Berlebihan Terpapar Konten Negatif Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental Anak

Written by

in

7cloud.asia – Dear orang tua, mulai sekarang batasi akses anak terhadap gadget. Pasalnya, paparan konten negatif di media digital yang berlebihan dapat mengancam kesehatan mental dan perilaku anak.

Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Phoebe Ramadina, M.Psi., Psikolog mengemukakan, ketika anak terlalu sering melihat konten negatif yang muncul seperti kekerasan mereka bisa menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa atau wajar.

“Konten negatif yang sering muncul di media digital dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan perilaku anak maupun remaja,” kata Phoebe, dilansir Antaranews.com pada Kamis (5/6).

Tak hanya itu, anak-anak yang terlalu sering melihat standar penampilan, kesuksesan, gaya hidup yang tidak realistis di media sosial bisa berdampak negatif pada kesehatan mentalnya

Baca: Anak membakar rumah karena terpengaruh konten digital

Anak bisa merasa rendah diri, tidak percaya diri, bahkan mengalami gangguan citra tubuh atau depresi.

“Anak-anak yang belum matang secara emosional juga bisa kesulitan mengelola emosi mereka, menjadi lebih cemas, impulsif, atau agresif akibat konten yang memprovokasi,” ujar dia.

Phoebe mengatakan tidak jarang pula bahwa anak kerap meniru apa yang mereka lihat di dunia maya, apalagi jika tidak ada bimbingan dari orang dewasa.

Hal tersebut bisa mendorong munculnya perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, bullying, atau kenakalan remaja.

Psikolog yang berpraktik di lembaga konsultasi psikologi Personal Growth itu mendorong pentingnya peran aktif orang tua dan lingkungan sekitar untuk mendampingi dan mengedukasi anak dalam memilih dan menyikapi konten digital yang mereka konsumsi.

Baca: Dominan otak kiri dan kanan pada anak

Dalam menghadapi dampak negatif media digital juga butuh kerja sama antara keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.

Phoebe menyarankan saat di rumah orang tua bisa mulai dengan membangun komunikasi yang terbuka dan menjadi pendamping saat anak mengakses media digital.

“Ini bukan soal melarang, tapi membantu anak belajar memilah mana konten yang sehat dan bermanfaat,” katanya.

Kemudian saat di sekolah, guru bisa menanamkan pendidikan karakter dan keterampilan sosial-emosional, menyediakan layanan konseling, serta melibatkan siswa dalam kegiatan digital yang positif.

Peran negara, kata Phoebe, juga sangat penting, mulai dari memperkuat regulasi terhadap konten berbahaya, menyelenggarakan kampanye edukasi yang luas, hingga mendukung riset dan layanan psikososial di tingkat komunitas.

“Kolaborasi lintas sektor ini penting untuk menciptakan lingkungan digital yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh,” jelasnya.

Baca: Penanganan anak berhadapan dengan hukum

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *