Tag: perempuan

  • Hari Perempuan Internasional Dirayakan Tiap Tahun, Tapi Masalah Perempuan Tak Kunjung Usai

    Hari Perempuan Internasional Dirayakan Tiap Tahun, Tapi Masalah Perempuan Tak Kunjung Usai

    7cloud.asia – Masih banyak masalah tentang perempuan yang belum terselesaikan hingga kini. Meski setiap tahun masalah dan isu tentang perempuan selalu disuarakan pada perayaan Hari Perempuan Internasional.

    Hal ini diungkapkan oleh Dosen Hubungan Internasional Universitas Andalas, Putriviola Elian Nasir dalam diskusi memperingati Hari Perempuan Internasional “Invest in Women: Accelerate Progress”.

    “Itulah mengapa kita harus merayakan hari spesifik dalam setahun untuk isu spesifik dan masalah-masalah yang belum terselesaikan,” kata perempuan yang akrab disapa Viola ini.

    Baca: Aksi hari perempuan sedunia di depan istana

    Melansir Antaranews, ada suku dengan garis keturunan ibu terbesar di Indonesia, yaitu Minangkabau. Tetapi hal ini bukan berarti terjadi kesetaraan gender.

    Meski demikian suku Minangkabau memiliki nilai-nilai yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya untuk kesetaraan gender.

    Perempuan dalam suku Minangkabau sangat dihargai. Mereka memiliki perkumpulan perempuan sepuh “Bundo Kanduang” yang menjadi pengambil keputusan untuk keluarga dan sukunya.

    “Jadi kalau kita lihat dan selaraskan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, maka tidak boleh ada masalah diskriminasi, kekerasan terhadap perempuan. Tidak boleh ada masalah ekonomi bagi perempuan Minangkabau, dan perempuan Minangkabau harusnya bisa duduk di parlemen,” jelas peneliti yang berfokus pada studi gender tersebut.

    Baca: Sulitnya perempuan masuk parlemen

    Selanjutnya Viola menjelaskan jika dengan jumlah populasi perempuan dunia sebanyak 50 persen, tidak ada satu pun tujuan dalam SDGs yang tercapai, maka budaya patriarki menjadikan kondisi itu dua kali lebih buruk.

    Kami, ujarnya, sudah memiliki nilai-nilai inti, dan itulah yang harus dilakukan, dan kemudian menghubungkannya dengan hubungan internasional, itu adalah level yang lain.

    “Makanya saya ingin melihat aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, yang mampu mendorong untuk menghasilkan kualitas, dan juga melihat sistemnya,” terangnya.

    Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Urusan Politik Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, Timor El-Dardiry juga mengatakan Kebijakan Luar Negeri Feminis Belanda kini memberikan fokus lebih pada perihal sumber daya.

    Baca: Mimbar demokrasi perempuan kritik penyalahgunaan kekuasaan oleh Jokowi

    “Kami ingin meningkatkan kesadaran tentang sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai kesetaraan gender,” kata El-Dardiry.

    Saat ini, lanjut El-Dardiry, perlu peningkatan dukungan keuangan diperlukan untuk mencapai kesetaraan gender.

    UN Women menggambarkan bahwa terdapat defisit dana sebesar 360 miliar dolar AS setiap tahunnya untuk upaya kesetaraan gender.

    “Ini merupakan investasi besar yang masih harus dilakukan. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Kita membutuhkan kesetaraan gender untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Itu sebabnya saya menggambarkannya sebagai investasi,” paparnya.

    Baca: KPPS di 7 TPS ini perempuan semua

    Sebab, jika ada kesetaraan di pasar tenaga kerja, produk domestik bruto (PDB) global akan tumbuh sebesar 26 persen. Pertumbuhan kemakmuran seperti itu akan mengakhiri kemiskinan di sebagian besar dunia.

    “Itu sebabnya kita perlu berinvestasi pada perempuan untuk mencapai kesetaraan gender dan menciptakan dunia yang lebih adil dan sejahtera. Ini tentang keadilan, tapi juga tentang pengentasan kemiskinan dan pencapaian kesejahteraan,” urainya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Bertemu Ketua Majelis Nasional Prancis, Puan Maharani Singgung Upah Pekerja Perempuan yang Lebih Rendah

    Bertemu Ketua Majelis Nasional Prancis, Puan Maharani Singgung Upah Pekerja Perempuan yang Lebih Rendah

    7cloud.asia– Dalam lawatannya ke Paris Prancis, Ketua DPR Puan Maharani bertemu dengan Ketua Majelis Nasional Prancis, Madame Yaël Braun-Pivet.

    Pertemuan bilateral ini dilakukan Puan dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketua Parlemen perempuan dunia atau Women Speakers’ Summit 2024 yang diselenggarakan di Prancis.

    Pertemuan Puan Maharani dengan Madame Yaël Braun-Pivet berlangsung di Palais Bourbon, gedung parlemen Prancis yang berada di Paris, Selasa (5/3/2024).

    Dalam pembicaraan dua arah ini Puan Maharani mempertanyakan, mengapa ada perbedaan gaji bagi perempuan dan laki-laki di Prancis.

    Yaël Braun-Pivet mengakui tentang hal tersebut dan menjelaskan perbedaan gaji perempuan 25 persen lebih sedikit dibanding bagi pekerja laki-laki.

    “Namun hal ini karena durasi kerja dari pemberi kerja yang lebih sedikit bagi perempuan dibanding laki-laki. Dengan masa kerja sama, perbedaannya 15 persen. Untuk posisi pekerja penuh waktu, ada perbedaan sekitar 4 persen,” paparnya.

    Baca: Macan itu bernama Luluk Hamidah

    Yaël Braun-Pivet juga mengakui masih kurangnya akses perempuan di Prancis untuk menduduki jabatan-jabatan penting.

    “Secara prinsip memang sudah ada kesamaan hak antara laki-laki dan Perempuan, namun untuk kesempatan yang riil masih perlu waktu,” aku Yaël Braun-Pivet.

    Puan mengatakan, perjuangan untuk adanya kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan masih belum selesai sehingga perlu untuk terus diperjuangkan.

    Setali tiga uang, Yaël Braun-Pivet sependapat dan menyatakan Indonesia sangat berperan dalam mendorong pemberdayaan perempuan di ASEAN.

    “Indonesia aktif membahas isu perempuan di AIPA 2023, di bawah kepemimpinan Ibu Puan Maharani. Indonesia juga aktif pada isu perempuan di Afghanistan dan di tingkat global, Indonesia berperan untuk mendorong hal ini,” kata Pivet.

    Baca: Di Hari Perempuan Internasional aktivis geruduk Istana desak Jokowi diadili karena telah merusak demokrasi

    Dalam kesempatan itu, Puan mengundang Ketua Majelis Nasional Prancis untuk hadir dalam agenda Parliamentary Meeting pada the World Water Forum (WWF) ke-10 yang akan digelar di Bali pada 19-21 Mei mendatang.

    WWF merupakan pertemuan utama parlemen di tingkat global yang membahas isu air dan sanitasi, terutama dalam menghadapi kelangkaan pasokan air bersih. 

    “Parlemen harus berkontribusi mengatasi isu pasokan air bersih dan sanitasi, dan dalam mencapai targer SDG 6. Saya ingin mengundang ibu Presiden Majelis Nasional Perancis untuk menghadiri acara tersebut,” ujarnya

    Pada pertemuan tersebut Puan juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya Women Speakers’ Summit 2024 yang merupakan inisiatif dari Parlemen Prancis.

    “Selamat Siang, bonjour, terima kasih atas kesempatan pertemuan pada siang hari ini. Saya juga ingin sampaikan ucapan selamat kepada Majelis Nasional Prancis atas inisiatif mengadakan Women Speakers’ Summit 2024,” kata Puan dalam kesempatan tersebut.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat surat-suratnya

    Menurut Puan, KTT Ketua Parlemen perempuan yang membahas tentang isu-isu perempuan tersebut sangat penting di saat dunia tengah mengalami berbagai krisis.

    Dengan berbagai pengalaman dan gagasan, para pimpinan parlemen perempuan dapat memperkuat kerja sama dalam mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

    “Sebagai sesama pemimpin perempuan, kita harus mengupayakan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.Kita merasakan tidak mudah untuk menjadi pemimpin di dunia politik,” tutur Puan.

    Ditambahkannya,  Puan, Women Speakers’ Summit dapat mempercepat pencapaian tujuan sesuai target SDGs atau Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) dalam hal kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

    Sumber: dpr.go.id

  • Hadir di Women Speakers’ Summit 2024, Puan Maharani Ajak Parlemen Perempuan Dunia Advokasi Hak Perempuan

    Hadir di Women Speakers’ Summit 2024, Puan Maharani Ajak Parlemen Perempuan Dunia Advokasi Hak Perempuan

    7cloud.asia – Ketua DPR Puan Maharani menyoroti tentang berbagai konflik di belahan dunia, di mana perempuan menjadi pihak paling terdampak.

    Hal ini diungkapkan Puan Maharani saat menghadiri diskusi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketua Parlemen perempuan dunia atau Women Speakers‘ Summit 2024 yang diselenggarakan di Prancis. 

    Ia khawatir konflik telah menjadi new normal. Padahal dalam situasi konflik, perempuan merupakan pihak yang paling terdampak.

    Perempuan tidak hanya menjadi korban perang tapi juga berada dalam situasi paling rentan.

     “Remaja perempuan mengalami learningloss akibat rusaknya sekolah-sekolah dan terhentinya kegiatan belajar, seperti di Gaza dan Ukraina,” ujar Puan seperti dikutip Parlementaria pada Jumat (8/3/2024).

    Baca: Hari Perempuan Internasional tuntut Jokowi diadili 

    Terbatasnya pendidikan formal, ujar Puan Maharani, juga terjadi diberbagai wilayah yang mengalami konflik internal seperti di Myanmar, dan Sudan

    Puan Maharani juga menyebut perempuan seringkali menjadi objek perdagangan manusia dan korban kekerasan akibat konflik.

    Menurutnya, dalam kondisi konflik, hak-hak perempuan terhadap kesehatan juga semakin terabaikan.

    “Untuk mengatasi hal ini, kita sebagai pemimpin perempuan harus mengambil tindakan konkret. Sebagai ketua parlemen perempuan, kita harus berkontribusi dalam upaya mengakhiri konflik dan menciptakan perdamaian,” ucap Puan.

    Baca: Hari perempuan internasional diperingati setiap tahun, tapi masalah perempuan tak kunjung rampung 

    Untuk itu, Ia mendorong agar anggota parlemen perempuan di seluruh dunia mengembangkan budaya damai dan toleransi.

    Puan juga menyuarakan pentingnya penolakan terhadap cara-cara kekerasan dalam penyelesaian perbedaan.

    “Parlemen harus berkontribusi menjamin terpenuhinya hak perempuan terhadap pendidikan, mendapat akses terhadap kesehatan, dan menolak berbagai kekerasan kepada perempuan,” tegasnya.

    Kepada forum, Puan juga menyatakan pentingnya negara memberikan akses penuh terhadap kesehatan dan pendidikan bagi perempuan. Hal itu dinilai menjadi kunci agar negara menjadi lebih sejahtera.

    Baca: Sulitnya perempuan masuk parlemen

    Ia menegsakan, berkembang dan majunya suatu negara juga tergantung kemajuan para perempuan.

    Karena itu, Puan Maharani mengajak para ketua parlemen yang hadir hari ini untuk bekerja bersama mendorong kemajuan perempuan di negara kita masing-masing.

    ”Dengan demikian, kita membantu para perempuan mencapai cita-citanya, untuk memiliki kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya. 

  • Mencari Produk Menstruasi Perempuan yang Ramah Lingkungan

    Mencari Produk Menstruasi Perempuan yang Ramah Lingkungan

    7cloud.asia –  Hampir 50 persen populasi dunia adalah perempuan, yang sebagian besar di antaranya mengalami menstruasi dalam hidup mereka.

    Tampon dan pembalut lantas menjadi produk yang sangat dekat dengan perempuan saat mereka menstruasi yang  datang hampir setiap bulan

    Namun, dalam perkembangannya produk tampon dan pembalut yang sangat membantu perempuan saat menstruasi ini disebut sebagai salah satu sumber sampah terbesar di planet Bumi.

    Pembalut dinilai tidak ramah lingkungan karena bersifat sekali pakai dan 55 hingga 65 persen pembalut terbuat dari plastik yang tidak bisa diurai.

    Padahal rata-rata seorang perempuan menghabiskan 11.000 hingga 17.000 pembalut selama hidupnya, yang semua itu akan dibuang ke alam dan mencemari lingkungan.

    Selain pembalut, perempuan juga mengenal tampon saat menstruasi. Nah, untuk yang terakhir ini, diyakini sudah ada sejak ribuan tahun silam.

    Baca: Ajakan untuk beralih ke pembalut kain yang lebih ramah lingkungan

    Dilansir wikipedia, tampon terbuat dari berbagai macam bahan seperti papyrus lunak(Mesir), wol (Romawi), kertas (Jepang)  ataupun pakis dan rerumputan (Hawaii).

    Saat ini sebagian besar tampon terbuat dari kapas atau kain kasa. Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, pada 8 Maret 2024 lalu perusahaan rintisan Jerman mempromosikan produk menstruasi berkelanjutan.

    Tampon ini dapat terurai secara hayati, terbuat dari serat yang berasal dari rumput laut, lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan produk lain di pasaran. Benarkah demikian?

    Adalah VYLD, sebuah perusahaan rintisan di Jerman mengatasi masalah ini dengan mengembangkan tampon yang terbuat dari rumput laut.

    Perusahaan yang didirikan pada tahun 2021 di Berlin, memulai misi untuk menghasilkan produk inovatif dan ramah lingkungan yang terbuat dari rumput laut. Misi itu itu dimulai dengan tampon.

    Baca: Tampon ramah lingkungan berbahan rumput laut

    Salah seorang pendiri VYLD, Ines Schiller, mengatakan, “Visi jangka panjang kami sebenarnya adalah algaeverse, atau alam semesta yang diwarnai produk berkelanjutan berbahan dasar rumput laut. Dan ide keberlanjutan adalah hal yang sangat penting.”

    Menurut sekitar 100 perempuan yang ikut serta dalam uji coba tampon rumput laut ini, berbeda dengan tampon yang terbuat dari katun dan seringkali membutuhkan pembungkus plastik untuk dipasang ke dalam vagina.

    Sedangkan tampon rumput laut pada dasarnya sedikit berlendir dan masih sangat halus ketika dibuat menjadi serat sehingga tidak memerlukan aplikator.

    Meskipun demikian penutup tampon masih terbuat dari plastik. Sebagian staf mengatakan mereka sedang mempersiapkan alternatif produk yang dapat terurai, yang juga berasal dari rumput laut.

    FORSA, sebuah lembaga penelitian yang melakukan kajian empiris tentang hal ini, diketahui bahwa 71 persen perempuan haid menggunakan tampon sekali pakai dan hanya 4 persen yang menggunakan tampon organik.

    Baca: Thrifting, cara anak muda bergaya dengan cara yang lebih ramah lingkungan

    Sebanyak 41 persen peserta penelitian itu mengatakan mereka siap memilih produk menstruasi yang dapat digunakan kembali, tetapi mengalami kesulitan untuk memutuskan produk mana yang paling cocok.

    Melanie Schiller dari Vyld mengatakan spons produk menstruasi sering kali terbuat dari spons laut dan karenanya tidak vegan.

    Ia mengatakan, ketika orang memperhatikan produk menstruasi dari spons dan kemudian berbicara tentang alam, spons adalah makhluk hidup, spons adalah hewan, dan sangat penting bagi kami untuk memproduksi produk vegan.

    Produk alami lainnya adalah kapas organik. Tetapi di sini, kami juga memiliki kain berbasis tanah yang perlu diputihkan.

    “Untuk memproduksi kapas dibutuhkan banyak air dan juga pestisida, tetapi kami dapat memproduksi tanpa pestisida,” jelasnya dilansir VOA Indonesia.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Puan Maharani Didapuk Menjadi Duta IPU untuk Promosi Kepemimpinan Perempuan di Parlemen

    Puan Maharani Didapuk Menjadi Duta IPU untuk Promosi Kepemimpinan Perempuan di Parlemen

    7cloud.asia –  Ketua DPR Puan Maharani diminta Presiden Inter-Parliamentary Union (IPU), Tulia Ackson menjadi IPU Ambassador for promotion of women leadership (in parliament) atau Duta IPU untuk promosi kepemimpinan perempuan di parlemen.

    Permintaan itu disampaikan di sela bilateral meeting antara Puan dan Tulia Ackson di sela-sela The 148th IPU Assembly yang berlangsung di Jenewa, Swiss. Sabtu (23/3/2024).

    Saat bertemu Presiden IPU, Puan didampingi oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris, Wakil Ketua Komisi X DPR Agustina Wilujeng Pramestuti, dan Wakil Tetap di Jenewa Duta Besar Febrian Ruddyard.

    Dalam pertemuan itu, Tulia Ackson yang merupakan perempuan ketiga pemimpin IPU mengaku terkesan dengan kepemimpinan Puan sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR.

    Oleh karenanya, ia meminta Puan untuk menjadi IPU Ambassador for promotion of women leadership (in parliament).

    “Sebagai tugas, IPU meminta Ibu Ketua (Puan) mewakili IPU untuk berkunjung ke negara-negara dengan tingkat kepemimpinan politik perempuan yang masih rendah,” kata Tulia Ackson dikutip Parlementaria.

    Baca: Puan Maharani ajak parlemen dunia advokasi hak-hak perempuan

    “Hal itu dilakukan sebagai kampanye peningkatan kesadaran pentingnya keterwakilan perempuan dalam proses pembuatan keputusan,” lanjutnya.

    Puan pun berterima kasih atas penunjukan dari IPU tersebut. Ia menyatakan siap mengemban tugas dengan baik demi mencapai tujuan peningkatan kepempimpinan politik perempuan di dunia.  

    Sebaliknya, Puan menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Tulia Ackson sebagai Presiden IPU yang ke-31 pada IPU Assembly ke-147 di Angola, Oktober 2023 lalu. 

    “Keberhasilan ini mencerminkan pencapaian luar biasa, di mana ibu menjadi perempuan ketiga yang memimpin IPU, sekaligus perempuan pertama mewakili kawasan Afrika yang mengemban amanah ini,” ujar Puan.

    “Hal ini juga menandai langkah signifikan peran perempuan dalam diplomasi parlemen dan kepemimpinan global,” lanjut Ketua Majelis Sidang Umum IPU ke-144 itu.

    Baca: Masalah perempuan diangkat di Hari Perempuan Internasional

    Puan meyakini, kepemimpinan IPU di bawah Tulia Ackson akan membuat IPU menjadi semakin lebih efektif, akuntabel, dan transparan sesuai dengan visi Tulia Ackson.

    Ia juga mengapresiasi komitmen Tulia Ackson yang mendorong kerja sama internasional serta dalam mempromosikan perdamaian dan nilai-nilai demokrasi.

    “Sebagai sesama pemimpin perempuan, tentu kita dapat bekerja sama untuk memperkuat pembahasan isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di tingkat global,” ungkap Puan.

    Puan berharap para pemimpin parlemen perempuan bisa memperkuat komitmen untuk meningkatkan partisipasi perempuan di dunia politik. Puan memastikan DPR siap mendukung isu tersebut.

    “Mewakili Indonesia, saya siap mendukung dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan-tujuan mulia itu,” tegasnya.

    Baca: Perempuan Indonesia masih temui kesulitan untuk bisa terpilih jadi aleg

    Puan menghadiri Forum of Women Parliamentarians yang merupakan konferensi anggota parlemen perempuan IPU. Acara digelar di lokasi yang sama.

    Forum of Women Parliamentarians dihadiri oleh 145 delegasi parlemen berbagai negara. Ada 55 ketua parlemen yang turut menjadi peserta konferensi dari 180 negara anggota IPU.

    Pada forum ini, Puan menyoroti mengenai perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di mana seiring dengan kemajuan teknologi digital, perempuan dan anak perempuan mungkin tertinggal dalam bidang tersebut.

    Perkembangan Kecerdasan Buatan (AI), ujar Puan, tidak hanya memberikan peluang besar bagi kemajuan manusia tetapi juga membawa tantangan yang sangat besar.

    Baca: Pemiskinan perempuan masih terus terjadi

    “Dalam hal ini, saya percaya bahwa AI harus diatur secara komprehensif,” kata Puan saat berbicara di forum.

    Puan menyatakan, perempuan dan anak-anak masih menjadi kelompok yang paling terkena dampak dan paling rentan selama konflik dan perang meskipun ada upaya global untuk pemberdayaan dan kesetaraan perempuan. Hal ini seperti terlihat di Gaza dan Ukraina.

    Sebanyak 67 persen dari korban konflik yang terjadi di Gaza baru-baru ini diketahui merupakan perempuan dan anak-anak. Mereka diserang secara brutal, dibunuh, dan menjadi sasaran pasukan Israel.

    “Ini merupakan peringatan yang menyakitkan bagi komunitas global untuk berinvestasi lebih banyak pada agenda Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan,” terang Puan.

     

     

  • Lebih 1 Juta Anak Perempuan di Afghanistan Dilarang Sekolah

    Lebih 1 Juta Anak Perempuan di Afghanistan Dilarang Sekolah

    7cloud.asia – Anak laki-laki di Afghanistan memulai kegiatan belajar pada tahun ajaran baru, pawa awal Maret atau sekitar satu bulan lalu.

    Namun, anak perempuan di Afghanistan dilarang oleh Taliban yang berkuasa untuk menuntut ilmu setelah lulus dari kelas enam sekolah dasar.

    Afghanistan masih menjadi satu-satunya negara yang membatasi pendidikan untuk anak perempuan.

    Baca: Kelaparan di Gaza semakin kritis

    Badan PBB untuk Urusan Anak-anak (UNICEF) memperkirakan lebih dari satu juta anak perempuan di Afghanistan terkena dampak pelarangan tersebut.

    Sebelum pengambilalihan kembali oleh Taliban pada pertengahan Agustus 2022, diperkirakan ada lima juta anak perempuan yang tidak bersekolah karena kurangnya fasilitas dan sejumlah alasan lainnya.

    Kementerian Pendidikan Taliban menandai dimulainya tahun ajaran baru itu dengan sebuah upacara yang tidak boleh dihadiri oleh wartawan perempuan.

    Baca: Pemerintahan taliban melarang salon di Afghanistan

    Menteri itu juga meminta para siswa untuk tidak mengenakan pakaian yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan Afghanistan.

    Taliban sebelumnya mengatakan anak perempuan yang melanjutkan pendidikan bertentangan dengan interpretasi ketat terhadap hukum Islam, dan bahwa hanya kondisi tertentu yang membuat anak perempuan diizinkan kembali ke sekolah.

    Taliban awalnya menjanjikan aturan yang lebih moderat, tetapi hingga saat ini tidak ada kemajuan berarti yang diambil.

    Baca: Peneliti PBB serukan embargo senjata untuk hentikan genosida di Gaza 

    Setelah berkuasa kembali pasca pengambilailhlan itu, Taliban mengeluarkan serangkaian aturan yang menargetkan perempuan.

    Selain melarang anak perempuan di atas kelas enam SD untuk bersekolah, larangan berada di ruang publik – seperti taman – dan bekerja juga diberlakukan.

    Kondisi saat ini sudah sangat mirip dengan saat Taliban pertama kali memerintah Afghanistan pada tahun 1990-an.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Dear Pemudik Perempuan, Ini Bahayanya Jika Terlalu Lama Menahan Buang Air Kecil

    Dear Pemudik Perempuan, Ini Bahayanya Jika Terlalu Lama Menahan Buang Air Kecil

    7cloud.asia –  Para pemudik, terutama pemudik perempuan diingatkan agar tak menahan buang air kecil atau kencing terlalu lama demi mencegah terkena infeksi saluran kemih (ISK).

    Dokter spesialis urologi dr Ima Nastiti Setyaningsih, Sp.U juga mengingatkan agar pemudik perempuan tidak membatasi minum air putih saat mudik. 

    “Dalam perjalanan tak jarang kita hanya fokus untuk mengejar waktu sampai, hingga mengabaikan kebutuhan dasar seperti mencukupi asupan makanan, cairan, bahkan kebutuhan untuk buang air kecil,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

    Ima mengatakan, ISK terjadi ketika ada bakteri yang masuk ke dalam traktus urinarius melalui uretra dan berkembang biak di dalam kandung kemih.

    Meskipun sistem berkemih dirancang untuk menghambat masuknya bakteri, kadang-kadang mekanisme pertahanan tersebut gagal.

    Baca: Pemudik disarankan istirahat setiap 2-3 jam sekali

    Menurut Ima, kondisi ini sangat mungkin terjadi pada saat kondisi tubuh seseorang sedang tidak “fit”.

    Akibatnya, terjadi infeksi di dalam saluran kemih. Setelah itu dapat muncul keluhan-keluhan berupa desakan untuk berkemih, nyeri saat berkemih, sering berkemih, urine keruh, kemerahan atau berbau dan nyeri panggul.

    Karena itu, demi mencegah ISK, dokter spesialis yang tergabung dalam Ikatan Ahli Urologi Indonesia itu, menyarankan masyarakat khususnya perempuan yang melakukan perjalanan mudik sebaiknya tidak menunda buang air kecil terlalu lama.

    “Meski dalam perjalanan, sempatkanlah beristirahat terlebih dahulu untuk sekadar melakukan peregangan dan buang air kecil,” kata dia.

    Baca: Cuaca ekstrem membayangi masa mudik tahun ini

    Ima mengingatkan masyarakat khususnya para wanita untuk membasuh organ intimnya dari arah depan ke belakang setelah buang air kecil atau buang air besar.

    Hal itu untuk mencegah bakteri dari area anus menyebar ke vagina dan uretra.

    Pencegahan lainnya, yakni minum air putih yang banyak, minimal dua liter sehari. Menurut Ima, perjalanan mudik yang panjang umumnya menyebabkan sebagian orang lupa mencukupi cairan tubuh.

    “Pastikan untuk tetap terhidrasi, meski terkadang tidak merasa haus,” kata dokter spesialis yang berpraktik di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya itu.

    Baca: Demi keselamatan pemudik motor tidak disarankan berjalan pada malam hari

    Ima juga menganjurkan orang-orang minum segelas air putih setelah berhubungan intim lalu mengosongkan kandung kemih untuk membantu menghalau bakteri saat buang air kecil.

    “Hindari pemakaian produk yang berpotensi menyebabkan iritasi di daerah kemaluan seperti bedak, deodoran spray dan lain-lain serta ganti kontrasepsi diafragma dengan jenis kontrasepsi lain,” katanya.

    Menurut data National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse (NKUDIC) 2018, ISK adalah infeksi kedua terbanyak yang dialami masyarakat di Indonesia, setelah infeksi saluran pernapasan.

    Adapun kasus infeksi saluran kemih di Indonesia tercatat mencapai 8,3 juta per tahun.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Mengenang Pemikiran Kartini: Mendidik Perempuan Berarti Mendidik Satu Bangsa

    Mengenang Pemikiran Kartini: Mendidik Perempuan Berarti Mendidik Satu Bangsa

    7cloud.asia – Hari ini, Minggu (21/4/2024) kita kembali merayakan Hari Kartini pejuang emansipasi perempuan Indonesia

    Setiap Hari Kartini dipringati, pemikiran Kartini soal kesetaraan perempuan selalu diangkat.

    Dan, di peringatan Hari Kartini hari ini 7cloud.asia mengajak pembaca untuk sejenak menggali pemikiran Kartini tentang kesetaraan perempuan.

    Salah satu pemikiran Kartini yang banyak dikenal publik adalah bagaimana membuat perempuan maju dan mempunyai kesempatan belajar dan memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki.

    Menurut Kartini, pendidikan bagi perempuan sangat penting, karena mendidik perempuan berarti mendidik bangsa. Dengan kondisi saat itu, di mana pengasuhan anak menjadi tanggung jawab penuh perempuan, maka mendidik perempuan juga mendidik generasi yang akan datang.

    “Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Kepada mereka dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya, pendidikan akan membentuk budi pekertinya,” demkian salah satu kutipan Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan.

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024 Soroti 9 Isu Penting Terkait Perempuan

    Pemikiran Kartini ini tertuang dalam korespondensinya dengan pasangan suami istri Jacques Henrij Abendanon dan sahabatnya Estella yang kemudian dibukukan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

    Dalam surat-suratnya, Kartini menuangkan pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi.

    Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.

    Kartini ingin perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid

    (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

    Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. 

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024: Ketika Partispasi Bermakna Perempuan dan Disabiiitas Diabaikan

    Dalam surat perkenalannya dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa.

    Saat mencari teman korespondensi, Kartini dengan jelas menyebutkan bahwa ia adalah anak perempuan seorang Bupati Jepara di Hindia Belanda (sebutan lama untuk Indonesia).

    Kartini mencari sosok teman perempuan untuk dapat saling surat menyurat dan bertukar pikiran. Teman yang dicarinya harus berasal dari Belanda dan sebaya dengannya.

    Selain itu, sosok yang ia cari juga harus mempunyai kepedulian terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di Eropa. Iklannya tersebut kemudian mendapatkan respon dari Stella. Sejak saat itu, keduanya sering berkirim surat dan saling bertukar pikiran hingga akhir hayat Kartini.

    Salah satu isi surat Kartini kepada Stella yang paling populer adalah keinginannya untuk menemukan teman sesama perempuan yang berpikiran maju.

    “Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri… yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.” (Surat Kartini kepada Stella H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

    Baca Juga: Generasi Muda yang Menunda Menikah di Indoneia Terus Meningkat

    Kartini menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas dan merdeka untuk terus bersekolah.

    Pada usia tertentu, perempuan harus menerima nasib untuk dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia menjadi madu.

    “Tahukah Anda apa yang ada di pikiran perempuan Jawa? Mereka hidup hanya untuk menikah. Tidak peduli menjadi istri ke berapa,” ungkap Kartini pada Abendanon.

    Surat-surat Kartini juga mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi perempuan Jawa bercita-cita menjadi perempuan yang lebih maju.

    Suluh perempuan.org menulis, pemikiran Kartini makin luas dan mendalam saat ia dikenalkan dengan Jacques Henrij Abendanon atau yang lebih dikenal dengan J. H. Abendanon pada 1900.

    Abendanon adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda (Indonesia) yang menjabat sampai tahun 1905. Bersama istrinya, Rosa Manuela, Abendanon mempunyai andil yang cukup besar dalam kehidupan Kartini.

    Baca Juga: Lebih 1 Juta Anak Perempuan di Afghanistan Dilarang Sekolah

    Awalnya, Abendanon ditugaskan Kerajaan Belanda dengan berbagai misi. Salah satu fokusnya saat itu adalah pendidikan perempuan. Lantaran tidak familiar dengan Hindia Belanda, Abendanon pun meminta bantuan Snouck Hourgonje.

    Snouck menyarankan jika Abendanon ingin membahas soal pendidikan perempuan, sebaiknya ia berkenalan dengan anak-anak Bupati Jepara. Mereka adalah Kartini dan kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah.

    “Tahukah Anda apa yang ada di pikiran perempuan Jawa? Mereka hidup hanya untuk menikah. Tidak peduli menjadi istri ke berapa,” ungkap Kartini pada Abendanon.

    Dari situlah tampaknya Abenanon yakin bahwa Kartini adalah perempuan dengan pemikiran hebat dan jauh melampaui zamannya.

    Kartini dan Abendanon dan istrinya, Nyonya Abendanon pun rajin berkorespodensi untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, serta pendapat-pendapatnya mengenai perempuan di Tanah Jawa.

    Kartini bersama adik-adiknya juga rajin mengikuti bimbingan mengenai gagasan etis yang diberikan oleh Nyonya Abendanon di rumahnya.

    Baca Juga: Puan Maharani Didapuk Menjadi Duta IPU untuk Promosi Kepemimpinan Perempuan di Parlemen

    Meski sempat kecewa dengan Nyonya Abendanon karena dinilai menghalangi mimpi Kartini dan adik-adiknya untuk sekolah ke Belanda, Kartini mendapatkan banyak pengetahuan baru yang bisa membuat pikirannya menjadi semakin maju dan berkembang.

    Setelah Kartini wafat, Jacques Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

    Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

    Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk menjadi maju tetap tertutup.

    Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini.

    Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

    Baca Juga: Pemilu 2024: Sulitnya Perempuan Masuk ke Parlemen

    Keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke Eropa, juga terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut.

    Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya.

    Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

    Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah.

    “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

    Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Kartini mulai menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu.

    Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

    Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputera saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

    Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi.

    Bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban demi keinginan ayahnya -mengikuti kehendak patriarki yang selama ini ditentangnya- dan menikah dengan Adipati Rembang.

    Kartini meninggal pada 17 September 1904 dalam usia yang masih sangat muda yakni 25 tahun. Namun jejak pemikiran yang ditinggalkannya masih tetap relevan hingga saat ini dan mungkin nanti.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • Ratu Sultanah Nahrasiyah, Perempuan Pertama yang Memimpin Kerajaan Islam di Nusantara

    Ratu Sultanah Nahrasiyah, Perempuan Pertama yang Memimpin Kerajaan Islam di Nusantara

    7cloud.asia – Meski telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional, nama Ratu Sultanah Nahrasiyah mungkin masih asing bagi telinga orang Indonesia

    Nama Ratu Sultanah Nahrasiyah memang tak sementereng penguasa lainnya seperti Airlangga, Jayabaya, Hayam Wuruk, Raden Patah pun Hamngkubuwono.

    Tetapi sosok Ratu Sultanah Nahrasiyah ini begitu istimewa dalam sejarah pergerakan pemimpin perempuan di Nusantara.

    Ia menjadi satu-satunya raja perempuan dalam sejarah kerajaan Islam di Indonesia. Dan Kiprah Ratu Sultanah Nahrasiyah tak sekadar numpang lewat.

    Ratu Sultanah Nahrasiyah sendiri merupakan penguasa Kesultanan Samudera Pasai yang naik tahta menggantikan ayahnya.

    Namun, ada versi lain yang menyatakan bahwa Nahrasiyah merupakan istri dari sang raja yang meninggal.

    Baca Juga: 16 Perempuan yang Diangkat menjadi Pahlawan Nasional: Tak Hanya Kartini dan Ada Sejumlah Panglima Perang

    Di mana sebelum Ratu Sultanah Nahrasiyah bertahta, kerajaan dijabat oleh Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, yang tak lain ayah kandung dari Sultanah Nahrasiyah.

    Namun saat menjabat sebagai raja itulah sang ayah tewas dibunuh oleh Raja Nakur, sebagaimana dikisahkan pada buku “Perempuan – Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa” dari Krishna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad.

    Catatan Ying Yai Sheng Lan menguatkan bahwa adanya pemimpin perempuan muslim pertama di nusantara. Dimana saat itu Raja Samudera Pasai yang diserang oleh Raja Nakur, tewas setelah terkena panah beracun.

    Sepeninggal Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir inilah Nahrasiyah akhirnya naik tahta. Ia merupakan perempuan pertama di Asia Tenggara yang memerintah sebagai raja.

    Ratu Sultanah Nahrasiyah bertahta dan memimpin Kerajaan Samudera Pasai, selama lebih 20 tahun atau sejak 1405 – 1428 M.

    Baca Juga: Mengenang Pemikiran Kartini: Mendidik Perempuan Berarti Mendidik Satu Bangsa

    Ratu Sultanah Nahrasiyah sudah menggoreskan konsep kesetaraan gender sejak lahirnya kerajaan Islam pertama di Nusantara.

    Dilansir intisari.online, Ratu Sultanah Nahrasiyah berhasil membawa Kerajaan Samudera Pasai ke puncak kejayaannya.

    Dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, adil, cinta damai, dan peduli terhadap rakyatnya.

    Dia juga memiliki sifat keibuan dan penuh kasih sayang, serta selalu memuliakan harkat dan martabat perempuan.

    Salah satu bukti kepemimpinan Sultanah Nahrasiyah yang baik adalah ia berhasil menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga maupun asing.

    Dia menjalin persahabatan dengan Maharaja Cina melalui utusan Cheng Ho yang datang berkunjung ke Samudera Pasai pada tahun 1413 Masehi.

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024: Ketika Partispasi Bermakna Perempuan dan Disabiiitas Diabaikan

    Sultanah juga mengirimkan duta-duta ke India untuk menjalin hubungan dagang dan budaya.

    Cerita lain, pasca kematian sang raja membuat permaisurinya konon menyatakan sumpah di depan rakyatnya bahwa siapa yang dapat menuntut balas atas kematian suaminya, ia akan menikahinya dan bersedia untuk bersama-sama memerintah Kerajaan Samudera Pasai.

    Muncullah seorang Panglima Laot, pejabat kerajaan yang ditugaskan untuk mengurus perikanan yang menyatakan kesanggupannya untuk mengemban amanah.

    Berangkatlah ia bersama bala tentara Samudera Pasai untuk berperang melawan Raja Nakur.

    Pada peperangan itu, pasukan Raja Nakur berhasil dikalahkan dan menyerah. Bahkan sang raja berjanji tidak akan melakukan permusuhan terhadap Kerajaan Samudera Pasai.

    Baca Juga: Puan Maharani Didapuk Menjadi Duta IPU untuk Promosi Kepemimpinan Perempuan di Parlemen

    Sebagai pemimpin sejati pun, Sultanah Nahrasiyah menepati janjinya dan menikahi Panglima Laot.

    Pada tahun 1409, karena sadar akan kewibawaannya, suami Sultanah Nahrasiyah mengantar upeti kepada raja China Ch’engestu yang terdiri dari berbagai hasil bumi dan diterima oleh raja Cina.

    Pada tahun 1412, ia kembali ke Samudera Pasai, setibanya di kerajaan putra raja terdahulu yang sudah menginjak dewasa berhasil membunuh ayah tirinya yaitu Panglima Laot.

    Ratu Sultanah Nahrasiyah wafat pada 17 Dzulhijjah 831 H atau 1428 M. Pada makamnya terukir surat Yasin dengan kaligrafi indah dan ayat kursi yang termaktub dalam surat Al-Baqarah.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

     

  • 16 Perempuan yang Diangkat menjadi Pahlawan Nasional: Tak Hanya Kartini dan Ada Sejumlah Panglima Perang

    16 Perempuan yang Diangkat menjadi Pahlawan Nasional: Tak Hanya Kartini dan Ada Sejumlah Panglima Perang

    7cloud.asia – Di Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April seperti hari ini, sebuah pertanyaan menarik terlontar di grup alumni.

    “Sejauh mana perjuangan Kartini mampu mempengaruhi pola pikir perempuan saat itu, sehingga mendorong gerakan kesetaraan di masa penjajahan tersebut?““demikian“pertanyaan“tersebut.

    Pelontar pertanyaan beralasan, meski jauh ke depan, pemikiran Kartini hanya dituangkan dalam surat-suratnya kepada JH Abendanon dan tidak dipublikasikan secara luas.

    Pun, belum ada kajian yang menyebutkan Kartini mensosialisasikan pemikirannya secara masif kepada masyarakat luas.

    “Atau pemikiran Kartini sebenarnya hanya menentang sistem feodalistik di Jawa yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Sebab, di luar Jawa ada banyak perempuan yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda,“ lanjutnya.

    Pertanyaan ini lantas memicu diskusi seru yang memunculkan nama-nama pahlawan perempuan di Indonesia yang sudah muncul sebelum era Kartini lahir.

    Baca Juga: Mengenang Pemikiran Kartini: Mendidik Perempuan Berarti Mendidik Satu Bangsa

    Saya pun tergelitik untuk mencari nama perempuan yang telah dinobatkan menjadi pahlawan nasional. 

    Berikut ini daftar pahlawan nasional perempuan di Indonesia seperti ditulis Fandi Ahmad di Gramed.com

    1. Martha Christina Tiahahu dari Maluku
    Martha Christina Tiahahu, pejuang dari Desa Abubu, Pulau Nusalaut yang lahir pada tanggal 4 Januari 1800. Waktu masih berusia 17 tahun, ia sudah berani mengangkat senjata melawan penjajah Belanda.

    Tak hanya itu, Martha Christina Tiahahu juga selalu memberi semangat pada kaum perempuan untuk membantu laki-laki di medan pertempuran.

    Sedihnya, sang ayah, Kapitan Paulus Tiahahu dijatuhi hukuman mati oleh Belanda. Sepeninggal ayahnya, kesehatan fisik dan mentalnya terganggu. Lalu, ia tertangkap bersama 39 orang lainnya dan dibawa ke Pulau Jawa dengan kapal Eversten untuk dipekerjakan paksa di perkebunan kopi.

    Namun, kondisi kesehatan Martha Christina Tiahahu memburuk selama di atas kapal. Hal ini diperparah oleh dirinya yang menolak makan dan diobati. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 2 Januari 1818 dan disemayamkan dengan penghormatan militer ke Laut Banda.

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024 Soroti 9 Isu Penting Terkait Perempuan

    2. Laksamana Malahayati – Aceh
    Keumalahayati, pejuang asal Kesultanan Aceh yang lahir di Aceh Besar pada tahun 1550. Perempuan tangguh ini memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid).

    Dengan keteguhan hati, mereka berperang melawan kapal dan benteng Belanda sekaligus membunuh Cornelis de Houtman. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 11 September 1599. Berkat keberaniannya, maka Malahayati mendapat gelar Laksamana.

    Namun, Malahayati gugur di tahun 1615 ketika sedang melindungi Teluk Krueng Raya dari serangan Portugis yang dipimpin oleh Laksamana Alfonso De Castro.

    3. Cut Nyak Meutia – Aceh
    Bumi rencong melahirkan banyak perempuan pejuang yang tangguh, salah satunya adalah Cut Nyak Meutia. Awalnya, ia melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan suaminya, Teuku Muhammad.

    Tetapi, suaminya berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati pada tahun 1905. Sesuai wasiat suaminya sebelum gugur, Cut Nyak Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe.

    Mereka bertempur dengan Korps Marechausée dan membuat suaminya gugur pada 26 September 1910, tetapi Cut Nyak Meutia berhasil lolos.

    Ia terus melakukan perlawanan dengan sisa-sisa pasukannya, tetapi takdir berkata lain. Cut Nyak Meutia gugur pada 24 Oktober 1910.

    Baca Juga: Benarkah Hamil Sebeum Usia 35 Tahun Bisa Mencegah Stunting?

    4. Raden Adjeng Kartini – Jepara, Jawa Tengah
    R.A Kartini merupakan tokoh perempuan yang lahir Jepara pada tahun 1879. R.A Kartini terkenal sebagai sosok yang memperjuangkan kebangkitan perempuan di Indonesia.

    Ketika itu, ia banyak mengkritisi budaya Jawa yang menghambat perkembangan perempuan.

    Melalui surat-suratnya, ia memberikan gagasan-gagasan terkait dengan perjuangan perempuan yang masih relevn hingga saat ini.

    Bahkan, tanggal kelahiran Kartini, yaitu 21 April hingga saat ini ditetapkan sebagai hari peringatan perjuangan Kartini atau dikenal dengan Hari Kartini.

    5. Cut Nyak Dien – Aceh
    Cut Nyak Dien adalah pahlawan nasional perempuan lainnya di Indonesia. Cut Nyak Dien lahir di Lampadang Kerajaan Aceh.

    Sebagai seorang perempuan, Cut Nyak Dien berperan dalam melawan kolonialisme Belanda. Bahkan, Cut Nyak Dien ikut ke dalam medan perang melawan Belanda.

    6. Dewi Sartika dari Jawa Barat
    Selain Maria Walanda Maramis, ada juga Raden Dewi Sartika yang peduli dengan pendidikan kaum perempuan. Jasanya adalah membuat sekolah bernama Sekolah Istri di Pendopo pada 16 Januari 1904.

    Lalu, sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Istri di tahun 1910 dan berubah lagi menjadi Sekolah Raden Dewi pada September 1929.

    Berkat jasanya dalam memperjuangkan pendidikan, Dewi Sartika dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau. Selain itu, ia juga diakui sebagai Pahlawan Nasional pada 1 Desember 1966. Dewi Sartika meninggal pada 11 September 1947.

    Baca Juga: Munas Perempuan 2024: Ketika Partispasi Bermakna Perempuan dan Disabiiitas Diabaikan

     7. Andi Depu Maraddia Balanipa -Tinambung, Polewali Mandar, Sulbar
    Andi Depu Maraddia Balanipa dikenal karena keberhasilannya dalam mempertahankan wilayahnya dari penaklukan Belanda.

    Bahkan, Andi Depu berani berhasil mengibarkan bendera Merah Putih saat pasukan Jepang datang di Mandar pada tahun 1942. Berkat keberaniannya, Andi Depu dianugerahi Bintang Mahaputra Tingkat IV dari Presiden Soekarno.

    Selain itu, Presiden Joko Widodo juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada Andi Depu dan 5 tokoh bangsa lainnya. Ini tertuang di Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

    8. Maria Walanda Maramis – Minahasa, Sulut
    Tidak salah kalau Maria Walanda Maramis dijuluki sebagai Kartini dari Minahasa. Sebab, pahlawan kelahiran 1 Desember 1872 ini berupaya membebaskan perempuan dari keterbelakangan pendidikan.

    Maria sendiri sempat bersekolah di Sekolah Melayu di Maumbi, Minahasa Utara, selama tiga tahun dan tak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

    Kemudian, Maria mendirikan organisasi bernama Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) untuk memajukan pendidikan kaum perempuan.

    Lewat PIKAT, kaum perempuan dibekali ilmu untuk berumah tangga, seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan lainnya. Maria terus aktif di PIKAT hingga kematiannya pada 22 April 1924.

    Baca Juga: Puan Maharani Didapuk Menjadi Duta IPU untuk Promosi Kepemimpinan Perempuan di Parlemen

    9. Siti Manggopoh – Manggopoh, Agam, Sumatera Barat
    Siti Manggopoh lahir pada bulan Mei 1880. Siti Manggopoh adalah seorang pejuang perempuan dari Manggopoh, Lubuk Basung, Agam.

    Ia pernah mengobarkan perlawanannya terhadap penjajah Belanda dalam perang yang dikenal sebagai Perang Belasting

    10. HR. Rasuna Said – Maninjau, Agam, Sumatera Barat

    Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau lebih dikenal dengan nama Rasuna Said. Perannya adalah memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, sama seperti Kartini.

    Menurutnya, kemajuan kaum perempuan tidak hanya didapat dari mendirikan sekolah, tetapi juga melakukan perjuangan politik.

    Berkat pidatonya yang mengecam pemerintahan Belanda, maka ia terkena hukum Speek Delict. Hukum Speek Delict adalah hukum kolonial Belanda untuk orang yang berbicara menentang Belanda.

    Ia sempat tertangkap bersama temannya, Rasimah Ismail, dan dipenjara di Semarang pada tahun 1932.

    Setelah kemerdekaan, Rasuna Said aktif di Dewan Perwakilan Sumatera mewakili Sumatera Barat dan sempat diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS).

    Baca Juga: Pemilu 2024: Sulitnya Perempuan Masuk ke Parlemen

    11. Fatmawati Soekarno dari Bengkulu

    Fatmawati merupakan salah satu sosok perempuan yang didadpuk menjadi pahlawan nasional. Beliau adalah ibu negara pertama di Indonesia karena statusnya sebagai istri dari Presiden Soekarno.

    Fatmawati berasal dari Sumatera Barat dan memiliki keturunan dari Kesultanan Indrapura.

    Salah satu alasan gelar pahlawan diberikan kepada Fatmawati karena perannya dalam menjahit bendera merah putih untuk upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

    12. Nyi Ageng Serang – Purwodadi, Jawa Tengah

    Perempuan bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi ini adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga.

    Perempuan kelahiran tahun 1752 merupakan anak dari Pangeran Natapraja dan melawan penjajah bersama ayah dan kakaknya, Kyai Ageng Serang.

    Semangatnya yang sangat berkobar untuk membela rakyat yang dipicu oleh kematian kakaknya karena membela Pangeran Mangkubumi melawan Pakubuwono I yang dibantu Belanda.

    Bahkan, ia tak pantang menyerah walau ayah, kakak, dan suaminya telah gugur. Selain itu, Nyi Ageng Serang tetap memimpin pasukan di usia 73 tahun.

    Bahkan, Pangeran Diponegoro mengakui kehebatan Nyi Ageng Serang dalam menyusun strategi, hingga dipercaya menjadi salah satu penasihatnya. Namun, dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir, Nyi Ageng Serang meninggal dunia di usia 76 tahun akibat wabah penyakit malaria.

    Baca Juga: Koalisi Perempuan: Hapus Interprestasi Agama yang Mendiskriminasi Perempuan

    13. Opu Daeng Risadju dari Sulawesi Selatan

    Opu Daeng Risaju adalah pahlawan perempuan yang lahir tahun 1880. Peran Opu Daeng Risaju dalam perlawanan terhadap tentara NICA di Belopa sangatlah besar.

    Opu Daeng Risaju membangkitkan dan memobilisasi para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap tentara NICA. Tentara NICA adalah tentara dari penjajah Belanda.

    14. Nyai Ahmad Dahlan dari Yogyakarta

    Lahir dengan nama Siti Walidah, Nyai Ahmad Dahlan merupakan tokoh emansipasi perempuan yang sudah berpartisipasi dalam diskusi perang bersama Jenderal Sudirman dan Presiden Soekarno.

    Selain itu, ia memprakarsai berdirinya perkumpulan Sopo Tresno pada tahun 1914 untuk wanita Islam. Perkumpulan ini fokus pada tiga bidang, yaitu dakwah, pendidikan, dan sosial.

    Bahkan, ia juga mendirikan asrama putri yang dibangun di rumahnya, memberikan pendidikan keimanan, praktek ibadah, sampai berlatih pidato dan dakwah.

    Nyai Ahmad Dahlan terus melakukan perjuangannya setelah suaminya meninggal dunia. Selain itu, ia membina generasi muda, terutama perempuan Islam agar tekun, gigih, dan berpendidikan.

    Baca Juga: Catatan Koalisi Perempuan di Hari Ibu: Nepotisme Berdampak Buruk pada Keadilan Gender

    15. Ratu Nahrasiyah dari Kerajaan Samudera Pasai

    Ratu Sultanah Nahrasiyah mungkin masih asing bagi orang awam. Meskipun namanya tak sementereng penguasa lainnya seperti Airlangga, Jayabaya, Hayam Wuruk, hingga Raden Patah, tetapi sosok ini begitu istimewa dalam sejarah pergerakan pemimpin perempuan di Nusantara.

    Sultanah Nahrasiyah sendiri merupakan penguasa Kesultanan Samudera Pasai yang naik tahta menggantikan ayahnya. Namun, ada versi lain yang menyatakan bahwa Nahrasiyah merupakan istri dari sang raja yang meninggal.

    Dimana sebelum Sultanah Nahrasiyah bertahta, kerajaan dijabat oleh Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, yang tak lain ayah kandung dari Sultanah Nahrasiyah.

    Namun saat menjabat sebagai raja itulah sang ayah tewas dibunuh oleh Raja Nakur, sebagaimana dikisahkan pada buku “Perempuan – Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa” dari Krishna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad.

    16. Rohana Kuddus dari Padang, Sumatera Barat

    Rohana Kuddus adalah wartawati pertama Indonesia yang lahir pada 20 Desember 1884. Pada 1911, Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang.

    Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Rohana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

    Ketika dibredel pemerintah Hindia Belanda, Rohana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

    Rohana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

    17. Siti Hartinah (Ibu Tien Suharto)

    Raden Ayu Hj. Siti Hartinah, atau yang lebih dikenal dengan Ibu Tien Soeharto, adalah istri Presiden keduaIndonesia, Soeharto.

    Ibu Tien Soeharto dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia tak lama setelah kematiannya. Siti Hartinah juga berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia.

    Sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia, ia mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.