 K-Drama yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental

    9 K-Drama yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Kesehatan mental kini makin menjadi kesadaran banyak orang. Dan, isu mengenai kesehatan mental ini ternyata telah menginspirasi para penulis skenario di drama Korea atau K-drama. 

    Dari romansa yang lambat hingga narasi irisan kehidupan, K-drama telah berhasil menyajikan kepada penontonnya narasi tentang kesehatan mental.

    Tema kesehatan mental menjadi isu yang konsisten diangkat di K-drama. K-drama telah secara cerdas dan sensitif membangun kesadaran seputar kesehatan mental dan menyoroti  perjuangan penyintas kesehatan mental. 

    Saat para karakter berdamai dan berusaha pulih dari masalah mereka, tontonan yang disajikan juga memberdayakan penonton sekaligus menyadarkan bahwa mereka tidak mengalami gangguan kesehatan mental.

    Jadi bisa dikatakan, isu kesehatan mental di K-drama sangat relate dan menggugah emosi penontonnya.

    Berikut sembilan K-drama yang berbicara tentang kesehatan mental yang akan kami sajikan dalam dua tulisan: 

    1. Our Blues

    “Our Blues” adalah kisah pahit yang mengharukan dari penduduk kota kecil yang tinggal di Pulau Jeju menjalani kehidupan, cinta, dan tetk bengeknya. 

    Salah satu capture dalam antologi “Our Blues” adalah tentang Min Seon Ah (Shin Min Ah), seorang ibu muda yang menderita depresi. K-dram asatu ini secara ringkas menyoroti kelelahan eksistensialnya, ketidakmampuan untuk melakukan tugas sehari-hari, terputus dari masa kini, dan keadaan bingungnya, yang disorot oleh riak dan kabur.

    Dia kehilangan hak asuh atas anaknya mengingat kondisi kesehatan mentalnya.  Tapi saat dia mencari terapi, dia juga dibantu oleh penjual keliling kasar bernama Lee Dong Suk (Lee Byung Hun), yang memiliki hubungan retak dengan ibunya setelah kematian saudara perempuannya.

    Dari hubungan Dong Suk yang retak dengan ibunya hingga perasaan bersalah Young Ok (Han Ji Min) karena meninggalkan adiknya,

    Jika seseorang menyalakan kembali romansa yang telah lama terlupakan, ada juga cinta muda yang sembrono atau hanya orang-orang yang melintasi kekacauan kehidupan sehari-hari.

    Kisah-kisah sederhana ini memberikan pencerahan yang merupakan slogan pedih dari acara tersebut: “Untuk semua yang masih hidup, mari berbahagia.” Pertunjukan yang brilian, pemandangan yang indah, dan kisah-kisah yang mengharukan membuat film ini wajib ditonton. Acara ini juga memiliki salah satu soundtrack terbaik termasuk “With You,” sebuah kolaborasi antara anggota BTS Jimin dan Ha Sung Woon.

     

    2. My Mister

    Lee Ji An (IU) adalah seorang perempuan muda yang dililit utang yang tidak mudah diselesaikan. Ji An hanya mencoba untuk tetap bertahan di riak-riak kehidupannya yang terus bergolak sehingga sangat mempengaruhi kesehatan mentalnya.

    Saat dia sibuk di antara beberapa pekerjaan paruh waktu dan merawat neneknya yang sakit, dia terus-menerus mengalami depresi. Kewalahan dengan kehidupan, dia merasa seolah-olah tidak ada yang memperhatikan dirinya.

    Gelombang kesedihan yang berkepanjangan terus menyelimutinya hingga ia bertemu Park Dong Hoon (Lee Sun Gyun), seorang pekerja kantoran yang empati dan optimis. Dia menjadi temannya, filsuf, dan membimbingnya dan membantunya melihat sisi terang kehidupan dan memberinya dukungan emosional yang dia cari.

    My Mister adalah mahakarya. K-drama ini sederhana, menghibur, dan dibuat dengan cemerlang dan enak dinikmati. Permainan akting IU dan Lee Sun Gyun sangat spektakuler untuk sedikitnya. 

    3. It’s Okay, That Love”  

    Jang Jae Yeol (Jo In Sung) adalah novelis misteri laris dan joki radio yang ternyata memiliki masalah dengan kesehatan mental. Dia moody, terkadang main-main, dan terkadang sedikit sombong. Dia menderita gangguan obsesif kompulsif, yang berasal dari masa lalunya yang traumatis.

    Ji Hae Soo (Gong Hyo Jin) adalah seorang psikiater simpatik yang berkomitmen penuh pada kariernya tetapi sangat pesimis dalam hal cinta dan hubungan. Jae Yeol dan Hae Soo memulai dengan langkah yang salah, dan volatilitas mereka semakin diperparah oleh kepribadian mereka yang kuat.

    Namun, saat mereka semakin dekat dan jatuh cinta, mereka menyadari bahwa masalah kesehatan mental Jae Yeol jauh lebih serius daripada yang mereka perkirakan.

    Ada juga Park Soo Kwang (Lee Kwang Soo) yang memiliki Sindrom Tourette, dan Jo Dong Min (Sung Dong Il) yang tinggal di tempat yang sama dengan Hae Soo. Bersama-sama, individu-individu ini memulai perjalanan penyembuhan dan pemberdayaan. 

    Menonton perjuangan Jang Jae Yeol dengan skizofrenia membangkitkan belas kasih dan pemahaman bagi mereka yang mungkin menghadapi masalah serupa. Dan Ji Hae Soo sebagai psikiater yang membantu menyembuhkannya sangat menarik untuk ditonton. Pertunjukan dan keterbukaan terhadap kesehatan mental yang disajikan dalam drama ini membantu menegaskan bahwa tidak apa-apa untuk menerima apa yang Anda alami dan mencari bantuan.

    4. It’s Okay To Be Not Okay

    Moon Kang Tae (Kim Soo Hyun) adalah pengasuh di rumah sakit jiwa. Dia mengabdikan diri untuk melayani pasiennya, tetapi dunianya berputar di sekitar kesejahteraan kakak laki-lakinya Sang Tae (Oh Jung Se).

    Sang Tae adalah calon artis yang berada di spektrum autisme. Kedua bersaudara itu memiliki masa kecil yang sulit karena Sang Tae terus trauma dengan kematian ibunya dan ingatan yang dapat memicu kehancuran.

    Moon Young (Seo Ye Ji) adalah penulis buku anak-anak laris yang sangat kaku. Terpisah secara emosional dan kadang menjengkelkan, dia bukan orang biasa. Moon Young adalah perempuan muda bermasalah yang terjebak dalam kenangan masa kecilnya yang kelam.

    Ketika Moon Young jatuh cinta pada Gang Tae, dia mencoba memenangkannya dengan caranya yang sombong. Ia memanipulasi Sang Tae untuk mengilustrasikan bukunya. Seiring waktu, ketiganya membentuk kekerabatan yang erat, menjadi keluarga satu sama lain yang tidak pernah mereka miliki. 

    “It’s Okay to Be Not Okay” secara sensitif menangani isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan mental, terutama tentang bagaimana trauma masa kecil yang tanpa pengawasan bisa meninggalkan luka yang dalam dan luka emosional.

    Ini adalah tontonan mendalam tentang kepribadian berbeda dari karakter-karakter tokohnya yang masa lalunya membentuk masa kini mereka, tetapi juga memulai perjalanan penyembuhan emosional yang penuh harapan.

    Seo Ye Ji mampu memerankan karakter Go Moon Young yang rumit, yang diimbangi oleh Kim Soo Hyun sebagai Kang Tae yang lembut namun tabah. Dan Oh Jung Se tampil brilian sebagai Sang Tae.

    Sumber: Soompi

     

  • 9 K-drama yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental – II

    9 K-drama yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental – II

     

    7cloud.asia – Drama Korea atau K-drama dikenal sangat kreatif dan jeli menangkap isu yang berkembang di sekitar kita dan dengan apik mengemasnya menjadi tontonan yang menarik. 

    Tak terkecuali isu kesehatan mental yang kini makin menjadi perhatian. Berikut 5 dari 9 K-drama yang mengangkat isu kesehatan mental sebagai inti ceritanya.

    Tulisan ini untuk melengkapi tulisan sebelumnya tentang K-drama yang mengangkait isu kesehatan mental.

    Menyaksikan K-drama ini akan membuat kamu lebih paham tentang kesehatan mental dan bagaimana harus menyikapinya. 

    5. Just Between Lovers

    “Just Between Lovers” adalah K-drama yang mengisahkan dua orang yang punya masalah kesehatan mental akibat gangguan stres pascatrauma. Lee Kang Doo (Lee Junho) bermimpi menjadi pemain sepak bola, tetapi kecelakaan di mal membunuh ayahnya dan membuat Kang Doo dengan luka parah.

    Kang Doo adalah pemuda kasar yang memiliki gangguan kecemasan dan menghadapi masalah utang, dan masa depan yang tampaknya tanpa harapan. Dia bertemu Ha Moon Soo (Won Jin Ah), seorang yang selamat dari kecelakaan yang sama.

    Moon Soo didera rasa bersalah dan percaya bahwa kehadirannya merusak banyak hal bagi orang lain. Terikat bersama oleh kesedihan yang sama, kesedihan yang belum diproses, dan pergumulan, kedua individu yang kesepian ini membentuk hubungan yang dalam.

    Saat mereka saling mendukung, mereka juga saling menyembuhkan saat mereka memproses kesedihan bersama.

    Sebagai kisah cinta yang lambat, dua tokoh yang punya masalah kesehatan mental ini mengambil potongan hidup mereka yang robek dan menyatukannya. Lee Junho menonjolkan kompleksitas kepribadian Lee Kang Doo, membangkitkan sentimen mendalam atas penderitaan karakternya.

    6. Kill Me, Heal Me

    K-drama yang mengangkat isu kesehatan mental selanjutnya adalah Kill Me, Heal Me. Do Hyun (Ji Sung) adalah pewaris perusahaan besar, tetapi namanya menimbulkan bisikan keras di antara lorong-lorong konglomerat.

    Do Hyun dirawat karena masalah kesehatan mental yang rumit. Dia menderita gangguan identitas disosiatif dan “hidup” dengan enam kepribadian berbeda, yang masing-masing muncul ke permukaan tergantung pada situasinya.

    Do Hyun telah menciptakan kepribadian ini untuk menghadapi masa lalunya yang traumatis dan kejam sebagai seorang anak, yang terus menghantuinya di masa dewasa.

    Ketika Ri Jin (Hwang Jung Eum), seorang psikiater, bertemu dengan Shin Se Gi, seorang rockstar yang kasar, dia kemudian menyadari bahwa itu adalah salah satu dari banyak kepribadian Do Hyun.

    Ri Jin segera mengetahui bahwa dia dan Do Hyun berbagi masa lalu sebagai anak-anak. Meskipun ingatannya hilang, masalah yang tertanam dalam yang berasal dari ingatan itulah yang memegang kunci kesehatan mental Do Hyun.

    “Kill Me, Heal Me” adalah drama psikologis yang ditulis dengan cermat. Saat-saat yang tampaknya menegangkan diimbangi dengan humor. Akting Ji Sung sebagai seorang aktor muncul mampu menampilkan banyak kepribadian dari karakter Do Hyun.

    Dan Park Seo Joon sebagai Ri Oh, saudara novelis investigasi Ri Jin yang unik, adalah bonus tambahan.

    7. Clean With Passion Now

    Clean With Passion Now menyorot masalah kesehatan mental mysophobia. Jang Sun Kyul (Yoon Kyun Sang) adalah penderita mysophobia parah, ketakutan pada kuman.

    Sun Kyul sangat peduli tentang hal-hal yang bersih dan rapi—tidak boleh ada debu dan noda yang terlihat olehnya. Dia membawa tingkat bersih yang baru dan bahkan menjalankan perusahaan pembersih.

    Lalu ada Oh Sol (Kim Yoo Jung), yang riang dan berantakan—kebersihan sama seklai bukan keahliannya. Oh Sol mulai bekerja untuk perusahaan Sun Kyul dan merupakan orang yang cerdas dan pekerja keras.

    Bukan orang yang menghabiskan waktu untuk kemewahan dan kesia-siaan hidup lainnya, Oh Sol yang berantakan membantu Sun Kyul menghadapi mysophobia-nya.

    “Bersih dengan Gairah untuk Sekarang,” berdasarkan webtoon dengan nama yang sama, adalah jam tangan yang sangat menyenangkan. Yoon Kyun Sang sebagai CEO paranoid dan kasar Sun Kyul memberikan penampilan bernuansa sementara Kim Yoo Jung sebagai Oh Sol yang canggung namun gagah menjaga momentum.

    K-drama ini secara sensitif menampilkan masalah kesehatan mental Sun Kyul, yang merupakan kondisi psikologis yang melemahkan dan menghambat kemampuannya untuk hidup normal, termasuk hubungannya.

    Cinta dan dukungan yang dia dapatkan dari Oh Sol membantunya melawan ketakutan dan masalahnya. Ini adalah drama yang tentunya layak untuk ditonton.

    8. Hyde, Jekyll, Me

    K-drama yang satu ini menyorot masalah kesehatan mental disosiatif. Seo Jin (Hyun Bin) adalah CEO taman hiburan yang kaya, sombong, dan jahat. Dia menderita gangguan kepribadian disosiatif. Kepribadiannya yang terfragmentasi lainnya adalah Robin, laki-laki yang menyenangkan dan baik hati.

    Ketika manajer sirkus yang baru diangkat Ha Na (Han Ji Min) datang ke tempat kejadian, segalanya menjadi rumit. Dia dan Seo Jin berselisih sejak pertemuan pertama, sementara Robin, dengan wajahnya yang tersenyum dan sikapnya mampu menawan Ha Na.

    Segera setelah hilangnya Robin secara misterius, Ha Na menemukan Seo Jin sedang berjuang melawan masalah kesehatan mental yang serius, yang berakar pada masa kecilnya.

    Drama ini menjalin ketegangan dan misteri bersama dengan tema psikologisnya. Karakternya ditulis dengan baik, dan pertunjukannya menggarisbawahi aspek baik dan buruk yang ditemukan dalam diri kita masing-masing dan untuk memperlakukan orang dengan sangat baik.

    9. Fix You 

    Fix You adalah K-drama yang memotret masalah kesehatan dari sudut yang berbeda. Lee Shi Joon (Shin Ha Kyun) adalah seorang psikiater yang memiliki cara baru untuk menyembuhkan pasiennya. Dia benar-benar peduli tentang mereka, dan meskipun banyak yang menganggap caranya eksentrik, dia berhasil membantu kliennya mengatasi trauma dan masalah kesehatan mental mereka.

    Han Woo Joo (Jung So Min) adalah seorang aktris, yang dikenal memiliki serangan panik dan kehancuran emosional. Saat Shi Joon bertemu Woo Joo, dia berusaha keras untuk membantunya sembuh.

    Sabar dan berdedikasi dalam menasihatinya, Shi Joon membantu Woo Joo melewati banyak masalah yang mencegahnya menjalani kehidupan terbaiknya. Kisah cinta yang berkembang selama ini sungguh menyenangkan.

    “Fix You” menampilkan bagaimana mendapatkan konselor dan terapis yang tepat dapat membantu pasien mengatasi masalah mereka. Sebuah drama yang sangat unik dan menginspirasi, “Fix You” adalah K-drama yang nggak bisa diremehkan yang harus jadi daftar tontonan jika kamu ingin tahu lebih banyak soal kesehatan mental.

     

    Sumber: Soompi

  • Manfaat Meditasi untuk Kesehatan Mental

     

    7cloud.asia – Latihan meditasi bermanfaat bagi kesehatan mental. Sejumlah penelitian membuktikan manfaat meditasi dalam mengatasi kecemasan, depresi, nyeri, dan insomnia.

    Meditasi adalah cara melatih tubuh dan pikiran untuk mempertahankan perhatian dan fokus. Itu sebabnya meditasi bagus untuk kesehatan mental karena akan mengusir hal-hal yang tidak perlu.

    Meditasi juga membantu mengatasi gangguan kesehatan mental lainnya seperti menghilangkan stres psikologis dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menangani kecemasan yang muncul di masa depan.

    Meditasi terpandu untuk atasi kecemasan mendorong kita untuk mengatur, memperlambat pikiran yang berpacu, mengusir pikiran negatif dan membantu meningkatkan kesehatan mental.

    Baca: Sisipkan meditasi terpandu untuk sesi slow living dalam keseharianmu

    Berikut penjelasan bagaimana meditasi bekerja untuk meredakan kecemasan:

    Mengusir pikiran yang memicu stres.
    Meditasi mengajarkan untuk melepaskan dan menganalisis pikiran Anda dengan mengambil langkah mundur dan menganalisis keadaan dan situasi saat ini. 

    Overthinking dapat menimbulkan perasaan cemas. Dengan meditasi kecemasan yang dipandu , kita dapat memeriksa pikiran-pikiran ini secara objektif. Kita bisa  memahami perasaan dan emosi dan tidak membiarkannya memengaruhi tubuh dan hari kita.

    Mengakui pikiran negatif ketimbang membiarkan mereka berkembang dapat meningkatkan kesehatan mental kita. 

    Baca: Ragam meditasi terpandu

    Meningkatkan Kesadaran Diri
    Saat meditasi, Anda meningkatkan kemampuan Anda untuk fokus pada perasaan Anda dan meningkatkan kesadaran.

    Ini membuat kita lebih sadar akan diri sendiri. Selanjutnya, pengetahuan diri adalah elemen penting dari kesehatan mental. Meditasi terpandu juga memungkinkan relaksasi dan mengurangi kecemasan, mengoksidasi tubuh  sehingga membantu memberikan kejernihan pikiran. Dengan kesadaran diri, kita lebih mudah gembangkan perubahan positif dalam keseharian kita. 

    Memahami Proses Berpikir
    Saat menghadapi situasi tertentu, pikiran kita terprogram untuk bereaksi secara spontan. Karena kecemasan dapat menjadi reaksi yang tidak disengaja dari respons melawan-dan-lari, ketakutan dapat mengendalikan hidup kita tanpa memberi kita kebebasan untuk memilih reaksi yang tepat.

    Meditasi mengajari kita untuk mendengarkan semua jenis emosi, positif atau negatif, dan memberi kita perspektif yang lebih baik dalam menangani situasi.

    Meditasi terpandu memberi kita pemahaman tentang mengapa kita bereaksi terhadap situasi cemas dan kemampuan untuk mengubah polanya.

    Baca: Meditasi untuk metode pengobatan

    Membantu mengatasi emosi yang sulit
    Emosi sering menyandera kita pada situasi dan mendorong kita untuk bereaksi daripada merespons. Emosi yang kuat seperti kemarahan dan ketakutan, dapat mengganggu kesehatan fisik karena mendorong pelepasan hormon.

    Perhatian penuh saat meditasi dapat menciptakan konsekuensi magis, memberi kita ketahanan emosional dan mencegah emosi memengaruhi kehidupan sehari-hari kita.

    Mempromosikan Citra Diri
    Dunia pura-pura menanamkan keyakinan bahwa kita tidak cukup baik. Rentetan umpan balik yang konstan membuat kita rentan dan merasa tidak mampu, sehingga menimbulkan citra tubuh dan masalah lainnya.

    Meditasi membantu membangun kesadaran diri dan memungkinkan kita untuk membedakan harga diri kita. Ketika kita bermeditasi, kita menjadi lebih menerima dan terpusat.

    Dengan meningkatkan citra diri kita, maka kita berhasil membebaskan pikiran kita dari masalah yang kita hadapi di media sosial. (Sumber: unitedwecare.com)

    Baca: Hadirkan slow living dengan menikmati alam sesering mungkin

     

  • 5 Cara Atasi stres dan Merawat Kesehatan Mental Tanpa Keluar Banyak Uang

    5 Cara Atasi stres dan Merawat Kesehatan Mental Tanpa Keluar Banyak Uang

    7cloud.asia – Rutinitas dan beban pekerjaan sering menjadi sumber stres paling kuat yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

    Pendiri Stress Management Indonesia Coach Pris mengatakan, target yang berat, kondisi lingkungan, dan persaingan yang tidak sehat bisa memicu stres yang berdampak buruk pada kesehatan mental jika tak segera ditangani. 

    “Bila stres dan kesehatan mental tidak ditangani dengan tepat, kita akan menumpuk beban pikiran, mempercepat burnout, dan menambah beberapa masalah mental dan finansial,” kata Pris Jumat (5/10/2023) seperti dikutip Antaranews.com

    Lantas bagaimana menangani stres akibat pekerjaan yang bisa mempengaruhi kesehatan mental?

    Baca: Kurangi stres dengan menerapkan gaya hidup minimalis

    Berikut Coach Priss memberikan lima cara untuk mengurangi stres dan mencegah burnout serta depresi tanpa bikin kantong kering:

    1. Gaya hidup sehat

    Kita bisa memulai untuk menjaga kesehatan mental dengan merawat diri sebaik mungkin yakni tidur cukup, makan makanan bergizi, dan cukup minum air.

    Selain itu, berolahraga juga bisa membantu untuk lebih bugar dan fokus untuk menghadapi aktivitas lainnya.

    Pris mengatakan, dengan menjaga diri lebih baik, pikiran menjadi lebih tenang dan tubuh juga akan terasa lebih segar.

    Baca: Buang stres dengan jalani gaya hidup slow living

     

    2. Bersosialisasi dan selalu bersyukur

    Orang tidak harus menghadapi dan melakukan semua hal sendirian. Bila merasa beban emosi menumpuk, atau kelelahan akibat overthinking, kita bisa bercerita dan bersosialisasi dengan orang-orang terdekat.

    Bantuan dan pengertian dari orang-orang yang dipercayai sangat berarti untuk kesehatan mental sekaligus menumbuhkan rasa bersyukur yang lebih dalam.

    Selain itu, dengan selalu bersyukur orang bisa lebih menikmati dan menghayati hidup.

    Baca: Gaya hidup konsumtif bisa bikin kamu stres

    3. Praktikkan mindfulness dengan journaling

    Kita bisa mempraktekkan mindfulness secara perlahan, misalnya mencoba journaling untuk mendokumentasikan hal-hal yang membuat hidupnya lebih bermakna.

    Membuat jurnal juga dapat membantu meregulasi perasaan dan pikiran sehingga bisa menghindari overthinking, salah satu faktor burnout.

    Di sisi lain, journaling juga bisa membantu kita untuk menulis lebih baik sekaligus melatih keterampilan pola pikir.

    Baca: Cara sederhana memulai slow living

    4. Mengurangi sumber stres

    Sangat penting untuk mengurangi penyebab stres dan overthinking jika seseorang ingin menenangkan pikiran. Bila merasa lelah dengan hidup, pekerjaan, dan urusan lainnya, seseorang bisa beristirahat sejenak.

    Seseorang tidak harus bekerja 24/7 dan overthinking banyak hal. Pekerjaan bisa menunggu setelah tubuh merasa lebih baik.

    Pris berpendapat, seseorang tidak seharusnya mengorbankan kesehatan mental untuk pekerjaannya.

    5. Nikmati hal-hal yang disukai

    Pris mengatakan semua orang memiliki hobi yang mereka sukai dan dengan menikmati hobi, mereka akan merasa lebih menikmati hidup.

    Baca: Kurangi stres dan kecemasan dengan meditasi

    Jika belum punya hobi, seseorang bisa mencoba beberapa aktivitas luar ruangan seperti yoga atau jalan-jalan di alam terbuka. Selain itu, beberapa hobi bisa dilakukan di dalam rumah, seperti menonton film, melukis, dan masih banyak lainnya.

    “Ingatlah bahwa kamu berarti dan kehidupan tidak akan selalu kelam dan sulit. Akan selalu ada harapan dan hal-hal baik yang terjadi pada dirimu,” kata Pris.

    Pris mengatakan, dengan menjaga kesehatan mental dan fisik, seseorang bisa belajar untuk menyayangi diri sendiri dan menghargai kehidupan.

    “Bila kamu pernah memiliki bayang-bayang untuk mengakhiri hidupmu sendiri, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian dan kehidupan yang kamu miliki sangatlah berharga, tetaplah jalani hidup walaupun hidup terkadang berat dan pahit,” pungkasnya.

    Baca juga: Pentingnya edukasi dan literasi kripto untuk kurangi stres

     

  • Hari Kesehatan Mental Sedunia: Masih Banyak yang Abai Pentingnya Kesehatan Mental

    Hari Kesehatan Mental Sedunia: Masih Banyak yang Abai Pentingnya Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, menjadi sebuah momentum untuk meningkatkan kepedulian serta kesadaran terkait pentingnya kesehatan mental.

    Selama ini, masih banyak anggota masyarakat yang kurang mempedulikan arti kesehatan mental bagi keberhasilan seseorang.

    Kepala Pusat Riset (Kapusris) Kesehatan Masyarakat dan Gizi Organisasi Riset Kesehatan BRIN Wahyu Pudji Nugraheni mengatakan perhatian terhadap kesehatan mental harus lebih ditingkatkan dan dikuatkan.

    Baca: Ketahui usia kritis bagi kesehatan mental anak

    “Selama ini hanya penggiat atau pemerhati saja yang fokus terhadap kesehatan mental. banyak yang belum memahami sebetulnya ini masalah serius,” ujar Pudji di Jakarta, Selasa (10/10/2023).

    Ditambahkan, dari penelitian tentang kesehatan mental yang dilakukannya di beberapa wilayah, terungkap bahwa masih banyak masyarakat di Indonesia yang memberikan stigma negatif terhadap penderita gangguan mental.

    “Masih sangat tinggi stigma terhadap orang yang mengalami masalah dengan kesehatan mental. Mereka masih dikucilkan, tidak dilibatkan dalam kegiatan masyarakat, ini justru hanya akan memperparah,” katanya.

    Baca: Kesehatan mental makin penting, sosialisasikan sejak usia dini

    Lebih lanjut Pudji mengatakan, kesehatan mental yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup yang lebih baik.

    Seseorang dengan kesehatan mental yang baik, ujarnya, cenderung lebih bahagia dalam menjalani kehidupan.

    “Kesehatan mental kalau dipelihara dan dijaga dapat meningkatkan kualitas hidup keseluruhan. Orang yang memiliki kesehatan mental yang baik cenderung bisa lebih bahagia, dan bisa menikmati hidupnya,” imbuh Pudji.

    Baca: 5 cara sederhana merawat kesehatan mental

    Ia menyampaikan ada enam manfaat yang didapatkan seseorang apabila memiliki kesehatan mental yang baik selain meningkatkan kualitas hidup.

    Dengan kesehatan mental yang baik maka kesejahteraan emosional, hubungan baik dengan orang lain, kesehatan fisik, produktifitas pekerjaan meningkat.

    Kesehatan mental yang baik juga akan membuat seseorang mampu mengatasi krisis dan menghadapi stigma negatif dari lingkungan sekitar.

    Baca: Seperti ini cara slow living berdampak bagus untuk kesehatan mental

    Pudji menjelaskan dengan memiliki kesehatan mental yang baik, seseorang akan mampu mengatasi stres, kecemasan, dan depresi secara lebih efektif.

    Sehingga hal tersebut secara tak langsung akan meningkatkan taraf hidup orang tersebut.

     

     

     

  • Gaya Hidup Minimalis, Kaitannya dengan Lingkungan dan Kesehatan Mental

    Gaya Hidup Minimalis, Kaitannya dengan Lingkungan dan Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Seiring dengan bertambahnya usia, saya menemukan makin banyak orang di sekitar saya menjalankan gaya hidup minimalis.

    Ada beragam alasan mengapa orang akhirnya memutuskan untuk memilih gaya hidup minimalis.

    Meski berbeda alasan, rata-rata mereka yang telah menjalani gaya hidup minimalis mengaku hidupnya lebih tenang dan lebih bahagia.

    Kok bisa begitu ya? Secara umum, gaya hidup minimalis adalah memfokuskan diri pada kualitas hidup yang dijalani, bukan pada kuantitas barang yang dimiliki.

    Sehingga, orang yang memutuskan menjalani gaya hidup minimalis akan berupaya mengurangi konsumsi barang yang tidak perlu.

    Baca: Orang ini sederhanakan hidupnya dengan gaya hidup minimalis

    Dengan begitu, orang tersebut bisa memiliki lebih banyak waktu, punya lebih banyak  energi dan uang untuk hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup.

    Ada sederet manfaat menjalani gaya hidup minimalis, berikut beberapa di antaranya: 

    1. Lebih banyak waktu dan energi
    Banyak orang mengatakan kalau gaya hidup hidup minimalis dapat memberikan lebih banyak waktu dan energi.

    Misalnya waktu kita tidak perlu banyak energi untuk mengurus, merapikan, dan memberikan semua barang yang ada.

    Waktu dan energi yang kita punya bisa dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat dan produktif dam memberi makan untuk jiwa kita.

    Membaca, olahraga, istirahat, quality time, baking, memasak, menulis, menggambar, melukis dan lainnya.

    Baca: Mengapa gaya hidup minimalis bagus untuk kesehatan mental

    2. Bagus untuk lingkungan
    Gaya hidup minimalis juga berkontribusi tidak langsung pada kelestarian lingkungan.

    Dengan membeli lebih sedikit, artinya kita membantu mengurangi limbah dan polusi dari proses produksi barang. Kita juga bisa mengurangi pengunaan energi untuk pemanas dan pendingin udara.

    Lalu mengurangi konsumsi barang-barang yang tidak perlu, kita juga bisa mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan.

    Sampah yang tidak terurai secara alami akan berakhir di tempat pembuangan akhir atau bahkan di lautan, menyebabkan polusi lingkungan yang serius.

    Dengan mengadopsi gaya hidup minimalis, kita dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang kita hasilkan dan menimalkan dampak negatifnya pada lingkungan.

    Baca: Begini cara gaya hidup minimalis menyelamatkan lingkungan

    3. Ketenangan Pikiran yang Lebih Besar
    Dengan hidup gaya hidup minimalis, pikiran kita menjadi lebih jernih dan fokus.

    Tidak lagi terbebani dengan kekhawatiran soal menjaga atau mengatur barang-barang yang tidak perlu, kita dapat mengalihkan perhatian pada hal-hal yang lebih berarti dan memprioritaskan kesejahteraan pikiran dan emosi kita.

    Ketika pikiran kita tenang, kita lebih mampu menghadapi tantangan hidup dengan bijaksana dan lebih bahagia secara keseluruhan.

    4. Lingkungan bersih dan rapi

    Gaya hidup minimalis membawa banyak manfaat dalam menjaga lingkungan yang bersih dan rapi.

    Dengan memiliki lebih sedikit barang-barang maka akan memudakan membersihkan atau menjaga rumah atau ruang kerja tetap teratur.

    Selain itu bisa dengan mengurangi konsumsi dan memilih barang – barang yang berkualitas, kita akan dapat mengurangi limbah yang dihasilkan.

    Baca: Ringankan beban hidupmu dengan gaya hidup minimalis

     

  • Hampir Separuh Kelompok Usia Produktif adalah Generasi Sandwich, Ini Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

    Hampir Separuh Kelompok Usia Produktif adalah Generasi Sandwich, Ini Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Data yang dimiliki Kementerian Koordinator Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menyebut 38 persen pekerja formal adalah generasi sandwich.

    Sementara survei yang dilakukan CBNC Indonesia pada 2021 menunjukkan sebanyak 48,7 persen masyarakat produktif (25–45 tahun) Indonesia merupakan generasi sandwich.

    Generasi sandwich ini memiliki tanggung jawab untuk menghidupi diri sendiri, orang tua, dan anaknya dalam waktu bersamaan.

    Bagi mereka yang tidak siap dan kuat secara finansial maupun mental, kondisi menjadi generasi sandwich ini akan menjadi tekanan yang rentan mempengaruhi kesehatan mental. 

    Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Indonesia (UI) Lathifah Hanum menyebut peran generasi sandwich tidaklah mudah karena perlu mempertimbangkan perbedaan dua generasi.

    Baca: Masa kritis bagi kesehatan mental anak

    Merawat anak-anak dan remaja berbeda dengan merawat lansia. Anak-anak dan remaja memerlukan arahan dari orang tua untuk mengembangkan dan mendewasakan diri.

    “Sementara lansia memerlukan pendampingan dalam menjalani aktivitas harian,” kata Lathifah Hanum dalam keterangannya, di Depok, Jawa Barat, Kamis (4/1/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Menurut dia, situasi ini bisa bertambah kompleks apabila lansia yang dirawat memiliki kondisi kesehatan yang memprihatinkan, sehingga generasi sandwich perlu memberikan perhatian yang lebih kepada mereka.

    “Banyak tantangan yang dihadapi oleh generasi sandwich, diantaranya mereka rentan mengalami stres dan burn out jika tidak memiliki rencana yang matang untuk memenuhi tanggung jawab. Lokasi tinggal juga membawa dampak yang berbeda,” katanya.

    Hanum mengatakan mereka yang tinggal bersama dengan dua generasi lainnya memiliki tanggung jawab harian yang lebih besar.

    Baca: Masih banyak yang mengabaikan kesehatan mental

    Mereka harus menyiapkan makanan yang bergizi, menjadi teman bicara bagi kedua generasi, serta mengerjakan rutinitas dan tanggung jawab pribadi.

    Namun, lanjutnya, jika generasi sandwich tinggal terpisah dari orang tuanya, mereka harus mengirimkan uang lebih besar sebagai bentuk kompensasi atas ketidakhadirannya.

    Menurut Lathifah, untuk dapat menjalankan peran sebagai generasi sandwich, individu harus melakukan persiapan yang matang.

    Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan oleh generasi sandwich, kata dia, kualitas relasi yang baik dengan orang tua maupun anak. Generasi sandwich harus membangun relasi yang positif dengan kedua generasi tersebut.

    Mereka harus mampu berkomunikasi secara terbuka, sehingga berbagai kendala dapat dibicarakan bersama dan ditemukan solusinya.

    Baca: Mengapa ayah harus mengambil peran dalam pengasuhan anak

    Karena itu Hanum menyarankan generasi sandwich untuk mendiskusikan berbagai kendala agar masing-masing generasi memiliki kesempatan untuk berkontribusi terhadap penyelesaian masalah.

    Inter-generational relationship atau hubungan antar-generasi sebenarnya memiliki banyak manfaat. Pada beberapa penelitian, kata dia, disebutkan masing-masing generasi memiliki kontribusi terhadap urusan rumah tangga.

    Generasi sandwich bisa jadi sangat terbantu dengan kehadiran orang tua di rumah karena dapat membantu mengurus rumah tangga dan mengawasi anak-anak, saat mereka bekerja.

    Beberapa studi di Asia Timur bahkan menunjukkan generasi sandwich lebih memilih untuk meninggalkan anak-anak mereka dengan orang tua agar mendapatkan pendidikan yang baik, terutama mengenai nilai-nilai dan budaya di dalam keluarga.

    Sementara itu penelitian di Eropa dan Asia Tenggara menunjukkan generasi sandwich mendapatkan bantuan, terutama dalam hal finansial dari orang tua.

    Baca: Mengapa calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Sebagai timbal balik, generasi sandwich menjadi pendamping bagi orang tua dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

    Fakta ini menunjukkan, kata dia, bahwa generasi sandwich tidak akan mengalami hal buruk selama ia menjalankan perannya dengan penuh persiapan dan pengelolaan yang baik.

    Justru dengan adanya komunikasi antara tiga generasi ini, akan terjalin kedekatan keluarga dan nilai-nilai kebaikan dapat diajarkan secara turun-temurun.

     

     

  • Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia Terus Meningkat, Perempuan Lebih Rentan

    Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia Terus Meningkat, Perempuan Lebih Rentan

    7cloud.asia – Jauh sebelum pandemi covid-19 melanda dunia, angka kasus gangguan kesehatan mental telah menunjukkan tren peningkatan di level global maupun Indonesia.

    Pembatasan sosial akibat andemi Covid 19 telah membuat masalah kesehatan jiwa makin meningkat. Ini semestinya menjadi pengingat bagi mayoritas negara untuk memperkuat sistem kesehatan mental.

    Gangguan kesehatan mental merupakan masalah yang kompleks dan bisa bermacam-macam bentuknya, seperti dijelaskan dalam klasifikasi penyakit internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Dalam definisi itu, gangguan kesehatan mental mencakup banyak bentuk, termasuk depresi, kecemasan, bipolar, gangguan makan, dan skizofrenia.

    Bunuh diri, seperti kasus mahasiswa di Yogyakarta baru-baru ini, merupakan masalah besar gangguan kesehatan mental yang perlu menjadi perhatian dan dicegah oleh banyak pihak.

    Secara global, bunuh diri adalah penyebab kematian keempat di antara orang berusia 15-29 tahun. 

    Baca: Masih banyak anggota masyarakat mengabaikan kesehatan mental

    Riset terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington terkait Global Burden of Disease (GBD) 2019 menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental tetap bertahan dalam 10 penyebab teratas beban penyakit di seluruh dunia.

    Tak ada bukti pengurangan gangguan kesehatan mental secara global sejak 1990.

    Dalam konteks Indonesia, riset ini menunjukkan tren peningkatan jumlah gangguan kesehatan mental dalam 30 tahun terakhir.

    Selain naiknya jumlah kasus gangguan jiwa baik pada laki-laki maupun perempuan, temuan lainnya adalah gangguan kesehatan jiwa pada perempuan lebih tinggi dibanding pada laki-laki. Apa penyebabnya?

    Menurut Ilham Akhsanu Ridho, dosen dan peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, perempuan di Indonesia rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena mengalami beban ganda.

    Baca: Usia kritis terkait kesehatan mental

    Beban ganda ini dialami, baik di dalam keluarga, di tempat kerja maupun di lingkungan sosial.

    Selain dituntut oleh sistem sosial untuk mengurus pekerjaan di ranah domestik, perempuan juga dituntut bekerja untuk meningkatkan pendapatan keluarga, apalagi di kalangan kelompok miskin.

    Di sektor domestik, kerentanan sosial muncul saat perempuan mengurus rumah tangga, anak, perceraian (jika terjadi), konflik dengan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga. “Akar-akarnya bisa dilacak pada budaya patriarki,” kata dia.

    Secara umum, analisis lain juga menyatakan semakin tinggi beban pekerjaan rumah tangga, semakin tinggi juga kemungkinan perempuan mengalami stres.

    Temuan lainnya adalah makin tua seseorang, makin rentan pula mengalami gangguan kesehatan mental.

    Baca: Posisi generasi sandwich bisa picu gangguan kesehatan mental  

    WHO menyatakan gangguan mental dan neurologis di antara orang dewasa yang lebih tua menyumbang 6,6% dari total kecacatan (DALYs) untuk kelompok usia ini.

    Sekitar 15% orang dewasa berusia 60 tahun ke atas menderita gangguan kesehatan mental.

    Lalu, berapa tahun masa hidup sehat yang hilang akibat gangguan kesehatan mental?

    Studi Global Burden of Disease (GBD) 2019, dengan perhitungan tingkat DALY (Disability-Adjusted Life Year) dari gangguan depresi menunjukkan makin tua kelompok usia, makin besar tahun hidup sehat yang hilang.

    Kelompok usia produktif, 15-64 tahun, merupakan kelompok yang paling banyak kehilangan tahun hidup sehat akibat gangguan depresi.

    Baca: Kenali gejala depresi terselubung pada lansia

    Misalnya, orang Indonesia kelompok umur usia 50-69 tahun kehilangan hidup sehat lebih banyak (sekitar 580 tahun per 100.000 orang) dibanding kelompok usia usia 5-14 tahun (sekitar 60 tahun per 100.000 orang) akibat gangguan depresi (lihat grafik di bawah).

    Disability-adjusted Life Years (DALY) yang merupakan ukuran status kesehatan itu dinyatakan dalam metrik jumlah tahun yang hilang karena meninggal, sakit dan disabilitas.

    DALY dihitung dari gabungan jumlah waktu (dinyatakan dalam tahun) yang hilang akibat meninggal dini (Years of Life Lost, YLL) dan jumlah waktu ketika orang terpaksa hidup dengan disabilitas (Years Lived with Disability, YLD).

    Menurut Iqbal Elzayar, peneliti The Oxford University Clinical Research Unit in Indonesia (OUCRU ID), berdasarkan studi GBD 2019, faktor risiko yang berkontribusi terhadap gangguan mental depresi adalah pelecehan seksual masa kanak-kanak, perundungan, dan kekerasan dari pasangan.

    “Pada kelompok 15-49 tahun, pelecehan seksual masa kanak-kanak dan bullying menjadi kontributor risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan risiko lainnya,” ujarnya.

    Baca: Mengapa gaya hidup minimalis bagus untuk kesehatan mental

    Sedangkan pada kelompok 70+, kekerasan dari pasangan lebih mendominasi,” kata kolaborator GBD 2019 dari Indonesia itu.

    Selain masalah sakitnya secara langsung, salah satu isu yang timbul dari gangguan kesehatan jiwa adalah dampaknya terhadap produktivitas masyarakat.

    Menurut Rizqy Amelia Zein, dosen Psikologi Kepribadian dan Sosial Universitas Airlangga, jika ada satu anggota keluarga memiliki masalah gangguan kesehatan mental yang berat, maka beban perawatan di keluarga tersebut meningkat.

    “Sebab, anggota keluarga yang lain harus membantu dan menangani yang sakit. Jadi bukan hanya produktivitas yang sakit yang terganggu, yang tidak sakit juga terganggu produktivitasnya karena harus merawat yang sakit,” kata Amelia.

    Karena itu, kata dia, isu-isu kesehatan mental menjadi perhatian serius di negara-negara maju, ketimbang di negara-negara berkembang. Sebab, kesehatan mental bisa berdampak atau mempengaruhi produktivitas masyarakat.

    Baca: Manfaat meditasi untuk kesehatan mental

    Promosikan pentingnya kesehatan mental
    Untuk mencegah gangguan kesehatan mental, menurut WHO, ada beberapa langkah yang harus dilakukan negara.

    Pertama, mempromosikan kesehatan mental untuk semua orang dan melindungi orang-orang berisiko seperti anak-anak, remaja, dan pekerja. Program pencegahan bunuh diri juga patut digalakkan.

    Kedua, negara harus menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat.

    Dalam konteks ini, peningkatan anggaran untuk kesehatan mental menjadi keharusan.

    Tanpa adanya anggaran yang memadai, promosi, pencegahan, dan pengobatan atas masalah kesehatan mental sulit dilakukan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis Ahmad Nurhasim Health+Science Editor The Conversation