Tag: hamas

  • Konflik Hamas-Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Palestina

    Konflik Hamas-Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Palestina

    7cloud.asia – Serangan Israel yang telah berlangsung lebih 11 bulan meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Gaza dan menimbulkan krisis kemanusiaan.

    Israel mengatakan bahwa serangannya bertujuan untuk melenyapkan Hamas agar organisasi tersebut tidak dapat mengulangi serangan pada 7 Oktober.

    Saat itu, serangan kelompok militan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menculik 250 lainnya.

    Sejak saat itu perang antara Israel dan Hamas tak kunjung berakhir, hingga hari ini.

    Hingga hari ini, lebih dari 40.000 warga Palestina tewas, dan lebih 100.000 orang lainnya terluka, menurut pejabat kesehatan Gaza.

    Baca: Potret buram anak-anak korban perang di Gaza

    Konflik Israel dan Hamas tersebut juga menghambat pendidikan bagi anak-anak Palestina di Tepi Barat, di mana Israel juga mengintensifkan pembatasan pergerakan dan melakukan penggerebekan besar-besaran.

    Anak-anak adalah salah satu yang paling parah terdampak. Malnutrisi dan penyebaran penyakit meluas di Gaza.

    Ketika Gaza memulai tahun ajaran sekolah kedua tanpa kegiatan belajar-mengajar, sebagian besar anak-anak usia sekolah malah sibuk membantu keluarga mereka bertahan hidup di tengah serangan Israel yang menghancurkan.

    Anak-anak berjalan tanpa alas kaki melalui jalan tanah untuk membawa air dalam jeriken plastik dari titik distribusi ke keluarga mereka yang tinggal di kota-kota tenda yang dipenuhi pengungsi Palestina.

    Baca: Wabah polio mengancam anak-anak di Gaza

    Sementara itu, yang lain mengantre di dapur umum untuk mendapatkan ransum.

    Tess Ingram, juru bicara regional Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation’s Children Fund/UNICEF) mengatakan hampir semua dari 1,1 juta anak di Gaza diperkirakan memerlukan bantuan psikososial.

    “Pada hari apa pun sejak Oktober, antara 8 persen dan 20 persen sekolah di Tepi Barat ditutup,” kata Ingram. Ketika sekolah dibuka, tingkat kehadiran siswa juga berkurang karena anak-anak takut, katanya.

    Para orang tua di Gaza mengungkapkan kesulitan dalam memberikan pelajaran informal kepada anak-anak mereka di tengah kekacauan yang melanda sekitar mereka.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Di sebuah sekolah di pusat Kota Deir al-Balah, ruang kelas terlihat dipenuhi keluarga yang mengungsi.

    Cucian mereka tampak digantung di tangga luar. Jajaran tenda-tenda rombeng dari seprai dan terpal, disangga dengan batang-batang, memenuhi halaman sekolah.

    “Masa depan anak-anak hancur,” kata Umm Ahmed Abu Awja, dikelilingi oleh sembilan cucunya yang masih kecil.

    “Apa yang mereka pelajari tahun lalu benar-benar terlupakan. Jika mereka kembali ke sekolah, mereka harus memulai dari awal.”

    Sumber:VOAIndonesia

  • Hamas Sebut Israel Didukung Amerika Lakukan Pembantaian Massal di Gaza

    Hamas Sebut Israel Didukung Amerika Lakukan Pembantaian Massal di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok pejuang Palestina, Hamas, menuding Israel dengan dukungan AS melakukan pembantaian di Jabalia, Gaza utara, sebagai “balasan terhadap warga sipil tak bersenjata” di bawah perlindungan Amerika.”

    Hamas mengutuk pembantaian oleh pendudukan Israel seperti gerakan Nazi, yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan cedera di daerah permukiman Jabalia pada Jumat malam (11/10/2024).

    “Pembantaian ini merupakan kelanjutan dari genosida kriminal yang sedang berlangsung terhadap rakyat kami, yang juga dilindungi oleh Amerika,” kata Hamas dalam pernyataannya, Sabtu (12/10/2024).

    Baca: Pengungsi Gaza tak punya tempat berlindung

    Hamas lebih lanjut mengatakan bahwa serangan yang meningkat terhadap warga sipil di Jabalia ini merupakan upaya untuk menghukum penduduk atas kegigihan dan penolakan mereka terhadap pemindahan paksa.

    “Kejahatan teroris Nazi yang sedang berlangsung, yang kini memasuki tahun kedua, menunjukkan kepada dunia bahwa entitas fasis yang jahat ini haus darah dan ingin membalas dendam melalui genosida lebih lanjut terhadap rakyat kami di Gaza serta penduduk Lebanon,” ujar Hamas.

    Sumber medis di Gaza melaporkan bahwa 24 warga Palestina tewas dan sekitar 90 orang lainnya terluka dalam serangan udara Israel yang menargetkan perkumpulan warga sipil dan blok permukiman yang terdiri dari empat rumah di Jabalia pada Jumat malam.

    Baca: Dunia gagal lindungi warga sipil di Gaza

    Situasi di Jabalia sangat tegang sejak 6 Oktober, dengan tentara Israel memberlakukan pengepungan ketat di daerah tersebut, yang menyebabkan eskalasi kekerasan yang intens di Gaza utara dan beberapa bentrokan paling sengit sejak Mei.

    Serangan udara pada Jumat menandai operasi darat ketiga Israel di Jabalia sejak konflik yang sedang berlangsung meningkat pada 7 Oktober 2023, menyusul serangan sebelumnya pada November dan Desember tahun lalu.

    Israel terus melancarkan serangan brutal di Gaza menyusul serangan lintas batas oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.
    Baca: AS dan PBB desak Israel lindungi lokasi bantuan sosial di Gaza

    Menurut otoritas kesehatan Gaza, konflik Israel-Hamas elah merenggut hampir 42.200 nyawa, terutama perempuan dan anak-anak, dan telah melukai lebih dari 98.300 orang.

    Pengeboman yang terus dilancarkan Israel juga telah memaksa penduduk Gaza untuk mengungsi, di tengah krisis pangan, air bersih, dan pasokan medis akibat blokade.

    Israel saat ini menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Pemimpin Hamas, Yahya Sinwar Dikabarkan Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza Selatan

    Pemimpin Hamas, Yahya Sinwar Dikabarkan Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza Selatan

    7cloud.asia – Israel mengonfirmasi bahwa pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, yang merupakan dalang serangan 7 Oktober 2023 ke Israel, telah tewas terbunuh di Gaza.

    Sebelumnya, militer Israel membenarkan kabar kematian Yahya Sinwar melalui unggahan di platform X.

    Kepolisian Israel memeriksa bukti gigi dan DNA untuk menentukan apakah pentolan Hamas, Yahya Sinwar, target utama Israel, telah terbunuh.

    Kematiannya menjadi dorongan besar bagi militer Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah serangkaian pembunuhan terhadap para pemimpin terkemuka musuh-musuhnya dalam beberapa bulan terakhir.

    Dalam pernyataan pers hari Kamis (17/10/2024), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, setelah kematian Yahya Sinwar Hamas tidak akan lagi memerintah Gaza.

    Melalui pernyataan resmi tertulis, Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut kematian Sinwar sebagai “hari yang baik bagi Israel, Amerika Serikat dan dunia.”

    Biden mengatakan, “dengan bantuan intelijen Amerika Serikat, pasukan pertahanan Israel tanpa henti memburu para pemimpin Hamas, mengusir mereka dari tempat persembunyian dan memaksa mereka melarikan diri.”

    Penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, Jake Sullivan, yang sedang mendampingi Biden dalam perjalanan menuju Jerman, hari Kamis, menyatakan, hilangnya Sinwar dari medan tempur memang memberikan kesempatan untuk menemukan jalan keluar yang dapat membawa pulang para sandera, mengakhiri perang.

    ”Dan membawa kita ke skenario pascaperang,” ujarnya.

    Tentu masih ada aktor Hamas lain yang perlu diadili, dan ada sandera, termasuk warga Amerika, yang masih ditawan oleh teroris, kita harus menghadapi semua itu, tetapi kami yakin ada peluang baru yang ingin kami manfaatkan.”

    Sementara itu, belum ada tanggapan resmi dari Hamas, tapi sejumlah sumber di dalam kelompok tersebut mengatakan bahwa sejumlah indikasi menunjukkan bahwa Sinwar telah tewas dalam operasi militer Israel di daerah Tal El Sultan, di Gaza selatan.

    Al-Majd, situs web yang terkait dengan Hamas, yang biasanya menerbitkan isu-isu keamanan, mendesak warga Palestina untuk menunggu informasi tentang Sinwar dari kelompok itu sendiri, bukan dari media Israel, yang menurutnya bertujuan untuk menghancurkan semangat mereka.

    Para pengungsi Gaza di Khan Younis menilai kematian Sinwar tidak akan menghasilkan gencatan senjata.

    Thabet Amour mengatakan, “Mungkin ini memang akan meningkatkan pengaruh politik Netanyahu, tapi ini tidak akan menghentikan rakyat Palestina untuk melanjutkan perlawanan mereka sampai hak mereka untuk menentukan nasib sendiri (terwujud).”

    “Saya rasa ini tidak akan memengaruhi gencatan senjata, dan itu terbukti, karena (pemimpin Hizbullah) Hassan Nasrallah saja tewas dibunuh pada awal perang di Lebanon, tapi (sampai sekarang) perang di Lebanon masih berlangsung,” jelasnya.

    Sementara di Ashdod, Israel, warga terdengar bersorak-sorai dan bertepuk tangan setelah militer Israel mengonfirmasi kabar kematian Sinwar. Hal itu terekam dalam video amatir yang telah dikonfirmasi kebenarannya oleh kantor berita Reuter.

    Orang tua Omer Neutra, warga Israel-Amerika yang masih ditawan Hamas di Gaza, pada Kamis meminta pemerintah Israel untuk “melakukan segalanya yang diperlukan” untuk mencapai kesepakatan pembebasan para sandera, usai kematian Sinwar.

    Orna Neutra, ibu sandera, mengatakan, ini adalah perkembangan yang kritis dan cepat berubah karena berkaitan dengan para sandera. Nyawa mereka kini dalam bahaya yang lebih besar dari sebelumnya.

    ”Kami menyerukan kepada pemerintah Israel dan AS untuk bertindak cepat dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan para penculik.” ujarnya.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Hamas Mengonfirmasi Kematian Yahya Sinwar, Perjuangan Melawan Israel Tetap Dilanjutkan

    Hamas Mengonfirmasi Kematian Yahya Sinwar, Perjuangan Melawan Israel Tetap Dilanjutkan

    7cloud.asia – Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di televisi pada hari Jumat (18/10/2024), kepala Hamas di Gaza, Khalil Hayya, mengonfirmasi kematian pemimpin Hamas, Yahya Sinwar.

    Dalam pernyataannya, Hamas menghormati “kenangan akan martir yang gugur, Yahya Sinwar.” Menggambarkannya sebagai “teguh, berani dan tak kenal takut,” Hayya mengatakan Sinwar “mengorbankan hidupnya untuk tujuan pembebasan kita.”

    Ia menambahkan bahwa tawanan yang ditahan di Gaza tidak akan dibebaskan sampai otoritas pendudukan menghentikan serangan mereka terhadap Gaza dan menarik pasukan mereka dari daerah kantong yang terkepung itu.

    Hizbullah, dalam sebuah pernyataan, meskipun tidak menyebutkan Sinwar atau kematiannya, mengumumkan “transisi ke fase eskalasi baru dalam konfrontasi dengan musuh Israel, akan terlihat dalam perkembangan dan peristiwa beberapa hari mendatang.”

    Berbicara di Berlin pada hari Jumat (18/10/2024), Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut kematian Sinwar sebagai “momen keadilan” dengan mengatakan, “Dia bertanggung jawab atas kematian orang Amerika dan Israel, Palestina dan Jerman, dan banyak orang lainnya.”

    Namun, dia menyebutkan bahwa dia meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk “juga menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk mencari jalan menuju perdamaian, masa depan yang lebih baik di Gaza tanpa Hamas.”

    Baca: Pemimpin Hamas Yahya Sinwar dikabarkan tewas akibat serangan Israel

    Berbicara di Brussels, Jumat (18/10/2024), Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austin mengatakan, “Tentu saja ada” kesempatan di Gaza sekarang setelah Yahya Sinwar dari Hamas telah tewas.

    “Kami berharap bahwa kita dapat bekerja sama untuk memanfaatkan kesempatan itu.”

    IDF, Jumat (18/10/2024) mengumumkan mereka memanggil brigade cadangan tambahan untuk Israel utara.

    “Mobilisasi ini akan memungkinkan kelanjutan upaya perlawanan terhadap organisasi teroris Hizbullah dan tercapainya tujuan perang, termasuk pemulangan penduduk utara ke rumah mereka dengan selamat.”

    IDF juga mengatakan pada hari Jumat bahwa Brigade ke-188-nya melanjutkan aktivitas darat di Lebanon selatan.

    IDF melaporkan telah menghancurkan puluhan gudang yang penuh dengan amunisi, beberapa terowongan, dan infrastruktur musuh.

    Baca: Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh

    IDF juga melaporkan bahwa serangan udara menghancurkan markas regional Hizbullah “tempat diluncurkannya banyak (rudal) ke permukiman utara dalam beberapa bulan terakhir.”

    Militan Hamas menewaskan 1.200 orang dan menangkap sekitar 250 sandera dalam serangan teror mereka pada tanggal 7 Oktober di Israel.

    Israel mengatakan mereka yakin Hamas masih menyandera 101 orang, termasuk 35 orang yang menurut militer telah tewas.

    Kementerian kesehatan wilayah tersebut, yang tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil dalam pendataannya, menyebutkan serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 42.500 warga Palestina. Militer Israel mengatakan jumlah korban tewas mencakup ribuan militan.

    Hamas dan Hizbullah telah ditetapkan sebagai kelompok teror oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya.

    Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, hampir tiga perempat dari 2,3 juta penduduk Gaza mengungsi, dan hampir seluruh penduduk berisiko mengalami kelaparan. (Sumber: VOA Indonesia)

  • Netanyahu Hadapi Tekanan Akhiri Perang Gaza Usai Tewasnya Pemimpin Hamas

    Netanyahu Hadapi Tekanan Akhiri Perang Gaza Usai Tewasnya Pemimpin Hamas

    7cloud.asia – Terbunuhnya pemimpin Hamas Yahya Sinwar, musuh yang selalu dicari Israel, dipuji sebagai keberhasilan bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

    Namun, rakyat Israel yang semakin lelah setelah setahun berperang semakin menekan ia untuk segera mengakhiri konflik, dan menyelamatkan sandera yang masih tertawan di Gaza.

    Netanyahu menggambarkan kematian Sinwar sebagai “awal dari akhir” konflik antara Israel dan Hamas yang juga meluas hingga ke Lebanon dan Yaman.

    Menurut Netanyahu, perang akan segera berakhir jika Hamas menyerahkan senjata, dan memulangkan 101 sandera Israel, dan warga asing yang masih ditahan di Gaza.

    Kematian Sinwar menambah daftar panjang pemimpin militan Palestina dan Lebanon yang dibunuh Israel dalam beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran bahwa kesepakatan akan menguntungkan otak serangan 7 Oktober yang dipimpin Hamas terhadap Israel itu kini sirna.

    “Saya pikir apa yang kita miliki sekarang adalah kesempatan untuk menggunakan momen ini di Gaza untuk menutup garis depan di Gaza,” kata Shira Efron, Direktur Senior Riset Kebijakan di Yayasan Diane dan Guilford Glazer yang pro-Israel.

    Baca: Hamas akan lanjutkan perjuangan pasca kematian Yahya Sinwar

    “Maksud saya, Anda perlu ingat bahwa ini masuk ke dalam masyarakat Israel, mereka telah membalas dendam terhadap sang dalang, Sinwar,” katanya.

    Tanggapan Hamas atas kematian pemimpin mereka masih belum jelas. Sinwar, yang terluka parah, terekam oleh drone Israel di sebuah bangunan yang hancur di Gaza sebelum jasadnya dibawa ke Israel untuk diidentifikasi.

    Wakil Kepala Hamas, Khalil Al-Hayya, pada Jumat (18/10) mengatakan sandera Israel tidak akan dikembalikan sampai “agresi” Israel berakhir, dan pasukannya ditarik.

    Beberapa sekutu politik garis keras Netanyahu, termasuk Menteri Keuangannya Bezalel Smotrich, mengatakan Israel tidak boleh berhenti sebelum Hamas “menyerah sepenuhnya”.

    Namun, Gedung Putih menyebut kematian itu mendorong adanya potensi “titik balik” dalam perang, bahkan para pendukung kebijakan keras Israel mengakui adanya potensi konflik diakhiri.

    “Saya pikir Netanyahu mengatakan hal yang benar tadi malam. Berikan kami para sandera dan – ketika semua orang, para sandera, kembali – kami akan pergi,” kata Erez Goldman, seorang warga Yerusalem, saat ia mencerna berita tersebut keesokan harinya.

    Baca: Pemimpin Hamas Yahya Sinwar terbunuh dalam pertempuran di Gaza Selatan

    Mayoritas opini publik Israel, termasuk Netanyahu, yakin bahwa perdamaian hanya dapat dicapai jika mereka berhasil mengalahkan musuh, meskipun harus mengorbankan hubungan dengan sekutu.

    Banyak orang melihat kematian Sinwar sebagai pembenaran bagi keputusan Israel yang menolak tekanan internasional pada awal tahun ini untuk tidak mengirim pasukan darat ke Rafah.

    Pada saat itu, Rafah menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta pengungsi Palestina akibat pertempuran.

    “Ini adalah hal pertama yang terlintas dalam pikiran ketika Sinwar dibawa keluar di Rafah,” kata seorang pejabat senior pada Jumat.

    Netanyahu mengabaikan tekanan dari keluarga sandera dan pemimpin dunia selama berbulan-bulan, termasuk Presiden Amerika Serikat Joe Biden, agar mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

    Pada Jumat (18/10/2024) seruan untuk gencatan senjata di Gaza semakin meningkat. (Sumber: VOAIndonesia)

     

  • Pengamat: Kematian Yahya Sinwar Tak Akan Surutkan Perjuangan Hamas

    Pengamat: Kematian Yahya Sinwar Tak Akan Surutkan Perjuangan Hamas

    7cloud.asia – Pengamat Timur Tengah di Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan tewasnya pemimpin Hamas, Yahya Sinwar tak akan mematikan perjuangan mereka karena Hamas sudah terbiasa kehilangan pemimpin mereka.

    Dilansir VOA Indonesia, menurut Yon, kematian Yahya Sinwar justru akan semakin memperkuat semangat perlawanan Hamas, bukan solusi menuju perdamaian.

    Pembunuhan itu (para pemimpin Hamas), ujarnya, bukan solusi untuk menuju perdamaian tapi justru semakin menguatkan benih-benih perlawanan di kalangan hamas dan kelompok-kelompok perlawanan yang lain.

    “Karena itu bukan tanda-tanda kekalahan, hanya masalah terbunuhnya seorang pemimpin dan mereka sudah terbiasa dengan pergantian pemimpin,” katanya kepada VOA, Minggu (20/10/2024).

    Yon menunjukkan bagaimana kematian puluhan tokoh yang disebut sebagai “pemimpin senior” Hamas sejak berkecamuknya perang setahun lalu, tidak pernah memberi pukulan yang signifikan pada Hamas.

    Baca: Pasca tewasnya Yahya Sinwar, Netanyahu ditekan tuk hentikan perang di Gaza 

    Hal senada disampaikan Hasbi Aswar, pengamat hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia (UII).

    “Pertama, memang ini (kematian Yahya Sinwar) pasti akan membuat para pejuang Hamas sedikit terpukul. Tetapi Hamas terbiasa melatih banyak calon pemimpin, yang siap menggantikan jika ada pemimpin mereka yang luka atau tewas dalam pertempuran,” ujarnya.

    Hamas: Kematian Sinwar “Insentif” agar Lebih Tabah & Tekun Berjuang
    Pandangan kedua pengamat ini diperkuat dengan pernyataan salah seorang pejabat politik Hamas, Khalill Al-Hayya, dalam pesan video hari Minggu.

    Yaitu bahwa “darah yang tumpah ini akan menerangi jalan (perjuangan) dan menjadi insentif agar kami lebih tabah dan tekun; dan bahwa gerakan Hamas akan terus melanjutkan tekad para pemimpin dan martir, serta rakyat kita, demi berdirinya negara Palestina di seluruh tanah Palestina, dengan Yerusalem sebagai ibu kota. Insya Allah,” ujarnya.

    Hasbi Aswar menilai hanya ada dua hal yang dapat menghentikan perang Israel-Hamas di Gaza.

    Baca: Hamas bertekad lanjutkan perjuangan melawan pendudukan Israel

    Pertama, jika Israel memang benar-benar berhasil menahklukkan Hamas; yang hingga sekarang belum menunjukkan isyarat ke sana.

    Kedua, jika desakan publik Israel untuk menyudahi perang dan membebaskan seluruh sisa sandera terus meluas dan membuat pemerintahan Netanyahu harus menghentikan operasi militernya.

    Melihat apa yang terjadi dua bulan terakhir ini, Hasbi memproyeksikan Israel akan menyudahi perang karena desakan kuat publik.

    Yahya Sinwar dinilai sebagai tokoh radikal. Ia tidak pernah mendukung solusi dua negara, karena baginya Israel seharusnya dimusnahkan.

    Baca: Pesan Ismail Haniyeh jika seorang pemimpin gugur akan lahir penggantinya

    Pemikiran Sinwar ini berbeda dengan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh – yang dibunuh Israel pada 31 Juli lalu – yang justru membuka jalan bagi berlangsungnya perundingan dan gencatan senjata dengan syarat-syarat yang diatur Hamas.

    Namun upaya perundingan dan gencatan senjata itu menemui jalan buntu ketika Yahya Sinwar menggantikan posisi Ismail Haniyeh pasca kematiannya.

    Pasca kematian Yahya Sinwar, militer Israel menghujani Jalur Gaza dengan foto-foto jasad Sinwar sebagai simbol kemenangan.

    Pasukan Pertahanan Israel IDF juga menyebarkan lewat pesawat terbang ribuan selebaran foto jasad Sinwar dan kutipan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa “Hamas tidak lagi menguasai Gaza.”

    Selebaran itu juga disertai pesan agar Hamas segera membebaskan seluruh sisa sandera. “Barang siapa yang menyerahkan sandera dan persenjataan, akan diizinkan hidup dengan damai,” demikian kutipan di selebaran itu. (Sumber:VOAIndonesia)

  • Mahkamah Pidana Internasional Perintahkan Penangkapan Pejabat Israel dan Petinggi Hamas

    Mahkamah Pidana Internasional Perintahkan Penangkapan Pejabat Israel dan Petinggi Hamas

    7cloud.asia – Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) Kamis (21/11/2024) merilis surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mantan menteri pertahanannya Yoav Gallant, serta kepala militer Hamas, Mohammed Deif.

    ICC menyebut mereka telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan atas perang di Gaza dan serangan Oktober yang memicu serangan Israel di wilayah Palestina.

    Keputusan ini mengubah Benjamin Netanyahu dan yang lainnya menjadi tersangka yang diinginkan secara internasional dan kemungkinan akan semakin mengisolasi mereka serta mempersulit upaya menegosiasikan gencatan senjata untuk mengakhiri konflik selama 13 bulan.

    Netanyahu memecat menteri pertahanannya, Yoav Gallant, dalam pengumuman mengejutkan awal bulan ini.

    Netanyahu dan Gallant telah berulang kali berselisih selama perang di Gaza. Namun Netanyahu menghindari pemecatan saingannya.

    Baca: Para jurnalis bertaruh nyawa tuk meliput perang Gaza

    Upaya sebelumnya untuk memecat Gallant pada Maret 2023 memicu protes jalanan yang meluas terhadap Netanyahu.

    Langkah ICC tersebut telah secara teoritis membatasi pergerakan Netanyahu, karena 124 negara anggota ICC kini berkewajiban untuk menangkapnya jika berada di wilayah mereka.

    “Majelis mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk dua orang, Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant, atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang yang dilakukan setidaknya sejak 8 Oktober 2023 hingga setidaknya 20 Mei 2024, hari Ketika Jaksa Penuntut mengajukan permohonan surat perintah penangkapan,” demikian pernyataan ICC, di Den Haag.

    Netanyahu menuduh ICC menunjukkan sikap antisemitisme dengan surat perintah penangkapan tersebut.

    Ia menyebut Tindakan ICC sebagai “pengadilan Dreyfus modern,” yang merujuk pada skandal politik yang menimpa anggota militer Prancis keturunan Yahudi, Alfred Dreyfus, yang secara keliru dijatuhi vonis bersalah dan hukuman penjara, setelah dituduh berkhianat karena menjual rahasia militer ke Jerman.

    Baca: Negara-negara Arab dan Islam serukan pembekuan keanggotaan Israel di PBB

    “Keputusan Mahkamah Pidana Internasional yang sarat antisemitisme sebanding dengan pengadilan Dreyfus pada era modern – dan akan berakhir dengan cara yang sama,” kata Netanyahu dalam pernyataan tertulis.

    ICC mengatakan, surat perintah penangkapan juga dikeluarkan untuk kepala militer Hamas, Mohammed Deif.

    Israel mengatakan pada awal Agustus bahwa pihaknya telah membunuh Deif dalam sebuah serangan udara di Gaza Selatan pada bulan Juli, meski Hamas membantah kematiannya.

    Hamas menyambut baik surat perintah penangkapan ICC terhadap Netanyahu dan Gallant.

    Baca: Implementasi solusi dua negara Israel dan Palestina

    “Kami menyerukan kepada Mahkamah Pidana Internasional untuk memperluas cakupan pertanggungjawaban tersebut kepada seluruh penjahat pemimpin pendudukan,” ungkap Hamas dalam pernyataan yang diterbitkan melalui kanal Telegram gerakannya.

    Surat perintah penangkapan tersebut sebelumnya bersifat “rahasia” demi melindungi para saksi dan menjaga kelancaran penyelidikan, kata mahkamah.

    “Meski demikian, Majelis memutuskan untuk merilis informasi di bawah ini karena tindakan yang serupa dengan yang disebutkan dalam surat perintah penangkapan tersebut tampaknya masih berlangsung,” lanjut lembaga tersebut.

    “Terlebih, Majelis menganggap bahwa demi kepentingan para korban dan keluarga mereka, mereka harus diberi tahu tentang keberadaan surat perintah tersebut.”

  • AS dan Qatar: Israel dan Hamas Hampir Mencapai Kesepakatan Gencatan Senjata di Jalur Gaza

    AS dan Qatar: Israel dan Hamas Hampir Mencapai Kesepakatan Gencatan Senjata di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Amerika dan Qatar pada Selasa (14/1/2025) mengatakan bahwa perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza hampir mencapai kesepakatan setelah berbulan-bulan perundingan menemui jalan buntu.

    Namun, rincian akhir kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas masih dalam penggarapan.

    Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan dalam pidatonya di Washington, “Saya yakin kita akan mencapai gencatan senjata,”

    Ia menambahkan bahwa terserah pada Hamas untuk memberikan persetujuan akhirnya. “Itu hampir tercapai. Ini lebih dekat daripada sebelumnya.”

    Berbicara pada briefing mingguan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari menggambarkan pembicaraan yang sedang berlangsung berada pada “tahap akhir” dan pada “titik terdekat” untuk mencapai kesepakatan.

    Majed juga memperingatkan agar semua pihak tidak terlalu bersemangat sampai kesepakatan gencatan senjata tersebut diumumkan.

    Baca: Serangan Israel Lumpuhkan Rumah Sakit Terakhir di Gaza

    Qatar, Mesir dan Amerika Serikat telah memimpin upaya selama berbulan-bulan untuk mencoba menghentikan pertempuran tersebut, dan pembicaraan pada hari Selasa di Doha berfokus pada rincian terakhir dari kesepakatan tersebut.

    Hamas mengatakan pihaknya sedang menunggu peta dari Israel yang menunjukkan bagian mana dari Gaza yang akan ditarik pasukannya pada tahap awal gencatan senjata.

    Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan Israel tidak akan berkompromi soal keamanan dan akan melakukan intervensi jika melihat ancaman dari Gaza di masa depan.

    Presiden Joe Biden mengatakan pada Senin bahwa kesepakatan itu berada di ambang “keberhasilan.”

    Dalam pidatonya di Departemen Luar Negeri untuk menyoroti pencapaian kebijakan luar negerinya, Biden mengatakan kesepakatan itu akan “membebaskan para sandera, menghentikan pertempuran, memberikan keamanan kepada Israel.

    “Dan memungkinkan kami untuk secara signifikan meningkatkan bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina yang sangat menderita dalam perang yang dimulai oleh Hamas ini.”

    Baca: Kelangkaan Bahan Bakar di Gaza Akibatkan 1,2 Juta Orang Kekurangan Air

    Biden dan Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi berbicara tentang kemajuan dalam negosiasi pada hari Selasa.

    “Kedua pemimpin berkomitmen untuk tetap melakukan koordinasi erat secara langsung dan melalui tim mereka selama beberapa jam mendatang,” kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan setelah pembicaraan telepon kedua pemimpin tersebut.

    Parameter dasar proposal gencatan senjata akan melihat prosesnya berlangsung dalam beberapa tahap.

    Hamas akan membebaskan sandera yang mereka tahan sejak militan melakukan serangan terhadap Israel pada Oktober 2023, sementara otoritas Israel akan membebaskan tahanan Palestina.

    Pasukan Israel akan melakukan penarikan bertahap dari Gaza, dan beberapa warga Palestina yang mengungsi akibat konflik akan diizinkan kembali, seiring dengan peningkatan bantuan untuk warga sipil Palestina.

  • Gencatan Senjata Berlaku, Israel dan Hamas Bertukar Tahanan

    Gencatan Senjata Berlaku, Israel dan Hamas Bertukar Tahanan

    7cloud.asia – Pada Minggu (19/1/2025) atau hari pertama gencatan senjata di Gaza, Israel dan kelompok Hamas bertukar sandera.

    Hamas membebaskan tiga orang Israel yang disanderanya dan Israel membebaskan 90 orang Palestina yang dipenjarakan.

    Gencatan senjata ini menghentikan perang selama 15 bulan yang telah menghancurkan Jalur Gaza dan mengobarkan amarah di Timur Tengah.

    Gencatan tersebut memungkinkan warga Palestina untuk kembali ke permukiman-permukiman yang dibom untuk mulai membangun kembali kehidupan mereka.

    Sementara truk-truk bantuan mengirimkan bantuan yang sangat diperlukan. Di tempat lain di Gaza, massa menyambut para anggota Hamas yang muncul dari tempat persembunyian mereka.

    Kembang api diluncurkan sebagai bentuk perayaan sewaktu bus-bus yang membawa orang-orang Palestina yang dipenjarakan tiba di Ramallah, Tepi Barat, di mana ribuan orang menunggu untuk menyambut mereka.

    Baca: Pakar pesimis kesepakatan gencatan senjata terwujud penuh di Gaza

    Warga Palestina yang dibebaskan dari penjara Israel mencakup 69 perempuan dan 21 remaja lelaki dari Tepi Barat dan Yerusalem, menurut Hamas.

    Di Tel Aviv, ratusan orang Israel bersorak sorai dan menangis di sebuah lapangan di luar markas pertahanan.

    Sementara siaran langsung dari Gaza memperlihatkan tiga sandera perempuan memasuki kendaraan Palang Merah dengan dikelilingi para anggota Hamas.

    Militer Israel mengatakan Romi Gonen, Doron Steinbrecher dan Emily Damari telah bertemu kembali dengan ibu mereka dan melansir sebuah video yang memperlihatkan mereka tampak dalam keadaan sehat.

    Damar, yang kehilangan dua jari ketika ia ditembak pada hari ia diculik, tersenyum dan memeluk ibunya sambil mengangkat tangannya yang dibalut perban.

    “Saya ingin memberitahu mereka: Romi, Doron, dan Emily – seluruh bangsa memeluk kalian. Selamat datang,” kata PM Benjamin Netanyahu kepada seorang komandan melalui telepon.

    Baca: RI tekankan pentingnya pemulihan situasi di Gaza

    Di Pusat Kesehatan Sheba, mereka bertemu dengan kerabat mereka dalam pelukan panjang yang berlangsung dengan diiringi tangis hingga tawa. Damari yang tersenyum tampak berselimut bendera Israel.

    Mereka termasuk di antara lebih dari 250 orang yang diculik dan 1.200 orang yang tewas dalam serangan Hamas di Israel pada 7 Oktober 2023, kata Israel.

    Perang Gaza menewaskan lebih dari 47 ribu orang Palestina. Hampir seluruh dari 2,3 juta orang populasi Gaza kehilangan tempat tinggal. Sekitar 400 tentara Israel juga tewas.

    Gencatan senjata itu menyerukan agar pertempuran dihentikan, bantuan dikirimkan ke Gaza dan 33 dari hampir 100 orang Israel dan warga asing yang masih disandera agar dibebaskan dalam tahap pertama selama enam pekan.

    Sebaliknya Israel membebaskan hampir 2.000 orang Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Banyak di antara para sandera itu diyakini telah tewas.

  • Hamas Sebut Israel Halangi Pemulangan Pengungsi Palestina

    Hamas Sebut Israel Halangi Pemulangan Pengungsi Palestina

    7cloud.asia – Kelompok pejuang kemerdekaan Palestina, Hamas, melaporkan bahwa Israel telah menghalangi upaya pemulangan pengungsi Palestina ke Jalur Gaza bagian utara.

    Mereka menilai rezim Zionis secara terang-terangan telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang diberlakukan pekan lalu.

    Dalam wawancara dengan jaringan TV Al Araby pada Ahad, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, bahwa Israel telah menghalangi kepulangan pengungsi Palestina ke Gaza utara.

    Padahal Hamas telah memberi tahu para mediator bahwa Arbel Yehud, perempuan Israel yang ditawan kelompok itu, masih hidup.

    Hazem mendesak para mediator gencatan senjata —Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar— untuk menekan Israel agar memfasilitasi pemulangan para pengungsi ke tempat asal mereka.

    Baca: Gencatan senjata dimulai, Gaza kerahkan ribuan aparat keamanan

    Sebelumnya pada Sabtu (25/1), kantor pemimpin Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pengungsi Palestina dilarang kembali ke di Gaza utara sampai Yehud dibebaskan.

    Seorang sumber yang dekat dengan Hamas memberi tahu stasiun TV Al Jazeera Qatar bahwa kelompok itu telah menyampaikan kepada mediator bahwa Yehud akan dibebaskan pada Sabtu depan.

    Israel mengklaim Yehud adalah warga sipil, tetapi seorang sumber di Kelompok Jihad Islam Palestina mengatakan bahwa dia adalah polisi yang dilatih dalam program ruang angkasa militer Israel dan ditahan oleh sayap militer Hamas, Brigade Al Quds.

    Sumber: IRNA-OANA