Tag: hutan

  • Forest Watch Indonesia: Aktivitas Tambang Picu Deforestasi di Pulau-Pulau Kecil

    Forest Watch Indonesia: Aktivitas Tambang Picu Deforestasi di Pulau-Pulau Kecil

    7cloud.asia – Forest Watch Indonesia (FWI) menilai perlu upaya yang lebih serius dan berkelanjutan untuk mengelola kawasan hutan di pulau-pulau kecil di Indonesia yang terancam oleh aktivitas pertambangan.

    FWI mencatat, dalam rentang 2017-2021, deforestasi atau penebangan hutan di pulau-pulau kecil di Indonesia telah mencapai 318,6 ribu hektare atau 79,65 ribu hektare per tahun.

    Menurut FWI, angka ini setara dengan tiga persen dari laju deforestasi nasional. Deforestasi itu mencakup 245 ribu hak konsesi tambang nikel, tembaga, bijih besih, emas, mangan dan lainnya yang mengkapling 242 pulau kecil di Indonesia.

    Sementara, deforestasi di dalam konsesi tambang di pulau-pulau kecil mencapai 13,1 ribu hektare.

    Hal mencemaskan ini Forest Watch Indonesia, sebagaimana disampaikan Manager Kampanye, Advokasi dan Media FWI, Anggi Prayoga, dalam sebuah diskusi baru-baru ini.

    Baca: Indonesia salah satu penyumbang deforestasi hutan tropis dunia

    Sisa hutan alam di pulau kecil sampai saat ini atau setidaknya sampai data yang kami sediakan itu di tahun 2021 itu ada 3,5 juta hektare atau hampir dari 50 persen pulau kecil di Indonesia itu masih memiliki tutupan hutan.

    “Di situlah mengapa FWI memiliki concern terhadap pengelolaan pulau-pulau kecil di Indonesia,” kata Anggi dikutip VOA Indonesia.

    Selain itu masih terdapat 4,42 juta hektare area di pulau-pulau kecil berstatus kawasan hutan negara yang dapat menjadi pintu masuk izin konsesi tambang, hak pengusahaan hutan (HPH), perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI).

    FWI mencatat luas konsesi di pulau-pulau kecil terbagi atas HPH seluas 309 ribu hektare, HTI sebanyak 94 ribu hektare, kebun 194 ribu hektare dan tambang 244 ribu hektare, selain itu juga terdapat tumpang tindih izin konsesi seluas 35 ribu hektare.

    Jumlah pulau kecil di Indonesia menurut pendataan FWI berjumlah 19.108 pulau dengan luas mencapai tujuh juta hektare.

    Baca: Komitmen Glasgow, upaya dunia hentikan deforestasi

    Sedangkan berdasarkan Gazefer Badan Informasi Geospasial (BIG) tahun 2023 terdapat 17.374 pulau di mana kurang lebih ada 13.400 pulau kecil dan mayoritas tidak berpenghuni.

    “Kami menggunakan pendekatan teknologi yang sangat detail dan kami menghitung dengan fokus pada Indonesia Timur yang minim data informasi sehingga ada selisih jumlah pulau kecil antara yang kami lakukan secara inventarisasi sendiri dengan data yang dimiliki oleh pemerintah pusat,” tambahnya.

    Pulau kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan dua ribu kilometer persegi beserta kesatuan ekosistemnya.

    Kerusakan Lingkungan di Pesisir dan Pulau Kecil
    Dosen Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara, Sitti Marwah mengungkapkan aktivitas pertambangan melahirkan tragedi ekologis di pulau-pulau kecil.

    Tragedi ekologis ini terutama dampak terhadap daerah pesisir dan pulau-pulau kecil di Sulawesi Tenggara yang merugikan masyarakat.

    Baca: Sejumlah komoditas Indonesia terdampak UU anti-deforestasi Uni Eropa

    Dia mencontohkan akibat sedimentasi di wilayah pesisir Kabupaten Konawe Utara menyebabkan air laut tercemar sehingga menyulitkan nelayan suku Bajo menangkap ikan.

    “Sehingga masyarakat di sini untuk memperoleh mata pencaharian sebagai nelayan ini harus melaut jauh keluar untuk bisa mendapatkan ikan itu pun membutuhkan biaya yang besar sehingga tidak semua nelayan untuk mampu eksis ke luar,” ujarnya.

    Keberadaan aktivitas tambang juga mendapat penolakan warga Pulau Wowonii di Kabupaten Konawe Kepulauan. Meskipun hanya memiliki luas 867,58 kilometer, di pulau itu terdapat 6 izin usaha pertambangan (IUP).

    Jumlah IUP pertambangan nikel di Sulawesi Tenggara, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2023, berjumlah 176 IUP.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Proyek Listrik Biomassa Mengancam Kelestarian Hutan Kalimantan

    Proyek Listrik Biomassa Mengancam Kelestarian Hutan Kalimantan

    7cloud.asia – Di tengah krisis iklim yang semakin parah, ancaman hilangnya hutan di Kalimantan semakin meningkat, terlebih dengan maraknya proyek listrik biomassa.

    Juru Kampanye Energi Trend Asia, Bayu Maulana Putra mengungkapkan hal ini saat menjadi pemantik diskusi lingkungan bertajuk No Music on a Dead Planet di Kabupaten Ketapang, Sabtu (14/9/2024).

    Diskusi lingkungan ini menggandeng Las!, band lokal Pontianak yang konsentrasi di bidang lingkungan.

    “Setelah bertahun-tahun dieksploitasi oleh industri kayu dan pertambangan, hutan kini menghadapi ancaman baru dari pengembangan energi yang kembali mengorbankan ekosistem,” kata Bayu.

    Bayu menambahkan, proyek-proyek, seperti kebun kayu energi, kebun sawit biofuel, dan tambang mineral kritis menjadi ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan.

    Baca: Madani Berkelanjutan nilai proyek listrik biomassa picu penebangan hutan

    Bayu mengungkapkan beberapa tahun terakhir, pemerintah gencar mengembangkan proyek listrik biomassa, mencampur kayu dengan batubara untuk menghasilkan listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

    Pemerintah mengklaim bahwa langkah ini bisa menekan emisi karbon yang memicu krisis iklim, namun kenyataannya proyek ini sangat rakus lahan.

    Dibutuhkan sekitar 2,3 juta hektare lahan atau 35 kali luas Jakarta, untuk memenuhi pasokan biomassa kayu ke 52 PLTU.

    Dari total lahan tersebut, setidaknya 1 juta hektare hutan alam akan dikorbankan untuk kebun kayu monokultur.

    Praktek ini, menurut Trend Asia, hanya menguntungkan para konglomerat industri kehutanan. Sementara itu, masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan hutan justru semakin terdesak.

    Baca: Penurunan emisi harus mengarah ke nol energi fosil

    Dia mencontohkan kondisi di Kualan Hilir, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, di mana ada perusahaan kebun kayu seluas 136 ribu hektare yang dicurigai kayunya akan dibakar untuk energi.

    “Selama 2021 hingga 2023, mereka telah menghilangkan hutan alam seluas 33 ribu hektare, yang mengancam keberadaan satwa endemik dan membuat masyarakat adat Dayak terusir dari ruang hidup mereka,” kata Bayu.

    Padahal, menurutnya, Kalimantan memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan dari sumber daya air, surya dan angin.

    Selain mendukung transisi energi, pengembangan energi terbarukan ini juga diharapkan mampu menyediakan listrik untuk daerah-daerah terpencil yang masih belum terjangkau jaringan listrik nasional.

    “Pemanfaatan optimal energi terbarukan di Kalimantan dapat meningkatkan kemandirian energi, mengurangi emisi karbon, dan memperluas akses energi ke wilayah yang membutuhkan,” kata Bayu.

    Sumber:Antaranews.com

  • Sulawesi Tengah Terima 2,8 Juta Dolar untuk Program REDD+, Seperti Ini Rinciannya

    Sulawesi Tengah Terima 2,8 Juta Dolar untuk Program REDD+, Seperti Ini Rinciannya

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) menerima dana 2,8 juta dolar untuk program pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation/REDD+).

    Sulteng merupakan provinsi kelima di Indonesia yang memperoleh insentif Results-Based Payment atau RBP REDD+ karena keberadaan kawasan hutan seluas lebih dari 4,27 juta hektare di wilayah itu.

    RBP adalah skema insentif di bawah mekanisme REDD+ yang memberikan pendanaan ke daerah-daerah atas komitmen pengurangan emisi lewat kegiatan konservasi hutan.

    Dilansir Antaranews.com, Penjabat Sementara Gubernur Sulteng Novalina mengajak seluruh pihak berkomitmen dan berkonsentrasi penuh dalam menyukseskan REDD+ di wilayahnya.

    “Semoga tidak hanya sekadar lip-service (umbar janji), tapi harus betul-betul ada aksi nyata mengendalikan perubahan iklim, terutama penurunan emisi gas rumah kaca dan ekonomi hijau untuk pembangunan berkelanjutan,” katanya, saat membuka Workshop Penguatan Arsitektur REDD+, di Kota Palu, Rabu (25/9/2024).

    Baca: Indonesia menyimpan salah satu hutan hujan tropis terluas

    Novalina pun mengapresiasi kegiatan itu, sebagai forum konstruktif melahirkan solusi dan rekomendasi pembangunan lingkungan hidup berkelanjutan.

    Adapun langkah yang dilakukan dengan menyeimbangkan investasi dan konservasi supaya masyarakat hidup sejahtera dan alam tetap lestari.

    “Sulteng punya potensi dan sumber daya, tinggal bagaimana kita menjemput insentif dan alternatif-alternatif pembangunan yang ada di luar sana,” katanya menegaskan.

    Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Yulia Suryanti berharap Sulteng dapat berkontribusi signifikan dalam implementasi REDD+ dengan pertimbangan kawasan hutan yang sangat luas.

    “Dari identifikasi awal kami, Sulteng sudah punya modalitas dan potensi menyukseskan REDD+. Tidak sembarang daerah terpilih mendapatkan alokasi pendanaan RBP-REDD+,” imbuhnya.

    Selanjutnya, ia berharap semoga dapat tersusun arsitektur REDD+ yang kuat dari kegiatan itu, supaya dana yang digelontorkan dapat berdampak nyata ke lingkungan dan masyarakat.

    Baca: Aktivitas tambang picu deforestasi di pulau-pulau kecil

    Dalam mengelola dana RBP REDD+ ini, Pemprov Sulteng menggandeng KEMITRAAN sebagai salah satu Lembaga Perantara (Lemtara) BPDLH.

    Dilansir di kemitraan.or.id, program ini akan dilaksanakan selama dua tahun, dimulai pada September 2024 hingga Agustus 2026 sesuai dengan prioritas Pemprov Sulteng terkait dengan REDD+.

    Pengelolaan program pengurangan emisi gas rumah kaca antara dilakukan melalui perbaikan tata kelola hutan lestari, peningkatan resiliensi, dan penghidupan masyarakat yang berkelanjutan.

    Langkah-langkah yang dilakukan antara lain adalah penguatan kondisi pemungkin kelembagaan dan instrumen REDD+ di daerah, pengembangan peta Jalan FOLU Net Sink 2030 level Sub Nasional berbasis IGRK terkini.

    Serta peningkatan akses Perhutanan Sosial (PS), legalitas, pemasaran produk dan jasa ekosistem.

    Aktivitas dalam program ini diharapkan dapat mencapai target penurunan emisi di Sulawesi Tengah melalui tahapan yang terstruktur, serta pemanfaatan hutan oleh masyarakat sekitar melalui skema pengelolaan yang berkelanjutan dan inklusif.

  • Mengenal Owa Jawa Satwa Liar yang Hidupnya Sangat Tergantung pada Pepohonan

    Mengenal Owa Jawa Satwa Liar yang Hidupnya Sangat Tergantung pada Pepohonan

    7cloud.asia – Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana Astra Otopart (SOP) Group dan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) menemukan potensi ancaman terhadap Owa Jawa di Sanggabuana. Salah satunya adalah perburuan liar

    Namun, ancaman terbesar terhadap owa Jawa terutama berasal dari alih fungsi lahan hutan yang menjadikan pohon pakan dan pohon tidur Owa Jawa berkurang.

    “Bahkan beberapa blok hutan ada yang sudah habis tegakannya berganti jadi tanaman kopi dan mengisolasi beberapa kelompok Owa Jawa,” kata Leader Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana, Bernard T Wahyu Wiryanta, di Karawang, Sabtu (28/9/2024)

    Temuan ini tentu menjadi peringatan yang harus menjadi perhatian serius karena keberadaan Owa Jawa terancam punah.

    Hewan yang memiliki suara khas di pagi hari ini memiliki status endangered (rentan) berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species tm yang diakses Januari 2021.

    Baca: Tim ekspedisi temukan 107 kelompok Owa Jawa

    Sementara hutan Sanggabuana sendiri juga tidak sepenuhnya aman. Dilansir Mongabay, di perbatasan hutan Sanggabuana terdapat pertambangan skala besar.

    Bernard menuturkan kepada Mongabay pada Desember 2023, perusahaan tersebut memang beroperasi dengan izin resmi.

    Tapi seperti apa keunikan binatang bernama Owa Jawa ini? Dilansir museum.biologi.ugm.ac.id, Owa Jawa memiliki nama ilmiah Hylobates moloch yang merupakan satwa endemik di Pulau Jawa.

    Selain di hutan Sanggabuana, Owa Jawa juga bisa ditemukan di sejumlah hutan hujan tropis di Jawa Barat dan Jawa Tengah, terutama di kawasan yang dilindungi seperti Taman Nasional.

    Ciri khas dari primata ini adalah tidak berekor, memiliki tubuh ramping dan memiliki tangan yang lebih panjang dari tubuhnya. Tangan ini digunakan untuk berayun dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.

    Baca: Populasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon bertambah

    Owa Jawa dewasa memiliki berat rata-rata 8 kilogram. Primata ini memiliki tubuh berwarna abu-abu dan wajah yang gelap.

    Owa Jawa merupakan hewan arboreal, yaitu hewan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas pohon. Sehingga keberadaan pohon sangat menentukan kelangsungan hidup Owa Jawa.

    Owa Jawa hidup dalam kelompok kecil yang mirip keluarga, karena terdiri dari sepasang jantan dan betina, serta anak owa yang belum dewasa.

    Owa memiliki masa reproduktif sekitar 10 hingga 20 tahun dan memiliki rata-rata 5 hingga 6 keturunan. Owa yang telah dewasa secara seksual akan memisahkan diri dari kelompoknya.

    Owa Jawa merupakan primata yang setia dalam mempertahankan wilayah mereka. Owa betina akan mengeluarkan suara kencang untuk menandai daerahnya. Suara owa betina dapat terdengar hingga satu kilometer.

  • Mengenal 21 Jenis Pohon Ficus yang Menjadi Penjaga Ekosistem Hutan Sanggabuana

    7cloud.asia – Puluhan jenis Keanekaragaman hayati langka baru saja ditemukan di hutan Pegunungan Sanggabuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

    Penemuan itu merupakan hasil eksplorasi Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) di hutan Pegunungan Sanggabuana pada awal tahun 2024 lalu.

    Menurut Direktur Eksekutif SCF Bernard Tri Wahyu Wiryanta, eksplorasi ini berhasil mendata sebanyak 21 jenis tanaman dari keluarga Moraceaea dari Genus Ficus di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana.

    “Moraceaea ini adalah keluarga ara-araan, salah satu suku anggota tanaman berbunga. Moraceaea merupakan keluarga tanaman berbunga yang terdiri dari 38 Genera dan terdapat lebih dari 1.100 spesies di bumi,” ujar Bernard, dikutip detik.com pada Februari lalu.

    Bernard menjelaskan, 21 jenis tumbuhan Ficus itu tersebar di kawasan hutan seluas 16.500 hektar di Pegunungan Sanggabuana, yang menjadi salah satu indikator banyaknya satwa langka di wilayah tersebut.

    “Ficus ini merupakan spesies kunci dan berperan penting untuk menjaga ekosistem di Sanggabuana. Kebanyakan keluarga Ficus selain menjaga tata air juga merupakan sumber pakan alami untuk jenis-jenis burung, primata, serangga, dan sebagian mamalia,” jelasnya.

    Baca: Perburuan dan alih fungsi lahan ancam populasi owa Jawa di hutan Sanggabuana

    Menurut hasil penelitiannya, berapa hewan langka dari jenis primata maupun serangga didapati menghuni, serta menjadikan pepohonan besar itu sebagai sumber makanan dan kehidupan.

    “Temuan kita, ada burung tangkong, takur, punai, perkici, dan merbah. Semuanya bergantung hidup pada buah-buahan dari genus Ficus pada saat musim berbuah. Buah Ficus juga menjadi makanan primata, terutama Owa Jawa yang menjadi salah satu satwa prioritas di kawasan Pegunungan Sanggabuana,” ungkap Bernard.

    Bernard merinci daftar ke 21 jenis Ficus yang ada di Pegunungan Sanggabuana adalah Ficus benjamina (beringin), Ficus rumphii (waringin jawa), Ficus septica (awar-awar), Ficus fistulosa (benying), Ficus annulata (beringin pencekik),

    Ficus sundaica, Ficus mikrokarpa (beringin cina), Ficus fulva, Ficus padana (hamerang putih), Ficus elastica (karet merah), Ficus virens (bunut bangkok), Ficus variegata (nyawai),

    Ficus hispida (bisoro), Ficus callosa (ilat-ilatan), Ficus carica (tin), Ficus religlosa (pohon bodhi), Ficus racemosa (loa), Ficus retusa (ara jejawi), Ficus ampelas (rampelas), Ficus aurata, dan Ficus pumila var quercifolia.

    Beberapa jenis tanaman Ficus itu cukup familier di masyarakat misalnya beringin atau Ficus benjamina. Juga ada pohon ara dan tin.

    Baca: Populasi badak di Taman Nasional Ujung Kulon bertambah

    “Tapi yang menjadi maskot di Sanggabuana adalah pohon loa atau Ficus racemosa. Ada beberapa loa yang berukuran sangat besar, bahkan perlu 12 orang untuk memeluk batangnya,” ungkapnya.

    Saking langka dan uniknya pepohonan besar di Pegunungan Sanggabuana tersebut, pelancong asal Thailand sempat meminta izin untuk bersemedi di bawah pohon tersebut.

    “Dulu tahun 2022 pernah ada 2 wisatawan dari Thailand yang beragama Budha meminta izin untuk bersemedi di pohon loa raksasa di Sanggabuana dalam rangka ibadah,” ucap Bernard.

    Bernard menambahkan, beberapa pohon dari keluarga Ficus selain mempunyai fungsi ekologis juga mempunyai makna penting bagi budaya dan agamawi. Seperti beringin sungsang yang ada di Alun-Alun Lor Keraton Yogya misalnya.

    “Ficus religlosa atau pohon bodhi yang terkenal dengan nama Sri Maha Bodhi juga ditanam di sebuah kuil di Sri Langka oleh raja Tissa pada tahun 288 sebelum Masehi, bahkan pohon ara juga merupakan salah satu tanaman yang disebut dalam beberapa kitab suci, baik Injil maupun Al-Qur’an, umumnya pepohonan ini merupakan pohon berusia panjang dan disakralkan,” terangnya.

    Beberapa jenis pohon Ficus hasil penelitian tersebut, kata Bernard, akan dikembangkan untuk merehabilitasi kawasan hutan di Sanggabuana.

    Baca: Taman Nasional Ujung Kulon dan upaya pelestarian macan tutul Jawa

    Selain untuk menambah populasi pakan alami satwa liar yang ada, pohon itu juga berfungsi untuk merehabilitasi mata air yang ada di kawasan Pegunungan Sanggabuana.

    “Beberapa jenis Ficus kami siapkan terutama untuk merehabilitasi Gunung Sinalanggeng yang sudah selesai ditambang oleh PT Atlasindo. Dan yang terpenting untuk kajian usulan perubahan fungsi hutan kawasan Pegunungan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi atau taman nasional,” ujar dia.

    Pihaknya juga telah mendaftarkan ratusan jenis satwa dan tumbuhan langka sebagai bahan usulan untuk perubahan fungsi kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi.

    Selain 21 jenis pohon ficus, tim Bernard juga mendata 176 spesies tanaman dari 39 family, termasuk juga lebih dari 150 jenis satwa langka dari keluarga primata.

    “Termasuk serangka juga telah melengkapi bahan kajian usulan kenaikan status perubahan fungsi kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana,” pungkasnya.

    Pegunungan Sanggabuana memiliki ketinggian 1291 meter di atas permukaan laut (mpdl) dan merupakan gunung tertinggi dan satu satunya di Karawang.

    Baca: Macan tutul Jawa masuk jebakan babi yang dipasang warga

    Pegunungan Sanggabuana berada di perbatasan empat kabupaten, yaitu di sebelah utara ada Kabupaten Karawang, sebelah timur ada Kabupaten Purwakarta, sebelah selatan ada Kabupaten Cianjur dan sebelah barat ada Kabupaten Bogor.

    Mengutip dari laman Gunung Bagging, Pegunungan Sanggabuana cukup populer di kalangan penduduk desa setempat yang sering berdoa di lerengnya.

    Saat ini status kawasan hutan Gunung Sanggabuana masuk dalam kategori hutan produksi dan sedang diusulkan menjadi hutan lindung untuk mencegah meluasnya kerusakan hutan di wilayah tersebut.

    Pegunungan Sanggabuana dipisahkan oleh Sungai Ci Beet dengan Rangkaian Pegunungan Jonggol yang membentang dari Citeureup, Cisarua, Sukamakmur, hingga Tanjungsari. Sementara, Gunung Sanggabuana berada dalam Formasi Jatiluhur.

    Hutan gunung Sanggabuana masih cukup terawat. Di hutan gunung ini kita masih dapat menikmati pepohonan yang tumbuh liar hingga mencapai ketinggian puluhan meter berjejer di sana.

  • MA Tolak Kasasi Suku Awyu, Perjuangan Selamatkan Hutan Papua Semakin Berat

    MA Tolak Kasasi Suku Awyu, Perjuangan Selamatkan Hutan Papua Semakin Berat

    7cloud.asia – Pejuang lingkungan hidup dari suku Awyu, Hendrikus Woro, dan Koalisi Selamatkan Hutan Adat Papua mengungkapkan kekecewaannya atas putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak permohonan kasasi masyarakat adat Awyu dalam upaya mempertahankan hutan adatnya dari ekspansi korporasi sawit di Boven Digoel, Papua Selatan.

    Putusan MA ini menambah panjang kabar buruk bagi masyarakat adat dan komunitas lokal yang berjuang di pengadilan melawan ancaman perusakan lingkungan hidup.

    “Saya merasa kecewa dan sakit hati karena saya sendiri sudah tidak ada jalan keluar lain yang saya harapkan untuk bisa melindungi dan menyelamatkan tanah dan manusia di wilayah tanah adat saya,” kata Hendrikus Woro seperti dilansir di laman resmi WALHI.

    Hendrikus Woro mengaku merasa lelah dan sedih karena selama saya berjuang tidak ada dukungan dari pemerintah daerah atau pemerintah pusat.

    “Kepada siapa saya harus berharap dan saya harus berjalan ke mana lagi?“ ujarnya.

    Anggota Tim Advokasi Selamatkan Hutan Adat Papua, Sekar Banjaran Aji mengatakan, keputsan MA ini menjadi kabar duka kesekian bagi masyarakat Awyu karena pemerintah dan hukum belum berpihak kepada masyarakat adat.

    Perjuangan menyelamatkan hutan adat Papua, ujarnya, akan semakin berat apalagi dengan pemerintahan hari ini yang berambisi membabat hutan di Papua Selatan untuk food estate.

    Dia menegaskan, hutan Papua adalah rumah bagi keanekaragaman hayati.

    ”Saat banyak orang di dunia sedang membahas bagaimana menyelamatkan keanekaragaman hayati global dari kepunahan, seperti yang berlangsung di COP16 CBD Kolombia saat ini, kita justru mendapat berita buruk makin terancamnya keanekaragaman hayati dan masyarakat adat di Tanah Papua,” katanya

    Hendrikus Woro mengajukan kasasi ke MA karena Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura dan PTTUN Makassar menolak gugatan serta bandingnya.

    Gugatan yang diajukan Hendrikus Woro tersebut menyangkut izin kelayakan lingkungan hidup yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Papua untuk PT Indo Asiana Lestari (IAL).

    Perusahaan sawit ini mengantongi izin lingkungan seluas 36.094 hektare, atau lebih dari setengah luas DKI Jakarta, dan berada di hutan adat marga Woro–bagian dari suku Awyu.

    Dalam dokumen putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 458 K/TUN/LH/2024 itu, diketahui bahwa putusan tersebut diambil dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim pada 18 September lalu.

    Dari dokumen putusan lengkap yang baru bisa diakses pada 1 November 2024. Satu dari tiga hakim yang mengadili perkara ini, Yodi Martono Wahyunadi, mengeluarkan pendapat berbeda (dissenting opinion).

    Salah satu poin penting dissenting opinion tersebut menyangkut tenggat waktu gugatan 90 hari–yang sebelumnya menjadi dalih PTTUN Makassar untuk menolak permohonan banding Hendrikus Woro.

    Dalam pertimbangannya, hakim Yodi merujuk Pasal 5 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 2018, bahwa perhitungan yang dimaksud hanya hari kerja. Perhitungan tenggat waktu juga mesti mencakup hari libur lokal Provinsi Papua.

    Namun, karena mempertimbangkan keadilan substantif ketimbang keadilan formal, hakim Yodi berpendapat pengadilan perlu mengesampingkan ketentuan tenggat waktu itu dengan melakukan invalidasi praktikal.

    “Dari pertimbangan dissenting opinion menyangkut tenggat waktu tersebut, kami menilai Mahkamah Agung inkonsisten dalam menerapkan aturan yang mereka buat. Padahal Peraturan Mahkamah Agung adalah petunjuk yang digunakan peradilan internal,” kata Tigor Hutapea, anggota Tim Advokasi Selamatkan Hutan Adat Papua.

    “Putusan MA ini tidak berarti objek gugatan sudah benar karena dua hakim tidak memeriksa substansinya. Namun satu majelis hakim dalam dissenting opinion menyatakan bahwa penerbitan amdal terbukti belum mengakomodasi kerugian di wilayah kehidupan masyarakat adat, yang dikelola dan dimanfaatkan turun-temurun.” ujarnya.

    Hakim Yodi Martono berpendapat bahwa objek gugatan–surat izin lingkungan hidup untuk PT IAL–bertentangan dengan berbagai asas dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sehingga harus dibatalkan. Namun, hakim Yodi kalah dalam pemungutan suara.

    Selain kasasi perkara PT IAL ini, sejumlah masyarakat adat Awyu juga tengah mengajukan kasasi atas gugatan PT Kartika Cipta Pratama dan PT Megakarya Jaya Raya, dua perusahaan sawit yang juga sudah dan akan berekspansi di Boven Digoel, atas keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Putusan MA atas kasus PT IAL ini bisa jadi akan menentukan nasib hutan hujan seluas 65.415 hektare di konsesi PT KCP dan PT MJR.

    Sebelumnya, saat menunggu kasus PT IAL diadili oleh MA, masyarakat adat Awyu mendapat petisi dukungan sebanyak 253.823 tanda tangan dari publik yang diserahkan langsung ke MA pada 22 Juli lalu.

    Saat itu publik Indonesia di media sosial ramai-ramai membahas perjuangan suku Awyu, yang puncaknya muncul tagar #AllEyesOnPapua. Sayangnya, dukungan publik untuk perjuangan itu tak cukup mengetuk pintu hati para hakim.

  • Biden Tinggalkan ‘Warisan’ Iklim di Jantung Amazon

    Biden Tinggalkan ‘Warisan’ Iklim di Jantung Amazon

    7cloud.asia – Deforestasi, erosi pantai dan kerusakan akibat kebakaran terhadap kawasan hutan hujan terbesar di dunia, Amazon merupakan beberapa pemandangan yang disaksikan Presiden Amerika Serikat Joe Biden hari Minggu (17/11/2024) lalu.

    Joe Biden adalah presiden Amerika Serikat pertama yang sedang menjabat yang mengunjungi Amazon.

    Di Manaus, ibu kota negara bagian Amazonas, Joe Biden mengumumkan bahwa di bawah pemerintahannya, Amerika Serikat melampaui target menyediakan 11 miliar dolar per tahun dalam pendanaan iklim internasional pada tahun 2024.

    Itu adalah komponen penting dalam perang melawan perubahan iklim yang dilobi oleh negara-negara Global South, istilah yang mengacu pada negara dengan ekonomi dan pembangunan industri yang belum berkembang baik.

    Biden mengatakan, “Perjuangan untuk melindungi planet kita secara harfiah merupakan perjuangan bagi umat manusia, bagi generasi-generasi mendatang. Ini mungkin merupakan satu-satunya ancaman eksistensial bagi seluruh negara kita dan seluruh umat manusia.”

    Baca: Amazon, hutan hujan tropis terbesar di dunia

    Biden bertemu dengan para pemimpin masyarakat adat dan mengumumkan investasi Amerika Serikat di beberapa prakarsa iklim, termasuk 50 juta dolar untuk Dana Amazon.

    Dari Manaus, Biden bertolak menuju KTT 20 ekonomi terbesar, G20, di Rio de Janeiro, di mana sumber-sumber diplomatik mengatakan kepada VOA bahwa mereka khawatir upaya perubahan iklim Amerika Serikat akan dikurangi secara drastis di bawah pemerintahan Donald Trump.

    Pada masa jabatannya yang pertama, Trump menarik Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Iklim Paris, forum multilateral utama dunia untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

    Biden mengatakan ia memberi Trump dan negara peninggalan berupa “fondasi yang kuat untuk dibangun, jika mereka memilih untuk melakukannya.”

    Biden menyampaikan warisan iklimnya dalam istilah ekonomi – perlombaan antara negara-negara dalam “memanfaatkan revolusi energi bersih.”

    Baca: Lima hutan hujan tropis terbesar di dunia dalam ancaman deforestasi

    “Benar, sebagian orang mungkin ingin menolak atau menunda revolusi energi bersih yang sedang berlangsung di Amerika, tetapi tak seorang pun – tak seorang pun yang dapat membalikkannya,” jelasnya.

    Trump kabarnya berencana akan mengurangi keringanan pajak yang berlaku sekarang ini untuk pembelian kendaraan listrik, yang merupakan bagian dari legislasi penting yang diajukan Biden terkait energi bersih dan perubahan iklim.

    Trump telah berulang kali menyebut perubahan iklim sebagai “cerita bohong.” Namun, Celso Amorim, penasihat utama presiden Brazil, mengatakan ia tidak akan menghakimi pemerintahan Trump.

    “Saya menilai tindakan. Jadi, kita akan lihat nantinya bagaimana tindakan itu berkembang, dan kemudian kami akan berbicara. Untuk sekarang ini, Biden telah menjadi mitra yang baik bagi Brazil, bagi Presiden [Luis Inacio] Lula [da Silva],” sebutnya.

    Saat KTT G20 dimulai di Rio pada hari Senin, Biden dijadwalkan untuk berfokus pada hak-hak pekerja dan pertumbuhan ekonomi bersih, dan menghadiri peluncuran Aliansi Global Melawan Kelaparan dan Kemiskinan.

    Ini juga merupakan prakarsa yang oleh banyak diplomat di sana dikhawatirkan tidak akan mendapat dukungan Amerika Serikat di bawah Trump, yang memangkas dana bantuan asing saat ia menjabat. Sumber: VOA Indonesia, Penulis: Patsy Widakuswara

  • Fakta Menarik Soal Wisata di Gunung Sanggabuana

    Fakta Menarik Soal Wisata di Gunung Sanggabuana

    7cloud.asia – Gunung Sanggabuana memiliki ketinggian 1291 meter di atas permukaan laut (mpdl) dan merupakan gunung tertinggi dan satu satunya di Karawang.

    Gunung Sanggabuana berada di perbatasan empat kabupaten, yaitu di sebelah utara ada Kabupaten Karawang, sebelah timur ada Kabupaten Purwakarta, sebelah selatan ada Kabupaten Cianjur dan sebelah barat ada Kabupaten Bogor.

    Mengutip dari laman Gunung Bagging, Selasa (10/9/2024) Gunung Sanggabuana cukup populer di kalangan penduduk desa setempat dan dijadikan tempat untuk wisata religi atau berdoa di sana.

    Berikut sejumlah fakta mengenai Gunung Sanggabuana selain lokasi dan ketinggiannya, dirangkum dari berbagai sumber.

    1. Diusulkan jadi hutan lindung
    Saat ini status kawasan hutan Gunung Sanggabuana masuk dalam kategori hutan produksi dan sedang diusulkan menjadi hutan lindung untuk mencegah meluasnya kerusakan hutan di wilayah tersebut.

    Gunung Sanggabuana dipisahkan oleh Sungai Ci Beet dengan rangkaian Pegunungan Jonggol yang membentang dari Citeureup, Cisarua, Sukamakmur, hingga Tanjungsari. Sementara, Gunung Sanggabuana berada dalam Formasi Jatiluhur.

    Hutan gunung Sanggabuana masih cukup terawat. Di hutan gunung ini kita masih dapat menemui pepohonan yang tumbuh liar hingga mencapai ketinggian puluhan meter berjejer di sana.

    Bahkan pepohonan sebesar truk, masih bisa ditemui di sini. Pohon kemenyan tumbuh liar di hutan gunung Sanggabuana, selain beragam jenis ficus.

    Baca: Mengenal 21 jenis pohon Ficus yang menjaga ekosistem Hutan Sanggabuana

    2. Jalur pendakian Gunung Sanggabuana
    Mendaki Gunung Sanggabuana bisa ditempuh melalui beberapa jalur. Jika melalui Karawang terbilang cukup terjal, tetapi cepat dan jelas rutenya. Pendaki membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam untuk sampai ke puncaknya.

    Di awal jalur pendakian kita akan menemukan areal pesawahan warga dengan latar barisan bukit yang sangat indah. Selang beberapa saat setelah melewati area pesawahan, pendaki akan melewati Kampung Situ, yaitu sebuah desa terakhir yang kita jumpai yang hanya terdiri dari beberapa keluarga saja.

    Dari Kampung Cipeuteuy, jalan yang baru diaspal mengarah beberapa kilometer lagi ke dasar pegunungan menuju desa Mekar Buana (381 mdpl). Di sinilah tempat untuk meninggalkan sepeda motor Anda dan memulai pendakian.

    Dari Mekar Buana, ikuti rambu jalan setapak di sebelah kanan melewati bangunan desa dan menuju jalur pertanian.

    Di jalur ini kita akan menemukan areal perkebunan kopi yang cukup luas. Sedikit lebih jauh di perkebunan kopi terdapat pondok atau warung di ketinggian 509 mdpl dan beberapa rambu jalan.

    Ini merupakan persimpangan penting yaitu Persimpangan Puncak – Kebon Jambe. Jika terus lurus, Anda akan sampai ke Perkemahan UBP Cigolosor, Situs Kebon Jambe dan Makom Pandai Domas, tetapi untuk mencapai puncak Anda harus belok kiri.

    Pada tahun 2010, Sangga Buana memiliki basecamp sendiri (141 mdpl) di Kampung Cipeuteuy. Dulunya, tempat ini digunakan untuk mendaftar dan mencari pemandu sebelum memulai pendakian, tetapi pada tahun 2020 loket tiket dan titik pendaftaran berada di tengah jalan setapak.

    3. Objek Wisata Air Terjun
    Sama seperti gunung-gunung di dekatnya di sebelah timur waduk Jatiluhur, daerah ini menarik dan sangat tidak dikenal meskipun dekat dengan Jakarta. Tapi Gunung Sanggabuana bukanlah satu-satunya daya tarik di daerah tersebut.

    Ada banyak air terjun dan banyak pelajar lokal Indonesia datang untuk mengunjungi air terjun yang lebih mudah diakses di akhir pekan.

    Ada Curug Cikoealngkak yang juga dikenal sebagai Curug Bandung dan Curug Cigentis sangat populer.

    Sebaiknya pergi pagi-pagi sekali atau pada hari kerja adalah waktu terbaik untuk menghindari keramaian. Namun perlu diingat, Anda akan melalui jalur yang berbeda jika ingin mencapai curug atau ingin mendaki puncak Gunung Sanggabuana.

    Baca: Perburuan liar dan alih fungsi lahan ancam populasi Owa Jawa di hutan Sanggabuana

    4. Peziarah di Gunung Sanggabuana
    Wisata Pegunungan dan Kopi Robusta Sanggabuana dari Desa Brilian Mekarbuana
    jadi wisata Desa Brilian Mekarbuana di Pegunungan Sanggabuana, Kecamatan Tegalwaru, Karawang.

    Di sekitaran pancuran ini juga terdapat bangunan kecil yang biasanya dijadikan tempat berjualan ketika banyak pengunjung atau peziarah.

    5. Lokasi berkemah
    Buat kamu yang ingin berkemah saat berkunjung ke Gunung Sanggabuana, tak perlu bingung. Karena sudah tersedia tempat berkemah dengan fasilitas yang cukup lengkap.

    Seperti diketahui, Gunung Sanggabuana adalah salah satu di antara tiga tempat latihan TNI Kostrad, selain di Cibenda, dan Jatiluhur. Daerah latihan Kostrad di Sanggabuana terbentang seluas 500 hektare.

    Di tempat latihan Kostrad inilah Anda bisa berkemah.

  • Jika Dirawat, Keanekaragaman Hayati Hutan Aceh Bisa Sumbang Rp 12 Triliun Setahun

    Jika Dirawat, Keanekaragaman Hayati Hutan Aceh Bisa Sumbang Rp 12 Triliun Setahun

    7cloud.asia – Ekolog dan Konservasionis dari Selandia Baru, Mike Griffiths menyatakan bahwa keanekaragaman hayati hutan Aceh memiliki nilai ekonomi yang sangat besar mencapai Rp12 triliun per tahun.

    Menurut Mike, hutan Aceh terutama di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya dibandingkan hutan di negara lain seperti Amerika.

    Pernyataan itu disampaikan Mike Griffiths saat menjadi pembicara tamu pada seminar Internasional Pekan Raya Leuser di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Selasa (3/12/2024)

    “Hutan di Aceh memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, nilai ekonomisnya bisa mencapai Rp12 triliun per tahun, sedangkan kerugian kalau semua lowland forest (hutan dataran rendah) hilang itu mencapai Rp3,8 triliun per tahun,” kata Mike Griffiths, di Banda Aceh.

    Berdasarkan temuannya, setiap hektare hutan di KEL terdapat 300 spesies pohon dan 40.000 lebih spesies jenis serangga mulai dari berukuran kecil hingga besar.

    “Ini baru per hektare, kalau hutan di negara lain seperti Amerika mungkin per hektarenya hanya terdapat sekitar belasan pohon dan serangga,” ujarnya.

    Baca: Biden tinggalkan ‘Warisan’ Iklim di jantung Amazon

    Mike menegaskan, hutan Aceh adalah salah satu aset terpenting yang sangat berpotensi untuk pembangunan ekonomi. Besarnya potensi tersebut dapat dirasakan jika kelestarian hutan tetap terjaga.

    “Keanekaragaman hayati ini adalah anugerah yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, Aceh bisa menjadi contoh global dalam konservasi dan pemanfaatan ekonomi hutan,” katanya.

    Namun, Mike menyayangkan potensi besar ini belum sepenuhnya disadari oleh Pemerintah Aceh.

    Ia juga menyoroti berkurangnya tutupan hutan Aceh akibat fragmentasi pembangunan jalan di kawasan hutan yang turut mengancam keberlangsungan hidup satwa-satwa kecil dan berkontribusi pada kepunahan.

    “Ketika dibangun jalan, maka akan muncul perkebunan, permukiman, dan mudahnya terjadi pembalakan liar atau ilegal logging. Ketika adanya fragmentasi tersebut, maka satwa-satwa kecil akan punah,” kata Mike Griffiths.

    Sementara itu, Senior Advisor Forum Konservasi Leuser, Rudi Putra, menyampaikan, aktivitas perambahan hutan masih terus berlangsung di KEL. Dalam 53 tahun terakhir, kehilangan hutan di Leuser seluas 423.524 hektare.

    Baca: Indonesia termasuk negara dengan hutan terluas di dunia

    “Ini setara dua kali luas Kabupaten Aceh Tamiang dan enam kali luas Singapura,” kata Rudi.

    Senada dengan Mike, Rudi berpendapat bahwa kehilangan tutupan hutan di kawasan Leuser disebabkan pembangunan jalan yang memicu aktivitas deforestasi dan perburuan satwa liar.

    “Musuh besar konservasionis adalah pembukaan lahan yang mempermudah perambah mengakses hutan sekaligus berburu satwa yang dilindungi,” katanya.

    Dirinya juga menuturkan, kehilangan tutupan hutan ini telah berdampak besar terhadap lingkungan dan masyarakat. Artinya, ikut berkontribusi pada meningkatnya intensitas banjir.

    “Dampak kehilangan hutan membuat banjir terjadi lebih sering. Aceh tidak akan bisa maju jika banjir terus terjadi, karena biaya pemulihan jauh lebih besar. Akibatnya, banyak penduduk jatuh ke jurang kemiskinan. Berapa banyak orang yang menjadi miskin karena bencana,” ujarnya.

    Dalam kesempatan ini, Rudi juga mengingatkan pemerintah terhadap pentingnya menjaga kelestarian Leuser, karena hutan itu dapat menjadi kunci kesejahteraan masyarakat Aceh.

    “Leuser adalah harapan terakhir untuk konservasi. Dengan hutan yang masih luas ini, kita yakin masyarakat dapat sejahtera,” demikian Rudi Putra.

  • Kesehatan Tanah Global Terus Menurun, Ini Penyebabnya

    Kesehatan Tanah Global Terus Menurun, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Setiap tahun, dunia kehilangan miliaran ton lapisan subur tanah akibat penggembalaan berlebihan, penggundulan hutan, polusi, dan sejumlah ancaman lainnya.

    Para ahli mengatakan, hal ini merupakan ancaman bagi pasokan pangan dunia, pasalnya tanah menjadi pendukung sebagian besar sumber makanan yang dikonsumsi manusia.

    Tanah merupakan salah satu gudang terpenting karbon yang menyebabkan pemanasan global. Dan menurut penelitian terbaru yang dirilis di jurnal Nature, hutan ini adalah rumah bagi hampir 60 persen spesies.

    Tanah menjadi topik hangat ketika negara-negara di dunia berkumpul di Riyadh, Arab Saudi untuk menghadiri Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan (UN Convention to Combat Desertification/UNCCD).

    Dalam pertemuan itu, para perunding dari berbagai negara membahas komitmen yang telah dibuat oleh negara-negara untuk membendung hilangnya lahan dan mencapai netralitas degradasi lahan pada tahun 2030.

    “Degradasi tanah berdampak pada ketahanan pangan, sistem air, keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim,” kata Bruno Pozzi, Wakil Direktur Divisi Ekosistem di Program Lingkungan PBB (UNEP).

    Baca: UNCDD sebut lebih separuh permukaan Bumi terancam kekeringan permanen

    “Dengan mengatasi akar penyebab degradasi tanah, kita dapat memulihkan kesehatan tanah dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi ratusan juta orang.”

    Pada Hari Tanah Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 5 Desember, UNEP merilis lima alasan utama penurunan kesehatan tanah dan solusi potensial.

    Kekeringan
    Salah satu penyebab penurunan kualitas tanah adalah kekeringan. Menurut laporan Global Land Outlook UNCCD, lebih dari sepertiga penduduk dunia tinggal di wilayah yang kekurangan air.

    Ketika lahan terdegradasi, tanah kehilangan kemampuannya untuk menahan air, menyebabkan hilangnya vegetasi dan menciptakan lingkaran setan kekeringan dan erosi.

    Masalah ini, yang diperburuk oleh perubahan iklim, terutama terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga berkontribusi terhadap kerawanan pangan dan kelaparan di sana.

    Melalui praktik pengelolaan air, seperti irigasi tetes dan pemanenan air hujan, serta restorasi ekosistem, masyarakat dapat meningkatkan kelembapan tanah dan mengurangi dampak kekeringan.

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak

    Degradasi lahan
    Aktivitas manusia telah mengubah lebih dari 70 persen daratan di planet Bumi, menyebabkan degradasi hutan, lahan gambut, dan padang rumput secara luas, serta beberapa ekosistem lainnya.

    Hal ini mengurangi kesuburan tanah, menurunkan hasil panen dan mengancamn ketahanan pangan.

    Peristiwa cuaca ekstrem, seperti hujan lebat yang diikuti kekeringan, mempercepat degradasi.

    Di sisi lain penggundulan hutan dan penggembalaan berlebihan menurunkan kualitas tanah dengan memadatkan permukaan tanah. Selain menurunkan daya serap air, hal ini juga menghabiskan nutrisi penting.

    Untuk mengatasi hal ini, praktik seperti menambahkan kompos dan bahan organik ke dalam tanah, meningkatkan teknik irigasi, dan menggunakan mulsa untuk menjaga kelembapan sangatlah penting.

    Memulihkan kesehatan tanah melalui pertanian konservasi juga membantu mencegah degradasi lahan lebih lanjut.