Tag: hamas

  • Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh Tewas Terbunuh Saat Kunjungan di Iran

    Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh Tewas Terbunuh Saat Kunjungan di Iran

    7cloud.asia – Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh dilaporkan tewas dalam serangan di ibu kota Iran, Teheran pada Rabu, 31 Juli 2024.

    Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan pada Rabu (31/7/2024) pagi waktu setempat menyatakan bahwa Ismail Haniyeh dan salah satu pengawalnya tewas ketika kediaman mereka diserang di Teheran.

    Pernyataan itu mengatakan serangan terhadap Ismail Haniyeh itu sedang diselidiki dan hasilnya akan diumumkan pada hari berikutnya.

    Baca Juga: Hamas dan Fatah Bersatu, Sepakati Deklarasi di Beijing

    Ismail Haniyeh berada di Teheran untuk menghadiri upacara pelantikan presiden terpilih Iran Masoud Pezeshkian. Sehari sebelumnya, Ismail Haniyeh masih mengunjungi sebuah taman di Teheran, Iran.

    Selama ini, Ismail Haniyeh merupakan salah satu dari tokoh senior kelompok Hamas, yang sudah memimpin kelompok tersebut dalam dua dekade terakhir.

    Ismail Haniyeh mengoperasikan dan memimpin kelompok Hamas dari tempat pengasingannya di Doha, Qatar.

    Baca Juga: Unjukrasa Besar-besaran Tandai 9 Bulan Perang Israel-Hamas

    Dilansir nytimes.com, Hamas menuduh Israel berada di belakang serangan yang menewaskan Ismail Haniyeh tersebut.

    Sejaun ini belum ada tanggapan dari pihak Israel atas tuduhan kelompok Hamas tersebut.

  • Rakyat Palestina Berduka Atas Pembunuhan Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh

    Rakyat Palestina Berduka Atas Pembunuhan Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh

    7cloud.asia – Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengutuk pembunuhan kepala biro politik kelompok Hamas, Ismail Haniyeh, dan menyebutnya sebagai “tindakan pengecut”.

    Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita WAFA, Rabu (31/7/2024), Presiden Abbas menyerukan kepada rakyat Palestina “untuk bersatu, bersabar, dan tabah dalam menghadapi pendudukan Israel.”

    Gerakan Fatah yang dipimpin oleh Presiden Abbas, juga mengecam pembunuhan Ismail Haniyeh yang diduga dilakukan Israel.

    Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Hussein al-Sheikh juga mengutuk pembunuhan Ismail Haniyeh.

    Baca: Pemimpin Ismail Haniyeh tewas dalam serangan ke kediamannya di Teheran

    Ia mengatakan pembunuhan tersebut mendorong rakyat Palestina untuk lebih tabah dalam menghadapi pendudukan Israel, dan perlunya persatuan di antara faksi-faksi Palestina.

    Kepala Partai Inisiatif Nasional Palestina Mustafa Barghouti berduka atas kematian Haniyeh dan mengecam Israel karena melakukan “kejahatan keji” tersebut.

    “Rakyat Palestina hari ini kehilangan seorang pemimpin patriot pemberani, yang dikenal karena integritas dan keterusterangannya, dan karena kepeduliannya yang jujur terhadap persatuan nasional,” kata Barghouti dalam sebuah pernyataan.

    Kelompok pejuang Hamas mengumumkan pada Rabu (31/7/2024) pagi bahwa Haniyeh tewas dalam serangan udara Israel di kediamannya di Ibu Kota Teheran.

    Baca: Hamas dan Fatah sepakat bersatu

    “Hamas berduka cita atas meninggalnya … sang martir, Mujahid Ismail Haniyeh, kepala gerakan ini, yang tewas dalam serangan berbahaya Zionis di kediamannya di Teheran setelah menghadiri upacara pelantikan presiden baru Iran,” kata mereka dalam sebuah pernyataan di Telegram.

    Sementara, Israel belum membuat pengumuman langsung tentang pembunuhan tersebut.

    Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan pada Rabu (31/7/2024) pagi waktu setempat menyatakan bahwa Haniyeh dan salah satu pengawalnya tewas ketika kediaman mereka diserang di Teheran.

    Pernyataan itu mengatakan serangan terhadap Ismail Haniyeh itu sedang diselidiki dan hasilnya akan diumumkan pada hari berikutnya.

    Baca: Kebijakan Israel di Tepi Barat ancam solusi dua negara

    Televisi milik Pemerintah Iran melaporkan bahwa penyelidikan terhadap pembunuhan Kepala Biro Politik kelompok perlawanan Palestina, Hamas, Ismail Haniyeh, masih berlangsung.

    Sumber:Antaranews.com/Wafa-Anadolu-OANA

     

  • JK Penuhi Undangan Hadiri Pemakaman Pimpinan Hamas, Ismail Haniyeh

    JK Penuhi Undangan Hadiri Pemakaman Pimpinan Hamas, Ismail Haniyeh

    7cloud.asia – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menghadiri pemakaman pemimpin kelompok pejuang Palestina, Hamas, Ismail Haniyeh di Doha, Qatar, pada Jumat (2/8/2024) siang waktu setempat.

    Dalam video yang dibagikan oleh Staf Khusus Bidang Media Jusuf Kalla, Yadi, diterima di Jakarta, JK yang mengenakan kemeja putih dan kopiah hitam berdiri di sisi makam bersama sejumlah tokoh lain.

    Dia menengadahkan tangan saat doa dipanjatkan oleh pengurus pemakaman.

    Baca: Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh tewas

    Selain itu, Ketua Dewan Pengarah Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) Prof Din Syamsudin juga terlihat berada di sisi belakang JK.

    Sebanyak dua patok berada di makam Haniyeh yang ditutupi dengan pasir dan bebatuan.

    Sebelumnya, JK bertolak ke Qatar pada Kamis (1/8/2024) untuk menghadiri pemakaman Haniyeh.

    Baca: Rakyat Palestina berduka, pemimpin Hamas terbunuh

    “Ini memenuhi harapan agar mengirimkan delegasi Indonesia ke sana dan kami diundang meghadiri pemakaman almarhum Ismail Haniyeh,” kata JK dalam keterangan sebelum berangkat.

    Pemimpin Hamas itu gugur bersama ajudannya akibat serangan rudal yang menargetkan kediamannya di Teheran utara, Iran sekitar pada Rabu (31/7/2024).

    Sumber: Antaranews

  • Pesan Ismail Haniyeh: Jika Seorang Pemimpin Pergi, yang Lain Akan Muncul

    Pesan Ismail Haniyeh: Jika Seorang Pemimpin Pergi, yang Lain Akan Muncul

    7cloud.asia – Sebelum terbunuh di Teheran, Iran pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh menyampaikan kata-kata terakhirnya kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ruhollah Ali Khamenei sebelum dia dibunuh.

    Pada pertemuan itu Ismail Haniyeh menyitir ayat Al-Quran tentang perjalanan hidup, kematian, keabadian, dan kekuatan saat menghadapi cobaan.

    “Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dan Allah Mahamengetahui semua tindakan … ‘Jika seorang pemimpin pergi, yang lain akan muncul’,” kata Ismail Haniyeh dalam bahasa Arab.

    Beberapa jam kemudian Ismail Haniyeh terbunuh dalam sebuah serangan di wisma tamunya yang diduga dilakukan Israel.

    Pernyataan tersebut disiarkan di televisi saat Haniyeh berbicara kepada Khamenei. Hal itu mencerminkan keyakinan Islamis yang kokoh yang membentuk pandangan hidup dan pendekatan Haniyeh terhadap konflik Palestina dengan Israel.

    Baca: Iran sebut pembunuhan Ismail Haniyeh dilakukan Israel dan didukung AS

    Pandangan itu diilhami oleh mendiang pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, yang pada 1980-an menyerukan jihad melawan Israel.

    Israel memenjarakan dan membunuh Yassin pada 2004, tetapi Hamas tumbuh menjadi kekuatan militer yang kuat.

    Dalam wawancara dengan Reuters di Gaza pada 1994, Haniyeh, yang dikebumikan di Qatar pada Jumat (2/8/2024), mengungkapkan bahwa Yassin telah mengajarkan mereka bahwa Palestina hanya dapat merebut kembali tanah air mereka yang diduduki Israel melalui “perjuangan suci yang diwakili oleh senjata dan tekad rakyatnya.”

    Tidak seorang pun Muslim seharusnya meninggal di tempat tidurnya sementara “Palestina” tetap diduduki, demikian dia mengutip perkataan Yassin.

    Bagi para pendukung Palestina, Ismail Haniyeh dan seluruh pimpinan Hamas adalah sosok pejuang pembebasan dari pendudukan Israel, yang menjaga perjuangan mereka tetap hidup ketika diplomasi internasional kandas.

    Baca: Iran akan balas pembunuhan Ismail Haniyeh

    Ia mengatakan ia belajar dari Sheikh Yassin mengenai “cinta Islam dan pengorbanan untuk Islam ini dan tidak berlutut di hadapan para tiran dan lalim.”

    Haniyeh tampil sebagai tokoh sentral dalam upaya diplomasi internasional kelompok Palestina di tengah konflik yang berkecamuk di Gaza.

    Pada April, serangan udara Israel merenggut nyawa tiga putranya—Hazem, Amir, dan Mohammad—serta empat cucunya. Selain itu, setidaknya 60 anggota keluarganya turut menjadi korban dalam perang Gaza.

    “Darah anak-anak saya tidak lebih berharga daripada darah anak-anak rakyat Palestina… Semua martir Palestina adalah anak-anak saya,” katanya setelah kematian mereka.

    “Melalui darah para martir dan rasa sakit dari mereka yang terluka, kita menciptakan harapan, kita menciptakan masa depan, kita menciptakan kemerdekaan dan kebebasan bagi rakyat kita,” katanya.

    “Kita katakan kepada pendudukan bahwa darah ini hanya akan membuat kita lebih teguh dalam prinsip dan keterikatan kita pada tanah kita.”

    Sumber:VOAIndonesia

  • Hamas: Perundingan Gencatan Senjata Harus Didasarkan pada Pembicaraan yang Telah Ada

    Hamas: Perundingan Gencatan Senjata Harus Didasarkan pada Pembicaraan yang Telah Ada

    7cloud.asia – Kelompok Hamas pada Minggu (11/8/2024) meminta para mediator agar mengemukakan rencana berdasarkan pembicaraan terdahulu dan bukannya terlibat dalam negosiasi baru untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

    Pekan lalu, para pemimpin (Amerika Serikat) AS, Mesir dan Qatar meminta Israel dan Hamas untuk bertemu guna melakukan perundingan pada Kamis (15/8/2024) di Kairo, Mesir atau Doha, Qatar.

    Perundingan antara Hamas-Israel ini untuk diharapkan dapat menuntaskan perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza.

    Israel mengatakan akan mengirimkan perunding untuk ambil bagian dalam pertemuan membahas gencatan senjata di Gaza tersebut.

    Hamas pada awalnya mengatakan sedang mempelajari tawaran tersebut tetapi sekarang mengisyaratkan bahwa pihaknya mungkin tidak akan ikut dalam babak pembicaraan baru.

    “Hamas meminta para mediator agar mengemukakan rencana untuk menerapkan apa yang telah disepakati oleh Hamas pada 2 Juli 2024, berdasarkan visi Biden dan resolusi Dewan Keamanan PBB,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Meski sepakat berunding Israel tetap gempur Gaza

    “Para mediator harus memberlakukan hal ini terhadap pihak penjajah (Israel) bukannya melanjutkan babak perundingan atau proposal baru yang akan menutupi agresi Israel dan memberinya lebih banyak waktu untuk melanjutkan genosidanya terhadap rakyat kami,” kata pernyataan Hamas itu.

    Pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh yang diduga dilakukan Israel dan dipilihnya terpilihnya Yahya Sinwar menjadi pemimpin baru Hamas, membuat sejumlah pihak mengkhawatirkan masa depan gencatan senjata di Gaza.

    Nicholas Heras dari New Lines Institute, dikutip VOA Indonesia mengatakan bahwa dipilihnya Yahya Sinwar dengan suara bulat sebagai kepala politik baru Hamas menunjukkan bahwa Gaza kini menjadi pusat perhatian, dan bukan Qatar, tempat para pemimpin politik itu bermarkas.

    Lebih lanjut Heras mengatakan, dengan dipilihnya Sinwar Hamas membuat pernyataan yang sangat jelas bahwa jalan bagi Hamas menguasai Gaza dan pada dasarnya Hamas, adalah bersedia berjuang sampai titik darah penghabisan.

    Pesan Hamas ini disampaikan kepada seluruh dunia, tidak hanya kepada Israel, Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir

    Baca: Iran akan serang Israel dalam waktu dekat

    Menurut Hemas, ini sangat pahit, tidak hanya bagi kelangsungan hidup Hamas sebagai sebuah organisasi, tetapi dari sudut pandang Hamas bagi masa depan rakyat Palestina.

    ”Hamas memberi isyarat kepada Israel dan siapa pun yang bekerja dengan mereka bahwa tidak bisa memisahkan Gaza dan masa depan Gaza dari Hamas,” jelasnya.

    Israel meluncurkan serangannya terhadap Gaza setelah para anggota Hamas menyerbu bagian selatan Israel pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, kebanyakan warga sipil dan menangkap lebih dari 250 orang sandera, menurut penghitungan Israel.

    Sejak itu, hampir 40 ribu orang Palestina telah tewas dalam ofensif Israel di Gaza. Menurut kementerian kesehatan Gaza, puluhan ribu warga Palestina terluka dan ratusan ribu lainnya harus tinggal di pengungsian.

  • Pembicaraan Gencatan Senjata di Gaza Tak Alami Kemajuan Berarti

    Pembicaraan Gencatan Senjata di Gaza Tak Alami Kemajuan Berarti

    7cloud.asia – Para perunding gencatan senjata di Gaza dan penyanderaan berupaya menjembatani kesenjangan antara Israel dan Hamas dengan membahas proposal kompromi baru di Kairo, Mesir, Sabtu (24/8/2024).

    Namun tidak ada indikasi kemajuan yang dicapai Israel dan Hamas, meski perundingan gencatan senjata telah berlangsung selama berjam-jam.

    Pembicaraan di Kairo terjadi ketika situasi kemanusiaan di Gaza memburuk, dengan melonjaknya malnutrisi dan polio yang ditemukan di wilayah kantong Palestina.

    Dua sumber keamanan Mesir mengatakan bahwa delegasi Hamas tiba di Kairo pada Sabtu untuk meninjau setiap proposal yang muncul dalam pembicaraan utama antara Israel dan mediator Mesir, Qatar dan Amerika Serikat (AS).

    Seorang pejabat AS mengatakan para perunding dari AS bertemu dengan Mesir, kemudian dengan perwakilan Mesir dan Qatar pada Sabtu. Pejabat AS itu meyakini bahwa perwakilan dari Mesir dan Qatar sedang bertemu dengan Hamas.

    Baca Juga: Israel Hanya Sisakan 9,5 Persen Wilayah Zona Aman Bagi Pengungsi Palestina di Gaza

    Pejabat Palestina mengatakan delegasi Hamas kembali ke Doha, Qatar, setelah pengarahan mengenai putaran perundingan berakhir.

    Pembicaraan yang berlangsung selama berbulan-bulan gagal menghasilkan terobosan untuk mengakhiri serangan militer Israel yang menghancurkan di Gaza atau membebaskan sisa sandera yang masih disandera oleh Hamas dalam serangan kelompok militan tersebut pada 7 Oktober yang memicu perang.

    Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang, menurut penghitungan Israel. Otoritas kesehatan Palestina mengatakan serangan balik Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 40.000 orang.

    Sumber-sumber Mesir mengatakan usulan baru tersebut mencakup kompromi pada poin-poin penting seperti bagaimana mengamankan wilayah-wilayah penting dan pemulangan orang ke Gaza utara.

    Namun, tidak ada tanda-tanda adanya terobosan pada poin-poin penting, termasuk desakan Israel bahwa mereka harus mempertahankan kendali atas apa yang disebut Koridor Philadelphi, di perbatasan antara Gaza dan Mesir.

    Baca Juga: Hamas: Perundingan Gencatan Senjata Harus Didasarkan pada Pembicaraan yang Telah Ada

    Hamas menuduh Israel menarik kembali hal-hal yang telah disepakati sebelumnya dalam perundingan, tetapi hal itu dibantah Israel. Kelompok tersebut mengatakan Amerika Serikat tidak melakukan mediasi dengan itikad baik.

    Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah berselisih dengan para perunding gencatan senjata Israel mengenai apakah pasukan Israel harus tetap berada di sepanjang perbatasan antara Gaza dan Mesir, kata seseorang yang mengetahui perundingan tersebut.

    Lebih banyak peperangan juga berisiko meningkatkan eskalasi baru, karena Iran masih mempertimbangkan pembalasan atas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di wilayahnya bulan lalu.

    Pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran sejak 7 Oktober telah meningkat baru-baru ini, termasuk dengan serangan Israel di Lebanon selatan dan ke Bekaa, dan dengan lebih banyak tembakan roket Hizbullah ke Israel utara.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Hamas Sebut Zionis Telah Lakukan Genosida yang Mengerikan di Era Modern

    Hamas Sebut Zionis Telah Lakukan Genosida yang Mengerikan di Era Modern

    7cloud.asia – Kelompok pejuang Palestina, Hamas, mengatakan serangan brutal yang dilakukan pasukan Zionis di Kota Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah baru-baru ini merupakan salah satu genosida paling mengerikan yang dialami manusia di era modern.

    Menurut Kantor Berita Iran IRNA, Hamas pada Senin malam mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyoroti kekejaman Israel yang masih berlangsung di Gaza, khususnya di Kota Deir al-Balah.

    Mengusir warga Palestina di bawah gempuran besar-besaran dan memaksa mereka untuk pergi ke sebuah daerah kecil tanpa layanan kemanusiaan.

    Baca: Israel hanya sisakan wilayah 9,5 persen zona aman untuk Palestina

    Selain itu menghentikan layanan Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs merupakan bentuk genosida baru yang dilakukan pendudukan Zionis seperti halnya Nazi Jerman, tulis pernyataan tersebut.

    Hamas lagi-lagi mendesak komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga terkaitnya agar menghentikan genosida di Gaza dan mengharuskan rezim pendudukan menyudahi kejahatan terhadap warga sipil Palestina.

    Komunitas internasional harus membantu mengirim bahan bakar dan peralatan medis yang diperlukan agar Al-Aqsa Martyrs Hospital bisa kembali beroperasi dan segera bertindak mengadili dan menghukum penjahat perang Israel, katanya.

    Baca: Palestina ajak DK PBB kunjungi Gaza

    Pernyataan itu menyusul perintah evakuasi rezim Zionis bagi warga yang tinggal di lingkungan bagian timur laut Kota Deir al-Balah dan perintah penutupan satu-satunya rumah sakit pemerintah di sana.

    Kelompok bantuan internasional dan PBB juga telah membunyikan peringatan atas pemindahan secara paksa hampir 250.000 warga Palestina dan penutupan 25 pengungsian di Kota Deir al-Balah serta empat sumur air baru yang dibutuhkan 70 persen penduduk di sana.

    Sumber: IRNA-OANA

  • AS Akan Tawarkan Kesepakatan Final Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    AS Akan Tawarkan Kesepakatan Final Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    7cloud.asia – Amerika Serikat (AS) berencana menawarkan draf final kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dalam beberapa pekan mendatang.

    Jika draf kesepakatan gencatan senjata itu tidak diterima, hal itu bisa berarti berakhirnya peran AS dalam negosiasi antara Israel dan gerakan Palestina Hamas.

    Surat kabar Washington Post pada Selasa (27/8/202) menyampaikan bahwa AS tengah berunding dengan Mesir dan Qatar mengenai garis besar batas kesepakatan akhir ‘terima atau tinggalkan’

    Keterangan ini mengutip pejabat senior pemerintahan Presiden Joe Biden yang tidak mau namanya disebut.

    Jika kedua belah pihak, baik Israel dan Hamas tidak menerimanya, hal itu dapat menandai berakhirnya negosiasi yang dipimpin AS, lanjut surat kabar itu.

    Baca: Hamas hanya terima draf kesepakatan gencatan senjata yang sudah dibahas sebelumnya

    “Anda tidak bisa terus menerus bernegosiasi. Proses ini harus dihentikan pada titik tertentu,” kata pejabat tersebut.

    AS tengah menggodok kesepakatan dengan Mesir dan Qatar sebelum militer Israel menemukan jasad enam sandera yang diculik pada bulan Oktober oleh gerakan Palestina Hamas.

    Seorang pejabat senior menekankan bahwa penemuan jasad-jasad tersebut akan “menambah urgensi tambahan” pada tahap akhir negosiasi antara Israel dan Hamas.

    Pejabat tersebut mengatakan bahwa AS juga yakin bahwa keenam sandera tersebut telah ditembak di kepala sesaat sebelum jasad mereka ditemukan.

     

    Baca: Perundingan gencatan senjata Israel-Hamas gagal capai kemajuan

    Publikasi tersebut mengatakan, mengutip pejabat senior lainnya, bahwa beberapa sandera yang terbunuh seharusnya dibebaskan pada fase pertama negosiasi.

    Di antara mereka, publikasi tersebut menyebutkan nama warga AS Hersh Goldberg-Polin dan dua perempuan Israel.

    Seperti yang diberitakan oleh dua pejabat senior lainnya dari pemerintahan Biden kepada surat kabar tersebut, kematian para sandera menambah kerumitan dalam negosiasi gencatan senjata.

    “Para pejabat AS akan sibuk menelepon selama 48 jam ke depan untuk melihat apakah kesepakatan masih bisa dicapai,” kata pejabat senior AS kedua kepada surat kabar tersebut.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5persen zona aman di Gaza

    Pada Minggu (1/9/2024) pagi, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menerbitkan nama enam sandera yang jasadnya ditemukan di terowongan bawah tanah di kota Rafah di daerah kantong Palestina selatan.

    Di antara mereka terdapat seorang warga negara Rusia, Alexander Lobanov yang berusia 32 tahun, dan seorang warga negara AS, Hersh Goldberg-Polin yang berusia 23 tahun.

    IDF meyakini bahwa keenam sandera yang jasadnya ditemukan di Jalur Gaza pada Sabtu malam dibunuh oleh Hamas beberapa saat sebelumnya.

    Hamas sebelumnya mengatakan bahwa mereka menganggap Israel bertanggung jawab atas kematian tawanan Israel di Jalur Gaza.

    Sehari sebelumnya pada Sabtu (31/8/2024), Presiden Biden mengatakan bahwa para peserta pembicaraan gencatan senjata di Jalur Gaza telah mencapai kesepakatan mendasar tentang kemungkinan kesepakatan.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Unjukrasa di Israel Masuki Malam Ketiga, AS Terus Dorong Gencatan Senjata

    Unjukrasa di Israel Masuki Malam Ketiga, AS Terus Dorong Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Aksi unjuk rasa menuntut pembebasan sandera di ibu kota Israel, Tel Aviv, telah memasuki malam ketiga pada hari Selasa (3/9/2024).

    Para demonstran berhadapan dengan polisi ketika mereka berkumpul untuk menuntut kesepakatan pengembalian sandera yang ditawan oleh Hamas.

    Para demonstran menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas untuk membawa pulang 101 sandera yang tersisa.

    Aksi unjuk rasa ini terjadi setelah temuan enam tawanan Hamas meninggal di Gaza pada akhir pekan lalu, yang menurut otoritas dibunuh dalam waktu 48-72 jam sebelum ditemukan.

    Baca: AS segera tawarkan kesepakatan gencat senjata final

    Demonstrasi besar-besaran meletus di Tel Aviv yang berujung pada aksi mogok yang diprakarsai serikat buruh terbesar negara itu pada hari Senin (2/9/2024).

    Setidaknya setengah juta orang turun ke jalanan Yerusalem dan Tel Aviv pada hari Minggu (1/9/2024).

    Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Matthew Miller pada hari Selasa menyatakan bahwa AS akan terus berkomunikasi dengan para mitra regional dalam beberapa hari mendatang.

    Pertemuan ini diharapkan dapat menyelesaikan proposal gencatan senjata di Gaza, berikut pembebasan sandera.

    Baca: Hamas hanya akan terima draf gencatan senjata yang sudah disepakati sebelumnya

    Miller menjelaskan, pihaknya telah melakukan pembicaraan konstruktif pekan lalu di kawasan, untuk mencoba dan mencapai kesepakatan mengenai berbagai kesenjangan yang ada.

    “Saya pikir, seperti yang Anda dengar, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan ketika dia berada di wilayah tersebut beberapa minggu yang lalu, Israel telah menyetujui proposal yang menjembatani. Namun, itu bukanlah akhir dari segalanya,” jelas Miller.

    Dia juga menambahkan bahwa sejumlah kemajuan telah dicapai, tetapi untuk mencapai kesepakatan akan membutuhkan fleksibilitas pihak Israel maupun Hamas.

    Israel meluncurkan serangannya terhadap Gaza setelah para anggota Hamas menyerbu bagian selatan Israel pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, kebanyakan warga sipil dan menangkap lebih dari 250 orang sandera.

    Sejak itu, lebih 40 ribu orang Palestina telah tewas dalam ofensif Israel di Gaza. Menurut kementerian kesehatan Gaza, puluhan ribu warga Palestina terluka dan ratusan ribu lainnya harus tinggal di pengungsian.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Netanyahu “Bersedia Buat Perjanjian” dengan Hamas, Tapi Menolak Mundur dari Koridor Philadelpia

    Netanyahu “Bersedia Buat Perjanjian” dengan Hamas, Tapi Menolak Mundur dari Koridor Philadelpia

    7cloud.asia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu (4/9/2024) malam tetap bersikukuh bahwa Israel harus mempertahankan kontrol atas apa yang disebut sebagai koridor Philadelpia.

    Kontrol Koridor Philadelpia yang terletak di sisi Gaza di area perbatasan dengan Mesir itu, disebut Netanyahu untuk mencegah Hamas menyelundupkan senjata ke Gaza.

    Dan, sikap keras Netanyahu ini telah menjadi hambatan utama dalam perundingan yang bertujuan untuk menghentikan perang Israel-Hamas dan membebaskan sejumlah sandera.

    Netanyahu menegaskan komitmennya untuk mengembalikan 101 sandera yang tersisa.

    “Saya akan melakukan semua yang saya bisa untuk membawa mereka pulang. Namun meninggalkan Koridor Philadelphia tidak akan mempercepat pembebasan para sandera,” ujar Netanyahu.

    Baca: Mesir tegas menolak kehadiran Israel di Koridor Philadelpia

    Namun banyak warga Israel, termasuk menteri pertahanannya sendiri, mengatakan Israel harus melepaskan koridor tersebut, setidaknya untuk waktu yang singkat guna membawa kembali sisa sandera yang ditahan di Gaza.

    Perdebatan terkait koridor tersebut mencapai puncaknya setelah pembunuhan terhadap enam sandera yang sedianya akan dikembalikan dalam keadaan hidup jika kesepakatan itu tercapai.

    Israel menyerang Gaza setelah kelompok militan Hamas menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyandera 253 orang lainnya dalam sebuah serangan teror lintas batas pada tanggal 7 Oktober 2023.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola oleh Hamas, mengatakan hingga tanggal 4 September sedikitnya 40.786 warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan darat dan udara Israel.

    Sementara 94.224 lainnya menderita luka-luka dan 80 persen wilayah tersebut luluh lantak akibat serangan Israel.

    Baca: Perundingan gencatan senjata di Gaza berlangsung alot

    Perang telah menyebabkan kehancuran yang meluas, memaksa sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza untuk meninggalkan rumah mereka, seringkali beberapa kali, dan menciptakan bencana kemanusiaan.

    Hamas menuduh Israel memperlambat perundingan yang telah berlangsung berbulan-bulan dengan mengeluarkan tuntutan baru, termasuk untuk mempertahankan kontrol Israel atas koridor Philadelpia di sepanjang perbatasan Mesir dan koridor kedua yang membentang di Gaza.

    Hamas telah menawarkan untuk membebaskan semua sandera sebagai imbalan atas berakhirnya perang, penarikan pasukan Israel secara menyeluruh dan pembebasan sejumlah besar tahanan Palestina;

    Ini secara garis besar merupakan syarat-syarat yang diminta dalam kesepakatan yang diajukan oleh Presiden Joe Biden pada bulan Juli lalu.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menjanjikan “kemenangan total” atas Hamas dan menyalahkan Hamas atas kegagalan perundingan.

    Sumber: VOA Indonesia