7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin memperingatkan kemungkinan El Nino akan kembali menguat pada 2024.
Dalam tulisannya di The Conversation yang terbit pada November 2023 lalu, fenomena El Nino tahun 2023 memiliki perilaku senada dengan El Nino kuat pada 2015-2016 dan 1997-1998.
“Indonesia harus mewaspadai risiko ini. Maraknya kekeringan dan kebakaran hutan tahun ini kemungkinan bakal lebih parah lagi saat El Nino mencapai puncaknya pada 2024,” tulisnya.
Pada mulanya, El Nino memanaskan suhu permukaan laut dari Samudra Pasifik sebelah timur, dekat Peru. Panas lalu membesar dan menjalar ke arah barat sampai perairan selatan Hawai, hingga kepulauan di Pasifik barat dekat pulau Papua.
Per 29 Oktober lalu, Biro Meteorologi Australia mencatat pemanasan rata-rata bulanan di sekitar titik pantau El Nino di perairan di selatan Hawai (dikenal dengan area Nino 3.4) baru mencapai 1,66°C.
Pemanasan tersebut berpotensi tinggi menguat sampai tahun 2024. Pasalnya, pemanasan parah El Nino 2023 baru berada di dekat Peru (area Nino 2) sebesar 2,42°C di atas normal.
Baca: Fenomena El Nino belum berakhir
Erma mengatakan, butuh waktu setidaknya dua bulan hingga panas tersebut menyebar ke titik pantau Nino 3.4.
Lebih lanjut Erma memperkirakan El Nino 2023 yang baru saja berlalu akan semakin parah seiring pergantian tahun.
Karena itulah, per 21 Oktober 2023, Biro Meteorologi Australia menaksir puncak El Nino baru terjadi tiga bulan lagi, yakni Januari 2024.
Saat itu, suhu terpanas permukaan rata-rata bulanan dapat mencapai 2,7°C di atas normal di area Nino 3.4.
“Saya menganggap pemodelan oleh Biro Meteorologi Australia cukup valid karena berbasiskan data klimatologis lama, dari 1960-2010. Meskipun terpaut 13 tahun, data lama penting untuk membandingkan perilaku El Nino saat ini dengan kejadian pada 1997-1998 dan 2015-2016,” imbuhnya.
Prediksi Australia juga senada dengan Badan Ilmu dan Teknologi Laut-Bumi Jepang (Jamstec) yang mengatakan bahwa El Nino pada puncak pemanasannya akan melampaui 2°C.
Baca: Pemanasan suhu bumi cetak rekor pada 2023, ini penyebabnya
Anomali cuaca Indonesia karena El Nino?
Cuaca panas Indonesia yang terjadi di Indonesia beberapa bulan terakhir 2023 turut dipengaruhi El Nino. Namun, dampaknya masih kecil.
Sejauh ini, kondisi panas di Indonesia masih lebih banyak dipengaruhi oleh cuaca di Samudra India. Karena itulah masih ada awan-awan di atas langit Papua, diikuti oleh hujan.
Saat El Nino mencengkeram, Papua akan lebih panas dan kering, begitu juga dengan daerah-daerah di sekitarnya hingga menjalar ke banyak wilayah di Indonesia.
Sementara itu, hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi di beberapa wilayah barat Indonesia saat ini, termasuk Jabodetabek pada sepekan terakhir, lebih dipengaruhi fenomena pemanasan dari Laut Cina Selatan.
Pemanasan kali ini tergolong anomali cuaca karena seharusnya, pada periode Oktober cuaca di kawasan tersebut cenderung lebih dingin akibat siklus monsun dingin (winter monsoon) dari November-Maret.
Baca: Mungkinkah dunia capai emisi nol pada 2060?
Musim hujan mengakhiri El Nino?
Tahun ini Indonesia mengalami musim hujan secara bertahap sejak Oktober 2023 hingga Februari 2024.
“Apakah munculnya hujan menjadi pertanda berakhirnya El Nino? Sayangnya tidak. Musim hujan hanya meredam dampaknya sehingga Indonesia mungkin tidak akan sepanas saat ini,” imbuh Erma.
Mungkin ini bisa memberikan kita waktu untuk ‘beristirahat’ dari panas dan kekeringan. Namun, Erma mengingatkan hal ini tak berlangsung lama.
Pada Maret 2024, ketika musim pancaroba melanda sebagian Indonesia, El Nino akan kembali mencengkeram. Saat itu, pemanasan suhu rata-rata memang menurun, tapi masih di atas 2,3°C.
Apa yang perlu kita lakukan menghadapi El Nino?
Saat ini ilmuwan-ilmuwan dunia sedang harap-harap cemas, mengkhawatirkan El Nino bisa menguat seperti ‘gorila’ yang mengamuk melampaui perkiraan.
Indonesia harus mempertimbangkan cuaca panas akibat El Nino dapat berkepanjangan. Panasnya bisa begitu kuat, bahkan bisa melebihi kejadian-kejadian sebelumnya.
Baca: Perdagangan karbon untuk turunkan emisi
Kondisi ini dipengaruhi dengan kenaikan suhu rata-rata permukaan Bumi. Saat El Nino 2015-2016, kenaikan suhu permukaan Bumi belum mencapai 1°C.
Saat ini, suhu terpanas Bumi sudah mencapai 1,2°C. Kita harus bersiap dengan El Nino yang semakin mencengkeram. Selalu ada kemungkinan pemanasan ekstrem akibat El Nino terus bertahan dan tidak mudah meluruh.
Perhatian Indonesia sampai sekarang masih terbagi karena adanya Pemilihan Presiden-Wakil Presiden 2024.
Perhelatan akbar ini biarlah berjalan, tapi ia mengingatkan jangan sampai hal ini mengurangi fokus untuk mencegah dan menanggulangi dampak terburuk El Nino tahun 2024.
Pada 2023, kita menyaksikan kebakaran hutan dan lahan telah melebihi 600 ribu hektare–tertinggi sejak pandemi. Kekeringan sudah terjadi di ratusan wilayah, diikuti dengan kenaikan harga pahan pokok. Bendungan mengering sehingga listrik di beberapa wilayah byar-pet.
“Kita membutuhkan usaha ekstra dari semua kalangan untuk mencegah agar beragam dampak tersebut tidak meluas pada tahun 2024,” pungkasnya.
Sumber: The Conversation