Tag: lingkungan

  • KLHK: Sejumlah Spesies Baru Ditemukan di Hutan Indonesia

    KLHK: Sejumlah Spesies Baru Ditemukan di Hutan Indonesia

    7cloud.asia – Di tengah berbagai berita tak sedap soal lingkungan, kabar gembira disampaikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),yakni ditemukan spesies baru di wilayah Indonesia.

    Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) KLHK, Satyawan Pudyatmoko menyebut dua spesies flora dan satu spesies fauna baru ditemukan di Indonesia. 

    Satyawan mengatakan spesies-spesies baru itu ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia yang lingkungan nya masih terjaga.

    Salah satu spesies endemik yang berhasil ditemukan pada tahun 2022 adalah Hanguana Sitinurbayai.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Dunia

    “Ini merupakan satu-satunya spesies hanguana yang tumbuh di hutan pegunungan berlumut. Spesies ini ditemukan di Cagar Alam Gunung Nyiut, Provinsi Kalimantan Barat,” kata Satyawan, Senin (21/8/2023).

    Hanguana Sitinurbayai termasuk ke dalam famili hanguanaceae, tumbuhan endemik Kalimantan yang mampu hidup di rawa pada ketinggian 1.540 meter di atas permukaan laut.

    Spesies flora baru lain yang ditemukan adalah Bulbophyllum Wiratnoi. Spesies yang ditemukan di wilayah Sorong, Papua Barat ini sebetulnya sudah ditemukan pada 2018, tetapi baru dipublikasikan di awal 2023.

    Bulbophyllum Wiratnoi merupakan spesies anggrek dengan habitus epifit atau tumbuhan yang menumpang pada tumbuhan lain, tapi tidak mengambil unsur hara secara langsung dari inangnya.

    Baca: KLHK akui 16 hutan adat di Gunung Mas

    Tumbuhan itu ditemukan di ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dengan ketinggian 114 meter di atas permukaan laut.

    “Spesies baru fauna yang ditemukan adalah Myzomela Irianawidodoae yang ditemukan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur,” ucap Satyawan.

    Myzomela Irianawidodoae adalah satwa endemik Pulau Rote yang termasuk dalam famili meliphagidae, dengan status dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.

    Ciri-ciri burung ini adalah bagian kepala hingga dada atas dan tengkuk berwarna merah; punggung dan ekor berwarna hitam; dan sayap berwarna hitam bercampur abu-abu gelap.

    Baca: Seperti ini pendidikan yang berperan dalam pelestarian lingkungan

    “Kita berharap setelah penemuan ini ada eksplorasi dan ekspedisi lanjutan di tempat lain, sehingga akan makin banyak terkuak kekayaan hayati yang sampai saat ini belum dikenal,” ujarnya.

    Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, mengatakan lebih dari 90 spesies baru telah ditemukan dalam kurun waktu 2021-2023.

    Penemuan spesies baru itu berdasarkan eksplorasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    “Masih banyak lagi jenis tumbuhan dan satwa liar selain mikrob yang belum terindetifikasi dan tereksplorasi yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia,” ucapnya.

    Baca: KLHK gugat 22 perusahaan yang dinilai picu kebakaran hutan

    Siti menilai penemuan berbagai spesies baru dapat menjadi angin segar dan harapan bagi upaya konservasi di Indonesia.

    Penemuan itu juga menjadi salah satu indikator bahwa kondisi keanekaragaman hayati di Indonesia masih sangat melimpah.

    “Kekayaan ini merupakan anugerah yang harus dijaga. Kolaborasi dan dukungan multi pihak tentunya selalu dibutuhkan dalam menciptakan hutan lestari yang kaya akan biodiversitas,” katanya.

    Bukan hanya itu, penemuan spesies baru tersebut juga menjadi penting untuk pengetahuan alam Indonesia serta sebagai upaya pengayaan spesies dan genetik.

    Baca: Mengenang 200 tahun Alfred Wallace

    Hal ini untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat. Lalu, untuk eksplorasi sumber daya alam hayati, spesies, dan genetik yang dapat secara langsung menyejahterakan masyarakat.

    “Masyarakat makin cerdas bahwa kita punya ini dan perspektif hutan kita diperkaya oleh ilmu pengetahuan,” tandas Siti.

    Indonesia terletak di dua wilayah biogeografi Australasia dan Indomalaya serta memiliki zona transisi Wallace.

    Dengan demikian Indonesia memiliki banyak satwa endemik yang tidak dimiliki oleh negara lain. Indonesia juga merupakan habitat bagi 17 persen satwa liar dunia dengan lebih dari seribu spesies yang berbeda.

    Baca: Food estate, pelestarian atau ancaman bagi keanekaragaman hayati?

    Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amir Hamidy, mengatakan hal tersebut membuat Indonesia diberkahi zona biogeografi yang unik.

    Indonesia, ujarnya, mempunyai kekayaan endemisitas yang tinggi. Jadi kekayaan endemisitas yang tinggi belum tentu memiliki populasi yang tinggi.

    “Tapi populasinya biasanya sedikit tapi sangat unik,” katanya.

    Amir pun mengungkapkan banyak kawasan di Indonesia yang lingkunga nya masih terlindungi dan belum dieksplorasi sehingga spesies-spesies baru sangat mungkin ditemukan.

    Baca: Dilema sawit, antara ketahanan pangan dan ancaman bagi lingkungan

    “Hampir seluruh wilayah Indonesia merupakan hotspot biodiversitas. Kalau diukur dalam kekayaan biodiversitas pasti akan tinggi dalam konsep jumlah genetik maupun ekosistem,” ungkapnya

    Amir mengatakan, untuk mempercepat penemuan spesies baru, Indonesia perlu mendalami teknologi molokuler, dan memperkuat kolaborasi antar kementerian, lembaga, dan akademisi.

    Amir menambahkan eksplorasi harus terus dilakukan agar jangan sampai ada spesies baru belum ditemukan atau belum diberi nama, tapi sudah punah atau justru kita tidak tahu manfaatnya.

    “Untuk tahu manfaatnya, kita mengetahui dahulu nama dan fungsi ekologi serta fisiologi. Lalu, ke ranah peningkatan pemanfaatan yang berkesinambungan,” pungkas Amir.

    Sumber: VOA Indonesia

  • El Nino Percepat Laju Lelehnya Salju Abadi Gunung Puncak Jaya

    El Nino Percepat Laju Lelehnya Salju Abadi Gunung Puncak Jaya

    Foto: ilmugeografi.com

    7cloud.asia – Pemanasan global mengancam keberadaan salju abadi atau tutupan es di Gunung Puncak Jaya, Papua. Fenomena El Nino memperparah kondisi ini.

    Fenomena El Nino yang terjadi saat ini diperkirakan akan turut mempercepat kepunahan tutupan es di Puncak Jaya tersebut.

    Dampak El Nino pada keberadaan salju abadi di Puncak Jaya ini diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam seminar berjudul ”Salju Abadi Menjelang Kepunahan: Dampak Perubahan Iklim?” di Jakarta, Selasa (22/8/2023).

    Baca: KLHK temukan sejumlah spesies baru di hutan Indonesia

    Melelehnya salju abadi di Puncak Jaya juga mengancam ekosistem yang ada di sekitar salju abadi tersebut. 

    “Perubahan iklim juga berdampak pada kehidupan masyarakat adat setempat yang telah lama bergantung pada keseimbangan lingkungan dan sumber daya alam di wilayah tersebut,” jelas Dwikora seperti yang dilansir Antaranews.

    Dwikorita menjelaskan Indonesia menjadi salah satu lokasi unik di wilayah tropis karena memiliki salju abadi.

    Dwikorita memaparkan salju abadi di Puncak Jaya ini adalah sebuah keajaiban alam yang menarik banyak perhatian dari kalangan ilmuwan, peneliti, serta pecinta alam. 

    Baca: Mengenal hari spesies terancam punah sedunia

    Sayangnya, dalam beberapa dekade terakhir, terjadi penurunan drastis luas area salju abadi tersebut.

    Ia memaparkan, sejak tahun 2010, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG bersama Ohio State University, AS, telah melakukan studi terkait analisis paleo-klimatologi berdasarkan inti es (ice core) pada gletser Puncak Jaya.

    BMKG dengan didukung PT Freeport Indonesia kemudian terus melakukan kegiatan pemantauan secara berkala terhadap luas dan tebal gletser di Puncak
    Jaya. 

    Baca: Mengenal ekosistem lamun yang bisa jernihkan pesisir

    Hasilnya, sejak pengamatan dilakukan sampai saat ini, tutupan es di Puncak
    Jaya mengalami pencairan dan menuju kepunahan.

    Pada 2010, tebal es diperkirakan mencapai 32 meter dan laju penipisan es sebesar 1 meter per tahun terjadi pada tahun 2010-2015.

    Kemudian saat terjadi El Nino kuat pada tahun 2015-2016, penipisan es pun mencapai 5 meter per tahun. 

    Baca: Pendidikan yang memberikan solusi bagi perubahan iklim

    Dengan kondisi seperti itu, Dwikorita mengajak semua pihak perlu meningkatkan
    kesadaran tentang pentingnya menjaga dan melindungi lingkungan.

    Upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus dilakukan bersama baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta dan pihak terkait lainnya.

    Selain itu, upaya lain yang perlu dilakukan adalah pengurangan emisi Gas Rumah
    Kaca dan penerapan energi baru atau terbarukan.

    ”Kita perlu terus menjaga dan mengendalikan laju kenaikan suhu dengan cara mentransformasikan energi fosil menjadi energi yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

    Baca: Ekspor pasir laut mengancam kelestarian ekosistem pesisir

    Sebelumnya, dalam Dialog untuk Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka
    Panjang Nasional di BAPPENAS, BMKG mengimbau perlunya program yang lebih sistematis dan berkelanjutan untuk pemantauan terhadap parameter lingkungan.

    Donaldi Sukma Permana, Pakar Klimatologi BMKG yang memimpin Studi Dampak Perubahan Iklim pada Gletser di Puncak Jaya menjelaskan dalam rentang waktu tahun 2016-2022, laju penipisan es terjadi sekitar 2,5 meter per tahun.

    Sedangkan luas tutupan es pada tahun 2022 sekitar 0,23 kilometer persegi dan
    terus mengalami pencairan. Hal ini lanjut Donaldi, sebagai salah satu faktor yang
    ikut berkontribusi terhadap peningkatan tinggi muka laut secara global.

    Reporter: Nurakhmayani disarikan dari berbagai sumber

  • Merancang Koleksi Pakaian Ramah Lingkungan Lagi Berkarakter

    Merancang Koleksi Pakaian Ramah Lingkungan Lagi Berkarakter

    7cloud.asia – Cara kita berpakaian memiliki dampak yang besar untuk lingkungan. Itu sebabnya, beberapa tahun belakangan muncul tren berpakaian minimalis lewat konsep lemari pakaian kapsul.  

    Lemari pakaian kapsul adalah dasar dari koleksi pakaian minimalis yang ramah lingkungan, lagi memudahkan hidup kita sehari-hari. 

    Ketika bicara tentang lemari pakaian kapsul, banyak orang langsung berpikir tentang daftar pakaian yang penting dan harus dimiliki.

    Menurut Alessia Armenise dalam tulisannya di laman prettyslow.life hal ini lumrah, karena selama bertahun-tahun majalah ataupun pusat mode telah menjadi kiblat perempuan dunia.  

    Konsep lemari pakaian kapsul yang secara luas dikenalkan majalah perempuan memang bagus, namun menurut Alessia, perlu ditambahkan dengan kata ‘pribadi’ di sana.

    Baca: Slow fashion, alternatif solusi dari dampak fast fashion bagi lingkungan

    Mengapa? Karena tidak ada lemari kapsul standar untuk semua orang. Pertama-tama, masing-masing diri kita adalah orang yang memiliki selera dan kesukaan berbeda. Pun tidak semua orang memiliki kehidupan yang sama.

    Beberapa dari kita mungkin diharuskan mengenakan pakaian tertentu di tempat kerja, bahkan mungkin dengan warna tertentu, sementara yang lain mungkin lebih bebas dalam memilih.

    “Apapun yang kita lakukan, lemari pakaian kapsul harus dibangun berdasarkan kekhasan, kepribadian, dan kebutuhan diri kita masing-masing,” tegasnya.

    Lemari pakaian kapsul, ujar Alessia, perlu mengekspresikan visi tentang diri kita sendiri dan gaya kita – dengan mempertimbangkan komitmen hidup seseorang.

    Jika kamu mencari lemari pakaian kapsul yang sempurna di internet, kamu akan menemukan beberapa pakaian klasik yang telah sering diusulkan: blazer hitam, jumper netral, kemeja putih, dan sebagainya.

    Baca: Sisi gelap fast fashion bagi lingkungan

    Namun jika kamu tidak diharuskan mengenakan blazer untuk bekerja atau hanya tidak menyukai blazer, mengapa harus memiliki pakaian itu di lemari pakaianmu?

    “Jadi, sebelum membuat lemari pakaian kapsul yang bagus, kamu perlu memahami kebutuhanmu,” demikian saran Alessia.

    Berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui sebelum membeli koleksi pakaian kapsulmu,

    Ketahui semua pakaian yang kamu butuhkan, tuliskan hidupmu di selembar kertas.

    Tuliskan daftar aktivitas yang paling sering kamu lakukan, seperti bekerja, berenang, bermain tenis, hiking – aktivitas apapun yang menyita hidup kamu.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Setelah itu, tuliskan pakaian apa saja yang diperlukan untuk melakukan aktivitas tersebut.

    Misalnya, jika kamu mendaki setiap akhir pekan, kamu butuh sepatu dan pakaian yang disesuaikan dengan aktivitas tersebut. Jika kamu bekerja di lingkungan yang sangat formal, kamu butuh pakaian yang sangat formal.

    Buatlah peta hidup Anda dan tentukan hal minimum yang kamu butuhkan, agar dapat berfungsi dalam aktivitas pilar tersebut.

    Untuk pekerjaan yang sangat formal misalnya, butuh blazer, kemeja, sepatu yang dipoles, dan celana panjang yang bagus.

    Keempat hal tersebut memang perlu, namun mungkin perlu ditambahkan beberapa kemeja dan rok lagi untuk seminggu kerja.

    Baca: Thrifting, cara berpakaian anak muda yang ramah lingkungan

    Mulailah dari kebutuhan minimum dan bangun lemari pakaian kamu dari sana.
    Sumber: prettyslow.life, baca artikel asli di sini

     

  • Parfum Rilisan Greenpeace Ini Ingatkan Bahwa Pencemaran Lingkungan Sudah Kritis

    Parfum Rilisan Greenpeace Ini Ingatkan Bahwa Pencemaran Lingkungan Sudah Kritis

    7cloud.asia – Pada Jumat, (25/8/2023) sore di Jakarta, Greenpeace Indonesia meluncurkan sebuah produk parfum inovatif yang dilabeli “Our Earth”. Out Earth terinspirasi dari berbagai bebauan akibat pencemaran lingkungan.

    Koleksi eksklusif parfum Our Earth ini dibuat 100 persen dari bahan-bahan alami. Selama proses pembuatannya tidak ada sedikit pun tindakan yang merusak lingkungan.

    Parfum Our Earth terdiri dari tiga varian: The Peril Soil, The Smoky Air, dan The Smelly River yang masing-masing mencerminkan pencemaran pada lingkungan.

    Masing-masing terinspirasi dari aroma akibat pencemaran lingkungan yang sangat mudah kita rasakan setiap hari: aroma polusi tanah, polusi udara, dan polusi air.

    Baca: Setelah lima tahun, ini capaian Pawai Bebas Plastik 

    Parfum Our Earth ini merupakan cara Greenpeace Indonesia untuk mengingatkan masyarakat tentang kondisi kritis lingkungan.

    “Perlu dukungan dan kepedulian semua pihak untuk mengatasinya. Kita tidak bisa terus berdiam diri dan menerima pencemaran sebagai hal yang lumrah,” ujar Juru Kampanye Keadilan Perkotaan Greenpeace Indonesia, Charlie Albajili di sela acara peluncuran parfum Our Earth.  

    Charlie menjelaskan, parfum Our Earth ini dibuat dalam jumlah terbatas, tidak diperjualbelikan dan hanya digunakan sebagai media edukasi serta pengingat masyarakat agar bersama-sama lebih peduli terhadap lingkungan.

    Adalah Dedi Mahpud, guru kimia senior asal Bogor, Jawa Barat yang berada di belakang formulasi parfum Our Earth yang dirilis Greenpeace ini.

    Baca: Greenpeace sayangkan Presiden tak singgung isu lingkungan di pidato kenegaraan

    Produk parfum sebagai alat kampanye pelestarian lingkungan, bagi Greenpeace adalah yang pertama kalinya di dunia.

    Kampanye ini menjadi aktivitas inovatif Greenpeace untuk terus mengingatkan masyarakat luas dalam menjaga dan mengawasi bumi kita.

    Gabriel memaparkan, sebenarnya, pencemaran lingkungan di Indonesia sudah terjadi sejak lama.

    “Penyebabnya beragam, dari kebakaran hutan dan lahan, perilaku buang sampah sembarangan, pembuangan limbah produksi kimia dan deterjen ke tanah, mau pun ke sungai tanpa diolah terlebih dulu, hingga penggunaan plastik yang masif,” terangnya.

    Baca: Aksi keren lima anak muda asal Bandung ini layak ditiru

    Greenpeace Indonesia juga telah menempuh banyak cara agar pemerintah, korporasi, maupun masyarakat luas segera menghentikan aktivitas negatif yang mengancam kelangsungan lingkungan.

    Kampanye Greenpeace Indonesia sangat beragam, mulai dari turun ke jalan, memberi peringatan kepada pemangku kepentingan, hingga mengajukan gugatan ke pengadilan.

    Produk parfum bermerk Our Earth adalah strategi inovatif Greenpeace Indonesia untuk mengingatkan masyarakat bahwa lingkungan kita dalam kondisi kritis.

    Setiap hari, ujarnya, kita dengan mudah menemukan jejak-jejak perusakan lingkungan. Dan kita mengerti dampak-dampak yang ditimbulkan akibat pencemaran tersebut.

    Baca: Greta Thunberg berjuang untuk lingkungan sejak umur 8 tahun

    Tapi, lanjutnya, banyak orang yang menganggap seolah-olah polusi penyebab bau
    tak sedap dan berdampak buruk pada kesehatan itu sebagai hal lumrah.

    “Dengan meluncurkan parfum yang terinspirasi dari aroma sekitar kita, Greenpeace Indonesia ingin membuka mata siapa saja bahwa masalah polusi sudah menempel pada diri kita layaknya parfum yang kita gunakan setiap hari,” ujarnya.

    Buat kamu yang penasaran dengan koleksi eksklusif parfum Our Earth, segera sammbangi CGV Cinema Grand Indonesia, Jakarta.

    Parfum Our Earth ini akan dipamerkan hingga 26 Agustus 2023, mulai pukul 10.00 sampai 21.00 setiap harinya.

    Baca: Bumi butuh aksi nyatamu, yuk jadi pembela lingkungan

    Di sana kita bisa langsung mencoba mencium aroma tak sedap, yang sering kita temui saat berada di lingkungan yang tercemar.

    Parfum Our Earth ini juga akan dijadikan bahan roadshow Greenpeace ke sejumlah kampus di Indonesia. 

    Untuk dukungan pada kampanye Greenpeace Indonesia, masyarakat dapat mengakses https://act.gp/OurEarth.

  • Sejauh Mata Memandang dan Misi Chitra Soebiyakto Melestarikan Lingkungan

    Sejauh Mata Memandang dan Misi Chitra Soebiyakto Melestarikan Lingkungan

    7cloud.asia – Sejauh Mata Memandang, demikian Chitra Soebiyakto memberi nama label produk fesyen yang diciptakannya. 

    Namun, Sejauh Mata Memandang tak menghasilkan produk fesyen yang biasa-biasa saja. Ada nilai yang diperjuangkan Chitra dalam setiap piece fesyen Sejauh Mata Memandang yang dihasilkannya. 

    Sejauh Mata Memandang ingin lebih bertanggung jawab dalam berproduksi.

    “Nggak cuma bikin, pakai buang, tetapi sesirkular mungkin dalam berproduksi. Benar-benar dipikirin nanti bisa dibikin apa,” ujar Chitra saat berbicara dalam peluncuran parfum Our Earth dari Greenpeace Indonesia, Jumat (25/8/2023) di Jakarta.

    Baca: DemiBumi lahir untuk kelestarian lingkungan

    Awalnya, Sejauh Mata Memandang lebih fokus menghasilkan wastra. Lantas pada 2019 ia membaca berita tentang paus yang mati terdampar dan ditemukan berkilo-kilo plastik di perutnya.

    Kejadian itu menggerakkan Chitra untuk lebih aktif terlibat dalam aksi untuk melestarikan lingkungan. Ia menegaskan, berjuang untuk lingkungan kini adalah sebuah kebutuhan. 

    “Semua harus ikut, ini bukan tentang menjadi ‘rebel’ atau semacam pemberontakan, ini tentang upaya kita untuk bertahan hidup,” ujarnya gemas. 

    Ia menegaskan, aksi untuk lingkungan sudah tak bisa ditunda lagi karena pencemaran sudah pada titik nasir. Ini ngomongin tentang hidup kita hari ini dan besok, ujarnya, bukan tentang 2050 atau kapan.

    Baca: Mengenal konsep slow fashion

    Menengok ke belakang, Chitra telah banyak melakukan banyak aksi untuk lingkungan. Ia beberapa kali menggelar pameran yang bisa ngubah perilaku.

    “Lewat pameran itu kami tidak ingin menggurui, tapi pulang dari pameran para pengunjung akan berpikir untuk melakukan sesuatu bagi Bumi dan lingkungan,” ujarnya.

    Dalam berproduksi, Sejauh Mata Memandang konsisten dengan jalur yang dipilih yakni ramah untuk lingkungan. Kain-kainnya menggunakan katun yang mudah terbaur dengan tanah, dengan pewarnaan alami yang tidak merusak alam.

    Dalam berkarya, Chitra dan Sejauh Mata Memandang mendasarkan pada lima pilar yakni sirkulitas, transparansi dan ketertelusuran, rantai pasok beretika, memberi kembali, dan aksi iklim.

    Baca: Seperti ini dampak fast fashion pada lingkungan dan kehidupan

    “Kami tidak mengklaim diri sebagai brand yang sustainable karena apapun yang kita lakukan, baik itu bernapas, makan, atau berpakaian, pasti meninggalkan jejak karbon,” tuturnya.

    Namun, Sejauh Mata Memandang selalu berusaha untuk lebih bertanggung jawab dalam berproduksi. Dimulai dari proses desain, produksi, dipakai, sampai pakaian tidak dipakai lagi.

    “Kami memikirkan supaya pakaian tidak menjadi sampah abadi dan bisa didaur ulang. Istilahnya, kami sudah memikirkan sesuatu yang sifatnya circular,” katanya. 

    Baca: Kiat merancang koleksi pakaian ala slow fashion

    Komitmen pada kelestarian lingkungan menghubungkan Chitra dengan komunitas yang punya minat yang sama.

    Komitmen Sejauh Mata Memandang mempertemukan dunia fesyen dan kepedulian terhadap lingkungan melalui kerja sama dengan Yayasan HAkA dan Forum Konservasi Leuser untuk melindungi dan merevitalisasi Kawasan Ekosistem Leuser yang penting di Aceh Timur.

    Kelompok ini bekerja keras bersama #SahabatSejauh yang berdedikasi untuk melindungi habitat hewan yang terancam punah seperti gajah Sumatera, harimau, badak, dan orangutan.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Kolaborasi dengan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) terbangun dalam bentuk penanaman satu pohon di Leuser dari setiap produk Sejauh Mata Memandang yang terjual.

    Program bertajuk Trees for Better Earth tersebut dimulai pada 2020, dan hingga kini sekitar 8.000 pohon telah ditanam untuk menghijaukan 20 hektare hutan di Gunung Leuser.

     

    Jadi, buat kamu yang ingin tampil trendi tapi juga ingin alam tetap lestari ikuti ajakan dari Chitra Soebiyakto untuk ikut beraksi. Sekarang bukan lagi nanti!

    Baca: Ciri produk ramah lingkungan

     

     

     

     

  • Aktivis Muda ASEAN Dorong KTT ASEAN Rumuskan Iklim Terpadu dan Keadilan Iklim

    Aktivis Muda ASEAN Dorong KTT ASEAN Rumuskan Iklim Terpadu dan Keadilan Iklim

    7cloud.asia – Para pemimpin ASEAN yang hadir di KTT ASEAN Jakarta mulai hari ini diharapkan dapat merumuskan kebijakan iklim terpadu, termasuk pengurangan emisi, penerapan energi terbarukan, kebijakan, strategi adaptasi iklim serta keadilan iklim di tingkat regional.

    “Sebagai organisasi yang berpusat pada kaum muda, kami percaya bahwa suara
    mereka sangat penting dalam diskusi iklim karena perubahan iklim memiliki dampak kepada anak muda secara berbeda dari orang dewasa,” ujar Direktur Berpengaruh Plan Indonesia, Nazla Mariza seperti yang dilansir Antaranews pada Senin (4/9/2023).

    Karena itu, para aktivis muda dari negara-negara ASEAN menggelar pertemuan  ASEAN Civil Society/ASEAN People Forum (ACSC/APF) untuk menyampaikan
    aspirasi terkait isu keadilan iklim.

    Baca: Riset mengungkap anak muda memiliki kesadaran tinggi soal lingkungan

    ACSC/APF diadakan dalam momentum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang digelar di Jakarta mulai hari ini Selasa (5/9/2023).

    Dalam salah satu rangkaian kegiatan ACSC/APF, para aktivis muda menyepakati tiga rekomendasi untuk para pemimpin ASEAN mengatasi masalah keadilan iklim dan lingkungan dari perspektif kaum muda.

    Pertama, para Menteri Ekonomi dari negara-negara ASEAN dan berbagai lembaga di bawah pilar ASEAN Economic Community mengimbau perusahaan-perusahaan di ASEAN agar ikut bertanggung jawab dalam memelihara kelestarian lingkungan.

    Baca: Seperti ini media memotret aksi lingkungan anak muda

    Salah satunya dengan melakukan praktik bisnis yang berkelanjutan dan mematuhi standar lingkungan melalui pemberian insentif dan dan penerapan regulasi.

    Kedua, harus ada lebih banyak kesempatan bagi kaum muda dari berbagai latar belakang untuk berani berbicara dan menyampaikan aspirasinya terkait keadilan iklim kepada para pemangku kebijakan melalui forum-forum seperti ASEAN People Forum.

    Ketiga, Komisi Antar pemerintah tentang Hak Asasi Manusia ASEAN (AICHR) juga perlu melanjutkan penyusunan Kerangka Hak Lingkungan Hidup pada tahun 2024 yang mencakup peraturan tentang pembatasan emisi karbon (terkait dengan perusahaan dan pabrik), proyek bisnis berbasis lingkungan, dan proses mekanisme evaluasi.

    Baca: Bumi butuh aksi nyata dari anak muda 

    Nazla Mariza berharap ketiga rekomendasi tersebut benar-benar didengar dalam KTT ASEAN ini.

    “Mudah-mudahan apa yang menjadi fokus kita dan masukan dari kaum muda yang telah kita rumuskan bersama, dapat masuk ke dalam rekomendasi untuk menanggulangi masalah keadilan iklim dan lingkungan pada KTT ASEAN ini,” harapnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Cak Imin Berjanji Akan Prioritaskan Polusi Udara Jika Terpilih

    Cak Imin Berjanji Akan Prioritaskan Polusi Udara Jika Terpilih

    7cloud.asia – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga bakal calon wakil presiden, Muhaimin Iskandar berjanji akan memprioritaskan penanganan masalah polusi udara jika dirinya dan Anies Baswedan terpilih dalam Pilpres 2024 nanti.

    “Saya prioritaskan penanganan lingkungan dan polusi udara, kalau saya terpilih prioritas utama,” ujar Cak Imin di kantor PB PMII, Jakarta Pusat, Rabu
    (6/9/2023).

    Namun, laki-laki yang akrab disapa Cak Imin ini tidak menjelaskan secara detil
    langkah-langkah yang akan ia ambil dalam menangani polusi udara.

    Selama ini cak Imin memang menunjukkan kepeduliannya pada lingkungan, meski dia karang terjuan langsung ke lapangan.

    Baca: Risiko obral izin lahan jelang Pemilu 2024

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, kondisi udara di Jakarta dan sekitarnya
    sejak Juli 2023 memburuk.

    Musim kemarau panjang imbas fenomena El Nino yang melanda Indonesia memperburuk kualitas udara di Jakarta.

    Dalam mengatasi polusi berbagai langkah telah dilakukan pemerintah pusat maupun provinsi DKI dalam mengatasi masalah polusi udara.

    Diantaranya melakukan uji emisi kendaraan dan menindak pengendara yang kendaraannya tak lulus uji emisi.

    Baca: Pilih pemimpin pro lingkungan di Pemilu 2024

    Upaya lainnya adalah dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC) Konvensional.
    TMC Konvensional itu bisa dilakukan tidak hanya di atas wilayah DKI Jakarta.

    Metode ini juga memungkinkan dilakukan di atas wilayah lain seperti di atas
    Bekasi, Kepulauan Seribu atau Tangerang untuk melindungi Jakarta dari polusi
    udara.

    Tak hanya itu, beberapa waktu yang lalu Polda Metro Jaya mengerahkan 4 unit
    kendaraan water cannon Brimob untuk menyemprot kedua sisi jalan protokol
    Jenderal Sudirman hingga ke Bundaran Senayan, Jakarta Pusat. Hal ini
    dilakukan untuk mengurangi polusi udara di Jakarta.

    Selain itu pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
    (KLHK) membentuk tim mengawasi dan menindak sumber-sumber pencemaran
    tidak bergerak seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

    Baca: KLHK menyegel empat perusahaan yang diduga memicu polusi udara

    Pemerintah juga akan menindak tegas industri, pembakaran sampah terbuka,
    limbah elektronik, dan lain sebagainya di wilayah Jabodetabek.

    Seluruh tempat usaha yang tak taat itu diberikan sanksi sesuai Peraturan
    Pemerintah (PP) Nomor 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan
    dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

    Selama pemberian sanksi, maka kegiatan usaha yang kedapatan berkontribusi
    menjadi pelaku pencemaran udara diwajibkan menutup sementara usahanya
    sebelum kegiatan usahanya agar tak mengganggu lingkungan diperbaiki.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pameran Konservasi: Melestarikan Binatang Langka Tak Berarti Harus Memiliki

    Pameran Konservasi: Melestarikan Binatang Langka Tak Berarti Harus Memiliki

    7cloud.asia – Selama dua hari ini Mall Sarinah, Jakarta diramaikan pameran konservasi lingkungan yang dihelat Belantara Foundation.

    Pameran bertajuk  Konservasi Indonesia Maju: Konservasi untuk Kini dan Masa Depan Generasi ini digelar di lantai dasar Mall Sarinah Jakarta pada 9-10 September 2023 di 

    Pameran ini merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan Muda Mudi Konservasi, yang meliputi kontes foto di backdrop bergambar satwa liar kharismatik dan tumbuhan terancam punah di Indonesia pada 8-17 Agustus 2023.

    Rangkaian kegiatan ini juga diisi kuliah umum bertemakan Konservasi Biodiversitas dan Satwa Liar di Indonesia pada 10 Agustus 2023 di Universitas Pakuan.

    Baca: Mengenal Hari Terancam Punah Indonesia

    Selain itu, juga digelar lomba fotografi bertajuk Belantara Snapshot bertemakan Pesona Satwa Liar Indonesia pada 23 – 31 Agustus 2023 di Instagram.

    Selain itu Belantara Learning Series Episode 7 dengan tema Metode Kajian Orangutan dan Kisah dari Lapangan pada 30 Agustus 2023 secara luring dan daring yang dikuti oleh hampir 500 peserta.

    “Kajian secara luring diadakan di Universitas Pakuan, sedangkan daring via aplikasi zoom dan live streaming di channel Youtube Belantara Foundation,” terang Nur Purba Priambada.

    Acara ini diselenggarakan secara khusus dalam rangka Global Tiger Day yang diperingati setiap 29 Juli, Hari Konservasi Alam Nasional/HKAN yang diperingati setiap 10 Agustus dan World Elephant Day yang diperingati setiap 12 Agustus serta International Orangutan Day yang diperingati setiap 19 Agustus.

    Baca: KLHK temukan tiga spesies baru di hutan Indonesia

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam sambutannya mengatakan bahwa acara Muda Mudi Konservasi ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik khususnya generasi muda akan pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati dan satwa liar beserta habitatnya di Indonesia.

    Menurut Dokumen Rencana Aksi dan Strategi Biodiversitas Indonesia (IBSAP) 2015-2020, Indonesia menjadi rumah bagi 10 persen tumbuhan berbunga, 15 persen serangga, 25 persen ikan, 16 persen amfibia, 17 persen burung, dan 12 persen mamalia dari seluruh yang ada di dunia.

    Indonesia memiliki sekitar 28.000 spesies tumbuhan berbunga (urutan ke-7 dunia), 122 spesies kupu-kupu sayap burung (urutan ke-1 dunia yang mana 44 persennya merupakan spesies endemik).

    Indonesia juga menjadi rumah bagi 409 spesies amfibi (urutan ke-5 dunia), 755 spesies reptilia (urutan ke-3 dunia), 1.818 spesies burung (28 persen di antaranya endemik) dan 776 spesies mamalia (36 persen di antaranya endemik).

    Baca: Kontroversi konservasi ex situ

    Dolly yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menjelaskan keanekaragaman hayati dan satwa liar di Indonesia juga menghadapi berbagai ancaman,

    Salah satunya akibat maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar oleh masyarakat, lalu dijadikan sebagai hewan peliharaan. Tak jarang, pemelihara satwa liar berasal dari kalangan tokoh publik/public figure.

    Situasi ini diperparah dengan banyaknya kasus satwa liar peliharaan yang dijadikan sebagai konten media sosial.

    Secara tidak langsung, hal ini dapat menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, yang beranggapan bahwa satwa liar boleh dijadikan hewan peliharaan.

    “Padahal, mencintai satwa liar tidak harus memiliki,” imbuh Dolly yang juga ​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.

    Baca: Yuk ubah gaya hidup untuk merawat keanekaragaman hayati

    Ancaman lainnya yaitu degradasi habitat, hama dan penyakit, pencemaran, perubahan iklim, serta kerusakan lingkungan lainnya.

    Sementara itu, Kepala Divisi Profesi Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Akuatik, dan Hewan Eksotik Indonesia (ASLIQEWAN), Nur Purba Priambada menyebutkan bahwa memelihara satwa liar itu bertentangan dengan kesejahteraan satwa, yang mana berpotensi membuat satwa stres, sakit, dan mudah tertular penyakit.

    Terutama penyakit zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya). Perlu diingat dalam sejarah umat manusia bahwa mayoritas wabah penyakit mematikan yang terjadi adalah penyakit zoonosis seperti rabies, pes, flu burung, ebola, anthrax, SARS, hingga COVID-19.

    “Sudah saatnya masyarakat stop menormalisasi aktivitas pemeliharaan satwa liar demi menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan dan kelestarian alam, untuk kehidupan manusia yang lebih baik”, ujar Purbo, panggilan akrabnya.

    Pelibatan masyarakat khususnya generasi muda merupakan kunci bagi keberhasilan pelestarian satwa liar beserta habitatnya. Generasi muda memainkan peran penting sebagai tombak perubahan.

    Hal tersebut dapat diwujudkan dengan terlibat aktif dalam mendukung perubahan di lingkungan masyarakat menuju arah yang lebih baik.

    Baca: Media memotret aksi lingkungan anak muda

    Salah satu kekuatan generasi muda yaitu aktif di media sosial dan cepat viral. Banyak cara untuk terlibat dalam pelestarian satwa liar beserta habitatnya, aksi paling sederhana yaitu melakukan penyadartahuan (awareness), edukasi dan kampanye tentang satwa liar bukan hewan peliharaan di media sosial.

    Tidak hanya itu, aksi tak kalah penting yang perlu dilakukan adalah tidak menjadikan satwa liar sebagai hewan peliharaan.

    Gerakan ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat khususnya generasi muda agar terlibat lebih aktif dalam pelestarian satwa liar dan habitatnya di sekitar mereka.

    Pameran yang diselingi talkshow ini diselenggarakan atas kolaborasi dengan Forum HarimauKita (FHK), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA), Eat & Run, Biologeek, dan organisasi penggiat konservasi satwa liar lainnya.

    Sejumlah perusahaan swasta seperti APP Sinar Mas, PT Sharp Electronics Indonesia dan Pristinem turut mendukung acara ini. Sebagai media partner yaitu Tempo.co, Majalah Trubus, Forest Insights, Klik Hijau dan Sorot Jakarta.

    Baca: Gen Z punya kesadaran tinggi pada lingkungan tapi enggan beraksi

     

  • Daftar PLTU Batubara yang Mangkrak dan Layak Dibatalkan Demi Lingkungan

    Daftar PLTU Batubara yang Mangkrak dan Layak Dibatalkan Demi Lingkungan

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo mengatakan penggunaan batubara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan berakhir pada 2050. Namun, menurut kami, upaya untuk memadamkan energi fosil bisa dipercepat lagi.

    Analisis terbaru kami mengungkapkan pemerintah bisa lebih meredam laju dominasi batubara dengan membatalkan pembangunan proyek baru PLTU batubara. Saat ini, ada 13,8 gigawatt (GW) PLTU yang akan dibangun hingga 2030.

    Angka tersebut sangat besar mengingat tahun 2022 saja kapasitas terpasang PLTU batubara di Indonesia sudah mencapai 44,6 GW atau setara 67% dari kapasitas listrik nasional.

    Semakin banyak PLTU batubara beroperasi berarti emisi gas rumah kaca yang dihasilkan Indonesia bakal semakin besar.

    Walhasil, target pengakhiran PLTU batubara demi lingkungan di Indonesia berisiko jauh meleset.

    Baca: 4 Unit pembangkit di PLTU Suralaya dimatikan, ini dampaknya bagi lingkungan

    Beberapa proyek pembangunan PLTU kami anggap layak dibatalkan karena proses konstruksinya tak kunjung dimulai alias mangkrak. Sebagian besar masih dalam tahap pembiayaan atau gagal mendapatkan pembiayaan.

    Agar analisis lebih sahih, kami juga memverifikasi kemajuan konstruksi PLTU dengan citra satelit.

    Faktor lain yang menentukan urgensi pembatalan pembangunan PLTU adalah kondisi sistem kelistrikan suatu wilayah. Sistem kelistrikan Jawa-Bali, misalnya, mengalami kelebihan daya paling besar (44%) sehingga pembangunan PLTU di daerah ini menjadi tidak diperlukan.

    Ada juga faktor lainnya seperti target operasi dan pemilik proyek. Jika proyek dimiliki PLN, maka proses pembatalan bisa jauh lebih mudah dan minim risiko.

    Berdasarkan berbagai faktor tersebut, studi kami menemukan ada sekitar 2,9 gigawatt (tersebar di sembilan proyek pembangkit). Angka ini setara 21% dari total rencana proyek PLTU baru PLN.

    Baca: Rokok dan polusi udara, mana yang lebih mematikan

    Proyek PLTU besar dan bermasalah
    Analisis kami menemukan adanya proyek PLTU baru berskala besar yang layak dibatalkan. Proyek ini kebanyakan dimiliki oleh swasta.

    Proyek PLTU Jawa 3 (Tanjung Jati A) di Cirebon, Jawa Barat, misalnya, dimiliki oleh konsorsium YTL Group asal Malaysia yang bermitra dengan Bakrie Power. Konstruksi proyek belum dimulai karena gagal mendapatkan pendanaan.

    Tak hanya persoalan finansial, proyek ini juga terganjal persoalan hukum. Oktober tahun lalu, Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung membatalkan izin lingkungan PLTU Jawa 3 karena melanggar asas hukum lingkungan.

    Selain PLTU Jawa 3, PLTU Mulut Tambang (MT) Jambi 1 dan 2 (masing-masing berkapasitas 600 MW) juga belum masuk tahap konstruksi.

    Mayoritas saham PLTU Jambi 1 dimiliki oleh China Huadian Power, dan Jambi 2 oleh PT Sumber Segara Primadaya.

    Baca: PLTU Batubara dituding sebagai biang polusi udara

    Masalah lainnya kami temukan di proyek PLTU MT Sumbagsel 1 yang baru mengantungi perjanjian jual-beli listrik dengan PLN.

    Meskipun direncanakan untuk beroperasi tahun depan, pengembang proyek ini baru menunjuk pengembang pada Oktober 2022. Kami memprediksi proyek tersebut akan sulit selesai tepat waktu sehingga layak dibatalkan.

    Analisis yang kami lakukan sejak Juni 2022 ini terbukti akurat. Pasalnya, tiga proyek pertama, yakni Jawa 3, Jambi 1, dan Jambi 2, saat ini sedang dalam tahap pembatalan oleh PLN bersama pemerintah.

    Proyek PLTU warisan minim kemajuan
    Selain proyek besar, ada juga proyek PLTU berskala kecil-menengah yang patut dibatalkan.

    Kebanyakan proyek ini merupakan warisan dari program pembangkit listrik Fast Track II yang dirintis sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Semua proyek PLTU jenis ini dimiliki oleh PLN.

    Baca: IESR rekomendasikan PLTU batubara segera ditutup dan beralih ke energi terbarukan

    Proyek PLTU Atambua di Nusa Tenggara Timur adalah contoh nyatanya. PLTU sebesar 24 MW tersebut awalnya direncanakan untuk beroperasi pada 2012.

    Namun, pengembang gagal menepati tenggat waktu penyelesaian, sehingga PLN membatalkan kontrak mereka.

    Alih-alih dikebut, proyek PLTU tersebut dibiarkan mangkrak tanpa kejelasan target waktu penyelesaian. PLN juga tak kunjung mencoret ini dari dokumen rencana kelistrikan.

    Padahal, melalui citra satelit, kami tidak melihat kemajuan konstruksi yang berarti selama dua tahun terakhir.

    Situasi senada juga terjadi di proyek PLTU Bima/Bonto, PLTU Sampit, dan PLTU Tanah Grogot. Semua proyek PLTU tersebut adalah sisa warisan yang tidak menunjukkan kemajuan.

    Baca: Penutupan PLTU batubara di AS berdampak bagus untuk lingkungan

    Pemerintah sudah menunjukkan preseden baik dengan memproses pembatalan beberapa proyek PLTU besar. Langkah ini bisa dilanjutkan dengan melihat peluang pembatalan proyek-proyek PLTU baru lainnya.

    Pemerintah juga bisa membantu PLN untuk mengatasi risiko hukum maupun finansial yang mungkin terjadi akibat langkah pembatalan ini.

    Pengakhiran operasi PLTU sejalan dengan komitmen penurunan emisi Indonesia sesuai Perjanjian Paris. Karena itu, semua pihak harus bahu-membahu agar negeri ini bisa lebih cepat beralih dari energi batu bara menuju energi yang lebih bersih.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, dengan Penulis
    Akbar Bagaskara, Researcher, Institute for Essential Services Reform dan Raden Raditya Yudha Wiranegara Senior Researcher, Institute for Essential Services Reform

  • Stunting Bukan Hanya Soal Kesehatan, Juga Terkait Sosial Ekonomi dan Lingkungan

    Stunting Bukan Hanya Soal Kesehatan, Juga Terkait Sosial Ekonomi dan Lingkungan

    7cloud.asia – Erie Sandra Muis tak menyangka, di sekitar lingkungna tempat tinggalnya yang terletak di Jakarta Timur, masih ditemukan kasus stunting. Kasus stunting ini tak hanya satu, tetapi ada beberapa.

    “Umumnya anak yang mengalami karena orang tua mengalami PHK sehingga mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga,” ujar Erie dalam perbincangan dengan 7cloud.asia beberapa waktu lalu.

    Mirisnya, fakta ini seolah diabaikan atau bahkan ditutupi oleh pihak kelurahan. Sehingga Erie kesulitan untuk mencarika bantuan bagi anak yang mengalami stunting ini.

    Kondisi ini membuat Erie yang saat ini mencalonkan diri menjadi caleg DPRD DKI Jakarta dari PSI  ini merogoh kantung sendiri untuk membantu anak yang yang stunting tersebut.

    Baca: Empat provinsi penyumbang nagka stunting nasional berada di Pulau Jawa

    Stunting menjadi perhatian serius pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Pemerintah telah menargetkan prevalensi stunting sebesar 14 persen pada 2024.

    Deputi II Kepala Staf Kepresidenan, Abetnego Tarigan di Jakarta menegaskan, stunting tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah kesehatan semata, tetapi juga terkait dengan ekonomi, sosial, dan lingkungan. 

    Sebab, permasalahan stunting tidak terbatas pada persoalan gizi, namun perlu didukung akses sanitasi yang sehat dan memadai untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi lingkungan dan penyebaran penyakit.

    “Air bersih, ketersediaan akses sanitasi yang baik juga menjadi intervensi yang patut dipertimbangkan kementerian/lembaga. Sebab ini juga jadi indikator dalam menurunkan stunting,” ujarnya di Jakarta, Agustus lalu.

    Baca: Jokowi bilang angka stunting di Indonesia turun signifikan

    Dalam Pidato Kenegaraan Pengantar Nota Keuangan APBN 2024, Presiden Joko Widodo menegaskan ​​salah satu strategi jangka pendek yang akan menjadi fokus APBN 2024 adalah percepatan penurunan prevalensi stunting.

    “Penurunan prevalensi stunting ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing” jelas Abetnego.

    Dalam pencapaian target prevalensi stunting 14 persen di tahun 2024, ujar Abetnego, Pemerintah telah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

    Perpres tersebut menjelaskan upaya penurunan stunting melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

    Baca: Peluang mewujudkan Indonesia Emas 2045

    Dalam penganggaran, ujar Abetnego, Presiden Joko Widodo telah mengamanatkan agar APBN 2024 turut mendukung agenda pembangunan sumber daya manusia.

    Peningkatan untuk alokasi sektor kesehatan dari tahun APBN 2023 sebesar RP. 178,7 Triliun menjadi Rp. 186,4 Triliun pada APBN 2024.

    Abetnego menambahkan untuk penanganan stunting, pada tahun 2022, Pemerintah telah mengalokasikan sebesar Rp 34,1 Triliun menjadi Rp 30,4 Triliun pada tahun 2023.

    “Agar mencapai target penurunan menjadi 14 persen, tentu diperlukan dukungan penganggaran yang lebih kuat,” tambah Abetnego.

    Baca: Pencegahan stunting sudah harus dilakukan sejak pasangan akan menikah

    Sejak tahun 2013, penurunan prevalensi stunting menunjukkan tren yang positif dari semula 37,2 persen hingga menjadi 21,6 persen pada tahun 2022.

    Abetnego menjelaskan bahwa Kantor Staf Presiden terus aktif memantau capaian program penurunan stunting melalui instrumen Sistem Monitoring dan Evaluasi (Sismonev) dan Database Isu Strategis (Distra).

    Abetnego berharap pada tahun 2024 nanti anggaran percepatan penurunan stunting dapat dimanfaatkan secara lebih optimal, untuk penguatan pola pangan dan pola asuh.

    “Selain juga untuk pembangunan sanitasi, serta lebih besar lagi untuk intervensi gizi spesifik” pungkasnya seperti dikutip ksp.go.id