Tag: ramah lingkungan

  • Jakarta Pelopori Penggunaan Truk Sampah Listrik di Indonesia

    Jakarta Pelopori Penggunaan Truk Sampah Listrik di Indonesia

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mulai mengoperasikan truk sampah ramah lingkungan bertenaga listrik tipe compactor berkapasitas enam meter kubik yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik dan bebas emisi.

    Truk sampah ini menggunakan sistem plug-in dan mampu memadatkan sampah secara otomatis dengan pengoperasian yang minim kebisingan sehingga lebih ramah lingkungan.

    Langkah ini menjadikan Jakarta sebagai salah satu pelopor daerah di Indonesia yang menggunakan truk sampah listrik dalam kegiatan operasional pengelolaan sampahnya.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, tahun ini pihaknya sudah mengadakan lima unit truk pengangkut sampah jenis compactor listrik yang ramah lingkungan dan bebas emisi.

    Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari upaya DKI Jakarta dalam mengurangi polusi udara dan emisi karbon dari sektor transportasi, khususnya armada pengangkut sampah.

    “Ini merupakan semangat mengurangi polusi udara dan emisi karbon. Kita mulai menggagasnya melalui operasional compactor listrik ke depannya. Tahun ini kami mengadakan lima unit compactor listrik termasuk charger-nya, dengan kapasitas enam sampai tujuh meter kubik,” ujar Asep, Senin (14/4/2025).

    Baca: RDF Rorotan disebut solusi palsu pengelolaan sampah di Jakarta

    Ia menyampaikan, unit compactor listrik ini memiliki spesifikasi teknis yang telah disiapkan secara matang untuk mendukung operasional pengelolaan sampah di wilayah DKI Jakarta.

    Asep menjelaskan, compactor ini berkapasitas enam meter kubik, sistem full elektrik, tanpa emisi dan tanpa kebisingan.

    Seluruh proses pengoperasian menggunakan tenaga listrik dengan sistem plug-in dan dapat memadatkan sampah secara otomatis.

    Adapun dimensi alat mencakup panjang 3.300 mm, lebar 1.700 mm, tinggi 1.950 mm, dan berat kosong lebih kurang 1.700 kilogram. Daya listrik yang dibutuhkan sebesar 1,5 kW, 3 phase.

    Compactor ini juga dilengkapi panel kendali digital, safety switch, serta hydraulic control unit yang menjamin pengoperasian alat secara aman dan efisien.

    Asep menyebut, pengadaan truk compactor listrik ini juga merupakan bagian dari peremajaan armada truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

    Baca: Pengolahan sampah menjadi energi terbarukan atau RDF

    Dengan mengganti sebagian armada lama berbahan bakar fosil ke kendaraan berbasis listrik, pihaknya berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan modern.

    “Seluruh sampah yang diangkut ke RDF Plant Rorotan menggunakan truk compactor, termasuk lima unit truk compactor listrik ini. Kedepannya kita akan terus tambah lagi,” katanya.

    Selain itu, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) akan disiapkan di beberapa lokasi strategis seperti pool truk Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, RDF Plant Rorotan, dan TPST Bantar Gebang.

    Teknologi pengisian dayanya menggunakan sistem super fast charging, yang memungkinkan baterai kendaraan terisi penuh hanya dalam waktu 20 hingga 30 menit.

    “Kami juga telah melatih para operator untuk mengoperasikan compactor listrik ini. Pengoperasiannya cukup mudah dan tidak jauh berbeda dengan compactor konvensional berbahan bakar solar, sehingga adaptasi berjalan lancar,” ucapnya.

    Asep menambahkan, upaya ini menjadi bagian dari visi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang rendah karbon dan berkelanjutan.

    Dia optimistis seluruh armada truk sampah di Jakarta dapat menggunakan compactor listrik di masa depan, seiring dengan perkembangan teknologi dan infrastruktur pendukungnya.

    “Jakarta ingin menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan ramah lingkungan bukan hal yang mustahil. Semua bisa dimulai dari sekarang, dan bukan tidak mungkin ke depan seluruh truk sampah kami adalah truk listrik,” tandasnya.

     

  • Hambatan Penggunaan Nanofiber Demi Industri Tekstil yang Lebih Ramah Lingkungan

    Hambatan Penggunaan Nanofiber Demi Industri Tekstil yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Permintaan nanofiber kini mulai meningkat di industri tekstil, khususnya sebagai pakaian medis, karena lapisannya tidak hanya “tahan air” tapi juga “dapat bernafas” (waterproof and breathable membrane), sehingga bahannya tidak pengap.

    Selain itu, permintaan juga berkembang dari sektor lingkungan seperti untuk filter pengolah limbah, filter untuk mengurangi polusi udara, dan sebagainya.

    Nanofiber merupakan serat berdiameter pada rentang nanometer (1 – 1000 nm). Dengan ukuran serat yang kecil dan sifatnya yang mudah diubah, nanofiber banyak digunakan sebagai ‘kulit pelapis’ untuk menyaring atau melindungi sesuatu.

    Sayangnya, masih banyak pemasok nanofiber yang tetap mencampur serat ini dengan PFAS. Alasannya kembali ke ketahanan PFAS yang tak tertandingi terhadap air dan minyak, serta meningkatkan daya tahan material.

    Temuan riset: kualitas membran nanofiber sebanding PFAS
    Penelitian kami berhasil menunjukkan bahwa membran nanofiber saja ternyata bisa memiliki ketahanan sebanding dengan material dengan PFAS.

    Kami membuat waterproof and breathable membrane nanofiber dari polivinil asetat (PVAc) dan polisulfona (PSU) yang bebas PFAS.

    Nanofiber atau serat yang sangat kecil dibuat dengan menggunakan metode electrospinning atau listrik bertegangan tinggi. Caranya seperti menarik cairan dengan listrik hingga membentuk serat tipis.

    Ini mirip seperti menarik benang dari lelehan permen kapas, tapi dalam skala yang sangat kecil.

    Melalui beberapa rangkaian pengujian, nanofiber yang kami hasilkan terbukti bisa menahan air tanpa bocor. Di saat yang bersamaan, nanofiber tersebut tetap bisa dengan mudah dilewati oleh udara dan uap air, sehingga terasa “bernapas” dan nyaman digunakan.

    Hal ini terjadi karena nanofiber punya banyak lubang kecil (porositas tinggi), sehingga memungkinkan udara dan uap air lewat.

    Kami memang masih menggunakan polimer sintesis seperti PVAc dan PSU dalam penelitian ini. Namun riset kami bisa menjadi landasan pengembangan material nanofiber yang sepenuhnya berasal dari polimer alami berbasis tumbuhan.

    Beberapa riset menunjukkan, beberapa bahan polimer alami potensial, yakni selulosa, kitin, serta pati yang layak digunakan untuk menghasilkan nanofiber ramah lingkungan.

    Hasil penelitian kami memang menunjukkan potensi besar dalam pengembangan membran nanofiber sebagai alternatif PFAS. Namun, terdapat beberapa hambatan yang masih harus dihadapi agar penggunaannya bisa optimal.

    Berikut hambatan pengembangan nanofiber:

    1. Biaya produksi tinggi
    Penelitian kami menggunakan material baru sehingga kemungkinan besar biaya produksinya akan lebih tinggi dibandingkan dengan material konvensional.

    Oleh karena itu, perlu strategi untuk mengurangi biaya produksi, terutama dalam penggunaan bahan baku dan energi.

    Kerja sama dengan pemasok bahan baku untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif bisa membantu menurunkan ongkos.

    Jika strategi-strategi ini diterapkan dengan baik, produk ini memiliki potensi untuk diproduksi dengan harga terjangkau dalam waktu dekat, terutama jika permintaan pasar meningkat dan skala produksinya diperbesar.

    2. Metode produksi terbatas dalam kapasitas rendah
    Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah electrospinning yang memiliki kapasitas produksi rendah.

    Butuh inovasi dan pengembangan dalam metode atau alat produksi yang digunakan di Indonesia, seperti penggunaan needleless electrospinning yang banyak digunakan di berbagai negara untuk menghasilkan nanofiber dalam jumlah besar.

    Jika produksi sudah mencapai jumlah besar, ongkos berpeluang untuk terpangkas dengan sendirinya.

    Terlepas dari dua tantangan tersebut, potensi membran nanofiber sangat menjanjikan. Apalagi dampak negatifnya bagi lingkungan dan kesehatan manusia lebih minim.

    Di Uni Eropa, banyak negara sudah menerapkan regulasi yang sangat ketat terhadap penggunaan material berbahan PFAS.

    Sayangnya aturan pengetatan ini belum diberlakukan di Tanah Air, meski sudah banyak kajian dari berbagai lembaga/organisasi penelitian tentang bahaya PFAS.

    Indonesia semestinya juga memperketat aturan untuk produk-produk mengandung PFAS seraya mempertimbangkan opsi alternatif seperti membran nanofiber.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Rizky Aflaha (Ph.D student, Universitas Gadjah Mada)

  • Inovasi Ubah Limbah Pelepah Pisang Jadi Wadah Makanan Ramah Lingkungan

    Inovasi Ubah Limbah Pelepah Pisang Jadi Wadah Makanan Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan bahan baku alternatif untuk wadah makanan atau food container yang berasal dari pelepah pisang.

    Saat wawancara dengan Tim Humas BRIN, di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Februari lalu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Sukma Surya Kusumah mengatakan, inovasi ini dilakukan untuk mengurangi volume sampah plastik.

    Inovasi ini memanfaatkan teknologi biomassa, dengan mengubah berbagai serat dari tumbuhan menjadi material untuk wadah atau kemasan yang lebih ramah lingkungan

    Food container berbasis pelepah pisang sangat aman digunakan untuk produk-produk kering.

    “Secara pengujian migrasi tidak menyebabkan perpindahan bahan kimia yang ada di dalam food container ke dalam produk makanan, karena sudah melalui proses untuk menghilangkan bahan-bahan kimia yang berbahaya di dalam pelepah pisang itu sendiri,” ujarnya,

    Sukma menjelaskan, pembuatan food container berbasis bahan serat atau lignocellulosa fiber bisa diperoleh dari berbagai tumbuhan lainnya selain batang pelepah pisang, seperti pelepah pinang, serat nanas, serat kenaf, dan tanaman jagung.

    Baca: Mengolah limbah pisang menjadi produk serat ramah lingkungan

    Tumbuhan tersebut pada dasarnya mengandung serat atau selulosa yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan penguat untuk food container.

    Sukma bersama salah satu siswa bimbingannya, Aprilia, telah mengembangkan matrik atau perekat yang digunakan untuk membuat food container berbasis bahan alam, yaitu kitosan.

    Kitosan bisa diperoleh dari cangkang kepiting, udang, tulang ataupun sirip ikan, sehingga sangat ramah lingkungan dan tidak berbahaya untuk kesehatan.

    Sukma mengatakan, secara komersial, food container berbasis pelepah pisang ini belum dimanfaatkan oleh industri secara luas.

    ”Akan tetapi, secara teknologi, komposit untuk pembuatan food container yang menggunakan bahan alam lainnya-salah satunya pelepah pinang-sudah dimanfaatkan oleh mitra industri kami, yaitu PT. Jentera Garda Futura, dan sudah dijual di Jakarta, Bandung, dan Bali,” tambahnya.

    Sukma mengatakan, kebanyakan wadah atau kemasan makanan yang dikenal masyarakat saat ini berbahan gabus sintetis, plastik, dan karton yang tidak ramah lingkungan.

    Baca: Uganda manfaatkan limbah tanaman pisang menjadi produk serat ramah lingkungan

    Karena itu, penggunaan food container pelepah pisang membutuhkan treatment yang berbeda dibandingkan yang berbahan plastik konvensional.

    Tujuan membuat food container berbahan alam adalah untuk mengatasi masalah limbah plastik yang sulit terdegradasi oleh mikroorganisme.

    Sehingga, penggunaan food container berbasis pelepah pisang ini hanya untuk sekali pakai karena ketika dibuang hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu untuk terurai.

    “Keunggulan food container berbasis batang pelepah pisang adalah pertama ramah lingkungan, kedua, mudah terdegradasi, ketiga, bahan baku melimpah sehingga mudah diperoleh dan lebih murah karena batang pohon yang sudah tidak produktif ini belum dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.

    Food container berbasis bahan alam terutama pelepah pisang masih perlu pengembangan lebih lanjut terutama terkait durability atau keawetannya, karena hanya satu kali pakai.

    Tantangannya adalah bagaimana bisa meningkatkan kemampuan food container ini lebih dari satu kali pemakaian, seperti produk food container berbasis plastik konvensional.

    “Oleh karena itu, perlu penerapan teknologi coating dalam pembuatan food container sehingga bisa dipakai beberapa kali seperti produk food container berbasis plastik konvensional,” pungkasnya.

    Baca: Indonesia punya lebih dari 300 jenis pisang lokal

  • Melawan Perubahan Iklim Lewat Pilihan Hidangan di Piring

    Melawan Perubahan Iklim Lewat Pilihan Hidangan di Piring

    7cloud.asia – Jika ingin hidup sehat sekaligus ramah lingkungan, kamu bisa mulai melakukannya dari hal sederhana: lewat makanan di piringmu.

    Riset membuktikan bahwa makanan yang menyehatkan—terutama dari tumbuhan—merupakan pilihan terbaik untuk manusia dan lingkungan.

    Jika masyarakat seluruh dunia menjadi vegan, emisi sektor pangan global akan turun hingga 70 persen pada 2050.

    Di saat yang sama, mengonsumsi makanan sehat (buah, sayuran, dan kacang-kacangan) berpotensi mengurangi berbagai risiko penyakit kronis, seperti diabetes, jantung koroner, dan kolesterol.

    Kabar baiknya, penelitian kami menunjukkan tren peningkatan kesadaran dalam mengonsumsi makanan berbasis nabati di Indonesia, terutama di kalangan Milenial dan Gen Z atau Zilenial di perkotaan.

    Hanya saja, anak muda yang ingin mengadopsi gaya hidup berkelanjutan ini masih harus menghadapi sejumlah tantangan, seperti harga mahal, akses terbatas, greenwashing, dan kurangnya informasi.

    ● Pola makan berbasis nabati bisa mengurangi jejak karbon dan emisi gas rumah kaca

    ● Kesadaran Zilenial semakin meningkat mengenai dampak makanan terhadap kesehatan dan lingkungan

    ● Harga, aksesibilitas, dan greenwashing masih menjadi kendala utama yang menghambat transisi ke pola makan berkelanjutan

    Kenapa makanan nabati lebih rendah karbon?
    Produksi makanan dari tumbuhan umumnya membutuhkan sumber daya dan energi yang jauh lebih sedikit dibandingkan makanan hewani, sehingga emisi gas rumah kaca yang dihasilkan lebih rendah.

    Contohnya produksi daging membutuhkan lahan yang luas untuk menanam pakan ternak dan merumput.

    Emisi terbesar berasal dari kotoran ternak yang mengandung metana—gas ini memiliki dampak pemanasan global 84 kali lebih tinggi daripada karbon dioksida (CO2) dan bisa bertahan selama 20 tahun.

    Sebaliknya, limbah dari tanaman lebih mudah dikelola dan memiliki dampak lingkungan lebih rendah. Menanam pangan nabati dengan sistem yang baik, bahkan bisa meningkatkan kesuburan tanah.

    Dengan kata lain, mengonsumsi lebih banyak makanan dari tumbuhan bisa berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.

    Makanan sehat berkelanjutan jadi kesadaran baru
    Riset yang saya lakukan bersama tim menunjukkan bahwa Zilenial makin menyadari bahwa makanan yang mereka konsumsi enggak cuma berdampak buat kesehatan, tetapi juga Bumi.

    Penelitian kami berlangsung antara April hingga Juli 2023 di tiga restoran sehat hits di Jakarta: SNCTRY, SaladStop!, dan Burgreens.

    Restoran-restoran ini kami pilih karena menyajikan makanan sehat sekaligus mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam bahan baku dan bisnis mereka.

    Kami meneliti 210 responden berusia 18–42 tahun yang pernah makan di restoran tersebut. Hasilnya, mereka yang memilih makanan sehat cenderung lebih sadar lingkungan.

    Penelitian kami menunjukkan, kesadaran akan kesehatan berkontribusi 65,3 persen terhadap pola konsumsi makanan berkelanjutan. Artinya, semakin peduli seseorang terhadap kesehatannya, semakin besar kemungkinan mereka memilih makanan yang lebih ramah lingkungan.

    Selain itu, faktor kepercayaan berperan besar. Sebanyak 39,7 persen variasi pola konsumsi berkelanjutan ditentukan oleh kepercayaan konsumen.

    Artinya, semakin transparan sebuah brand soal bahan makanan dan proses produksinya, semakin tinggi kemungkinan pelanggan membeli produk nabati tersebut.

    Kesadaran ini juga didorong oleh media sosial dan influencer yang aktif mempromosikan pola makan berbasis nabati. Ditambah, makin banyak bisnis makanan yang sadar lingkungan dan menjadikan keberlanjutan sebagai nilai jual mereka.

    Sayangnya, tidak semua orang bisa dengan mudah beralih ke pola makan berkelanjutan, terutama anak muda. Ada beberapa tantangan yang masih jadi kendala utama yang harus ditangani.Apa saja, akan diulas dalam tulisan selanjutnya

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dr. Junaid Ali Saeed Rana (Dean of Faculty of IT and Business, University of Jakarta Internationa). Dr. Evi Susanti, S.E., M.M. selaku Associate Professor dan Head of Quality Assurance University of Jakarta International (UNIJI) bersama Thalia Agustina dari Jurusan Manajemen UNIJI berkontribusi dalam penelitian ini.

  • Kesadaran Pola Makan Ramah Lingkungan Meningkat, Tapi Ada Kendala untuk Mengadopsinya

    Kesadaran Pola Makan Ramah Lingkungan Meningkat, Tapi Ada Kendala untuk Mengadopsinya

    7cloud.asia – Penelitian yang penulis lakukan menunjukkan tren peningkatan kesadaran dalam mengonsumsi makanan berbasis nabati di Indonesia, terutama di kalangan Milenial dan Gen Z atau Zilenial di perkotaan.

    Kesadaran didorong oleh media sosial dan influencer yang aktif mempromosikan pola makan berbasis nabati. Ditambah, makin banyak bisnis makanan yang sadar lingkungan dan menjadikan keberlanjutan sebagai nilai jual mereka.

    Hanya saja, anak muda yang ingin mengadopsi gaya hidup berkelanjutan ini masih harus menghadapi sejumlah tantangan, seperti harga mahal, akses terbatas, greenwashing, dan kurangnya informasi.

    Akibatnya, tidak semua orang bisa dengan mudah beralih ke pola makan berkelanjutan atau ramah lingkungan, terutama anak muda.

    Berikut sejumlah tantangan yang masih jadi kendala utama untuk anak muda untuk beralih ke pola makan yang ramah lingkungan:

    Harga lebih mahal: Makanan organik dan produk berkelanjutan sering kali lebih mahal dibanding makanan biasa. Sementara itu, daya beli kalangan muda umumnya masih rendah.

    Baca: Melawan perubahan iklim lewat isi piring

    Akses terbatas: Produk organik dan berkelanjutan masih sulit ditemukan di pusat perbelanjaan biasa, membuat opsi ini kurang praktis.

    Greenwashing: Banyak brand mengklaim produknya ramah lingkungan, padahal kenyataannya tidak sepenuhnya begitu. Hal ini membuat publik ragu dengan jaminan keberlanjutan produk.

    Kebiasaan makan yang sulit diubah: Makanan tradisional kita kebanyakan berbasis daging dan minyak, jadi butuh waktu buat menyesuaikan diri.

    Kurangnya informasi yang akurat: Banyak orang masih bingung memilih mana makanan yang benar-benar berkelanjutan.

    Kunci perubahan industri makanan
    Mayoritas konsumen di masa depan adalah anak muda, yang kini makin kritis dalam memilih makanan yang mereka beli.

    Oleh karena itu, perusahaan makanan yang ingin bertahan hingga masa depan harus lebih transparan agar mendapatkan kepercayaan dan menarik minat pelanggan muda.

    Baca: Industri peternakan jadi salah satu penyumbang terbesar deforestasi

    Beberapa strategi yang bisa diterapkan bisnis makanan, antara lain:
    Transparansi rantai pasok: Beri tahu konsumen dari mana bahan makanan berasal, apakah organik, dan bagaimana proses produksinya.

    Label yang jelas dan kredibel: Pastikan produk memiliki sertifikasi keberlanjutan yang diakui.

    Kemitraan dengan influencer dan aktivis lingkungan: Tingkatkan kesadaran konsumen lewat konten edukatif yang relatable di media sosial.

    Kampanye edukasi: Bantu konsumen memahami pentingnya makanan berkelanjutan.

    Harga yang lebih terjangkau: Pastikan makanan berkelanjutan bisa diakses lebih banyak orang, bukan hanya kalangan tertentu.

    Baca: Praktisi vegan kritisi kebijakan iklim yang masih basa-basi

    Selain para pebisnis yang harus berbenah, pemerintah juga perlu menyiapkan regulasi yang jelas mengenai pelabelan makanan, serta memberikan subsidi insentif bagi bisnis berkelanjutan.

    Sementara konsumen harus meningkatkan literasi pangan serta aktif mendukung merek-merek ramah lingkungan sembari menuntut transparansi dari perusahaan-perusahaan makanan.

    Milenial dan Gen Z atau yang biasa disebut dengan zilenial berperan besar dalam perubahan ini.

    Dengan kesadaran penuh mengenai dampak kesehatan dan ramah lingkungan, keputusan kecil kita dalam mengubah pola makan bisa membentuk industri makanan yang lebih bertanggung jawab sebagai normal baru, sekaligus menciptakan masa depan yang lebih hijau.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dr. Junaid Ali Saeed Rana (Dean of Faculty of IT and Business, University of Jakarta Internationa). Dr. Evi Susanti, S.E., M.M. selaku Associate Professor dan Head of Quality Assurance University of Jakarta International (UNIJI) bersama Thalia Agustina dari Jurusan Manajemen UNIJI berkontribusi dalam penelitian ini.

  • Cara Sederhana Agar Aktivitas Streaming Kita Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Sebuah lembaga think-tank asal Prancis, Shift Project, mengajak masyarakat dan perusahaan untuk menerapkan “digital sobriety”—yakni penggunaan teknologi digital secara sadar dan efisien demi keberlanjutan lingkungan.

    Sebagai contoh, sebuah riset menunjukkan bahwa Inggris bisa mengurangi emisi karbon lebih dari 16 ribu ton per tahun jika setiap orang dewasa mengurangi satu email ucapan terima kasih per hari.

    Streaming tanpa sadar harus dihindari karena decoding video dapat menyumbang 35 hingga 50 persen energi saat pemutaran ulang (playback) di gawai kita.

    Video musik lebih dari sekadar musik. Seperti yang telah penulis kemukakan, video “memberikan lapisan makna yang tidak bisa ditampilkan dalam lirik atau audio”.

    Video bisa mengangkat para musisi, budaya, dan ide yang terpinggirkan ke permukaan, serta menyuarakan isu-isu sosial yang kompleks.

    Baca: Menurunkan jejak karbon dari aktivitas digital

    Contohnya karya rapper, penyair, aktivis, dan rohaniwan berdarah Suriah-Amerika, Mona Haydar, dalam video Wrap My Hijab

    Atau juga kritik terhadap neoliberalisme dan ekonomi trickle-down dalam video Nouveau Riche, dari rapper grime asal Inggris, Drillminister yang menyindir “orang kaya norak”.

    Berikut adalah beberapa tips streaming musik yang ramah lingkungan sekaligus cara mengurangi jejak karbon dari kebiasaan mendengarkan musikmu:

    1. Gunakan Wi-Fi alih-alih jaringan seluler (4G/5G).

    2. Jika sering memutar lagu yang sama berulang-ulang, lebih baik unduh dan simpan lagu itu untuk pemutaran offline.

    Baca: Menurunkan jejak karbon dari penggunaan perangkat elektronik

    3. Gunakan penyimpanan lokal, bukan sistem berbasis cloud, untuk file musik dan videomu.

    4. Nonaktifkan fitur auto-play, hindari streaming latar belakang tanpa tujuan, dan ubah pengaturan default perangkat agar tidak selalu memutar dalam resolusi tinggi.

    5. Hindari pemutaran otomatis, streaming latar belakang tanpa tujuan, dan ubah pengaturan default perangkat agar tidak selalu memutar dalam resolusi tinggi.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Hussein Boon (Principal Lecturer – Music, University of Westminster)

  • WIA 2025 Kategori Green Hotel Dorong Industri Perhotelan Adopsi Prinsip Ramah Lingkungan

    WIA 2025 Kategori Green Hotel Dorong Industri Perhotelan Adopsi Prinsip Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Kementerian Pariwisata melakukan kick off dan sosialisasi World Indonesia Award atau WIA 2025 kategori Green Hotel di Bekasi, Jawa Barat, Senin (29/9/2025).

    WIA 2025 akan diberikan kepada hotel-hotel yang telah konsisten menjalankan praktik ramah lingkungan, efisiensi energi dan air, pengelolaan sampah, serta berkontribusi sosial bagi masyarakat sekitar.

    Langkah ini merupakan upaya pembangunan pariwisata berkelanjutan. Hal ini juga tertuang dalam RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029 yang menempatkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan sebagai prioritas nasional.

    Target capaian yang ingin didorong melalui industri pariwisata, khususnya hotel, mencakup penurunan emisi hingga 31,89 persen, pengurangan food waste per kapita sebesar 35 persen pada tahun 2030, serta pengelolaan 70 persen limbah plastik dan rumah tangga pada tahun 2025.

    Baca: Urban farming di Phoenix Hotel Yogyakarta

    Kementerian Pariwisata berharap, penghargaan ini mendorong pelaku usaha perhotelan untuk mengadopsi standar hijau ramah lingkungan dan berkelanjutan sebagai tolok ukur pengelolaan usaha yang diharapkan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia.

    “WIA kategori Green Hotel ini kita jadikan instrumen untuk mempercepat praktik pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan manajemen pangan yang lebih bertanggung jawab,” kata Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar Rizki Handayani Mustafa di Jakarta.

    Dia menambahkan, hotel bukan lagi hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga motor penggerak bagi terciptanya pariwisata yang berkualitas dan bertanggung jawab.

    Adapun kriteria penilaian kategori Green Hotel dalam WIA 2025 di antaranya kebijakan dan tindakan terkait lingkungan untuk operasional hotel; penggunaan produk ramah lingkungan, efisiensi energi, pengembangan SDM.

    Green Hotel juga mensyaratkan pengelolaan limbah padat; efisiensi air dan kualitas air, pengelolaan kualitas udara, keterlibatan atau kolaborasi dengan masyarakat dan organisasi lokal.

    Baca: DLH DKI Jakarta wajibkan hotel, restoran dan kafe kurangi sampah makanan

    Green Hotel dalam WIA 2025 akan terbagi dalam tiga kategori yakni hotel bintang 3, bintang 4, dan bintang 5. Setiap kategori akan menetapkan tiga pemenang terbaik nasional dengan klasifikasi Gold Winner, Silver Winner, dan Bronze Winner.

    Nantinya lima pemenang nasional dari Green Hotel WIA 2025 akan dinominasikan ke ajang ASEAN Green Hotel Award 2025.

    Lebih dari sekadar penghargaan, Rizki menegaskan bahwa WIA 2025 kategori Green Hotel adalah gerakan kolektif untuk memperluas praktik baik yang sudah dilakukan oleh pelaku industri.

    “Hotel yang mengimplementasikan praktik hijau akan meraih banyak manfaat, mulai dari efisiensi biaya operasional, peningkatan daya saing, hingga reputasi yang lebih kuat di mata wisatawan global,” katanya.

    Ia mengajak semua pihak untuk menjadikan Wonderful Indonesia Award kategori Green Hotel sebagai momentum untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang indah, ramah, sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

     

  • Meski Kandungan Oktan Setara BBM Pertamaxs Turbo, Bobibos Perlu Jalani Uji Kelayakan

    Meski Kandungan Oktan Setara BBM Pertamaxs Turbo, Bobibos Perlu Jalani Uji Kelayakan

    7cloud.asia – Sejak diluncurkan pada awal November 2025, Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos) mengundang perhatian publik dan menjadi perbincangan masyarakat luas.

    Bobibos diklaim sebagai bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan karena berbahan baku jerami yang menghasilkan BBM baru dengan oktan mencapai RON 98. Kandungan oktan yang dimiliki setara dengan BBM Pertamaxs Turbo.

    Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menyatakan Bobibos merupakan terobosan inovasi dari sejumlah anak muda untuk menghasilkan alternatif BBM sebagai energi baru terbarukan (EBT) dengan kualitas tinggi, harga murah dan ramah lingkungan.

    “Meski begitu Bobibos masih harus diuji kelayakan sebagai BBM, baik uji laboratorium, maupun uji lapangan,” ujarnya dilansir ugm.ac.id, Kamis (20/11/2025).

    Baca: DPR minta pencampuran 10 persen etanol dalam BBM dikajiulang

    Fahmy menuturkan untuk uji laboratorium bisa dilakukan oleh Lemigas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) guna menguji RON, kandungan sulfur, emisi dan unsur-unsur lainnya.

    Sedangkan untuk uji lapangan bisa dilakukan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) guna menguji penggunaan Bobibos pada berbagai jenis kendaraan bermotor dengan mencapai 50.000 kilometer setiap kendaraan bermotor yang diuji.

    Hal ini menurut Fahmy, sesuai dengan standar uji BBM internasional.

    “Setelah kesemuanya lolos uji, saya kira Kementerian ESDM baru mengeluarkan sertifikat layak untuk produksi dan pemasaran secara massal,” katanya.

    Lebih lanjut, Fahmy mengungkapkan untuk produksi dan pemasaran massal tentu diperlukan investasi yang tidak kecil. Selain itu perlu jaringan distribusi yang luas di seluruh wilayah Indonesia agar tidak menyulitkan penemu Bobibos.

    Baca: Butuh 20 juta kiloliter CPO per tahun untuk wujudkan program B50

    Ia berpandangan semestinya PT Pertamina memberi dukungan adanya penemuan ini. Jika perlu untuk mengatasi kesulitan, PT Pertamina turut berinvestasi pada Bobibos yang dinilai cukup prospektif di masa depan.

    Untuk itu, Fahmy merekomendasikan alternatif pemasaran Bobibos menggunakan jaringan distribusi yang dimiliki Pertamina.

    “Bobibos perlu didukung baik dalam fasilitas penyimpanan, maupun jaringan SPBU. Tanpa dukungan penuh dari Pertamina akan sangat sulit bagi Bobibos dapat diproduksi dan dipasarkan secara massal,“ ujar Fahmy.

    Tanpa dukungan, Bobibos bisa jadi hanya sekadar mimpi yang bernasib sama seperti blue energi yang sempat diluncurkan pada saat pemerintahan SBY, yang kemudian lenyap ditelan waktu.

  • Peneliti BRIN Tawarkan Pengolahan Air Limbah Ramah Lingkungan

    Peneliti BRIN Tawarkan Pengolahan Air Limbah Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Rabu (10/12/2025) lalu, mengukuhkan lima Profesor Riset baru dari berbagai bidang kepakaran dalam Sidang Terbuka, di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

    Salah satu di antaranya adalah Profesor Sutrisno Salomo Hutagalung yang menyampaikan orasi berjudul “Sistem Instrumentasi Dan Kontrol Pada Aplikasi Ultrasonik Terpadu Dengan Proses Oksidasi Lanjut Dan Generator Gelembung Nano Untuk Pengolahan Air Limbah”.

    Prof. Sutrisno Salomo Hutagalung menawarkan solusi teknologi pengolahan air limbah yang lebih efektif melalui integrasi ultrasonik dan gelembung nano.

    Riset ini menghasilkan inovasi sistem pengolahan air limbah berbasis kombinasi ultrasonik, proses oksidasi lanjut (ozon + UV), dan generator gelembung nano (GGN).

    Teknologi ini terbukti mampu menghasilkan gelembung nano berukuran 200–700 nanometer yang meningkatkan efisiensi oksidasi dan homogenisasi.

    Dengan frekuensi ultrasonik 26 kHz, sistem menurunkan COD (Chemical Oxygen Demand) hingga 57,46 persen, memenuhi standar nasional maupun internasional.

    Baca: Minimnya pengolahan air limbah memicu masalah serius pada lingkungan dan kesehatan

    COD (Chemical Oxygen Demand) limbah adalah ukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi secara kimiawi semua bahan organik dan anorganik dalam air limbah.

    “Inovasi ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ekonomis serta berpotensi besar untuk industri tekstil dan pengolahan limbah berkelanjutan,” paparnya.

    Dilansir sciencedirect.com, saat ini, teknologi berbantuan ultrasonik telah muncul sebagai pendekatan yang menjanjikan karena kemampuan oksidasinya yang kuat, peralatan yang sederhana dan murah, serta polusi sekunder yang minimal.

    Namun, penggunaan ultrasonik dalam pengolahan air limbah memiliki beberapa keterbatasan, seperti konsumsi energi yang tinggi, waktu pengolahan yang lama, kapasitas pengolahan air yang terbatas, persyaratan kualitas air yang ketat, dan efek pengolahan yang tidak stabil.

    Untuk mengatasi masalah ini, kombinasi ultrasonik yang ditingkatkan dengan nanoteknologi diusulkan dan telah menunjukkan potensi besar dalam pengolahan air limbah.

    Kombinasi tersebut dapat sangat meningkatkan efisiensi oksidasi ultrasonik, sehingga menghasilkan peningkatan kinerja pemurnian air limbah. 

    Baca: Mayoritas sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar

    Nanomaterial tersebut diklasifikasikan dan dibahas secara sistematis. Tantangan potensial dan prospek masa depan dari teknologi yang sedang berkembang ini juga disorot.

    Inovasi Prof. Salomo diharapkan mampu mengatasi masalah kritis pencemaran air, dengan air limbah sebagai kontributor utama. Pencemaran ini berasal dari berbagai jenis zat berbahaya, termasuk industri, medis, pertanian, dan domestik.

    Pengolahan air limbah yang efektif membutuhkan degradasi zat berbahaya dan karsinogen yang efisien sebelum dibuang ke perairan bebas.

    Metode yang umum digunakan untuk pengolahan air limbah meliputi filtrasi, adsorpsi, biodegradasi, proses oksidasi lanjutan, dan oksidasi Fenton di antara lainnya.

    Efek sonokimia mengacu pada dekomposisi, oksidasi, reduksi, dan reaksi lain dari molekul zat berbahaya dalam air limbah setelah aktivasi ultrasonik, sehingga menghasilkan penghilangan zat berbahaya.

    Lebih lanjut, efek aliran mikro yang dihasilkan oleh gelombang ultrasonik menciptakan gelembung dan pusaran kecil.

    Hal ini secara signifikan meningkatkan area kontak dan kecepatan pertukaran zat berbahaya dan oksigen terlarut, sehingga mempercepat degradasi zat berbahaya.

  • Dampak Perubahan Iklim Kian Nyata: Saatnya Bikin Resolusi yang Lebih Ramah Lingkungan

    Dampak Perubahan Iklim Kian Nyata: Saatnya Bikin Resolusi yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Tahun 2025 baru saja berlalu, dan hari ini Kamis (1/1/2026) kita mulai menapaki tahun 2026.

    Sepanjang tahun 2025, kita sudah menyaksikan berbagai bencana yang dipicu perubahan iklim, maka tak ada salahnya jika awal tahun 2026 menjadi momen untuk mengubah kebiasaan menjadi lebih ramah lingkungan dan berdampak positif bagi lingkungan.

    Setiap tindakan kecil, mulai dari naik kendaraan umum, membawa tumbler, memperbanyak menanam pohon, lebih bijak mengonsumsi hingga aktif dalam aksi lingkungan akan berkontribusi signifikan terhadap masa depan planet Bumi yang lebih hijau.

    Dengan fokus pada keberlanjutan, kita dapat memastikan lingkungan yang lebih sehat untuk generasi mendatang. Berikut adalah daftar tindakan lebih ramah lingkungan, yang dapat membantu Anda berkontribusi bagi lingkungan yang kami rangkum dari berbagai sumber:

    1. Menggunakan angkutan umum atau bersepeda
    Mengurangi ketergantungan pada mobil pribadi adalah cara efektif untuk menurunkan polusi udara dan emisi karbon. Angkutan umum, bersepeda, atau berjalan kaki adalah pilihan yang lebih ramah lingkungan.

    Rencanakan perjalanan Anda menggunakan aplikasi transportasi publik atau pertimbangkan untuk bersepeda ke tempat kerja jika jaraknya memungkinkan. Carpooling juga bisa menjadi alternatif yang baik.

    2. Mengonsumsi secara bijak
    Belanja hanya apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan sangat bagus untuk lingkungan. Gaya hidup ini tak hanya mengurangi sampah yang dihasilkan, tetapi juga mengurangi ekstraksi sumber daya yang diambil dari lingkungan.

    Dalam jangka panjang, bijak mengonsumsi akan menciptakan kemerdekaan finansial. Ini juga akan memberi lebih banyak ruang dan waktu dalam hidup Anda.

    Baca: Resolusi tahun baru, fokuslah pada kesejahteraan

    3. Kurangi penggunaan barang sekali pakai
    Kurangi ketergantungan pada barang sekali pakai dan mulai beralih ke sistem guna ulang.

    Gunakan tas belanja kain, botol minum (tumbler) yang dapat diisi ulang dan wadah makanan sendiri. Simpan barang-barang ini di tempat yang mudah dijangkau, seperti tas harian atau mobil, agar selalu siap saat diperlukan.

    4. Hemat energi
    Menghemat energi tidak hanya baik untuk lingkungan, tetapi juga untuk dompet Anda. Tindakan sederhana seperti mematikan lampu saat tidak digunakan dan mencabut kabel pengisi daya dari stopkontak dapat mengurangi jejak karbon secara signifikan.

    Pertimbangkan untuk beralih ke peralatan yang lebih efisien energi, seperti lampu LED, dan manfaatkan cahaya alami sebanyak mungkin di siang hari.

    5. Memilah sampah dengan benar
    Sistem pengelolaan limbah yang efektif dimulai dari rumah. Memisahkan sampah organik, anorganik (plastik, kertas, kaca), dan bahan berbahaya memudahkan proses daur ulang dan mengurangi jumlah limbah yang berakhir di TPA.

    Sediakan tempat sampah terpisah dengan label yang jelas. Pelajari skema daur ulang lokal Anda dan pertimbangkan untuk membuat kompos dari sisa makanan organik.

    6. Kurangi konsumsi daging
    Industri peternakan merupakan salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca. Mengurangi konsumsi daging, terutama daging merah, dapat membantu menurunkan dampak lingkungan secara drastis.

    Coba terapkan lebih banyak hari tanpa mengonsumsi daging atau masukkan lebih banyak makanan nabati ke dalam diet Anda. Banyak resep lezat berbasis tanaman yang bisa dicoba tanpa mengorbankan rasa.

    Baca: Menata tahun 2026 dengan konsep slow living

    7. Mendukung bisnis lokal dan berkelanjutan
    Pilihan belanja yang sadar lingkungan menjadi resolusi ramah lingkungan selanjutnya. Mendukung produsen lokal mengurangi jejak karbon yang terkait dengan transportasi barang jarak jauh.

    Cari bisnis yang memprioritaskan keberlanjutan, menggunakan bahan ramah lingkungan, dan memiliki kebijakan etis. Pilihan belanja Anda memiliki kekuatan untuk mendorong perubahan positif di pasar.

    8. Menanam pohon atau memelihara tanaman
    Pohon dan tanaman membantu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Menanam pohon di halaman rumah atau di komunitas Anda adalah cara langsung untuk memerangi perubahan iklim.

    Jika tidak memiliki lahan, memelihara tanaman hias di dalam ruangan juga membantu memperbaiki kualitas udara di lingkungan tempat tinggal Anda.

    9. Hemat air
    Air bersih adalah sumber daya berharga. Mengambil langkah-langkah untuk menghemat air, seperti mandi lebih cepat, memperbaiki kebocoran, dan tidak membiarkan keran menyala saat menyikat gigi, sangat penting.

    Pertimbangkan untuk menampung air hujan untuk menyiram tanaman atau memasang keran dan toilet berlabel hemat air di rumah Anda.

    10. Mengurangi sampah dari kemasan
    Banyak produk yang dijual dengan kemasan berlebihan yang tidak perlu. Pilihlah barang-barang yang dikemas secara minimal atau dalam bahan yang dapat didaur ulang atau dikomposkan.

    Belanja di toko curah (bulk store) di mana Anda dapat membawa wadah sendiri juga merupakan pilihan yang sangat baik untuk mengurangi limbah kemasan.

    11. Beralih ke produk berbahan alami
    Membatasi paparan bahan kimia berbahaya. Banyak produk pembersih konvensional mengandung bahan kimia yang dapat mencemari saluran air dan membahayakan kesehatan manusia serta ekosistem.

    Gunakan alternatif alami seperti cuka, soda kue, dan jus lemon untuk keperluan pembersihan di rumah. Ada juga banyak merek ramah lingkungan yang menawarkan solusi pembersihan tidak beracun.

    12. Tinggalkan fast fashion
    Industri mode cepat (fast fashion) dikenal karena dampaknya yang besar terhadap lingkungan dan kondisi kerja yang tidak etis. Resolusi 2026 yang ingin lebih ramah lingkungan mencakup pilihan pakaian yang lebih sadar lingkungan.

    Beli pakaian bekas (thrifting) atau dukung merek pakaian yang menggunakan bahan berkelanjutan dan mempraktikkan perdagangan yang adil (fair trade). Kurangi membeli pakaian baru yang tidak dibutuhkan.

    13. Meningkatkan Kesadaran dan Edukasi Lingkungan
    Langkah paling kuat adalah berbagi pengetahuan. Edukasi diri Anda dan orang lain tentang isu-isu lingkungan dan cara-cara untuk hidup lebih berkelanjutan. Kesadaran adalah kunci perubahan kolektif.

    Ikuti berita lingkungan, baca buku, atau tonton film dokumenter tentang keberlanjutan. Bergabunglah dengan kelompok aksi lokal atau bagikan tips ramah lingkungan di media sosial Anda.