Tag: el nino

  • Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe

    Kekeringan Akibat El Nino Picu Kematian Gajah Liar di Zimbabwe

    7cloud.asia – Puluhan gajah ditemukan mati kehausan di Taman Nasional Hwange yang populer di Zimbabwe ketika negara itu dilanda kekeringan akibat fenomena El Nino dan perubahan iklim.

    Insiden itu membuat khawatir para pegiat konservasi lingkungan. Jumlah gajah yang mati dikhawatirkan akan terus bertambah karena kekeringan yang masih berlangsung

    Kematian massal gajah liar ini tak lepas dari fenomena cuaca El Nino ​​​​​​yang ​mengakibatkan cadangan air menipis dan lubang air mengering.

    El Nino memicu cuaca yang lebih panas dan lebih kering sepanjang tahun, kata ahli cuaca setempat.

    Baca: Kemarau panjang akibat El Nino ancam kehidupan satwa liar

    Antaranews.com mengutip reuters menyebut, fenomena cuaca global musiman itu menjadi sorotan pada forum COP 28 tentang aksi penanganan iklim di Dubai.

    Hwange tidak dilintasi aliran sungai yang besar dan hewan-hewan bergantung pada sumur bor bertenaga surya, kata pejabat Otoritas Taman dan Satwa Liar Zimbabwe (Zimparks).

    “Kami mengandalkan lubang air buatan karena air permukaan menyusut. Karena gajah sangat bergantung pada air, kami terus mencatat kematian akibat kekeringan ini,” kata ahli ekologi Taman Nasional Hwange, Daphine Madhlamoto, 

    Populasi gajah di Hwange mencapai 45.000 ekor dan gajah-gajah dewasa membutuhkan 200 liter air per hari.

    Baca: El Nino percepat melelehnya salju abadi di Puncak Jaya

    Namun, karena sumber air semakin berkurang, pompa air bertenaga surya di 104 sumur bor tidak sanggup menyediakan air yang cukup.

    Reuters melihat puluhan bangkai gajah bergelimpangan di dekat lubang air. Pejabat taman nasional itu mengatakan ada gajah yang mati di semak-semak sehingga menjadi santapan singa dan burung pemakan bangkai.

    “Taman ini telah menyaksikan dampak dari perubahan iklim. Curah hujan semakin berkurang,” kata Madhlamoto.

    Musim hujan di Zimbabwe berlangsung dari November hingga Maret, tetapi tahun ini hampir tidak ada hujan.

    Baca: Mengenal Hari Terancam Punah Sedunia

    Kemarau di sana diperkirakan akan berlanjut hingga 2024, menurut badan meteorologi setempat.

    Zimparks mengatakan para hewan terpaksa berjalan jauh untuk mencari air dan makanan, dan beberapa kawanan menyeberang ke Botswana.

    Kelompok-kelompok konservasi berusaha menyediakan tambahan air dengan mengeruk lubang dan memompa lebih banyak air melalui sumur bertenaga surya.

    Zimbabwe menjadi habitat bagi hampir 100.000 ekor gajah, tetapi kapasitas air di negara itu hanya cukup memberi minum sekitar 50.000 gajah sehingga taman-taman nasional di sana kewalahan.

    Sumber: Antaranewscom

  • Ahli Perkirakan Musim Hujan Akan Segera Berakhir

    Ahli Perkirakan Musim Hujan Akan Segera Berakhir

    7cloud.asia – Meski belum merata, sebagian besar wilayah di Indonesia kini memasuki musim hujan. Namun, musim hujan kali ini diperkirakan lebih cepat berakhir.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan musim hujan kemungkinan hanya sampai akhir Januari.

    Hal ini akibat direndam fenomena El Nino moderat yang hingga kini masih ada. “Musim hujan mestinya Desember, Januari, dan Februari (DJF), sepertinya tidak sampai Februari hujannya sudah habis karena El Nino itu berawal bulan Mei 2023 dan akan berakhir pada Mei 2024,” jelas Eddy.

    Menurut Eddy, fenomena hujan yang sekarang turun di berbagai wilayah Indonesia dipengaruhi oleh Monsun Asia atau angin barat.

    Baca: Waspada, Jakarta Banjir

    Angin musim yang bersifat periodik itu membawa uap air dari Siberia, Jepang, Hongkong hingga Vietnam ke Indonesia dan menciptakan hujan.

    Monsun Asia lebih dominan daripada El Nino moderat yang sekarang tengah berlangsung.

    Kondisi ini yang membuat hujan masih bisa turun terutama di daerah selatan Indonesia, seperti Pulau Sumatra bagian timur dan Pulau Jawa.

    “Walaupun El Nino tidak kuat tetap ada efek mengurangi jumlah curah hujan yang akan masuk ke Indonesia,” ungkapnya.

    Dengan kondisi seperti ini, dia menyarankan para petani untuk mempercepat masa tanam selagi hujan masih turun agar tanaman yang membutuhkan banyak air bisa berkembang dengan baik.

    Selain itu, opsi lain adalah menanam tanaman tahan kering seperti palawija mengingat fenomena El Nino masih akan berlangsung sekitar empat sampai lima bulan ke depan.

    Baca: Fenomena El Nino belum berakhir

    “Meski ada irigasi, sumber air itu tetap berasal dari atas (hujan), kalau kering cepat-cepat menanam saja jangan sampai kehabisan air,” katanya.

    Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan prakiraan cuaca pada tahun 2024.

    Menurutnya, sepanjang tahun 2024, gangguan iklim dari Samudra Pasifik yaitu ENSO diprakirakan akan berada pada fase El Nino Lemah – Moderat di awal tahun 2024.

    Selanjutnya hingga akhir tahun 2024 diprediksikan berada pada fase Netral.

    Terdapat peluang namun kecil untuk berkembang menjadi fenomena La Nina yang merupakan pemicu anomali iklim basah.

    Baca: Riau tetapkan status siaga bencana

    Demikian juga dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang merupakan penyebab gangguan iklim dari Samudra Hindia, diprediksikan akan berada pada fase Netral dari awal hingga akhir tahun 2024.

    Berdasarkan dinamika atmosfer tersebut lanjut Dwikorita, maka jumlah curah hujan tahunan pada 2024 diprediksi berkisar pada kondisi normal.

    Namun, terdapat beberapa wilayah yang diprediksikan dapat mengalami hujan tahunan di atas normal yaitu meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Barat bagian selatan, sebagian kecil Riau.

    Kondisi cuaca seperti ini juga terjadi di sebagian kecil Kalimantan Selatan, sebagian kecil Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat bagian utara, sebagian kecil Sulawesi Selatan, sebagian kecil Papua Barat dan Papua bagian utara.

    Baca: Cuaca ekstrem di Jawa Tengah 4-10 Januari

    Selain itu ada pula daerah yang diprediksikan akan mengalami hujan tahunan di bawah normal yaitu meliputi sebagian Banten, sebagian kecil Jawa Barat.

    Hujan tahunan di bawah normal juga berpotensi terjadi di sebagian kecil Jawa Tengah, sebagian Yogyakarta, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur, dan Papua bagian selatan.

    “Meskipun kemarau 2024 diprediksi berlangsung dengan normal, namun terdapat wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan karena secara iklim memang memiliki curah hujan yang rendah, yaitu meliputi sebagian Lampung, sebagian Jawa, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur dan Papua bagian selatan,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Musim Hujan 2024, Masyarakat Diimbau Waspadai Angin Monsun Asia yang Memicu Curah Hujan Tinggi

    Musim Hujan 2024, Masyarakat Diimbau Waspadai Angin Monsun Asia yang Memicu Curah Hujan Tinggi

    7cloud.asia –  Pada musim hujan 2024 ini, ada dua fenomena alam yang akan melanda, yaitu El Nino dan Angin Monsun Asia.

    Deputi Bidang Meteorologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto menjelaskan kedua fenomena alam tersebut bisa terjadi bersamaan.

    El Nino merupakan fenomena memanasnya suhu permukaan laut Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.

    Sementara Monsun Asia ditandai dengan bertiupnya angin di Oktober hingga April di Indonesia saat matahari berada di belahan bumi selatan.

    Baca: Cuaca ektrem landa wilayah ini

    Monsun Asia menyebabkan wilayah Asia relatif menjadi lebih dingin dari tekanan maksimum, sementara wilayah Australia mengalami musim panas.

    Sedangkan untuk wilayah Indonesia, ada beberapa dampak yang akan terjadi.

    Melansir Detik.com, Guswanto menjelaskan berdasarkan perkiraan BMKG, El Nino masih akan berlanjut sampai Maret atau April 2024.

    Dampaknya pengurangan curah hujan tahunan atau annual rainfall menjadi tidak merata. Sementara kemunculan Monsun Asia di musim hujan memicu curah hujan menjadi tinggi.

    “Monsun Asia diprakirakan hingga April 2024. Monsun Asia adalah angin musim yang bersifat periodik yang biasanya terjadi di Samudera Hindia dan sebelah selatan Asia,” jelas Guswanto.

    Baca: Waspada cuaca ektrem di puncak musim hujan

    Kedua fenomena tersebut bisa terjadi secara tidak bersamaan di wilayah Indonesia.

    Sehingga, lanjut Guswanto, ada beberapa wilayah yang mengalami intensitas hujan berkurang dan ada beberapa wilayah yang mengalami intensitas hujan tinggi.

    Karena itu, BMKG memperkirakan sejumlah wilayah akan terkena dampak El Nino yang mengakibatkan curah hujan berkurang, yaitu:Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Kabupaten Gresik.

    Kondisi cuaca seperti ini juga diprediksi terjadi di Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Bojonegoro.

    Sedangkan wilayah yang diperkirakan curah hujan meningkat akibat dampak Monsun Asia adalah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi
    Bali,Nusa Tenggara.

    Baca: Waspada Jakarta banjir

    Dengan adanya kedua fenomena ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada peluang bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang dan puting beliung.

    Selain itu, BMKG juga meminta masyarakat agar lebih mengenali lingkungan dan potensi bencana di lingkungan tempat tinggal.

    Sebab salah satu upaya mitigasi atau pencegahan sesungguhnya adalah dengan memahami cuaca dan lingkungan tempat kita tinggal.

    Hal ini penting dilakukan agar dampak yang ditimbulkan dari bencana hidrometeorologi dapat dikurangi.

    Reporter: Nurakhmayani     

  • Peneliti BRIN Ingatkan Fenomena El Nino Berlanjut di 2024

    Peneliti BRIN Ingatkan Fenomena El Nino Berlanjut di 2024

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin memperingatkan kemungkinan El Nino akan kembali menguat pada 2024.

    Dalam tulisannya di The Conversation yang terbit pada November 2023 lalu, fenomena El Nino tahun 2023 memiliki perilaku senada dengan El Nino kuat pada 2015-2016 dan 1997-1998.

    “Indonesia harus mewaspadai risiko ini. Maraknya kekeringan dan kebakaran hutan tahun ini kemungkinan bakal lebih parah lagi saat El Nino mencapai puncaknya pada 2024,” tulisnya.

    Pada mulanya, El Nino memanaskan suhu permukaan laut dari Samudra Pasifik sebelah timur, dekat Peru. Panas lalu membesar dan menjalar ke arah barat sampai perairan selatan Hawai, hingga kepulauan di Pasifik barat dekat pulau Papua.

    Per 29 Oktober lalu, Biro Meteorologi Australia mencatat pemanasan rata-rata bulanan di sekitar titik pantau El Nino di perairan di selatan Hawai (dikenal dengan area Nino 3.4) baru mencapai 1,66°C.

    Pemanasan tersebut berpotensi tinggi menguat sampai tahun 2024. Pasalnya, pemanasan parah El Nino 2023 baru berada di dekat Peru (area Nino 2) sebesar 2,42°C di atas normal.

    Baca: Fenomena El Nino belum berakhir

    Erma mengatakan, butuh waktu setidaknya dua bulan hingga panas tersebut menyebar ke titik pantau Nino 3.4.

    Lebih lanjut Erma memperkirakan El Nino 2023 yang baru saja berlalu akan semakin parah seiring pergantian tahun. 

    Karena itulah, per 21 Oktober 2023, Biro Meteorologi Australia menaksir puncak El Nino baru terjadi tiga bulan lagi, yakni Januari 2024.

    Saat itu, suhu terpanas permukaan rata-rata bulanan dapat mencapai 2,7°C di atas normal di area Nino 3.4.

    “Saya menganggap pemodelan oleh Biro Meteorologi Australia cukup valid karena berbasiskan data klimatologis lama, dari 1960-2010. Meskipun terpaut 13 tahun, data lama penting untuk membandingkan perilaku El Nino saat ini dengan kejadian pada 1997-1998 dan 2015-2016,” imbuhnya.

    Prediksi Australia juga senada dengan Badan Ilmu dan Teknologi Laut-Bumi Jepang (Jamstec) yang mengatakan bahwa El Nino pada puncak pemanasannya akan melampaui 2°C.

    Baca: Pemanasan suhu bumi cetak rekor pada 2023, ini penyebabnya

    Anomali cuaca Indonesia karena El Nino?
    Cuaca panas Indonesia yang terjadi di Indonesia beberapa bulan terakhir 2023 turut dipengaruhi El Nino. Namun, dampaknya masih kecil.

    Sejauh ini, kondisi panas di Indonesia masih lebih banyak dipengaruhi oleh cuaca di Samudra India. Karena itulah masih ada awan-awan di atas langit Papua, diikuti oleh hujan.

    Saat El Nino mencengkeram, Papua akan lebih panas dan kering, begitu juga dengan daerah-daerah di sekitarnya hingga menjalar ke banyak wilayah di Indonesia.

    Sementara itu, hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi di beberapa wilayah barat Indonesia saat ini, termasuk Jabodetabek pada sepekan terakhir, lebih dipengaruhi fenomena pemanasan dari Laut Cina Selatan.

    Pemanasan kali ini tergolong anomali cuaca karena seharusnya, pada periode Oktober cuaca di kawasan tersebut cenderung lebih dingin akibat siklus monsun dingin (winter monsoon) dari November-Maret.

    Baca: Mungkinkah dunia capai emisi nol pada 2060?

    Musim hujan mengakhiri El Nino?
    Tahun ini Indonesia mengalami musim hujan secara bertahap sejak Oktober 2023 hingga Februari 2024.

    “Apakah munculnya hujan menjadi pertanda berakhirnya El Nino? Sayangnya tidak. Musim hujan hanya meredam dampaknya sehingga Indonesia mungkin tidak akan sepanas saat ini,” imbuh Erma.

    Mungkin ini bisa memberikan kita waktu untuk ‘beristirahat’ dari panas dan kekeringan. Namun, Erma mengingatkan hal ini tak berlangsung lama.

    Pada Maret 2024, ketika musim pancaroba melanda sebagian Indonesia, El Nino akan kembali mencengkeram. Saat itu, pemanasan suhu rata-rata memang menurun, tapi masih di atas 2,3°C.

    Apa yang perlu kita lakukan menghadapi El Nino?
    Saat ini ilmuwan-ilmuwan dunia sedang harap-harap cemas, mengkhawatirkan El Nino bisa menguat seperti ‘gorila’ yang mengamuk melampaui perkiraan.

    Indonesia harus mempertimbangkan cuaca panas akibat El Nino dapat berkepanjangan. Panasnya bisa begitu kuat, bahkan bisa melebihi kejadian-kejadian sebelumnya.

    Baca: Perdagangan karbon untuk turunkan emisi

    Kondisi ini dipengaruhi dengan kenaikan suhu rata-rata permukaan Bumi. Saat El Nino 2015-2016, kenaikan suhu permukaan Bumi belum mencapai 1°C.

    Saat ini, suhu terpanas Bumi sudah mencapai 1,2°C. Kita harus bersiap dengan El Nino yang semakin mencengkeram. Selalu ada kemungkinan pemanasan ekstrem akibat El Nino terus bertahan dan tidak mudah meluruh.

    Perhatian Indonesia sampai sekarang masih terbagi karena adanya Pemilihan Presiden-Wakil Presiden 2024.

    Perhelatan akbar ini biarlah berjalan, tapi ia mengingatkan jangan sampai hal ini mengurangi fokus untuk mencegah dan menanggulangi dampak terburuk El Nino tahun 2024. 

    Pada 2023, kita menyaksikan kebakaran hutan dan lahan telah melebihi 600 ribu hektare–tertinggi sejak pandemi. Kekeringan sudah terjadi di ratusan wilayah, diikuti dengan kenaikan harga pahan pokok. Bendungan mengering sehingga listrik di beberapa wilayah byar-pet.

    “Kita membutuhkan usaha ekstra dari semua kalangan untuk mencegah agar beragam dampak tersebut tidak meluas pada tahun 2024,” pungkasnya.

    Sumber: The Conversation

  • Pentingnya Merawat Sistem Pengan Lokal Cegah Krisis Pangan Akibat El Nino

    Pentingnya Merawat Sistem Pengan Lokal Cegah Krisis Pangan Akibat El Nino

    ruangkota.com – El Nino yang berlangsung sejak Mei 2023 lalu terus menguat dan cukup berdampak bagi sektor pertanian Indonesia. Data Kementerian menyebutkan ada 258 ribu hektare (ha) sawah yang berisiko mengalami kekeringan sedang.

    Risiko kekeringan juga kian meluas karena El Nino diprediksi berlangsung sampai Maret 2024.

    Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional, Budi Waryanto  mengungkapkan meski pasokan pangan Indonesia masih cukup, fenomena El Nino menyebabkan produksi beras nasional berkurang.

    “Namun sejauh ini masih cukup,” ujar Budi dalam diskusi daring bertajuk “Hari Pangan Sedunia: Refleksi Ketahanan Pangan Indonesia di Tengah Ancaman Kekeringan Dampak El Nino” pada Oktober lalu.

    Untuk menstabilkan harga, pemerintah terpaksa menggelontorkan beras impor dari Vietnam, Thailand, hingga Kamboja. Ada juga wacana untuk impor beras dari Cina.

    Baca: Antisipasi dampak El Nino Indonesia bakal impor beras dalam jumlah besar

    Dosen dan peneliti pangan di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Angga Dwiartama, mengatakan cuaca ekstrem yang diakibatkan oleh El Nino akan selalu menjadi risiko bagi pasokan pangan Indonesia.

    Apalagi, Indonesia memiliki sistem penyediaan pangan yang terpusat dari pemerintah, badan usaha milik negara, lalu diturunkan ke daerah-daerah.

    Walhasil, ketika ada gangguan pasokan pangan karena cuaca, kondisi pasar global, ataupun kondisi geopolitik, dampaknya bisa terjadi secara nasional.

    Karena itulah, Angga menyarankan Indonesia seharusnya memperkuat sistem pangan lokal untuk menyangga sistem pangan yang terpusat.

    Dalam sistem ini, suatu daerah memiliki sistem produksi, distribusi, dan konsumsi tersendiri sehingga bisa bertahan dalam risiko gangguan pasokan, misalnya karena cuaca ekstrem.

    Baca: Pemerintah perkirakan impor beras capai 5 juta pada 2024

    Dua sistem yang saling melengkapi
    Angga mengatakan, dalam sistem pangan lokal, suatu kawasan biasanya memiliki caranya sendiri dalam penyediaan pangan.

    Jenis pangannya pun tak melulu beras, tapi juga pangan-pangan lainnya seperti sagu, jagung, ataupun singkong.

    Sistem ini pun jamak diberlakukan penduduk desa ataupun masyarakat adat di Indonesia.

    Dia mencontohkan sistem pangan yang berlaku di Kasepuhan Ciptagelar, masyarakat adat sunda Jawa Barat. Masyarakat di Kasepuhan ini, kata Angga, jarang terdengar memiliki masalah pasokan pangan karena mereka memiliki sawah sendiri.

    Kasepuhan Ciptagelar juga memiliki cara menyimpan padi sehingga, meskipun hanya panen sekali setahun, mereka bisa bertahan tanpa banyak bergantung pada daerah lainnya.

    “Jadi, walaupun ada El Nino, masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar tidak ada masalah,” ujar Angga.

    Baca: Cara bertanam padi yang adaptif pada perubahan iklim

    Direktur Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari–organisasi pegiat advokasi lingkungan di Papua, Emil Kleden, mengemukakan sistem serupa juga berlaku secara tradisional bagi banyak masyarakat adat di Papua.

    Mereka biasanya mengandalkan sagu dan ubi jalar yang tumbuh liar di hutan-hutan. Masyarakat Papua juga memiliki kebiasaan menyimpan sagu di tanah basah, di dalam daun, hingga bisa bertahan sampai berbulan-bulan.

    Sayangnya, kata Emil, tren sistem pangan lokal ini mulai tergerus karena maraknya alih fungsi hutan di Papua. Beberapa kelompok masyarakat di Papua juga terkena stigma bahwa beras adalah makanan orang kaya.

    Akibatnya mereka perlahan-lahan mulai meninggalkan pangan lokal yang sudah dikonsumsi sejak dulu.

    Selain itu, konversi hutan sagu untuk kebutuhan lain ini semakin mengancam keberlangsungan pangan lokal dari Orang Asli Papua (OAP) karena berkurangnya lahan produksi untuk sagu.

    Baca: 

    “Belum lagi tentang potensi hilangnya sumber protein hewani seperti rusa, babi, dan kasuari karena habitat asli mereka sudah dihancurkan,” kata Emil.

    Angga turut membenarkan risiko sistem pangan lokal yang terancam. Menurut dia, pangan lokal dapat tergerus oleh proyek-proyek besar yang datangnya dari luar, misalnya perkebunan berskala besar.

    Menurut Angga, pemerintah harus berupaya menjaga agar sistem pangan lokal di desa-desa tidak berkurang. Pelestarian sistem lokal ini, kata dia, justru membantu ketahanan pangan Indonesia di daerah-daerah rural.

    Jika sistem pangan lokal berlangsung dengan baik, pemerintah hanya perlu berkonsentrasi memenuhi kebutuhan pangan masyarakat kota dengan sistem pangan tersentralisasi.

    “Jadi dua sistem ini (yang tersentralisasi dan sistem pangan lokal) tidak saling meniadakan, justru saling melengkapi,” ujar dia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation

     

  • El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, Indonesia akan menghadapi fenomena alam La Nina yang bisa mengganggu produktivitas bahan pangan.

    Fenomena alam yang disebut La Nina itu akan muncul setelah Indonesia menghadapi fenomena El Nino beberapa waktu lalu.

    BMKG mengungkapkan fenomena El Nino akan segera menuju masa netral, untuk kemudian akan digantikan dengan La Nina pada Juli mendatang.

    “El Nino diprediksi akan segera menuju netral pada periode Mei, Juni, Juli 2024,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers virtual.

    La Nina diperkirakan akan muncul mulai Juli 2024. Nantinya akan melemah setelah triwulan ketiga pada Juli hingga September mendatang.

    Baca: Peneliti BRIN ingatkan fenomena el nino berlanjut hingga 2024

    La Nina adalah kondisi anomali suhu kebalikan El Nino yang berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

    Sedangkan La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
    Pengaruh El Nino dan La Nina juga tergantung musim.

    Mengingat luasnya wilayah Indonesia dan merupakan negara kepulauan, dampak El Nino /La Niña berbeda di setiap wilayah.

    Sejumlah prediksi juga memperkirakan hal serupa. Salah satunya diungkapkan oleh Institute for Climate and Society (IRI).

    “Namun peluang klimatologisnya (La Nina) mencapai musim panas Boreal 2024 (Juni-September), La Nina menjadi kategori yang paling mungkin terjadi pada Juli-September 2024 dan seterusnya,” demikian keterangan resmi IRI.

    Baca: Fenomena el nino penyebab dan dampaknya bagi lingkungan dan pertanian

    Fenomena alam El Nino dan La Nina sangat mempengaruhi kondisi lahan pangan maupun produktivitasnya.

    Karena itu, otoritas terkait telah mempersiapkan langkah antisipasi.

    Badan Pangan Nasional (Bapanas) salah satunya, dengan menyiapkan koordinasi bersama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melakukan manajemen tanam yang disesuaikan dengan prediksi BMKG.

    “Termasuk bagaimana menjadwalkan agar tanam dan panennya tepat berdasarkan peta-peta yang sudah diprediksi BMKG,” kata Kepala Biro Perencanaan, Kerjasama dan Humas Bapanas Budi Waryanto kepada wartawan saat ditemui di Hotel Grandhika Jakarta, Maret lalu.

    Selain itu, Budi menyebut, pemerintah juga akan melakukan pemantauan khusus pada daerah sentra hortikultura, seperti sentra cabai dan sentra bawang merah di Brebes, Solo dan daerah lainnya.

    Baca: Sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau

    Daerah-daerah ini nantinya, akan diberikan perhatian khusus untuk memastikan produksi tetap berjalan baik.

    Bapanas juga akan menyiapkan bantuan cool storage atau mesin pendingin di daerah sentra produksi. Dengan demikian, saat musim panen produk hortikultura itu bisa disimpan di cold storage agar tidak cepat membusuk.

    “Kami juga sedang menambah cold storage ke wilayah konsumen, karena hortikultura kan sifatnya mudah rusak,” ujarnya.

    Budi menilai, dengan manajemen penanaman yang baik serta dibantu dengan teknologi, maka dampak La Nina terhadap beberapa komoditas pangan diharapkan dapat teratasi.

  • WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

     

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO memperingatkan kemungkinan terjadinya musim badai yang berbahaya karena pergantian dari fenomena El Nino menjadi La Nina.

    Juru bicara WMO Clare Nullis menyampaikan, dunia perlu bersiap dan memitigasi bencana untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

    WMO memperkirakan akan terjadi musim badai yang sangat aktif selama masa transisi dari El nino ke La Nina ini.

    “Kandungan panas laut yang tinggi dan antisipasi perkembangan peristiwa La Nina diperkirakan akan memicu musim badai yang sangat, sangat aktif tahun ini,” Clare Nullis, juru bicara WMO, mengatakan pada sebuah pengarahan di Jenewa.

    “Hanya diperlukan satu kali badai untuk menghambat pembangunan sosio-ekonomi selama bertahun-tahun.” lanjutnya.

    Baca: Dunia bersiap menyambut fenomena La Nina pada Juli

    Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) memperkirakan akan terjadi 17 hingga 25 bibit badai dengan rata-rata kekuatan 14.

    Dari badai tersebut, delapan hingga 13 diperkirakan akan benar-benar menjadi badai.

    WMO mencatat, musim badai Atlantik yang biasa berlangsung dari Juni hingga November, mencatat aktivitas di atas rata-rata selama delapan tahun berturut-turut.

    “Peringatan dini telah membantu menyelamatkan nyawa dan benar-benar berhasil mengurangi angka kematian secara dramatis,“ ujarnya.

    Namun, imbuhnya, bahkan kerugian yang diderita negara-negara di pulau-pulau kecil di Karibia secara tidak proporsional baik dari segi ekonomi dan kehidupan.

    Baca: WMO sebut pemanasan global akan memicu bencana

    El Nino adalah suatu fenomena pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

    Sedangkan La Nina merupakan kebalikan dari El Nino yakni SML di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

    “Kandungan panas laut yang tinggi dan perkembangan peristiwa La Nina diperkirakan akan memicu musim badai yang sangat, sangat, sangat aktif tahun ini,” kata Nullis, dalam sebuah pengarahan di Jenewa, dikutip dari Reuters.com, Senin (27/5/2024).

    Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS atau NOOA memperkirakan El Nino akan menghilang secara perlahan pada Juni. Setelah El Nino berakhir, langsung akan berganti dengan fenomena La Nina pada paruh kedua tahun 2024 ini.

    Ada kemungkinan 49 persen bahwa La Nina akan berkembang selama periode Juni hingga Agustus dan meningkat menjadi 69 persen pada Juli hingga September.

    Baca: Pemanasan global memicu masalah serius pada lingkungan

    Para ahli telah memperingatkan bahwa negara-negara harus waspada terhadap peralihan cepat dari El Nino ke La Nina kali ini.

    Pasalnya, perubahan ini akan menyebabkan sektor pertanian sangat terdampak dan tidak punya banyak waktu untuk pulih.

    “La Nina kemungkinan besar akan mempengaruhi produksi gandum dan jagung di AS, serta kedelai, barley, gandum dan jagung di Amerika Latin termasuk Brasil, Argentina, dan Uruguay,” kata Sabrin Chowdhury, kepala komoditas di BMI.

    “Fenomena cuaca dikaitkan dengan kekeringan berkepanjangan di seluruh wilayah Amerika, memicu buruknya kualitas tanaman dan penurunan rata-rata hasil panen, sehingga semakin memperburuk masalah pangan global,” sambungnya.

  • Penjelasan Pakar Soal Apa yang Akan Terjadi Saat La Nina Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    Penjelasan Pakar Soal Apa yang Akan Terjadi Saat La Nina Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa sejak awal tahun, osilasi selatan El Niño (ENSO) yang terjadi tahun lalu mulai melemah.

    Namun, fase netral osilasi selatan El Niño ini justru diperkirakan berpeluang berkembang menjadi fenomena La Nina pada semester kedua 2024 atau periode Juli-Desember.

    Fenomena La Nina akan memicu kondisi lebih basah dibandingkan kondisi normal sehingga meningkatkan risiko hujan ekstrem.

    Pemerhati masalah lingkungan dan atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof Eddy Hermawan MSc mengatakan, El Nino dan La Nina juga menjadi perhatian dunia.

    Sebab, tujuh lembaga riset dunia dari Australia, Kanada Eropa, Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang juga melakukan penelitian tentang ENSO.

    Hasilnya pun sama bahwa di bulan Juni hingga Juli 2024 suhu permukaan laut global berada pada kondisi normal. Namun, pada bulan Agustus hingga Oktober 2024, satu hingga dua lembaga tersebut menunjukkan hasil riset menggambarkan kehadiran fenomena La Nina.

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Meskipun demikian, menurutnya, tidak bisa dijadikan pertimbangan pasti jika La Nina akan terjadi secara global.

    “Prediksi dari lembaga lainnya tetap menunjukkan kondisi iklim normal,” katanya dikutip dari rilis di laman resmi ITB, dikutip Minggu (14/7/2024).

    Dalam riset tersebut dijelaskan, fenomena La Nina bisa terjadi ketika suhu permukaan laut berada pada rentang penyimpangan kurang dari -0,5 derajat Celcius. Sedangkan El Nino terjadi saat suhu permukaan laut ada di rentang lebih dari 0.5 derajat Celcius.

    Prediksi berbagai institusi dunia menyatakan pada 2024 suhu permukaan laut saat ini berada pada rentang -0.5 °C sampai 0.5 °C yang memiliki arti kondisi netral.

    Namun, Prof Eddy menjelaskan bila memandang kondisi cuaca dan musim di Indonesia tidak bisa hanya terfokus pada La Nina atau El Nino saja. Karena keadaan Indian Ocean Dipole (IOD) dapat meredam La Nina.

    “Seberapapun besarnya kekuatan La Nina, kalau oleh IOD diredam, maka tidak akan memberikan impact yang besar,” ujar Prof Eddy.

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    Sementara, Dosen Program Studi Meteorologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (FITB ITB) yang juga pemerhati sistem iklim, Dr Joko Wiratmo MP mengatakan, terkait terjadi kapan terjadinya La Nina, setiap daerah memiliki waktu yang berbeda tergantung wilayah dan sumber lembaga riset yang ada.

    Menurutnya, keadaan suhu permukaan laut yang netral, meskipun beberapa daerah mengalami kondisi kering tidak akan parah dibanding saat El Nino menyerang.

    “Terkait beberapa daerah di Indonesia seperti Jakarta hingga Banten, kalaupun ada kondisi kering di bulan Juni, Juli, Agustus (JJA), kondisi kering tidak akan parah dan peluang terjadinya hujan tidak akan berkurang atau bertambah signifikan,” katanya.

    Ia menambahkan, untuk mengetahui informasi lebih detail dapat dicari ke BMKG. Karena lembaga tersebut menggunakan data observasi yang lebih rinci dan tentu menghindari kesimpangsiuran informasi dan berita hoaks mengenai cuaca dan iklim di wilayah Indonesia.

    “Merekalah yang mempunyai hak resmi untuk menyatakan kondisi wilayah Indonesia. Apa yang kami sampaikan merupakan gambaran umum serta analisis cuaca dan musim yang kemungkinan akan terjadi dari perspektif regional global,” pungkasnya.

    Sumber:CNBCIndonesia

  • Badan Meteorologi Australia: Pemanasan Global Mengakibatkan Prediksi La Nina dan El Nino Makin Sulit Dilakukan

    Badan Meteorologi Australia: Pemanasan Global Mengakibatkan Prediksi La Nina dan El Nino Makin Sulit Dilakukan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Australia mengubah cara mereka mengkomunikasikan fenomena iklim seperti El Niño dan La Niña. Alasannya pemanasan global membuat prediksi berdasarkan masa lalu menjadi kurang dapat diandalkan.

    Minggu ini, Badan Meteorologi Australia mengingatkan warga dalam “waspada La Niña” dan mengatakan jika sistem iklim di Pasifik benar-benar berkembang, kemungkinan besar fenomena tersebut hanya berumur pendek dan lemah.

    Secara historis, fenomena La Niña terjadi saat air hangat berkumpul di bagian utara Australia– dikaitkan dengan kondisi yang lebih dingin dan basah di seluruh barat laut Australia hingga tenggara.

    Sementara, fenomena El Niño seringkali diartikan kondisi atmosfer yang lebih hangat dan kering.

    Namun Dr Karl Braganza, manajer nasional layanan iklim di Badan Meteorologi Australia mengatakan, perubahan iklim dan kenaikan suhu lautan membuat pola lama tersebut menjadi kurang dapat diandalkan.

    Perubahan iklim mungkin tidak “menghancurkan” hal tersebut, katanya, “tetapi frekuensi ketidakkonsistenan iklim dengan apa yang kita lihat di masa lalu akan semakin meningkat”.

    Badan Meteorologi Australia menerbitkan informasi terkini secara berkala mengenai “pendorong iklim” seperti El Niño, La Niña, dan kondisi di Samudera Hindia yang dapat mempengaruhi curah hujan.

    Braganza mengatakan pihaknya mendorong masyarakat untuk melihat perkiraan jangka panjangnya daripada terlalu bergantung pada pemahaman berdasarkan masa lalu.

    Selama dekade terakhir, Badan Meteorologi Australia telah mengembangkan versi yang disebut “model dinamis” untuk prakiraan jangka panjang 90 hari.

    Versi saat ini, ACCESS-S, melakukan pengamatan terhadap lautan dan atmosfer, termasuk perubahan konsentrasi gas rumah kaca, dan menghasilkan prakiraan berdasarkan fisika.

    Braganza mengatakan model statistik lama yang berdasarkan prediksi pada pengamatan sejarah “berfungsi dengan baik dalam iklim yang stasioner”, namun model dinamis ini sekarang lebih berguna.

    “Ini tidak bergantung pada masa lalu, tapi pada informasi terkini.”

    Braganza mencontohkan El Niño tahun lalu. El Niño secara historis dikaitkan dengan kondisi panas dan kering, tetapi setelah awal musim panas, terjadi hujan lebat pada bulan Desember dan Januari.

    “Model dinamis menangkap hujan tersebut,” kata Braganza.

    Seperti kebanyakan prakiraan cuaca, kata Braganza, ACCESS-S tidak dapat memberikan akurasi 100persen: semakin jauh jaraknya, hasilnya juga semakin tidak akurat.

    Model ini digunakan terus-menerus dan memberikan perkiraan jangka panjang berdasarkan hasil 99 model yang dijalankan yang memberikan kemungkinan curah hujan dan suhu di atas atau di bawah rata-rata.

    “Ini adalah perkiraan yang bersifat probabilistik, jadi ketika Anda mengatakan ada kemungkinan 70persen curah hujan di atas rata-rata, itu juga berarti ada kemungkinan 30persen curah hujan di bawah rata-rata,” katanya.

    Ia menambahkan, “Masyarakat perlu menggunakannya untuk melindungi risiko mereka, dibandingkan menggunakannya untuk memandu seluruh operasi mereka.”

    Braganza mengatakan pihaknya menyadari bahwa beberapa komunitas mengembangkan ekspektasi mereka sendiri terhadap curah hujan atau suhu “berdasarkan pengetahuan mereka tentang sejarah” yang menjadi pemicu iklim seperti El Niño yang seringkali lebih kering.

    Jika kami mengatakan, ‘ada El Niño’, kami menemukan bahwa masyarakat membuat prakiraan curah hujan sendiri,” katanya.

    Cuaca Australia dipengaruhi oleh tiga kali La Niña yang jarang terjadi pada tahun 2020 hingga 2023, diikuti oleh El Niño yang berakhir pada bulan April.

    La Niña adalah fase El Niño Southern Oscillation (Enso) yang terkait dengan suhu permukaan laut yang lebih dingin dari rata-rata di wilayah Pasifik khatulistiwa.

    Biro tersebut mengatakan minggu ini bahwa suhu permukaan laut global merupakan rekor terpanas setiap bulannya, mulai April 2023 hingga Juni 2024.

    Juli dan Agustus tahun ini hanya sedikit lebih rendah dari rekor suhu tahun lalu, “tetapi jauh lebih hangat dibandingkan tahun-tahun lainnya sejak pengamatan dimulai. .pada tahun 1854”.

    Badan Meteorologi Australia mengatakan tiga dari tujuh model iklim internasional, termasuk modelnya sendiri, menunjukkan bahwa suhu tropis Pasifik dapat melampaui ambang batas La Niña mulai bulan Oktober dan tiga model lainnya memiliki suhu yang mendekati ambang batas tersebut.

    Badan Cuaca Nasional AS mengatakan ada kemungkinan 71persen kemungkinan terjadinya La Niña yang lemah sebelum bulan November.

    Sumber:TheGuardian

  • BMKG Ingatkan Potensi El Nino pada 2026, Masyarakat Diimbau Bersiap Hadapi Kekeringan

    BMKG Ingatkan Potensi El Nino pada 2026, Masyarakat Diimbau Bersiap Hadapi Kekeringan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi fenomena anomali iklim El Nino yang akan melanda Indonesia pada tahun 2026 ini.

    Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (4/3/2026) BMKG telah merilis prediksi terbaru musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan akan datang lebih awal, dengan sifat yang lebih kering dari normalnya, serta akan berlangsung lebih lama.

    Sementara itu, La Nina lemah yang melanda Indonesia sejak Oktober 2025 lalu dikonfirmasi telah berakhir pada bulan Februari 2026.

    Deputi bidang Klimatologi BMKG Ardhasena mengingatkan, mengacu pada prediksi terbaru ini maka semua pihak untuk menetapkan langkah-langkah dan program mitigasi, antisipasi, serta serta pijakan jangka panjang untuk berbagai sektor yang terdampak iklim.

    “Mengenai perkembangan El Nino-Southern Oscillation (ENSO) 2026. El Nino pada saat ini berada dalam fase Netral atau ENSO berada dalam fase Netral. Dan, El Nino berpeluang terjadi mulai di pertengahan tahun 2026,” katanya dalam konferensi pers BMKG: Update Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia yang dipantau di kanal Youtube BMKG, Kamis (5/3/2026).

    Baca: Pentingnya merawat sistem pangan lokal atasi dampak El Nino

    “Pemantauan yang dilakukan BMKG terhadap anomali iklim global di Samudra Pasifik menunjukkan bahwa pada Februari 2026, fenomena La Nina lemah telah berakhir. Dan kondisi ENSO sekarang berada pada fase Netral dengan indeks -0,28,” paparnya.

    Sementara dari pemantauan suhu muka laut di Samudra Hindia, lanjutnya, menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) Netral dengan indeks +0,4.

    Ardhasena menjelaskan, kondisi Netral ENSO diprediksi akan berlangsung hingga Juni 2026. ENSO merupakan fenomena iklim yang berperan besar terhadap cuaca dan iklim dunia, termasuk Indonesia.

    “Selanjutnya mulai pertengahan tahun 2026, menurut prediksi kami menyatakan terdapat peluang sebesar 50-60 persen terjadi El Nino dengan kategori Lemah-Moderat,” ucap Ardhasena.

    “Sementara kondisi Indian Ocean Diploe diprediksi tetap Netral sepanjang tahun 2026,” tambahnya.

    Baca: Perubahan iklim membuat prediksi La Nina dan El Nino makin sulit dilakukan

    El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih hangat dari biasanya, yang dapat mengurangi curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan Indonesia dingin.

    Hal ini mengakibatkan awan yang mengandung air hujan menjauh dari wilayah Indonesia sehingga risiko terjadi kekeringan meningkat

    Ardhasena memaparkan, awal musim kemarau di Indonesia untuk tahun 2026 pada umumnya terkait erat dengan peralihan Angin Baratan atau Monsun Asia menjadi Angin Timuran atau yang dikenal sebagai Monsun Australia.

    Dipaparkan, dari 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, terdapat 144 ZOM atau 16,3 persendari ZOM keseluruhan, akan memasuki musim kemarau pada bulan April 2026.

    Kondisi ini meliputi Pesisir Utara Jawa bagian Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian kecil Bali, sebagian besar Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian kecil Kalimantan Selatan, dan sebagian kecil Sulawesi Selatan.

    Baca: Perubahan iklim memaksa tumbuhan lebih sering “berpuasa”

    Sementara itu, sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen dari total ZOM, diprediksi memasuki musim kemarau di bulan Mei 2026.

    Ini meliputi, sebagian Sumatra, Jawa bagian Barat, sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, sebagian kecil NTB, Kalimantan bagian Selatan, sebagian kecil Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan sebagian Pulau Papua.

    Dan, sebanyak 163 ZOM atau 23,3 persen dari keseluruhan ZOM diprediksi mulai masuk musim kemarau pada bulan Juni 2026. Yang meliputi sebagian besar Sumatra, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Pulau Papua.

    Jika dibandingkan dengan kondisi rata-rata klimatologi sebagai base line-nya, awal musim kemarau 2026 yang akan kita hadapi ini diprediksi maju. Itu di sebanyak 46,5 persen dari keseluruhan Zona Musim atau 325 Zona Musim.

    “Sama dengan kondisi normalnya, yaitu di sekitar 173 Zona Musim atau 24,7 persen. Dan mundur di sebanyak 72 Zona Musim atau 10,3 persen dari keseluruhan Zona Musim,” papar Ardhasena.

    “Selanjutnya, mengenai sifat hujan musim kemarau 2026 ini secara umum kami prediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya,” sambungnya.