Tag: el nino

  • Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    Cuaca Makin Terik? WMO Prediksi Dunia Memasuki Era Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Cuaca terasa lebih panas akhir-akhir ini? Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi kondisi ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

    Dalam laporan Global Annual-to-Decadal Climate Update,  memprediksi suhu rata-rata global akan tetap berada pada atau mendekati level tertinggi yang pernah tercatat hingga 2030.

    WMO memperkirakan suhu rata-rata global pada periode 2026-2030 akan berada 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri (1850-1900).

    Laporan tersebut menyebutkan terdapat peluang 86 persen bahwa salah satu tahun antara 2026 hingga 2030 akan melampaui rekor panas tahun 2024 (sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat).

    Baca: Kematia Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Lebih Tinggi 10 Kali Lipat

    WMO juga memperkirakan peluang 91 persen suhu global akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius setidaknya dalam satu tahun selama periode tersebut.

    Bahkan, kemungkinan rata-rata suhu lima tahunan 2026-2030 melebihi 1,5 derajat Celsius mencapai 75 persen.

    Penulis utama laporan, Dr. Leon Hermanson, dalam rilis WMO mengatakan prediksi kemunculan fenomena El Niño pada akhir 2026 berpotensi mendorong 2027 menjadi tahun pemecahan rekor suhu global berikutnya.

    Baca: Skenario Terburuk El Nino 2026, Neraka Panas yang Mengancam

    “Ada prediksi El Niño pada akhir tahun 2026, yang meningkatkan peluang tahun berikutnya, 2027, menjadi tahun pemecahan rekor berikutnya,” kata Leon.

    Selain itu, kawasan Arktik diprediksi mengalami pemanasan jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Suhu musim dingin di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, disertai penyusutan es laut di sejumlah wilayah utama.

    WMO menegaskan bahwa peningkatan suhu sementara di atas 1,5 derajat Celsius tidak otomatis berarti target jangka panjang dalam Perjanjian Paris gagal tercapai.

    Namun, frekuensi kejadian tersebut diperkirakan akan semakin sering seiring terus meningkatnya suhu bumi akibat perubahan iklim.

    Baca: Mengenal Lebih Jauh Godzilla El Nino

    Sementara di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di Indonesia pada Agustus mendatang.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menerangkan pada musim kemarau kali ini, Indonesia akan memasuki fenomena El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat pada Juli.

    Kondisi ini memperkuat terjadinya musim kemarau hingga mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.  “Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan akan dirasakan di banyak daerah,” ungkap Faisal.

    Selanjutnya Faisal menjelaskan, sebenarnya musim kemarau telah dimulai pada April dan akan berlangsung lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

    “Musim kemarau mulai dari April, Mei hingga Juni, dan banyak wilayah masuk pada Mei,” katanya.

    Baca: BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Agustus Mendatang

    Musim kemarau pada April akan lebih dahulu terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

    Bulan-bulan selanjutnya musim kemarau mulai meluas ke Pulau Jawa, terutama wilayah pesisir dan dataran tinggi, hingga ke Sumatera bagian selatan.

    BMKG menyebut ada enam provinsi yang diprediksi paling terdampak, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

     

     

  • WMO Peringatkan El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    WMO Peringatkan El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa fenomena El Nino berpotensi kembali berkembang dalam beberapa bulan mendatang, membawa risiko cuaca lebih kering di Indonesia serta meningkatkan ancaman cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

    Badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyatakan peluang kemunculan El Nino pada periode Juni hingga Agustus mencapai 80 persen.

    Sementara itu, kemungkinan fenomena tersebut bertahan setidaknya hingga November berada di kisaran atau bahkan melebihi 90 persen.

    Menurut WMO, perkembangan El Nino dipicu oleh suhu perairan yang luar biasa hangat di kawasan Pasifik tropis. Fenomena ini diketahui memengaruhi pola suhu dan curah hujan global serta meningkatkan risiko berbagai kejadian cuaca ekstrem.

    Indonesia termasuk wilayah yang berpotensi mengalami kondisi lebih kering akibat El Nino.

    Selain Indonesia, dampak serupa diperkirakan terjadi di Australia, Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, kawasan Karibia, serta sebagian wilayah Asia Selatan.

    Baca: Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata

    WMO juga memperkirakan suhu udara pada periode Juni hingga Agustus akan berada di atas normal di hampir seluruh wilayah dunia.

    Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stres akibat panas dan mempercepat terjadinya kekeringan di daerah yang mengalami penurunan curah hujan.

    “Ilmu pengetahuan sudah sangat jelas, El Nino akan tiba di hadapan kita dalam beberapa bulan mendatang dengan tingkat kepastian 90 persen. Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pernyataan video, Selasa (2/6/2026).

    “Kondisi El Nino akan memperparah dampak dunia yang semakin menghangat. Dampaknya akan terasa lebih berat, menjangkau lebih luas, dan melintasi batas negara dengan kecepatan yang menghancurkan,” tambahnya.

    Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan dunia perlu bersiap menghadapi kemungkinan El Nino yang kuat karena fenomena tersebut dapat memperburuk kekeringan, hujan lebat, dan gelombang panas di daratan maupun lautan.

    Dunia, ujar Saulo, perlu bersiap menghadapi potensi El Nino yang kuat, yang akan memperparah kekeringan dan hujan lebat serta meningkatkan risiko gelombang panas di daratan maupun lautan.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    ”El Nino terbaru pada 2023-2024 merupakan salah satu dari lima yang terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam rekor suhu global yang terjadi pada 2024,” kata Saulo.

    Ia menambahkan bahwa prakiraan musiman yang lebih dini dan sistem peringatan awal sangat penting untuk menyelamatkan nyawa serta mengurangi dampak terhadap perekonomian dan masyarakat.

    El Nino merupakan fase hangat dari fenomena Osilasi Selatan El Nino (ENSO), yaitu pola iklim alami yang ditandai oleh suhu permukaan laut di atas rata-rata di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuator.

    Fenomena ini umumnya muncul setiap dua hingga tujuh tahun dan dapat berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan.

    Selain memicu cuaca lebih kering di sejumlah wilayah, WMO mengingatkan bahwa El Nino juga dapat meningkatkan risiko banjir di kawasan lain yang mengalami curah hujan lebih tinggi dari normal.

    Karena itu, langkah kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini dinilai penting untuk melindungi masyarakat dan mengurangi dampak ekonomi yang ditimbulkan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • El Nino Diperkirakan Akan Menguat, DPR Minta Pemerintah Perhatikan Petani

    El Nino Diperkirakan Akan Menguat, DPR Minta Pemerintah Perhatikan Petani

    7cloud.asia – Anggota Komisi IV DPR, Daniel Johan, meminta semua pihak untuk tidak meremehkan sinyal peringatan semakin menguatnya El Nino. Menurutnya, sinyal tersebut bukan sekedar peringatan ilmiah, tetapi alarm nyata bagi jutaan petani di Indonesia.

    Hal itu disampaikan Daniel Johan merespons atas peringatan yang disampaikan Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto soal fenomena El Nino yang berpotensi berkembang menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua hingga akhir 2026.

    Adapun salah satu dampak El Nino yang paling terasa nantinya ialah kekeringan dan krisis air.

    “Sinyal El Nino berpotensi menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua 2026 bukan sekadar peringatan ilmiah. Ini adalah alarm nyata bagi jutaan petani kita yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air,” jelas Daniel Johan dikutip Parlementaria, di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

    Daniel Johan mengingatkan, pengalaman pada tahun 1997–1998 soal kekeringan panjang yang membuat petani di Indonesia mengalami gagal panen.

    Maka dari itu, Ia berharap, potensi peringatan terkait semakin menguatnya El Nino di tahun 2026 tidak diabaikan semua pihak.

    “Kita tidak ingin kejadian seperti yang lampau terulang tanpa persiapan yang memadai,” imbuh politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

    Lebih lanjut, Daniel mendorong langkah konkret guna mencegah kekeringan akibat peringatan semakin menguatnya El Nino. Pertama, ungkapnya, seluruh pihak perlu mempersiapkan sumur bor di kantong pertanian rawan kekeringan.

    ”Percepatan pembangunan embung di tingkat desa dengan dukungan sumur dalam, dan penyesuaian pola tanam berbasis prakiraan BMKG,” tutur Daniel Johan.

    Tak hanya itu, Daniel meminta masyarakat maupun pemerintah untuk mengantisipasi akan kehadiran hama kuat menyerang pertanian saat kekeringan. Selaras itu, lanjutnya, ia menekankan pentingnya mewujudkan sistem manajemen air nasional berbasis siklus iklim guna menghadapi El Nino.

    “Air hujan dengan menyiapkan embung sehingga saat terjadi el nino dapat dimanfaatkan untuk meminimalisir kekeringan,” tegas dia.

    Daniel mendesak semua pihak untuk menyiapkan infrastruktur penyimpanan air yang terintegrasi dengan data iklim. Daniel menekankan, hal tersebut bisa dengan memanfaatkan teknologi digitalisasi dalam mengelola air sehingga lebih efisien.

    “Kita punya prakiraan, kita punya teknologi, (tetapi) yang dibutuhkan hanyalah political will untuk memastikan air hujan tidak mengalir sia-sia ke laut, melainkan tersimpan untuk mengairi sawah di bulan-bulan terkering,” jelasnya.

    Maka dari itu, Daniel menegaskan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar dampak El Nino bisa diantisipasi sehingga tidak berdampak terhadap petani dan sektor pangan nasional.

    “Sehingga tidak berdampak signifikan terhadap petani dan pangan nasional,” tandasnya.

  • El Niño Juga Memicu Polusi Udara yang Mengancam Kesehatan, Apa yang Perlu Disiapkan?

    El Niño Juga Memicu Polusi Udara yang Mengancam Kesehatan, Apa yang Perlu Disiapkan?

     

    7cloud.asia – Indonesia diprediksi kembali menghadapi El Niño kuat dalam waktu dekat. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

    Kemunculan El Niño di Tanah Air nyaris selalu menimbulkan dampak serupa: musim kemarau jadi lebih panjang, curah hujan berkurang, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat.

    Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa dampak El Niño tak berhenti pada persoalan cuaca dan ketersediaan air saja. Fenomena iklim ini juga menimbulkan polusi akibat perubahan dinamika atmosfer.

    Dalam strategi kesiapsiagaan bencana, pemerintah sepatutnya memperhatikan perburukan kualitas udara akibat perubahan iklim karena akan memengaruhi kesehatan masyarakat secara langsung. 

    Kadar PM2,5 meningkat selama El Niño

    Salah satu indikator utama kualitas udara adalah konsentrasi PM2,5. Partikel debu berukuran sangat kecil (kurang dari 2,5 mikrometer) ini dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru, bahkan mencapai sistem peredaran darah.

    Paparan PM2,5 telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan, asma, dan penyakit paru kronis. Lebih dari itu, PM2,5 juga bisa menyebabkan penyakit pembuluh darah-jantung, stroke, hingga kematian dini.

    Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat bertahan lama di atmosfer dan berpindah jauh dari sumber emisinya. 

    Di Asia Tenggara, kadar PM2,5 selama musim kemarau biasanya meningkat akibat kombinasi emisi kendaraan, aktivitas industri, pembakaran biomassa, dan kebakaran hutan.

    Selama episode El Niño 2023–2024 di Asia Tenggara, hampir seluruh kota besar yang kami amati memiliki kualitas udara yang tidak memenuhi pedoman harian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Di Jakarta dan Hanoi, Vietnam, misalnya, tingkat ketebalan polusi melebihi 100 mikrogram per meter kubik (µg/m³). 

    Atmosfer juga berperan kendalikan PM2,5

    Penelitian kami menunjukkan bahwa sumber emisi bukan satu-satunya faktor yang menentukan tinggi-rendahnya konsentrasi PM2,5. Kami menemukan bahwa perubahan dinamika monsun berperan penting dalam mengendalikan konsentrasi PM2,5.

    Monsun merupakan sistem sirkulasi atmosfer musiman yang memengaruhi arah dan kekuatan angin di kawasan Asia Tenggara. Dalam kondisi normal, monsun mengangkut dan menyebarkan polutan sehingga tidak menumpuk pada satu wilayah tertentu.

    Selama El Niño, perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik mengubah karakteristik monsun dan pola sirkulasi atmosfer regional. Perubahan tersebut memengaruhi kemampuan atmosfer dalam mengencerkan dan membawa polutan.

    Akibatnya, konsentrasi PM2,5 dapat meningkat bahkan ketika perubahan sumber emisi tidak terlalu besar. Dengan kata lain, kualitas udara tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak polutan dilepaskan ke atmosfer, tetapi juga bagaimana kondisi atmosfer mengendalikan pergerakan polutan tersebut.

    Gangguan kesehatan akibat polusi meningkat

    Temuan ini membantu menjelaskan mengapa beberapa wilayah di Asia Tenggara mengalami penurunan kualitas udara selama El Niño, meskipun tidak selalu disertai peningkatan emisi yang signifikan.

    Bagi masyarakat Indonesia, kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat polusi udara bersamaan dengan risiko kekeringan dan kebakaran.

    Temuan kami juga menunjukkan bahwa dampak El Niño terhadap kualitas udara tidak terbatas pada PM2,5.


    Kami melakukan penelitian di Jawa Barat selama musim kemarau 2023 yang bertepatan dengan episode El Niño.

    Hasilnya, konsentrasi nitrogen dioksida (NO2) di wilayah perkotaan tetap berada pada level tinggi sepanjang periode pengamatan dan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan.

    Kondisi atmosfer yang lebih panas dan kering selama El Niño diduga mengurangi proses pengenceran dan pembersihan polutan di udara sehingga mendukung akumulasinya.

    Akibatnya, masyarakat rentan terpapar berbagai jenis polutan udara secara bersamaan—baik partikulat maupun polutan gas—yang sama-sama berisiko menimbulkan dampak kesehatan.

     

    Pentingnya peringatan kesehatan dini

    Dari perspektif kesehatan masyarakat, peningkatan risiko paparan polutan udara selama El Niño menuntut kesiapan sistem kesehatan yang lebih adaptif.

    Fasilitas layanan kesehatan dapat mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus penyakit pernapasan dan kardiovaskular yang sering dikaitkan dengan paparan polusi udara.

    Selain itu, tenaga kesehatan di tingkat layanan primer perlu memiliki akses terhadap informasi kualitas udara yang mudah dipahami dan dapat digunakan dalam komunikasi risiko kepada masyarakat. Hal ini penting terutama bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

    Edukasi mengenai langkah perlindungan sederhana juga dapat membantu mengurangi risiko kesehatan. Contohnya, membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan memperhatikan informasi kualitas udara harian.

    Integrasi antara informasi iklim, kualitas udara, dan sistem kesehatan juga dapat mendukung kesiapsiagaan yang lebih proaktif, bukan hanya responsif.

    Karena itu, peringatan dini El Niño seharusnya tidak hanya sebatas peringatan cuaca, tetapi juga peringatan kesehatan. Semakin dini risiko kualitas udara diantisipasi, makin besar peluang untuk melindungi masyarakat dari dampak kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah.


    Putri Nilam Sari, Assistant Professor of Environmental Health, Universitas Andalas

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • BMKG Warning: Puncak Kemarau Agustus, El Nino Ancam Indonesia hingga 2027

    BMKG Warning: Puncak Kemarau Agustus, El Nino Ancam Indonesia hingga 2027

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus dan diperparah dengan fenomena El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.

    Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (10/06/2026) menjelaskan kemarau yang terjadi kali ini berpotensi lebih kering serta lebih panjang dibanding kondisi normal.

    Selanjutnya dia mengungkapkan puncak kemarau pada Agustus diprediksi terjadi di 369 Zona Musim (ZOM) atau hampir separuh wilayah Indonesia. Wilayah terdampak meliputi sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

    Baca: El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    “Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur,” jelas Faisal.

    BMKG mencatat hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM telah memasuki musim kemarau. Jumlah tersebut akan terus bertambah pada Juni dan Juli seiring meluasnya wilayah yang mengalami penurunan curah hujan.

    Baca: Mengenal Godzilla El Nino yang Landa Indonesia

    Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan kemarau tahun ini diprediksi lebih ekstrem karena dipengaruhi El Nino. BMKG memperkirakan peluang El Nino kategori moderat mencapai 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen.

    Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, gangguan pasokan air, penurunan produksi pertanian, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    BMKG meminta pemerintah daerah tidak menunggu kondisi memburuk. Sektor pangan diminta menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas yang lebih tahan kekeringan.

    Sementara sektor sumber daya air didorong memperkuat cadangan air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi.

    Baca: WMO Prediksi Dunia Masuki Era Panas Ekstrem

    Selain itu, pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi penurunan kualitas udara yang dapat memicu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama di wilayah rawan karhutla.

    BMKG menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat langkah mitigasi, termasuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional.

    “Pembaruan prediksi iklim ini diharapkan menjadi dasar penyusunan langkah antisipasi dan strategi adaptasi di daerah,” ujar Faisal.

     

  • El Niño Makin Menguat: Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    El Niño Makin Menguat: Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    7cloud.asia – Dalam pernyataannya pada Kamis (18/6/2026) Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA) menyebut El Niño terus menguat di Pasifik dan diprediksi akan meningkat ke status “sedang atau kuat” pada musim gugur ini.

    El Niño terjadi ketika suhu di Pasifik khatulistiwa 0,5°C di atas rata-rata selama beberapa bulan berturut-turut. Jika suhu permukaan laut di wilayah Pasifik yang dipantau El Niño melebihi 2°C, maka peristiwa tersebut dianggap “sangat kuat.”

    Saat ini, NOAA memprediksi peluang terjadi fenomena El Nino mencapai 63 persen.
    Fenomena iklim global ini, yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun rata-rata, dikaitkan dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur.

    Ketika ini terjadi, angin pasat timur-barat mereda, menjaga udara lebih hangat dari biasanya di bagian timur dan tengah Pasifik tropis, yang akibatnya meningkatkan suhu rata-rata global.

    Ketika dikombinasikan dengan perubahan iklim jangka panjang yang disebabkan oleh aktivitas manusia, El Nino seringkali mendorong suhu global ke rekor tertinggi.

    Gelombang panas yang berkepanjangan dan intensif selanjutnya dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan di beberapa wilayah.

    Baca: El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    Gelombang panas juga meningkatkan permintaan akan pendingin udara, yang dapat mengakibatkan lebih banyak pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan pemanasan global untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik.

    Panas ekstrem juga sangat berbahaya bagi tubuh manusia dan dapat berakibat fatal jika gejalanya tidak segera diobati. Pekerja di luar ruangan, anak-anak dan lansia, wanita hamil, mereka yang tinggal di permukiman informal, dan tunawisma sangat berisiko.

    Dua peristiwa serupa di masa lalu –pada tahun 2014-16 dan 2023-24– mengakibatkan rekor panas di seluruh dunia yang memicu peningkatan suhu global lebih lanjut.

    Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah karena kombinasi perubahan iklim jangka panjang yang disebabkan oleh manusia dan pola cuaca El Niño yang kuat.

    Kembalinya El Niño meningkatkan peluang terjadinya tahun terpanas yang memecahkan rekor – kemungkinan besar pada tahun 2027.

    Pergeseran kuat pada angin Pasifik dan suhu air biasanya juga mengakibatkan pola cuaca yang tidak menentu secara global.

    Baca: Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nyata

    Dilansir Earth.org, hal ini antara lain peningkatan kemungkinan kekeringan parah di Australia, Afrika sub-Sahara, dan Asia Tenggara, serta banjir besar di beberapa bagian selatan AS, Amerika Selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.

    Kekeringan berpotensi menghancurkan tanaman, terutama jagung, beras, dan gandum, yang memengaruhi rantai pasokan pangan global yang sudah menderita krisis pupuk akibat penutupan Selat Hormuz.

    Namun, di Amerika Serikat, kondisi basah diperkirakan akan meningkatkan produksi kedelai global.

    El Niño juga memengaruhi siklon tropis. Di cekungan Atlantik, angin yang lebih kuat biasanya menekan perkembangan badai, sementara angin yang lebih lemah dapat meningkatkan perkembangan badai di cekungan Pasifik timur dan tengah.

    Dalam prakiraan musim badai Atlantik dan Pasifik timur dan tengah yang dirilis bulan lalu, NOAA memperkirakan peluang 55 persen aktivitas badai di bawah rata-rata di Atlantik dan peluang 70 persen aktivitas di atas rata-rata di Pasifik tengah.

    Baca: Kencangkan Suara untuk Pelestarian Lingkungan

    Kondisi El Niño juga biasanya meningkatkan badai di Pasifik barat laut. Topan menempuh jalur yang lebih panjang di atas perairan selama tahun-tahun El Niño, menurut Yale Climate Connections.

    Hal ini karena air laut yang lebih hangat bergeser ke arah Pasifik Tengah, menyebabkan badai tropis terbentuk jauh lebih ke timur daripada biasanya.

    Jalur yang memanjang ini memberi lebih banyak waktu bagi badai untuk menyerap panas dan kelembapan, secara drastis meningkatkan peluangnya untuk berkembang menjadi badai besar dan dahsyat.

    El Niño cenderung menguat saat belahan bumi utara sedang menghadapi musim dingin, dengan dampak globalnya biasanya paling signifikan di musim dingin

    “Setiap El Nino tidak sama; masing-masing unik dengan jejaknya sendiri pada cuaca kita,” kata Ken Graham, Direktur Layanan Cuaca Nasional (NWS) NOAA.

    “Pemantauan tingkat lanjut dan pemahaman yang lebih baik tentang pola El Nino memungkinkan NWS untuk memprediksi dan mempersiapkan masyarakat serta mitra inti kami dengan lebih baik untuk menghadapi apa yang akan datang.”

  • Kementan Diminta Percepat Mitigasi El Nino

    Kementan Diminta Percepat Mitigasi El Nino

    7cloud.asia – Kementerian Pertanian (Kementan) diingatkan untuk mempercepat langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak El Nino pada musim kemarau 2026.

    Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR, Alex Indra Lukman antisipasi yang dilakukan sejak dini menjadi kunci menjaga produksi pangan nasional dan mencegah meluasnya gagal panen di berbagai daerah.

    Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama pejabat Eselon I Kementerian Pertanian di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026), Alex menegaskan pengalaman menghadapi El Nino pada 2015 harus menjadi pelajaran penting.

    Saat itu, luas lahan pertanian yang mengalami puso mencapai sekitar 217 ribu hektare, jauh lebih besar dibandingkan dampak El Nino pada 2023 maupun kondisi yang terjadi saat ini.

    Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memprioritaskan penguatan infrastruktur sumber daya air sebagai langkah utama menghadapi musim kemarau.

    Baca: El Niño Dikhawatirkan Akan Memicu Terciptanya Rekor Panas Baru

    “Optimalisasi infrastruktur sumber daya air, antara lain rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan dan pemanfaatan embung, sumur bor, irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, serta relokasi pompa air ke wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan juga harus diutamakan,” ujar Alex.

    Selain memperkuat infrastruktur, Alex juga menyoroti proyeksi perkembangan fenomena El Nino dan La Nina hingga Maret 2027.

    Berdasarkan data tersebut, kondisi iklim diperkirakan masih berada pada fase El Nino dengan intensitas lemah hingga sedang.

    Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat berbagai langkah mitigasi sebelum dampaknya meluas.

    Ia juga mendorong percepatan distribusi berbagai sarana produksi pertanian, terutama bagi wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan.

    Baca: WMO Peringatkan El Nino Bisa Memicu Kekeringan di Indonesia

    “Antisipasi juga diperlukan dengan cara akselerasi distribusi sarana produksi pertanian, antara lain benih atau bibit, pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pakan ternak, khususnya bagi daerah yang berisiko tinggi terdampak El Nino,” katanya.

    Di sisi lain, Alex mengingatkan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini berbasis data dari BMKG.

    Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau 2026 telah dimulai sejak April di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan secara bertahap meluas ke berbagai daerah, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.

    Menurutnya, pemetaan wilayah rawan kekeringan harus dilakukan secara cepat dan akurat agar pemerintah dapat memantau perkembangan produksi pangan nasional sekaligus mengambil langkah penanganan secara tepat waktu.

    “Memperkuat sistem peringatan dini berbasis data BMKG, dan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan secara tepat waktu, sehingga perkembangan produksi pangan nasional dapat terpantau,” pungkasnya.

  • Atasi Karhutla Akibat El Niño 2026: Kolaborasi dengan Warga Lebih Efektif Ketimbang Instruksi Terpusat

    Atasi Karhutla Akibat El Niño 2026: Kolaborasi dengan Warga Lebih Efektif Ketimbang Instruksi Terpusat

     

    7cloud.asia – Indonesia diprediksi akan memasuki fase El Niño yang cukup ekstrem, bahkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutnya Super El Niño. Efeknya sudah mulai kita alami saat ini.

    El Niño akan menyebabkan kemarau lebih kering dan panjang, sehingga berisiko meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

    Namun, dari berbagai riset terkait karhutla yang kami lakukan, El Niño hanyalah salah satu pemicu. Faktor dominan penyebab karhutla adalah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.

    Tidak ada asap, tanpa api. Masalah tata kelola lahan, kebiasaan penggunaan api untuk membuka lahan, dan kurangnya kerja sama antar pemangku kepentingan yang laten itulah yang jadi apinya.

    Riset yang kami lakukan di Kalimantan Barat dan Riau menunjukkan bahwa masalah kebakaran bisa diatasi dengan pendekatan kolaboratif, melalui proses pengambilan keputusan yang melibatkan semua kalangan, pembelajaran sosial, dan berbagi sumber daya.

    Pendekatan ini jauh lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan top-down atau instruksi terpusat yang umum dilakukan. 

    Tebas bakar penyebab karhutla

    Riset kami di Kalimantan Barat menunjukkan seluruh titik panas yang terdeteksi oleh citra satelit berada di dalam ‘enklave’. Enklave adalah area di dalam konsesi perusahaan, akan tetapi secara sosial, ekonomi, dan adat, lahan tersebut dikuasai sepenuhnya oleh masyarakat sejak lama secara turun-temurun.

    Di area tersebut, masyarakat yang secara hukum memiliki hak untuk tidak menjual lahannya kepada perusahaan masih melakukan pembukaan lahan dengan cara tebas dan bakar (slash-and-burn).

    Metode paling murah, paling cepat, dianggap bisa menyuburkan tanah, sekaligus bagian tradisi turun temurun bertani masyarakat lokal.

    Dari 20 lokasi karhutla yang kami kunjungi pada 2024 di enklave, sebanyak 16 di antaranya sudah berubah menjadi kebun campuran padi dan sawit milik masyarakat.

    Sisanya ditanam padi ladang. Hal ini memperlihatkan pola berulang: tebas, bakar, tanam, lalu diikuti pengelolaan dalam area enklave. 

    Riset kami di Riau (2015-2017) juga menunjukkan bahwa dari 12 lokasi terbakar di area gambut (hutan produksi yang terbengkalai), tujuh di antaranya sudah berubah menjadi kebun sawit milik masyarakat.

    Akan tetapi, karena tidak memiliki kepastian hak atas tanah, masyarakat menjual lahan yang sudah ditanami sawit ke elite lokal, seperti pengusaha, tengkulak, pejabat, dan politisi daerah. Jadi, manfaat ekonomi terbesar tidak dinikmati oleh masyarakat, melainkan oleh para elite yang membeli lahan tersebut.

    Masyarakat harus melakukan aktivitas ilegal. Sementara elit lokal tinggal menerima hasil beres tanpa repot-repot mengotori tangan mereka.

    Oleh karenanya, permasalahan ini tak bisa dikambing hitamkan kepada satu pihak saja. Dengan demikian, penyelesaian masalahnya juga harus dilakukan bersama-sama karena bersifat sistemik. 

    Kolaborasi adalah kunci

    Setidaknya, riset kami di Kalimantan Barat dan Riau memberikan harapan. Ketika pemerintah maupun pemegang konsesi bekerja sama dengan masyarakat, kebakaran dapat ditekan secara nyata

    Faktanya jumlah karhutla menurun tajam dibanding periode sebelum adanya kerja sama dengan masyarakat, bahkan pada periode El Niño 2019 dan 2023.

    Misalkan, kebakaran lahan gambut di Tanjung Leban Bengkalis, Riau sebelumnya tercatat lebih dari 1.600 hektare pada tahun 2015.

    Namun setelah kerja sama tersebut dilakukan setahun berselang, luas kebakaran turun drastis menjadi 15 hektare. Selanjutnya, saat El Niño 2019, hanya satu hektare lahan gambut yang terbakar.

    Beralih ke Ketapang, Kalimantan Barat. Kami menemukan kolaborasi melibatkan perusahaan sawit, pemerintah kecamatan dan desa, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), Masyarakat Peduli Api (MPA), Polsek dan Koramil, hingga Manggala Agni dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

    Kerja sama dilakukan melalui: 1) kampanye penyadaran tidak membuka lahan dengan membakar; 2) melakukan upacara siap siaga api; 3) melakukan patroli api gabungan,; dan 4) melakukan pemadaman bersama.

    Sebagai contoh, kampanye penyadaran dilakukan dengan membuat papan penanda atau sign boards, untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan membakar. Sign boards dibuat oleh perusahaan, disebarkan dan dipasang oleh Polsek, Koramil, dan Desa di lokasi strategis.

    Kampanye juga dilakukan di acara-acara desa dan adat yang dilakukan baik oleh pihak perusahaan, MPA, maupun unsur Kecamatan.

    Desa-desa membentuk MPA untuk melakukan patroli harian menggunakan sepeda motor guna memantau titik api (hotspot) dan ketersediaan air.

    Perusahaan mengundang BPBD dan Manggala Agni yang mengajarkan MPA tentang cara memadamkan api. Saat kebakaran terjadi, semua pihak bekerja dengan sigap memadamkan api dengan mesin penyedot air, mobil pemadam, dan selang air milik perusahaan.

    Di Bengkalis, Riau, masyarakat juga membentuk MPA dan Masyarakat Peduli Gambut (MPG) bekerja sama dengan kampus (Universitas Riau dan Kyoto University Jepang), Non-Government Organizations (NGOs), perusahaan kayu, dan donor internasional dari Jepang.

    Langkah pencegahan dilakukan dengan melakukan pembasahan lahan gambut (rewetting) agar tidak mudah terbakar.

    Peneliti dari Universitas Riau dan Kyoto University, Jepang, menghitung berapa jumlah volume air yang perlu dialirkan dari kubah gambut di area konsesi perusahaan.

    Ahli dari perusahaan kemudian membagikan data informasi curah hujan. Sementara kaum muda perwakilan masyarakat desa membantu para peneliti untuk memantau tinggi air di parit dan sungai.

    Peneliti dari Jepang juga memberikan pelatihan pemetaan GIS (geographic information system/Sistem Informasi Geografis) dan cara mengukur volume air tanah kepada pemuda desa. Sebagai timbal balik, masyarakat membagikan data kondisi lapangan nyata kepada para peneliti.

    Masyarakat juga ikut melakukan patroli api dan memadamkan api secara bersamaan saat terjadi kebakaran. Perusahaan memfasilitasi alat-alat sementara desa menyediakan tenaga kerja.

    Semua kerja sama itu dilakukan dengan tiga cara, yaitu pengambilan keputusan bersama, berbagai pengetahuan dan belajar bersama, dan berbagi sumber daya.

    Keberhasilan penanggulangan karhutla terbukti berhasil berkat kolaborasi antar-aktor. Pelajaran ini sepatutnya bisa direplikasi di semua daerah yang rawan terbakar saat Indonesia menghadapi El Niño sejak pertengahan tahun ini.


    Rijal Ramdani, Director Centre for Natural Resources Governance & Green Economics, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Fenomena El Nino dan Minimnya Ruang Terbuka Hijau Perburuk Panas Perkotaan

    Fenomena El Nino dan Minimnya Ruang Terbuka Hijau Perburuk Panas Perkotaan

    7cloud.asia – Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5°C, sekitar 0,5°C lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode klimatologi 1991–2020.

    Selanjutnya bulan Juni 2026 juga tercatat sebagai bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991–2020. Jumlah hari panas maupun malam yang tetap hangat (tropical nights) juga terus meningkat.

    Sekilas, kenaikan suhu ini tampak kecil. Namun demikian tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika disertai kelembapan udara yang tinggi dan aktivitas fisik di luar ruangan.

    Menurut BMKG, kondisi tersebut berpotensi semakin diperparah oleh El Niño yang diperkirakan berkembang menjadi kategori kuat pada Juli atau Agustus ini.

    Dalam Webinar yang berlangsung pekan lalu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa fenomena El Niño serta tren pemanasan global diperkirakan akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi.

    “El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas kuat. Waspada peningkatan risiko kekeringan dan dampak turunannya, suhu ekstrem, dan heatstroke, serta potensi penurunan kualitas udara akibat kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla dan akumulasi polutan yang berdampak pada kesehatan,” terangnya.

    Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan yang lebih baik, baik dari masyarakat maupun pemerintah, agar risiko kesehatan akibat paparan panas dapat diminimalkan.

    Baca: Menanam Pohon Terbukti Efektif Menurunkan Efek Pulau Panas Perkotaan

    Berbeda dengan Eropa yang mengalami gelombang panas (heatwave), Indonesia memiliki karakteristik iklim tropis yang membuat suhu udara relatif stabil sepanjang tahun.

    Namun, peningkatan suhu yang berlangsung secara bertahap dan disertai kelembapan tinggi tetap menimbulkan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.

    Ardhasena menambahkan, keberadaan laut di sekitar Indonesia berperan sebagai penyangga alami yang mencegah lonjakan suhu secara ekstrem seperti yang terjadi di kawasan subtropis.

    “Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan.” ujarnya.

    Dia memaparkan, tren pemanasan di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Data BMKG mencatat, suhu rata-rata meningkat sekitar 0,13–0,14°C per dekade.

    Menurut Ardhasena, ancaman utama di Indonesia bukanlah gelombang panas seperti di Eropa, melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus dan diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi.

    Meski peluang terjadinya gelombang panas seperti di Eropa kecil, Ardhasena menegaskan masyarakat tetap perlu mengantisipasi kondisi panas tinggi yang berlangsung secara berkelanjutan, diiringi kelembapan yang tinggi, dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh manusia.

    BMKG saat ini tengah mengembangkan sistem peringatan dini panas ekstrem yang menggabungkan indikator suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, serta radiasi matahari untuk memberikan informasi risiko kesehatan bagi masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.

    Baca: Pemerintah Dinilai Tidak Serius Tangani Pulau Panas Perkotaan

    Selain faktor kesehatan individu, risiko paparan panas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kota-kota yang dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi beton dan aspal cenderung menyerap dan menyimpan panas lebih lama.

    Kondisi ini memicu fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan), yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya dan meningkatkan risiko heat stress bagi masyarakat.

    Executive Director Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan bahwa adaptasi terhadap suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu. Cara rumah, lingkungan, dan kota dirancang turut menentukan tingkat paparan panas yang dialami warga.

    Salah satu fenomena yang mendorong peningkatan suhu adalah urban heat island (pulau panas perkotaan) yang memang spesifik terjadi di kawasan perkotaan.

    “Fenomena ini muncul akibat ekspansi kota yang ditandai dengan penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas, sehingga suhu meningkat. Di saat yang bersamaan, kondisi tersebut juga memperlambat aliran angin,” ujar Elisa

    Ia menambahkan, upaya adaptasi perlu diwujudkan melalui desain bangunan yang lebih responsif terhadap iklim, seperti penerapan pendinginan pasif, penggunaan material yang tidak menyerap panas berlebihan, serta memperbanyak vegetasi dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.

    Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu menurunkan suhu lingkungan, tetapi juga mengurangi risiko kesehatan akibat paparan panas ekstrem.

    Elisa dan Ardhasena sepakat bahwa menghadapi risiko paparan panas tidak cukup dilakukan melalui perubahan perilaku individu.

    Indonesia juga memerlukan sistem peringatan dini yang efektif, edukasi kesehatan masyarakat, serta perencanaan kota yang lebih adaptif agar dampak kesehatan akibat suhu yang terus meningkat dapat diminimalkan.

    Mereka menekankan pentingnya peningkatan literasi kesehatan masyarakat, penguatan sistem peringatan dini panas ekstrem, serta pembangunan kota yang lebih adaptif untuk melindungi masyarakat dari dampak paparan panas yang semakin meningkat.

    Baca: Wujudkan Hunian dan Kawasan Rendah Emisi Bersama BeCool

  • NTT Hadapi Krisis Air: Diperburuk El Nino dan Aktivitas Tambang

    NTT Hadapi Krisis Air: Diperburuk El Nino dan Aktivitas Tambang

     

    7cloud.asia – Tahun ini, El Niño diproyeksikan akan serius menghantam Indonesia, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu wilayah yang terpapar paling parah.

    Salah satu dampak yang paling jelas adalah krisis air. Sebelum El Niño pun, NTT bahkan sudah kekurangan air karena kondisi alamnya yang kering (semi-arid).

    Karena itu, pemerintah seharusnya fokus melindungi sumber-sumber air, termasuk penguatan terhadap kelembagaan lokal yang menjaga dan melestarikan air.

    Tetapi yang terjadi malah pertambangan semakin marak, yang
    merusak atau mengurangi sumber air, sehingga masalah krisis air semakin nyata.

    Darurat air di NTT

    Sejak 2021, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sudah meluncurkan studi resiliensi Indonesia terhadap perubahan iklim.

    Hasilnya, dari 22 kabupaten dan kota di NTT, sembilan di antaranya berkategori “super priority” dan sembilan lainnya masuk “top priority” dalam hal kerentanan air.

    Daerah-daerah “super priority” antara lain Manggarai Barat, Lembata, Timor Tengah Selatan, Malaka, Sumba Timur. Sementara daerah-daerah “top priority” antara lain Ende, Flores Timur, Sikka, Kota Kupang, Sumba Barat, Belu.

    Kategori ini berarti wilayah-wilayah ini memiliki potensi bahaya, kerentanan, dan risiko yang tinggi. Data menunjukkan bahwa 81% wilayah di NTT berisiko besar mengalami kekeringan

    Bappenas sudah memberikan beberapa rekomendasi yang perlu dilakukan pada wilayah-wilayah “super priority”, antara lain:

    (1) rehabilitasi hutan dan lahan melalui perbanyakan vegetatif,

    (2) penyediaan bibit vegetasi hutan yang berkualitas baik dan produktif,

    (3) pengembangan dan penyesuaian media penyimpanan air hujan untuk ketahanan terhadap kekeringan.

    Rekomendasi Bappenas pun sejalan dengan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN 2025-2029 yang turut memprioritaskan target swasembada air. Karena itu, RPJMN mencanangkan kegiatan prioritas utama berupa konservasi sumber daya air.

    Sayangnya, hingga kini tidak ada aksi konkret perlindungan wilayah-wilayah sumber air seperti danau, sungai, mata air dan terutama hutan dan karst yang mengatur dan menjaga ketersediaan air. Sebaliknya, sejumlah izin tambang terbit di wilayah tersebut.

    Tambang di mana-mana

    Salah satu tambang yang paling mengancam sumber air NTT saat ini adalah tambang mangan. NTT memiliki cadangan mangan yang sangat besar—mencapai lebih dari 70% dari cadangan mangan nasional. Mangan adalah bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik, panel surya, hingga turbin angin.

    Di Kabupaten Manggarai saja, setidaknya terdapat enam perusahaan tambang mangan yang beroperasi hingga tahun 2029-2032. Luas area penambangannya mencapai 4.924 hektare.

    Bahkan ada perusahaan tambang yang sudah tutup, kini dibuka kembali, seperti PT Sumber Jaya Asia (SJA).

    Perusahaan tambang mangan ini mendapat izin operasi dari Bupati Manggarai pada tahun 2007. Pada 2011, operasinya dihentikan sementara karena pemerintah Manggarai dan sejumlah organisasi masyarakat sipil menggugat perusahaan tersebut.

    Alasannya, wilayah tambangnya diduga berada di kawasan lindung yang penting untuk pencegahan bencana ataupun menjaga pasokan air.

    Namun, pada 2020, aturan berubah. Kewenangan mengeluarkan dan mengelola izin tambang berpindah dari pemerintah kabupaten ke pemerintah provinsi.

    Surat Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor B-571/MB.05/DJB.B/2022 menyebutkan beberapa IUP Mangan di NTT yang izinnya dikeluarkan oleh gubernur, salah satunya adalah PT. SJA.

    Berbekal izin dari pemerintah provinsi, PT SJA mulai bergegas membuka kembali operasinya. Adapun lokasi operasi perusahaan berdekatan dengan sumber mata air Wae Mes, yang merupakan sumber air baku untuk air bersih warga dan menopang irigasi persawahan di sekitarnya.

    Mengancam penghidupan orang banyak

    Air merupakan penopang utama untuk menghidupkan sektor unggulan NTT. Di Manggarai, misalnya, sebagai salah satu kabupaten tulang punggung ekonomi provinsi, pada 2023-2024, pendapatan asli daerah (PAD) masih didominasi oleh pertanian (antara lain jagung, kopi, mete), yakni rata-rata 20-22%.

    Sementara tambang hanya berkontribusi kurang dari 10% ABPD. Pada periode 2011-2014, ketika tambang mangan beroperasi sangat masif, pendapatan dari tambang pun tidak menyumbang duit signifikan ke kas daerah. Rata-rata per tahunnya, pendapatan NTT hanya menyumbang 7% dari APBD.

    Sektor pertanian juga menyokong ekonomi masyarakat karena dikuasai dan dijalankan oleh orang lokal dan petani kecil.

    Sementara tambang, hanya memberikan pekerjaan untuk segelintir orang dan tidak mendongkrak ekonomi regional.

    Membuka pertambangan justru akan menjadi ancaman bagi sumber-sumber air. Bahkan proses akhir hasil tambang juga membutuhkan air yang akan berkompetisi dengan kebutuhan warga saat ini.

    Pada akhirnya, kebijakan dan data sudah jelas menunjukkan bahwa NTT butuh air. Apalagi menghadapi El Niño, kebijakan yang perlu diutamakan semestinya adalah ketersediaan air, mengonservasi sumber-sumber air yang ada, dan memastikan warga mendapatkan akses air yang layak.


    Bernadinus Steni, Doctoral at IPB University, IPB University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.