Tag: BRIN

  • Task Force BRIN Mulai Petakan Dampak Banjir Sumatera

    Task Force BRIN Mulai Petakan Dampak Banjir Sumatera

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Task Force Supporting Penanggulangan Bencana melakukan survei dan pemetaan wilayah terdampak banjir bandang, dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

    Kegiatan ini bertujuan menghasilkan data spasial yang akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan penanganan bencana, baik pada fase tanggap darurat maupun pemulihan pascabencana banjir Sumatera.

    Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Firman Prawiradisastra, menjelaskan bahwa tim survei dan pemetaan yang diterjunkan ke lapangan saat ini berjumlah enam orang.

    Tim tersebut dilengkapi dua unit Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan sensor LiDAR dan kamera beresolusi tinggi.

    “Tim direncanakan bekerja selama 14 hari di lapangan untuk memastikan data yang dikumpulkan cukup lengkap dan detail,” ujar Firman melalui pesan tertulisnya, Minggu (14/12/2025) sebagaimana dilansir di laman resmi BRIN

    Baca: Korban banjir Sumatera dari Zona Merah khawatirkan masa depan mereka

    Firman menambahkan, survei difokuskan pada pemetaan dampak kerusakan akibat bencana banjir Sumatera secara spasial. Metode ini memungkinkan BRIN memotret kondisi wilayah terdampak secara menyeluruh, termasuk area yang sulit dijangkau dari darat.

    Dalam pelaksanaannya, tim survei BRIN akan bergerak ke sejumlah wilayah di Sumatra Utara, khususnya Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

    Wilayah tersebut dipilih karena mengalami dampak bencana yang cukup signifikan dan membutuhkan pemetaan rinci untuk mendukung proses penanganan dan pemulihan.

    Adapun data yang dikumpulkan meliputi peta wilayah terdampak bencana dengan cakupan area yang luas dan resolusi tinggi.

    Firman menjelaskan bahwa data ini akan digunakan untuk memperkirakan tingkat kerusakan secara detail, mulai dari perubahan bentang alam, area genangan, hingga potensi bahaya lanjutan.

    Baca: Banjir Sumatera adalah cermin kegagalan Negara kendalikan kerusakan lingkungan

    “Dengan data spasial yang rinci, rencana mitigasi dapat disusun secara lebih tepat dan efektif,” katanya.

    Firman berharap data hasil survei yang dikumpulkan tim BRIN dapat memberikan manfaat nyata bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.

    Dalam jangka pendek, data tersebut diharapkan menjadi acuan penting dalam penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana.

    Dalam jangka panjang, ia menegaskan bahwa data spasial hasil survei ini juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana yang lebih komprehensif.

    “Harapan kami, data lapangan ini tidak hanya digunakan untuk merespons bencana saat ini, tetapi juga menjadi referensi penting dalam mengurangi risiko bencana di masa depan,” tutup Firman.

  • Jakarta Waspada, Ada Sesar Aktif yang Dapat Picu Gempa Besar

    Jakarta Waspada, Ada Sesar Aktif yang Dapat Picu Gempa Besar

    7cloud.asia – Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat berpotensi diguncang gempa bumi besar berkedalaman dangkal. Ancaman ini berasal dari aktivitas sesar aktif, termasuk sistem sesar besar yang dikenal sebagai Java Back-arc Thrust.

    Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sonny Aribowo, mengungkapkan bahwa salah satu bagian dari sistem tersebut adalah Sesar Baribis–Kendeng yang membentang di wilayah Jawa Barat hingga mendekati Jakarta.

    “Di Jawa Barat, sesar ini melewati Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang, Purwakarta, Karawang, dan Bekasi. Ada indikasi melalui daerah selatan Jakarta (perbatasan dengan Depok) dan di daerah Bogor,” ungkap Sonny seperti yang dilansir CNBC.

    Baca: Mengenal 16 Titik Megathrust di Indonesia

    Menurut Sonny, Sesar Baribis–Kendeng telah aktif sejak sekitar 11 ribu tahun lalu. Catatan sejarah menunjukkan Jakarta pernah mengalami kerusakan akibat gempa pada tahun 1699, 1780, 1834, dan 1903 yang diduga berkaitan dengan aktivitas Java Back-arc Thrust.

    Dalam artikel ilmiah yang terbit di jurnal Tectonics pada 2022, Sonny menjelaskan bahwa Java Back-arc Thrust masih aktif hingga kini. Jejak morfologi berdasarkan data Digital Elevation Model (DEM) menunjukkan sesar tersebut menerus hingga ke selatan Jakarta dan Bogor.

    Ancaman serupa juga disampaikan Associate Professor di Global Geophysics Research Group Institut Teknologi Bandung (ITB), Endra Gunawan.

    Berdasarkan riset terbaru menggunakan metode Global Navigation Satellite System (GNSS), ditemukan adanya deformasi kerak bumi di wilayah Jakarta.

    Baca: Tak Bisa Dipastikan Kapan Gempa Megathrust akan Terjadi

    “Patahan di bagian selatan Jakarta memiliki laju pergeseran sekitar tiga milimeter per tahun, dengan kedalaman penguncian sekitar tujuh kilometer,” ujar Endra.

    Ia menambahkan, temuan tersebut memperkuat pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi sebagai dasar mitigasi gempa di kawasan perkotaan padat penduduk.

    Indonesia sendiri berada di pertemuan empat lempeng tektonik dunia dan memiliki lebih dari 295 sesar aktif. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat rata-rata terjadi sekitar 30 ribu gempa bumi setiap tahunnya.

    Kondisi ini menjadikan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana sebagai langkah penting, khususnya bagi wilayah berisiko tinggi seperti Jakarta.

  • BRIN Temukan Lukisan Gua Berumur 67.800 Tahun di Muna, Sulawesi Tenggara

    BRIN Temukan Lukisan Gua Berumur 67.800 Tahun di Muna, Sulawesi Tenggara

    7cloud.asia – Tim kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Griffith University dan Southern Cross University (Australia), mengungkap penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

    Penemuan ini juga dirilis dalam jurnal ilmiah internasional Nature, dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”.

    Dilansir di laman resmi BRIN, penemuan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern di dunia.

    Temuan ini merupakan seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal, sekaligus memberikan bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu.

    Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana mengungkapkan bahwa usia minimum seni cadas Pulau Muna ini lebih tua 16,6 ribu tahun dibandingkan seni cadas dari Maros–Pangkep yang ditemukan sebelumnya.

    Seni cadas ini juga 1,1 ribu tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan selama ini dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.

    Adhi menjelaskan untuk mengungkap usia seni cadas ini, tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua.

    Hasil analisis menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum sebesar 67,8 ribu tahun bagi cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna.

    Temuan ini menegaskan bahwa Wallacea bukan hanya jalur menuju Australia, melainkan ruang hidup utama bagi manusia modern awal.

    “Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” kata Adhi.

    Temuan ini sekaligus memperkuat model kronologi panjang, yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.

    “Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” tambah Dr. Oktaviana.

    Penelitian ini memberikan bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua—sebuah wilayah yang hingga kini masih relatif kurang dieksplorasi secara arkeologis.

    “Dengan penanggalan seni cadas ini, kita kini memiliki bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul,” ujar Prof. Renaud Joannes-Boyau.

    “Temuan ini menunjukkan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini,” tambah Prof. Maxime Aubert, salah satu peneliti utama.

    Sementara itu, Prof Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), Griffith University, menyampaikan cap tangan yang ditemukan dalam seni cadas di Pulau Muna ini juga memiliki ciri unik secara global, dengan modifikasi yang mempersempit bentuk jari sehingga menyerupai cakar (narrow finger), mencerminkan ekspresi simbolik yang matang.

    Menurutnya, makna simbolik dari penyempitan bentuk jari ini masih bersifat spekulatif,

    “Namun, seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal tersebut sudah mulai terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang kami tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” terang Prof Adam Brumm, yang juga ikut memimpin penelitian ini.

    Temuan seni cadas berusia 67.800 tahun di Sulawesi Tenggara menandai tonggak penting dalam pengembangan arkeologi berbasis sains material di Indonesia. Kepala Pusat Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi mengatakan bahwa penelitian ini menunjukkan bagaimana penerapan teknologi mutakhir, khususnya penanggalan uranium series berbasis laser ablation (LA–U-series), memungkinkan penentuan kronologi budaya secara jauh lebih presisi.

    “Melalui analisis langsung pada lapisan kalsit yang menutupi pigmen seni cadas, kami tidak lagi bergantung pada penanggalan tidak langsung. Sifat fisikokimia speleothem kalsit berfungsi sebagai arsip mikrostratigrafi alami yang memungkinkan kami menetapkan batas umur minimum yang andal bagi aktivitas simbolik manusia modern,” terang Sofwan.

    Dengan ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst wilayah Sulawesi, hal ini membawa tanggung jawab besar dalam pelestarian warisan budaya tak tergantikan.

    Maka dari itu, para peneliti menyerukan agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba menjadi bagian integral dari perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

    Oleh karena itu, selain melakukan kolaborasi dengan Grifith Univeristy (Australia), penelitian ini juga melibatkan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

  • BRIN Sebut Krisis Pengelolaan Sampah di Indonesia Sudah dalam Kondisi “Stadium Akhir”

    BRIN Sebut Krisis Pengelolaan Sampah di Indonesia Sudah dalam Kondisi “Stadium Akhir”

    7cloud.asia – Krisis sampah di Indonesia kian mengkhawatirkan dan menunjukkan kegagalan serius dalam tata kelola lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kondisi ini sudah berada pada stadium akhir.

    Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bidang persampahan, Sri Wahyono, mengatakan saat ini Indonesia memasuki fase krisis akut.

    “Ratusan tempat pemrosesan akhir (TPA) terbuka masih beroperasi. Jika diibaratkan penyakit, pengelolaan sampah kita sudah berada di stadium akhir,” jelas Sri Wahyono dalam seminar yang mengusung tema Zero Waste Lifestyle: Langkah Kecil untuk Perubahan Besar, Jumat (06/02/2026).

    Selanjutnya dia menjelaskan perubahan perilaku masyarakat tidak akan cukup tanpa dibarengi pembenahan sistemik.

    Baca: Negara Diliai Gagal Hentikan Perusakan Lingkungan

    Menurutnya, persoalan utama terletak pada lemahnya tata kelola, minimnya keberpihakan anggaran pemerintah daerah, serta belum adanya keseriusan dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

    “Indonesia punya kapasitas inovasi, tapi tanpa governance yang kuat dan pendanaan memadai, percepatan solusi akan terus tersendat,” katanya.

    Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK 2024 mencatat, timbunan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton per tahun. Ironisnya, sekitar 11,3 juta ton atau 35,67 persen di antaranya masih belum tertangani.

    Masalah sampah juga berhubungan langsung dengan krisis iklim. Setiap satu ton sampah padat diperkirakan setara dengan 1,7 ton emisi CO₂.

    Baca: Indonesia Berada Dalam Krisis Ekologis Akut

    Hal ini menjadikan sektor persampahan faktor penting dalam upaya Indonesia mencapai target penurunan emisi sebesar 31,89 persen pada 2030. Namun hingga kini, pengelolaan sampah masih belum diposisikan sebagai agenda strategis iklim.

    Sementara juru kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Furqonul Akbar, menyoroti masih kuatnya budaya sekali pakai.

    “Hasil audit merek menunjukkan kemasan plastik puluhan tahun lalu masih bertahan di lingkungan, terutama sampah sachet. Ini bukti bahwa sistem sekali pakai gagal total,” tegasnya.

    Baca: Indonesia Eco Jamboree Soroti Darurat Pengelolaan Sampah

    Ia menekankan tanggung jawab tidak bisa terus dibebankan kepada konsumen. Industri dinilai harus mengambil peran lebih besar, mulai dari perubahan desain produk hingga tanggung jawab penuh atas dampak kemasan yang dihasilkan.

    Seminar yang digagas oleh Komunitas Konservasi Alam dan Lingkungan Indonesia Raya (KALIRA) ini juga menyoroti perlunya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat untuk mengatasi krisis sampah.

    Ketua Komunitas KALIRA, Waskita Rini, menegaskan persoalan sampah bukan lagi isu pinggiran.

    “Masalah sampah di Indonesia semakin mengkhawatirkan, bukan hanya karena pertumbuhan penduduk, tetapi juga rendahnya kesadaran akan dampaknya bagi lingkungan dan masa depan. Zero waste bukan tren, ini aksi nyata yang harus segera dilakukan,” katanya.

     

  • Mengenal Godzilla El Nino, Fenomena yang Melanda Indonesia Mulai April 2026

    Mengenal Godzilla El Nino, Fenomena yang Melanda Indonesia Mulai April 2026

    7cloud.asia – Fenomena Godzilla El Nino akan melanda Indonesia pada tahun 2026 ini. Masyarakat diimbau mewaspadai fenomena ini, mengingat kekuatan panasnya jauh lebih besar dari El Nino biasa.

    Dalam kondisi normal, El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

    Saat fenomena El Nino menguat, pola pembentukan awan dan hujan ikut berubah. Awan cenderung terkonsentrasi di wilayah Samudra Pasifik.

    Hal ini mengakibatkan wilayah seperti Indonesia justru mengalami pengurangan awan dan curah hujan. Inilah yang kemudian memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

    Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui akun instagram resminya menyebut fenomena El Nino yang akan melanda Indonesia pada tahun ini disebut “Godzilla” karena skalanya yang besar dan dampaknya yang tidak bisa dianggap ringan.

    Baca: Fenomena Godzilla El Nino Mengancam Produksi Pangan

    Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer pada BRIN, Erma Yulihastin menjelaskan fenomena ini disebut berpotensi meningkatkan suhu hingga sekitar 1,5 hingga 2 derajat Celsius.

    “Kenaikan ini memang tidak terjadi secara instan, tapi akan terasa seiring penguatan fenomena yang dimulai dari awal kemunculannya,” kata Erma.

    Selanjutnya Erma menerangkan fenomena El Nino ini diprediksi akan terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang semakin memperkuat dampaknya di Indonesia.

    IOD positif ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar wilayah barat Indonesia, terutama dekat Sumatra dan Jawa. Hal ini menyebabkan pembentukan awan semakin berkurang di wilayah tersebut, sehingga curah hujan menurun drastis.

    Baca: Godzilla El Nino, Jadi Alarm Darurat Kebakaran Hutan

    Adanya fenomena El Nino kuat dan IOD positif inilah, lanjut Erma, yang membuat musim kemarau menjadi lebih panjang, lebih panas dan lebih kering dari biasanya.

    Kemunculan El Nino sebenarnya sudah mulai terlihat pada April 2026. Pada fase awal ini, curah hujan masih bisa terjadi, terutama hingga akhir Maret.

    Namun memasuki April, intensitas hujan diprediksi mulai berkurang secara bertahap. Awan semakin sedikit, dan kondisi cuaca akan beralih menjadi lebih kering.

    Inilah yang menjadi tanda awal masuknya periode kemarau yang lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Prof Erma juga menjelaskan meski bulan ini El Nino sudah mulai muncul, namun kondisi cuaca tidak langsung berubah drastis. Hingga akhir April, hujan masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

    Baca: Antisipasi Godzilla El Nino, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    Namun setelah April, intensitas hujan diperkirakan akan mulai berkurang secara signifikan. Kemudian kondisi cuaca akan semakin kering dan terasa sangat panas di siang hari.

    Meski demikian, Prof Erma menegaskan dampak fenomena Godzilla El Nino initidak akan dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

    Di bagian selatan ekuator, seperti sebagian besar Pulau Jawa dan Sumatra, lebih mendominasi kondisi kering. Sehingga dapat memicu kekeringan, suhu udara yang lebih panas, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

    Sedangkan di bagian utara ekuator, seperti sebagian Kalimantan dan Sumatra bagian utara, justru ada kemungkinan terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Bahkan berpotensi memicu banjir.

     

  • Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Homalomena Bungamerah dari Sumatra Utara

    Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Homalomena Bungamerah dari Sumatra Utara

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengungkap keanekaragaman hayati Indonesia melalui penemuan spesies baru tumbuhan aroid dari genus Homalomena, yaitu Homalomena bungamerah.

    Spesies ini ditemukan di Sumatra Utara. Spesies ini telah teridentifikasi dan penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal internasional Taiwania Volume 71 Nomor 2 (2026).

    Hasil penelitian ini dipublikasikan dengan judul “Homalomena bungamerah (Araceae), a new species from Northern Sumatra, Indonesia” dan dapat diakses melalui https://taiwania.ntu.edu.tw/abstract/2160

    Penemuan spesies Homalomena bungamerah menambah daftar kekayaan flora endemik Indonesia, khususnya dari Pulau Sumatera yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman genus Homalomena.

    Penelitian ini melibatkan kolaborasi sejumlah peneliti, termasuk Muhammad Rifqi Hariri dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, bersama Wendy A. Mustaqim, Arifin Surya Dwipa Irsyam, Muhammad A. Pratama, dan Irwansyah Surbakti.

    Dalam publikasinya, tim peneliti menjelaskan bahwa Homalomena bungamerah merupakan spesies litofit, yaitu tumbuhan yang tumbuh pada permukaan batuan, terutama pada batu granit yang lembab dan teduh di hutan dipterokarpa campuran.
    Spesies ini memiliki ciri morfologi khas, di antaranya permukaan daun bagian atas yang bertekstur kasar dan berlipat, serta tidak ditemukannya struktur interpistillar staminodes yang menjadi pembeda utama dengan spesies lain dalam genus yang sama.

    “Kombinasi ciri morfologi yang unik, terutama pada permukaan daun dan struktur bunganya, menunjukkan bahwa spesies ini berbeda dari Homalomena lain yang telah dideskripsikan,” ujar Peneliti Pusat Riset Biostematika dan Evolusi, Muhammad Rifqi Hariri.

    Ia menjelaskan bahwa karakter morfologi tersebut menjadi kunci dalam memastikan statusnya sebagai spesies baru. Selain itu, Homalomena bungamerah memiliki bagian perbungaan berwarna merah yang menjadi dasar penamaannya.

    Nama “bungamerah” diambil dari Bahasa Melayu yang merujuk pada warna mencolok pada tangkai dan seludang bunganya.

    Berdasarkan hasil kajian, spesies ini diketahui hanya ditemukan di satu lokasi di Sumatera Utara dengan jumlah populasi yang sangat terbatas, yakni kurang dari 100 individu dewasa.

    Kondisi tersebut, ditambah dengan ancaman pengambilan dari alam serta degradasi habitat, menyebabkan spesies ini dikategorikan sebagai Kritis (Critically Endangered) menurut kriteria IUCN.

    Temuan ini menunjukkan pentingnya eksplorasi dan kajian taksonomi untuk mengungkap potensi biodiversitas yang belum terdokumentasi. Keterlibatan peneliti BRIN dalam studi ini sekaligus menegaskan komitmen dalam mendukung upaya pelestarian sumber daya hayati Indonesia.

     

  • Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    7cloud.asia – Indonesia dan dunia internasional kini tengah mewaspadai ancaman hantavirus. Penyakit yang ditularkan melalui tikus dan dapat memicu gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru.

    Meski baru ramai diperbincangkan, virus ini sebenarnya telah lama ada di Indonesia dan diduga banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai flu biasa.

    Sejumlah penelitian menunjukkan hantavirus telah ditemukan di Indonesia sejak 1980-an. Dalam studi komprehensif di berbagai kota besar, seroprevalensi hantavirus pada manusia tercatat mencapai sekitar 11,6 persen.

    Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus tersebut meski tidak pernah didiagnosis secara resmi.

    Kondisi ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yakni hanya sebagian kecil kasus yang terlihat, sementara jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

    Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus dikategorikan sebagai zoonosis emerging atau penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

    Baca: Hantavirus Telah Masuk Indonesia

    Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam umumnya langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, gejala awal hantavirus hampir identik, mulai dari demam, nyeri otot, mual, hingga kelelahan.

    Akibat kemiripan tersebut, banyak kasus diduga salah diagnosis atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.

    Berbeda dengan penyakit lain yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, maupun air liur tikus.

    Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, hingga permukaan yang telah terkontaminasi.

    Mengacu pada laman resmi Kemenkes RI, hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa.

    Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.

    Baca: Konvirmasi Kasus Hantavirus Meningkat Dalam 2 Tahun

    Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang lebih sering ditemukan di Amerika. Jenis ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.

    Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) hantavirus juga tergolong tinggi. Pada beberapa tipe virus, angka kematiannya bahkan dapat mencapai 50 persen.

    Di Indonesia, jenis hantavirus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV) yang menyebar melalui tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus.

    Karena hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan virus ini dinilai lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas di kawasan hutan atau satwa liar.

    Baca: DPR Desak Pemerintah Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono mengatakan kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar hantavirus.

    Di antaranya pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, hingga masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.

    Menurutnya, risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.

    Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

    Baca: Virus Nipah Ditemukan di Indonesia

    Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan. Area tersebut juga sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.

    Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus.

    “Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” jelas Arief

  • BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Modern untuk Cegah Kecurangan Pangan

    BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Modern untuk Cegah Kecurangan Pangan

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) mengembangkan inovasi deteksi kecurangan pangan atau food fraud.

    Inovasi BRIN ini untuk memperkuat keamanan pangan nasional, dan melindungi konsumen dari praktik kecurangan pangan yang merugikan masyarakat.

    Peneliti PRTPP BRIN Laila Rahmawati menjelaskan, kecurangan pangan merupakan tindakan pemalsuan, pencampuran, penggantian, atau manipulasi produk pangan yang dilakukan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

    “Praktik ini dapat ditemukan pada berbagai produk pangan, mulai dari madu, minyak goreng, kopi, hingga produk daging dan hasil laut,” ujarnya pada Senin, (25/5/2026) di Gunungkidul seperti dikutip brin.go.id.

    Menurutnya, kecurangan pangan tidak hanya merugikan konsumen secara ekonomi, tetapi juga dapat menimbulkan ancaman kesehatan, pelanggaran kehalalan produk, hingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap industri pangan.

    Sejumlah kasus kecurangan pangan yang sering ditemukan di masyarakat seperti madu yang dicampur sirup gula, kopi murni yang dicampur jagung atau kedelai, hingga pencampuran daging non-halal yang dijual sebagai daging sapi.

    Baca: Regulasi Pembatasan Gula-Garam-Lemak Tinggi dalam Jajanan

    “Selain itu, praktik salah label pada produk pangan organik maupun pemalsuan minyak goreng juga menjadi tantangan serius dalam pengawasan pangan,” jelasnya.

    Laila menambahkan, tingginya keuntungan ekonomi, mahalnya harga bahan baku, meningkatnya permintaan pasar, lemahnya pengawasan, serta panjangnya rantai distribusi pangan menjadi faktor utama penyebab terjadinya food fraud.

    “Selain itu, rendahnya kesadaran konsumen dan keterbatasan teknologi deteksi juga turut memperbesar peluang praktik kecurangan pangan,” lanjutnya.

    Untuk mendeteksi praktik tersebut, BRIN mengembangkan berbagai metode autentikasi pangan, baik secara konvensional maupun menggunakan teknologi modern. Metode konvensional dilakukan melalui uji organoleptik, pengamatan fisik sederhana, serta uji kimia dasar.

    Sementara metode modern memanfaatkan teknologi canggih seperti kromatografi, spektroskopi, analisis berbasis DNA, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence).

    “Teknologi seperti FTIR, GC-MS, LC-MS, hingga DNA barcoding mampu mendeteksi pemalsuan pangan dengan lebih cepat dan akurat. Termasuk untuk mendeteksi campuran bahan non-halal maupun pencampuran minyak dan lemak,” jelasnya.

    Baca: Risiko Asam Urat Meningkat Akibat Pangan Ultraproses dan Obesitas

    PRTPP BRIN juga aktif melakukan riset autentikasi pangan melalui pengembangan metode deteksi berbasis metabolomik, spektroskopi, dan machine learning.

    Penelitian tersebut dilakukan untuk mendukung pengawasan keamanan pangan nasional serta menyediakan dasar ilmiah bagi penyusunan regulasi pemerintah.

    Beberapa riset yang telah dilakukan di PRTPP BRIN antara lain pengembangan metode untargeted metabolomics berbasis LC-HRMS untuk mendeteksi campuran daging non-halal.

    Kemudian, metode autentikasi berbasis DNA untuk identifikasi spesies pangan, hingga penggunaan FTIR spectroscopy dan chemometrics untuk mendeteksi adulterasi minyak.

    “Selain riset, BRIN juga memperkuat kolaborasi dengan industri pangan, perguruan tinggi, dan lembaga pemerintah seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal ini untuk mempercepat penerapan teknologi deteksi di industri serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang keamanan pangan,” bebernya.

    Laila menegaskan, pencegahan kecurangan pangan butuh kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, industri, akademisi, peneliti, hingga masyarakat sebagai konsumen.

    Masyarakat perlu lebih teliti dalam memilih produk pangan, memeriksa label, izin edar, sertifikasi halal, dan tidak mudah tergiur harga yang terlalu murah.

    “Semoga pengembangan teknologi autentikasi pangan dan penguatan riset keamanan pangan yang telah dilakukan oleh BRIN dapat mendukung terciptanya sistem pangan nasional yang aman, berkualitas, dan terpercaya,” pungkasnya.

    Baca: Makanan Olahan Berpengaruh Pada Kondisi Kesehatan Mental

  • BRIN Kembangkan Teknologi Landfill Mining untuk TPA yang Kelebihan Kapasitas

    BRIN Kembangkan Teknologi Landfill Mining untuk TPA yang Kelebihan Kapasitas

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi landfill mining untuk mendorong inovasi pengelolaan sampah berkelanjutan.

    Secara konsep landfill mining merupakan proses penggalian dan pengolahan kembali sampah yang telah lama ditimbun di landfill.

    Teknologi landfill mining ini dikembangkan sebagai solusi untuk mengatasi penumpukan sampah, keterbatasan lahan tempat pemrosesan akhir (TPA), serta memanfaatkan kembali material bernilai ekonomi dari timbunan sampah lama.

    Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Prihartanto, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada sampah baru.

    Pengelolaan sampah, ujarnya, juga perlu menangani timbunan sampah lama yang telah menimbulkan berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan keterbatasan lahan.

    “Melalui teknologi landfill mining, timbunan sampah lama dapat digali kembali dan diolah untuk dipulihkan menjadi material yang masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujarnya dalam BRIN Enviro Talk ke-55 yang diselenggarakan secara daring, pada Jumat (22/5/2026).

    Baca: Pentingnya TPA Kategori Sanitary Landfill Mengelola Air Lindi

    Prihartanto mencontohkan penerapan teknologi tersebut di TPST Bantargebang yang telah mengembangkan proyek percontohan landfill mining.

    Kapasitas pengolahan yang semula 100 ton per hari meningkat menjadi 150 ton per hari, dan kini mencapai 1.000 ton per hari.

    Menurutnya, Idealnya, landfill yang ditambang merupakan landfill yang sudah tidak beroperasi dan berumur sekitar 30 tahun. Tujuannya untuk memperpanjang umur TPA sekaligus memulihkan material yang masih dapat dimanfaatkan.

    “Luaran utama dari landfill mining yang saat ini dikembangkan bersama TPSD Bantar Gebang adalah RDF (Refuse Derived Fuel) atau bahan bakar alternatif yang dimanfaatkan oleh industri semen,” jelasnya.

    Selain menghasilkan RDF, proses landfill mining juga menghasilkan soil like material (materi menyerupai tanah) sekitar 30 persen dari total hasil penggalian.

    Di sejumlah negara, material ini dimanfaatkan sebagai penutup tanah, bahan urug, hingga reklamasi lahan kritis. Sementara di Indonesia, pemanfaatannya masih terus dikaji, termasuk untuk rehabilitasi lahan pascatambang.

    Baca: KLH Segera Terbitkan Surat Penutupan TPA yang Terapkan Open Dumping

    Namun demikian, BRIN masih meneliti tantangan yang muncul, terutama potensi kandungan mikroplastik pada material tersebut.

    Di sisi lain, RDF hasil landfill mining juga memiliki tantangan teknis karena karakteristik sampah lama yang tidak homogen sehingga nilai kalor cenderung tidak stabil, dengan kadar air dan abu lebih tinggi akibat proses dekomposisi yang berlangsung lama.

    Meski demikian, Prihartanto menilai teknologi ini tetap memberikan manfaat lingkungan yang besar, terutama dalam menurunkan emisi gas rumah kaca serta mengurangi risiko kebakaran dan longsor di area landfill.

    Ia juga menerangkan tahapan landfill mining di Bantar Gebang dimulai dari penggalian sampah menggunakan ekskavator, kemudian pemilahan dengan trommel screen untuk memisahkan fraksi kasar dan halus.

    “Fraksi kasar selanjutnya diolah menjadi RDF melalui proses pemisahan material ringan dan berat, pemisahan logam menggunakan magnetic separator, pencacahan, hingga pengeringan sebelum dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif industri semen,” pungkas Prihartanto.

    Melalui pengembangan teknologi ini, BRIN berharap pengelolaan sampah di Indonesia tidak hanya berfokus pada sampah baru, tetapi juga mampu mengatasi timbunan sampah lama secara berkelanjutan dan bernilai ekonomi.