Tag: sampah

  • Warga Tokyo Jepang Ini Berusaha Keras Hidup Tanpa Plastik, Caranya Bisa Ditiru

    Warga Tokyo Jepang Ini Berusaha Keras Hidup Tanpa Plastik, Caranya Bisa Ditiru

    7cloud.asia – Ini masih tentang kisah Melinda Joe, wartawan BBC news di Tokyo Jepang yang mencoba hidup tanpa menghasilkan sampah palstik.

    Melinda sudah memilih tas yang dapat digunakan kembali untuk berbelanja, jauh sebelum Jepang mulai memungut biaya untuk kantong plastik di toko ritel.

    Membawa botol air dan mengunduh aplikasi MyMizu, yang menunjukkan peta stasiun pengisian ulang di sekitar pusat kota Tokyo, membantunya menghindari membeli air dalam botol PET.

    Untuk mengurangi sampah plastik secara signifikan, ia juga fokus pada pembatasan kemasan, pertama dengan mengurangi makanan yang dibawa pulang pada waktu makan siang, yang sering kali dikemas dalam wadah plastik

    “Saya juga menghindari belanja online sebisa mungkin,” tulisnya .

    Namun, pengemasan yang berlebihan adalah hal yang lumrah di Tokyo. Pegawai toko biasanya membungkus toples kaca dengan bubble wrap atau memasukkan sayuran ke dalam kantong plastik secara otomatis saat checkout.

    Baca: Mengintip pengelolaan sampah di Jepang

    Obsesi Jepang terhadap kemasan memiliki akar budaya yang berkaitan dengan konsep “presentasi dan rasa hormat, terutama saat memberi hadiah,” kata Azby Brown, penulis Just Enough: Lessons from Japan for Sustainable Living, Architecture, and Design.

    Tradisi membungkus benda menyampaikan “rasa hormat Anda terhadap orang lain”.

    Dalam konteks ritel modern, kemasan menunjukkan layanan pelanggan yang baik: “Pelanggan mengharapkannya,” kata Brown.

    “Masyarakat ingin tahu bahwa makanannya terlindungi, tidak lebam atau kotor. Anggapan kebersihan sangat penting di sini.”

    Terlepas dari niat baik saya, saya menemui kemunduran sejak awal, setelah importir bir menawarkan untuk mengirimi saya beberapa botol untuk dicoba.

    sebagai penulis makanan dan minuman, saya sering menerima sampel minuman untuk dicoba. Kotak yang tiba diisi dengan bantal kemasan plastik, setiap botol dibungkus dengan bubble wrap dua lapis.

    Baca: Membawa tumbler yang berdampak besar pada lingkungan

    Minggu tantangan saya juga bertepatan dengan gelombang panas terburuk di Jepang sejak tahun 1875 – lima hari yang mengerikan dengan suhu melebihi 35C (95F), dengan tingkat kelembapan yang sangat mencengangkan.

    Setelah dua hari memasak di dapur yang panas terik, saya menyerah. Karena takut harus repot mencuci dan memotong sayuran setiap malam, saya mulai menambah makan malam dengan makanan siap saji dari berbagai toko makanan bawa pulang di lingkungan saya.

    Ayam goreng karaage memang dijual dalam kantong kertas lilin dan pangsit gurita takoyaki dijual dalam nampan bambu berbentuk perahu yang ramahlingkungan.

    Tetapi hidangan sayuran seperti salad tahu perasan dan selada kol disajikan dalam kemasan kulit kerang plastik tersendiri.

    Barang-barang yang rawan bocor seperti kimchi, lauk khas Korea berupa sayur-sayuran yang diawetkan, dibungkus dengan plastik ekstra.

    Baca: Sistem guna ulang, cara efektif kurangi sampah plastik  

    Namun bahkan roti segar dan kue kering dari toko roti lokal saya pun terbungkus dalam kantong plastik.

    “Kami mencoba meminimalkan penggunaan plastik, namun permintaan konsumen tinggi di lingkungan lembab ini,” kata koki dan pendukung keberlanjutan Shinobu Namae, yang mengelola Bricolage Bakery di distrik Roppongi di pusat kota Tokyo.

    “Membandingkan kualitas makanan versus masalah plastik selalu menjadi masalah, namun kami mencoba menemukan keseimbangan.”

    Saat mencari restoran ramah lingkungan di sekitar kota, saya menemukan daftar restoran bawa pulang yang mengizinkan pelanggan membawa wadahnya sendiri yang disusun oleh Mona Neuhauss, pendiri No Plastic Japan.

    Sayangnya, tidak ada satu pun yang berlokasi di dekat saya. Hal yang sama juga terjadi di sejumlah toko di Tokyo yang menjual makanan berdasarkan beratnya.

    Saya sangat tertarik untuk mengunjungi Nue, supermarket tanpa limbah pertama di kota ini yang menjual makanan kering dalam jumlah besar dan produk tanpa kemasan.

    Baca: Galon sekali pakai, solusi atau masalah bagi lingkungan

    Namun, untuk sampai ke sana membutuhkan perjalanan kereta dan bus selama 52 menit dari rumah saya.

    Demikian pula perjalanan ke salah satu supermarket Aeon di Tokyo dengan skema loop deposit untuk kontainer yang dapat digunakan kembali akan memakan waktu 38 menit dengan kereta api.

    Meskipun ini memberikan pilihan bagus untuk jalan-jalan sesekali, tidak ada yang menawarkan solusi praktis untuk kebutuhan sehari-hari saya.

    Saya melakukan hampir semua belanjaan saya dengan berjalan kaki, dalam radius 800 m (2,625 kaki) dari rumah saya, jadi tidak masuk akal bagi saya untuk melakukan perjalanan keliling kota untuk membeli makanan.

    Sebaliknya, saya mulai membeli lebih banyak produk di pedagang sayur yaoya di daerah tempat tinggal saya.

    Di sana buah-buahan utuh seperti nanas dan sayuran seperti kentang dan mentimun sudah diukur sebelumnya di nampan dan dijual tanpa kemasan.

    Baca: Ekonomi sirkular, efektifkah kurangi sampah?

    Bahkan di kios sayuran kecil ini, wadah plastik masih digunakan untuk berbagai barang seperti jamu.

    Alih-alih membeli beras dari supermarket, saya malah menemukan toko beras tradisional yang belum pernah saya lihat sebelumnya yang menjual beras dalam kantong kertas berdasarkan beratnya, hanya berjarak 600 m (1,968 kaki).

    Pergi ke toko yang berbeda membutuhkan waktu ekstra, tetapi saya tidak pernah harus berjalan kaki lebih dari 20 menit ke setiap tempat.

    Saya terus berbelanja di supermarket lokal saya, yang baru-baru ini mulai menjual beberapa sayuran tanpa kemasan.

    Ketika kasir mencoba memasukkan pare dan terong saya ke dalam kantong plastik kecil atau mencoba membungkus botol dengan bubble wrap, saya dengan tegas menolaknya.

    Cara ini efektif mengurangi sampah plastik yang saya produksi. (Sumber:BBC)

     

  • Atasi Masalah Sampah, Pemprov DKI Jakarta Perbanyak TPS Reduce Reuse dan Recycle

    Atasi Masalah Sampah, Pemprov DKI Jakarta Perbanyak TPS Reduce Reuse dan Recycle

    7cloud.asia – Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat membangun Tempat Pengolah Sampah Reduce, Reuse dan Recycle (TPS 3R) berkapasitas 24 ton per hari di Rawasari.

    TPS Reduce, reuse dan recycle ini ditujukan  untuk mengolah sampah organik dan limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) dari rumah tangga.

    TPS berkonsep kurangi, pakai kembali dan daur ulang (Reduce, Reuse, Recycle/3R) ini diresmikan  Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono Jumat (26/1/2024)

    Peresmian dilakukan bersamaan dengan peresmian TPS reduce reuse dan recycle di Ciracas (Jakarta Timur) dan Rawasari (Jakarta Pusat). 

    Baca: Pemprov DKI Jakarta lebih memilih RDF ketimbang ITF dalam kelola sampah

    “Kehadiran TPS reduce reuse dan recycle ini diharapkan bisa mengolah sampah di masing-masing kecamatan,” kata Heru di sela-sela peresmian dua TPS 3R di Ciracas, Jakarta Timur.

    Menurut dia, cara kerja pengolahan sampah di TPS 3R ini seperti RDF Plant di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.

    Hanya saja, skalanya saja yang kecil, yakni tingkat kecamatan. TPS 3R ini bisa memilah sampah, mencacah dan hasilnya adalah seperti di RDF Bantargebang untuk bahan bakar dengan pembeli (offtaker) dari pabrik semen.

    Baca: RDF, cara mengubah sampah menjadi bahan bakar

    “Cuma produksinya saja lebih sedikit dibandingkan RDF Plant di TPST Bantargebang,” kata Heru.

    Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Pusat Slamet Riyadi mengatakan, dengan adanya TPS 3R ini akan berdampak signifikan untuk menurunkan permasalahan sampah yang ada di wilayah setempat.

    Slamet menyebutkan, kapasitas TPS reduce reuse dan recycle yang mencapai 24 ton per hari ini diharapkan dapat mengolah seluruh sampah yang dihasilkan wilayah tersebut.

    Baca: Bank sampah ini sukses meski tak punya kantor

    Menurutnya, wilayah Kecamatan Cempaka Putih rata-rata menghasilkan sampah sebanyak 20 hingga 25 ton per hari.

    “Untuk pengolahan sampah organiknya berkisar 500 kilogram per hari dan untuk bank sampah yang bisa kita kelola 300 kilogram per hari. Lalu untuk limbah B3 rumah tangga kurang lebih 50 kilogram per bulan,” ujar Slamet.

    Hasil dari pengolahan sampah yang dilakukan oleh TPS 3R ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar “Refuse Derived Fuel” (RDF).

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah ketinggalan jaman

    Dengan adanya TPS ini tidak ada lagi sampah yang dikirim ke Bantargebang dalam bentuk utuh melainkan hanya residu.

    “Jadi nanti tidak ada lagi sampah yang dikirim ke Bantargebang dalam bentuk utuh, melainkan hanya residunya saja. Bahan RDF-nya juga ditempatkan di sana untuk nantinya dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembuatan semen,” kata Slamet.

    Slamet berharap, dengan peresmian TPS 3R Rawasari ini dapat menurunkan permasalahan sampah khususnya di wilayah Kecamatan Cempaka Putih.

    Sumber: Antaranews.com

     

     

  • DLH DKI Jakarta Gandeng Pemasok Semen untuk Menyerap Bahan Bakar Hasil Sampah

    DLH DKI Jakarta Gandeng Pemasok Semen untuk Menyerap Bahan Bakar Hasil Sampah

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menggandeng dua pemasok (offtaker) industri semen untuk memanfaatkan bahan bakar hasil pengolahan sampah (refused derived fuel atau RDF).

    Kerja sama pemanfaatan bahan bakar sampah dituangkan dalam penandatanganan perjanjian antara Badan Layanan Umum Daerah Unit Pengelola Sampah Terpadu (BLUD UPST) dengan dua perusahaan offtaker industri semen 

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, 
    Kerja sama ini merupakan langkah maju Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam penanganan sampah.

    Menurut Asep kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari uji coba pemanfaatan bahan bakar sampah oleh Industri semen PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (PT Indocement) dan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) pada Juni 2023.

    “Ini merupakan langkah strategis dan semoga bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam pengolahan sampah,” ujar Asep, seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Alasan Pemprov DKI Jakarta lebih memilih RDF untuk mengolah sampah  

    Awal pembangunan pabrik RDF, kata Asep banyak mendapat kritikan dan pandangan negatif dari berbagai pihak.

    Namun, DLH DKI bisa membuktikan bahwa kualitas RDF yang dihasilkan sesuai dengan standar dan bisa diterima oleh industri semen.

    “Fasilitas RDF Plant berskala besar seperti ini belum ada sama sekali di Indonesia. Ujicoba atau trial and error melalui proses yang sangat panjang hingga akhirnya mencapai tahap kerja sama,” ucap Asep.

    Asep berharap dengan adanya kerja sama ini bisa membuktikan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan.

    Baca: Mengenal sistem RDF yang mengolah sampah menjadi bahan bakar

    Sementara itu, Direktur PT Indocement Hasan Imer mengapresiasi DLH DKI Jakarta yang mampu memproduksi RDF sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.

    Melalui ujicoba yang sudah berlangsung dari Juni 2023, kata Hasan, akhirnya pihaknya bersama DLH DKI bisa memulai untuk memaksimalkan penggunaan RDF secara komersial.

    Hasan menyebut kerja sama ini merupakan upaya mengurangi emisi karbon sekaligus membantu pemerintah dalam mengurangi sampah.

    “Kerja sama ini bukan hanya kesepakatan bisnis tapi sebagai komitmen bersama untuk mengurangi sampah,” kata Hasan.

    Baca: Mengenal semen ramah lingkungan

    Direktur Manufacturing SBI Soni Asrul Sani menyebut kerja sama ini merupakan wujud untuk memaksimalkan penggunaan energi alternatif yang sejalan dengan tujuan SBI.

    Bahan bakar alternatif seperti RDF ini, menurut Asrul bisa menggantikan bahan bakar utama yang selama ini digunakan.

    “Kita akan maksimalkan penggunaan RDF sebagai upaya menuju transisi ke energi alternatif,” ujar Soni.

    Permasalahan sampah di Jakarta dengan adanya kerja sama ini mulai ada titik terang.

    “Kerja sama antara pengelola sampah dengan offtaker akan menjadi penting karena ada kolaborasi yang berkesinambungan untuk masa depan yang lebih hijau, kata Soni.

    Sumber: Antaranews

  • Perkenalkan, Kamikatsu Kota Tanpa Sampah yang Menjadikan Tempat Daur Ulang Sebagai Pusat Komunitas

    Perkenalkan, Kamikatsu Kota Tanpa Sampah yang Menjadikan Tempat Daur Ulang Sebagai Pusat Komunitas

    7cloud.asia – Saat membaca sekilas membaca artikel tentang Kota Kamikatsu di Jepang yang disebut sebagai kota tanpa sampah, saya langsung penasaran.

    Google lantas mengarahkan pencarian saya terkait Kamikatsu ke sebuah bloger bernama liberty-society.com dan laman desain archdaily.com. Berikut hasil pencarian saya. 

    Kamikatsu adalah sebuah kota kecil di Prefektur Tokushima, Jepang. Kota ini telah menarik perhatian dunia sebagai salah satu kota bebas sampah. Warga kota ini dikenal dengan komitmen lingkungannya yang luar biasa.

    Kamikatsu menunjukkan bagaimana sebuah komunitas dapat hidup berkelanjutan dengan mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang hampir semua sampah yang dihasilkan.

    Archdaily.com menulis, tingkat daur ulang di Kota Kamikatsu mencapai 80 persen. Warga memilah sampah ke dalam 45 kategori, dengan barang bekas dipajang seperti toko di pusat daur ulang.

    Baca: Kenali konsep slow city yang lebih membahagiakan

    Kota Kamikatsu memulai inisiatif bebas sampah pada tahun 2003 sebagai respons terhadap meningkatnya biaya pembuangan sampah dan masalah lingkungan yang ditimbulkan.

    Semua ini berawal dari keputusan pemerintah kota untuk menghentikan pembakaran sampah terbuka, sebuah praktik yang jamak dilakukan di banyak kota Jepang pada saat itu.

    Strategi inti Kota Kamikatsu dalam mengelola sampah terletak pada pengurangan dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

    Dilanir archdaily.com, warga Kota Kamikatsu secara aktif mengurangi konsumsi barang yang menghasilkan sampah dan memprioritaskan produk dengan kemasan ramah lingkungan.

    Kegiatan daur ulang di Kota Kamikatsu berpusat di community centre yang menjadi komunitas daur ulang yang berkelanjutan dan berjanji untuk tidak menghasilkan limbah.

    Baca: Kota di dunia yang sangat mendahulukan pejalan kaki  

    Pusat community ini menjadi fasilitas inti kota Kamikatsu, dengan berbagai fungsi termasuk tempat pemilahan/pengumpulan sampah dan pusat daur ulang, serta pusat yang mempromosikan dan mengajarkan tentang gerakan tanpa sampah.

    “Kami merancang arsitektur yang tidak akan menghasilkan sampah, dapat dipilah, dan pada akhirnya dapat dirampingkan,” demikian Hiroshi Nakamura, arsitek yang mendesain pusat komunitas Kota Kamikatsu.

    Langkah pertama yang dilakukan adalah menggunakan kayu cedar yang dapat dipanen secara lokal untuk mendaur ulang sumber daya hutan sekaligus meminimalkan jejak karbon.

    “Kami memutuskan untuk menggunakan kayu gelondongan dalam bentuk aslinya karena kayu cedar yang dipotong secara berputar akan menghasilkan limbah kayu,” imbuh Hiroshi.

    Mengingat penurunan populasi dan kemajuan teknologi pada akhirnya akan mengurangi volume sampah, kami mengulangi struktur rangka kayu pada penampang melintang sehingga dapat dengan mudah diperkecil.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, ini manfaat yang dirasakan Bogota 

    Hasil akhirnya terlihat mencolok, dengan baut yang digunakan sebagai sambungan sehingga kontraktor lokal dapat menangani konstruksi/pemeliharaan, dan penyortiran menjadi lebih mudah ketika dibongkar.

    Hiroshi dan timnya memandang perlengkapan dan peralatan pertanian yang dibuang, dll. sebagai sumber daya, dan mendaur ulangnya sebagai bagian luar dan perlengkapan bangunan.

    “Kami juga menggunakan cullet botol kaca sebagai agregat teraso. Di pusat daur ulang yang dindingnya dipenuhi tumpukan biro, seorang nenek mungkin menunjuk ke laci bekas pengantinnya dan berbagi sejarah keluarga dengan cucunya,” imbuhnya.

    Dengan memvisualisasikan dan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya secara maksimal dan tidak menganggapnya sebagai “sampah”, Kamikatu mulai menghargai sesuatu dan menjadi sadar akan kekayaan gaya hidup masyarakat setempat.

    “Identitas kota diwujudkan dalam arsitektur ini agar warga kota dapat merasa bangga dengan cara hidupnya,” pungkas Hiroshi.

    Baca: Mengapa Kopenhagen selalu menjadi kota ramah lingkungan

  • Masa Darurat Sampah di Cianjur Diperpanjang

    Masa Darurat Sampah di Cianjur Diperpanjang

    7cloud.asia – Pembangunan jalan keluar masuk menuju Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Mekarsari di Kecamatan Cikalongkulong belum juga rampung. Masa darurat sampah di Cianjur, Jawa Barat diperpanjang.

    Bupati Cianjur, Herman Suherman mengatakan perpanjangan masa darurat sampah tersebut berlaku hingga 9 Februari 2024.

    Pihaknya telah menargetkan pertengahan Februari, pembangunan jalan diperkirakan telah selesai sehingga TPSA yang baru dapat digunakan.

    “Pengerasan jalan masuk TPSA pengganti masih berlumpur akibat cuaca hujan yang turun setiap hari, sehingga membuat tanahnya kembali berlumpur sehingga sulit dilakukan pengerasan,” jelas Herman seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Debat cawapres tak bahas masalah sampah

    Saat ini, lanjut Herman, proses pengerasan tengah dilakukan selama 24 jam agar dapat segera selesai.

    Dengan demikian pembuangan sampah ke TPSA baru dapat segera dilakukan. Sebab TPSA sebelumnya, TPSA  Pasirsembung sudah beralih fungsi menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH).

    Sedangkan untuk sarana dan prasarana penunjang pembuangan sampah ke TPSA baru, pihaknya mengajukan pengadaan beberapa unit dump truck ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI.

    “Kami juga menganggarkan dari Biaya Tidak Terduga (BTT) 2024 untuk pembelian mesin pencacah sampah yang akan ditempatkan di sejumlah pasar yang ada di Cianjur, guna memperkecil tonase sampah yang masuk ke TPSA baru,” ungkapnya.

    Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Cianjur adalah dengan mendorong kembali program Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang berjumlah 32 TPS2R di seluruh wilayah Cianjur.

    Baca: Pengolahan sampah menjadi energi yang terbarukan

    “Kami juga mendorong jumlah TPS3R terus bertambah, sehingga Cianjur tidak akan mengalami status darurat sampah karena TPSA sudah melebihi kapasitas, terlebih dari pengolahan secara mandiri di semua lini, dapat menjadi barang bernilai ekonomis,” paparnya.

    Sebelumnya diwartakan Pemkab  Cianjur menetapkan status darurat sampah selama 14 hari ke depan.

    TPSA lama, TPSA Pasirsembung, sudah melebihi kapasitas dan beralih fungsi menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sambil menunggu TPSA baru.

    Sebenarnya pembangunan RTH Pasirsembung sudah selesai sejak akhir tahun 2023. Tetapi hingga kini masih digunakan untuk penampungan sampah sementara karena menunggu TPSA Mekarsari dapat digunakan.

    Sedangkan lahan yang tersedia hanya dapat menampung sampah selama beberapa hari.

    Karena itu pihaknya menetapkan status darurat sampah sampai TPSA baru di Kecamatan Cikalongkulon dapat dioperasikan pada awal Februari 2024.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Atasi Masalah Sampah, Pemkab Jember Gelar Aksi Tukar Sampah dengan Bibit Pohon

    Atasi Masalah Sampah, Pemkab Jember Gelar Aksi Tukar Sampah dengan Bibit Pohon

    7cloud.asia – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember melalui Dinas Lingkungan Hidup bersama sukarelawan peduli lingkungan melakukan aksi gerakan menukar sampah plastik dengan bibit pohon.

    Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari 2024 oleh komunitas peduli lingkungan dari World Clean Up Day Indonesia (WCDI) dan para pelajar.

    Selain itu juga dilakukan doa bersama untuk korban bencana sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jatim.

    Baca: Pemkot Bandung rekrut warga untuk kelola sampah

    “Kami melibatkan para pelajar, relawan, dan para pemulung untuk kegiatan sedekah sampah plastik untuk bumi karena sampah plastik yang memiliki nilai ekonomis akan dijual dan hasilnya akan dibelikan bibit pohon untuk ditanam kembali,” kata Koordinator TPA Pakusari Dinas Lingkungan Hidup Jember RM Masbut.

    Para pelajar, relawan dan para pemulung tersebut membawa sampah yang ditukarkan dengan bibit pohon yang ditanam di TPA Pakusari agar kawasan tersebut semakin hijau dan rindang dengan banyaknya pepohonan.

    “Kami juga melakukan renungan terhadap korban bencana akibat sampah yang terjadi di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada 21 Februari 2005 yang menewaskan sekitar 157 jiwa,” tuturnya.

    Kejadian kelam di TPA Leuwigajah terjadi akibat tingginya curah hujan dan ledakan gas metana dari tumpukan sampah, sehingga ledakan tersebut menewaskan korban jiwa yang cukup banyak.

    Baca: Memilah sampah sendiri di Sukaluyu, Bandung

    Dalam kegiatan tersebut, para pemulung yang biasa bekerja di TPA Pakusari juga dilibatkan untuk menukar sampah plastik dengan bibit pohon yang ditanam di kawasan TPA setempat.

    “Untuk pertama kalinya para pemulung sampah di TPA Pakusari juga dilibatkan karena mereka yang selalu berkecimpung, memilah-milah sampah dapat mengurangi sampah hingga 7 ton per hari,” katanya.

    Ia menjelaskan persoalan sampah plastik menjadi perhatian utama karena sampah tersebut sulit terurai, sehingga masyarakat diajak memanfaatkan dan mengelola sampah plastik untuk bahan daur ulang yang bernilai ekonomis tinggi.

    Sementara salah seorang pelajar yang ikut dalam kegiatan itu, Febi Ayu Lativa mengatakan aksi penghijauan dengan menukar sampah memberikan edukasi tersendiri bagi para pelajar.

    “Kegiatan itu sangat berguna bagi kami karena mendidik generasi muda untuk bisa melestarikan lingkungan dan mengetahui bagaimana cara mengolah atau mendaur ulang sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews

  • Bioplastik dari Bonggol Jagung Hasil Inovasi Tim Bravethon UKSW Raih Hult Prize On Campus Program

    Bioplastik dari Bonggol Jagung Hasil Inovasi Tim Bravethon UKSW Raih Hult Prize On Campus Program

    7cloud.asia – Berawal dari melihat limbah jagung yang melimpah Tim Bravethon Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kemudian menciptakan bioplastik yang terbuat dari sampah bonggol jagung.

    Bioplastik dari imbah bonggol jagung ini juga yang mengantar Tim Bravethon UKSW meraih juara Hult Prize On Campus Program.

    Tim penemu bioplastik dari limbah jagung ini beranggotakan Bramadi Theodorus, Nathania Calista, dan Benita Elma, yang semuanya mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB).

    “Ide ini berawal dari tumpukan bonggol jagung yang menjadi salah satu sampah. Beranjak dari permasalahan tersebut kami berkomitmen untuk mengolah bonggol jagung menjadi produk bioplastik,” ungkap Bramadi, dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/3/2024).

    Baca: Ilmuwan AS kembangkan bioplastik dari cangkang lalat hitam  

    Ide bisnis ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik, sampah bonggol jagung, sekaligus meningkatkan pendapatan petani jagung.

    Rekan Bramadi, Nathania yang juga merupakan anggota tim Bravethon mengungkapkan produk ini diberi nama “Re-cornstic+” dan sudah memiliki prototype bioplastik.

    Campus Director Hult Prize at UKSW 2024 Natania Desyderia mengungkapkan, kegiatan Hult Prize merupakan kompetisi ide-ide bisnis berbasis internasional yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

    “Adapun rangkaian Hult Prize at UKSW 2024 berawal dari training, kemudian mentoring, trial pitch hingga final pitch untuk dinilai oleh para juri yang ahli di bidangnya masing-masing,” ujarnya.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar aman untuk lingkungan

    Sementara itu, Ryan Tuelah Bundt, S.SI., Tenaga Kependidikan Diker menerangkan bahwa program Hult Prize at UKSW sudah ada sejak tahun 2020. 

    Menurut Ryan, kegiatan ini bertujuan untuk mencari ide baru dalam pendirian startup yang mendukung SDGs.

    Empat tahapan program Hult Prize yakni OnCampus Program, Regional Summits, Global Accelerator, dan Global Finals.

    “Gelaran program ini juga sejalan dengan visi UKSW untuk menjadi entrepreneurship research university yang menciptakan wirausaha-wirausaha baru,” tuturnya.

    Baca: Bahaya mikroplastik pada kesehatan

    Pada acara ini, dihadirkan sebagai pembicara tunggal Jessi Febria Chief Technology Officer (CTO) dan Co-Founder PetaNetra, sebuah aplikasi peta bagi penyandang tunanetra.

    “Terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan untuk memulai sebuah bisnis. Pertama kita harus memiliki pondasi yang kuat, kemudian kedua harus memiliki produk yang kuat,” jelasnya. 

    Jessi menekankan bahwa seorang pebisnis pemula perlu memahami metode bisnis yang dapat mengurangi pemborosan perusahaan.

    Metode tersebut, imbuh Lusi, adalah memiliki ide untuk dieksekusi yakni dengan menerjemahkan masalah menjadi sebuah solusi.

    Baca: Daur ulang plastik di Jepang mencapai 85 persen

    “Beberapa hal lainnya adalah melakukan building product, menilai produk yang akan dipasarkan, mengumpulkan data, dan belajar dari data tersebut,” paparnya. 

  • DLH Cianjur Kembali Gunakan TPSA Mekarsari Atasi Tumpukan Sampah

    DLH Cianjur Kembali Gunakan TPSA Mekarsari Atasi Tumpukan Sampah

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat untuk mengatasi tumpukan sampah di Cianjur. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali TPSA Mekarsari.

    Kepala DLH Cianjur, Ahmad Rifai menjelaskan TPSA Mekarsari yang terletak di Kecamatan Cikalongkulon ini baru beroperasi sejak dua hari yang lalu.

    Sehingga sampah-sampah yang menumpuk di wilayah perkotaan hingga pinggiran Kota Cianjur secara bertahap mulai diangkut ke TPSA Mekarsari.

    Melansir Antaranews, sampah-sampah tersebut sebelumnya dibiarkan menumpuk dibeberapa tempat karena TPSA Mekarsari belum berfungsi dan armada truks yang sudah tua.

    Baca: Pemkab Jember gelar aksi tukar sampah

    “Sampah menumpuk di setiap sudut kota karena TPSA baru Mekarsari baru beroperasi, ditambah armada truk sampah yang dimiliki hanya beberapa yang bisa membuang sampah ke Mekarsari, sehingga pengangkutan sampah terlambat,” jelas Rifai.

    Pihaknya menargetkan dalam beberapa hari ke depan sampah yang menumpuk di sejumlah wilayah itu akan diangkut dan dibuang ke TPSA Mekarsari.

    Selain itu, lanjut Rifai, pihaknya juga akan mengajukan penambahan armada truk baru ke pemkab dan pemerintah pusat.

    Sebab, armada truks yang dimiliki pemerintah saat ini kondisinya tidak seluruhnya mampu untuk mengantarkan sampah ke TPSA Mekarsari.

    Hal ini dikarenakan jarak yang cukup jauh serta kondisi jalan yang dilalui menanjak dan menurun sehingga cukup menyulitkan.

    Baca: Masa darurat sampah di Cianjur diperpanjang

    “Kondisi armada yang sudah tua ditambah jarak dan medan yang dilalui cukup berat, membuat waktu tempuh menjadi lama. Harapan kami secepatnya tumpukan sampah di wilayah perkotaan dan jalan provinsi dapat diangkut secepatnya,” ungkapnya.

    Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Cianjur, Meidy Prasetyadi menjelaskan jarak dari kantor DLH di Kecamatan Cilaku ke TPSA Mekarsari sekitar 35 kilometer.

    Dengan jarak ini, satu armada truk bermuatan sampah membutuhkan waktu empat jam pulang pergi.

    Pihaknya mencatat saat ini DLH Cianjur memiliki 24 dump truck dan dua truck arm roll untuk armada pengangkut sampah dengan kapasitas enam ton, namun hanya 16 unit dump truck dapat mengantar sampah ke TPSA Mekarsari.

    Baca: BRIN kembangkan daur ulang batere bekas

    “Hanya belasan yang bisa membawa sampah ke TPSA Mekarsari, bahkan beberapa diantaranya sempat mogok, karena tidak kuat saat memasuki jalan menanjak. Sehingga banyak sampah yang masih menumpuk belum bisa terangkut di wilayah kota dan sejumlah wilayah lainnya,” ungkap Meidy.

    Karena itu, pihaknya mengajukan pinjaman armada pengangkut sampah ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Jakarta, diarahkan untuk meminjam ke Balai Pelaksana Penyedia Perumahan (BP2P) Jawa II.

    “(BP2P) Jabar sudah memberi kabar akan meminjamkan tiga dump truck, namun belum tahu pasti kapan dapat diambil. Kami juga masih berupaya meminjam ke pusat dan provinsi dengan harapan truk dengan kapasitas banyak,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Di Hari Peduli Sampah Nasional, ASDP Gandeng Komunitas Bersihkan Sungai Ciliwung

    Di Hari Peduli Sampah Nasional, ASDP Gandeng Komunitas Bersihkan Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2024 PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melakukan kegiatan pembersihan Sungai Ciliwung, kampanye bebas sampah, dan pelepasan ikan khas Ciliwung.

    Dalam kegiatan pembersihan Sungai Ciliwung yang diberi tajuk Bebenah Ciliwung ini PT ASDP Indonesia Ferry berkolaborasi dengan Komunitas Ciliwung Depok.

    Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin melalui keterangan tertulis pada Minggu (3/3/2024) mengatakan kegiatan bebersih Sungai Ciliwung ini merupakan wujud kepedulian terhadap lingkungan.

    “Pelaksanaan kegiatan Bebenah Ciliwung ini merupakan salah satu giat Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai wujud kepedulian ASDP terhadap lingkungan melalui penanggulangan sampah,” katanya.

    Baca:  Bioplastik dari sampah bonggol jagung

    Kegiatan Bebenah Ciliwung ini merupakan wujud aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan kota dengan menanggulangi sampah di Jakarta, khususnya di Sungai Ciliwung

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional KLHK, terdapat sekitar 17,7 juta ton sampah per tahun di 123 kabupaten/kota se-Indonesia pada tahun 2023.

    Adapun total sampah yang belum terkelola sebanyak 5,8 juta ton atau setara dengan 33,1 persen dari timbunan sampah yang ada.

    Dengan konsumsi sampah plastik sehari-hari yang terus meningkat, maka langkah bebersih Sungai Ciliwung ini ini sejalan dengan komitmen ASDP untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

    Baca: Kiat yang harus dilakukan agar transisi ke ekonomi hijau berlangsung lbih cepat

    Tujuan SDGs yang hendak dicapai dengan kegiatan ini terutama pada poin-poin yang berkaitan dengan Lingkungan dan Penggunaan Plastik.

    Dikatakan Shelvy, bagi pihaknya, HPSN bukan hanya peringatan tahunan semata namun juga sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang praktik pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

    Pada kegiatan kali ini, ASDP melibatkan komunitas serta relawan yang merupakan karyawan ASDP (Ferizyan) untuk membersihkan bantaran Sungai Ciliwung.

    “Kami juga melakukan edukasi langsung dengan menyebarluaskan poster-poster ramah lingkungan. Kami juga melepaskan ikan-ikan khas Ciliwung untuk menjaga kelestarian fauna di Sungai Ciliwung,” tambah Shelvy.

    Baca: Ekonomi hijau janjikan pendapatan lebih besar lagi berkelanjutan

    Dalam kegiatan bersih-bersih tersebut, ASDP bersama dengan komunitas Ciliwung berhasil mengumpulkan sebanyak 1.214,5 kg atau sama dengan 114 kantong yang dilakukan selama kurang lebih 45 menit.

    Para relawan yang merupakan Ferizyan tersebut juga turut berkontribusi dalam tiap program TJSL guna meningkatkan kesadaran serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat.

    Sebagai operator kapal dan pelabuhan, ASDP memiliki komitmen untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Selain melakukan aksi langsung seperti yang dilakukan hari ini, ASDP juga telah mengimplementasikan sejumlah program TJSL lainnya.

    Baca: Aksi bebersih Sungai Ledug

    Langkah ramah lingkungan itu antara lain penyediaan Reverse Vending Machine (RVM), penanaman pohon di seluruh cabang, dan Ocean Clean Up Day.

    Shelvy mengatakan, ASDP yakin dalam menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya bentuk tanggung jawab perusahaan.

    Langkah ini juga bagian dari wujud nyata ASDP untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan melindungi warisan alam bagi generasi mendatang.

    Dengan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas lokal dan pemerintah, ASDP yakin dapat mencapai tujuan ini serta memberikan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

  • Pemprov DIY Tutup TPA Piyungan per April 2024, Selanjutnya Pengelolaan Sampah Diserahkan ke Masing-masing Pemda

    Pemprov DIY Tutup TPA Piyungan per April 2024, Selanjutnya Pengelolaan Sampah Diserahkan ke Masing-masing Pemda

    7cloud.asia – Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta akan secara penuh menutup  Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Piyungan yang berada di Kabupaten Bantul pada akhir April 2024.

    Rencana penutupan TPA Piyungan diawali dengan peletakan batu pertama pembuatan pagar, Selasa (5/3/2024). Selanjutkan lokasi TPA Piyungan akan dijadikan lahan terbuka hijau.

    Pasca penutupan, pengelolaan sampah yang semula dibuang ke TPA Piyungan akan diserahkan kepada masing-massng Pemkab/Pemkot. 

    Bersamaan dengan ditutupnya TPA Piyungan, Pemprov DIY juga akan melakukan antisipasi pembukaan TPS liar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Usai melakukan peletakan batu pertama, Sekda DIY Beny Suharsono mengatakan, penutupan dilakukan karena daya tampung TPA Piyungan sudah mendekati ambang batas.

    Baca: Atasi penutupan TPA Piyungan, dosen UGM usulkan pengelolaan sampah berbayar

    Diperkirakan, TPA Piyungan hanya bisa menampung sampah sampai akhir April 2024 nanti. Melihat itu, sejumlah OPD menyarankan ditutup total.

    “Sehingga kita akan proses ini menjadi pengolahan,” kata Beny di TPA Regional Piyungan Selasa (5/3/2024) seperti dikutip Kompas.com.

    Pemda DIY akan melakukan penanaman vegetasi, sehingga lingkungan di bekas TPA Piyungan ini bisa kembali hijau. Saat ini tumpukan sampah di TPA Piyungan sudah menggunung, seperti bukit batu.

    Dilansir Kompas.com, tumpukan sampah di TPA Piyungan sudah ditutup dengan tanah, dan sekitarnya sudah berubah menjadi hijau.

    Beny menyebut, setelah penutupan tidak akan ditinggalkan, nantinya pihak Pemda DIY akan tetap melakukan pengolahan lindi atau air resapan sampah.

    Baca: Gerakan Mbah Dirjo mampu kurangi sampah di Yogya hingga 50 persen

    Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral DIY juga sudah membeli tanah di sekitar lokasi, nantinya akan dibuat ruang terbuka hijau.

    “Lahan yang sudah dibeli Pemda DIY tanda kutip melalui Dinas PU yang lahan kita siapkan untuk lingkungan hijau,” kata dia. 

    Ia menambahkan, Pemprov DIY mengajak Sleman, Kota Yogyakarta, dan Bantul berkomitmen untuk pengelolaan sampah mandiri. Sehingga setelah April tidak ada lagi pembuangan sampah di Piyungan.

    Adapun skenarionya, jika sampai akhir April belum bisa, pengelolaan sampah di Sleman dan Bantul dilakukan oleh rumah tangga masing-masing.

    Sementara, untuk Kota Yogyakarta, dipersiapkan lahan di sekitar TPA Regional Piyungan, yang saat ini tengah dilakukan pembahasan terkait pengolahan.

    Baca: Mengenal inovasi pengelolaan sampah Mbah Dirjo yang dikembangkan Pemerintah kota Yogyakarta

    Benny menambahkan, Pemerintah Kota Yogyakarta saat sedang menggodog proses kerjasama yang menggunakan lahan di bawah itu segera bisa selesai.

    “Sehingga skenarionya pertengahan April itu sudah bisa diolah dan berdiri pemrosesan, tinggal klik dengan perangkat daerah karena izin sudah dikeluarkan, alat sudah ada tinggal berproses,” kata dia.

    Dalam sambutannya, Beny meminta komitmen semua pihak, agar pengelolaan sampah dilakukan secara maksimal sehingga tidak memicu masalah baru.

    Ia mengingatkan, persoalan sampah di Yogyakarta, meski menggunung sebentar menggegerkan nasional. Kondisinya berbeda dengan kota lain.

    “Saat ini penanganan sampah tidak lagi berkonsep mengumpulkan, diangkut lalu dibuang ke TPS. Penanganan sampah harus dimulai dari hulu hingga hilir,” kata dia.

    Baca: Kota di Jepang ini nyaris tidak menghasilkan sampah

    Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo mengatakan, penutupan TPA regional Piyungan untuk desentralisasi pengelolaan sampah di Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta berjalan.

    Adapun lahan untuk transisi di TPA Piyungan saat ini sekitar 2,5 hektar. Sedangkan kuota sampai hari ini masih 370 ton per hari.

    “Jadi nanti di akhir April, atau awal Mei sudah ditutup penuh 100 persen,” kata dia.

    Saat disinggung mengenai potensi TPS liar setelah penutupan, pihaknya mengakui potensi itu sudah ada. Pihaknya berupaya berkomunikasi dengan pihak terkait.

    “Kita sudah komunikasikan semoga ke depan tidak jadi persoalan. Yang jelas kami bersama teman-teman DLH Kabupaten bekerjasama dalam hal ini untuk bagaimana TPS yang ilegal ini bisa kita koordinasikan,” kata Kusno.