Tag: kota

  • Pusat Kota Tirano Italia Ditutup Untuk Kendaraan dan Hanya Diperuntukkan Bagi Pejalan kaki

    Pusat Kota Tirano Italia Ditutup Untuk Kendaraan dan Hanya Diperuntukkan Bagi Pejalan kaki

    7cloud.asia – Mulai Senin, 3 Juli hingga 31 Oktober 2023 mendatang sebuah  eksperimen akan dilakukan di kawasan pejalan kaki di Via Mazzini dan Piazza delle Stazioni, tepat di pusat kota Tirano, Italia.

    Upaya mengubah Via Mazzini dan Piazza delle Stazioni yang merupakan pusat kota Tirano hanya untuk pejalan kaki ini ditujukan untuk membuat kota yang lebih hidup dan layak huni

    Dilansir cittaslow.org,Setiap tahun, selain warga Tirano dan Valtellina yang berangkat dari atau tiba di Milan, juga ada lebih dari 300,000 wisatawan tiba di Tirano.

    Baca: Slow city, konsep baru tata kota yang lebih memanusiakan

    Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Tirano ingin merasakan kereta yang sudah diakui sebagai warisan dunia, Bernina Express sekaligus melanjutkan perjalanan ke Swiss melewati Pegunungan Alpen.

    Tujuan pemerintah kota Tirano memebebaskan kawasan Mazzini dan Piazza delle Stazioni adalah untuk mempromosikan pembangunan kembali kawasan tersebut agar lebih layak huni bagi penduduk dan wisatawan.

    Langkah ini juga untuk mempromosikan Kota Tirano yang lebih ramah warga dan meningkatkan kegunaan ruang-ruang bersama dan ruang publik secara lebih efektif.

    Baca: Empat kota ini sangat mengutamakan pejalan kaki

    Proyek penutupan lalu lintas, yang dipromosikan oleh pemerintah kota, diumumkan kepada warga dan pengelola berbagai kegiatan di daerah tersebut dalam pertemuan di Ruang Dewan beberapa minggu lalu.

    Kebijakan Pemerintah Kota Tirano ini disambut positif oleh sebagian besar warga setempat. 

    Tirano sendiri adalah kota yang tenang di Lombardy utara, Italia. Tirano merupakan salah satu kota yang ikut mempromosikan slow city.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, ini manfaat yang dirasakan Kota Bogota

    Kota ini dikenal sebagai titik keberangkatan salah satu rute kereta paling indah di Eropa, Kereta Merah (Bernina Express) yang melintasi jalur Alpine untuk mencapai Saint Moritz di Swiss.

     

  • 488 Tahun Kota Ambon, dari Kota Pelabuhan Menjadi Kota Musik

    488 Tahun Kota Ambon, dari Kota Pelabuhan Menjadi Kota Musik

    7cloud.asia – Pada Kamis, 7 September 2023 besok kota Ambon akan merayakan hari jadinya yang ke-448.

    Tahun ini hari jadi Kota Ambon mengusung tema “Ambon Par Samua” atau Ambon untuk semua.

    Berbagai kegiatan dalam upaya memajukan budaya kota Ambon serta mengembangkan potensi wisata budaya digelar untuk menyambut hari jadi ibukota provinsi Maluku ini

    Pada Selasa (5/9/2023) pawai budaya digelar di lapangan Merdeka yang berada di pusat Kota Ambon. Karnaval Budaya yang digelar Pemkot Ambon ini diikuti oleh 25 Paguyuban yang ada di Kota Ambon.

    Baca: Mengenal Kota Kupang yang pernah jadi rebutan

    Penjabat walikota Ambon Boedewin Watimena mengatakan, perbedaan dan keunikan budaya yang ada di Ambon akan memberikan manfaat positif bagi warga Kota Ambon.

    “Menjadi penguatan ekonomi sehingga kita yakini sungguh bahwa, kegiatan-kegiatan budaya seperti karnaval budaya di hari ini, akan memperkuat roda perekonomian Kota Ambon yang semakin maju,” ujarnya sebagaimana dikutip Malukuterkini.com

    Boedewin berharap karnaval budaya dapat dikemas dengan baik dan kemudian dipromosikan, agar bisa menggairahkan perekonomian masyarakat dengan mengangkat kearifan lokal. 

    Kota Ambon sendiri sejak beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai kota musik. Hal ini didasarkan banyaknya talenta musik yang lahir di kota itu.

    Baca: Sejarah panjang kota tertua di Indonesia

    Adapun penetapan hari jadi Kota Ambon didasarkan pada fakta sejarah, bahwa pada tanggal 7 September 1921 masyarakat Kota Ambon diberikan hak yang sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda.

    Sedangkan, tahun 1575 ditetapkan sebagai kelahiran Kota Ambon didasarkan pada tahun dimulainya pembangunan Benteng Kota Laha yang menjadi cikal bakal kota Ambon.

    Asal usul nama Kota Ambon sendiri menarik untuk dikulik. Kata Ambon diambil nama dari nama satu suku yang menghuni Maluku. Suku Ambon berasal dari Pulau Seram di sisi utara pulau.

    Dikutip Oketravel, menurut keterangan penduduk setempat, istilah itu diambil dari kata ombong yang merupakan bentukan lokal dari kata embun.

    Baca: Manado, kota di negeri jauh yang indah

    Dinamai embun karena letak geografis Kota Ambon yang dikelilingi oleh pegunungan. Puncak gunung di Pulau Ambon sering ditutupi embun yang tebal.

    Istilah Laha pun pernah dipakai untuk menamai Benteng Nossa Senhora de Anunciada yang menjadi cikal bakal kota. Dalam bahasa setempat, laha diartikan sebagai pelabuhan.

    Saat ini, istilah Ambon mengacu pada Kota Ambon, Pulau Ambon, dan suku Ambon. Namun dalam perkembangan sejarah, terutama pada abad ke-20, istilah Ambon mengacu kepada penduduk Maluku Tengah.

    Sementara itu, frasa orang Ambon sendiri mengacu pada masyarakat di Maluku Tengah yang memiliki budaya mestizo.

    Baca: Kota Salatiga yang pernah dijuluki kota tercantik di Indonesia

     

    Cikal bakal Kota Ambon lahir saat bangsa Portugis datang ke Maluku pada tahun 1513. Kota Ambon sempat jadi incaran bangsa Eropa karena hasil rempah-rempahnya yang melimpah.

    Awalnya rakyat Ambon mengira bahwa bangsa Portugis datang untuk menjalin perdagangan. Tapi seiring berjalannya waktu, sifat asli mereka terlihat yakni ingin menguasai sumber produksi rempah-rempah.

    Bangsa Portugis menjajah dan memonopoli perdagangan di Ambon. Portugis memaksa penduduk sebagai pekerja untuk membangun benteng Nossa Senhora da Anunciada.

    Setelah kedatangan bangsa Portugis, tahun 1605 Pulau Ambon dikuasai oleh Kongsi Dagang Belanda (VOC). Pada awal masa VOC, terjadi beberapa pergantian gubernur. Salah satunya Adrian Martinez Block yang terkenal otoriter.

    Baca: Berawal dari Sunda Kelapa, lahirlah Kota Jakarta

    Dia memaksa warga untuk melakukan kerja paksa guna memperluas Benteng Victoria.

    Tahun 1796, VOC ditaklukkan oleh tentara Inggris di bawah pimpinan Laksamana Pieter Ramier sehingga Kota Ambon menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Inggris.

    Inggris menguasai Kota Ambon sampai tahun 1803 dan mengembalikannya kepada Belanda.

    Jepang juga pernah menjajah Ambon. Jepang berhasil menaklukan Belanda dan sekutunya dalam Pertempuran Ambon untuk merebut Kota Ambon yang merupakan markas angkatan laut Sekutu pada tahun 1942.

    Setelah Indonesia merdeka, Kota Ambon kemudian ditetapkan menjadi ibukota Maluku. Saat ini sedang ada wacana untuk memindahkan ibukota Maluku ke Pulau Masohi.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • Lima Kota Besar dengan Kualitas Udara Terbaik pada 2022, Salah Satunya Ada di Indonesia

    Lima Kota Besar dengan Kualitas Udara Terbaik pada 2022, Salah Satunya Ada di Indonesia

     

    7cloud.asia – Laporan Kualitas Udara Dunia 2022 membahas secara mendalam negara dan kota mana saja yang mengalami beban terbesar akibat kualitas udara yang buruk.

    Kualitas udara kota ini sangat penting bagi jutaan orang yang kesehatan jantung dan pernapasannya berisiko.

    Namun ada kabar baik. Laporan kualitas udara ini juga mengungkapkan bahwa orang-orang yang tinggal di kota-kota besar di seluruh dunia menikmati kualitas udara rata-rata tahunan yang baik dibanding sebelumnya.

    Hal ini penting dan menggembirakan, karena daerah perkotaan besar dapat menjadi sumber polutan endemik yang kuat di mana jutaan orang bekerja, tinggal, dan bernapas setiap hari.

    Baca: Perjuangan panjang London menjadi kota nol emisi

    Di lima kota besar yang disorot ini, rata-rata tahunan PM2.5 udara jauh di bawah pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 5 mikrogram per meter kubik (µg / m3).

    Laporan kualitas udara tahunan IQAir menyoroti PM2.5 sebagai indikator kualitas udara standar karena secara luas diakui sebagai polutan paling berbahaya dan karena berbagai konsekuensi kesehatan yang parah.

    Ada banyak kota kecil dengan kualitas udara yang lebih baik daripada lima kota besar ini.

    Sebagai contoh, kualitas udara terbersih di dunia ditemukan di Arch Cape, Oregon, Amerika Serikat. Arch Cape adalah sebuah kota pesisir yang berpenduduk kurang dari 1.000 orang dengan konsentrasi PM2.5 rata-rata hanya 0,2 µg/m3.

    Baca: Cerita sukses Bogota kembangkan transportasi rendah emisi

    Untuk daftar ini, kota-kota yang dipilih memiliki populasi yang diperkirakan lebih dari 100.000 penduduk atau lebih.

    5. Toowoomba, Australia

    Cuaca basah turut membantu membersihkan udara dan mendongkrak kualitas udara. 

    Dua dari lima kota paling tidak berpolusi di dunia berada di Australia. Toowoomba terletak di dekat pantai Queensland, Australia, tidak jauh dari Brisbane, dan memiliki perkiraan populasi 142.000 jiwa pada tahun 2021.

    Kota ini sering mengalami asap dari kebakaran semak, seperti yang terjadi pada kebakaran pada tahun 2019-2020.

    Namun, musim kebakaran hutan tahun 2022 – yang biasanya berlangsung dari bulan Juli hingga Oktober di Queensland – menjadi saksi fenomena atmosfer La Niña yang membuat wilayah ini lebih basah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Cuaca hujan dan berangin dapat membantu kualitas udara dengan menyebarkan polutan, dan fenomena ini terjadi di Toowoomba pada tahun 2022.

    Baca: Dua kota paling ramah lingkungan di dunia

     

    4. Petropavl, Kazakhstan:

    Lebih bersih dengan penggunaan energi yang minim. Kota Petropavl  terletak di ujung utara Kazakhstan, dekat perbatasannya dengan Rusia.

    Kota Petropavl, oleh warga lokal dikenal sebagai Kyzylzhar, atau “Tebing Merah”. Rumah bagi hampir seperempat juta orang, konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 di kota ini adalah 2,3 µg/m3.

     

    Ini adalah kualitas udara yang luar biasa baik untuk wilayah Asia Tengah yang sering mengalami kualitas udara yang sangat buruk di musim dingin.

    Ini dipicu oleh emisi dari kendaraan tua, penggunaan batu bara coklat (lignit) yang meluas untuk pemanas dan memasak di rumah, dan inversi suhu.

    Namun, topografi kota yang berhutan tidak terlalu terpengaruh oleh inversi suhu karena kota ini tidak berada di lembah dan tidak berada di dekat pegunungan.

    Baca: Resep Surabaya menjadi kota dengan udara terbersih di Asia

    Korelasi antara konsentrasi polutan udara dengan parameter meteorologi di wilayah ini rendah.

    Meskipun Petropavl sangat bergantung pada batu bara, pembangkit listrik tenaga batu bara Petropavlovsk CHPP-2 hanya memiliki dua dari tiga cerobong asap yang berfungsi karena runtuhnya cerobong asap pada tanggal 20 Maret 2022.

    Tidak dapat dipastikan apakah pembangkit listrik tersebut telah menghasilkan lebih sedikit emisi.

    Salju yang turun di kota tersebut pada tahun 2022 lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2021. Ada kemungkinan bahwa berkurangnya penggunaan energi dapat membantu menjelaskan kualitas udara yang baik.

    Baca: Empat kota ini sangat mengutamakan pejalan kaki

    3. Wellington, Selandia Baru

    Dua kota berada di urutan kedua terbersih: Wellington, Selandia Baru dan Kupang, Indonesia.

    Wellington adalah ibu kota Selandia Baru dengan populasi sekitar 419.000 jiwa. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini telah menunjukkan komitmennya untuk membersihkan udara dengan mengalihkan jaringan busnya dari diesel ke listrik.

    Tim lingkungan regional merilis laporan pada Oktober 2022 yang mengungkapkan penurunan 28 persen polusi udara partikulat udara diesel dan penurunan nitrogen dioksida sebesar 18 persen antara tahun 2021 dan 2022.

    Laporan Kualitas Udara Dunia mengonfirmasi peningkatan kualitas udara. Kota ini menunjukkan peningkatan 45 persen dalam konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5, turun dari 4,2 μg / m3 menjadi hanya 2,3 μg / m3 antara tahun 2021 dan 2022.

    Baca: Tiga kota di Indonesia yang masuk kota ramah lingkungan

     

    2. Kupang, Indonesia

    Kota kepulauan lain dengan populasi yang sama, yaitu sekitar 434.000 jiwa. Kota ini memiliki kualitas udara yang sama dengan Wellington, Selandia Baru pada tahun 2022, dengan konsentrasi PM2.5 rata-rata tahunan sebesar 2,3 µg/m3.

    Ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur ini terletak di pulau Timor, yang berbatasan dengan negara Timor Leste.

    Kota ini secara teratur mengalami curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, yang dapat memberikan dampak positif dalam menjaga polutan dari udara.

     

    Kupang merupakan dataran rendah dan terdapat perbukitan di sebelah barat daya. Topografi berbukit dan bergunung-gunung dapat menghalangi angin, mengurangi kemampuan polutan untuk menyebar.

    Namun, hanya 10 persen angin kota selama tahun 2022 yang mengalir ke arah perbukitan, yang memudahkan akumulasi polutan untuk meninggalkan daerah tersebut.

    Sumber polusi di Kupang dapat berasal dari kebakaran hutan. Jumlah kebakaran hutan yang terjadi di kota Kupang pada tahun 2022 lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Baca: Mengenal kota Kupang yang pernah jadi rebutan Portugis dan Belanda

    1. Cockburn, Australia

    Pinggiran kota dengan kualitas udara terbaik. Kota Australia kedua dalam daftar ini juga merupakan kota besar yang paling tidak berpolusi di dunia.

    Cockburn, dengan populasi sekitar 114.000 jiwa, terletak di sebelah selatan Perth. Pinggiran kota ini memiliki konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 sebesar 2 µg/m3.

    Perth dan Cockburn biasanya memiliki kualitas udara yang baik sepanjang tahun, meskipun hal ini dapat dipengaruhi oleh emisi kendaraan dan asap kebakaran hutan di dekatnya.

    Sekali lagi, kami melihat hubungan antara kelembapan dan kualitas udara yang lebih baik; karena wilayah ini mengalami curah hujan yang jauh lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya – mendekati tingkat curah hujan normal di kota ini – tidak ada kebakaran semak berskala besar.

  • Mengenal Kota Banda Aceh, Kota Islam Tertua di Asia Tenggara

    Mengenal Kota Banda Aceh, Kota Islam Tertua di Asia Tenggara

    7cloud.asia – Cerita kota kali ini akan mengangkat Kota Banda Aceh. Kota Banda Aceh  merupakan ibu kota provinsi Nangroe Aceh Darussalam yang jug asalah satu kota Islam tertua di Asia Tenggara.

    Kota Banda Aceh dibangun oleh Sultan Johan Syah pada 1205 M, Banda Aceh kini telah berusia 818 tahun. Awalnya Kota  banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh.

    Sebagai pusat pemerintahan provinsi, Kota Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya.

    Kota Banda Aceh juga memerankan peranan penting dalam penyebaran islam ke seluruh Indonesia. Oleh karena itu, kota ini juga dikenal sebagai Serambi Mekkah.

    Baca: Mengenal Palembang, kota tertua di Indonesia

    Saat ini, Kota Banda Aceh diarahkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sebagai pusat koleksi dan distribusi skala regional untuk produksi pertanian, pariwisata, dan perikanan laut.

    Kota Banda Aceh juga termasuk dalam Kawasan Strategis Nasional KAPET Banda Aceh Darussalam.

    Potensi wisata yang terdapat di Kota Banda Aceh terdiri dari potensi wisata alam, wisata jejak historis bencana tsunami, wisata spiritual, serta wisata sejarah dan jejak purbakala.

     

    Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri).

    Baca: Mengenal Salatiga, salah satu kota paling toliren di Indonesia

    Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribu kota di Kutaraja atau Banda Aceh

    Dilansir kumparan.com, Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribu kota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Hindu Lamuri.

    Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam. Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

    Sultan Ali Mughayat Syah menjadi sultan terakhir bagi Kerajaan Islam Aceh sekaligus menjadi sultan pertama bagi Kesultanan Aceh Darussalam. Ia memerintah selama 10 tahun dengan beribu kota di Banda Aceh.

    Baca: Jakarta, ternyata bukan kota tertua di Indonesia

    Pada batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah terdapat tulisan yang menyatakan bahwa Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada hari Senin tanggal 12 Zulhijah 936 Hijriah.

    Tanggal kematiannya bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi. Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

    Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

    Pada masa Sultan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa.

    Baca: Awal mula Kota Manado jadi ibukota Sulawesi Utara

    Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

    Pada masa agresi kedua Belanda, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja.

    Setelah masuk kembali dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh.

    Hal ini didasarkan pada Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43.

    Baca: Mengenal Kota Kupang yang pernah jadi rebutan Portugis dan Belanda

    Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudra Hindia.

    Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan di Kota Banda Aceh.

    Namun, bencana ini juga membawa berkah yakni terhentinya konflik di tanah rencong. Pada Agustus 2005, dicapai kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia sehingga pembangunan Aceh bisa diakselerasi. 

    Kini, jelang 20 tahun bencana tsunami Aceh, Kota Banda Aceh nyaris pulih seperti dulu kala. 

     

     

  • 5 Kota di Indonesia Dengan Kawasan untuk Pejalan Kaki Terbaik

    5 Kota di Indonesia Dengan Kawasan untuk Pejalan Kaki Terbaik

    7cloud.asia – Mungkin banyak dari kita yang mengeluhkan buruknya fasilitas untuk pejalan kaki di banyak kota di Indonesia. 

    Harus diakui banyak kota di Indonesia, termasuk Jakarta yang tidak memiliki fasilitas memadai untuk pejalan kaki.

    Kondisi ini diperburuk dengan kebiasaan warga kota untuk berjalan kaki yang minim, sehingga fasilitas untuk pejalan kaki sering terabaikan. Trotoar sering dibangun seadanya dan tidak dirawat dengan baik.

    Trotoar yang disediakan untuk pejalan kaki juga sering beralih fungsi menjadi tempat berjualan. 

    Belum lagi pengguna moda angkutan lain yang dengan seenaknya menyerobot trotoar yang sebenarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki.

    Baca: Kota tua ini hanya membuka dirinya untuk pejalan kaki dan kereta api

    Selain kondisi trotoar, terdapat hal-hal lain yang menjadi tolok ukur sebuah kota dikategorikan sebagai kota yang ramah untuk pejalan kaki.

    Misalnya, akses dari jalan kecil atau gang menuju halte transportasi umum, rasio persentase total jalan yang dibangun khusus untuk kendaraan pribadi dan untuk bersama (roadway), serta akses pejalan kaki untuk masuk suatu bangunan.

    Semakin dekat jarak yang harus ditempuh untuk menuju suatu lokasi dengan berjalan, semakin nyaman kota tersebut untuk pejalan kaki.

    Lantas, adakah kota di Indonesia yang ramah untuk pejalan kaki. Ternyata ada, dan semakin banyak kota yang berusaha untuk mengakomodasi pejalan kaki.

    Baca: Konsep baru penataan kota bernama slow city

    Berikut ini adalah beberapa kota di Indonesia yang memiliki kawasan yang ramah untuk pejalan kaki, sebagaimana dirilis phinemo.com

    1. Bogor

    Kota Bogor bisa jadi salah satu alternatif bagi yang ingin pergi wisata berjalan kaki. Pertengahan Juni 2016 lalu, Bogor memulai pembangunan kota menuju ke arah transportasi ramah lingkungan yang mendorong masyarakat untuk berjalan kaki, bersepeda dan menggunakan angkutan umum.

    Salah satu proyek yang telah selesai dikerjakan adalah trotoar di sekitar Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor.

    Dari Stasiun Bogor kini wisatawan sudah bisa berjalan kaki menuju Kebun Raya Bogor. Sambil menelusuri trotoar tersebut, wisatawan juga bisa melihat-lihat rusa yang bermunculan di halaman Istana.

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki

    2. Solo

     

    Di Solo, tepatnya Jalan Slamet Riyadi, terdapat jalur pejalan kaki yang nyaman. Trotoar yang lebar terlindung oleh pepehonan yang rindang membuat pejalan kaki akan meresa nyaman.

    Pemkot Solo juga menyediakan kursi taman yang bisa digunakan untuk istirahat setiap jarak tertentu. 

    Kondisi ini akan membuat kita tak mudah lelah untuk menyusuri jalan sepanjang 3,5 kilometer ini.

    Apalagi di jalan protokol Kota Solo ini terdapat beberapa tempat wisata sekaligus, seperti Taman Sriwedari dan Museum Radya Pustaka Surakarta.

    Baca: Daftar kota paling ramah untuk peseda 

    3. Semarang

    Di bawah pimpinan Wali Kota Hendrar Prihadi, Semarang mulai melakukan program penataan kawasan pusat kota yang mengandalkan trotoar.

    Street furniture (pelengkap jalan) seperti pot bunga, kursi, lampu, dan lain-lain ditambahkan untuk menambah kenyamana pejalan kaki.

    Beberapa ruas trotoar juga dilengkapi dengan ornamen bola-bola yang membuat jalan tersebut semakin indah.

    Saat ini, trotoar di Jalan Veteran, Jalan Diponegoro, Jalan Madukoro, serta Jalan Imam Bonjol bisa disusuri untuk berjalan kaki menyusuri pusat Kota Lunpia.

    Ke depannya, Semarang akan terus mempercantik setiap sudut trotoar untuk memberi kenyamanan kepada warga dan juga wisatawan.

    Baca: Penataan transportasi publik di Jakarta

    4. Yogyakarta

    Berjalan kaki merupakan cara tebaik untuk menikmati keindahan budaya Yogyakarta. Jogja International Heritage Walk 2017, yang berhasil ajak ribuan pejalan kaki nikmati alam Yogyakarta menjaid bukti nyata akan hal itu.

    Orang tentu sudah akrab dengan Jalan Malioboro yang sangat ramah bagi pejalan kaki. Sepanjang jalan tersebut kita bisa berjalan nyaman di trotoar, bahkan di jalan sekundernya.

    Kantung-kantung parkir pun kini kian rapih tertata, tidak menutupi trotoar.

    Tak hanya Malioboro, Kota Yogyakarta juga memiliki beberapa spot nyaman bagi pejalan kaki. Tidak hanya di tempat wisata, tetapi juga sisi jalan protokolnya. 

    Selain Malioboro, wisatawan juga bisa berjalan nyaman di wisata-wisata budaya seperti sekitaran Keraton, Tamansari, Kotagede dan beberapa wilayah lainnya.

    Baca: Jalan Malioboro akan dijadikan kawasan rendah emisi

    5. Jakarta

    Di ibukota Jakarta ada jalan Jendral Sudirman dan Jalan MH Thamrin yang telah ditata sehingga membuat nyaman para pejalan kaki.

    Trotoar yang lebar dan taman yang terawat apik, membuat pejalan kaki dimanjakan. Halte-halte bergaya modern membuat pejalan kaki nyman menunggu kendaraan umum yang akan digunakan. 

    Sayangnya, tidak sedikit pedagang kaki lima yang nakal dan memanfaatkan trotoar ini untuk berdagang. 

    Selain mengganggu keindahan, keberadaan merka kadang juga mengganggu kenyamanan karena sering parkir dan membuang sampah sembarangan. 

    Baca: Jalan kaki dan bersepeda, cara mudah menikmati suasana kota

    6. Jambi

    Kawasan untuk pejalan kaki terbaik lainnya berada di Jambi. Di sana terdapat jembatan khusus pejalan kaki yang sangat unik.

    Jembatan ini terbentang sepanjang 530 meter di atas Sungai Batanghari dengan bentuk seperti huruf ‘S’.

    Di ujung jembatan ini terdapat sebuah menara bernama Gentala Arasy. Menara ini merupakan museum yang menceritakan tentang sejarah perkembangan Islam di Jambi.

    Di sisi lain jembatan juga terdapat pusat jajanan untuk wisatawan yang ingin wisata kuliner. Makanya, nggak salah kalau area ini menjadi salah satu ikon Jambi sekaligus tujuan wisata yang populer.

    Menghabiskan sore hari di Jambi rasanya kurang jika tidak berjalan kaki sambil menikmati matahari tenggelam di jembatan ini.

  • Cara Kota Surabaya untuk Menjadi Ramah Disabilitas: JPO dengan Lift Hingga Taman Bicara

    Cara Kota Surabaya untuk Menjadi Ramah Disabilitas: JPO dengan Lift Hingga Taman Bicara

    7cloud.asia – Kota Surabaya disebut sebagai salah satu kota di Indonesia yang ramah disabilitas. JIk atidka percaya mari kita simak data-data berikut ini. 

    Menurut data Dinas Sosial Kota Surabaya, pada tahun 2019, setidaknya terdapat 7.112 orang penyandang disabilitas.

    Kondisi membuat pemerintah Kota Surabaya menata wilayahnya dengan melengkapi berbagai fasilitas yang dapat membantu penyandang disabilitas dalam kegiatan sehari-harinya.

    Fasilitas pendukung untuk penyandang disabilitas dapat membantu kemandirian mereka agar tidak selalu tergantung pada bantuan dari orang/pihak lain.

    Baca Juga: Pramusapa, Cara TransJakarta dan Commuter Line Melayani Disabilitas dan Penumpang Prioritas

    Pembangunan fasilitas untuk penyandang disabilitas ini dilakukan sejak tahun 2016. Beberapa fasilitas untuk penyandang disablitas yang dibangun Pemerintah Kota Surabaya antara lain adalah: 

    Penyediaan lift di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO)
    Sejak pemerintah kota Surabaya membangun fasilitas lift di berbagai jembatan penyeberangan, penyandang disabilitas dapat menyeberang jalan dengan nyaman.

    Tidak hanya bagi kaum difabel, layanan ini juga sangat bermanfaat bagi lansia yang biasanya kesulitan untuk dapat menaiki dan menuruni tangga. Biaya pembangunan fasilitas ini bekerjasama dengan pihak swasta, penyewa JPO dan tidak menggunakan APBD.

    Baca Juga: Hari Ozon Sedunia, KLHK Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Barang Perusak Ozon

    Pemasangan alat berbasis sensor yang bisa berbicara
    Pemasangan alat berbasis sensor yang bisa berbicara ini tidak hanya digunakan pada jalur penyeberangan pejalan kaki (Pelican Crossing Traffic Light).

    Sensor juga disediakan di sejumlah taman untuk memberikan penjelasan kepada kelompok disabilitas tentang tanaman/tumbuhan di sekitar sensor.

    Penyediaan sensor ini dapat membantu penyandang disabilitas untuk memberikan arah serta memberikan penjelasan kepada mereka terhadap suatu informasi.

    Suroboyo Bus
    Suroboyo Bus merupakan layanan transportasi umum di Surabaya. Berbeda dengan fasilitas transportasi umum lainnya, sarana transportasi ini  ramah penyandang disabilitas, ibu hamil, dan lansia.

    Adanya tombol khusus yang dapat memberikan bantuan tambahan bagi mereka yang membutuhkan, terutama untuk penyandang disabilitas.

    Pembayaran untuk transportasi juga tidak menggunakan uang tunai dan e-money, tetapi dengan sampah plastik berupa botol air minum kemasan.

    Baca Juga: Lantik Penjabat Bupati, Khofiffah Ingatkan Pentingnya Pembanngunan Berkelanjutan

    Taman Bicara
    Diresmikan pada bulan Mei 2017, Taman Bicara merupakan taman yang dilengkapi dengan fasilitas sensor yang dapat mengeluarkan suara ketika sensor tersebut disentuh atau ketika sensor mendeteksi keberadaan seseorang.

    Sensor suara akan memberikan penjelasan mengenai tanaman yang ada di sekitar sensor sehingga taman ini dapat digunakan oleh mereka yang tuna netra.

    Fasilitas ini tidak hanya membantu para penyandang disabilitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi/pembelajaran baru tentang tanaman di sekitar mereka.

    Keberadaan fasilitas ini tidak hanya menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya dilakukan di ruang kelas dengan membaca buku, tetapi pembelajaran juga dapat dilakukan di ruang terbuka dengan cara yang inovatif seperti ini.

    Fasilitas ramah disabilitas juga disediakan di berbagai fasilitas publik, seperti penggunaan ramp di Museum Pendidikan, tempat wudhu, penyediaan kursi roda di Masjid Al Akbar Surabaya.

    Baca Juga: PT KAI Berlakukan Harga Khusus untuk Penumpang Disabilitas mulai 17 September 2023

    Trotoar khusus yang dilengkapi ubin penuntun tuna netra dan patok penghalang kendaraan bermotor, serta lift, jalur khusus, dan tempat parkir penyandang disabilitas di gedung pemerintahan Kota Surabaya.

    Inisiatif untuk lebih ramah disabilitas ini berjalan dengan baik dan telah memberikan dampak yang positif bagi masyarakat di kota Surabaya.

    Inisiatif yang ramah penyandang disabilitas ini juga telah membawa kota Surabaya untuk memperoleh berbagai penghargaan, seperti Penghargaan Dalam Rangka Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2014.

    Kota Surabaya jug atelah meraih Penghargaan kota inklusif di tahun 2014, Kabupaten/Kota Peduli HAM 2020 dari Kementrian KUMHAM, dan lainnya.

    Keberadaan fasilitas penyandang disabilitas di Taman Bicara menjadi lokasi pembelajaran tidak hanya bagi para tuna netra tapi juga para siswa/i.

    Mereka yang mungkin tidak pernah mengetahui apa nama tumbuhan di sekitar mereka serta beragam macam warna dapat memperoleh informasi itu secara langsung di Taman Bicara ini.

    Baca Juga: Surat Cinta dari Penyandang Disabilitas Membuat Ganjar Pranowo Terharu

    Keberadaan guru pendamping akan sangat membantu dan dapat menjadi pelengkap bagi siswa/siswi tersebut.

    Banyak pihak yang belum mengetahui tentang keberadaan fasilitas JPO dan sensor di jalur penyeberangan. Selain karena kurangnya sosialisasi, jumlah pejalan kaki di Indonesia masih relatif sangat rendah.

    Untuk Taman Bicara, salah satu tantangan yang dihadapi inisiatif ini yaitu perlunya anggaran pengadaan alat yang tidak murah.

    Kota Surabaya membutuhkan anggaran lebih dari Rp 100 juta untuk pengadaan 14 sensor alat bicara di satu ruang terbuka hijau.

    Selain itu, perlu adanya pengamanan yang lebih di lingkungan ruang terbuka hijau tersebut.Tidak sedikit fasilitas umum yang pernah diambil oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. 

    Penyediaan fasilitas seperti ini sangat memungkinkan untuk direplikasi di kota lain. Pengadaan berbagai fasilitas ini dapat dengan mudah dilakukan oleh pemerintah daerah.

    Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penyediaan fasilitas seperti ini membutuhkan pendanaan yang cukup besar, terutama dalam pengadaan teknologi dan system di tempat umum.

    Sumber: localisesdgs

  • Sejarah Kota Bandung: Berawal di Dayeuhkolot Pindah ke Cikapundung

    Sejarah Kota Bandung: Berawal di Dayeuhkolot Pindah ke Cikapundung

    7cloud.asia – Pada Senin (25/9/2023) Kota Bandung merayakan hari jadinya yang ke 213 tahun. Sejarah Kota Bandung sendiri pernah memiliki sejumlah penafsiran dan baru melahirkan satu penafsiran yang disahkan pada 1999 lalu.

    Menyadari pentingnya pelurusan sejarah, sejak tahun 1997 pemerintah Kota Bandung berusaha untuk menetapkan hari jadi Kota Bandung yang benar berdasarkan pembuktian atau fakta sejarah.

    Sejumlah seminar dan serasehan digelar pada 1997-1998 untuk menggali jejak sejarah Kota Bandung. Selain itu juga dibentuk tim untuk meneliti hari jadi Kota Bandung yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Tim inti terdiri atas sejumlah sejarawan dari fakultas sastra Universitas Padjadjaran dan beberapa pakar bidang lainnya. Penelitian itu menghasilkan tanggal 25 september 1810 adalah “Hari Jadi Kota Bandung”.

    Baca: UNESCO akui sumbu filosofi menjaid warisan dunia

    Dilansir di Bandung.go.id, berdirinya Kota Bandung tidak bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota Bandung dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri.

    Kabupaten Bandung lebih dulu berdiri, yakni pada sekitar pertengahan abad ke-17 masehi, dengan Bupati pertama yang bernama Tumenggung Wirangunangun.

    Ia memerintah Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (saat ini dikenal Dayeuhkolot), kira-kira 11 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Bandung sekarang.

    Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati ke-6 yaitu R.A. Wiranatakusumah II (periode 1794-1829) yang dijuluki “dalem kaum”, kekuasaan di Nusantara beralih dari kompeni kepada pemerintah Hindia Belanda, dengan Gubernur Jenderal pertama yang bernama Herman Willem Daendels.

    Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di pulau jawa, Daendels membangun jalan raya pos (groote poshweg) dari anyer di ujung jawa barat ke panarukan di ujung jawa timur (± 1000 kilometer).

    Baca: Cara Kota Surabaya menjadi kota yang ramah disabilitas

    Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

    Di daerah Bandung khususnya dan daerah priangan umumnya, jalan raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada.

    Di Kota Bandung sekarang, jalan raya itu bernama jalan Jendral Sudirman – Jalan Asia Afrika – Jalan A. Yani, berlanjut ke sumedang dan seterusnya.

    Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten.

    Masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak ( saat ini dikenal Tanjungsari) mendekati jalan raya pos.

    Baca: Lima kota di Indonesia yang sangat ramah untuk pejalan kaki

    Rupanya Daendels tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, Bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan.

    Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat sungai Cikapundung, tepi selatan jalan raya pos yang sedang dibangun (yang menjadi pusat kota Bandung sekarang).

    Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak tidak strategis sebagai pusat pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan.

    Sekitar akhir tahun 1808 / awal tahun 1809, Bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari krapyak mendekati lahan bakal ibukota baru.

    Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (saat ini dikenal Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampung Bogor (saat ini dikenal Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).

    Baca: Kota tua di Italia ini hanya dibuka untuk pejalan kaki dan angkutan umum

    Tidak diketahui secara pasti, berapa lama kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu dipimpin langsung oleh Bupati.

    Dengan kata lain Bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri kota ini.Kota bandung diresmikan sebagai ibukota baru kabupaten bandung dengan besluit tanggal 25 september 1810.

    Hal ini berarti, selama belum ditemukan sumber lain yang menunjukan fakta lebih akurat, maka tanggal 25 september 1810 dapat dipertanggung jawabkan validitasnya sebagai “hari jadi kota bandung”.

    Hari jadi kota Bandung itu telah disahkan melalui peraturan daerah nomor 35 tahun 1998.

    Dengan demikian, tanggal 1 April yang beberapa tahun lamanya biasa diperingati sebagai hari ulang tahun kota Bandung bukan lagi hari jadi kota Bandung, karena tanggal 1 April 1906 merupakan tanggal pembentukan gemeente Bandung.

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki

    Sejak Kota Bandung berdiri hingga pertengahan tahun 1864, hanya berfungsi sebagai ibukota kabupaten yang sepenuhnya diperintah bupati R.A. Wiranatakusumah II dilanjutkan Bupati R.A. Wiranatakusumah III (periode 1829-1846) dan Bupati R.A. Wiranatakusumah IV (periode 1846-1874).

    Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Wiranata Kusumah IV, tepatnya sejak tanggal 7 Agustus 1864, Kota Bandung berfungsi sebagai ibukota keresidenan priangan, menggantikan Kota Cianjur yang rusak berat akibat meletusnya Gunung Gede.

    Dengan demikian, sejak itu kota bandung terjadi dualisme pemerintahan, yakni pemerintahan kabupaten (pemerintahan tradisional) dan pemerintahan keresidenan (pemerintahan kolonial).

    Hal ini berlangsung sampai dengan Kota Bandung menjadi kota berpemerintahan otonom yang disebut gemeente (sejak 1 april 1906).

    Gemeente Bandung dibentuk pada waktu Kabupaten Bandung diperintah Bupati ke-10 yaitu R.A.A. Martanegara menggantikan Bupati R.A. Kusumadilaga.

    Baca: Sejarah Jakarta, dari Jayakarta menjaid Batavia

    Dengan berdirinya pemerintahan gemeente, maka di Kota Bandung berlangsung tiga bentuk pemerintahan yaitu kabupaten, keresidenan, dan gemeente.

    Dalam hal ini, pemerintahan gemeente sebagai pemerintahan kota yang bersifat otonom, lebih dominan daripada kedua pemerintahan lainnya. Pengelolaan kota sepenuhnya menjadi tugas dan kewajiban pemerintah gemeente.

    Namun dalam praktiknya, Bupati tetap turut berperan dalam kapasitas sebagai anggota dewan kota (gemeente road).

    Sejak tanggal 1 Oktober 1926, sebutan gemeente diubah menjadi stadsgemeente, yang berlangsung hingga akhir pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang (periode Maret 1942 – 14 Agustus 1945), pemerintah Kota Bandung disebut Bandung Shi.

    Pada masa kemerdekaan, sebutan pemerintah kota Bandung berubah-ubah sebagai berikut :

    Baca: Bukan Jakarta, ini kota tertua di Indonesia

    Haminte Bandung :
    Dari 11 maret 1946 – 24 april 1948 (masa negara Pasundan di bawah RIS).

    Kota besar Bandung :
    Sejak 15 agustus 1945.

    Kotapraja Bandung :
    Berdasarkan undang – undang no. 1 tahun 1957 tentang pemerintahan daerah.

    Kotamadya Bandung :
    Berdasarkan undang – undang no. 1 tahun 1957 dan surat edaran walikota kepala daerah bandung no. 637 tanggal 19 maret 1966.

    Kotamadya daerah tingkat II Bandung :
    Berdasarkan undang-undang no 5 tahun 1974 tentang pokok – pokok pemerintahan di daerah.

    Pemerintah kota Bandung :
    Sejak tahun 1999 sampai sekarang

     

  • Bakal Merayakan Hari Jadinya yang ke-267, Begini Asal Usul Nama Kota Jogja

    Bakal Merayakan Hari Jadinya yang ke-267, Begini Asal Usul Nama Kota Jogja

    7cloud.asia – Pada 7 Oktober mendatang Kota Jogja akan merayakan hari jadinya yang ke-267. 

    Banyak orang yang menyebut kota ini dengan nama kota Yogyakarta, tetapi warga setempat lebih suka menyebut kota tempat tinggalnya sebagai kota Jogja.

    Saat ini kota Jogja memiliki beragam julukan, selain disebut sebagai kota pendidikan, Jogja juga sering disebut sebagai kota budaya.

    Sebutan kota budaya yang disematkan ke Kota Jogja berkaitan erat dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan Mataram yang masih lestari hingga kini.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja

    Peninggalan budaya inilah yang menjadikan Kota Jogja sebagai salah satu tujuan wisata budaya.

    Tapi, mari kita lupakan dulu beragam julukan untuk kota Jogja. Kali ini kita akan membahas tentang bagaimana hari jadi  Kota Jogja ditetapkan?

    Mengutip situs Pemkot Jogja, hari jadi kota Jogja yang diperingati setiap tanggal 7 Oktober berasal dari Perjanjian Gianti yang diteken pada 13 Februari 1755 atau pada masa penjajahan Belanda.

    Bisa dikatakan, lahirnya kota Jogja tak lepas dari politik pecah belah penjajah Belanda kala itu.

    Baca: Jalan Malioboro ditataulang sesuai posisi dan maknanya dalam sumbu filosofi kota Jogja

    Isi Perjanjian Gianti menyatakan Negara Mataram dibagi dua, yaitu keraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kesultanan yang menjadi hak Pangeran Mangkubumi yang selanjutnya menjadi cikal bakal kraton Yogyakarta.

    Selanjutnya Pangeran Mangkubumi mendapatkan gelar Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah atau Hamengku Buwono 

    Kala itu Sultan Hamengku Buwono akhirnya menetapkan ibukota dan pusat pemerintahan di hutan yang disebut Beringin yang telah memiliki desa kecil bernama Pachetokan.

    Di desa ini ada pesanggrahan yang bernama Garjitowati, yang dibuat Susuhunan Paku Buwono II dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya.

    Baca: Mengenal asal muasal Kota Manado

    Peresmian istana baru atau keraton di Ayodya itu terjadi pada 7 Oktober 1756. Lantas dari mana nama Yogyakarta?

    Detik.com mengutip situs Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, nama Yogyakarta berasal dari nama Yogya yang kerta. Yogya yang makmur.

    Sementara itu, Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki makna Yogya yang makmur dan yang paling utama.

    Baca: Sejarah panjang kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia

    Sumber lain menyebut nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanksrit Ayodhya dalam epos Ramayana.

    Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).

    Dalam perjalanannya, Jogja pernah menjadi pusat kerajaan baik Kerajaan Mataram (Islam), Kasultanan Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman.

    Seperti itulah asal usul dan makna nama Kota Jogja yang pekan depan akan merayakan hari jadinya yang ke-267. 

     

  • Mengenal Kotagede yang Menjadi Cikal Bakal Kota Jogja

    Mengenal Kotagede yang Menjadi Cikal Bakal Kota Jogja

    7cloud.asia – Beberapa hari lalu, 7cloud.asia telah menuliskan asal usul nama Kota Jogja. Tapi bicara Kota Jogja, kurang afdol jika tidak mengulik Kotagede yang menjadi cikal bakal kota Jogja.

    Nah, buat kamu yang ingin jalan-jalan ke Jogja sempat waktu untuk mampir ke Kotagede yang berada di arah tenggara pusat kota. 

    Ada banyak tempat menarik yang bisa kamu singgahi saat jalan-jalan ke Kotagede. Tapi sebelum itu, mari kita terlebih dahulu menelusuri sejarah Kotagede dan keterkaitannya dengan kota Jogja.

    Sejarah Kotagede sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tepatnya pada abad ke-8, wilayah Mataram (sekarang disebut Jogja/Yogyakarta) merupakan pusat Kerajaan Mataram Hindu yang menguasai seluruh Pulau Jawa.

    Kerajaan ini sangat makmur dan memiliki peradaban yang luar biasa sehingga mampu membangun Candi dengan arsitektur yang megah, seperti Candi Prambanan.

    Baca: Asal muasal nama Kota Jogja

    Dilansir yogyes.com, pada abad ke-10, kerajaan tersebut memindahkan pusat pemerintahannya ke wilayah Jawa Timur. Rakyatnya berbondong-bondong meninggalkan Mataram dan lambat laun wilayah ini kembali menjadi hutan lebat.

    Enam abad kemudian Pulau Jawa kembali berada di bawah kuasa di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang yang berpusat di Solo, Jawa Tengah.

    Sultan Hadiwijaya yang berkuasa saat itu menghadiahkan Alas Mentaok (alas = hutan) yang luas kepada Ki Gede Pemanahan atas keberhasilannya menaklukkan musuh kerajaan.

    Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya lalu pindah ke Alas Mentaok, sebuah hutan yang sebenarnya merupakan bekas Kerajaan Mataram Hindu dahulu.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja

    Desa kecil yang didirikan Ki Gede Pemanahan di hutan itu mulai makmur. Setelah Ki Gede Pemanahan wafat, beliau digantikan oleh putranya yang bergelar Senapati Ingalaga.

    Di bawah kepemimpinan Senapati yang bijaksana desa itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut Kotagede (=kota besar).

    Senapati lalu membangun benteng dalam (cepuri) yang mengelilingi kraton dan benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas kurang lebih 200 ha.

    Sisi luar kedua benteng ini juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai.

     

    Baca: Jalan Malioboro ditataulang sesuai fungsinya dalam sumbu filosofi

    Sementara itu, di Kesultanan Pajang terjadi perebutan takhta setelah Sultan Hadiwijaya wafat. Putra mahkota yang bernama Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri.

    Pangeran Benawa lalu meminta bantuan Senapati karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tidak adil dan merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya Pangiri berhasil ditaklukkan namun nyawanya diampuni oleh Senapati.

    Pangeran Benawa lalu menawarkan takhta Pajang kepada Senapati namun ditolak dengan halus. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat namun ia sempat berpesan agar Pajang dipimpin oleh Senapati.

    Sejak itu Senapati menjadi raja pertama Mataram Islam bergelar Panembahan. Beliau tidak mau memakai gelar Sultan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Istana pemerintahannya terletak di Kotagede.

     

    Baca: Penataan Stasiun Tugu juga dilakukan berdasarkan sumbu filosofi

    Kerajaan Mataram Islam kemudian menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia) dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan raja ke-3, yaitu Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati).

    Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Plered) dan berakhirlah era Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam.

    Dalam perkembangan selanjutnya Kotagede tetap ramai meskipun sudah tidak lagi menjadi ibukota kerajaan.

    Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas.

    Toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng bisa ditemukan di Kotagede.

     

    Baca: Kenali gaya hidup alon-alon waton kelakon ala warga Jogja

    Tata kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan – utara.

    Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14) menyebutkan bahwa pola ini sudah digunakan pada masa itu.

    Pasar tradisional Kotagede yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini.

    Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar Kotagede ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah.

    Bila ingin berkelana di Kotagede, kita bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.

     

  • Jalan-jalan ke Kotagede, Merasakan Tata Kota Jawa di Masa Lalu

    Jalan-jalan ke Kotagede, Merasakan Tata Kota Jawa di Masa Lalu

    7cloud.asia – Kotagede yang menjaid cikal bakal kota Jogja, hingga masih menjadi tujuan wisata yang menarik.

    Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas menjadi tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi. 

    Jalan-jalan ke Kotagede kita akan menemukan toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng yang telah berusia ratusan tahun.

    Di Kotagede kita juga akan menemukan tata kota kerajaan Jawa di masa lalu yang biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan – utara.

    Baca: Mengenal sejarah Kotagede

    Berikut sejumlah tempat yang bisa disambangi saat melancong ke Kotagede: 

    1. Pasar Kotagede

    Pasar tradisional Kotagede yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini.

    Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar Kotagede ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah.

    Bila ingin berkelana di Kotagede, kita bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.

    Baca: Asal muasalh nama Kota Jogja

    2. Kompleks Makam Pendiri Kerajaan

    Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh.

    Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini 24 jam sehari.

    Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam. Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana).

    Pengunjung hanya diperbolehkan masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 – 16.00 WIB.

    Untuk menjaga kehormatan para pendiri Kerajaan Mataram yang dimakamkan di sini, pengunjung dilarang memotret / membawa kamera dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam.

    Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di sini meliputi: Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan keluarganya.

    Baca: makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja

    3. Masjid Kotagede

    Berkelana ke Kotagede tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, masjid tertua di Yogyakarta yang masih berada di kompleks makam.

    Setelah itu tak ada salahnya untuk berjalan kaki menyusuri lorong sempit di balik tembok yang mengelilingi kompleks makam untuk melihat arsitekturnya secara utuh dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kotagede.

    4. Rumah Tradisional
    Persis di seberang jalan dari depan kompleks makam, kita bisa melihat sebuah rumah tradisional Jawa.

    Namun bila mau berjalan 50 meter ke arah selatan, kita akan melihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang yang bertuliskan “cagar budaya”.

    Masuklah ke dalam, di sana kita akan melihat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih terawat baik dan benar-benar berfungsi sebagai rumah tinggal.

    Baca: UNESCO akui sumbu filosofi sebagai warisan dunia

    5. Kedhaton
    Berjalan ke selatan sedikit lagi, Anda akan melihat 3 Pohon Beringin berada tepat di tengah jalan.

    Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan “watu gilang”, sebuah batu hitam berbentuk bujur sangkar yang permukaannya terdapat tulisan yang disusun membentuk lingkaran: ITA MOVENTUR MUNDU S – AINSI VA LE MONDE – Z00 GAAT DE WERELD – COSI VAN IL MONDO.

    Di luar lingkaran itu terdapat tulisan AD ATERN AM MEMORIAM INFELICS – IN FORTUNA CONSOERTES DIGNI VALETE QUIDSTPERIS INSANI VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMNITE VOS CONSTEMTU – IGM (In Glorium Maximam).

    Entah apa maksudnya, barangkali Anda bisa mengartikannya untuk kami?

    Dalam bangunan itu juga terdapat “watu cantheng”, tiga bola yang terbuat dari batu berwarna kekuning-kuningan.

    Masyarakat setempat menduga bahwa “bola” batu itu adalah mainan putra Panembahan Senapati. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa benda itu sebenarnya merupakan peluru meriam kuno.

    Baca: Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam sumbu filosofi kota Jogja

    6. Reruntuhan Benteng
    Panembahan Senopati membangun benteng dalam (cepuri) lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling kraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Reruntuhan benteng yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara.

    Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.

    Berjalan-jalan menyusuri Kotagede akan memperkaya wawasan sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Pulau Jawa.

    Selain itu, kita juga bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh.

    Berbeda dengan kawasan wisata lain, penduduk setempat memiliki keramahan khas Jawa, santun, dan tidak terlalu komersil.

    Di Kotagede, kita takkan diganggu pedagang asongan yang suka memaksa. Ini memang sedikit mengejutkan, atau lebih tepatnya menyenangkan.