Tag: el nino

  • Dampak El Nino Sudah Terasa, Sejumlah Daerah Alami Kekeringan

    Dampak El Nino Sudah Terasa, Sejumlah Daerah Alami Kekeringan

    7cloud.asia – Memasuki pekan kedua bulan Juni 2023, sejumlah daerah di Jawa barat dan Nusa Tenggara Barat dilaporkan mulai mengalami kekeringan. Kondisi ini ditengarai tak lepas dari fase El Nino.

    Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan biasanya Indonesia sudah masuk musim kemarau pada bulan Juni.

    Menurut data BNPB, selama 2013-2023, bencana kekeringan selama kemarau paling sering terjadi di sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Namun, musim kemarau tahun 2023 ini dipengaruhi oleh fase El Nino.

    “Nah fase El Nino ini memang puncaknya itu di Agustus, tetapi biasanya dampaknya atau efek dari kekeringan yang ditimbulkan – karena kalau kita bicara ini kan bencana dua aja kan, kekeringan atau karhutla – sudah mulai ‘tercicil’ sejak mungkin akhir Mei atau pertengahan Mei lalu, karena di beberapa tempat juga di Jawa timur juga sudah mengalami kekeringan,” kata Abdul Muhari kepada BBC News Indonesia.

    Baca: Terjadi 113 kebakaran hutan dalam dua bulan terakhir

    Dia memperkirakan musim kemarau 2023 akan kurang-lebih sama dengan kemarau di 2018 atau 2019, sama-sama fase puncak periode El Nino. Adapun 2020 sampai Maret 2023 Indonesia dalam periode La Nina atau periode basah.

    “La Nina ini kebalikan dari El Nino… La Nina itu tumpah ruah hujannya. Makanya dalam tiga tahun terakhir kita enggak berhenti ngurusin banjir aja dari Januari sampai Desember itu karena kemaraunya pun kita sebut kemarau basah,” tuturnya.

    Abdul Muhari mengungkap bahwa BNPB sudah berusaha memitigasi kekeringan dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Tujuannya, mengisi embung-embung, waduk, danau sampai pada ketinggian air yang cukup untuk melewati musim kemarau di fase El Nino tahun ini.

     

    Upaya itu dilakukan sejak bulan Maret, kata Abdul Muhari, karena masih ada awan hujan.

    “Ini kita manfaatin di golden time untuk TMC ini saat sekarang, di saat kita masih ada hujan sekali 3 hari … Nah ini kita distribusi dulu si hujannya untuk mengisi embung, waduk, danau tadi supaya tempat tempat penampungan alami air ini bisa terisi optimal bisa terpenuhkan secara optimal sebagai cadangan air nanti di musim kemarau,” jelasnya.

    Baca: Perubahan iklim picu banjir rob mamkin sering terjadi

    Bagaimanapun, modifikasi cuaca hanyalah solusi jangka pendek untuk kekeringan. Solusi permanennya, kata Abdul Muhari, membutuhkan perbaikan ekosistem.

    “Kenapa sih di musim hujan kita banjir? Ya karena enggak ada pohon kita yang cukup kuat untuk menahan air. Kenapa sih di musim kemarau kita kekeringan? Karena tidak ada cukup banyak air yang tersedia di daerah-daerah resapan karena enggak ada pohonnya.

    “Kalau kita mau bicara solusi permanen ya ekosistem yang harus dibenerin. Karena kalau tidak sifatnya itu akan instantaneous lagi, cuma jangka pendek,” ungkapnya.

    Sebelumnya, BMKG memprediksi bahwa El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang sebelumnya berada dalam fase netral mulai beralih pada periode Juni 2023 dan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat.

    Sementara itu gangguan iklim dari Samudra Hindia, yaitu IOD (Indian Ocean Dipole), juga diprediksi akan beralih menuju fase IOD Positif mulai Juni 2023.

    Baca: Perubahan iklim membuat musim kemarau semakin kering

    “Kombinasi dari fenomena El Niño dan IOD Positif yang diprediksi akan terjadi pada semester II 2023 tersebut dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Musim Kemarau 2023,” papar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

    “Bahkan sebagian wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori Bawah Normal (lebih kering dari kondisi normalnya) hingga mencapai hanya 20 mm per bulan dan beberapa wilayah mengalami kondisi tidak ada hujan sama sekali (0 mm/bulan).”

    Dwikorita menjelaskan bahwa selain memicu kekeringan, minimnya curah hujan juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api, sehingga makin meningkatkan kondisi kerawanan untuk terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

    Sumber: BBC Indonesia

  • Fenomena El Nino Mendekati Puncaknya, Warga Diminta Bersiap Hadapi Kekeringan

    Fenomena El Nino Mendekati Puncaknya, Warga Diminta Bersiap Hadapi Kekeringan

    7cloud.asia – Pemerintah terus memperkuat langkah antisipasi dalam menghadapi dampak dari El Nino yang puncaknya diprediksi pada bulan Agustus-September mendatang.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, El Nino yang diprediksi berintensitas lemah hingga moderat dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap ketersediaan air atau kekeringan.

    Dampak El Nino ini akan berpengaruh kepada produktivitas di sektor pertanian hingga ketahanan pangan nasional.

    Dampak dan upaya untuk mengantisipasi El Nino ini dibahas dalam rapat terbatas (ratas) yang dipimpin oleh Presiden  Joko Widodo (Jokowi), di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/07/2023).

    Dwikorita mengatakan dalam rapat tersebut dikoordinasikan antisipasi dampak El Nino yang sudah dimulai sejak bulan Februari-April itu sudah berjalan tetapi tetap perlu diperkuat. 

    Baca: Dampak El Nino sudah terasa, sejumlah daerah alami kekeringan

    Meskipun memasuki musim kemarau atau kering, Kepala BMKG mengingatkan bahwa Indonesia juga masih memiliki potensi ancaman bencana hidrometeorologi.

    Wilayah Indonesia ini dipengaruhi oleh dua samudra dan juga topografinya yang bergunung-gunung di garis khatulistiwa, ujarnya, masih tetap ada kemungkinan satu wilayah mengalami kekeringan, tetangganya mengalami banjir atau bencana hidrometeorologi.

    “Artinya, bukan berarti seluruhnya serempak kering, ada di sela-sela itu yang juga mengalami bencana hidrometeorologi basah,” terangnya.

    Oleh karena itu, Kepala BMKG pun mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif menjaga lingkungan dan terus memantau perkembangan cuaca dari BMKG.

    “Kami juga mengimbau selain terus menjaga lingkungan, mengatur tata kelola air, kemudian juga beradaptasi terhadap pola tanam, juga terus memonitor perkembangan informasi cuaca dan iklim yang sangat dinamis dari waktu ke waktu dari BMKG,” tandasnya

    Baca: PBB Ingatkan tahun 2023-2027 bakal jadi periode terpanas untuk bumi

    Dwikorita Karnawati mengatakan fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang saling menguatkan pada musim kemarau dapat berdampak pada kurangnya sumber air hingga gagal panen.

    Dilansir Antaranews, Dwikorawati mengatakan dampak El Nino membuat musim kemarau menjadi lebih kering, dan curah hujan menjadi rendah hingga sangat rendah.

    Kondisi tersebut, menurut dia, membuat uap air sangat berkurang sehingga kemungkinan terjaidnya hujan juga berkurang.

    Dengan patokan jika curah hujan normal sekitar 20 mm untuk satu hari, menjadi curah hujan untuk sebulan sekali, sehingga menjadi kering, atau bahkan tidak ada hujan sama sekali.

     

    Baca: Perubahan iklim membuat petani kopi kehilangan produksi

    Bahkan bisa saja selama dua bulan menjadi sama sekali hari tanpa hujan. Akibatnya tentu kekurangan air, kita khawatir akan kekurangan sumber mata air menjadi kering, karena resapan hujannya juga berkurang.

    “Nah kalau kita kekurangan sumber air, yang terganggu adalah pertanian dan juga kehidupan sehari-hari menjadi kekurangan air,” ujar Dwikorita.

    Ia menegaskan bahwa di sektor pertanian dikhawatirkan akan terjadi gagal panen. Selain itu, juga dapat memicu hama penyakit pada tanaman pertanian.

    Risiko kesehatan, menurut dia, juga akan terjadi karena kegiatan sanitasi menjadi terganggu akibat kekurangan air.

    “MCK (mandi, cuci, kakus) menjadi terganggu, misalnya untuk di daerah-daerah yang sangat tergantung air,” kata dia.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing oleh perubahan iklim

    BMKG dalam hal ini telah berkoordinasi dengan berbagai stakeholder untuk mengantisipasi dua fenomena tersebut yang diprediksi puncaknya pada Agustus maupun awal September 2023.

    Presiden Joko Widodo juga memerintahkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo untuk menggenjot produksi beras guna menjaga stok beras nasional menjelang fenomena El Nino atau musim cuaca abnormal yang diperkirakan terjadi pada kuartal III 2023.

  • El Nino Bakal Memuncak, Masyarakat Diminta Mewaspadai Dampak Kesehatannya

    El Nino Bakal Memuncak, Masyarakat Diminta Mewaspadai Dampak Kesehatannya

    7cloud.asia – Pemerintah dan masyarakat diingatkan untuk mengantisipasi potensi berbagai bahaya kesehatan akibat El Nino yang diprakirakan terjadi Agustus 2023.

    Peringatan ini dirilis dengan merujuk pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak fenomena El Nino di Indonesia akan terjadi pada Agustus hingga September 2023.

    “Karena kita sudah mendekati akhir Juli 2023. Jadi (puncak El Nino, red) akan bermula dalam beberapa hari lagi,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Tjandra Yoga Aditama Sabtu (22/7/2023) sebagaimana dikutip Antaranews.

    Baca: El Nino mendekati puncak, warga diminta bersiap 

    Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan setidaknya ada 10 dampak El Nino bagi kesehatan.

    Salah satunya gangguan kekurangan makanan sampai ke malnutrisi yang terjadi karena gangguan ketersediaan ketahanan pangan (“food security”).

    Selanjutnya, peningkatan kejadian penyakit menular yang terjadi akibat kombinasi menurunnya higiene sanitasi, perubahan pola hidup penular penyakit, dan lainnya.

    Baca: BMKG sebut suhu di Bandung akan menghangat mulai akhir Agustus

    Dampak kesehatan El Nino berikutnya, kata dia, adalah peningkatan penyakit yang berhubungan dengan air atau “water borne disease” karena keterbatasan ketersediaan air dan sanitasi.

    Dampak El Nino lainnya, beber dia, penurunan akses masyarakat ke fasilitas kesehatan dan disrupsi pelayanan kesehatan, baik karena cuaca panas atau mungkin bencana alam yang terjadi masa El Nino.

    Kemudian, ujar dia, peningkatan penyakit paru dan saluran napas yang berhubungan dengan terjadinya polusi udara serta penyakit akibat cuaca panas atau “heat stress”.

    Baca: PBB ingatkan tahun 2023-2027 bakal jadi masa-masa yang panas

    Di sisi lain, El Nino bisa berdampak bagi psikososial, kejiwaan, dan peningkatan penyakit menular vektor karena perubahan pola hidup vektor seperti nyamuk, tikus, dan lainnya dengan segala dampaknya.

    Selain itu, sambung Tjandra yang pernah menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu, fenomena El Nino bisa berdampak pada terjadinya bencana alam yang dapat mengakibatkan orang mengungsi dengan berbagai akibatnya serta kecederaan.

    “Dan bahkan kematian akibat cuaca ekstrem dan bencana yang terjadi akibat El Nino,” ujarnya.

    Baca: Gelombang panas di Eropa apakah berkaitan dengan perubahan iklim

  • Kekeringan Akibat El Nino Mendekati Puncak, Pemerintah Siapkan Dana Rp 8 Triliun

    Kekeringan Akibat El Nino Mendekati Puncak, Pemerintah Siapkan Dana Rp 8 Triliun

    7cloud.asia – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memaparkan sejumlah langkah antisipasi yang bisa dilakukan pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman fenomena iklim El Nino yang diprediksi mengalami puncak pada September.

    El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normal di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.

    Singkatnya, El Nino memicu terjadinya kemarau kering di sejumlah wilayah di Indonesia. Diperkirakan El Nino ini akan memuncak pada Agustus dan September 2023 ini.

    “Yang kami catat kemarau (akibat fenomena El Nino, red) dari Agustus sampai Oktober. Rata-rata puncak pada September,” ujar Tito di Gedung Sasana Bhakti Praja Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (31/7/2023).

    Baca: El Nino dekati puncak warga diminta hemat air

    Untuk menghadapi fenomena El Nino tersebut, Presiden Joko Widodo telah melakukan rapat terbatas sejak dua pekan lalu agar pemerintah daerah mampu menghadapi puncak musim kemarau.

    Mengantisipasi puncak El Nino, pemerintah daerah diminta untuk menyiapkan cadangan air pada tandon air hingga waduk dengan berkoordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pemerintah pusat dalam mempersiapkan cadangan air, baik air minum maupun pertanian.

    “(El Nino, red) jangan sampai gagal panen dan memengaruhi ketahanan pangan kita,” tegasnya.

    Mendagri juga mengimbau, mengantisipasi dampak El Nino, pemerintah daerah juga dapat melakukan modifikasi cuaca sendiri yang bekerja sama dengan TNI.

    Baca: Dampak El Nino bagi kesehatan

    Menurut Tito, apabila suatu daerah sudah rawan kekeringan, pemda setempat bersama TNI dapat melakukan penyiraman garam.

    Tidak hanya itu, Mendagri menyebut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga telah menyiapkan perusahaan swasta sudah dilatih oleh TNI untuk melakukan modifikasi cuaca.

    Perusahaan swasta itu sudah masuk Katalog Elektronik (E-Katalog) yang dikembangkan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

    Perusahaan swasta tersebut tidak perlu lagi melalui mekanisme lelang dan dapat langsung menggunakan anggaran yang ada di APBD, seperti belanja tak terduga.

    Baca: PBB ingatkan periode 2023-2027 bakal jadi periode dengan suhu tinggi  

    Sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah menyiapkan anggaran senilai Rp8 triliun lebih untuk mengantisipasi kekurangan pangan dampak kekeringan akibat pengaruh El Nino yang diprediksi terjadi pada puncaknya Agustus-September 2023.

    “Oleh karena itu, pemerintah mulai Oktober sampai Desember akan mengucurkan Rp8 triliun bantuan kepada masyarakat untuk mengendalikan harga-harga,” ujarnya usai menghadiri Konferensi Asean Arsitek di Makassar, Sulawesi Selatan pekan lalu.

    Dana tersebut guna mengantisipasi dampak kekeringan yang ditimbulkan El Nino yang bisa memicu kurangnya pangan. 

    “Untuk harga-harga barang pokok, kita khawatir karena sungai sungai kita mengering. Saya sudah janji beli beras 1 juta ton, tapi tidak boleh. Memang kita harus bersiap betul, tapi dalam negeri kita, Alhamdulillah harga-harga masih stabil selain ayam dan telur,” katanya.

    Baca: Emisi gas ruang kaca cetak rekor tertinggi tahun 2022 lalu

    Kendati demikian, Zulkifli menambahkan, ada beberapa komoditas pangan yang saat ini tidak bisa diimpor. 

    “Yang bisa kita tidak beli, seperti beras, jagung, garam itu kita tidak impor, kecuali industri. Tapi untuk konsumsi itu kita tidak beli. Soal harga ayam naik, itu soal waktu saja, kalau pakannya naik, jagungnya kita subsidi,” ucapnya. 

    Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat juga meminta agar langkah untuk menghadapi dampak cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino dioptimalkan, yakni dengan mengupayakan langkah antisipatif dan adaptif.

    Lestari, dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Rabu menyebut perlunya kebijakan  untuk menjamin ketahanan pangan, kesehatan, dan ekonomi.

    “Kita harus mengoptimalkan semua potensi yang kita miliki untuk bisa menjawab berbagai ancaman terkait dampak perubahan iklim dan kemarau panjang yang diperkirakan akan melanda Indonesia,” kata dia.

    Baca: Cuaca panas di Indonesia apakah termasuk gelombang panas?

    Sumber: Antaranews

     

  • Fenomena El Nino, Penyebab dan Dampaknya Bagi Lingkungan dan Pertanian

    Fenomena El Nino, Penyebab dan Dampaknya Bagi Lingkungan dan Pertanian

    7cloud.asia – Hari-hari belakangan ini nama El Nino sering disebut. Masyarakat diiingatkan untuk berhemat air karena kemungkinan kemarau kering dan panjang akibat El Nino.

    Namun demikian, banyak di antara kita yang belum paham apa itu El Nino. Mereka juga abai akan dampak El Nino bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

    El Nino adalah sebuah fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur ini menyebabkan pergeseran arah angin dan arus laut yang kemudian dinamai El Nino yang ditandai oleh kondisi cuaca yang lebih kering dan panas.

    Kebalikan El Nino adalah La Nina, atau kondisi cuaca yang lebih basah yang kita alami beberapa tahun belakangan ini.

    Baca Juga: Kekeringan Akibat El Nino Mendekati Puncak, Pemerintah Siapkan Dana Rp 8 Triliun

    Pergeseran arah angin dan arus laut ini mengubah pola cuaca secara global yang berdampak signifikan pada kondisi iklim di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.

    Fenomena El Nino terjadi secara alami dan berulang dalam jangka waktu tertentu biasanya 5-7 tahunan.

    Adapun, mekanisme penyebab El Nino biasa dijelaskan sebagai berikut

    Pemanasan Suhu Permukaan Laut
    Biasanya, angin pasat berhembus dari timur ke barat di kawasan Samudra Pasifik. Angin ini mendorong air hangat ke arah barat sehingga menyebabkan permukaan air di wilayah barat Samudra Pasifik menjadi lebih hangat daripada di wilayah timur.

     
    Baca Juga: El Nino Bakal Memuncak, Masyarakat Diminta Mewaspadai Dampak Kesehatannya

    Redaman Bawah Permukaan
    Dalam kondisi normal, lapisan air hangat di wilayah barat Pasifik tersebut didorong oleh angin pasat ke bawah permukaan laut.

     
    Akibatnya, lapisan air lebih hangat ini terperangkap di bawah permukaan laut yang lebih dingin di wilayah timur.

    Perubahan Sirkulasi Atmosfer
    Ketika El Nino mulai berkembang, angin pasat melemah atau bahkan berbalik arah, sehingga menyebabkan air hangat yang sebelumnya terperangkap di bawah permukaan laut di wilayah barat naik ke permukaan.

    Air hangat ini kemudian mengalir ke arah timur dan menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Timur Pasifik.

     
    Baca Juga: Fenomena El Nino Mendekati Puncaknya, Warga Diminta Bersiap Hadapi Kekeringan

    Perubahan Pola Cuaca Global
    Peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Timur Pasifik mempengaruhi pola cuaca global dengan mengubah distribusi panas di atmosfer.

     
    Dampaknya dapat dirasakan di seluruh dunia, termasuk peningkatan suhu, perubahan pola hujan, dan anomali cuaca lainnya

    Dampak El Nino sangat dirasakan oleh para petani, khususnya di sektor pertanian. Beberapa dampaknya adalah:

    Kekeringan

    El Nino seringkali menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut dan mengurangi curah hujan di beberapa wilayah.
     
    Kekeringan yang berkepanjangan dapat terjadi akibat hal ini, yang menyebabkan ketersediaan air untuk pertanian menjadi berkurang.
     
    Baca Juga: Dampak El Nino Sudah Terasa, Sejumlah Daerah Alami Kekeringan
     
    Perubahan musim tanam
    El Nino mengubah pola cuaca dan bisa mengganggu musim tanam yang biasanya terjadi.
     
    Petani dapat mengalami penundaan dalam penanaman tanaman, penurunan luas area tanam, atau bahkan kegagalan panen.

    Penyakit dan Hama
    Perubahan kondisi cuaca akibat El Nino dapat mempengaruhi persebaran penyakit dan hama tanaman.

     
    Lingkungan yang lebih menguntungkan bagi beberapa penyakit dan hama bisa muncul, yang dapat menyebabkan penyebaran yang lebih cepat dan merusak tanaman serta mengurangi hasil panen.

    Penurunan Kualitas Tanaman
    Suhu yang tinggi dan kekurangan air akibat El Nino dapat menyebabkan penurunan kualitas tanaman.

     
    Baca Juga: Gelombang Panas Mengakibatkan Ratusan Orang Meninggal, PBB Ingatkan 2023-2027 Jadi Periode Terhangat
     
    Buah-buahan dan sayuran yang tumbuh dalam kondisi yang kurang air atau tidak ideal cenderung memiliki ukuran yang lebih kecil, rasa yang kurang enak, dan kualitas yang buruk secara keseluruhan.

    Ketidakstabilan Pasar
    Perubahan dalam produksi pertanian akibat El Nino dapat menyebabkan ketidakstabilan pasar.

     
    Jika panen berkurang atau gagal, pasokan dapat berkurang, yang kemudian dapat menyebabkan kenaikan harga dan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

    Sumber: umsu.ac.id

     
  • El Nino Mengancam Ketersediaan Beras Nasional, Begini Penjelasan Mentan

    El Nino Mengancam Ketersediaan Beras Nasional, Begini Penjelasan Mentan

    7cloud.asia – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, memastikan  ketersediaan beras nasional cukup baik hingga September 2023, meski saat ini El Nino menghantui dan bisa memicu gagal panen.

    Mentan menyebut, sampai September atau puncak kemarau yang dipicu El Nino, Indonesia masih punya overstock beras di atas 2,7 juta [ton].

    “Artinya, dari setiap bulan masih ada panen di atas 800 ribu hektare, itu menghasilkan cukup untuk kebutuhan (beras, red) kita setiap bulannya di atas 2 jutaan,” kata Mentan usai rapat terbatas (ratas) membahas ketersediaan beras nasional mengantisipasi dampak El Nino di Istana Merdeka, Rabu (02/08/2023).

    Baca: Penyebab El Nino dan dampak yang ditimbulkan

    Dalam rapat tersebut, ungkap Mentan, Presiden juga meminta jajarannya untuk mempersiapkan dan memastikan ketersediaan beras nasional dalam menghadapi fenomena El Nino yang memicu kekeringan dan menurunnya produktivitas pertanian.

    Mentan mengatakan, pihaknya akan mempersiapkan kurang lebih 500 ribu hektare untuk menjaga ketersediaan beras nasional dan antisipasi El Nino.

    “Walaupun dalam kenyataan sampai hari ini tentang El Nino dan lain-lain sebagainya yang digambarkan akan panas dan lain-lain, saya habis cek beberapa waduk-waduk dan dam kita yang besar, ternyata airnya cukup,” kata Syahrul.

    Baca: Pemerintah siapkan Rp 8 Triliun guna antisipasi kekeringan dampak El Nino

    Mentan pun mengharapkan pemerintah daerah turut mempersiapkan diri dalam menghadapi El Nino.

    Menurutnya, sejumlah daerah telah menyatakan kesiapan untuk mempersiapkan lahan guna menjamin ketersediaan beras nasional mengantisipais dampak El Nino.

    Ia menyebut ada enam daerah utama yang disiapkan, mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, tiga Jawa, ditambah dengan Sulawesi Selatan.

    Baca: El Nino mulai memasuki puncaknya, warga diminta antisipasi kekeringan

    “Kemudian ada penyangganya adalah Kalimantan Selatan, NTB [Nusa Tenggara Barat], Banten, dan Lampung.

    “Saya yakin kalau ini bisa bergerak 500 ribu hektare, shorted atau kemungkinan imbas dari El Nino itu kita bisa kendalikan dengan baik,” tandasnya.

    Indonesia diperkirakan akan turut merasakan dampak larangan ekspor beras yang dilakukan India guna mengantisipasi dampak El Nino.

    Baca: Dampak El Nino pada kesehatan

    Seperti diberitakan sebelumnya, pada 20 Juli lalu India melarang ekspor beras non basmati demi menjaga pasokan sekaligus mengantisipasi dampak El Nino.

    Sejumlah negara penghasil beras seprti Vietnam sedang mempertimbangkan hal yang sama.

    Sumber: Setkab

     

  • Cegah Kelaparan Terulang Pemerintah Bangun Lumbung Sosial di Puncak Jaya Papua Tengah

    Cegah Kelaparan Terulang Pemerintah Bangun Lumbung Sosial di Puncak Jaya Papua Tengah

    7cloud.asia – Pemerintah telah menyediakan bantuan untuk daerah kelaparan dan kekeringan akibat El Nino di distrik Agandugume, Puncak Jaya, Papua Tengah.

    Seperti diberitakan, ada 6 warga Puncak Jaya Papua Tengah yang meninggal akibat kekeringan yang dipicu fenomena alam El Nino.

    Kejadian kekeringan di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah merupakan siklus tahunan, namun tahun ini sangat parah karena adanya fenomena El Nino.

    Pemerintah dalam hal ini Kemensos, TNI dan Polri telah menyalurkan bantuan untuk menghadapi kondisi tanggap darurat.

    Baca: Seberapa besar ancaman El Nino bagi ketahanan pangan

    Menteri Sosial, Risma Triharini mengatakan pihaknya mematangkan rencana pendirian lumbung sosial yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Puncak Jaya Papua Tengah.

    Lumbung sosial di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah akan berbeda dengan lumbung sosial di daerah lain karena kondisi topografi, cuaca dan budaya.

    “Ini yang kita lagi pikirkan karena kondisinya berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang tadi saya sampaikan kondisinya sampe minus,” ujar Mensos di Jakarta, Kamis (3/8/2023) 

    Untuk pembangunan lumbung sosial di Papua Tengah ini, Kemensos akan melibatkan pihak gereja. 

    Baca: Mengapa El Nino memicu kemarau panjang

    Pelibatan gereja juga dilakukan saat melakukan survei langsung ke lokasi setelah musim dingin selesai.

    Berdasarkan komunikasi awal, tanaman yang paling cocok adalah umbi-umbian karena lebih tahan lama dibandingkan beras. Selain itu, asupan protein hewani juga menjadi perhatian Mensos.

    “Kemarin kita diskusi soal daging itu susah sekali. Misalnya kita kirim daging yang ada bumbunya, mereka ngomong ini daging apa, sehingga paling mudah kita akan ternakkan babi, kita gemukan dengan koordinir gereja,” katanya.

    Pemenuhan asupan daging dengan beternak babi adalah pilihan yang paling mungkin dilakukan di Papua Tengah ini.

    Baca: Antisipasi gagal panen akibat El Nino, pemerintah siapkan dana Rp 8 T

    Daging dari peternakan babi nantinya bisa digunakan sebagai buffer stock dan dapat dimakan saat musim dingin seperti saat ini.

    Lumbung sosial rencananya akan dikelola oleh gereja karena ke pemerintah daerah terdekat terkendala jalan dan transportasi.

    Selain itu, gereja berada paling dekat dengan masyarakat sehingga saat kekeringan melanda, buffer stock bisa langsung disalurkan dan tidak ada lagi yang meninggal karena kelaparan.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Dampak EL Nino Mulai Dirasakan Petani di Ciamis, Jawa Barat

    Dampak EL Nino Mulai Dirasakan Petani di Ciamis, Jawa Barat

    7cloud.asia – Dampak El Nino mulai dirasakan petani di sejumlah daerah yang mengeluhkan hasil panen yang tidak maksimal atau bahkan mengalami gagal panen.

    Sektor pertanian dan petani memang sangat merasakan dampak El Nino yang diperkirakan akan memuncak pada Agustus dan September ini. 

    Tidak hanya mengalami kekeringan, petani juga harus menghadapi berbagai penyakit padi dan hama. El Nino menyebabkan hama dan penyakit menyebar lebih cepat dan merusak tanaman serta mengurangi hasil panen.

    Seperti yang terjadi di wilayah Ciamis, Jawa Barat. Lisnawati, petani padi di Dusun Batukurung, Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Ciamis mengeluh panen padinya menurun akibat dampak El Nino.

    Baca: Mengapa El Nino terjadi dan apa dampaknya bagi petani?

    Pada musim panen bulan Juli lalu, ia hanya mampu memanen gabah kurang dari 2 ton dari 11 petak sawah yang ia miliki. Padahal biasanya hasil panennya
    mencapai 4 ton.

    Kondisi ini akibat adanya serangan hama tikus yang menggerogoti batang padi milik petani.

    Berbagai usaha telah dilakukan Lisna untuk menyelamatkan padinya dari hama
    tikus, seperti memberikan racun tikus yang banyak.

    “Semua orang kasih racun tikus, tapi ada terus (tikusnya). Mati (tikus) banyak, tetapi yang makan batang padi juga banyak. Makanya pada kaget semua orang karena mengalami semua,” jelas Lisnawati kepada 7cloud.asia.

    Baca: Warga diminta bersiap hadapi kekeringan akibat El Nino

    Ibu dua orang anak ini menjelaskan hama tikus adalah hama yang paling jahat dibandingkan hama lainnya. Sebab, hama tikus akan memakan batang padi
    terus menerus hingga jelang panen.

    Makanya tak heran petani merugi pada musim panen kali ini. Bahkan menurut Lisnawati, kondisi ini adalah yang terparah yang pernah ia hadapi dalam menghadapi hama tikus.

    Sebagai petani, Lisnawati mengaku tidak mendapat bantuan apapun untuk
    menghadapi hama tikus tersebut.

    “Padahal dulu kita suka dikasih obat (untuk hama tikus) dari desa, tapi sekarang nggak dikasih lagi,” katanya.

    Baca: Pemerintah siapkan Rp 8 T untuk antisipasi dampak El Nino

    Sementara itu, Kepala Desa Kawasen, Suharno mengatakan pihaknya memang
    tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang dikeluhkan warganya.

    Selain itu, ia juga tidak dapat memberikan obat untuk hama tikus secara gratis kepada warga. Sebab hal ini akan memperparah kondisi tanah. Paparan zat kimia
    dapat membuat tanah menjadi lebih kering.

    “Tanah menjadi kering karena pemakaian obat-obatan kimia. Sekarang kita mau mencoba bergeser ke obat-obat organik yang aman untuk tanah,” katanya.

    Dalam menghadapi El Nino, petani tidak hanya berurusan dengan hama saja.
    Tetapi juga gangguan musim tanam dan kekeringan.

    Baca: Seperti ini El Nino berdampak pada kesehatan manusia

    Mengantisipasi kekeringan ini, Suharno menjelaskan pihaknya tidak hanya
    mengandalkan irigasi yang sudah ada. 

    Pihak desa juga akan membangun pipa saluran air sepanjang 2,5 kilometer yang sumber air tersebut berasal dari desa terdekat yakni Desa Cimudal.

    Saluran air dengan debit air sebanyak 1,2 liter per detik ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air untuk rumah tangga dan mengairi sawah.

    Selain itu, Suharno juga mengajak warga untuk melakukan reboisasi atau
    penghijauan secara mandiri terutama di sekitar mata air desa.

    “Reboisasi harusnya kesadaran sendiri, tetapi kadang susah,” ungkapnya.

    Baca: Dampak El Nino sudah terasa, sejumlah daerah alami kekeringan

    Suharno berharap ada kerjasama dari warga untuk menghadapi El Nino. Selain
    itu, ia juga berharap perhatian dari pemerintah daerah untuk meminimalisir dampak El Nino bagi petani di daerahnya. 

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu
    permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat
    dari biasanya.

    El Nino Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali berselang seling dengan fenomena La Nina.

    Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Penulis: Nurakhmayani

  • Mentan Perkirakan Indonesia Bisa Kekurangan Beras hingga 1,2 Juta Ton Akibat El Nino

    Mentan Perkirakan Indonesia Bisa Kekurangan Beras hingga 1,2 Juta Ton Akibat El Nino

    7cloud.asia – Menteri Pertanian atau Mentan Syahrul Yasin Limpo memperkirakan dampak El Nino tahun ini diperkirakan berpotensi mengakibatkan produksi pertanian Indonesia turun.

    Mentan menyebut, El Nino akan mengakibatkan Indonesia kekurangan stok beras antara 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton. 

    Mentan mengatakan, sejatinya Kementerian Pertanian telah mengantisipasi dampak El Nino dengan menggenjot produksi dan produktivitas petani.

    Baca: El Nino mengancam ketersediaan pangan 

    Antisipasi tersebut dimulai dari perencanaan hingga implementasi di sawah dan ladang yang senantiasa dipantau secara seksama yang sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum El Nino memuncak di bulan-bulan ini.

    Namun, pada musim kemarau tahun ini, Indonesia harus dihadapkan dengan fenomena El Nino yang berdampak pada intensitas panas yang lebih tinggi yang berakibat pada kekeringan dan kurangnya ketersediaan air.

    “Melalui analisa data dan lapangan bahwa kita sudah siap, sekeras apapun El Nino, kekurangan kita antara 380 ribu ton-1,2 juta ton,” ucapnya seperti dikutip Antaranews.com

    Baca: Petani di Ciamis Jawa Barat mulai rasakan dampak El Nino

    Untuk mengatasi hal ini  Kementan telah mempersiapkan booster kegiatan penanaman lebih dari 500 ribu hektar selain dari reguler yang ada.

    Penambahan penanaman padi di 500 ribu hektar ini berada di daerah hijau, yakni daerah dengan cadangan air yang mencukupi.

    Jumlah petani cukup, kelompok tani yang bisa terkonsolidasi dan memiliki benih padi varietas tahan kering dan pemilihan pupuk yang tepat.

    Baca: Mengapa El Nino terjadi dan apa dampaknya bagi lingkungan

    “Sehingga kita jamin ada tambahan 1,5 juta ton beras atau 3 juta ton gabah yang terjadi besok itu,” ujarnya.

    Limpo mengatakan untuk ini, Kementan menurunkan semua dirjen lintas sektor demi mengamankan produksi pangan sebagai dampak El Nino.

    “Sudah jalan sekarang, Juli-Agustus ini maksimal (ditanam) sehingga kita berharap dia bisa mem-backup November-Desember,” jelasnya.

    Baca: Pemerintah siapkan dana Rp 8 T untuk antisipasi dampak El Nino

    Enam daerah hijau yang disiapkan untuk mengantisipasi dampak El Nino tersebut merupakan provinsi lumbung pangan, yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

    Selain itu juga ada empat provinsi penyangga yaitu Banten, Lampung, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

    Sebelumnya Mentan meminta daerah bersiap menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan memuncak pada Agustus September ini.

    Baca: Mengapa food estate gagal dan apa dampaknya untuk lingkungan

     

     

     

  • Antisipasi Kekeringan Akibat El Nino, DKI Jakarta Tambah Instalasi Pengolahan Air

    Antisipasi Kekeringan Akibat El Nino, DKI Jakarta Tambah Instalasi Pengolahan Air

    7cloud.asia – Fenomena alam El Nino diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus dan September 2023 ini.

    Berbagai dampak El Nino telah mulai dirasakan warga termasuk warga Jakarta, salah satunya kekeringan.

    Mengantisapasi kekeringan yang dipicu fenomena alam El Nino tersebut Pemprov DKI Jakarta mempersiapkan sebanyak 67 unit mobil tangki.

    Baca: Penyebab fenomena El Nino dan dampaknya pada lingkungan

    “Jajaran Pemprov DKI Jakarta siap menghadapi ancaman kekeringan dengan menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana pendukung milik PAM Jaya, Dinas SDA, dan instansi terkait lainnya,” jelas Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji dalam keterangan tertulis yang dilansir Kamis (17/8/2023).

    Sarana yang disiapkan untuk antisipasi kekeringan akibat El Nino antara lain adalah 67 unit mobil tangki, 46 unit tandon air, 9 unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) stasioner, dan 7 unit IPA mobile.

    Persiapan ini, lanjut Isnawa, sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari yakni sejak bulan April 2023 lalu.

    Baca: Dampak El Nino pada kesehatan

    Saat itu, pihaknya mengundang instansi terkait dalam memastikan pasokan air
    bersih dapat tersedia, dan melayani masyarakat selama menghadapi musim kemarau.

    Tak hanya menyediakan air bersih untuk warga, pemprov DKI Jakarta juga
    mengantisipasi kenaikan jumlah kasus kebakaran akibat cuaca panas disertai angin kencang.

    Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI
    Jakarta Satriadi Gunawan menjelaskan, selama Januari-Juli 2023, telah terjadi 1.034 kejadian kebakaran.

    Baca: Ini yang terjadi jika Jakarta sukses batasi jumlah kendaraan bermotor

    Sementara dalam kurun waktu 1-15 Agustus 2023 telah terjadi 88 kebakaran
    di DKI Jakarta.

    Hubungan pendek arus listrik menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran di Jakarta yakni sebanyak 42 kejadian.

    Lalu secara berturut-turut adalah membakar sampah (19 kejadian), ledakan gas (7 kejadian), puntung/api rokok (4 kejadian), dan lainnya 15 sebanyak kejadian.

    Baca: PBB ingatkan kurun 2023-2027 bakal jadi periode terhangat

    “Berdasarkan data tersebut, penggunaan listrik masih menjadi faktor terbesar penyebab terjadinya kebakaran di DKI Jakarta,” papar Satriadi.

    Selanjutnya Satriadi menjelaskan kenaikan suhu pada musim kemarau
    mempengaruhi pola hidup masyarakat dalam menggunakan listrik yang berlebih.

    Hal ini dapat menyebabkan perangkat elektronik, kabel listrik, dan instalasi listrik menjadi lebih rentan terhadap gangguan atau korsleting.

    Baca: Emisi gas ruang kaca capai rekor di tahun 2022

    Ia meminta warga lebih berhati-hati, karena saat musim kemarau seperti ini, sumber air untuk memadamkan api berkurang. Sementara api mudah merambat kemana-mana akibat cuaca panas dan hembusan angin.

    Apabila terjadi kebakaran, hal tersebut berdampak pada sulitnya proses
    pemadaman yang mengakibatkan perambatan api yang lebih cepat, serta kerugian yang lebih besar.

    “Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan listrik pada musim kemarau seperti saat ini,” ujar Satriadi.

    Baca: Dampak El Nino sudah terasa, sejumlah daerah alami kekeringan

    Pemprov DKI Jakarta mengimbau warga untuk memastikan perangkat elektronik, instalasi listrik dapat dijaga dengan baik, terutama dalam pemeliharaan dan pemantauan kabel, serta steker listrik.

    Warga diimbau untuk mematikan listrik apabila tidak digunakan untuk menghindari terjadinya korsleting listrik yang dapat memicu kebakaran.

    BPBD DKI Jakarta juga melakukan pemantauan dan bedah instalasi listrik di kawasan permukiman menengah ke bawah.

    Baca: El Nino memasuki masa puncak warga diminta siap hadapi kekeringan

    Penulis: Nurakhmayani