Tag: el nino

  • Antisipasi Fenomena Godzilla El Nino Pemerintah Perkuat Stok Cadangan Pangan

    Antisipasi Fenomena Godzilla El Nino Pemerintah Perkuat Stok Cadangan Pangan

    7cloud.asia – Fenomena iklim Godzilla El Nino yang diprediksi akan diperkuat dengan adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan dapat mengakibatkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering.

    Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan kedua fenomena tersebut kemungkinan akan terjadi bersamaan mulai April mendatang.

    Istilah Godzilla El Nino digunakan untuk menggambarkan potensi variasi El Nino yang kuat, sehingga muncul prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

    Indonesia dapat mengalami keadaan minim awam dan hujan. Namun, dampaknya bisa saja tidak seragam terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

    BRIN mengajak kementerian/lembaga yang terkait untuk dapat memitigasi dengan mempertimbangkan dampak kekeringan di bagian selatan Indonesia dan dampak banjir di timur laut Indonesia (Sulawesi, Halmahera, Maluku).

    Sebagai antisipasi di sektor pangan, pemerintah memastikan ketahanan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) terus diperkuat dengan mengutamakan penyerapan produksi dalam negeri.

    “Kami di Badan Pangan Nasional (Bapanas) sesuai arahan Kepala Bapanas memastikan ketahanan stok CPP terus diperkuat agar nanti saat diperlukan, bisa segera disalurkan untuk membantu masyarakat,” kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan I Gusti Ketut Astawa di Jakarta, Rabu (25/3/2026).

    Baca: BMKG ingatkan potensi El Nino pada 2026

    Terkait itu, dalam laporan Bapanas per 25 Maret, stok pangan pokok strategis yang merupakan CPP dan dikelola oleh BUMN pangan, baik Perum Bulog maupun ID FOOD, masih memadai dengan beras sebagai CPP dengan stok terbesar.

    Sementara CPP lainnya juga terus diperkuat seperti jagung, minyak goreng, gula konsumsi, daging sapi/kerbau, daging ayam dan telur ayam.

    Stok CPP beras di Bulog saat ini total telah mencapai 4,08 juta ton. Capaian ini meningkat pesat sebesar 77,8 persen dibandingkan kondisi stok CPP beras pada akhir Maret tahun lalu yang saat itu masih berada 2,29 juta ton.

    Sebagian besar pasokan pun bersumber dari produksi dalam negeri dikarenakan Bulog telah melaksanakan penyerapan setara beras sejak awal 2026 hingga hari ini mencapai 1,24 juta ton.

    Kemudian stok CPP jagung berada di kisaran 144 ribu ton yang sebagian besar bersumber dari penyerapan panen jagung dalam negeri.

    Realisasi penyerapan jagung produksi dalam negeri di tahun 2026 ini telah mencapai 101,96 ribu ton. Patut diketahui, Indonesia sudah tidak melakukan impor jagung pakan sejak tahun 2025.

    Sementara kondisi stok CPP lainnya antara lain minyak goreng berada di angka total 95 ribu kiloliter. Lalu gula konsumsi ada 50 ribu ton dengan sebagian besar ada di ID FOOD sebagai pengelolanya.

    Kemudian stok CPP daging sapi/kerbau ada 11 ribu ton yang juga sebagian besar dikelola ID FOOD. Daging ayam 39 ton pun ada di ID FOOD. Sementara CPP telur ayam 62 ton dikelola Bulog.

    Baca: Perubahan iklim mengakibatkan La Nina dan El Nino makin sulit diprediksikan

    Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menekankan ketahanan pangan nasional di mana Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa bergantung terhadap negara lain.

    “Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Oleh karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain. Kita tidak boleh takut,” ajak Amran.

    Menurutnya Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat. Kebutuhan konsumsi pangan pokok strategis harus mampu ditopang dari hasil kerja keras petani dan peternak dari negeri sendiri.

    “Yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri. Kita harus optimis,” tambah Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

    Lebih lanjut, stok CPP tersebut akan disalurkan ke masyarakat melalui berbagai program intervensi pangan. Misalnya program bantuan pangan beras dan minyak goreng yang kembali digulirkan pemerintah mulai Maret ini.

    Bapanas mencatat realisasi penyalurannya sampai 25 Maret telah mencapai 378.666 penerima di 24 provinsi.

    Sementara realisasi penjualan beras SPHP selama bulan Maret tahun ini telah menyentuh angka 43,17 ribu ton. Program intervensi pangan lainnya masih terus dilaksanakan pemerintah bersama seluruh mitra dalam bentuk Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.

  • Pakar Ingatkan Dampak El Nino terhadap Produksi Pangan

    Pakar Ingatkan Dampak El Nino terhadap Produksi Pangan

    7cloud.asia – Pengelola negara diingatkan potensi penurunan produksi pangan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau 2026 akan lebih panjang dan suhu yang lebih panas dari kondisi normal.

    “Fenomena El Nino akan menyebabkan musim kemarau memanjang, sehingga berdampak pada pertumbuhan dan produksi tanaman, khususnya tanaman pangan dan hortikultura,” kata Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Totok Agung Dwi Haryanto dilansir Antaranews.com, Selasa (31/3/2026).

    Menurut dia, gangguan terhadap sektor pertanian tersebut umumnya disebabkan oleh dua faktor utama, yakni kekurangan air dan peningkatan suhu udara.

    Kombinasi kedua faktor tersebut dapat memicu stres pada tanaman, menghambat pertumbuhan, hingga menyebabkan tanaman gagal panen.

    Ia mengatakan hingga akhir Maret ini, curah hujan di wilayah Jawa Tengah masih relatif tinggi, sehingga tanda-tanda awal musim kemarau belum terlihat secara jelas.

    Namun sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau akan datang lebih cepat.

    Baca: Fenomena Godzilla El Nino Menjadi Alarm Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan

    Oleh karena itu, diperlukan prediksi yang lebih akurat terkait waktu awal kekeringan agar langkah antisipasi dapat dilakukan secara tepat.

    “Perlu kepastian kapan kekeringan mulai terjadi, sehingga petani bisa menyesuaikan pola tanam dan memilih jenis tanaman yang lebih toleran terhadap kondisi kering,” katanya.

    Dalam menghadapi potensi tersebut, ia mendorong petani untuk mulai mengembangkan varietas tanaman yang lebih tahan atau toleran terhadap kekeringan, seperti padi gogo.

    Ia juga menekankan pentingnya kesiapan benih dalam jumlah cukup guna mendukung percepatan masa tanam mengingat prediksi mengenai kondisi kemarau tahun 2026 sudah cukup lama disampaikan oleh BMKG.

    Menurut dia, percepatan masa tanam pada musim tanam kedua (MT II) menjadi strategi penting agar tanaman dapat tumbuh optimal sebelum puncak musim kemarau terjadi.

    “Pembibitan bisa dilakukan lebih awal, bahkan sebelum panen musim tanam pertama, sehingga setelah panen lahan bisa langsung diolah dan ditanami kembali,” katanya.

    Baca: Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Lebih Lama, Ini Rekomendasi BMKG

    Ia mengatakan pengelolaan sumber daya air juga menjadi faktor penting dalam menghadapi musim kemarau panjang.

    Menurut dia, pemanfaatan sumber air alternatif seperti sumur serta penggunaan pompa air perlu dioptimalkan guna menjaga ketersediaan air bagi tanaman.

    Dalam hal ini, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, menjadi komponen penting dalam mendukung operasional pompa air maupun alat mesin pertanian.

    Oleh karena itu, ia mendorong adanya kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani, terutama dalam hal kemudahan akses dan stabilitas harga BBM.

    “Perlu ada kebijakan yang memudahkan petani mendapatkan BBM dengan harga terjangkau, misalnya melalui skema subsidi atau distribusi khusus ke wilayah pertanian,” katanya.

    Ia menyoroti pentingnya menjaga kelancaran distribusi air melalui jaringan irigasi selama musim kemarau.

    Menurut dia, kegiatan perbaikan irigasi yang mengharuskan pengeringan saluran sebaiknya dibatasi selama musim kemarau, kecuali dalam kondisi mendesak.

    “Jika tidak terlalu mendesak, perbaikan irigasi sebaiknya ditunda agar tidak mengganggu suplai air ke lahan pertanian, karena hal itu bisa berdampak pada proses tanam dan produksi,” katanya.

    Prof Totok mengharapkan dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, dampak El Nino terhadap sektor pertanian dapat diminimalkan, sehingga target produksi pangan tetap dapat tercapai dan ketahanan pangan nasional tetap terjaga.

    Baca: Masyarakat Diimbau Bersiap Hadapi Kekeringan Akibat El Nino

  • BMKG: Curah Hujan pada 2026 Lebih Rendah Dibanding Rata-rata Curah Hujan 30 tahun Terakhir

    BMKG: Curah Hujan pada 2026 Lebih Rendah Dibanding Rata-rata Curah Hujan 30 tahun Terakhir

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa curah hujan rata-rata pada musim kemarau 2026 akan lebih rendah jika dibandingkan rata-rata curah hujan dalam 30 tahun terakhir.

    “Dengan hujan rata-rata di bawah normal dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan di tahun ini akan lebih rendah atau di bawah normal,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani usai rapat koordinasi kebakaran hutan dan lahan di Jakarta, Senin (6/4/2026)

    BMKG juga memprediksi musim kemarau pada tahun ini akan berlangsung lebih awal dan lebih lama, yang dimulai pada April atau Mei, dengan puncaknya pada Agustus.

    “Kita akan memasuki musim kemarau, mulai April atau Mei, puncaknya nanti di Agustus, kemudian nanti berakhir di bulan September atau awal Oktober,” imbuhnya.

    Sehari sebelumnya, Faisal Fathani menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau.

    Baca: Musim kemarau 2026 lebih kering dan lebih lama, ini rekomendasi BMKG

    Musim kemarau juga telah terjadi sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.

    Terkait fenomena El Nino yang juga akan berdampak di Indonesia, berdasarkan pemantauan BMKG, saat ini masih lemah hingga moderate. BMKG memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini.

    Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral.

    Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.

    “Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat” ujarnya.

    Baca: Pakar ingatkan dampak El Nino terhadap produksi pangan

    Tingkat kepercayaan (confidence) terhadap intensitas El Niño akan semakin tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026. Secara statistik, prediksi pada bulan Mei memiliki keandalan yang lebih baik untuk menjangkau kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.

    “Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia,” jelasnya.

    Kementerian Kehutanan menggandeng BMKG untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.

    Salah satu upayanya dengan rewetting (pembasahan kembali) lahan gambut dengan menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) BMKG.

    “Kita melakukan upaya preventif, kita coba melakukan rewetting ketika kita masih punya awan yang bisa kita semai, dengan bahan semai kemudian terjadi hujan itu dapat membasahkan lahan gambut sehingga nantinya potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan ini dapat kita tekan semaksimal mungkin,” kata Teuku Faisal Fathani.

  • Pengurus Negara Diminta Menyiapkan Antisipasi Dampak El Nino di Sektor Kesehatan

    Pengurus Negara Diminta Menyiapkan Antisipasi Dampak El Nino di Sektor Kesehatan

    7cloud.asia – Pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi dampak fenomena El Nino tak hanya di sektor pertanian dan pangan, tetapi juga di sektor kesehatan masyarakat.

    Menurut Anggota Komisi IX DPR, Edy Wuryanto, upaya ini berperan krusial untuk menekan kasus penyakit akibat perubahan cuaca ekstrem.

    Pasalnya, fenomena El Nino yang identik dengan musim kemarau panjang berpotensi memicu berbagai persoalan kesehatan, seperti meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, hingga gangguan kesehatan lainnya.

    “Kita harus siap sejak awal. Dampak El Nino ini tidak hanya soal kekeringan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan,” ujar Edy usai Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR dengan Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Ketenagakerjaan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

    Baca: Musim kemarau 2026 lebih kering dan lebih lama

    Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin meluas.

    Salah satunya melalui penguatan layanan kesehatan dasar di fasilitas kesehatan serta mitigasi pasokan air bersih

    “Puskesmas dan fasilitas kesehatan harus disiapkan, termasuk tenaga kesehatan, obat-obatan, serta alat pelindung seperti masker,” tegas politisi PDI Perjuangan dapil Jawa Tengah III itu.

    Selain itu, Edy juga mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat terkait pola hidup sehat selama musim kemarau, termasuk menjaga hidrasi tubuh dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun.

    Baca: Curah hujan 2026 lebih rendah dibanding rerata curah hujan 30 tahun terakhir

    Pun, dirinya menegaskan koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi dampak El Nino, terutama antara Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dan lembaga terkait lainnya.

    “Jangan sampai kita terlambat merespons. Mitigasi harus dilakukan sejak dini agar dampaknya bisa diminimalisir,” pungkasnya

    Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau pada tahun ini akan berlangsung lebih awal dan lebih lama, yang dimulai pada April atau Mei, dengan puncaknya pada Agustus.

    Sebagian daerah akan memasuki musim kemarau, mulai April atau Mei, puncaknya di bulan Agustus, kemudian nantinya akan berakhir di bulan September atau awal Oktober.

  • BMKG Ingatkan El Nino Dapat Memicu Kebakaran Hutan dan Lahan

    BMKG Ingatkan El Nino Dapat Memicu Kebakaran Hutan dan Lahan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi iklim global berpotensi berkembang menuju fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 dengan peluang sekitar 50-80 persen.

    Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan dan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

    Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (9/4/2026) mengatakan, saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral.

    Namun, indikasi penguatan menuju El Nino pada pertengahan 2026 perlu diwaspadai, karena dapat memperparah musim kemarau.

    Baca: Curah hujan pada 2026 lebih rendah dibanding rata-rata curah hujan 30 tahun terakhir

    BMKG menilai, menurut hasil kajian ahli potensi musim kemarau yang datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dan secara umum kondisi iklim di 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan normal.

    “Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” kata Faisal.

    Adapun ENSO merupakan fenomena iklim global yang ditandai oleh perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Pasifik tropis, yang terdiri dari tiga fase utama yakni El Nino (pemanasan), La Nina (pendinginan), dan netral.

    Perubahan itu memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, di mana El Nino umumnya menyebabkan berkurangnya curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan.

    Sejalan dengan kondisi tersebut, ia menjelaskan bahwa BMKG mencatat jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia hingga awal April 2026 telah mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

    Baca: Musim kemarau 2026 lebih kering dan lebih Lama, ini rekomendasi BMKG

    Faisal merinci bahwa potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

    Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus memperkuat pendekatan preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan atau rewetting, khususnya di wilayah rawan gambut.

    “Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar,” kata dia,

    Faisal mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, guna mengantisipasi peningkatan risiko karhutla seiring perkembangan kondisi iklim tersebut.

  • Fenomena Godzilla El Nino Mengancam Produksi Pangan: Pemerintah Diingatkan untuk Siapkan Langkah Mitigasi

    Fenomena Godzilla El Nino Mengancam Produksi Pangan: Pemerintah Diingatkan untuk Siapkan Langkah Mitigasi

    7cloud.asia – Fenomena Godzilla El Nino yang terjadi pada musim kemarau tahun ini diperkirkan akan menyebabkan kondisi kekeringan yang tinggi dan panjang.

    Hingga Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen dari Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki fase kemarau. Sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi akan mulai memasuki musim kemarau pada bulan April, Mei dan Juni 2026.

    Sementara menurut analisa Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), terdapat beberapa wilayah yang rentan mengalami kekeringan sedang, berat dan bahkan ekstrem.

    Dilansir di laman resmi walhi.or.id, wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan saat El Nino berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur serta Kalimantan.

    Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional WALHI, Musdalifah menyampaikan bahwa saat terjadi El Nino kondisi kekeringan semakin ekstrem yang berdampak pada krisis air bersih, gagal panen dan mengalami krisis pangan”.

    Di sisi lain, sistem pangan di Indonesia masih sangat bergantung pada impor pangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Maret 2025, menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor hingga 13.629 ton komoditas pangan.

    Baca: Musim Kemarau 2026 lebih kering dan lebih lama, ini rekomendasi BMKG

    Musdalifah menyebut, kekeringan dan fenomena El Nino memberikan dampak serius terhadap produksi pangan di Indonesia, terutama melalui penurunan curah hujan dan peningkatan risiko kekeringan.

    Kondisi ini diperburuk dengan turunnya luasan lahan pertanian dan rusaknya lahan pertanian akibat paradigma pembangunan yang ekstraktif dan eksploitatif.

    ”Ini menyebabkan alih fungsi lahan pertanian produktif ke lahan perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur dan mega proyek investasi lainnya, termasuk di sekitar wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia, yang notabenenya merupakan wilayah kelola rakyat dan sumber pangan utama untuk menopang ketercukupan pangan” katanya.

    Secara historis, El Nino pada tahun 1997/1998 menyebabkan penurunan produksi padi sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun 1997 dan hingga 6 persen dibandingkan tahun 1996.

    Krisis saat itu tidak hanya menekan produksi, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional.

    Sementara, El Nino tahun 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 2,28 juta ton pada periode Januari hingga April, atau turun 17,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Baca: Seperti ini dampak El Nino terhadap produksi pangan

    Di sisi lain, Badan Pangan Nasional, menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama komisi IV DPR RI, bahwa Indonesia dalam menghadapi fenomena El Nino telah menyediakan cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4,6 juta ton perhari.

    Ifha menambahkan, dalam konteks pemenuhan hak atas pangan yang dijamin dalam peraturan perundang-undangan, tidak hanya bicara soal ketersediaan.

    Tetapi pemerintah juga perlu memastikan sejauh mana masyarakat khususnya kelas ekonomi ke bawah bahkan miskin dapat menjangkaunya, serta memastikan kelayakan pangan untuk dikonsumsi.

    Komite Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya PBB menyatakan bahwa hak atas pangan yang layak terwujud jika setiap laki-laki, perempuan dan anak-anak, baik sendiri atau dalam bersama dengan orang lain dalam masyarakat, memiliki akses fisik dan ekonomi sepanjang waktu terhadap pangan yang layak atau cara untuk pengadaannya.

    Oleh karena itu, negara berkewajiban untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah dan mengurangi kelaparan sebagaimana diatur dalam pasal 11 ayat (2) Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan saat terjadi bencana alam ataupun bencana lainnya.

    Baca: Pengurus negara diminta siapkan antisipasi dampak El Nino di sektor kesehatan

  • BMKG Prediksi Agustus Puncak Musim Kemarau, Masyarakat Diimbau Waspada

    BMKG Prediksi Agustus Puncak Musim Kemarau, Masyarakat Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di Indonesia pada Agustus mendatang. Masyarakat dan aparatur daerah diimbau waspada.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani kepada wartawan di komplek Gedung MPR/DPR Senin (13/04/2026).

    Dia menerangkan Indonesia akan memasuki fenomena El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat pada Juli. Kondisi ini memperkuat terjadinya musim kemarau hingga mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.  

    “Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan akan dirasakan di banyak daerah,” ungkap Faisal.

    Baca: El Nino 2026 Lebih Kering dan Lama, Ini Rekomendasi BMKG

    Selanjutnya Faisal menjelaskan BMKG memprakirakan musim kemarau terjadi mulai April dan akan berlangsung lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

    “Musim kemarau akan mulai dari April, Mei hingga Juni, dan banyak wilayah masuk pada Mei,” katanya.

    Musim kemarau pada April akan lebih dahulu terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

    Bulan-bulan selanjutnya musim kemarau mulai meluas ke Pulau Jawa, terutama wilayah pesisir dan dataran tinggi, hingga ke Sumatera bagian selatan.

    Baca: Memasuki Kemarau, Warga Sumatera Utara Waspada Kebakaran Hutan

    Potensi kekeringan yang paling terdampak dan paling panjang adalah wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa.

    Karena itu BMKG mengajak masyarakat beserta aparatur daerah untuk mewaspadai  serta melakukan mitigasi terhadap potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau panjang.

    BMKG menyebut ada enam provinsi yang diprediksi paling terdampak, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

  • Fenomena El Nino Dapat Memicu Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Enam Provinsi Ini

    Fenomena El Nino Dapat Memicu Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Enam Provinsi Ini

    7cloud.asia – Enam provinsi dinyatakan berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat fenomena El Nino Godzilla yang diperkirakan akan menguat pertengahan tahun dan menyebabkan kekeringan panjang.

    Enam provinsi tersebut adalah Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

    Enam provinsi ini dinilai memiliki lahan gambut cukup luas dan kondisinya sudah tidak terlalu baik, sehingga memerlukan rencana detail dan konkret, terutama terkait pengelolaan ekosistem gambut.

    Dari pemantauan MADANI Berkelanjutan, luas areal lahan yang terbakar dalam periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 71.000 hektare atau jauh lebih tinggi dibanding luas lahan yang terbakar pada tahun 2025.

    Sementara, WALHI menyebutkan terulangnya kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar bencana tahunan, melainkan kegagalan sistematis dalam tata kelola lingkungan hidup, khususnya dalam perlindungan ekosistem gambut.

    Direktur WALHI Riau, Eko Yunanda menyebutkan Gambut yang rusak dan tidak direstorasi dengan baik menjadi sumber api yang terus berulang setiap musim kemarau.

    Tanpa kebijakan yang tegas untuk memastikan perlindungan dan restorasi gambut berjalan konsisten, status siaga darurat hanya menjadi respons administratif tanpa menyentuh akar persoalan.

    Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, tahun ini El Nino berkategori rendah hingga moderat tetapi terjadi pada musim kemarau, sehingga dampaknya diproyeksikan lebih signifikan.

    Dia meminta jajarannya untuk fokus menangantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi tersebut.

    “BMKG memperkirakan curah hujan kurang dari 100 mm per bulan, atau rata-rata di bawah 5 mm per hari. Kondisi ini meningkatkan potensi hari tanpa hujan, sekaligus menghambat upaya modifikasi cuaca untuk pencegahan karhutla,” katanya saat memberikan arahan pada apel pagi di Kantor KLH, Jakarta, Rabu (22/4/2026).

    Dilansir Antaranews.com, Hanif juga meminta jajarannya agar fokus menangani karhutla di areal perusahaan konsesi atau yang memiliki konsesi, baik itu perkebunan maupun perusahaan di bidang kehutanan.

    Selain itu, Hanif juga meminta dilakukan reaktivasi kelompok masyarakat peduli api di wilayah rawan, serta identifikasi kebutuhan pendanaan dan koordinasi lintas kementerian.

    “Persiapan teknis, koordinasi lintas sektor, serta keterlibatan masyarakat menjadi elemen penting dalam strategi awal penanggulangan karhutla tahun ini,” imbuhnya

    Hanif menegaskan, pemantauan tinggi muka air tanah gambut mesti menjadi prioritas utama pemerintah daerah, utamanya Dinas Lingkungan Hidup setempat, mengingat beberapa wilayah menunjukkan penurunan drastis hingga 150 cm dan 80 cm.

    Secara umum, kondisi gambut dianggap relatif aman jika tinggi muka air berada di atas 40 cm dari permukaan tanah.

    “Penurunan di bawah 80 cm menjadi indikator meningkatnya risiko kebakaran. Oleh karena itu, kita perlu mengantisipasi kondisi tersebut, langkah-langkah operasional yang ditekankan yakni pemetaan detail tinggi muka air tanah di seluruh wilayah pengawasan, serta aktivasi dan pemasangan alat pemantau (logger) secara otomatis maupun manual,” ujar dia.

  • Skenario Terburuk El Niño 2026: ‘Neraka’ Panas yang Mengancam

    Skenario Terburuk El Niño 2026: ‘Neraka’ Panas yang Mengancam

     

    7cloud.asia – Tahun ini Indonesia diprediksi bakal menghadapi musim kemarau yang tidak biasa.

    Bukan hanya sekadar panas, musim kemarau juga diperkirakan akan datang lebih cepat, lebih kering, dan masanya lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7 persen zona musim (Z0M) di Indonesia sudah memasuki musim kemarau.

    Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi m

    Beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, Aceh, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, NTB, NTT dan Maluku, serta sebagian kecil di Papua Barat.

    Salah satu alasan mengapa kemarau tahun ini terasa lebih menyengat adalah potensi kembalinya fenomena El Nino, suatu kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik memanas dan menguat di pertengahan tahun.

    Efeknya membuat pembentukan awan hujan di Indonesia jadi terhambat hingga pasokan air hujan bakal jauh berkurang dibanding biasanya.

    Tahun ini sebagian wilayah Indonesia sudah mulai masuk musim kering sejak April. Puncaknya diprediksi akan terjadi pada Agustus 2026. Sebagian besar wilayah, mulai dari Jawa, Sumatera bagian selatan, Bali, hingga Nusa Tenggara, diprediksi bakal merasakan dampak yang cukup signifikan. 

    Dalam edisi terbaru Ask the Expert Deputi bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan ada beberapa hal serius yang perlu kita waspadai untuk menghadapi datangnya musim kemarau dan fenomena El Nino.

    Ardhasena menjelaskan, pada semester kedua tahun ini, peluang ENSO (El Nino-Southern Oscillation) berkembang menjadi fase El Niño cukup besar.

    “Prediksi untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen, dan ada kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kuat,” ujarnya.

    Beberapa ahli menyebutnya dengan istilah Super El Niño dan Godzilla El Nino. Namun Ardhasena mengingatkan terminologi resmi seputar kategori El Niño adalah kategori lemah, moderat dan kuat.

    Jika El Niño menguat, maka kemarau di Indonesia tahun ini akan cenderung lebih kering dan lebih panjang, sehingga meningkatkan risiko kekeringan ekstrem.

    Oleh karenanya, masyarakat dihimbau untuk hemat dan bijak menggunakan air. Masyarakat bisa memaksimalkan penampungan air atau sumur resapan untuk menampung sisa-sisa air hujan.

    Tanpa air hujan, debu akan tambah banyak dan bisa memicu gangguan pernapasan (ISPA). Suhu panas ekstrem juga membuat kita mudah terkena dehidrasi atau heatstroke. Untuk itu, perbanyak minum air putih, pakai masker saat di luar rumah yang berdebu, dan gunakan pelindung matahari (topi/payung).

    Tonton video wawancara kami di sini:

    Tonton video-video seputar sains menarik lainnya hanya di channel YouTube dan TikTok The Conversation Indonesia, jangan lupa ikuti dan berlangganan sekarang juga!

    Klik di sini:

    YouTube The Conversation Indonesia

    TikTok The Conversation Indonesia

    Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata: Pemerintah Tak Bisa Terus Menerus Mengandalkan Modifikasi Cuaca

    Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata: Pemerintah Tak Bisa Terus Menerus Mengandalkan Modifikasi Cuaca

    7cloud.asia – Rilis yang dikeluarkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) (14/05/2026) menunjukkan bahwa El Niño akan segera muncul pada Mei-Juli 2026 dengan peluang terjadi sebesar 82 persen.

    Sejumlah pemantauan suhu permukaan laut juga memperlihatkan anomali panas yang terus meningkat di wilayah Pasifik tengah dan timur, yang berpotensi memicu dampak cuaca ekstrem di berbagai negara, termasuk Indonesia.

    Sementara, BMKG memprediksi El Niño mulai aktif pada Juni 2026 dengan intensitas moderat hingga kuat, dengan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak kemarau pada Agustus-September 2026.

    Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI, Patria Rizky Ananda mengatakan, fenomena ini tidak bisa dipisahkan dari krisis iklim global yang semakin nyata akibat model pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam yang rakus.

    Sejumlah kajian menunjukkan bahwa bencana dan cuaca ekstrem yang dulu dianggap langka kini terjadi semakin sering—dari yang sebelumnya berulang dalam rentang 100-200 tahun, kini dapat muncul hanya dalam siklus 20-50 tahunan.

    ”Situasi ini menegaskan bahwa krisis yang dihadapi bukan lagi sekadar anomali alam, melainkan konsekuensi sistemik dari krisis ekologis yang terus diproduksi dan dibiarkan berlangsung,” katanya dalam pernyataan resmi yang dirilis di laman resmi WALHI.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Patria menambahkan bahwa Godzilla/Super El Niño sudah seharusnya menjadi alarm serius bagi pemerintah Indonesia untuk segera memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi krisis iklim.

    Hal ini terutama melalui perlindungan ekosistem-ekosistem penting seperti hutan, gambut, karst, dan mangrove sebagai upaya pencegahan dampak El Niño di kawasan hulu.

    Fenomena El Niño ekstrem tidak hanya mengancam sektor pertanian dan ketahanan pangan, tetapi juga memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak serius terhadap kesehatan publik.

    Hal tersebut sebagaimana pernah terjadi dalam tragedi karhutla besar tahun 1997 dan 2015 yang meninggalkan kerugian ekologis, sosial, dan ekonomi dalam skala luas.

    Patria mengingatkan, dampak El Niño dapat memburuk selama pemerintah tetap membiarkan deforestasi, perusakan gambut, ekspansi tambang, dan perkebunan monokultur berlangsung.

    Baca: Kencangkan Suara untuk Pelestarian Lingkungan

    Pasalnya, kerusakan kawasan hulu membuat alam kehilangan kemampuan menyimpan air dan memperbesar risiko kekeringan, gagal panen, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan

    WALHI juga menilai pemerintah masih terjebak pada penanganan darurat tanpa menyentuh akar persoalan berupa model pembangunan ekstraktif.

    ”Ini termasuk kebijakan seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang justru dapat berisiko mengganggu siklus hidrologi dan menciptakan rasa aman semu dalam menghadapi krisis iklim,” kata Patria.

    Untuk itu, alih-alih berfokus pada respons darurat, WALHI mendesak pemerintah untuk segera menghentikan izin-izin yang merusak kawasan hutan dan gambut.

    Pemerintah juga diminta untuk memperkuat perlindungan wilayah kelola rakyat, memastikan pemulihan ekosistem di daerah tangkapan air, serta membangun sistem mitigasi krisis iklim yang berpihak pada keselamatan warga.

    “Tanpa perubahan arah kebijakan lingkungan dan pembangunan, Indonesia akan terus berada dalam kondisi rentan menghadapi bencana iklim yang semakin ekstrem akibat krisis iklim global,” tutup Patria.

    Baca: Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk