Tag: kualitas udara

  • Laporan Kualitas Udara Dunia IQAir 2024: Dunia Catat Kemajuan Penting Terkait Pemantauan Polusi Udara

    Laporan Kualitas Udara Dunia IQAir 2024: Dunia Catat Kemajuan Penting Terkait Pemantauan Polusi Udara

    7cloud.asia – Perusahaan pemantauan kualitas udara asal Swiss, IQAir pada Selasa (12/3/2025) pekan lalu merilis Laporan Kualitas Udara Dunia 2024.

    Laporan kualitas udara IQAir itu mencatat kemajuan penting dalam memperluas pemantauan kualitas udara di berbagai negara, wilayah, dan teritori selama 12 bulan terakhir.

    Namun, kesenjangan yang cukup besar masih ada dalam sistem regulasi yang dioperasikan pemerintah di banyak bagian dunia.

    Pemantau kualitas udara berbiaya rendah-yang digunakan oleh ilmuwan warga, peneliti, advokat masyarakat, dan organisasi lokal-telah terbukti menjadi alat yang efektif untuk mengatasi kesenjangan data ini.

    Alat pemantau ini telah terbukti meningkatkan ketersediaan data penting tentang tingkat polusi udara di seluruh dunia.

    “Polusi udara tetap menjadi ancaman penting bagi kesehatan manusia dan stabilitas lingkungan, namun sebagian besar penduduk tetap tidak menyadari tingkat paparan mereka,” kata Frank Hammes, CEO Global IQAir.

    Baca: Hanya Tujuh Negara yang Penuhi Standar Kualitas Udara WHO

    Hammes menambahkan, data kualitas udara menyelamatkan nyawa. Data ini menciptakan kesadaran yang sangat dibutuhkan, menginformasikan keputusan kebijakan, memandu intervensi kesehatan masyarakat.

    Data ini juga memberdayakan masyarakat untuk mengambil tindakan guna mengurangi polusi udara dan melindungi generasi mendatang.”

    IQAir yang baru Schools4Earth Inisiatif ini mengakui dampak besar yang dimiliki sekolah untuk memperluas jaringan pemantauan kualitas udara global dan berupaya menyediakan lebih dari 1 juta sekolah dengan pemantau kualitas udara.

    IQAir memperkirakan bahwa saat ini hanya 21 persen populasi dunia yang memiliki akses ke informasi kualitas udara yang sangat lokal dan real-time.

    Dengan visi setiap sekolah di seluruh dunia memantau kualitas udara, IQAir memperkirakan bahwa lebih dari 94 persen populasi global akan memiliki akses ke data polusi waktu nyata

    Kondisi ini akan mengisi kesenjangan informasi penting dan meningkatkan respons kesehatan masyarakat.

    Baca: Dampak Polusi Udara pada Kesehatan dan Ekonomi Global

    Hammes mengatakan, sekolah berada di pusat komunitas, menjadikannya lokasi yang ideal untuk pemantauan kualitas udara. Dengan melengkapi sekolah-sekolah di seluruh dunia dengan pemantau kualitas udara berbiaya rendah.

    “Lebih dari tujuh miliar orang akan memiliki akses ke data kualitas udara yang sangat lokal dan real-time, menciptakan gerakan di seluruh dunia untuk udara yang lebih bersih,” kata Hammes.

    Laporan Kualitas Udara Dunia menggarisbawahi bagaimana pendekatan berbasis data yang mendesak ini sangat penting dalam mendorong perubahan kebijakan dan upaya kolektif untuk mengurangi polusi bagi generasi mendatang.

    “Laporan Kualitas Udara Dunia, yang mengumpulkan pengukuran polusi udara dari seluruh dunia, harus menjadi seruan bagi upaya internasional yang mendesak dan terpadu untuk mengurangi emisi polutan,” kata Aidan Farrow, Ilmuwan Kualitas Udara Senior Greenpeace International.

    Dengan menyoroti risiko tidak proporsional yang ditimbulkan oleh polusi udara terhadap kaum muda, laporan ini mengingatkan kita bahwa kegagalan untuk bertindak hari ini akan dirasakan oleh generasi mendatang,

    “Sementara referensi yang sering muncul tentang aktivitas manusia seperti pembakaran batu bara dan deforestasi menjadi pengingat bahwa kualitas udara, perubahan iklim, dan dunia yang akan diwarisi oleh anak-anak kita saling terkait erat,” ujar Farrow.

     

  • Libur Lebaran Membuat Kualitas Udara Jakarta Membaik

    Libur Lebaran Membuat Kualitas Udara Jakarta Membaik

    transja

    7cloud.asia – Libur Lebaran ternyata berdampak positif terhadap kualitas udara Jakarta. Berkurangnya kendaraan pribadi yang bersliweran di jalanan Jakarta membuat kualitas udara Jakarta membaik

    Kualitas udara di Jakarta pada Rabu (2/5/2025) pagi atau sehari setelah Lebaran 2025 masuk ke dalam kategori baik berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir.

    Berdasarkan pantauan pada pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 50 dengan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2.5 sebesar 9 mikrogram per meter kubik.

    Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan kondisi sehari-hari Jakarta dan menjadikan Jakarta masuk peringkat ke 50 dalam daftar kota besar paling bersih di dunia.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan untuk atasi polusi udara dan kemacetan 

    Dengan kualitas udara yang baik, masyarakat bisa menikmati aktivitas luar ruangan. Sehari sebelumnya, kualitas udara Jakarta juga masuk kategori sedang.

    Sementara berdasarkan Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa kualitas udara di empat lokasi berada pada kategori baik atau nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

    Sedangkan satu lokasi lainnya berada pada kategori sedang atau nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 50-100.

    Indeks kualitas udara di Kebon Jeruk, Jakarta Barat tercatat di angka 43, Bundaran HI, Jakarta Pusat dengan Indeks di angka 42.

    Baca: Banyak warga beralih ke transportasi publik kurangi kemacetan di Jakarta

    Sedangkan wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara di angka 28, Lubang Buaya, Jakarta Timur di angka 31, dan Jagakarsa, Jakarta Selatan di angka 56.

    Kendati kualitas udara di Jakarta membaik, indeks kualitas udara di sejumlah kota justru sebaliknya.

    Kota Tangerang Selatan, Banten, tercatat memiliki indeks kualitas udara buruk dengan rangking PM2.5 134, disusul Depok dengan rangking 129.

    Sementara indeks kualitas udara Pakisaji, Jawa Timur; Medan, Sumatera Utara; Bali; Surabaya, Jawa Timur; dan Tangerang, Banten masuk kategori sedang dengan kisaran rangking 85-55.

  • Kementerian Lingkungan Hidup Minta Pengelola Kawasan Industri Bangun Stasiun Pemantau Kualitas Udara

    Kementerian Lingkungan Hidup Minta Pengelola Kawasan Industri Bangun Stasiun Pemantau Kualitas Udara

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) meminta kepada pengelola kawasan industri untuk menyiapkan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) sebagai bentuk antisipasi potensi polusi udara jelang memasuki musim kemarau.

    Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan belum ada peraturan menteri terkait Stasiun Pemantau Kualitas Udara ini

    “Karena itu kami akan memandatkan lebih awal dengan keputusan menteri sampai peraturan menterinya akan dibangun. Sehingga sifatnya semi mandatory,” kata Hanif usai memberikan arahan kepada para pelaku usaha kawasan industri Jabodetabek dan Karawang dalam pertemuan di Jakarta, Kamis (10/4/2025).

    Dia mengatakan arahan untuk membangun SPKU di kawasan industri bertujuan untuk memastikan secara pasti sumber pencemaran yang dapat dilihat dari kualitas berdasarkan SPKU tersebut, untuk dapat mempertimbangkan langkah lanjutan untuk mengatasinya.

    Baca: Libur Lebaran membuat kualitas udara Jakarta membaik

    Secara khusus dia juga menyebut sejumlah kawasan industri sudah dan akan membangun SPKU atau Air Quality Monitoring System (AQMS) yang memantau kualitas udara secara otomatis dan berkelanjutan untuk memberikan data secara faktual atau real time.

    Terkait kapan akan dikeluarkan keputusan menteri terkait SPKU tersebut, Hanif menyebut akan diterbitkan dalam waktu dekat.

    Pertemuan yang dilakukan hari ini sendiri dilakukan untuk mencapai kolaborasi antara pemerintah lewat KLH dengan dunia usaha terutama yang berada di kawasan industri.

    Dia mengingatkan bahwa pengendalian pencemaran udara, dan juga jenis pencemaran yang lain, menjadi tugas penting dari pengelolaan kawasan industri bersama dengan pemerintah daerah di wilayah masing-masing.

    Baca: Dunia catat kemajuan penting terkait pemantauan kualitas udara

    Jika tidak melakukan pengelolaan dengan baik dan tidak mematuhi ketentuan yang ada, Hanif mengingatkan KLH dapat melakukan penegakan hukum jika dibutuhkan.

    Sebagai pimpinan kawasan industri, ujar Hanif, kepala dinas provinsi, kabupaten/kota kalau masih setelah pembinaan, pengarahan, masih juga membandel dan tidak mengindahkan kaedah-kaedah lingkungan.

    “Maka hari ini izinkan saya untuk melakukan langkah-langkah penegakan hukum terkait dengan tenant yang kemudian tidak mematuhi kaedah-kaedah tata lingkungan,” demikian Hanif Faisol Nurofiq.

    Dalam kesempatan itu Hanif juga meminta para pelaku kawasan industri untuk melaksanakan aturan lingkungan hidup termasuk menyusun peta jalan untuk memperbaiki kualitas udara Jabodetabek.

  • Dengan JAKI, Warga Jakarta Dapat Memantau Kualitas Udara Setiap Saat

    Dengan JAKI, Warga Jakarta Dapat Memantau Kualitas Udara Setiap Saat

    7cloud.asia – Warga Jakarta kini dapat selalu memantau kualitas udara Jakarta dengan mengakses informasi secara real-time melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI) dan website resmi udara.jakarta.go.id.

    Selain memantau kualitas udara Jakarta, lewat aplikasi JAKI ini, warga Jakarta juga dapat mengetahui langkah yang perlu diambil saat akan beraktivitas di luar ruang.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, informasi kualitas udara yang disajikan melalui JAKI dan udara.jakarta.go.id menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2020.

    “ISPU ini merupakan indeks atau angka tanpa satuan, yang digunakan untuk menggambarkan kondisi mutu udara ambien di lokasi tertentu dan didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya,” ujar Asep, Minggu (20/4/2025).

    Asep menjelaskan, saat ini terdapat 111 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di Jakarta.

    Data dari SPKU ini dapat diakses masyarakat melalui laman resmi milih Pemprov DKI Jakarta yang dilengkapi fitur-fitur unggulan, seperti peta lokasi SPKU secara geospasial.

    Baca: Libur Lebaran membuat kualitas udara Jakarta membaik

    Juga pemeringkatan kualitas udara dari yang terbaik hingga terburuk, serta panduan langkah-langkah yang perlu diambil saat kualitas udara memburuk.

    “Saya mengimbau warga Jakarta untuk mengakses platform resmi karena fitur-fitur yang tersedia sudah terstandarisasi, lengkap, dan mudah dipahami. Dengan data yang valid dan akurat, platform ini bisa menjadi panduan utama masyarakat dalam mengambil keputusan saat beraktivitas di luar ruangan,” jelas Asep.

    Sementara itu, Direktur Indonesia untuk Clean Air Asia, Ririn Radiawati Kusuma menjelaskan, setiap negara memiliki standar kualitas udara yang berbeda, disesuaikan dengan karakteristik lokal masing-masing.

    Indeks kualitas udara di China, ujarnya, berbeda dengan Amerika Serikat, dan tentunya juga berbeda dengan Indonesia.

    “Indeks ini biasanya disertai dengan rekomendasi aktivitas luar ruangan yang relevan dengan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah tersebut,” ucapnya.

    Sementara Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO) menerbitkan panduan kualitas udara Global (WHO global air quality guidelines) secara periodik sejak tahun 1987.

    Baca: Kebijakan pembatasan kendaraan bermotor di Jakarta

    Panduan ini bertujuan untuk menjadi alat bantu bagi pemerintah negara-negara di dunia dalam mengurangi paparan polusi udara terhadap manusia. Panduan ini juga disusun untuk digunakan oleh peneliti dan pemangku kepentingan lainnya dalam topik kualitas udara.

    Panduan kualitas udara WHO disusun berdasarkan peneltian dampak polusi udara bagi kesehatan manusia.

    Pada panduannya yang diterbitkan tahun 2015, WHO menyarankan kadar tertinggi terhadap beberapa parameter polusi udara yaitu kadar partikulat PM2.5 dan PM10, serta kadar ozon, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan karbon monoksida.

    WHO juga menerbitkan basis data kualitas udara sekitar (WHO Ambient Air quality database) untuk kadar nitrogen dioksida, PM2.5, dan PM10 berdasarkan laporan pengukuran di lapangan dari negara-negara anggotanya

    Ririn juga mengapresiasi inisiatif berbagai institusi yang memasang sensor pemantauan kualitas udara, khususnya untuk parameter PM2.5, sebagai bentuk peningkatan kesadaran publik terhadap isu udara.

    Namun, dia menyarankan agar masyarakat tetap merujuk pada data resmi dari pemerintah setempat.

    Ririn menambahkan, sebagian besar sensor pada platform internasional seperti IQAir dipasang oleh sebagian besar individu dan sistem perawatan serta validasinya belum tentu diketahui.

    Karena itu, selain memperhatikan data dari pihak swasta atau perorangan, warga Jakarta disarankan membandingkan juga dengan data resmi milik pemerintah.

    “Yang terpenting, informasi ini menjadi panduan penting agar masyarakat dapat beraktivitas dengan aman setiap harinya,” tandas Ririn.

    Baca: Langkah untuk mengatasi polusi udara di Jakarta dan sekitarnya

  • Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Menurun: KLH Mengambil Sejumlah Langkah

    Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Menurun: KLH Mengambil Sejumlah Langkah

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq meminta maaf terkait penurunan kualitas udara yang terjadi di Jakarta.

    Hanif memastikan bahwa KLH terus berupaya untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta dengan memetakan sumber pencemaran di kawasan industri.

    “Biasanya memasuki musim kemarau, maka kualitas udara Jakarta akan turun. Ini kemarin saya membaca di beberapa media sudah turun ya, dan saya minta maaf untuk itu,” kata Menteri LH Hanif dalam tinjauan ke Kawasan Berikat Nusantara (KBN) di Jakarta Utara, Senin (19/5/2025)

    Untuk menangani penurunan kualitas udara Jakarta, KLH akan melakukan gerak cepat untuk menangani sumber-sumber pencemar udara di Jakarta, termasuk tungku dan boiler yang menggunakan batu bara di kawasan industri seperti di KBN.

     

    Baca: Warga Jakarta dapat memantau kualitas udara kapanpun dibutuhkan

    Untuk itu, KLH menurunkan tim terdiri dari sekitar 60 personel untuk memeriksa dan memetakan sumber polusi udara di kawasan industri, termasuk di KBN yang akan dimulai Senin (19/5/2025).

    Pemetaan ini diperkirakan akan berlangsung selama beberapa pekan memasuki musim kemarau.

    Selain itu, pihaknya juga terus melakukan sosialisasi untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan terutama di wilayah rawan termasuk sejumlah titik di Sumatera dan Kalimantan.

    Selain dengan pemerintah daerah, KLH juga melakukan dialog dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) untuk mendorong pencegahan kebakaran lahan.

    Baca: Libur Lebaran membuat kualitas udara Jakarta membaik

    Upaya lain untuk menekan polusi udara adalah meningkatkan kualitas bahan bakar minyak (BBM) untuk mencapai standar Euro-4. Langkah tersebut membutuhkan koordinasi dengan kementerian/lembaga lain.

    Untuk meningkatkan kualitas BBM itu perlu dukungan kebijakan ekonomi anggaran yang terkait dengan kewenangan Menteri Keuangan, Menteri ESDM, Menteri Perhubungan dan Menteri Perindustrian.

    Untuk itu, Hanif mengatakan pihaknya sudah menyurati sejumlah menteri terkait dampak yang ditimbulkan dari polusi udara, dan urgensi meningkatkan kualitas bahan bakar.

    “Tiga puluh lima persen dari polusi udara disumbang dari kendaraan bermotor dengan BBM semacam itu,” katanya.

    Baca: Upaya membatasi kendaraan bermotor di Jakarta

  • Jakarta Masuk Kota Terpolusi di Dunia pada Sabtu Pagi

    Jakarta Masuk Kota Terpolusi di Dunia pada Sabtu Pagi

    7cloud.asia – DKI Jakarta menduduki posisi pertama sebagai kota besar paling berpolusi di dunia pada Sabtu (28/6/2025) pagi.

    Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.45 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta berada di angka 196 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 119,5 mikrogram per meter kubik.

    Angka itu memiliki penjelasan tingkat kualitas udaranya masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif yakni dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Kota dengan kualitas udara terburuk urutan kedua yaitu Kinshasa, Kongo-Kinshasa di angka 171, urutan ketiga Lahore, Pakistan di angka 159, urutan keempat Kota Medan, Indonesia di angka 144, urutan kelima Kota Batam, Indonesia di angka 141.

    Baca: Transportasi menyumbang terbesar polusi udara di Jabodetabek

    Terkait kondisi udara tersebut, warga Jakarta diimbau menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika berada di luar ruangan gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

    Kulitas udara masuk kategori baik dan tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

    Sedangkan kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

    Kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

    Baca: Regulasi untuk menekan polusi udara di Jabodetabek

    Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

    Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta akan meniru kota-kota besar dunia seperti Paris dan Bangkok dalam menangani polusi udara.

    Belajar dari kota lain, Bangkok memiliki 1.000 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU), Paris memiliki 400 SPKU. Jakarta saat ini memiliki 111 SPKU dari sebelumnya hanya 5 unit.

    “Ke depan kita akan menambah jumlahnya agar bisa melakukan intervensi yang lebih cepat dan akurat,” kata Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto beberapa waktu lalu.

  • Atasi Polusi Udara, DKI Jakarta Gandeng Daerah Aglomerasi

    Atasi Polusi Udara, DKI Jakarta Gandeng Daerah Aglomerasi

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup terus berupaya mengendalikan polusi udara untuk mengatasi kualitas udara Jakarta yang masih buruk akibat berbagai faktor

    Upaya menangani polusi udara di Jakarta dilakukan baik dengan strategi lintas sektoral maupun lintas daerah. Meski demikian, langkah yang dilakukan masih terkesan di hilir dan belum memotong akarnya.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, kualitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas di Jakarta saja, tetapi juga dipengaruhi kondisi meteorologi dan kontribusi dari daerah di sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur.

    Berdasarkan inventarisasi emisi yang telah dilakukan, sektor transportasi dan industri masih menjadi dua sumber utama polusi udara di Jakarta.

    Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta saat ini fokus pada pengendalian emisi dari dua sektor tersebut melalui sejumlah langkah konkret.

    “Sumber pencemar udara Jakarta dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan faktor meteorologis seperti angin, suhu, serta cuaca. Oleh karena itu, kerja sama lintas wilayah menjadi sangat penting,” ujar Asep, Selasa (15/7/2025).

    Baca: Kendaraan bermotor masih menjadi sumber utama polusi udara di Jakarta

    Langkah-langkah strategis yang telah dilakukan antara lain memasyarakatkan penggunaan transportasi umum massal, mewajibkan uji emisi kendaraan bermotor disertai penegakan hukum terutama untuk kendaraan berat,

    “Juga pengawasan ketat terhadap industri seperti melakukan pengukuran emisi menerus pada industri yang berpotensi melakukan pencemaran,” jelasnya.

    Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong penghijauan, mengendalikan pembakaran sampah dan membatasi penggunaan kendaraan bermotor.

    Penjajakan penerapan Kawasan Rendah Emisi Terpadu (KRE-T) juga terus digalakkan oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta untuk memperbaiki kualitas udara secara berkelanjutan.

    Asep menjelaskan, perubahan perilaku masyarakat dalam hal mobilitas, seperti lebih memilih berjalan kaki, bersepeda, atau naik transportasi umum, juga merupakan bagian penting dari solusi jangka panjang.

    Tak kalah penting, DKI Jakarta kini mulai mendorong kerja sama konkret dengan daerah-daerah penyangga untuk bersama-sama menurunkan emisi, khususnya dari sektor industri yang aktivitasnya turut memengaruhi udara di Jakarta.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan dan ekonomi global

    “Kami mendorong pemda di sekitar Jakarta untuk lebih ketat mengawasi industri di wilayah mereka agar tidak mencemari udara yang kemudian terbawa ke Jakarta,” katanya.

    Asep mengatakan, Pemprov DKI Jakarta juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Dalam Negeri, untuk turut memfasilitasi koordinasi antarwilayah guna memperkuat langkah ini.

    Selain itu, keterlibatan mitra atau donor internasional juga dibuka lebar untuk mendukung program-program pengendalian pencemaran udara secara kolaboratif.

    “Koordinasi intensif dengan pemda sekitar akan terus kami lakukan. Kami akan bahas bersama sumber pencemar dan menyusun aksi bersama untuk pengendaliannya,” ucapnya.

    Asep menambahkan, langkah-langkah strategis ini menunjukkan keseriusan Pemprov DKI Jakarta dalam menjawab tantangan polusi udara yang bersifat lintas batas.

    “Upaya dan langkah ini diharapkan dapat menghasilkan dampak yang nyata bagi kesehatan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan Jakarta,” tandasnya.

    Baca: Indonesia tertinggal dalam penggunaan bahan bakar rendah emisi

  • DKI Siapkan Regulasi Early Warning System Kualitas Udara untuk Atasi Polusi Udara

    DKI Siapkan Regulasi Early Warning System Kualitas Udara untuk Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, terus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi polusi udara di wilayahnya, 

    Selain memperbanyak kawasan hijau dan mengimplementasikan sejumlah program pendukung seperti meningkatkan layanan transportasi publik, regulasi mengenai Early Warning System (EWS) juga terus dimatangkan.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, EWS ini nantinya akan menyajikan informasi kepada masyarakat tentang kualitas udara hingga tiga hari ke depan.

    Peringatan dini ini selanjutnya menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengambil langkah/kebijakan, sekaligus panduan bagi warga dalam bersikap.

    “Dengan adanya EWS, masyarakat bisa lebih awas dan melakukan antisipasi saat beraktivitas,” tutur Asep, Kamis (25/9/2025) seperti dikutip beritajakarta.id.

    Baca: Udara bersih adalah hak warga negara

    Dituturkan Asep, saat ini Jakarta menjadi salah satu dari lima kota di Indonesia yang menyandang predikat kualitas udara tidak sehat.

    Berdasarkan kajian yang dilakukan pihaknya, ungkap Asep, faktor terbesar pemicu kualitas udara buruk di Jakarta yaitu sektor transportasi dan industri.

    Karena itu, Pemprov DKI sangat konsen mendorong penggunaan angkutan umum dan melakukan uji emisi kendaraan untuk mengurangi polusi udara.

    Semantara, Wakil Gubernur Rano Karno berharap, pelaksanaan kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB/Car Free Day) dilakukan di lima kota administrasi Jakarta untuk membantu memperbaiki kualitas udara di Jakarta

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor untuk turunkan polusi udara

    “Saya berharap, Car Free Day itu harus diperbanyak. Bukan hanya di Thamrin, tetapi setiap wilayah adakan. Supaya menurunkan emisi,” kata Rano.

    Rano juga mengaku terus berupaya membangun taman-taman kota. Diakui Rano, meski aturan mengamanatkan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta sebesar 30 persen dari luasan total, faktanya saat ini RTH di Jakarta baru sekitar lima persen.

    Menurutnya, berbagai upaya yang dilakukan itu tetap membutuhkan proses. Sehingga realisasinya tidak bisa seperti membalik telapak tangan.

    “Itu salah satu usaha. Cuma tentu memerlukan pengorbanan untuk segera membangun,” tandasnya.

  • Polusi Udara di Beijing Berhasil Ditekan, Ini Caranya

    Polusi Udara di Beijing Berhasil Ditekan, Ini Caranya

    7cloud.asia – Kualitas udara ibu kota China, Beijing dilaporkan terus membaik dalam 11 bulan pertama tahun 2025.

    Menurut laporan otoritas lingkungan kota tersebut pada Selasa (16/12/2025), tercatat rata-rata konsentrasi partikulat halus (PM2.5) terendah sejak pemantauan dimulai.

    Dari Januari hingga November, rata-rata konsentrasi PM2.5 di Beijing turun menjadi 26,5 mikrogram per meter kubik, yang merupakan penurunan 16,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

    Pada periode tersebut, Beijing menikmati kualitas udara yang baik selama 282 hari, atau 23 hari lebih lama dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Baca: Polusi udara di Eropa dan China menurun pada tahun lalu

    Peningkatan kualitas udara di Beijing ini dikaitkan dengan upaya berkelanjutan kota tersebut dalam mengatasi polusi udara, termasuk “inisiatif 0,1 mikrogram”.

    Beberapa langkah lainnya yang dilakukan otoritas Beijing di antaranya mendorong adopsi yang lebih luas untuk kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV).

    Beijing juga menerapkan langkah-langkah pengurangan emisi dalam proyek konstruksi, serta mendukung transformasi hijau sektor bisnis.

    Selain itu, proyek renovasi pemanasan bersih kota itu telah melampaui target tahunannya, dan penanganan asap dapur (cooking fumes) juga telah ditingkatkan di 1.401 perusahaan katering lebih awal dari jadwal.

    Baca: Kondisi Beijing 20 tahun lalu

    Ke depannya, otoritas tersebut mengungkapkan Beijing akan menerapkan langkah-langkah tertarget untuk mengatasi polusi pada bulan-bulan di musim dingin, meningkatkan prediksi dan analisis yang akurat, serta memastikan tercapainya target kualitas udara.

    Dalam satu dekade terakhir pemerintah China sukses mengurangi polusi udara berat yang menyelimuti ibukota negeri itu.

    Pemerintah pusat China menginvestasikan lebih dari 30 miliar yuan atau sekitar Rp65 triliun untuk pencegahan dan pengendalian polusi udara setiap tahunnya, dengan nilai investasi kumulatif dalam beberapa tahun terakhir melampaui 200 miliar yuan.

    Dilansir Antaranews.com, pejabat dari Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup China, Li Wei mengatakan kebijakan ini mampu mendorong jumlah investasi seluruh masyarakat mencapai 1 triliun yuan.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Pemprov DKI Jakarta dan BMKG Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara

    Pemprov DKI Jakarta dan BMKG Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah menyiapkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) kualitas udara.

    Dilansir laman resmi Pemprov DKI Jakarta, sistem peringatan dini kualitas udara ini untuk membantu melindungi kesehatan warga yang diakibatkan polusi udara di Jakarta.

    Melalui sistem ini, masyarakat dapat mengetahui prakiraan kondisi kualitas udara di Jakarta hingga tiga hari ke depan sehingga dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal.

    Sistem prakiraan tersebut dikembangkan BMKG melalui teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial bernama SILAM Urban.

    Teknologi ini mampu memetakan kondisi polusi udara secara rinci hingga radius satu kilometer dengan cakupan seluruh 44 kecamatan di Jakarta.

    Baca: Tekan Polusi Udara, Kawasan Rendah Emisi di Jakarta Akan terus Diperluas

    Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert C Nahas mengatakan, SILAM Urban dikembangkan menggunakan data inventori emisi lokal, mulai dari emisi sektoral hingga emisi polutan.

    Dengan dukungan data tersebut, sistem dapat menghasilkan prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan spesifik untuk wilayah Jakarta.

    Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren ISPU hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi,

    “Warga juga dapat memantau peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” ujar Albert, Jumat (5/6/2026).

    Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi mengatakan, pengembangan EWS kualitas udara merupakan bagian dari langkah strategis Pemprov DKI untuk memperkuat upaya pencegahan polusi udara sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.

    Baca: Buruknya Polusi Udara Adalah Cermin Kegagalan Pemerintah Mengelola Lingkungan

    Menurut Dudi, sistem tersebut akan menjadi instrumen penting dalam upaya mitigasi. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari sebelumnya, pemerintah dapat menyiapkan langkah penanganan yang diperlukan.

    Di sisi lain masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan perlindungan diri sejak dini.

    “Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan, sementara masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” jelas Dudi.

    Ia menambahkan, informasi prakiraan kualitas udara akan sangat bermanfaat bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.

    Menurutnya, warga dapat mengambil langkah antisipatif, seperti menggunakan masker atau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara diperkirakan memburuk.

    “Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharapkan menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat, sehingga warga memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap risiko polusi udara,” tandas Dudi.