Tag: emisi

  • Dari Nanas hingga Rami: Potensi Serat Alami di Indonesia

    Dari Nanas hingga Rami: Potensi Serat Alami di Indonesia

    7cloud.asia – Sehelai pakaian yang tergantung di etalase toko atau yang kita kenakan sehari-hari, sesungguhnya menyimpan jejak karbon yang panjang sejak awal proses pembuatannya.

    Mulai dari pemilihan bahan baku, pemintalan, pewarnaan, hingga penyempurnaan (finishing), semuanya memiliki jejak karbon yang menyumbang emisi. Pun, ketika pakaian itu sudah tidak bisa dipakai lagi

    Apalagi, sebagian pakaian modern saat ini terbuat dari serat sintetis seperti poliester, nilon, atau akrilik—yang berasal dari minyak bumi, yang membuatnya sulit terurai secara alami.

    Menurut data United Nations Environment Programme (UNEP), industri fashion menyumbang sekitar 10 persen emisi karbon global dan 20 persen limbah air dunia. Pakaian berbahan sintetis juga menjadi sumber pencemaran mikroplastik di darat maupun laut.

    Selain itu, pewarna berbasis logam berat dan bahan kimia berbahaya yang banyak digunakan dalam industri tekstil kerap mencemari sungai dan tanah—umum terjadi di negara-negara berkembang.

    Perputaran tren yang sangat cepat dalam industri fesyen—atau yang dikenal dengan istilah fast fashion—semakin memperparah timbunan limbah tekstil.

    Solusi atas kompleksnya permasalahan limbah industri ini tentu tidak sederhana. Namun, langkah awal bisa dimulai dengan memilih bahan-bahan serat dan pewarna alami dalam proses produksi maupun konsumsi fesyen berkelanjutan.

    Potensi serat alam alternatif di Indonesia
    Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar serat alami yang bisa menjadi alternatif, seperti serat rami dan daun nanas. Keduanya tersedia melimpah sebagai hasil samping dari sektor pertanian.

    Produksi nanas nasional misalnya, mencapai sekitar 3,15 juta ton pada 2024, dan menghasilkan limbah daun nanas yang melimpah.

    Setiap 1 ton (1000 kilogram) nanas segar bisa menghasilkan sekitar 100 kilogram limbah daun nanas, sehingga ada potensi 315.000 ton limbah daun per tahun. Potensi ini tentunya bisa dimanfaatkan untuk mencetak cuan dari industri tekstil berkelanjutan.

    Riset menunjukkan, selain ramah lingkungan dan mudah terurai, serat-serat ini juga memiliki siklus tumbuh yang cepat—hanya sekitar 3 bulan, hemat air, dan minim penggunaan pestisida. Selama masa tumbuhnya, tanaman seperti rami juga mampu menyerap karbon dalam jumlah signifikan.

    Sayangnya, pemanfaatan serat alami di Indonesia masih minim. Kendala utamanya antara lain keterbatasan teknologi pengolahan dan belum terbangunnya ekosistem industri yang mendukung produksi skala besar dengan kualitas yang stabil.

    Pengolahan serat alami memerlukan penguatan teknologi seperti proses dekortikasi—proses awal untuk memisahkan serat dari batang atau daun— dan degumming, yaitu tahapan lanjutan untuk menghilangkan zat-zat non-serat agar menghasilkan bahan lebih halus dan siap diproses menjadi kain.

    Jika teknologi ini tersedia dengan baik dan mudah diakses, Indonesia dapat memproduksi serat lokal berkualitas tinggi yang mampu bersaing dengan bahan impor.

    Sayangnya, pengembangan teknologi pengolahan serat alam ini masih menghadapi berbagai kendala, terutama ekonomi. Biaya produksinya tinggi, terutama untuk peralatan industri dan bahan baku, membuat teknologi ini kurang kompetitif dibanding impor serat sintetis atau kapas.

    Sementara itu, insentif pemerintah, seperti subsidi atau program skala besar, juga minim.

    Warna dari alam: Potensi ecoprint
    Ecoprint adalah teknik yang memanfaatkan zat warna alami dari daun dan bunga, lalu diaplikasikan langsung ke permukaan kain. Hasilnya tak hanya unik dan artistik, tetapi juga lebih aman bagi lingkungan.

    Metode yang digunakan bisa melalui teknik kukus (steaming) atau teknik pukul (pounding), tergantung bahan yang digunakan dan efek visual yang diinginkan.

    Sayangnya, ecoprint masih sering dianggap sebagai produk kerajinan semata dengan daya tahan warna yang kerap diragukan.

    Padahal, dengan pendekatan riset yang tepat, ecoprint bisa dikembangkan menjadi produk tekstil fungsional dengan daya tahan warna yang cukup kompetitif dibadingkan produk-produk saat ini.

    Membangun ekosistem tekstil berkelanjutan
    Industri pengembangan serat alam dan ecoprint di Indonesia sebenarnya sudah mulai tumbuh, tapi cenderung berjalan sendiri-sendiri alias belum terhubung secara ekosistem.

    Padahal, keduanya punya potensi besar jika diselaraskan dalam rantai industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

    Bayangkan jika kain yang dibuat dari serat rami atau daun nanas hasil olahan lokal, lalu diwarnai dengan teknik ecoprint yang sudah terstandarisasi. Produk semacam ini akan jauh lebih ramah lingkungan, baik dari segi tampilan maupun proses produksinya.

    Model integrasi ini membuka peluang besar untuk mendorong inovasi dan kolaborasi riset, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan industri tekstil berbasis sumber daya lokal. Industri seperti ini dapat menjadi lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

    Keberlanjutan tekstil bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi tentang membentuk industri yang lebih inovatif, lebih manusiawi, dan lebih ramah lingkungan untuk masa depan.

    Sebagai konsumen, kita mungkin merasa kecil di tengah perkembangan pesat industri ini. Meski begitu, perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti memilih bahan yang lebih ramah lingkungan, mendukung produk dari serat alam, dan menggunakan pewarna alami seperti ecoprint.

    Langkah kecil ini barangkali belum mampu mengubah industri secara drastis. Namun, setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan membentuk wajah industri tekstil di masa depan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ahmad Satria Budiman (Lecturer in Textile Engineering, Universitas Islam Indonesia/UII Yogyakarta)

  • 1 Persen Orang Terkaya Dunia Jadi Sumber Emisi Terbesar: Saatnya Terapkan Pajak Kekayaan

    1 Persen Orang Terkaya Dunia Jadi Sumber Emisi Terbesar: Saatnya Terapkan Pajak Kekayaan

    7cloud.asia – Agar suhu global tetap berada dalam batas pemanasan global 1,5°C, 1 persen orang terkaya di dunia harus mengurangi emisi mereka sebesar 97 persen pada tahun 2030, demikian hasil studi yang dilakukan Oxfam.

    Laporan itu menyebut, kelompok orang super kaya telah memicu krisis iklim dengan ‘kecerobohan karbon yang luar biasa’.

    Istilah kecerobohan karbon yang luar biasa digunakan untuk mengkritik gaya hidup orang kaya seperti penggunaan jet pribadi, kapal pesiar mewah, dan gaya hidup boros emisi lainnya yang dilakukan tanpa memedulikan dampaknya bagi planet.

    Tak hanya gaya hidup boros energi, kelompok terkaya dunia, lewat pengaruh dan kekayaan yang dimiliki turut menentukan dan mempengaruhi kebijakan iklim di dunia.

    ”Kekuatan dan kekayaan yang sangat besar dari individu dan perusahaan super kaya juga memungkinkan mereka untuk menggunakan pengaruh yang tidak adil terhadap pembuatan kebijakan dan melemahkan negosiasi iklim,” ujar Kepala Kebijakan Iklim Oxfam, Nafkote Dabi.

    Baca: Orang kaya harus mengerem emisinya agar warga miskin terpenuhi hak asasinya

    Oxfam adalah konfederasi global yang terdiri dari berbagai organisasi yang bekerja bersama untuk memerangi kemiskinan, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan, serta memberikan bantuan kemanusiaan di lebih dari 90 negara, termasuk Indonesia.

    Kerja-kerja Oxfam fokus pada pemberdayaan perempuan, keadilan ekonomi, dan keadilan iklim. Organisasi ini membantu masyarakat rentan untuk keluar dari kemiskinan melalui program pembangunan berkelanjutan, advokasi, dan respons darurat saat krisis.

    Analisis baru dari Oxfam yang dirilis Desember lalu mengungkapkan bahwa 1 persen orang terkaya hanya membutuhkan waktu 10 hari untuk menghabiskan kuota emisi tahunan mereka.

    Sementara itu, 0,1 persen orang terkaya dunia hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menghabiskan anggaran emisi karbon tahunan mereka.

    Laporan itu menyebut, Oxfam telah lama menyerukan kepada pemerintah untuk “membuat para pencemar kaya membayar.”

    Baca: Ketika kota semakin panas, warga miskin semakin menderita

    Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pajak penghasilan dan kekayaan mereka, melarang atau mengenakan pajak yang memberatkan pada barang-barang mewah yang intensif karbon, dan mengenakan pajak pada keuntungan berlebih perusahaan bahan bakar fosil.

    Oxfam mengatakan pajak keuntungan pada semua perusahaan minyak, gas, dan batubara besar akan menghasilkan hingga 400 miliar dolar AS hanya dalam tahun pertama.

    “Berkali-kali, penelitian menunjukkan bahwa pemerintah memiliki jalan yang sangat jelas dan sederhana untuk secara drastis mengurangi emisi karbon dan mengatasi ketidaksetaraan: dengan menargetkan para pencemar terkaya,” kata Kepala Kebijakan Iklim Oxfam, Nafkote Dabi.

    “Dengan menindak tegas perilaku ceroboh karbon yang dilakukan oleh orang-orang super kaya, para pemimpin global memiliki kesempatan untuk mengembalikan dunia ke jalur yang benar untuk mencapai target iklim dan membuka manfaat bersih bagi manusia dan planet ini.”

  • 1 Persen Orang Terkaya Dunia Harus Pangkas 97 Persen Emisinya Agar Pemanasan Global Berada dalam Jalur

    1 Persen Orang Terkaya Dunia Harus Pangkas 97 Persen Emisinya Agar Pemanasan Global Berada dalam Jalur

    7cloud.asia – Agar suhu global tetap berada dalam batas pemanasan global –kurang dari 1,5°Celcius di atas masa pra-industri– 1 persen orang terkaya di dunia harus mengurangi emisi mereka sebesar 97 persen pada tahun 2030.

    Penelitian terbaru Oxfam mengungkap, segmen terkaya dari populasi global terus mencemari lingkungan tanpa terkendali.

    Oxfam mengungkapkan bahwa 1 persen orang terkaya dunia hanya membutuhkan 10 hari untuk menghabiskan kuota emisi tahunan mereka. Lebih parah, 0,1 persen orang terkaya dunia hanya membutuhkan tiga hari untuk menghabiskan kuota emisi tahunan mereka.

    Angka-angka ini menunjukkan bahwa krisis iklim bukan hanya masalah global – tetapi juga masalah ketidaksetaraan.

    Seiring meningkatnya emisi, dampak krisis iklim juga meningkat – seperti kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering dan dan lebih merusak.

    Baca: Orang kaya harus mengerem emisinya agar hak dasar warga miskin terpenuhi

    Penelitian Oxfam ini juga mengungkap, sekitar 1,3 juta kematian akibat panas pada akhir abad ini akan disebabkan oleh emisi yang dihasilkan oleh 1 persen orang terkaya hanya dalam satu tahun.

    Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah akan terus menanggung beban krisis iklim yang disebabkan oleh konsumsi berlebihan selama beberapa dekade oleh kaum super kaya, yang diperkirakan akan merugikan negara-negara ini sekitar 44 triliun dolar AS.

    ”Angka ini dalam bentuk kerugian ekonomi pada pertengahan abad ini,” demikian ditulis Oxfam dalam laporannya

    Sebuah laporan yang dirilias Oxfam pada Oktober 2025 mengungkapkan bahwa emisi harian 0,1 persen orang terkaya lebih tinggi daripada emisi tahunan separuh penduduk termiskin.

    Pangsa emisi segelintir orang-orang terkaya dunia ini telah meningkat sebesar 32 persen sejak tahun 1990, sementara pangsa emisi 50 persen penduduk termiskin justru turun sebesar 3 persen.

    Baca: Pajak kekayaan untuk memkasa orang kaya mengerem emisinya

    Pengaruh dan Investasi
    Namun, gaya hidup elit global bukanlah satu-satunya pendorong emisi. Investasi di ekonomi ekstraktif juga turut andil.

    Laporan Oxfam mengungkapkan bahwa jejak karbon dari investasi seorang miliarder – biasanya di industri yang mencemari lingkungan seperti bahan bakar fosil, 346.000 kali lebih besar daripada jejak karbon rata-rata orang.

    Pada tahun 2024, emisi yang terkait dengan investasi 308 miliarder tersebut mencapai total 586juta ton CO2 – lebih banyak daripada gabungan emisi 118 negara.

    Dengan uang, dan kekuatan yang mereka miliki para pemilik modal ini membangun pengaruh perusahaan dan agenda pemerintah.

    Hal ini terbukti di KTT Perubahan Iklim PBB terbaru, COP 30 di Belem, Brasil di mana pelobi bahan bakar fosil melebihi jumlah anggota semua delegasi kecuali delegasi negara tuan rumah.

    “Kekuatan dan kekayaan yang sangat besar dari individu dan perusahaan super kaya juga memungkinkan mereka untuk menggunakan pengaruh yang tidak adil terhadap pembuatan kebijakan dan melemahkan negosiasi iklim,” kata Kepala Kebijakan Iklim Oxfam, Nafkote Dabi.

    Baca: Ketika Bumi semakin panas, warga miskin semakin menderita

  • Jakarta Menuju Emisi Nol: Pramono Anung Luncurkan Pergub Efisiensi Air dan Energi pada Bangunan Gedung

    Jakarta Menuju Emisi Nol: Pramono Anung Luncurkan Pergub Efisiensi Air dan Energi pada Bangunan Gedung

    7cloud.asia – Gubernur DKi Jakarta Pramono Anung meluncurkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Efisiensi Energi dan Air pada Bangunan Gedung.

    Peluncuran dilakukan di sela Forum Jakarta C40 Urban Climate Action Programme (UCAP)–Climate Action Implementation (CAI), Jumat (6/2/2026) yang mengusung tema “From Implementation to Integration: Securing Jakarta’s Climate Future” (Dari Implementasi Menuju Integrasi: Mengamankan Masa Depan Iklim Jakarta).

    Forum ini penting bagi Jakarta sebagai bagian dari kota besar dunia serta sebagai kawasan aglomerasi dengan populasi mencapai 42 juta.

    Dalam acara ini dilakukan serah terima program Climate Action Implementation (CAI) dari UK Urban Climate Action Programme (UCAP) C40, sebuah inisiatif untuk mempercepat ketahanan iklim perkotaan yang didanai Pemerintah Inggris.

    Gubernur Pramono mengungkapkan, selama empat tahun terakhir, Climate Action Implementation (CAI) Programme telah memberikan dukungan teknis sekaligus berbagi visi bersama untuk aksi iklim yang ambisius, terukur, dan inklusif di Jakarta.

    Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk menerapkan berbagai langkah efisiensi energi dan air di seluruh bangunan milik pemerintah daerah.

    Baca: Menurunkan emisi gas rumah kaca dengan prinsip bangunan hijau

    “Komitmen ini membuahkan hasil. Jakarta meraih skor A dari CDP selama tiga tahun berturut-turut dan masuk ke dalam 120 kota A-List dunia. Capaian ini menunjukkan bahwa tata kelola iklim Jakarta telah matang, berbasis data, dan layak secara investasi,” ujarnya dalam keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta.

    Kemitraan UCAP–CAI juga berperan penting dalam mendukung Jakarta mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 31,89 persen pada 2030 dan mewujudkan emisi nol bersih (net-zero emission) pada 2050.

    Melalui program UCAP–CAI ini, Jakarta telah beralih dari perencanaan menjadi aksi nyata, karena tantangan utamanya adalah bagaimana mengimplementasikannya di lapangan.

    “Pertama, kami bersama-sama menyusun studi kelayakan kebijakan. Kedua, standar operasional dan pelatihan untuk bangunan gedung hijau yang ada di Jakarta. Berikutnya adalah peta jalan Jakarta menuju Net Zero Carbon Building,” terangnya.

    Ia juga menyoroti capaian utama program UCAP–CAI dalam kegiatan ini, antara lain penguatan kerangka kebijakan melalui penyelarasan kebijakan bangunan gedung hijau dengan tujuan nasional serta target iklim Jakarta 2030–2050.

    “Jakarta telah mengembangkan Sistem Manajemen Data Energi (Data Management System/DMS) serta melakukan desain ulang Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Daerah (SIGD) untuk mendukung pelacakan emisi yang lebih akurat dan mendekati waktu nyata (real time),” jelasnya.

    Baca: Ditjen Cipta Karya gandeng GBCI untuk percepat implementasi bangunan hijau

    Terkait Pergub Nomor 5 Tahun 2026 tentang Efisiensi Energi dan Air pada Bangunan Gedung, Gubernur Pramono menerangkan, regulasi ini menyediakan kerangka hukum krusial untuk menegakkan standar keberlanjutan di seluruh lingkungan kota.

    “Hal ini mengingat sektor bangunan menyumbang hampir 60 persen dari total emisi GRK di Jakarta. Peraturan ini merupakan bagian penting dari transisi Jakarta menuju kota rendah karbon,” tuturnya.

    Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, H.E. Dominic Jermey, menyampaikan peluncuran Peraturan Gubernur tentang Efisiensi Energi dan Air hari ini menunjukkan kepemimpinan Jakarta dalam aksi iklim.

    Dominic menambahkan, dukungan Pemerintah Inggris melalui berbagai inisiatif, seperti UK PACT (Partnering for Accelerated Climate Transitions), pengembangan zona emisi rendah, penetapan harga jalan elektronik.

    Dukungan juga berupa peningkatan kinerja energi rumah sakit daerah, hingga studi pengelolaan limbah dan pengembangan berorientasi transit, akan terus mendukung perjalanan Jakarta menuju kota rendah karbon.

    “Kami bangga atas capaian yang telah kita lakukan bersama dan siap berkolaborasi dengan Jakarta ke depannya,” pungkasnya.

    Direktur Regional C40 untuk Asia Timur, Asia Tenggara, dan Oseania, Murali Ram mengatakan, peluncuran regulasi bangunan hijau baru Jakarta adalah titik balik dalam perjalanan iklim kota ini.

    Dengan menangani sektor bangunan—sumber dari hampir 60 persen emisi kota—Jakarta bergerak melampaui perencanaan menuju implementasi berdampak tinggi.

    ”Melalui program UCAP CAI, Jakarta tidak hanya mengamankan masa depan iklimnya sendiri, tetapi juga memberikan contoh kuat bagi kota-kota di Asia Tenggara dan dunia tentang cara menskalakan inovasi berkelanjutan secara adil,” terangnya.

    Forum Jakarta C40 Urban Climate Action Programme (UCAP)–Climate Action Implementation (CAI) juga menampilkan tur galeri VIP dan showcase bangunan gedung hijau yang menghadirkan praktik terbaik implementasi arsitektur dan operasional berkelanjutan, baik pada bangunan swasta maupun bangunan milik daerah dan BUMD Jakarta.

    Sejumlah studi kasus yang ditampilkan antara lain Menara Astra, SDN Ragunan 08, dan Graha Niaga.

  • MRT Jakarta Gandeng WRI untuk Menghitung Reduksi Emisi

    MRT Jakarta Gandeng WRI untuk Menghitung Reduksi Emisi

    7cloud.asia – PT MRT Jakarta (Perseroda) menggandeng World Resources Institute (WRI) Indonesia untuk menyusun metodologi serta menghitung reduksi emisi dari operasional MRT Jakarta.

    Kerja sama ini menjadi langkah konkret dalam mendukung upaya penurunan emisi dari sektor transportasi perkotaan.

    Sektor transportasi merupakan penyumbang utama emisi gas rumah kaca (GRK) dan polusi udara di Jakarta, dengan kontribusi mencapai 27 persen dari total emisi GRK.

    Sekitar 90 persen emisi sektor ini dihasilkan oleh transportasi darat, yang didominasi oleh kendaraan pribadi seperti motor dan mobil, yang memicu polusi karbon monoksida hingga 96 persen.

    Penataan sektor transportasi publik diharapkan dapat menurunkan emisi karbon ini.

    Direktur Utama MRT Jakarta, Tuhiyat menyampaikan, kerja sama ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menurunkan emisi sektor transportasi secara terukur.

    Baca: Menuju kota rendah emisi, warga Jakarta didorong gunakan transportasi publik

    Fokus utama kolaborasi meliputi pengembangan metodologi perhitungan reduksi emisi melalui survei peralihan moda (mode shift) serta inventarisasi jejak karbon.

    “Selain itu, kerja sama ini juga akan memperkuat proses validasi dan registrasi penurunan emisi melalui Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI), sekaligus membuka peluang pengembangan Nilai Ekonomi Karbon (NEK),” ujar Tuhiyat, Rabu (1/4/2026).

    Menurut Tuhiyat, hasil perhitungan tersebut tidak hanya sejalan dengan Peta Jalan Keberlanjutan MRT Jakarta 2022–2030, tetapi juga memperkuat tata kelola pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi agar lebih kredibel, transparan, dan akuntabel.

    “Rencananya kerja sama ini akan berlangsung selama satu tahun ke depan,” katanya.

    Sementara itu, Managing Director WRI Indonesia, Arief Wijaya menekankan pentingnya pendekatan berbasis data untuk memperkuat kontribusi transportasi publik dalam aksi iklim.

    “Selama ini, kontribusi transportasi publik terhadap penurunan emisi sering belum terlihat secara jelas dalam angka. Dengan metodologi yang kuat, kita bisa menunjukkan bahwa transportasi publik adalah salah satu intervensi paling strategis dalam mencapai target iklim perkotaan,” tuturnya.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Kesepakatan MRT dan WRI dituangkan dalam perjanjian kerja sama yang ditandatangani Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, bersama Managing Director WRI Indonesia, Arief Wijaya.

    Penandatanganan turut disaksikan Kepala Bappeda DKI Jakarta Atika Nur Rahmania, Board Member WRI Indonesia William Sabandar, serta Deputy Head of Low Carbon Infrastructure British Embassy Jakarta Phoebe Rimmer.

    Kolaborasi ini juga mendapat dukungan dari UK Partnering for Accelerated Climate Transitions (UK PACT) Pemerintah Inggris.

    Selain penandatanganan, rangkaian kegiatan juga diisi dengan dialog strategis mengenai peran operator transportasi publik dalam mendukung dekarbonisasi transportasi perkotaan.

    Diskusi ini menghadirkan perwakilan dari Kementerian Perhubungan RI, Dinas Perhubungan DKI Jakarta, MRT Jakarta, dan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

  • Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk: Pertanda Aksi Iklim Mulai Membuahkan Hasil

    Ilmuwan Menghapus Skenario Perubahan Iklim Terburuk: Pertanda Aksi Iklim Mulai Membuahkan Hasil

     

    7cloud.asia – Skenario baru tentang perubahan iklim selalu menarik perhatian. Sebab, skenario-skenario ini akan menggambarkan seperti apa iklim dunia di masa depan, yang tentunya sangat bergantung pada seberapa cepat aksi kita mengurangi emisi saat ini.

    Dalam skenario iklim terbaru yang diluncurkan pada Mei ini, komite ilmiah internasional—yang merupakan tim perancang skenario iklim untuk PBB dan IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim)—resmi menghapus skenario RCP8.5 dan penerusnya SSP5-8.5.

    Kedua skenario ini merupakan skenario emisi tertinggi (skenario terburuk) dalam proyeksi perubahan iklim

    Skenario tersebut sebelumnya memakai proyeksi bahwa negara-negara di dunia tidak melakukan upaya apa pun untuk mengurangi emisi dan malah memperluas penggunaan bahan bakar fosil.

    Akibatnya, pada 2100, kadar karbon dioksida di atmosfer akan bertambah hampir tiga kali lipat dan dunia akan menjadi 4,5°C lebih panas dibandingkan masa pra-industri.

    Para ilmuwan iklim yang menyusun berbagai kemungkinan iklim masa depan ini menghapus skenario RCP8.5 dengan alasan yang sangat kuat. Faktor utamanya adalah karena dunia sudah mulai menunjukkan perubahan dalam mengatasi perubahan iklim.

    Meskipun lambat dan belum cukup, aksi iklim perlahan menunjukkan hasil nyata. Kita berhasil menghindari masa depan iklim terburuk yang dulu dianggap mungkin terjadi.

    Namun pekerjaan kita tentu masih jauh dari kata selesai. Emisi kita masih berada pada rekor tertinggi dalam sejarah. Pemanasan global juga semakin cepat.

    Tapi yang jelas, tidak seperti klaim Donald Trump dan para peragu perubahan iklim, penghapusan skenario emisi tinggi ini bukanlah tanda ada kesalahan dalam pemodelan iklim sebelumnya atau bahwa perubahan iklim hanyalah hoaks.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Sebaliknya, ini adalah tanda bahwa perkembangan energi surya, angin, kendaraan listrik, dan baterai telah memperlambat pertumbuhan emisi.


    Berdasarkan skenario iklim terburuk sebelumnya, yaitu SSP5-8.5, suhu bumi diperkirakan akan naik sekitar 4,5°C pada tahun 2100.
    IPCC, CC BY-NC-ND

    Bagaimana skenario ini dibuat?

    Saat ini Bumi sudah memanas kira-kira sekitar 1,4°C dibanding zaman pra-industri. Dampak perubahan iklim nyata kita rasakan, terutama dengan cuaca yang semakin ekstrem.

    Karena penyebab utamanya adalah aktivitas manusia (seperti membakar batu bara, minyak, dan gas), maka manusia juga sebenarnya bisa mengurangi masalahnya untuk memperbaiki masa depan.

    Seperti apa masa depan itu? Apakah dunia akan terus memanas, atau akan ada aksi cepat untuk memangkas emisi dan menghentikan pemanasan? Jawaban ini akan sangat menentukan masa depan umat manusia.

    Memprediksi jawaban ini memang sulit. Namun sekelompok ilmuwan sudah membuat sejumlah skenario yang mewakili berbagai kemungkinan masa depan iklim.

    Karena masa depan tidak ada yang pasti, para ilmuwan menyusun berbagai kemungkinan jalur untuk emisi gas rumah kaca kita di masa depan.

    Baca: Empat Cara untuk Ikut Berkontribusi dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati

    Mereka mendasarkannya pada apa yang sudah terjadi sejauh ini dan apa yang mungkin terjadi dalam politik dan teknologi selama beberapa dekade mendatang.

    Kemudian, mereka memilih jalur emisi yang dianggap paling masuk akal dan mengambil contoh berbagai masa depan yang kurang lebih optimistis terkait penggunaan bahan bakar fosil.

    Kelompok ilmiah di seluruh dunia lalu memodelkan skenario ini secara mendalam menggunakan berbagai model iklim untuk memastikan ketersediaan data yang cukup pada tingkat global, regional, dan lokal.

    Skenario-skenario ini tidak diberi peringkat berdasarkan kemungkinan terjadinya. Semua dianggap sebagai masa depan yang bisa terjadi. Rentang perbedaan antara skenario paling optimistis dan paling pesimistis pada 2100 punya selisih hampir 2°C. Hal ini menunjukkan betapa keputusan manusia saat ini menentukan masa depan.

    Kenapa penghapusan skenario RCP8.5 bikin heboh?

    RCP8.5 dan SSP5-8.5 adalah nama untuk skenario perubahan iklim yang paling buruk.

    Angka “8.5” menunjukkan proyeksi seberapa banyak (sebesar 8,5 watt per meter persegi) tambahan panas yang terjebak di bumi akibat gas rumah kaca pada 2100.

    Dalam skenario terburuk ini, dunia secara drastis meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil. Akibatnya, pemanasan global bisa sangat tinggi. Para ilmuwan sebetulnya juga sudah lama memperdebatkan apakah skenario ini realistis sejak awal, tapi sebagian ilmuwan beranggapan semua itu bisa saja terjadi.

    Tapi kini, tidak satu pun dari skenario iklim yang baru dirilis sepesimistis RCP8.5/SSP5-8.5. Skenario terburuk sekarang memperkirakan emisi paling tinggi akan menyebabkan pemanasan sekitar 3,5°C pada tahun 2100. Meski itu tetap akan sangat buruk. 

    Para skeptikal bermain narasi

    Para peragu perubahan iklim langsung menggunakan penghapusan RCP8.5 sebagai pembelaan klaim mereka bahwa proyeksi iklim para ilmuwan selama ini salah. Serangan-serangan ini sengaja dibuat untuk menimbulkan keraguan terhadap ilmu iklim. 

    Padahal jelas-jelas bahwa RCP8.5 dihapus karena penilaian objektif bahwa aksi iklim mulai menunjukkan hasil nyata mengurangi emisi.

    Kendati hasil terburuk berhasil dihindari, kita juga telah kehilangan peluang untuk mencapai hasil iklim terbaik.

    Ini terlihat dari skenario iklim terbaru yang tidak lagi memiliki jalur seoptimistis dulu. Skenario emisi terendah dari putaran proyeksi iklim besar sebelumnya adalah SSP1-1.9—satu-satunya skenario yang memenuhi tujuan Perjanjian Paris untuk menjaga pemanasan global sekitar 1,5°C.

    Karena emisi global belum juga menurun, skenario baru yang paling optimistis pun memprediksi pemanasan global akan tetap memuncak sekitar 1,9°C.

    Walaupun suhu Bumi hampir pasti akan naik melampaui 1,5°C dibanding zaman sebelum industri, harapannya kenaikan itu hanya sementara selagi manusia berupaya menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer agar suhu dapat kembali ke 1,5°C.

    Lintasan emisi kita saat ini berada di tengah-tengah. Dunia tidak menuju skenario terburuk, tetapi juga belum cukup baik untuk mencapai skenario paling optimistis.

    Kalau negara-negara tetap menjalankan kebijakan seperti sekarang, para ilmuwan memperkirakan suhu bumi akan naik sekitar 2.6°C pada 2100.

    Kamu mungkin masih bertanya-tanya, mengapa kita perlu terus memperbarui skenario iklim ini?

    Salah satu alasannya: fakta di lapangan terus berubah. Energi surya berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan, tetapi teknologi fracking atau pengeboran yang semakin canggih juga membuka cadangan bahan bakar fosil baru dalam jumlah besar.

    Pergeseran arah politik pun membuat aksi iklim menjadi lebih mungkin atau justru lebih sulit dilakukan.

    Alasan lainnya adalah karena model iklim kita terus membaik. Semakin baik modelnya, semakin akurat dan rinci pula proyeksi kenaikan permukaan laut dan dampak iklim lainnya. 

    Ya, ini adalah kemajuan

    Menghapus RCP8.5 dari daftar kemungkinan adalah sebuah tanda kemajuan—kita menghindari skenario terburuk. Tetapi di sisi lain, proyeksi terbaru juga menunjukkan kita telah kehilangan peluang untuk mencapai masa depan terbaik.

    Lima tahun ke depan bisa berjalan dalam banyak cara berbeda, membawa kita ke masa depan iklim yang lebih baik atau lebih buruk.

    Kita harus memahami dan mempersiapkan diri menghadapi situasi apa yang akan datang—dan menggandakan upaya kita untuk menciptakan masa depan terbaik yang masih mungkin dicapai.


    Andrew King, ARC Future Fellow and Associate Professor in Climate Science, ARC Centre of Excellence for 21st Century Weather, The University of Melbourne

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Kecepatan Berkendara Pengaruhi Konsumsi BBM dan Emisi Karbon: Cara Mudah Turunkan Emisi

    Kecepatan Berkendara Pengaruhi Konsumsi BBM dan Emisi Karbon: Cara Mudah Turunkan Emisi

    7cloud.asia – Setiap mobil memiliki rentang kecepatan optimal yang menghasilkan konsumsi bahan bakar minimum, tetapi rentang ini berbeda antara jenis kendaraan, desain, dan usia.

    Namun secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut, konsumsi bahan bakar meningkat dari sekitar 80 kilometer per jam, salah satunya karena hambatan udara meningkat.

    Namun kecepatan hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi energi. Apa pun mobil yang Anda kendarai, Anda dapat mengurangi konsumsi bahan bakar (dan karenanya emisi) dengan mengemudi lebih halus.

    Ini termasuk mengantisipasi tikungan dan menghindari pengereman mendadak, melepaskan kaki dari pedal gas tepat sebelum mencapai puncak bukit dan melaju perlahan melewatinya.

    Selain itu melepas rak atap atau pelindung bemper dan barang-barang yang lebih berat dari dalam mobil ketika tidak diperlukan untuk membuat mobil lebih ringan dan lebih aerodinamis sehingga konsumsi energi juga lebih hemat.

    Mengemudi dengan bijak
    Di Selandia Baru, reli EnergyWise dulunya diadakan di jalur sepanjang 1200 km di sekitar Pulau Utara. Balapan ini dirancang untuk menunjukkan seberapa banyak bahan bakar dapat dihemat melalui kebiasaan mengemudi yang baik.

    Baca: Langkah Sederhana untuk Hemat Energi dan Memangkas Emisi Karbon

    Para pengemudi yang berkompetisi harus mencapai setiap tujuan dalam jangka waktu tertentu.

    Melaju terlalu lambat pada kecepatan 60-70 km/jam di jalan lurus di zona kecepatan 100 km/jam hanya untuk menghemat bahan bakar bukanlah pilihan (juga karena mengemudi terlalu lambat di jalan terbuka dapat menyebabkan kecelakaan).

    Kecepatan rata-rata optimal (baik untuk pengemudi profesional maupun rata-rata) biasanya sekitar 80 km/jam. Kunci untuk menghemat bahan bakar adalah mengemudi dengan halus.

    Pada reli pertama di tahun 2002, peserta dari Universitas Massey adalah Volkswagen Golf berbahan bakar diesel baru (dipinjamkan oleh VW NZ), yang menggunakan 100 persen biodiesel yang terbuat dari lemak hewan sisa (seperti yang telah diproduksi oleh Z Energy).

    Mobil yang menggunakan bahan bakar diesel fosil mengeluarkan sekitar 2,7 kg karbon dioksida per liter dan mobil bensin menghasilkan 2,3 kg per liter.

    Penggunaan bahan bakar nabati untuk menggantikan diesel atau bensin dapat mengurangi emisi hingga 90 persen per kilometer jika bahan bakar nabati tersebut terbuat dari lemak hewan dari pabrik pengolahan daging.

    Baca: Investasi di Sektor Transportasi Publik Berdampak Signifikan pada Lingkungan

    Jumlahnya bervariasi tergantung pada sumber bahan bakar nabati (tebu, gandum, rapeseed). Dan tentu saja tidak dapat diterima jika tanaman bahan bakar nabati menggantikan tanaman pangan atau hutan.

    Terlepas dari jenis mobilnya, pengemudi dapat mengurangi konsumsi bahan bakar sebesar 15-20 persen hanya dengan memperbaiki kebiasaan mengemudi – mengurangi emisi dan menghemat uang pada saat yang bersamaan.

    Efisiensi Bahan Bakar
    Saat Anda mempertimbangkan untuk mengganti mobil Anda, mempertimbangkan efisiensi bahan bakar adalah cara penting lainnya untuk menghemat biaya bahan bakar dan mengurangi emisi.

    Banyak negara, termasuk AS, Jepang, Cina, dan negara-negara di Uni Eropa, telah memiliki standar efisiensi bahan bakar selama lebih dari satu dekade. Hal ini telah mendorong produsen mobil untuk merancang kendaraan yang semakin hemat bahan bakar.

    Sebagian besar kendaraan ringan yang dijual secara global tunduk pada standar ini. Namun, Australia dan Selandia Baru sama-sama lambat dalam hal ini, sebagian karena sebagian besar kendaraan diimpor.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Selandia Baru juga masih ragu-ragu untuk memperkenalkan skema “feebate”, yang mengusulkan biaya pada mobil impor beremisi tinggi untuk membuat mobil hibrida, mobil listrik, dan kendaraan efisien lainnya yang diimpor lebih murah dengan subsidi.

    Di Selandia Baru, mengendarai mobil listrik menghasilkan emisi rendah karena pembangkit listriknya 85 persen terbarukan.

    Di Australia, yang masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara, mobil listrik bertanggung jawab atas emisi yang lebih tinggi kecuali jika diisi ulang melalui pasokan listrik terbarukan lokal.

    Harga bahan bakar dan listrik pasti akan naik. Tetapi, baik kita mengendarai mobil bensin atau listrik, kita semua dapat melindungi diri dari beberapa kenaikan harga di masa depan dengan mengemudi lebih efisien dan lebih lambat.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari Climate Explained, kerjasama antara The Conversation dan New Zealand Science Media Centre untuk menjawab pertanyaan tentang perubahan iklim. Baca artikel asli di sini

  • Industri Fosil Jadi Biang Krisis Iklim, Aksi Individu Tak Akan Mampu Mengatasinya

    Industri Fosil Jadi Biang Krisis Iklim, Aksi Individu Tak Akan Mampu Mengatasinya

     

    7cloud.asia – Kalau semua orang membawa tumbler, apakah masalah lingkungan dan krisis iklim akan langsung beres? Jawabannya tentu tidak.

    Gerakan membawa tumbler atau mengurangi emisi pribadi bukannya tidak penting. Tapi perlu disadari sumber utama pencemaran dan kerusakan justru bukan berasal dari perilaku konsumsi individu.

    Data Carbon Majors Report menunjukkan lebih dari 70 persen emisi CO₂ global dari bahan bakar fosil dan produksi semen sejak Revolusi Industri pada akhir abad ke-18.

    Dan jika ditelusuri, keseluruhan total emisi itu merupakan hasil produksi 78 entitas saja, mencakup perusahaan swasta dan perusahaan minyak atau gas milik negara.

    Mereka menguras atau memproduksi bahan baku tinggi emisi seperti batu bara, minyak, gas, atau semen. Produk tersebut kemudian digunakan oleh pembangkit listrik, industri, kendaraan, rumah tangga, dan lain-lain. 

    Laporan ini dikembangkan untuk menunjukkan bahwa tanggung jawab atas krisis iklim, selain ada pada tingkat negara, juga adalah tanggung jawab perusahaan-perusahaan yang selama puluhan tahun memproduksi minyak, gas, batu bara, dan semen dalam skala besar.

    Krisis iklim membuat suhu Bumi semakin panas, sehingga bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan panas ekstrem semakin sering terjadi.

    Gambaran serupa juga terjadi di Indonesia. Sekitar 70 persen emisi karbon nasional berasal dari empat sektor industri, yakni besi dan baja, semen, kimia, serta petrokimia yang masih bergantung pada energi fosil.

    Oleh karenanya, sasaran utama kampanye lingkungan semestinya adalah sektor-sektor ini, bukan menyasar perubahan perilaku perorangan semata. 

    Baca: Anak-anak Pesisir Menanggung Dampak Pembangunan yang Abai Krisis Iklim

    Bagaimana tanggung jawab emisi berpindah ke individu?

    Kampanye menyasar perubahan perilaku individu memang jauh lebih mudah ketimbang mengubah cara industri bergerak.

    Mengurangi emisi dari industri berarti menyentuh kepentingan investasi, lapangan kerja, penerimaan negara, hingga model pertumbuhan ekonomi yang selama ini bergantung pada energi fosil.

    Kampanye perubahan perilaku individu semakin menguat ketika British Petroleum (BP)—perusahaan energi multinasional asal Inggris—mempopulerkan konsep carbon footprint atau jejak karbon pada awal 2000-an.

    Alhasil, tanggung jawab iklim seolah tanggung jawab keputusan perorangan: tentang apa yang kita makan, alat transportasi yang kita pakai, semua belanjaan yang kita beli.

    Tanggung jawab perusahaan yang memproduksi emisi tersebut disembunyikan dibalik pilihan-pilihan individu.

    Pergeseran ini kemudian tidak hanya mengubah cara masyarakat bertindak, tetapi juga mengubah cara masyarakat memahami krisis iklim. Perdebatan mengenai krisis iklim pun bergeser dari persoalan ekonomi politik menuju persoalan moralitas konsumsi.

    Seiring dengan meningkatnya kesadaran publik akan isu lingkungan, banyak perusahaan lantas memakai gimik keberlanjutan—target net zero emission, menerbitkan laporan tanggung jawab lingkungan, dan melakukan program penghijauan—untuk meningkatkan daya saing dan menggaet konsumen yang prolingkungan.

    Baca: Tak Ada Solusi Tunggal untuk Hadapi Dampak Krisis Iklim, Pelibatan Masyarakat Tapak Sangat Penting

    Perilaku ini dikenal sebagai kerangka business case for sustainability yang memposisikan keberlanjutan sebagai strategi untuk efisiensi, reputasi, dan daya saing. Bukan sebagai perubahan struktural pada produksi.

    Tak heran banyak perusahaan yang memakai branding hijau hanya sekadar jargon, tanpa benar-benar mengubah cara produksinya atau mengurangi emisi dari sumber utamanya secara signifikan. 

    Seiring ramai percakapan soal target net zero emission, hampir semua perusahaan besar kini mengumbar komitmen untuk mencapai emisi nol bersih dalam beberapa dekade mendatang.

    Di tingkat global, target ini menjadi bagian penting dari berbagai strategi menghadapi perubahan iklim.

    Masalahnya, target nol emisi bakal kehilangan makna apabila lebih banyak bergantung pada mekanisme penebusan karbon (carbon offset) atau perhitungan administratif daripada pengurangan emisi secara nyata.

    Perhatian publik lebih banyak diarahkan pada angka-angka target. Sementara ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, ekspansi industri, dan pola produksi yang menghasilkan emisi tinggi tetap berlangsung.

    Jadi sebenarnya persoalannya bukan apakah net zero diperlukan atau tidak, melainkan apakah target tersebut benar-benar menghasilkan penurunan emisi di sumbernya atau hanya mengubah cara emisi dihitung dan dilaporkan. 

    Krisis iklim bukan masalah perorangan

    Perubahan perilaku individu tentu tetap berperan mengurangi sebagian dampak lingkungan. Namun, bukti menunjukkan bahwa kontribusinya akan selalu terbatas selama sumber utama emisi tetap berada pada sistem produksi yang bergantung pada energi fosil dan ekspansi industri.

    Baca: Anak‑anak dan Kelompok Muda Marginal Rentan Terdampak Krisis Iklim Tetapi Tidak Menyadarinya

    Dalam kondisi seperti itu, perubahan perilaku individu lebih banyak memengaruhi pola konsumsi, sementara mekanisme yang menghasilkan emisi dalam skala besar tetap berlangsung. Masalah tak akan pernah selesai, Bumi akan semakin panas. 

    Krisis lingkungan bukanlah akibat dari pilihan konsumsi individu semata, melainkan sebagai konsekuensi dari cara produksi modern yang terus menuntut akumulasi, pertumbuhan, dan ekspansi tanpa henti.

    Selama keberhasilan ekonomi tetap diukur melalui peningkatan produksi dan konsumsi, setiap upaya pengurangan emisi akan terus berhadapan dengan tekanan struktural yang mendorong peningkatan penggunaan energi dan eksploitasi sumber daya alam.

    Dalam konteks Indonesia, ketegangan ini terlihat ketika agenda transisi energi berjalan bersamaan dengan dorongan untuk terus memperluas aktivitas industri sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

    Dalam kondisi seperti itu, pengurangan emisi sering kali harus berhadapan dengan tuntutan untuk terus meningkatkan produksi, investasi, dan konsumsi energi.

    Pada akhirnya, keterbatasan aksi individu bukan karena kurangnya kesadaran masyarakat, melainkan oleh kenyataan bahwa sebagian besar emisi dihasilkan dan direproduksi melalui proses produksi di hulu yang berada di luar jangkauan keputusan konsumsi sehari-hari di hilir.

    Publik tak diberi banyak pilihan sementara mereka terus didorong sibuk menghitung jejak karbon sendiri.  


    Muhammad Ifan Fadillah, Mahasiswa Doktoral, Universitas Pendidikan Indonesia

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.