Tag: gaza

  • Meski Berhak Kejar Hamas, Israel Diingatkan Punya Tanggung Jawab Lindungi Warga Gaza

    Meski Berhak Kejar Hamas, Israel Diingatkan Punya Tanggung Jawab Lindungi Warga Gaza

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan “Israel memiliki hak untuk mengejar Hamas” setelah kelompok militan tersebut menyerang bagian selatan Israel.

    Tetapi, Biden menegaskan “Israel juga memiliki tanggung jawab fundamental untuk melindungi warga sipil tidak berdosa di Gaza,” 

    Demikian Biden menyampaikan pidato kenegaraan tahunan di hadapan Kongres AS pada Kamis (7/3/2024) malam waktu setempat.

    Serangan Hamas ini menewaskan 1.200 warga Israel. Dalam serangan yang terjadi pada 7 Oktober itu, Hamas juga menculik sekitar 250 warga Israel yang sebagian telah dibebaskan.

    Dengan menyebut tanggal 7 Oktober sebagai hari yang paling banyak menewaskan warga Yahudi sejak Holocaust, Biden menyampaikan komitmennya pada semua keluarga AS yang anggota keluarganya masih ditahan Hamas.

    “Kami tidak akan beristirahat sampai kami dapat membawa pulang orang-orang yang mereka cintai.” tandasnya.

    Baca: Gencatan senjata di Gaza tergantung pada sikap Hamas

    Biden mengatakan perang Israel-Hamas telah menimbulkan dampak luar biasa terhadap warga sipil tidak berdosa, yang jumlahnya jauh melampaui gabungan korban perang di Gaza sebelumnya.

    “Kami telah bekerja tanpa henti untuk mencapai gencatan senjata yang akan bertahan setidaknya enam minggu. Gencatan senjata ini akan membawa pulang para sandera ke rumah, meringankan krisis kemanusiaan yang tidak dapat ditoleransi, dan membangun sesuatu yang dapat lebih bertahan,” ujarnya.

    Lebih jauh Biden mengatakan “malam ini saya perintahkan militer AS untuk memimpin misi darurat guna membangun sebuah dermaga temporer di pesisir Gaza.

    Dermaga ini diharapkan dapat dimasuki kapal-kapal besar yang membawa makanan, air bersih, obat-obatan dan tempat-tempat penampungan sementara.”

    “Tidak ada satu pun tentara AS di darat,” tegas Biden merujuk pada pembangunan dermaga tersebut.

    Baca: Gencatan senjata mutlak untuk hentikan genosida di Gaza

    Biden menyerukan kepada Israel untuk mengizinkan masuknya lebih banyak bantuan ke Gaza dan memastikan agar petugas-petugas kemanusiaan tidak terjebak dalam baku tembak.

    Biden secara khusus menyampaikan pesan kepada “para pemimpin Israel” bahwa bantuan bukan sebagai alat negosiasi.

    “Bantuan kemanusiaan tidak dapat menjadi pertimbangan sekunder atau tawar-menawar. Melindungi dan menyelamatkan nyawa orang yang tidak bersalah harus menjadi prioritas,” ujar Biden.

    Ia kembali menggarisbawahi pernyataan sebelumnya bahwa “jika kita melihat ke depan, satu-satunya solusi nyata adalah solusi dua negara.”

    “Saya mengatakan hal ini sebagai pendukung Israel seumur hidup dan satu-satunya presiden Amerika yang mengunjungi Israel di masa perang.”

    Baca: Uni Eropa desakkan pengakuan dua negara untuk hentikan perang Israel-Palestina  

    Biden juga memaparkan bahwa “tidak ada jalan lain yang menjamin keamanan dan demokrasi Israel; tidak ada jalan lain yang menjamin warga Palestina dapat hidup dengan damai dan bermartabat;

    dan tidak ada jalan lain yang menjamin perdamaian antara Israel dan semua negara tetangganya di Arab, termasuk Arab Saudi,” selain solusi dua negara.

    Selain memerintahkan militer Amerika untuk membangun dermaga temporer di Gaza, Biden juga memerintahkan serangan terhadap kelompok militan Houthi, demi mempertahankan pasukan Amerika di wilayah itu.

    “Saya membangun koalisi dengan lebih dari selusin negara untuk mempertahankan pelayaran internasional dan kebebasan navigasi di Laut Merah,” tambahnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Nasib Anak-anak di Gaza: Meninggal karena Peluru Tentara Israel atau Kelaparan

    Nasib Anak-anak di Gaza: Meninggal karena Peluru Tentara Israel atau Kelaparan

    7cloud.asia – Di Gaza yang dikoyak perang, bom-bom Israel bukan satu-satunya ancaman yang bisa menewaskan anak-anak. Sekarang, sebagian dari anak-anak di sana sekarat karena kelaparan akut.

    Sejumlah pejabat telah memperingatkan selama berbulan-bulan bahwa pengepungan dan serangan Israel ke Gaza telah menyebabkan wilayah Palestina itu mengalami kelaparan.

    Kelaparan paling parah terjadi di Gaza utara karena isolasi oleh pasukan Israel telah memutus pasokan makanan untuk waktu yang lama.

    Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan setidaknya 20 orang meninggal karena kekurangan gizi dan dehidrasi di rumah sakit Kamal Adwan dan Shifa di wilayah utara.

    Sebagian besar korban tewas adalah anak-anak – termasuk mereka yang berusia 15 tahun – serta pria berusia 72 tahun.

    Baca: Hanya gencatan senjata yang bisa hentikan genosida di Gaza

    Anak-anak yang rentan juga mulai menderita di wilayah selatan, meski suplai bantuan di wilayah tersebut dapat dilakukan lebih teratur.

    VOA Indonesia mengutip The Associated Press menyebut, di Rumah Sakit Emirat di Rafah, 16 bayi prematur meninggal karena kekurangan gizi selama lima minggu terakhir.

    “Kematian anak-anak yang kami khawatirkan akhirnya menjadi kenyataan,” kata Adele Khodr, Ketua UNICEF untuk Timur Tengah, dalam sebuah pernyataan awal pekan ini.

    Pengeboman dan serangan darat Israel menelan banyak korban jiwa di kalangan anak-anak, dan juga perempuan. Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan hampir tiga perempat dari lebih dari 30.800 warga Palestina yang terbunuh adalah perempuan.

    Malnutrisi umumnya berlangsung perlahan dan bisa menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak dan orang tua.

    Baca: PM Palestina mengundurkan diri

    Namun, ada faktor-faktor lain yang turut memperburuk situasi ini. Misalnya, ibu yang kekurangan gizi akan kesulitan memberikan ASI kepada anaknya.

    Menurut Anuradha Narayan, ahli nutrisi anak dari Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), penyakit diare yang sering terjadi di Gaza karena kurangnya akses air bersih dan sanitasi, mengakibatkan banyak orang sulit menyerap kalori yang mereka konsumsi.

    Malnutrisi juga melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko kematian akibat penyakit lain.

    Israel menutup akses terhadap sebagian besar pasokan makanan, air, obat-obatan dan pasokan lainnya setelah melancarkan serangan ke Gaza, menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel selatan.

    Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan Hamas dilaporkan juga telah menyandera sekitar 250 orang. 

    Baca: Dekati ramadhan kesepakatan gencatan senjata belum juga tercapai, Hamas jadi kunci

    Pemerintah Israel hanya mengizinkan sedikit truk bantuan melewati dua penyeberangan di wilayah selatan.

    Israel menyalahkan lembaga-lembaga PBB atas meningkatnya kelaparan di Gaza, dengan menuding bahwa mereka tidak berhasil mendistribusikan pasokan yang menumpuk di penyeberangan Gaza.

    UNRWA, badan PBB terbesar di Gaza, menyatakan bahwa Israel membatasi beberapa barang dan melakukan pemeriksaan yang rumit, yang memperlambat proses masuknya barang-barang tersebut.

    Selain itu, distribusi di Gaza juga terhambat, para pejabat PBB mengatakan konvoi sering ditolak oleh pasukan Israel, militer sering menolak jalur aman di tengah pertempuran.

    Tidak jarang bantuan dirampas dari truk oleh warga Palestina yang kelaparan dalam perjalanan ke titik pengantaran.

    Baca: Israel diingatkan punya tanggung jawab lindungi warga Gaza

    Sumber: VOA Indonesia

     

     

  • Sadis! Pasukan Israel Tembaki Kembali Warga Palestina yang Antre Bantuan

    Sadis! Pasukan Israel Tembaki Kembali Warga Palestina yang Antre Bantuan

    7cloud.asia – Sedikitnya tujuh orang tewas dan lebih dari 20 lainnya terluka ketika pasukan Israel menembaki puluhan warga Palestina yang sedang antre untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza, jaringan televisi Qatar, Al Araby, melaporkan.

    Penembakan itu terjadi pada Selasa (12/03/2024) di dekat Bundaran Kuwait di Gaza utara, kurang dari dua pekan setelah insiden serupa terjadi.

    Pada 29 Februari, pihak berwenang Palestina mengatakan militer Israel melepaskan tembakan ke arah kerumunan orang di Kota Gaza ketika mereka menunggu bantuan kemanusiaan.

    Baca: Serangan Israel kepada warga Palestina yang menunggu bantuan dianggap telah direncanakan

    Akibatnya, 112 orang tewas dan 760 lainnya terluka. Namun pihak Israel membantah jumlah korban tewas, yang menurut mereka terlalu tinggi.

    Mereka menyatakan bahwa sebagian besar korban tewas karena terinjak-injak kerumunan saat orang-orang menyerbu truk yang membawa bantuan.

    Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan pasukannya melepaskan tembakan setelah beberapa warga Palestina mendekati tank dan pasukan IDF.

    Pada 7 Oktober 2023, Hamas melancarkan serangan roket besar-besaran ke Israel dari Gaza dan menerobos perbatasan. Serangan itu menewaskan 1.200 orang dan Hamas menyandera 240 orang lainnya.

    Israel lalu membalas dengan serangan habis-habisan, memblokade penuh Gaza, melancarkan serangan darat di dalam wilayah kantong Palestina itu untuk “menumpas pejuang Hamas dan membebaskan sandera”.

    Baca: Pasukan Israel menembaki warga Palestina yang menunggu bantuan

    Sedikitnya 31.100 orang telah tewas di Jalur Gaza, menurut otoritas setempat.

    Pada 24 November, Qatar memediasi perundingan antara Israel dan Hamas untuk pertukaran tahanan dengan sandera dan gencatan senjata, yang memungkinkan bantuan kemanusiaan memasuki Gaza.

    Gencatan itu diperpanjang beberapa kali dan berakhir pada 1 Desember. Lebih dari 100 orang diyakini masih disandera oleh Hamas di Gaza.

    Putusan sela Mahkamah Internasional pada Januari memerintahkan Israel untuk menghentikan aksi genosida dan mengambil tindakan yang dapat menjamin bantuan kemanusiaan diberikan kepada warga sipil di Gaza.

    Sumber: Sputnik

  • Puluhan Warga Gaza Tewas Akibat Serangan Israel ke Kerumunan Warga yang Antre Makanan

    Puluhan Warga Gaza Tewas Akibat Serangan Israel ke Kerumunan Warga yang Antre Makanan

    7cloud.asia – Antre bantuan makanan kini tak lagi aman bagi warga Gaza Palestina yang sejak Oktober lalu dibombardir serangan olehmiliter Israel.

    Tercatat  sudah terjadi empat kali serangan yang dilancarkan tentara Israel ke kerumunan warga Gaza yang sedang antre untuk mendapatkan bantuan makanan.

    Terakhir serangan itu terjadi Jumat (15/3/2024) pagi waktu setempat saat  warga  antre menunggu bantuan di Gaza .

    Para pejabat Palestina mengatakan dua serangan Israel – satu di Gaza Tengah, satu lagi di bagian utara – menewaskan puluhan warga sipil.

    Dalam dua insiden terpisah, sedikitnya 29 orang tewas dan 150 lainnya terluka sewaktu mereka menunggu untuk menerima bantuan, kata kementerian kesehatan yang dikelola Hamas.

    Baca: Tentara Israel tembaki warga yang sedang antre makanan

    Dalam insiden pertama, para pejabat kesehatan Palestina mengatakan delapan orang tewas dalam serangan udara terhadap pusat distribusi bantuan di kamp al-Nuseirat di Gaza Tengah.

    Dalam insiden kedua, sedikitnya 21 orang tewas dan lebih dari 150 lainnya cedera akibat tembakan Israel terhadap kerumunan orang yang sedang menunggu truk-truk bantuan di Gaza Utara, kata Kementerian Kesehatan.

    Militer Israel mengatakan sedang menyelidiki kedua insiden tersebut.

    Insiden itu terjadi dua hari setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan pada hari Rabu bahwa Israel harus membuat kesejahteraan warga sipil Palestina sebagai “tugas no. 1” dalam perangnya melawan Hamas di Gaza.

    Hari Kamis, kelompok militan Hamas mengatakan pihaknya menyerahkan kepada para mediator visi mengenai kesepakatan gencatan senjata yang antara lain akan didasarkan pada penghentian operasi militer Israel di Gaza.

    Baca: Setidaknya 100 warga Gaza tewas karena diberondong tembakan zionis Israel

    Pada hari yang sama, militer Israel melaporkan mereka melakukan operasi darat dan udara di bagian tengah dan selatan Jalur Gaza.

    Pasukan Pertahanan Israel mengatakan operasi itu mencakup serangan di Khan Younis yang menghancurkan peluncur roket.

    Israel memulai kampanye militernya untuk mengenyahkan Hamas setelah para anggota kelompok tersebut menyeberang ke Israel Selatan pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang.

    Hari Rabu lalu, Blinken menegaskan kembali bahwa Israel harus memprioritaskan keselamatan warga sipil di Gaza.

    Melalui konferensi video, ia juga bertemu dengan para menteri dari Siprus, Inggris, Uni Emirat Arab, Qatar, Uni Eropa dan PBB untuk membahas koridor maritim baru untuk bantuan ke Gaza.

    Baca: Nasib anak-anak di Gaza, tewas karena peluru Israel atau kelaparan

    Militer AS telah mengirim sebuah kapal ke Laut Tengah untuk membangun dermaga sementara di pesisir Gaza untuk membuka jalur bagi lebih banyak bantuan.

    Militer mengatakan mungkin perlu waktu dua bulan untuk menyelesaikan dermaga tersebut.

    Juga Kamis, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan Washington harus memberi tekanan lebih besar terhadap pemerintah Israel untuk memfasilitasi bantuan ke Gaza.

    “Kami tentu berharap pemerintah AS terus memberi tekanan, memberi lebih banyak tekanan terhadap Israel untuk membuka perbatasan dan untuk tidak [menghambat] akses kemanusiaan,” kata Borrell kepada wartawan dalam kunjungannya ke Washington.

    “Dan fakta yang diakui semua orang adalah ada hambatan nyata terhadap akses kemanusiaan oleh pihak yang mengontrol perbatasan [Gaza], yaitu pemerintah Israel,” lanjutnya. (Sumber: VOA Indonesia)

    Baca: Eskalasi kekerasan tak juga surut PM Palestina memilih mundur 

  • Palestina Desak PBB Agar Dapat Memaksa Israel Wujudkan Gencatan Senjata di Gaza

    Palestina Desak PBB Agar Dapat Memaksa Israel Wujudkan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina pada Sabtu (16/3/2024) menyerukan sikap kemanusiaan internasional melalui sebuah resolusi yang mengikat di Dewan Keamanan PBB  guna memaksa pendudukan Israel agar segera melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza.

    Lebih lanjut kementerian menyerukan perlunya memastikan perlindungan bagi warga sipil dan akses masuk bantuan ke Gaza secara berkelanjutan.

    Baca: Pasukan Israel bunuh warga Palestina yang antre bantuan

    Melalui pernyataan, Kemenlu Palestina mengatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sekali lagi mengakui bahwa dirinya sedang melakukan pertempuran diplomatik dengan dunia demi mendapatkan lebih banyak waktu untuk mencapai tujuan agresi.

    Disebutkan pula bahwa Netanyahu terus mengeluarkan ancaman untuk menyerang Kota Rafah tanpa memberikan rencana realistis untuk melindungi warga sipil dan menjamin kebutuhan dasar kemanusiaan mereka.

    Baca: Israel dianggap tak serius wujudkan gencatan senjata di Gaza

    “Tujuan terbesar Netanyahu adalah memperpanjang agresi supaya tetap berkuasa dan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan pada hari berikutnya,” demikian menurut pernyataan Kemenlu Palestina.

    Kementerian juga menyatakan bahwa Netanyahu telah menculik lebih dari dua juta warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan.

    ”Dan menjadikan hidup dan jiwa mereka sebagai “alat tawar dan pemerasan politik.” pungkas pernyataan itu 

    Sumber: WAFA

  • Kelaparan di Gaza Semakin Kritis, Menlu AS: Sedianya Tak Ada Anak Palestina Meninggal Karena Kelaparan

    Kelaparan di Gaza Semakin Kritis, Menlu AS: Sedianya Tak Ada Anak Palestina Meninggal Karena Kelaparan

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken menegaskan tidak boleh ada anak Palestina yang meninggal karena kelaparan.

    “Sedianya tidak boleh ada anak-anak yang meninggal karena kekurangan gizi di Gaza.” ujarnya ketika memberikan keterangan pers bersama Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry di Kairo pada hari Kamis (21/3/2024).

    “Seperti yang Anda dengar dari Menteri Shoukry, ada kesepakatan mendesak untuk meningkatkan dan mempertahankan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza. Sedianya tidak boleh ada anak-anak yang meninggal karena kekurangan gizi di Gaza atau di mana pun.” ujarnya.

    Blinken mengatakan, saat ini 100% penduduk Gaza mengalami tingkat kerawanan pangan sangat akut. Dunia,ujarnya, tidak bisa dan tidak boleh membiarkan hal itu terus berlanjut.

    Saat ini, gencatan senjata – yang memang sedang kami upayakan – merupakan cara terbaik dan paling cepat yang memungkinkan kami dapat meningkatkan bantuan kemanusiaan.

    “Kita telah melihat adanya sedikit peningkatan pengiriman bantuan selama beberapa minggu terakhir, tetapi itu tidak cukup.” tandas Blinken

    Baca: Kelaparan jadi metode perang  baru Israel di Gaza

    Blinken melangsungkan pertemuan dengan menteri luar negeri Mesir, Yordania, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Kairo untuk membahas rencana pasca-konflik di Gaza.

    Pertemuan dilangsungkan saat semakin memburuknya hubungan Amerika dan Israel terkait perang Israel melawan Hamas.

    Hal ini menyusul adanya niatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk melakukan operasi militer besar-besaran di kota Rafah, di bagian selatan Gaza.

    Presiden Joe Biden telah meminta Netanyahu untuk tidak melakukan hal itu tanpa rencana rinci soal bagaimana melindungi warga sipil yang tidak berdosa dan telah mengungsi ke kota itu untuk berlindung.

    Namun hingga kini Israel tidak kunjung menyampaikan rencana itu, dan bersikukuh memulai operasi darat ke Rafah.

    Blinken mengatakan ada “konsensus yang jelas” mengenai perlunya gencatan senjata segera di Gaza, yang telah diupayakannya bersama Qatar dan Israel.

    Baca: Antre makanan bukan lagi tempat yang aman di Gaza

    “Kesenjangan semakin menyempit dan kami terus mendorong tercapainya kesepakatan di Doha. Masih ada pekerjaan yang sulit untuk mencapainya, namun saya tetap percaya bahwa hal itu mungkin tercapai.”

    Dia juga mengatakan bahwa gencatan senjata segera adalah cara terbaik untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Gaza, yang “mengalami tingkat kerawanan pangan akut yang parah.”

    Dokter & Staf Rumah Sakit Juga Makan ala Kadarnya

    Situasi kelaparan yang sangat akut di Gaza juga menimbulkan dampak pada para dokter dan staf rumah sakit di RS Al Aqsa, di Gaza Tengah.

    Dr. Bashar Abdel Qader, seorang dokter sukarelawan di rumah sakit itu mengatakan, “Ya, kami mendapat beberapa kali kesempatan makan… makanan tersebut tidak cukup bergizi; maksud saya, setiap kali makan harus dibagi dengan seorang dokter lain.

    “Setiap kali makan biasanya terdiri dari nasi dan mungkin sedikit sayuran, dan tentu saja itu tidak cukup untuk seorang dokter yang bekerja 24 jam.”

    Analisis terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis pada Senin lalu (18/3/2024) memperingatkan bahwa situasi di Gaza sangat buruk.

    Baca: Pilihan anak Palestina, peluru Israel atau kelaparan

    Di mana kelaparan sangat akut akan segera terjadi di bagian utara Gaza, dan mengancam daerah-daerah lain di Jalur Gaza.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola oleh Hamas, mengatakan hingga hari Kamis ini lebih dari 32.000 orang meninggal dunia di Gaza akibat serangan serangan darat dan udara Israel

    Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Sementara lebih dari 75.000 lainnya luka-luka.

    WHO dan mitra-mitranya telah menjalankan misi berisiko tinggi untuk mengirimkan obat-obatan, bahan bakar, dan makanan bagi para petugas kesehatan dan pasien.

    Tetapi permintaan untuk mengirimkan pasokan sering kali diblokir atau ditolak oleh tentara Israel.

    Jalan-jalan yang rusak dan pertempuran yang terus berlanjut, termasuk di dalam dan di dekat rumah sakit, mempersulit upaya pengiriman barang-barang penting itu.

    Baca: Hanya gencatan senjata yang bisa hentikan genosida di Gaza

    Dampak Jangka Panjang

    Situasi saat ini diyakini akan berdampak jangka panjang pada kehidupan dan kesehatan ribuan orang. Saat ini banyak anak sedang sekarat karena efek gabungan dari kekurangan gizi dan penyakit.

    Malnutrisi membuat orang lebih rentan untuk jatuh sakit parah, mengalami pemulihan yang lambat, atau meninggal dunia karena terinfeksi penyakit.

    Efek jangka panjang dari kekurangan gizi, rendahnya konsumsi makanan kaya gizi, infeksi berulang, dan kurangnya layanan kebersihan dan sanitasi akan memperlambat pertumbuhan anak secara keseluruhan.

    Hal ini membahayakan kesehatan dan kesejahteraan seluruh generasi Palestina  mendatang.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Kelompok Arab di Dewan Keamanan PBB Menolak Resolusi untuk Gaza yang Diinisiasi AS

    Kelompok Arab di Dewan Keamanan PBB Menolak Resolusi untuk Gaza yang Diinisiasi AS

    7cloud.asia – Kelompok negara-negara Arab di PBB menolak resolusi yang dipimpin AS mengenai Gaza, yang gagal disetujui Dewan Keamanan pada Jumat (22/3/2024) waktu setempat.

    Negara-negara Arab mengecam resolusi soal Gaza yang diusulkan dibahas di Dewan Keamanan PBB  ini ini sebagai “resolusi sepihak.”

    Setelah pemungutan suara di Dewan Keamanan, utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, yang berbicara atas nama kelompok tersebut, mengkritik resolusi tersebut karena kegagalannya mengatasi kejahatan Israel di Gaza yang juga dikenal sebagai wilayah kantong Palestina.

    “Ini tidak menyerukan gencatan senjata (di Gaza) Kita perlu membicarakan hal ini dengan jelas, atau tidak memelintirnya,” katanya.

    Baca: Kelaparan di Gaza makin kritis

    Memperhatikan bahwa Kelompok Arab akan mendukung resolusi yang menuntut gencatan senjata di Gaza selama bulan Ramadhan,

    Mansour mengatakan: “Kami menolak untuk menyebut apa yang terjadi adalah masalah terorisme. Ini adalah genosida terhadap seluruh populasi rakyat Palestina di Jalur Gaza.”

    Lebih lanjut dia menyatakan bahwa Kelompok Arab akan menekan Dewan Keamanan PBB untuk mengakui Palestina sebagai anggota resmi pada bulan April mendatang.

    Resolusi tersebut, yang mengaitkan gencatan senjata dengan pembebasan sandera dan menyerukan dukungan terhadap upaya tersebut, diveto oleh Rusia dan China.

    Baca: Israel dituduh sengaja membiarkan warga Gaza kelaparan

    Sebelas anggota Dewan Keamanan PBB sepakat. Aljazair juga memilih “tidak”, sementara Guyana abstain.

    Israel telah melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza sejak serangan lintas batas pada 7 Oktober yang dipimpin oleh Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel.

    Akibatnya, hampir 32 ribu warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas di Gaza, dan lebih dari 74 ribu orang terluka akibat kehancuran massal dan kekurangan kebutuhan pokok.

    Perang Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terpaksa mengungsi di tengah blokade yang melumpuhkan sebagian besarpasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Baca: Palestina desak PBB tekan Israel untuk wujudkan gencatan senjata

    Sementara hampir 60 persen infrastruktur di wilayah tersebut telah rusak atau hancur, menurut PBB.

    Sidang Mahkamah Internasional (ICJ) akhir tahun lalu telah memvonis Israel telah melakukan genosida di Gaza.

    Keputusan sementara ICJ pada Januari memerintahkan Tel Aviv untuk memastikan pasukannya tidak melakukan tindakan genosida, dan menjamin bahwa bantuan kemanusiaan diberikan kepada warga sipil di Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Sekjen PBB Akui Pihaknya Tak Punya Kekuatan Hentikan Kekejaman Israel di Gaza

    Sekjen PBB Akui Pihaknya Tak Punya Kekuatan Hentikan Kekejaman Israel di Gaza

    7cloud.asia – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengaku bahwa badan dunia itu tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan perang rezim Israel di Gaza.

    Seolah frustasi dengan kondisi di Gaza, Guterres menyerukan kepada mereka “yang berkuasa untuk melakukan hal itu”.

    “Anda tidak bisa melihat begitu banyak orang terbunuh, anda tidak dapat melihat terlalu banyak penderitaan tanpa perasaan frustrasi yang mendalam… Kami tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan [perang di Gaza], saya mengimbau mereka yang berkuasa untuk melakukannya,” kata Guterres saat konferensi pers di El Arish Mesir, Sabtu (23/3/2024).

    Baca: Kelaparan di Gaza sudah dalam kondisi kritis, ribuan anak terancam masa depannya

    Dilansir Al Jazeera, antonio Guterres mengunjungi penyeberangan Rafah, antara Gaza dan Mesir, sebagai bagian dari “perjalanan solidaritas” tahunannya ke negara-negara Muslim selama bulan suci Ramadan.

    Disebutkan pula bahwa perjalanan Guterres tahun ini bertujuan untuk “menyoroti penderitaan rakyat Palestina di Gaza”.

    Pada kesempatan itu, Guterres juga berbicara soal bantuan kemanusiaan yang ditimbun di sisi perbatasan Mesir dengan Gaza ketika rezim Israel terus melarang masuk bantuan tersebut ke Gaza.

    Baca: Membiarkan warga Gaza kelaparan jadi senjata baru Israel

    “Lebih dari tragis. Ini adalah sebuah penghinaan moral,” katanya seraya menyerukan kembali perang dihentikan dan memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut akan memperburuk keadaan.

    Analisis terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis pada Senin lalu (18/3/2024) memperingatkan bahwa situasi di Gaza sangat buruk.

    Di mana kelaparan sangat akut akan segera terjadi di bagian utara Gaza, dan mengancam daerah-daerah lain di Jalur Gaza.

    Baca: Pilihan anak Palestina, peluru Israel atau kelaparan

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola oleh Hamas, mengatakan hingga hari Kamis ini lebih dari 32.000 orang meninggal dunia di Gaza akibat serangan serangan darat dan udara Israel

    Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Sementara lebih dari 75.000 lainnya luka-luka.

    WHO dan mitra-mitranya telah menjalankan misi berisiko tinggi untuk mengirimkan obat-obatan, bahan bakar, dan makanan bagi para petugas kesehatan dan pasien.

    Sumber: IRNA-OANA

     

  • Peneliti PBB Serukan Embargo Senjata ke Israel Karena Lakukan Genosida di Gaza

    Peneliti PBB Serukan Embargo Senjata ke Israel Karena Lakukan Genosida di Gaza

    7cloud.asia – Francesca Albanese, seeorang peneliti PBB meyakini bahwa operasi militer Israel di Gaza sejak 7 Oktober tahun lalu merupakan tindak genosida.

    Ia menyerukan kepada negara-negara di dunia untuk segera menjatuhkan sanksi serta memberlakukan embargo senjata terhadap Israel.

    Hal itu diungkapkan Albanese ketika mempresentasi laporan berjudul “Anatomi Genosida” dalam sidang Dewan HAM PBB di Jenewa, Selasa (26/3/2024) waktu setempat.

    Francesca Albanese, pelapor khusus PBB untuk HAM di Wilayah Pendudukan Palestina, menekankan bahwa lebih dari 30,000 warga Palestina terbunuh di antara tindakan lainnya.

    Baca:  Delegasi Indonesia dan ngara-negara Arab lakukan aksi walk out saat delegasi Israel berbicara di Sidang IPU 

    Secara khusus, Israel telah melakukan tiga tindakan genosida terhadap warga Palestina sebagai kelompok dengan niat tersirat, menyebabkan kerugian fisik atau mental yang serius,

    ”Israel dengan sengaja membuat kondisi kehidupan yang akan berujung pada kehancuran fisik secara keseluruhan atau sebagian, dan memaksakan tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran dalam kelompok tersebut,” jelas Albanese.

    Israel yang tidak menghadiri sesi itu menolak laporan Albanese. Misi diplomatik Israel di Jenewa menilai bahwa penggunaan kata genosida “keterlaluan.”

    Ia mengatakan bahwa perang tersebut ditujukan kepada kelompok Hamas dan bukan kepada warga sipil Palestina.

    Baca: Dewan Keamananan PBB sepakati resolusi gencatan senjata di Gaza

    Menurut perhitungan Israel, perang ini dimulai setelah para pejuang Hamas menyerbu Israel bagian selatan, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 253 orang lainnya.

    Negara-negara Teluk seperti Qatar, serta negara-negara Afrika, termasuk Aljazair dan Mauritania, menyuarakan dukungan atas temuan Albanese dan keprihatinan atas situasi kemanusiaan.

    Albanese, pengacara asal Italia, adalah satu dari belasan ahli HAM independen yang diberi mandat oleh PBB untuk melaporkan dan memberi saran tentang tema dan krisis spesifik.

    Namun demikian, pandangan Albanese  tidak mencerminkan pandangan PBB secara keseluruhan.

    Baca: Sekjen PBB akui pihaknya tak punya kuasa menghentikan serangan Israel di Gaza

    Sebelumnya Dewan Keamanan PBB telah menyetujui resolusi gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Resolusi ini diambil, setelah AS yang selama ini membela Israel menyatakan abstain.

    Selain menyerukan gencatan senjata segera di Gaza, Dewan Keamanan PBB ini juga menuntut pembebasan seluruh sandera Hamas dengan segera dan tanpa syarat. 

    Sumber: VOA Indonesia

  • Lebih dari 1,1 Juta Orang di Jalur Gaza Hadapi Tingkat Kerawanan Pangan Ekstrem

    Lebih dari 1,1 Juta Orang di Jalur Gaza Hadapi Tingkat Kerawanan Pangan Ekstrem

    7cloud.asia – Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Kamis (28/3) mengatakan bahwa lebih dari 1,1 juta orang di Jalur Gaza menghadapi “tingkat kerawanan pangan yang ekstrem” akibat tindakan Israel mencegah pasokan bantuan memasuki wilayah tersebut.

    Pernyataan tersebut, yang diunggah di platform media sosial X, menekankan perlunya mendistribusikan bantuan makanan yang cukup melalui jalur darat.

    Hal ini guna menyelamatkan nyawa, terutama di wilayah utara Jalur Gaza. Namun, “hambatan akses masih terjadi, dan waktu semakin terbatas,” kata OCHA.

    Sementara itu, sejumlah sumber medis pada Kamis mengumumkan bahwa seorang anak di Kota Beit Lahia di Gaza utara dinyatakan meninggal akibat kelaparan dan minimnya perawatan yang tersedia.

    Baca: Gencatan senjata tak cukup hentikan konflik Palestina

    Sehingga jumlah kasus kematian akibat kekurangan gizi di wilayah kantong Palestina tersebut bertambah menjadi 30 orang.

    Israel telah melancarkan serangan berskala besar terhadap Hamas di Jalur Gaza untuk membalas serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 32 ribu orang.

    Akibatnya, wilayah pesisir yang terkepung tersebut, yang dihuni sekitar 2,35 juta orang, harus menghadapi kondisi kemanusiaan yang sulit, di tengah peringatan internasional tentang ancaman bencana kelaparan.

    Sementara itu, Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina memperingatkan bahayanya penolakan Israel yang secara kontinu terhadap penerapan resolusi terbaru Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera selama bulan suci Ramadan.

    Baca: Sekjen PBB serukan bantuan kemanusiaan ke Gaza

    Dalam sebuah pernyataan, pihak kementerian meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menerapkan resolusi tersebut dan segera mencapai gencatan senjata.

    Selain itu, memastikan perlindungan warga sipil dan masuknya bantuan kemanusiaan secara berkelanjutan ke seluruh Jalur Gaza melalui darat, udara, dan laut.

    Pernyataan itu juga menuduh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu “mengekspor krisisnya ke wilayah Palestina, kawasan ini, dan dunia,”.

    Serta menggunakan kebijakan ‘menanggung akibat’ dalam berurusan dengan semua pihak untuk mengurangi parahnya krisis tersebut dan mempertahankan posisinya sebagai PM.

    Sumber: Antaranews