Tag: film

  • “Pesta Babi”: Proyek Negara, Hutan Dibabat, Masyarakat Adat Disingkirkan

    “Pesta Babi”: Proyek Negara, Hutan Dibabat, Masyarakat Adat Disingkirkan

    7cloud.asia – Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale adalah tudingan terbuka terhadap wajah pembangunan di Papua Selatan.

    Film berdurasi 90 menit ini membongkar bagaimana Proyek Strategis Nasional (PSN) atas nama ketahanan pangan dan energi justru berubah menjadi mesin perampasan ruang hidup.

    Dengan dalih “kepentingan nasional”, negara membuka hutan seluas 2,5 juta hektare membentang di Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, hingga Kabupaten Mappi—wilayah hidup masyarakat adat yang kini berada di bawah bayang-bayang alat berat dan izin konsesi.

    Film ini hasil kolaborasi lintas organisasi, dengan gamblang memperlihatkan bagaimana kebijakan dari Jakarta menjelma menjadi ancaman nyata di tanah Papua.

    Di atas kertas, ini proyek pangan dan energi. Namun, di lapangan, ini pembabatan hutan adat dan penggusuran sistematis terhadap masyarakat asli.

    Baca: Anak-anak Muda Papua Bertekad Mrawat Hutan Adat

    Adegan pembuka langsung menyodok kesadaran: puluhan lelaki dari Suku Awyu memanggul batang kayu raksasa, menancapkannya sebagai salib merah di Distrik Fofi. Simbol itu bukan sekadar ritual, melainkan penanda duka dan perlawanan.

    Kontras pun tak terelakkan ketika gambar beralih ke pembabatan hutan besar-besaran yang dijaga aparat bersenjata.

    Pesta Babi menunjukkan bagaimana negara hadir melalui pengerahan TNI untuk “mengamankan” proyek, sementara masyarakat adat seperti Suku Malind, Suku Awyu, dan Suku Muyu justru kehilangan ruang hidupnya.

    Lebih jauh, film ini juga mengurai aktor-aktor korporasi besar yang mendapat karpet merah dari kekuasaan untuk menggarap jutaan hektare hutan tersebut.

    Namun kekuatan film ini tidak hanya pada kritik, melainkan pada cara ia merawat makna hutan bagi masyarakat adat.

    Baca: Suku Awyu dan Moi Gelar Aksi Damai di Mahkamah Agung

    Lewat dokumentasi upacara Awon Atatbon—pesta babi yang digelar oleh Wilem Wungim Kimko di Kurinbin—penonton diajak melihat hutan bukan sebagai komoditas, melainkan sumber kehidupan, identitas, dan relasi sosial.

    Sepuluh tahun persiapan untuk satu upacara mempertegas betapa dalamnya ikatan manusia dengan tanahnya. Ironisnya, proyek serupa telah berulang kali dijalankan dan gagal sejak era Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.

    Namun negara tetap mengulang pola lama: membuka hutan, mengundang korporasi, dan mengorbankan masyarakat adat.

    Diputar di M Bloc, Jakarta pada Sabtu (18/04/2026) lalu serta disaksikan ratusan mahasiswa, anak-anak muda Gen-Z serta aktivis, film Pesta Babi menegaskan bukan sekedar dokumenter. Ia adalah dakwaan atas kesewenang-wenangan pemerintah terhadap masyarakat dan alam di Papua.

    Baca: Papua Bukan Tanah Kosong, Masyarakat Distrik Konda Tandai Hutan Adat

    Hal ini terungkap dalam diskusi dengan salah satu sutradara Film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, produser eksekutif, Arie Rompas dan Gispa Ferdinanda dari Pusaka Bentala Rakyat, usai pemutaran film.

    Dandhy pada kesempatan itu secara terbuka menyebut harapannya agar film ini memulai percakapan yang dianggap tabu—termasuk pertanyaan mendasar: apakah praktik pembangunan hari ini merupakan bentuk penjajahan baru atas Papua?

    “Apakah masyarakat Papua dijajah? Jawabannya iya. Kalau memakai perspektif pemerintah, mereka akan menolak mengatakan ini bentuk penjajahan. Mereka pasti akan bilang bahwa yang dilakukan ini untuk membangun, dan lain-lain. Hal ini juga dilakukan pemerintah Belanda saat menjajah Indonesia,” jelas Dandhy.

    Melalui film ini, para sutradara ingin menghubungkan semua masalah yang terjadi di Papua selama ini. Dari mulai isu separatisme, lingkungan, pembangunan hingga isu militer.

    “Mungkin selama ini Anda melihat isu separatisme sendiri, isu lingkungan sendiri, isu konflik agraria sendiri, isu peminggiran masyarakat adat sendiri, isu pembangunan sendiri, isu militer sendiri, ini semua kami gabung jadi satu yang lebih utuh,” katanya.

    Baca: Rencana Pembangunan Papua: Bayang-bayang Ekonomi yang Menguras Alam

    Sementara Arie Rompas menerangkan saat ini Indonesia berada dalam krisis iklim, yang mengharuskan untuk bertransisi ke energi yang terbarukan seperti biosolar, bio etanol.

    “Tapi dalam hal ini yang kami temukan sebenarnya dari wilayah pembukaan proyek tebu saja itu sudah menghasilkan emisi 220 juta ton CO2 atau sama dengan emisi tahunan 48 juta mobil.  Artinya ini juga menghasilkan emisi yang besar juga disaat kita mau beralih ke energi yang terbarukan,” ungkap Arie.

    Karena itu, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia ini menegaskan proyek deforestasi terbesar di dunia itu sedang terjadi di Papua Selatan saat ini.

    “Pemerintah dengan menggunakan isu transisi energi justru melanggengkan kolonialisme baru di Papua,” katanya.

    Baca: Izin Operasional PT. Freeport Diperpanjang, Derita Masyarakat Papua Berlanjut

    Belum lagi masalah sosial dimana ada perampasan hak-hak masyarakat disana. Hak-hak perempuan yang dirampas disana disamarkan atau tidak dinaikkan dalam isu-isu transisi energi yang berkeadilan.

    Pesta Babi pada akhirnya bukan hanya film dokumentasi, tetapi dakwaan. Ia memaksa publik melihat bahwa di balik jargon pembangunan dan energi, ada hutan yang hilang, ada identitas yang tergerus, dan ada masyarakat adat yang terus didorong ke tepi.

    Pesta Babi menegaskan satu hal: pembangunan versi negara seringkali berdiri di atas puing-puing kehidupan masyarakat adat.

     

  • Film “Kupeluk Kamu Selamanya“: Ketika Perempuan Selalu Dituntut Jadi Ibu yang Sempurna

    Film “Kupeluk Kamu Selamanya“: Ketika Perempuan Selalu Dituntut Jadi Ibu yang Sempurna

    7cloud.asia – Dalam sebuah suratnya, RA Kartini pernah mengatakan bahwa mendidik perempuan berarti mendidik bangsa. Hal ini karena para perempuan atau para ibu lah yang lebih banyak berperan dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak-anaknya.

    Dalam situasi yang buruk para ibu juga yang paling banyak berkorban untuk anak-anaknya. Ketika seorang ibu yang sudah berdamai dengan diri dan kehidupannya sendiri, maka hal itu akan terefleksi ke orang-orang sekitar.

    Pesan inilah yang tertangkap dalam film Kupeluk Kamu Selamanya, yang akan tayang di Gedung Bioskop pada 30 April mendatang.

    Lewat karakter Naya, Kupeluk Kamu Selamanya menjadi sebuah refleksi bahwa perempuan, terutama ibu, kerap dituntut untuk selalu kuat, sehingga merasa tidak butuh pertolongan dari orang di sekitarnya.

    Masyarakat kadang terlalu menuntut perempuan menjadi ibu yang kuat dan sempurna. Padahal sebenarnya ibu dan perempuan juga manusia, dan manusia tidak ada yang sempurna.

    Baca: Film ”Tunggu Aku Sukses Nanti”, Ketika Lebaran Bukan Hanya Ajang Silaturahmi

    Ia memiliki keterbatasan. Ia kadang berbuat salah, merasa lelah dan butuh pertolongan. Namun, sering orang-orang di sekitarnya tak memahami hal itu.

    “Naya mengajarkan kita untuk jangan lupa meminta tolong. Tidak apa-apa jika kita terlihat rapuh, karena itu sangat manusiawi. Rapuh itu juga bagian dari emosi manusia yang harus kita terima,” ujar Hana Malasan yang memerankan Naya.

    Film Kupeluk Kamu Selamanya bercerita tentang perjuangan seorang ibu tunggal untuk bisa berdamai dengan kehidupan demi memperjuangkan masa depan anaknya yang menyintas penyakit bawaan.

    Film Kupeluk Kamu Selamanya mengikuti kisah seorang ibu tunggal bernama Naya yang diperankan oleh Hana Malasan. Ia harus merelakan kariernya demi merawat sang anak, Aksa (Jared Ali), yang memiliki penyakit bawaan sejak lahir.

    Ketika Naya berpisah dengan sang suami (Ibnu Jamil), kehidupan Naya semakin menantang.
    Saat sakit bawaan Aksa semakin parah dan membuatnya harus menjalani perawatan, keteguhan Naya diuji, baik sebagai ibu dan perempuan.

    Disutradarai oleh Pritagita Arianegara, yang dalam setiap filmnya sering berbicara tentang relasi ibu dan anak, Kupeluk Kamu Selamanya mengisahkan sebuah perjalanan emosional yang menyentuh dari kisah Naya dan Aksa.

    Baca: Dalam Hubungan yang Tidak Sehat, Perempuan yang Harus Menanggung Beban

    Penonton diajak untuk merasakan dan memaknai arti cinta tanpa syarat, dari sudut pandang seorang ibu. Film ini juga dapat menjadi bentuk refleksi untuk para orangtua yang sering merasa paling tahu apa yang dibutuhkan sang anak.

    Bagi Ibnu Jamil, film Kupeluk Kamu Selamanya juga terasa sangat manusiawi, saat
    Pritagita memotret para karakternya tidak benar-benar hitam putih antara protagonis-antagonis.

    “Film ini adalah perjuangan orangtua tunggal dengan segala macam bentuk cara dan
    keterbatasannya untuk merawat anaknya. Hebatnya, tidak ada yang antagonis, karena di dunia nyata pun tidak ada yang hitam-putih, tergantung melihatnya bagaimana, setiap orang punya sudut pandang masing-masing,” ungkap Ibnu Jamil.

    “Saya ingin penonton pulang dan menyadari, bahwa kita memiliki cinta yang tidak akan pernah selesai, yakni cinta seorang ibu kepada anaknya. Namun, ketika cinta itu selesai, itu menjadi sebuah kenangan yang juga tidak akan pernah akan hilang,” ujar sutradara Pritagita Arianegara.

    Selain Hana Malasan, Jared Ali dan Ibnu Jamil, sejumlah bintang juga tampil di Kupeluk Kamu Selamanya seperti Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Vonny Anggraini, Yurike Prastika, Mario Irwinsyah, dan Leroy Osmani.

    Film ini juga menjadi debut aktris Dinda Hauw sebagai produser, bersama Dara Dwitanti. Kupeluk Kamu Selamanya juga menjadi debut Sean Gelael di industri perfilman Indonesia, dengan menjadi produser eksekutif film ini, bersama Angga Dwimas Sasongko.

  • Nobar Film Papua Dibubarkan di Kampus, Amnesty Nilai Praktik Otoriter Kian Terbuka

    Nobar Film Papua Dibubarkan di Kampus, Amnesty Nilai Praktik Otoriter Kian Terbuka

    7cloud.asia – Pembubaran acara nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di lingkungan Universitas Mataram (Unram) pada Kamis (07/05/2026) malam menuai kecaman keras dari kalangan pegiat hak asasi manusia.

    Tindakan aparat keamanan kampus yang menghentikan pemutaran film itu dinilai sebagai bukti praktik otoriter dan matinya kebebasan akademik di kampus.

    Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menilai pelarangan pemutaran film tersebut merupakan tindakan melawan hukum dan bentuk intimidasi terhadap mahasiswa kritis.

    Baca: Film Pesta Babi Potret Negara Semena-mena Terhadap Hutan dan Masyarakat Adat

    “Negara bersama unsur birokrasi kampus menerapkan praktik otoriter berupa intimidasi terhadap mahasiswa yang kritis,” tegas Usman kepada ruangkota, Jumat (08/05/2026).

    Menurut Usman, film dokumenter Pesta Babi tidak mengandung unsur yang melanggar hukum sehingga tidak ada dasar bagi pihak kampus untuk membubarkan acara yang digelar mahasiswa di area kampus.

    Dia menyayangkan tindakan rektorat yang justru membungkam ruang diskusi dan ekspresi mahasiswa. Padahal, kata dia, kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dan membahas realitas sosial.

    Baca: Anak Muda Papua Bertekad Merawat Hutan Adat

    “Rektorat seharusnya bangga terhadap sikap kritis mahasiswa yang peduli terhadap situasi sosial dan kemanusiaan,” ujarnya.

    Aktivis mahasiswa 1998 itu juga menduga ada kepentingan tertentu di balik pelarangan pemutaran film tersebut. Ia menilai rektorat bertindak bukan semata atas pertimbangan akademik.

    “Rektorat seperti dikendalikan oleh pihak tertentu yang kepentingan ekonomi dan politiknya terganggu oleh fakta yang tersajikan dalam film tersebut,” katanya.

    Sebelumnya, rekaman video pembubaran nobar film Pesta Babi beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, sejumlah petugas keamanan kampus terlihat berusaha menghentikan pemutaran film dengan menutupi layar proyektor di tengah acara.

    Baca: Suku Awyu dan Moi Gelar Aksi Damai di Gedung Mahkamah Agung

    Di lokasi yang sama tampak sejumlah personel kepolisian dan intelijen TNI turut memantau proses pembubaran.

    Wakil Rektor III Unram, Sujita, menegaskan film tersebut tidak boleh diputar di lingkungan kampus. Dia menyebut isi film tidak layak ditonton mahasiswa.

    “Tidak usah ditonton. Tidak ada alasan. Pokoknya tidak bisa,” kata Sujita.

    Namun, dia membantah pembubaran dilakukan karena adanya tekanan dari pihak luar. “Tidak ada tekanan. Saya hanya menjalankan perintah,” ujarnya.

    Baca: Papua Bukan Tanah Kosong

    Sementara itu, salah seorang mahasiswa yang mengikuti nobar menilai tindakan kampus sebagai bentuk kriminalisasi terhadap mahasiswa dan ancaman serius bagi demokrasi di lingkungan akademik.

    “Kampus kini tak lagi menjadi ruang demokrasi bagi mahasiswanya untuk bebas mendapatkan akses terhadap ilmu pengetahuan dan memahami situasi negeri ini, termasuk apa yang terjadi di Papua. Kita dihadapkan dengan kriminalisasi seperti yang terjadi hari ini,” katanya.

     

  • Baim Wong Hadirkan Aktor Down Syndrom di Film Terbarunya, “Semua Akan Baik-Baik Saja“

    Baim Wong Hadirkan Aktor Down Syndrom di Film Terbarunya, “Semua Akan Baik-Baik Saja“

    7cloud.asia – Sutradara sekaligus penulis skenario, Baim Wong memberikan kesempatan untuk aktor down syndrom Alim dalam proses produksi film Semua Akan Baik Baik Saja yang akan tayang di bioskop pada 13 Mei mendatang.

    Baim benar-benar memberikan kesempatan untuk Alim untuk terlibat secara penuh dengan kemampuannya berakting di film Semua Akan Baik-Baik Saja.

    Berbicara dalam jumpa screening film Semua Akan Baik-Baik Saja, pekan lalu, Baim  mengatakan awalnya Alim menemui kesulitan. Tetapi berkat kerja kerasnya, Alim bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi.

    “Saat reading pertama, Alim itu kesulitan untuk berdialog, jadi hampir gagal. Kemudian Alim pulang dan dia berlatih lagi bersama ibunya, dan kembali lagi ke Tiger Wong Entertainment untuk reading. Kemampuannya pun meningkat jauh,“ papar Baik.

    Baim menegaskan, dirinya memberikan kesempatan bukan karena Alim unik, tapi karena memang dia mampu dan punya kemampuan.

    ”Inilah kesempatan talenta baru bersama dengan jajaran aktor yang sudah sangat berpengalaman,” cerita Baim.

    Baca: Keluarga Menjadi Tempat Pulang Meski Pernah Berseberangan

    Semua Akan Baik Baik Saja mengaduk emosi penonton dengan kisah dinamika keluarga yang relate dengan banyak orang.

    Film ini membawa pesan tentang masalah dan beban yang dihadapi oleh satu keluarga, namun akan terasa ringan dan terlewati jika dipikul bersama.

    Baim mengatakan, film ini mengisahkan manusia yang mengalami pergulatan batinnya masing-masing. Sebuah cerita tentang keluarga, tentang seorang ibu dengan anak-anaknya yang punya punya luka batinnya sendiri-sendiri, dan menemukan satu titik bersama.

    ”Bahwa apapun yang kita lewati dalam hidup, semua akan sampai pada satu titik di mana kita bisa bilang bahwa semua akan baik-baik aja pada waktunya,” ujar penulis dan sutradara Baim Wong.

    Baim turut menulis skenarionya bersama penulis Oka Aurora. Kolaborasi keduanya mampu menghasilkan cerita yang kuat, dramatis secara natural, dan berbagai lapisan komedi yang tak terduga.

    Reza Rahadian, yang memerankan karakter Langit di film ini, mengungkapkan salah
    satu yang ia cintai dari karakternya adalah Langit digambarkan sebagai sosok yang sangat manusiawi.

    Langit memiliki masalah hidupnya sendiri, namun karena cintanya terhadap salah
    satu anggota keluarganya, membuat ia memperbaiki hubungannya bersama keluarga
    dari kesempatan kedua yang diberikan.

    Baca: Film ”Keluarga Suami Adalah Hama” ungkap Perempuan yang Harus Menanggung Beban

    Dari yang hidupnya sempat tak punya arah, jadi punya tujuan, saat tiba-tiba harus menjadi sosok orangtua untuk anak-anak dari kakaknya.

    Setiap keluarga yang banyak anggotanya, pasti ada salah satu yang complicated.
    Tapi ada satu satu yang bisa mengubah hidup seseorang. Yang saya suka dari karakter saya adalah betapa realistis karakternya. Dia bukan sosok satu-satunya hero.

    “Dia memiliki kekurangan, tapi dia memiliki satu hal yang mengetuknya, yakni hubungan cinta dengan seseorang di anggota keluarganya,” ujar Reza Rahadian.

    Selain Reza Rahadian, film ini juga dibintangi Christine Hakim, Raihaanun, dan Teuku Rifnu Wikana.

    Kolaborasi para bintang muda Ari Irham dan pendatang baru seperti Aquene Djorghi, Malika Shaquena, serta penampilan pendatang baru aktor down syndrome Alim, memberikan drama realis yang lengkap dan matang.

  • Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih Tak Sekadar Horor, Tapi Tamparan Bagi Mental Serba Instan

    Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih Tak Sekadar Horor, Tapi Tamparan Bagi Mental Serba Instan

    7cloud.asia – Film horor-komedi Sekawan Limo 2: Gunung Klawih tidak hanya menawarkan teror dan gelak tawa, tetapi juga membawa kritik sosial yang dekat dengan realitas kehidupan saat ini.

    Lewat kisah penuh humor khas Jawa Timur, sutradara Bayu Skak menyelipkan pesan tajam tentang budaya mencari jalan pintas demi meraih kesuksesan.

    Dalam film produksi Starvision, Skak Studios, dan Legacy Pictures itu, Bayu menegaskan bahwa ambisi instan justru bisa menjadi bumerang yang menghancurkan hidup seseorang.

    “Di film ini yang menjadi pesan adalah ‘ojo nggolek dalan pintas (jangan mencari jalan pintas)’. Sesuatu yang instan akan berujung petaka,” ujar Bayu.

    Baca: Film Keluarga Suami Adalah Hama Angkat Konflik Mertua dan Menantu

    Pesan tersebut terasa relevan dengan kondisi sosial masyarakat modern, termasuk fenomena orang-orang yang rela melakukan berbagai cara demi cepat kaya, cepat terkenal, atau cepat berkuasa.

    Sindiran itu dibalut dengan komedi segar dan nuansa mistis yang menjadi ciri khas film Sekawan Limo.

    Film ini kembali menghadirkan kisah lima sahabat, yakni Bagas, Lenni, Juna, Andrew, dan Dicky yang berkumpul untuk merayakan ulang tahun anak Andrew. Namun suasana bahagia berubah mencekam ketika mereka mengetahui keluarga Andrew menjadi target tumbal pesugihan.

    Demi menyelamatkan sahabat dan keluarganya, mereka melakukan perjalanan ke Gunung Klawih. Perjalanan itu justru membawa mereka ke berbagai kejadian ganjil dan menyeramkan.

    Baca: Film Pesta Babi, Proyek Negara, Hutan Dibabat

    Konflik semakin memuncak ketika Juna tiba-tiba menghilang usai tersesat ke dunia demit. Kelima sahabat itu pun harus berjuang bukan hanya menyelamatkan keluarga Andrew, tetapi juga membawa Juna kembali dari alam lain dalam keadaan hidup.

    Meski dibalut cerita horor, film ini tetap menghadirkan banyak adegan komedi yang membuat suasana tidak sepenuhnya gelap. Tingkah kocak para tokohnya menjadi penyeimbang di tengah ketegangan dan teror yang muncul sepanjang cerita.

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih diproduseri Chand Parwez Servia dan dibintangi Bayu Skak, Nadia Arina, Joshua Suherman, Ferry Salim, Brandon Salim, Benedictus Siregar, Indra Pramudjito, dan sejumlah pemain lainnya. Rencananya akan tayang di bioskop mulai 27 Mei 2026.

  • Proyek Film Perempuan ”Desember Jani” Memotret Kehidupan Tiga Generasi Perempuan

    Proyek Film Perempuan ”Desember Jani” Memotret Kehidupan Tiga Generasi Perempuan

    7cloud.asia – Memperingati Hari Ibu, Palari Films mempersiapkan All Women Project, yakni film yang ditulis, diproduseri, disutradarai, dan diperankan oleh semuanya perempuan.

    Lewat film Desember Jani disutradarai oleh sutradara dan seniman visual Ariani Darmawan, sekaligus menjadikan film ini sebagai debut feature-nya.

    Naskah film ini ditulis oleh Cyntha Hariadi, novelis dan penyair pemenang penghargaan yang juga untuk pertama kalinya menulis naskah film.

    Sementara itu, Meiske Taurisia, menjadi produser di film ini, makin memperkuat jajaran suara perempuan dalam ceritanya. Meiske memproduseri film ini bersama Muhammad Zaidy.

    Film Desember Jani mengisahkan tentang tiga generasi perempuan dalam satu rumah
    yang hampir kehilangan cara untuk saling bicara, hingga yang paling muda, Jani (13 tahun), memilih menjadi jembatan yang menyambungkan kembali.

    Film ini mengangkat tema yang dekat dengan keseharian keluarga Indonesia: jarak
    emosional antargenerasi, cinta yang hadir dalam diam, dan keberanian untuk memulai kembali.

    Baca: Palari Films Bakal Bikin Projek Film Perempuan Lewat ”Desember Jani”

    Ariani Darmawan, sang sutradara mengungkapkan, Desember Jani adalah proyek yang luar biasa, bersama Palari Films, saya mengeksplorasi gagasan kreatif dengan lebih leluasa.

    ”Memanfaatkan Bandung sebagai sepenuhnya latar di film ini, yang juga punya nilai sentimental tersendiri untuk saya. Bersama jajaran pemeran perempuan di film ini kami meramu kisah yang akan menghangatkan menjelang akhir tahun nanti,” ujarnya.

    Film Desember Jani juga menggabungkan jajaran ansambel aktris yang unik dan kuat, berasal dari pemeran perempuan lintas generasi. Film ini dibintangi oleh Chempa Puteri, Sigi Wimala, Tutie Kirana, dan debut layar lebar Hyori Mika.

    “Ini adalah film pertama Palari Films yang sangat perempuan. Seluruh pembuatnya hingga pemerannya adalah perempuan, dengan cerita yang juga sangat dekat dengan perempuan, terutama untuk seorang ibu dan anak perempuan,” ujar produser Meiske Taurisia.

    Empat pemeran perempuan di film ini masing-masing membawa lapisan emosi yang berbeda. Tutie Kirana memerankan Oma, perempuan berusia 75 tahun yang mengungkapkan cinta lewat tindakan, bukan kata-kata.

    Sigi Wimala memerankan Winnie, seorang ibu yang menyimpan rasa bersalah yang tak pernah terucapkan. Hyori Mika memerankan Julia, anak yang pergi dan belum tahu cara pulang.

    Baca: Film ”Keluarga Suami Adalah Hama” Ungkap Hubungan yang Tidak Sehat Korbankan Perempuan

    Chempa Puteri memerankan Jani, anak 13 tahun yang melihat retaknya keluarga lebih jelas dari siapapun, dan memilih untuk menjadi yang pertama bergerak.

    Bagi aktris Sigi Wimala, yang cukup lama menepi dari layar lebar, bergabung dengan film Desember Jani seperti menemukan keluarga baru.

    “Kami diberi waktu untuk berkumpul bersama sebagai keluarga itu cukup lama. Jadi semuanya dibangun secara organik. Tanpa diburu-buru dan dipaksakan. Jadi pas kami syuting sudah sangat nyaman,” ujar Sigi Wimala.

    Desember Jani adalah film kesekian bagi Chempa Puteri, namun untuk pertama kalinya Chempa dipercaya sebagai pemeran utama.

    “Untuk persiapannya, aku latihan chemistry dengan Mama Sigi, Oma Tutie, Ibu Rani sebagai sutradara, dan Bu Dede sebagai produser. Aku belajar banyak dari orang-orang hebat di film ini dan mendapatkan ilmu yang berharga,” ujar Chempa Puteri.

    Sementara Hyori Mika yang memerankan Julia sebagai film panjang debutnya, mengaku senang dipercaya untuk memerankan karakter Julia di film ini. Julia adalah anak sulung yang memutuskan pergi dari rumah karena tidak didengar.

    Baca: Mengikis Pandangan Seksis dari Industri Film Nasional

    “Film ini jadi perjalanan awalku di dunia film, dan semoga karakterku juga bisa mewakili penonton yang merasakan keresahan sama tentang boundaries dan mereka yang lagi mencari jati diri,” ujar Hyori Mika.

    Tutie Kirana, legenda perfilman Indonesia yang telah mewarnai perfilman sejak era ‘70-an dan telah meraih 5 nominasi Piala Citra FFI, bergabung menjadi karakter yang menguatkan dinamika keluarga di film ini.

    Bagi Tutie, film ini adalah gambaran tentang perempuan-perempuan yang berdaya. Dia memerankan Oma Peggy, sosok yang sudah lanjut usia tapi masih bikin usaha lumpia. Sebagai perempuan memang harus berdaya, bahkan di saat sudah lanjut usia.

    ”Di film ini, bersama perempuan-perempuan yang sangat berdaya, menjadikan semuanya satu kesatuan di dalam ceritanya,” ujar Tutie Kirana.

    Desember Jani akan hadir di bioskop tepat menjelang Hari Ibu, 22 Desember 2026, sebuah momen yang terasa pas untuk sebuah film tentang perempuan, keluarga, dan cinta yang butuh waktu untuk menemukan suaranya.

  • Tayang Bulan Ini, Film “Jangan Buang Ibu“ Memotret Perjuangan Ibu Tunggal

    Tayang Bulan Ini, Film “Jangan Buang Ibu“ Memotret Perjuangan Ibu Tunggal

    7cloud.asia – Perempuan lebih setia dan bisa bertahan membesarkan anak-anaknya saat perkawinan kandas di tengah jalan. Itulah kisah yang diangkat dalam film Jangan Buang Ibu yang bakal tayang pekan ini di bioskop.

    Film Jangan Buang Ibu mengisahkan Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal dengan ketiga anaknya Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori) setelah ditinggal suaminya (Dwi Sasono).

    Dia hidup dalam kesederhanaan dan kerja keras namun mampu membesarkan buah hatinya dengan baik dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya meninggalkan utang yang cukup besar.

    Terusik dengan keputusan sepihak dari ibunya, Tama, Dewi, dan Tria dilema dengan
    keadaan dan kondisi yang ada. Mereka yang dulunya dekat, hangat, utuh sebagal keluarga harus merasakan kesenjangan jarak yang memunculkan kerinduan yang dalam dari Ristiana.

    Tak putus harapan untuk berbakti pada ibunda, Tama, Dewi, dan Tria berusaha mewujudkan harapan ibunya tersebut.

    Baca: Proyek Film Perempuan ”Desember Jani”

    Dalam film Jangan Buang Ibu ini, aktor Dwi Sasono tampil berbeda saat ia menjadi sosok ayah yang problematik. Ia banyak mengeluarkan kata kasar hingga membentak, bahkan melakukan kekerasan fisik.

    Di trailer Jangan Buang Ibu yang dirilis baru-baru ini, juga menampilkan kisah tiga anak yang tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ayah. Sebuah perasaan dan pengalaman yang banyak dialami anak di Indonesia.

    Memerankan seorang bapak yang problematik dan sosoknya tak hadir untuk keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi Dwi Sasono yang dikenal sebagai seorang family man.

    Namun, ia menyadari bahwa kondisi yang dihadapi oleh karakter Bapak di film Jangan Buang Ibu adalah karena orangtua ingin anaknya berhasil.

    “Dia punya harapan yang terbaik untuk anaknya. Dia tidak mau anaknya gagal seperti dia,” kata Dwi Sasono kepada media beberapa waktu lalu

    Baca: Film ”Keluarga Suami Adalah Hama”: Dalam Hubungan yang Tidak Sehat, Perempuan yang Harus Menanggung Beban

    Sementara itu, Saputra Kori yang memerankan Tria, anak bungsu Ristiana, digambarkan sebagai anak yang tak memiliki kasih sayang dari bapaknya bahkan sejak ia dalam kandungan.

    Tria tak mengenal siapa sosok ayahnya, hingga ia tumbuh sebagai remaja. Dan karena situasi itu, Tria tumbuh menjadi anak yang ‘cukup’ nakal di sekolah. Namun, karena didikan dan kasih sayang ibunya, ia pun berusaha memperbaiki semuanya.

    Di film Jangan Buang Ibu yang akan tayang bulan Juni ini, Dwi Sasono beradu peran dengan Nirina Zubir sebagai suami istri. Keduanya akan menampilkan dinamika orangtua yang penuh emosi dan membawa pengalaman banyak orang dari rumah.

    Selain Dwi Sasono, Nirina Zubir, dan Saputra Kori, Jangan Buang Ibu juga dibintangi oleh Refal Hady, Amanda Manopo, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra.

    Jangan Buang Ibu diharapkan akan melanjutkan sukses Leo Pictures lewat drama keluarga Bila Esok Ibu Tiada yang meraih 3,9 juta lebih penonton di bioskop.

  • Film “Seni Merayu Tuhan”: Perjalanan Pulang Anak Muda Menemui Tuhannya

    Film “Seni Merayu Tuhan”: Perjalanan Pulang Anak Muda Menemui Tuhannya

    7cloud.asia – Sebagai anak muda, aktor muda Ari Irham juga punya keresahan terhadap apa yang dia lewati dan alami setiap hari. Jadi ketika dipercaya memerankan Hikmah di film Seni Merayu Tuhan, dia merasa pengalamannya terefleksikan dalam perannya itu.

    ”Gue pernah berada di posisi mencari jati diri gue, dan gue yakin cerita dari Hikmah di film Seni Merayu Tuhan bakal relate banget untuk anak-anak muda yang lagi proses memahami dirinya, keluarga, dan yang lagi bertumbuh,” ungkap Ari Irham di sela peluncuran trailer film Seni Merayu Tuhan, Rabu (2/7/2026).

    Di official trailernya, film Seni Merayu Tuhan menampilkan perjalanan anak muda bernama Hikmah yang diperankan oleh Ari Irham. Sempat merasa nyaman dengan dunia yang ia jalani, Hikmah jatuh ke titik terendahnya saat sang ibu (Rieke Diah Pitaloka) meninggal.

    Semasa sang ibu masih hidup, Hikmah jarang pulang ke rumah. Telepon dan pesannya tak pernah dibalas. Ia selalu bersenang-senang dengan kehidupan masa mudanya, termasuk bersama sang pacar, Sophia (Lutesha).

    Saat diajak untuk salat Jumat, jawaban Hikmah bahkan: ‘sudah pernah’. Hidup Hikmah berubah 180°.

    Ia yang sebelumnya seperti tak mengenal Tuhan, kemudian justru mencari jalan untuk kembali mendekat, meski ia lupa kapan terakhir salat.

    Baca: Film “Operasi Pesta Copet” Memotret Kemiskinan Struktural dan Gemerlap Musik PestaPora

    “Seni Merayu Tuhan adalah film drama tentang perjalanan anak muda bernama Hikmah yang sedang menuju fase kedewasaannya. Sebuah cerita yang relevan dan dekat dengan generasi muda saat ini, dikemas dengan kisah tentang keluarga, persahabatan, cinta, kehilangan, dan pencarian makna hidup,” ujar produser Salman Aristo.

    Seni Merayu Tuhan dibintangi oleh Ari Irham, Lutesha, Rieke Diah Pitaloka, Teuku
    Ryzki, Habib Jafar, Arie Kriting, Sita Nursanti, Onadio Leonardo, dan Alfie Alfiandy.

    Ari Irham yang selama ini dikenal dengan peran-perannya yang manis di film drama romance, Seni Merayu Tuhan menjadi wahana eksplorasi karakter terbarunya yang merefleksikan keresahannya.

    Diproduseri oleh Salman Aristo dan Sigit Pratama, film ini menjadi debut penyutradaraan editor Pemenang 3 Piala Citra FFI Cesa David Luckmansyah.

    Naskah film ini ditulis oleh Rino Sarjono bersama Salman Aristo dan Gina S. Noer.
    Di film ini, Gina juga bertindak sebagai produser eksekutif bersama Orchida Ramadhania.

    Bagi Cesa David, menyutradarai Seni Merayu Tuhan menjadi perjalanan baru filmografinya. Selama ini, Cesa telah berpengalaman menjadi penyunting gambar ratusan judul film Indonesia dari berbagai genre dan telah memenangkan penghargaan.

    Baca: Film “Jangan Buang Ibu“ Memotret Perjuangan Ibu Tunggal

    Seperti halnya Hikmah yang mendapat panggilan dalam perjalanan hidupnya, Cesa juga mengaku mendapat panggilan untuk memulai langkah baru di dunia film.

    “Selama ini saya memang selalu berada di balik meja editing, tapi kisah Seni Merayu Tuhan sangat personal bagi saya dan itu memanggil saya untuk menangkap momen perjalanan Hikmah bersama ibunya dan orang-orang di sekitarnya dalam proses kedewasaannya,” ujar sutradara Cesa David Luckmansyah.

    Film Seni Merayu Tuhan akan tayang di bioskop mulai 13 Agustus 2026. Sebagai karya yang diadaptasi dari buku, Seni Merayu Tuhan juga berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), serta penerbit buku aslinya, Mizan Pustaka.

    Kolaborasi ini juga diharapkan dapat menumbuhkan minat masyarakat Indonesia untuk kembali mengunjungi perpustakaan, membaca, dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan yang semakin modern dan terbuka untuk publik.

    Diharapkan juga dapat menjadi jembatan antara budaya membaca dan budaya menonton,
    sekaligus memperluas ruang diskusi bagi generasi muda.