Tag: gencatan senjata

  • Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata di Gaza

    Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Paus Leo XIV pada Kamis (17/7/2025) kembali menyerukan gencatan senjata segera di Jalur Gaza dan menyatakan “harapan mendalamnya” untuk “dialog, rekonsiliasi, dan perdamaian abadi di wilayah tersebut,”.

    Seruan gencatan senjata dari Paus Leo XIV ini disampaikan, menyusul serangan Israel terhadap sebuah gereja Katolik yang menampung warga sipil.

    Permohonan tersebut disampaikan dalam sebuah telegram yang ditandatangani oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, setelah Gereja Keluarga Kudus di Gaza diserang militer Israel.

    Paus mengatakan ia “sangat berduka” atas serangan terhadap paroki tersebut, yang telah menyediakan tempat berlindung bagi lebih dari 500 orang sejak awal perang.

    Baca: Militer Israel menolak rencana Netanyahu membangun kamp bernama Kota Kemanusiaan 

    Di antara mereka yang terluka adalah pastor paroki, Pastor Gabriel Romanelli, yang mengalami luka ringan di kaki dan dirawat di rumah sakit Al-Ahli di Kota Gaza.

    Paus secara langsung menyapa Pastor Romanelli dalam telegram tersebut, meyakinkannya akan “kedekatan spiritualnya” dan menyampaikan doa bagi seluruh komunitas paroki.

    “Mempercayakan jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal kepada belas kasih Tuhan Yang Mahakuasa,” kata Paus, seraya berdoa “untuk penghiburan bagi mereka yang berduka dan untuk kesembuhan bagi mereka yang terluka.”

    Baca: Gaza alami genosida terkejam sepanjang sejarah

    Dalam serangan mematikannya di Jalur Gaza, tentara Israel telah mengebom beberapa tempat ibadah, termasuk Gereja Baptis Gaza dan Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius, gereja tertua di Jalur Gaza dan tertua ketiga di dunia.

    Gereja Keluarga Kudus adalah satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza, yang telah menampung banyak warga Kristen dan Muslim Palestina yang mengungsi sejak Oktober 2023.

    Adapun agresi militer Israel ke Gaza telah menewaskan lebih dari 58.000 warga Palestina dan menghancurkn lebih 80 persen wilayah Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Gencatan Senjata Hamas-Israel Diumumkan Pekan Ini

    Gencatan Senjata Hamas-Israel Diumumkan Pekan Ini

    7cloud.asia – Kelompok Perlawanan Palestina Hamas telah memberikan tanggapan positif atas proposal kesepakatan gencatan senjata Gaza dan pembebasan sandera.

    Menurut kantor berita Palestina Maan pada Senin (21/7/2025) mengutip sumber-sumber menyebut gencatan senjata kemungkinan diumumkan dalam pekan ini.

    “Gerakan Hamas telah menanggapi positif atas usulan yang diajukan, yang mencakup gencatan senjata 60 hari, dan pertukaran tahanan,” kata kantor berita tersebut.

    Pada 16 Juli, Axios melaporkan bahwa Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir telah memberikan versi terbaru kesepakatan gencatan senjata Gaza dan pembebasan sandera kepada Israel dan Hamas.

    Kesepakatan ini mencakup pembebasan tahanan Palestina dari penjara Israel, di antara hal-hal lainnya.

    Pada 30 Juni, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan bahwa Kairo, bersama dengan mediator lainnya, sedang berupaya menengahi gencatan senjata 60 hari di Jalur Gaza dan pembebasan sejumlah sandera Israel.

    Perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas mengenai gencatan senjata di Gaza dilanjutkan di Doha pada 6 Juli dengan beberapa putaran pertama dilaporkan berakhir tanpa hasil yang nyata.

    Sumber: Sputnik

  • Trump Sebut Israel Sepakati Usulan Gencatan Senjata

    Trump Sebut Israel Sepakati Usulan Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahannya sedang mengupayakan solusi yang mungkin baik untuk Gaza, beberapa jam setelah mengeluarkan apa yang disebutnya “peringatan terakhir” kepada Hamas.

    Trump menyampaikan komentar tersebut kepada wartawan pada hari Minggu (7/9/2025) setelah tiba di Washington, DC, setelah kunjungan singkat ke New York.

    “Kami sedang mengupayakan solusi yang mungkin sangat baik,” katanya, menggambarkan perang yang sedang berlangsung di Gaza. Trump menyebut penahanan puluhan warga Israel oleh Hamas sebagai “masalah yang sangat besar”.

    “Ini adalah masalah yang ingin kami selesaikan untuk Timur Tengah, untuk Israel, untuk semua orang. Tapi ini adalah masalah yang akan kami selesaikan,” katanya.

    “Anda akan segera mendengarnya. Kami berusaha untuk mengakhirinya, mendapatkan kembali para sandera,” tambahnya.

    Baca: Guru-Guru di Spanyol Desak Embargo Senjata pada Israel

    Sebelumnya pada hari Minggu, Trump mengatakan dirinya telah mengajukan proposal baru untuk mengakhiri perang di Gaza, dengan mengatakan bahwa Israel telah menerima persyaratannya.

    Trump kemudian memperingatkan Hamas untuk menerima persyaratannya, dengan mengatakan bahwa ia telah memberi tahu kelompok tersebut tentang “konsekuensi” penolakan tawaran tersebut.

    Selama perang 23 bulan, para pejabat AS telah berulang kali mengklaim bahwa Israel telah menerima upaya gencatan senjata, bahkan ketika para pemimpin Israel terus berjanji secara terbuka untuk mengintensifkan serangan mereka.

    Serangan Israel ini oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan cendekiawan terkemuka digambarkan sebagai genosida.

    “Semua orang ingin para sandera pulang. Semua orang ingin perang ini berakhir!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.

    Baca: Anak Gaza Terancam Jadi “Generasi Hilang” Akibat Perang

    “Israel telah menerima persyaratan saya. Sudah saatnya Hamas juga menerima. Saya telah memperingatkan Hamas tentang konsekuensi jika tidak menerima. Ini peringatan terakhir saya, tidak akan ada peringatan lain!”

    Presiden AS sebelumnya telah mengeluarkan peringatan lisan serupa kepada Hamas dan meramalkan bahwa perang akan segera berakhir.

    Terakhir kali, pada 25 Agustus, Trump mengatakan ia memperkirakan perang akan mencapai “akhir yang konklusif” dalam waktu tiga minggu.

    Belum ada komentar langsung dari Israel mengenai tawaran terbaru Trump ini.

    Namun, The Times of Israel, mengutip sumber yang dekat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa pemerintah Israel “sedang mempertimbangkan secara serius” proposal tersebut.

    Sementara itu, kelompok perlawanan Hamas mengonfirmasi telah menerima “gagasan” dari AS untuk mengakhiri perang.

  • Hamas Setujui Usulan Trump, Tapi Menolak Serahkan Senjata

    Hamas Setujui Usulan Trump, Tapi Menolak Serahkan Senjata

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas menyetujui usulan Presiden AS Donald Trump soal gencatan senjata di Jalur Gaza. Namun kesepakatan Hamas itu tidak mencakup penyerahan senjata.

    Juru bicara Hamas di Lebanon, Walid Kilani, mengatakan pada Sabtu (4/10/2025) bahwa penyerahan senjata hanya mungkin dilakukan setelah berdirinya negara Palestina yang berdaulat dan memiliki tentara nasional.

    Dia menegaskan bahwa Hamas tidak pernah mempertimbangkan untuk menyerahkan senjatanya dan tidak pernah mengaitkan hal itu dengan persetujuannya pada syarat-syarat perjanjian.

    “Sikap kami jelas dan tegas: selama pendudukan berlanjut, perlawanan akan terus ada. Penyerahan senjata hanya mungkin dilakukan setelah negara Palestina yang berdaulat berdiri dengan kewenangan penuh dan tentara nasional yang mampu melindungi rakyat Palestina,” kata Kilani.

    Baca: Trump usulkan 20 poin penyelesaian konflik Gaza

    Dia menambahkan, poin utama usulan Presiden Trump tetaplah gencatan senjata di Jalur Gaza, sementara Hamas bersedia membahas syarat-syarat lainnya.

    “Fokus utama gerakan ini adalah gencatan senjata, sementara soal lain bisa dibicarakan dan disepakati. Karena itu, kesepakatan gencatan senjata juga mencakup klausul yang melarang pengusiran warga Palestina dari tanah mereka,” kata Kilani.

    Soal siapa yang memerintah Jalur Gaza, kata dia, harus diputuskan oleh seluruh bangsa Palestina, bukan hanya Hamas.

    “Kesepakatan atas poin-poin tertentu dari rencana Washington hanya dicapai selama sesuai dengan tuntutan dan aspirasi rakyat Palestina, tanpa menyentuh prinsip lain — khususnya isu perlucutan senjata dan kendali atas Jalur Gaza, karena keputusan itu adalah milik seluruh rakyat Palestina, bukan hanya Hamas,” katanya.

    Baca: 142 Anggota PBB dukung Palestina merdeka

    Sementara, tentara Israel mengabaikan desakan Trump untuk segera menghentikan serangan ke Gaza setelah kelompok perlawanan Hamas menyatakan setuju untuk membebaskan sandera Israel seperti yang dia usulkan.

    Serangan Israel menewaskan lima warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan, dan melukai lainnya dalam serangan di Jalur Gaza pada Sabtu (4/10/2025).

    Dalam seruannya, Trump mengatakan dia percaya kelompok Hamas “siap untuk perdamaian abadi.”

    Sumber-sumber medis dan saksi mata mengatakan meski ada desakan Trump, pasukan Israel masih menyerang dua rumah di Kota Gaza dan kamp pengungsi Nuseirat yang menewaskan lima orang dan melukai beberapa lainnya.

    Serangan udara dan darat pasukan Israel juga berlanjut di seluruh Kota Gaza dan Khan Younis di wilayah selatan.

    Sumber: Antaranews.com/Spuntik-RIA Novosti-OANA-Anadolu

  • Hamas: Tim Mediator Akan Tentukan Waktu Pelaksanaan Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas: Tim Mediator Akan Tentukan Waktu Pelaksanaan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, Kamis (9/10/2025) menyatakan bahwa waktu pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dengan Israel akan ditentukan oleh para mediator.

    “Hamas telah mencapai formula kesepakatan gencatan senjata, dan para mediator akan memutuskan kapan kesepakatan itu mulai berlaku,” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dalam pernyataan yang dimuat di situs resmi kelompok tersebut.

    Kesepakatan itu diumumkan pada Kamis dini hari setelah empat hari perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan mediasi dari Turki, Mesir, Qatar, serta Amerika Serikat (AS).

    Belum ada tanggapan langsung dari para mediator terkait pernyataan tersebut.

    “Seperti biasa, pihak pendudukan (Israel) berupaya memanipulasi jadwal, daftar, dan prosedur yang telah disepakati untuk membuat pemimpin otoritas Benjamin Netanyahu tampak seolah-olah mengendalikan situasi,” ujar Qassem.

    Baca: Kelompok Hamas tuntut jaminan Israel untuk akhiri perang di Gaza

    Ia menambahkan bahwa Hamas terus berkomunikasi dengan para mediator guna memastikan Israel mematuhi kesepakatan dan tidak diberi kesempatan untuk menunda pelaksanaannya.

    “Ada pembicaraan bahwa gencatan senjata akan mulai berlaku pada pukul 12.00 siang ini, namun pihak pendudukan menunda pengumumannya karena alasan internal,” katanya.

    Hamas juga mengatakan akan membutuhkan waktu setidaknya 10 hari untuk menemukan jenazah sandera Israel yang telah meninggal, lapor The Wall Street Journal, Kamis (9/10/2025) mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.

    Pada Rabu (8/10/2025), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani fase pertama perjanjian damai Gaza, yang menyepakati bahwa Hamas setuju untuk membebaskan sandera Israel dan Israel akan menarik pasukannya dari Jalur Gaza.

    Pada saat yang sama, pejabat Israel meyakini bahwa sulit bagi Hamas untuk menemukan seluruh jenazah sandera yang tersisa dan prosesnya kemungkinan bisa memakan waktu lebih dari 10 hari.

    Baca: Hamas setujui usulan Trump, tapi menolak letakkan senjata

    Adapun pembicaraan tidak langsung antara delegasi Hamas dan Israel yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Turki telah berlangsung di Mesir sejak Senin (6/10/2025).

    Pada 29 September, Trump mengumumkan rencana 20 poin untuk menyelesaikan konflik Gaza. Rencana tersebut di antaranya menyerukan gencatan senjata segera dan pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.

    Rencana itu turut menetapkan bahwa Hamas dan faksi-faksi lainnya harus melepaskan keterlibatan mereka dalam pemerintahan Gaza, yang nantinya akan dipercayakan kepada “komite teknokrat dan non -politik Palestina” yang diawasi oleh dewan internasional yang dipimpin oleh Trump.

    Pada 3 Oktober, Hamas menyatakan telah setuju untuk menyerahkan pemerintahan Jalur Gaza kepada komite Palestina berdasarkan konsensus nasional.

    Hamas juga menyatakan kesiapannya untuk membebaskan seluruh sandera Israel yang masih hidup dan menyerahkan jenazah yang sudah meninggal sesuai rencana Trump.

    Hamas juga akan berpartisipasi dalam diskusi mengenai masa depan Jalur Gaza dalam kerangka struktur lintas-Palestina.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-Sputnik/RIA Novosti-OANA

  • Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Ribuan Warga Palestina Berbondong-bondong Kembali dari Pengungsian

    Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Ribuan Warga Palestina Berbondong-bondong Kembali dari Pengungsian

    7cloud.asia – Kesepakatan gencatan senjata mulai diberlakukan di Gaza pada Kamis (9/10/2025) malam, namun tim penyelamat pada Sabtu (11/10/2025) melaporkan bahwa sekitar 9.500 warga Palestina di Jalur Gaza masih hilang.

    Perang di Gaza meletus sejak Oktober 2023. Mengakibatkan lebih dari 67.000 warga Palestina di Gaza tewas dan sekitar 170.000 lainnya terluka. Mayoritas korban adalah anak-anak dan perempuan.

    Sementara itu, bencana kelaparan akibat blokade Israel telah merenggut nyawa 460 orang, termasuk 154 anak-anak.

    Baca: Tentara Israel mulai ditarik mundur dari Gaza

    Perang juga mengakibatkan sebagian besar wilayah Gaza hancur sehingga tidak lagi layak dihuni.

    Sebelumnya pada Kamis (9/10/2025), Israel secara resmi menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menandai awal fase pertama dari rencana perdamaian yang lebih luas.

    Kesepakatan itu meliputi penghentian semua permusuhan, penarikan pasukan Israel dari Gaza, akses masuk bantuan kemanusiaan serta pertukaran tahanan.

    Baca: Hamas tolak serahkan senjata hingga terwujudnya Palestina merdeka

    Keesokan harinya, ribuan pengungsi Palestina mulai kembali ke Kota Gaza Utara yang selama ini dibombardir serangan oleh Israel.

    Berbagai sumber lokal melaporkan bahwa orang-orang mulai kembali ke rumahnya sejak Jumat (10/10/2025) pagi melalui pesisir Jalan Rashid dan Jalan Salah al-Din, dua jalan artileri utama yang membentang dari utara ke selatan Jalur Gaza.

    Para pengungsi setidaknya berjalan sejauh tujuh kilometer, dengan membawa barang seadanya, setelah mereka terpaksa meninggalkan rumah akibat serangan berulang Zionis.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA-OANA

  • Donald Trump: Israel Akan Kehilangan Dukungan AS Jika Caplok Tepi Barat

    Donald Trump: Israel Akan Kehilangan Dukungan AS Jika Caplok Tepi Barat

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan bahwa Israel akan kehilangan seluruh dukungan Amerika Serikat jika mencaplok wilayah Tepi Barat, Palestina.

    Dalam peryataan pada Kamis (23/10/2025) Trump mengatakan, pencaplokan itu tidak akan terjadi karena ia sudah berjanji kepada negara-negara Arab dan AS telah memperoleh dukungan besar dari mereka.

    “Israel akan kehilangan seluruh dukungannya dari Amerika Serikat jika itu terjadi,” katanya kepada harian Time ketika ditanya apa konsekuensinya jika Israel menganeksasi Tepi Barat.

    Trump juga mengatakan bahwa di bawah kepemimpinannya, situasi di Timur Tengah akan membaik. Namun, jika ia digantikan oleh seorang presiden yang gagal mendapatkan rasa hormat, semuanya bisa berakhir dengan mudah.

    “Jika presiden yang buruk datang, itu bisa berakhir dengan sangat mudah… Jika mereka menghormati presiden, itu akan menjadi perdamaian jangka panjang yang indah,” katanya.

    Baca: Kesepakatan gencatan senjata di Gaza

    Pada September lalu, Trump juga telah mengatakan bahwa ia tidak akan mengizinkan Israel mencaplok Tepi Barat.

    Portal Axios, yang mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah itu, melaporkan bahwa Gedung Putih telah menjelaskan kepada pemimpin Israel Benjamin Netanyahu bahwa melanjutkan konflik di Timur Tengah hanya akan membuat Israel kian terisolasi.

    Trump mengusulkan rencana perdamaian di Gaza berisi 20 poin pada 29 September, yang menyerukan gencatan senjata segera, dengan syarat pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.

    Rencana itu juga mengusulkan agar Hamas atau kelompok bersenjata Palestina lainnya tidak disertakan dalam pemerintahan baru di Jalur Gaza dan kendali wilayah itu diserahkan kepada komite teknokrat yang diawasi badan internasional pimpinan Trump.

    Baca: Pasukan Israel mulai ditarik mundur dari Gaza

    Pada 9 Oktober, Israel dan Hamas mencapai kesepakatan untuk melaksanakan tahap pertama rencana itu guna mengakhiri konflik bersenjata di Jalur Gaza yang telah berlangsung selama dua tahun.

    Pada 13 Oktober, Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani deklarasi gencatan senjata di wilayah kantong Palestina itu.

    Kesepakatan  gencatan senjata tersebut mensyaratkan Hamas untuk membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup dan telah ditahan di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023.

    Sebagai imbalannya, Israel membebaskan 1.718 tahanan Palestina dari Gaza dan 250 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Lancarkan Serangan yang Menewaskan 9 Warga Gaza

    Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Lancarkan Serangan yang Menewaskan 9 Warga Gaza

    7cloud.asia – Komitmen Israel untuk menjalankan kesepakatan gencatan senjata diragukan. Israel terus melancarkan serangan ke Gaza meski telah dicapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas.

    Sedikitnya sembilan orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Selasa malam (28/10/2025), yang menandai pelanggaran baru terhadap perjanjian gencatan senjata, kata sumber-sumber medis.

    Sebuah serangan menghantam sebuah rumah di kawasan permukiman Sabra di Kota Gaza yang berada di dalam “garis kuning” dan menewaskan empat orang, sementara beberapa lainnya hilang tertimbun reruntuhan, menurut sumber.

    “Garis kuning” mengacu pada zona di mana pasukan Israel telah menarik pasukannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata. Garis itu membentang dari Kegubernuran Gaza Utara hingga pinggiran Rafah.

    Baca: Gaza hadapi masa depan yang penuh tantangan

    Lima warga Palestina lainnya tewas ketika pasukan Israel menyerang sebuah kendaraan di Khan Younis, yang juga berada di dalam “garis kuning” di Gaza selatan.

    Tentara Israel melancarkan rentetan serangan udara dan artileri di Jalur Gaza pada Selasa (28/10/2025) setelah pemimpin Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan “serangan segera dan kuat” di wilayah kantong itu

    Netanyahu menyebut serangan ini, karena dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok Hamas.

    Menurut wartawan Anadolu, serangan udara Israel menghantam kamp pengungsi Shati di sebelah barat Kota Gaza, sementara tembakan artileri menyasar wilayah timur Deir al-Balah di Gaza tengah.

    Baca: 142 Negara akui Palestina yang merdeka

    Serangan rudal Israel, dilaporkan juga menghantam sekitar Kompleks Medis Shifa di Kota Gaza.

    Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah diberlakukan di Gaza sejak 10 Oktober berdasarkan rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.

    Fase pertama kesepakatan itu mencakup pertukaran sandera dan tahanan. Fase berikutnya adalah rekonstruksi Gaza dan pembentukan pemerintahan baru tanpa melibatkan Hamas.

    Israel telah menewaskan lebih dari 68.500 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 170.000 lainnya dalam gelombang serangan mematikan di Gaza sejak Oktober 2023.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Menlu 7 Negara Islam Bertemu Membahas Masa Depan Gaza

    7cloud.asia – Para menteri luar negeri (menlu) dari tujuh negara menggelar pertemuan di Istanbul pada Senin (3/11/2025) guna membahas upaya-upaya untuk mempertahankan gencatan senjata di Gaza.

    Pertemuan ini juga membahas rencana untuk masa depan daerah kantong tersebut, saat serangan Israel terus berlanjut meski ada gencatan senjata.

    Menlu Turki Hakan Fidan menjadi tuan rumah bagi para menlu dari Uni Emirat Arab, Indonesia, Qatar, Pakistan, Arab Saudi, dan Yordania.

    Fidan mengatakan para menteri sepakat tentang perlunya mempertahankan gencatan senjata dan mencegah kekerasan baru.

    “Semua peserta sepakat bahwa kami tidak ingin kekejaman di Gaza terulang kembali,” ujarnya kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa kelompok tersebut mendukung solusi dua negara sebagai dasar perdamaian abadi.

    Baca: Pascagencatan senjata, Gaza hadapi masa depan penuh tantangan

    Ia menuduh Israel berulang kali melanggar gencatan senjata dan memblokir bantuan kemanusiaan, yang menurutnya menyulitkan penegakannya.

    Mengenai tata kelola Gaza pascaperang, Fidan mengatakan diskusi masih berlangsung dan menekankan perlunya mencapai konsensus terlebih dahulu mengenai rancangan rencana.

    “Ini adalah proses yang sensitif, dan kita harus melanjutkannya dengan hati-hati. Setiap langkah yang diambil untuk menyelesaikan masalah Palestina seharusnya tidak menciptakan masalah struktural di masa mendatang,” ujarnya.

    Fidan mencatat bahwa ketujuh negara memiliki sikap yang sama: “Palestina harus diperintah dan diamankan oleh Palestina.”

    Baca: Israel langgar kesepakatan gencatan senjata di Gaza

    Meskipun gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober, serangan Israel terus berlanjut, menewaskan lebih dari 200 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

    Sebelumnya pada Senin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dalam pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam bahwa Hamas tampaknya menjunjung tinggi gencatan senjata, sambil menuduh Israel melanggarnya.

    “Kita dihadapkan pada pemerintahan yang, dengan berbagai dalih, telah menewaskan lebih dari 200 orang tak berdosa sejak perjanjian gencatan senjata, dan melanjutkan pendudukan serta serangannya di Tepi Barat,” kata Erdogan.

    Dia memperingatkan bahwa kekerasan yang sedang berlangsung mengancam upaya perdamaian.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua. Foto:UNRWA

  • Israel Tolak Masuknya Lebih 100 Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

    7cloud.asia – PBB mengatakan bahwa Israel menolak 107 permintaan masuknya bahan-bahan bantuan ke Jalur Gaza sejak gencatan senjata 10 Oktober. Penolakan Israel ini menghambat pasokan bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan.

    “Mitra kami melaporkan bahwa sejak gencatan senjata, otoritas Israel telah menolak 107 permintaan masuknya bantuan, termasuk selimut, pakaian musim dingin, serta peralatan dan bahan untuk memelihara dan mengoperasikan layanan air, sanitasi, dan kebersihan,” ujar juru bicara PBB Farhan Haq dalam konferensi pers Kamis (6/11/2025).

    “Hampir 90 persen dari permohonan yang ditolak ini berasal dari lebih dari 330 LSM lokal dan internasional. Lebih dari separuhnya ditolak dengan alasan organisasi-organisasi tersebut tidak berwenang membawa barang-barang bantuan ke Gaza.”

    Sembari menekankan bahwa PBB dan mitra-mitranya di lapangan “dapat berbuat lebih banyak jika hambatan-hambatan lain dihilangkan,” Haq melaporkan bahwa “beberapa barang bantuan yang ditolak masuk ke Gaza adalah barang-barang yang dianggap oleh otoritas Israel berada di luar cakupan bantuan kemanusiaan.”

    Baca: Menlu 7 Negara Islam bertemu membahas masa depan Gaza

    “Barang-barang lainnya dikategorikan sebagai barang dwiguna, mulai dari kendaraan dan suku cadangnya hingga panel surya, beberapa jenis jamban bergerak, mesin sinar-X, dan generator,” imbuhnya.

    Mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Haq mencatat bahwa “pengeboman secara terus menerus terhadap bangunan tempat tinggal warga dilaporkan setiap hari di beberapa wilayah tempat militer Israel masih dikerahkan, terutama di Khan Younis timur, Kota Gaza timur, dan Rafah.”

    Sembari mengatakan bahwa serangan Israel di dekat apa yang disebut “garis kuning” terus berlanjut sehingga menimbulkan korban jiwa, Haq menekankan bahwa “aktivitas militer ini membahayakan warga sipil, termasuk pekerja bantuan.”

    Dia mengingatkan “militer Israel tentang kewajibannya untuk terus-menerus menjaga keselamatan warga selama operasinya.”

    Baca: Pasca gencatan senjata, Gaza hadapi masa depan yang penuh tantangan

    “Garis kuning” adalah garis pertama yang ditentukan dalam fase awal perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang mulai berlaku pada 10 Oktober.

    Garis tersebut memisahkan wilayah yang masih berada di bawah kendali militer Israel di timur, dari wilayah di mana warga Palestina diizinkan untuk beraktivitas di bagian barat.

    Terkait pergerakan warga sipil yang terus berlanjut di daerah kantong tersebut, Haq melaporkan bahwa “lebih dari 680 ribu pergerakan dari selatan ke utara Gaza telah dilaporkan sejak dimulainya gencatan senjata.”

    “Sementara, hampir 113 ribu pergerakan dari barat ke timur Khan Younis juga telah dilaporkan.”

    “Namun, mitra kami menyatakan bahwa banyak pengungsi menyampaikan keinginan mereka untuk tetap tinggal di lokasi mereka saat ini karena kerusakan yang sangat luas, kurangnya alternatif, dan ketidakpastian yang terus berlanjut terhadap keselamatan dan layanan di daerah asal mereka,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu Foto: Anadolu