Tag: sampah

  • Komisi D DPRD DKI Jakarta Dorong Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar Direalisasikan Tahun Ini

    Komisi D DPRD DKI Jakarta Dorong Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar Direalisasikan Tahun Ini

    7cloud.asia – Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Ida Mahmudah mendesak pemerintah provinsi untuk segera merealisasikan bahan bakar dari sampah (refuse derived fuel/ RDF).

    “Saya ingin pembangunan RDF (bahan bakar dari sampah) skala perkotaan yang sudah dianggarkan tahun ini agar bisa direalisasikan sesuai target,” kata Ida kepada wartawan di Jakarta, Minggu (28/4/2024).

    Ida menuturkan Komisi D selalu mendorong agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa menyelesaikan masalah sampah melalui sistem pengelolaan dan pengolahan untuk skala perkotaan.

    Baca Juga: Tunda Pembangunan ITF Sunter, Pemprov DKI Jakarta Fokus pada Pengolahan Sampah RDF yang Sudah Ada

    Kebijakan ini bertujuan agar, dalam mengelola sampah, Pemprov DKI Jakarta tidak lagi tergantung kepada Bantar Gebang di Bekasi, Jawa Barat yang selama ini menjadi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) .

    “Kalau sampah ini bisa diselesaikan langsung di Jakarta tentu akan lebih efektif dan efisien mulai dari bisa mengurangi kemacetan hingga meminimalisir biaya yang dikeluarkan,” ucapnya.

    Ida menegaskan agar pencapaian kinerja lebih terukur, Pemprov DKI Jakarta selaku mitra kerja diminta untuk membuat laporan progres pencapaian yang sudah dilakukan terkait RDF

    Baca Juga: Libur Lebaran, Produksi Sampah di Jakarta Selatan Turun hingga 500 Ton Sehari

    Dengan adanya laporan progres maka bisa diketahui jika terjadi kendala-kendala di lapangan untuk bisa dicarikan solusi bersama.

    Terlebih, dia mencatat pencapaian kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menjadi mitra kerja di tahun 2023 terdapat kemajuan dibandingkan sebelumnya.

    Ida mengatakan pencapaian ini salah satunya melalui kinerja jajaran Dinas Lingkungan Hidup (LH) bersama pihak terkait atas prestasi Adipura untuk lima wilayah kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

    Baca Juga: Bantu Atasi Masalah Sampah, The Mulung Buka Gugatan Sampah Semesta

    “Penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI ini diberikan terkait dengan penanganan sampah dari sumber,” ujarnya.

    Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jakarta mengolah limbah alat peraga kampanye (APK) Pemilu 2024 yang tidak diambil pemiliknya menjadi bahan bakar (RDF).

    “Limbah berupa bendera dan lainnya kita kembalikan kepada yang memiliki. Tapi kita ada batas waktu yang diberikan,” kata Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono di Jakarta, Jumat.

    Baca Juga: Atasi Masalah Sampah Organik: Pentingnya Membangun Pembangkit Biogas Skala Kelurahan

    Menurut dia untuk sampah APK yang tidak diambil oleh pemiliknya, maka Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berhak mengolah sampah tersebut untuk dijadikan bahan bakar.

  • Pabrik Tepung Singkong Ini Sudah Terapkan Nol Sampah, Simak Caranya

    Pabrik Tepung Singkong Ini Sudah Terapkan Nol Sampah, Simak Caranya

    7cloud.asia – Pabrik tepung singkong bermerek Gunung Pelawan itu diproduksi PT Langit Bumi Lestari yang berlokasi di Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

    Kapasitas terpasang pabrik tepung singkong atau tapioka ini mencapai 6.000 ton per bulan.

    Adapun, jumlah karyawan pabrik tepung singkong yang beroperasi sejak beberapa tahun ini mencapai 60 orang. Pabrik ini membina sekitar 1.500 petani dengan luas lahan sekitar 2.000 hektare.

    Selain memproduksi tepung singkong, perusahaan ini juga memproduksi tepung sagu. Dari tepung sagu ini, mereka memproduksi mi dari tepung sagu, yang gluten free dan indeks glikemik sangat rendah, sehingga sangat baik bagi kesehatan.

    “Tepung singkong dan tepung sagu jauh lebih sehat buat tubuh karena kandungan glikemik yang rendah dan juga gluten free,” kata Fitrianto, pemilik pabrik tersebut.

    Fitrinto mengatakan, pabrik tepungnya sudah menerapkan green industry, zero waste concept (bebas sampah), self sufficiency energy (swasembada energi), dan recycle water usage (daur ulang limbah).

    “Limbah cairnya dijadikan biogas yang menghasilkan 1 megawatt. Listrik di pabrik ini dari biogas tersebut,” katanya.

    Baca: Diversifikasi penting untuk ketahanan pangan

    Sedangkan limbah padatnya digunakan untuk pakan sapi, sehingga di belakang pabrik terdapat peternakan sapi.

    Selain itu, di lahan pabrik seluas 40 hektare tersebut juga ditanami indigofera sehingga kawasan itu menjadi hijau. Daun indigofera ini sangat baik untuk pakan sapi.

    “Sapi menjadi tumbuh lebih cepat dan gemuk,” katanya. Selain itu juga dibangun kolam-kolam penampungan air.

    Saat mengunjungi pabrik tepung singkong ini, Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang), Rachmad Gobelmengatakan, dunia sedang dihadapkan pada ancaman krisis pangan.

    Hal itu terjadi akibat naiknya populasi penduduk dunia, perubahan iklim, makin terbatasnya lahan, serta konflik-konflik geopolitik dan menegangnya hubungan sejumlah negara.

    Baca: BRIN kembangkan sorghum untuk ketahanan pangan

    Semua itu berdampak terhadap naiknya kebutuhan pangan, terganggunya produksi pertanian, dan terganggunya rantai pasok. Saat ini Indonesia sudah merasakannya.

    “Kita mengaku negara agraris, tapi berasnya impor dalam jumlah yang relatif besar,” kata Politisi Fraksi Partai NasDem ini.

    Selain itu, Indonesia juga sudah lama mengimpor tepung singkong dan menjadi nett importer untuk tepung gandum. Karena itu, ia mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi lebih cepat terhadap persoalan pangan ini.

    “Jumlah penduduk Indonesia cukup besar,” katanya.

    Namun Gobel membandingkan Indonesia dengan India dan China. Kedua negara ini mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Bahkan Indonesia impor beras dari mereka.

    Padahal iklim China dan India sebagian tropis dan sebagian lagi subtropis. Jumlah penduduk mereka juga sangat besar dibandingkan dengan Indonesia, mereka di kisaran 1,5 miliar. Namun ternyata mereka bisa lebih baik dari Indonesia.

    Baca: Perubahan iklim ancam ketahanan pangan

    “Jadi pasti ada yang salah pada kita. Padahal iklim kita lebih ramah, tanahnya subur, lahannya luas, dan jumlah penduduknya jauh lebih sedikit,” katanya.

    Karena itu, kata Gobel, Indonesia harus berbenah dalam produksi pangan dan mencari berbagai alternatif sumber pangan.

    “Singkong adalah salah satunya,” katanya.

    Singkong juga lebih sehat daripada beras dan gandum dilihat dari sisi indeks glikemik dan kandungan gluten. Singkong dan sagu tidak mengandung gluten.

    Indeks glikemik sagu dan singkong juga lebih rendah dibandingkan dengan beras dan gandum, yaitu sagu 40, singkong 46, gandum 55-69, dan beras 64.

    “Jadi sangat bagus untuk mengontrol kadar gula di dalam tubuh,” katanya.

    Gobel mengatakan, banyak orang tidak menyadari bahwa tepung singkong dan modifikasi tepung singkong merupakan bahan sangat penting dalam berbagai produk makanan seperti bakso, nuget, mi, dan beragam produk makanan lainnya.

    Baca: Alih fungsi lahan ancam ketahanan pangan

    “Karena itu tanpa terasa kita menjadi importir besar untuk tepung singkong,” katanya.

    Pada sisi lain, ada banyak negara yang merupakan nett importir atau importir besar tepung singkong seperti Jepang, Filipina, China, dan lain-lain.

    Tepung singkong juga bisa menjadi bahan kertas, plastik organik, sedotan, dan beragam wadah.

    “Jadi selain untuk ketahanan pangan nasional, singkong juga bisa menjadi penghasil devisa,” katanya.

    Membangun pertanian pangan, kata Gobel, juga bagian dari pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja yang besar, dan membangun kesejahteraan masyarakat.

    Dari uji coba bertanam singkong di Gorontalo, hasilnya luar biasa. Per batang bisa 25 sampai 30 kilogram. Padahal biasanya sekitar 2 sampai 8 kilogram saja.

    Baca: Kegagalan proyek Food Estate

    ”Jadi ini sangat layak untuk dikembangkan. Yang penting dibangun ekosistemnya sehingga pupuk tersedia, lahan tersedia, pendanaan tersedia, dan penyerapannya terjamin. Insya Allah ini bisa menjadi solusi banyak hal,” katanya.

    Gobel menegaskan, Indonesia harus terus mengembangkan keragaman bahan pangan, salah satunya singkong dan tepung singkong.

    Menurutnya, pertanian dan industri pangan bukan saja penting bagi ketahanan dan kedaulatan pangan, tapi juga sangat signifikan dalam membuka lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan serta membangun kesejahteraan masyarakat.

    Gobel memang memiliki kepedulian sejak lama terhadap masalah pertanian, pangan, ekonomi berbasis budaya, lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan membangun kesejahteraan masyarakat.

    Hal itu mulai terlihat saat menjadi pengurus Kadin Indonesia, saat menjadi menteri perdagangan, dan kini sangat getol setelah menjadi anggota DPR.

    Ia berkali-kali melakukan uji coba pertanian, melakukan kunjungan kerja di bidang-bidang itu, dan juga menyuarakan isu-isu tersebut. Di hari libur nasional pun, ia melakukan kunjungan kerja ke Bangka.

     

  • Ada Layanan Daur Ulang di Ajang Java Jazz Festival 2024 dari BNI

    Ada Layanan Daur Ulang di Ajang Java Jazz Festival 2024 dari BNI

    7cloud.asia – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menyediakan layanan daur ulang botol plastik dan kaleng bekas di ajang Java Jazz Festival 2024.

    Adapun ajang Java Jazz Festival 2024 berlangsung tiga hari di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, dari 24 sampai 26 Mei.

    Recycle vending machine di ajang Java Jazz Festival 2024 adalah mesin canggih yang memungkinkan pengunjung menukarkan sampah botol plastik atau kaleng dengan poin plus.

    “Poin plus ini kemudian dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik, seperti e-voucher, e-wallet, atau donasi melalui aplikasi BNI Mobile Banking,” kata SEVP Digital Business BNI Rian Kaslan.

    Baca Juga: Berdampak Positif untuk Lingkungan, DPR Minta KLHK Siapkan Stimulus Fiskal di Sektor Daur Ulang Sampah

    “Program ini sekaligus sebagai penekanan bahwa BNI selalu mendukung upaya pelestarian lingkungan dalam segala aktivitasnya,” katanya sebagaimana dikutip dalam siaran pers perusahaan di Jakarta, Sabtu (25/5/2024).

    Penyediaan layanan daur ulang botol dan kaleng bekas di ajang BNI Java Jazz Festival 2024 ditujukan untuk mengajak pengunjung membantu penanganan sampah selama acara.

    Layanan penukaran botol dan kaleng bekas melalui mesin otomatis disediakan bagi pengunjung Java Jazz Festival 2024 yang menggunakan aplikasi BNI Mobile Banking dan telah terdaftar di akun POIN+.

    Baca Juga: Di TPS di Jakarta Selatan Ini, Waktu Membuang Sampah Dibatasi Pukul 05:00-09:30 WIB Saja

    Dilansir Antaranews.com, Rian menjelaskan, satu botol plastik atau kaleng bekas dapat ditukarkan dengan 50 POIN+.

    Dan setiap orang maksimal dapat menukarkan 20 botol plastik atau kaleng bekas dengan 1.000 POIN+ dalam sehari.

    Nasabah akan menerima kode kupon dan QR melalui email yang terdaftar. Scan QR atau input kode kupon pada vending machine yang tersedia.

    “Jadi, tukarkan POIN kalian dengan beragam produk makanan atau minuman di BNI Java Jazz Festival 2024,” katanya.

  • Pengelolaan Sampah di Jogja, Dinilai Masih Darurat

    Pengelolaan Sampah di Jogja, Dinilai Masih Darurat

    7cloud.asia – Dosen Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM Prof. Chandra Wahyu Purnomo menyoroti tata kelola sampah di Jogja yang menurutnya masih dalam tahap darurat karena penanganannya belum terselesaikan hingga kini.

    Padahal, pengelolaan sampah dapat disebut sebagai ‘pintu masuk’ dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan karena sampah merupakan isu multisektor yang berdampak pada berbagai aspek di masyarakat dan juga ekonomi. 

    “Meskipun peraturan tentang persampahan itu banyak sekali, mulai dari Undang-Undang sampai Peraturan Daerah, tapi untuk sistem pengolahan kita masih tertinggal dengan negara lain, terlebih di Jogja kita masih bertumpu dengan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan,” ujar Chandra.

    Baca Juga: Dibutuhkan Mendesak, Peta Jalan Pengelolaan Sampah di Kota Yogyakarta

    Chandra mengungkapkan, kegagalan dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah di Jogja dikarenakan tidak terbentuknya kesadaran masyarakat sebagai hulu dari permasalahan sampah.

    “Harusnya sampah sudah terpilah di hulu, mulai dari rumah tangga, kantor, pabrik atau industri, dan kampus, karena di hulu saja sudah tercampur, proses pengolahannya akan menjadi berat,” ungkapnya.

    Harapannya partisipasi publik untuk mengelola sampahnya sendiri mencapai 30%, sedangkan sisanya 70% ditangani oleh fasilitas-fasilitas yang ada di pemerintahan.

    Dia menyebut persoalan sampah memang sangat kompleks. Pemanfaatan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah seperti TPS3R dan Bank Sampah belum dioptimalkan oleh masyarakat karena 90% sampah di Jogja masih terbuang di TPA.

    Baca Juga: Atasi Masalah Sampah Organik: Pentingnya Membangun Pembangkit Biogas Skala Kelurahan

    Dari 30 TPS3R yang ada di Sleman yang semuanya dibangun oleh Kementerian PUPR, hanya 10 saja yang beroperasi, sisanya mangkrak.

    “Bayangkan kalau semua TPS3R di Sleman, Kota Jogja, dan Bantul diaktifkan, pastinya akan berdampak pada semakin cepatnya proses pemilahan sampah,” kata koordinator Indonesia Solid Waste Forum (ISWF) ini.

    Riset independen yang dilakukan oleh Chandra di tahun 2021 terkait sampah di Kota Jogja menunjukkan volume sampah mencapai 300 ton per hari.

    Ditengarai jumlah tersebut tidak mengalami perubahan hingga sekarang, bahkan cenderung meningkat jumlahnya.

    “Statusnya sudah darurat, tapi masyarakat belum juga tumbuh kesadaran untuk minimal memilah sampah, jadinya malah muncul masalah baru seperti tiba-tiba ada titik baru yang dijadikan tempat pembuangan sampah ilegal,” ucapnya.

    Baca Juga: Meski Dinilai Ketinggalan Zaman, Pengelolaan Sampah dengan Ditimbun di TPA Tetap Berpeluang untuk Direstorasi

    Chandra menyarankan penanganan sampah di hulu harus diperbaiki dan menjadi prioritas. “Kita harus terus mengedukasi masyarakat agar memiliki komitmen untuk memilah sampah, kalau perlu ada sanksi sosial seperti di negara maju,” tuturnya.

    Selanjutnya yang tidak kalah penting setelah pemilahan, adalah penjadwalan pengumpulan dan pengangkutan dari sumber langsung ke unit pengolahan seperti TPS3R dan TPST, harus terinci dan sistematis agar tidak terjadi konflik kepentingan di dalamnya.

    “Pengelolaan sampah mandiri (PSM) juga harus diatur oleh Pemda/Pemdes sehingga bisa menghindari perselisihan dengan Bumdes, yang memang sekarang ada yang ditugaskan untuk mengelola sampah juga,” pesannya.

    Teknologi pengelolaan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) juga bisa diperhitungkan sebagai solusi untuk menghasilkan bahan bakar yang bisa digunakan untuk meminimalkan pengiriman sampah ke luar DIY, menurut Chandra.

    Sumber:ugm.ac.id

  • Tangani Sampah Organik, Pemkab Bantul Bikin 5000 Jugangan

    Tangani Sampah Organik, Pemkab Bantul Bikin 5000 Jugangan

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta kembali mendorong pembuatan jugangan di lahan pekarangan sekitar tempat tinggal sebagai tempat pengolahan sampah.

    Jugangan adalah lubang di tanah yang digunakan untuk mengolah sampah organik.

    Gerakan pembuatan jugangan untuk mengolah sampah organik tersebut diinisiasi masyarakat di wilayah Kelurahan Caturharjo Kecamatan Pandak yang berada di wilayah selatan Bantul.

    Pemkab Bantul menargetkan dapat membuat hingga sebanyak 5.000 jugangan di seluruh Bantul.

    Gerakan membuat jugangan ini guna mendukung program Bantul Bersih Sampah 2025 (Bantul Bersama).

    “Gerakan pembuatan 5.000 jugangan itu digagas Kelurahan Caturharjo, Kecamatan Pandak, dan pemerintah setuju karena itu juga bagian dari tindak lanjut dari edaran tentang pengolahan sampah yang saya tandatangani,” kata Bupati Bantul Abdul Halim Muslih di acara Semarak Gerakan 5.000 Jugangan di Bantul, Rabu (5/6/2024).

    Baca: Cara warga Bali mengelola sampah rumah tangga

    Meski demikian, kata dia, pengolahan sampah dengan memanfaatkan jugangan atau lubang di tanah tersebut, nantinya harus dipastikan bahwa sampah yang dibuang atau dikubur di jugangan benar-benar merupakan sampah organik.

    “Dan harus dipastikan benar benar yang masuk ke jugangan hanyalah sampah organik saja, para orang tua kita terdahulu dengan jugangan tidak pernah ada masalah sampah, waktu saya kecil sampah organik di tempat saya itu tidak menjadi masalah,” katanya.

    Dia mengatakan sampah yang dihasilkan masyarakat tersebut mayoritas atau sekitar 70 persen merupakan sampah organik,

    Sehingga kalau pemerintah bersama masyarakat bisa menyelesaikan sampah organik, maka sisanya hanya tinggal 30 persen.

    Meski terkesan sederhana, dalam praktiknya masih banyak anggota masyarakat yang gagap dalam mengelola sampah rumah tangga.

    Baca: SOS, darurat pengelolaan sampah rumah tangga di Yogyakarta

    “Makanya cukup dibuatkan jugangan, tetapi harus dipastikan plastik tidak boleh masuk, logam tidak boleh masuk,” katanya.

    Selain itu, kata dia, zat-zat kimia berbahaya tidak boleh masuk ke dalam jugangan, agar tidak menjadi persoalan di kemudian hari pada pengolahan sampah organik.

    “Jadi, yang boleh masuk ke jugangan hanyalah sisa makanan, nasi, sayuran, buah buahan, apalagi saat ini buah buahan sudah bisa dibuat ecoenzim, sehingga malah semakin banyak variasi kita bisa mengolah sampah organik,” katanya.

    Dia juga mengatakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul juga semakin memiliki banyak opsi, banyak alternatif dalam pengelolaan sampah organik, bahkan sampah organik bisa diolah untuk komposter, bisa untuk ecoenzim.

    “Atau kalau kita tidak mau repot ya dibuang ke jugangan itu, jadi intinya kalau bisa menyelesaikan sampah organik itu kita tinggal menyelesaikan sampah nonorganik yang hanya 30 persen, sederhana konsepnya, tetapi susah, makanya kita butuh waktu,” katanya.

    Kepala DLH Bantul Bambang Purwadi juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa sampah yang dibuang dan dimasukkan ke jugangan atau lubang di tanah adalah sampah organik dan bukan sampah anorganik.

    Baca: Pembangkit biogas skala kelurahan sebagai upaya pengelolaan sampah organik

    “Jugangan itu utamanya untuk sampah organik, seperti daun dan sisa makanan, karena untuk membuang sampah pun kita harus tetap memperhatikan safety lingkungan,” kata Bambang Purwadi di Bantul, Senin (10/6/2024)

    Dia mengatakan, sebab kalau sampah anorganik yang sifatnya tidak bisa terurai apabila dibuang di jugangan tentu akan berdampak tidak baik bagi lingkungan tersebut.

    “Jadi kalau ada sampah yang bagi lingkungan kita tidak safety atau berbahaya tentu menyalahi tata kelola lingkungan kita. Makanya metode jugangan ini khusus sampah organik,” katanya.

    Dengan gerakan membuat jugangan, diharapkan paling tidak minimal bisa menekan sampah dua ton per hari.

    Bambang juga mengatakan, sementara untuk sampah anorganik seperti plastik, botol dan lain sebagainya dalam pengolahan agar diutamakan yang bisa dipilah agar dipilah sesuai jenis, dan bisa diolah kembali menjadi barang bernilai ekonomi.

    “Kalau yang anorganik tentu kita utamakan yang bisa dipilah dulu, dan kita proses untuk menyiapkan pengolahannya, bahkan sampah yang anorganik yang punya nilai ekonomis itu tetap bisa dijual lagi,” katanya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Gunakan Alat Guna Ulang, Penyelenggaraan Ujian Masuk FT UGM Tahun 2024 Berlangsung Lebih Ramah Lingkungan

    Gunakan Alat Guna Ulang, Penyelenggaraan Ujian Masuk FT UGM Tahun 2024 Berlangsung Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Pelaksanaan ujian masuk UGM di Fakultas Teknik UGM tahun ini diselenggarakan lebih ramah lingkungan dan semininal mungkin menghasilkan sampah.

    Selama 4 hari penyelenggaraan ujian masuk UGM, dari Senin hingga Kamis (10-13/6/2024) di Fakultas Teknik UGM diupayakan nol sampah sehingga lebih ramah lingkungan.

    Penyediaan konsumsi untuk panitia, teknisi ruang, dan para pengawas sama sekali bebas plastik.

    Fasilitas makan tidak dikemas dalam wadah sekali pakai sebagaimana biasanya, melainkan dalam wadah guna ulang.

    Baca Juga: Berniat Praktikkan Konsep Guna Ulang untuk Kurangi Sampah Plastik? Simak Infonya di Sini

    Kemasan ini akan diambil kembali oleh rekanan yang telah ditunjuk oleh pihak Fakultas Teknik UGM.

    Sementara itu, makanan kecil tidak dibungkus dengan plastik melainkan dikemas dalam wadah daun pisang.

    Panitia Lokal UM di FT UGM, Hartanto mengatakan langkah ini didasarkan pada kesepakatan yang dibangun sebelumnya, antara FT UGM dan mitra penyedia konsumsi.

    “Ini kami lakukan sebagai bagian untuk mendukung kebijakan FT UGM untuk mengurangi timbulan sampah, sekaligus lebih luas bagian dari upaya turut menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya seperti dilansir ft.ugm.ac.id

    Baca Juga: Guna Ulang Dinilai Lebih Efektif Kurangi Sampah Plastik, Tapi Masih Diabaikan

    Apa yang dilakukan oleh FT UGM ini merupakan bentuk penyelarasan pada misi bersama dalam penanganan sampah dari hulu ke hilir.

    Selama periode pertama ujian masuk 2024 di FT UGM, setiap hari dipesan kurang lebih 150 boks makan siang, serta 150 bungkus snack.

    Dengan kebijakan di atas, maka ada potensi pengurangan sampah kardus dan 600 boks makanan kecil, serta ratusan bungkus plastik.

    Sungguh sebuah langkah kecil yang bermanfaat besar untuk lingkungan, apalagi saat ini Yogyakarta sedang hadapi masa darurat pengelolaan sampah.

  • Atasi Pulau Sampah di Aliran Sungai Citarum, Pemprov Jabar Kerahkan Alat Berat

    Atasi Pulau Sampah di Aliran Sungai Citarum, Pemprov Jabar Kerahkan Alat Berat

    7cloud.asia – Pemprov Jawa Barat menurunkan sejumlah alat berat untuk mempercepat proses pembersihan dan pengangkatan sampah di aliran Sungai Citarum, di Jembatan Saapan, Batujajar, Bandung Barat.

    Kondisi aliran Sungai Citarum, di Jembatan Saapan, Batujajar ini telah lama berubah menjadi lautan atau bahkan pulau sampah sehingga bisa menyumbat aliran air.

    Pulau sampah di aliran Sungai Citarum ini sempat viral dan badan sungai seluruhnya tertutup oleh sampah sejak beberapa waktu.

    Kondisi ini semakin parah oleh kebiasaan buruk warga di daerah aliran sungai Citarum yang masih membuang sampah ke sungai.

    “Alat berat itu, dimanfaatkan sesuai kebutuhan, mulai dari pengerukan sedimen, pengangkatan sampah ke darat, sampai membuat lubang dan menutup sampah,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jabar Ika Mardiah, Minggu (16/6/2024).

    Dalam keterangannya, Ika menyebut bahwa alat berat yang digunakan, terdiri atas excavator long arm, excavator amphibi, dan excavator standart yang berasal dari sejumlah pihak, seperti Dansektor 9, Dansektor 8, dan IP Saguling POMU.

    Baca: Pembersihan sampah di Sungai Ciliwung

    Selain alat berat, proses pembersihan dan pengangkatan sampah di Sungai Citarum juga menurunkan tiga unit katamaran, lima unit LCR, lima unit dump truck, dan tali atau sling untuk membatasi pergerakan sampah.

    Dalam kegiatan pembersihan dan pengangkatan sampah serta penataan lingkungan di Sungai Citarum sektor 9 ini, dibagi menjadi empat kelompok beranggotakan lima orang.

    Ada yang bertugas melaksanakan perakitan dan pemasangan pembatas sampah di lima titik sampai jarak satu kilometer ke arah hilir atau Jembatan Jambalas.

    Sementara untuk kelompok lain melanjutkan pekerjaan pengangkatan sampah di sekitar jembatan.

    Dua unit LCR melaksanakan patroli dan pengangkatan sampah di Jurug Jompong (hulu) sampai dengan jembatan BBS serta pendirian posko dan tenda kesehatan di sekitar jembatan BBS.

    Sebanyak 400 personel dari berbagai institusi, mulai dari Pemda Provinsi Jabar, TNI, Polri, BBWS Citarum, sampai masyarakat, ikut dalam proses pembersihan dan pengangkatan sampah.

    Baca: Cara warga lokal merawat Sungai Ciliwung

    Ika meminta masyarakat berperan aktif dengan melaporkan kondisi Sungai Citarum terutama terkait penumpukan sampah agar segera diatasi, dan pelaporan dapat melalui aplikasi Sapawarga.

    “Kami berharap aparatur desa, kecamatan, dan juga warga untuk menyampaikan laporan atau aduan jika ada lagi penumpukan sampah atau ada yang membuang sampah sembarangan agar segera diatasi tidak sampai menumpuk,” tutur Ika menambahkan.

    Sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan, lautan sampah di daerah aliran sungai Citarum Batujajar ini karena volume sampah dan sedimentasi sungai.

    “Adanya sedimen dan terutama juga sampah ini kan kembali kepada kedisiplinan warga. Jadi kami mohon masyarakat jangan membuang sampah sembarangan, dan ya ini akibatnya,” kata Bey saat meninjau lokasi lautan sampah di Sungai Citarum ini.

    Dari laporan yang didapatkannya di lapangan, jika aliran sungai lancar, sampah-sampah tersebut akan tertahan di ujung.

    Baca: Cara warga lokal merawat Kali Angke

    Namun, karena volume sampah sudah meninggi ditambah sedimen, sampah tersebut bertumpuk di sepanjang aliran yang melintas di bawah jembatan BBS.

    Bey menargetkan upaya pembersihan sampah yang akan dilakukan secara maraton bisa menuntaskan tumpukan tersebut selama satu pekan ke depan, namun karena asal sampah datang dari berbagai daerah di Bandung Raya, proses pembersihan akan memakan waktu.

    “Kita akan bersihkan, mungkin lima hari sampai satu minggu. Kebayang teman-teman lihat sendiri banyak sampahnya, mulai dari mana juga bingung, karena dari Bandung Raya, Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Cimahi, Bandung Barat juga,” tuturnya.

    Bey menuturkan bahwa pihak BBWS Citarum, Dinas Lingkungan Hidup Jabar dan sejumlah pihak juga sudah menerjunkan petugas dan alat berat untuk membersihkan sampah yang menutup sungai.

    Untuk mempercepat pembersihan sampah, Bey memastikan ada tambahan alat berat di lokasi untuk mengeruk sampah dan sedimen.

    “Ini ada tambahan alat ya, untuk pengerukan agar lebih cepat lagi,” katanya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Perjalanan Kampung Rawageni dari Kampung Kumuh Menjadi Kampung Bebas Sampah yang Mandiri

    Perjalanan Kampung Rawageni dari Kampung Kumuh Menjadi Kampung Bebas Sampah yang Mandiri

    7cloud.asia – Kampung Rawageni, Depok, Jawa Barat sejak lama memegang prinsip “bebas sampah”. Nyaris tidak ada sampah berserak di jalanan kampung Rawageni.

    Semua warga Kampung Rawageni yang memiliki luas 17,77 hektare ini
    mengolah sendiri sampah yang dihasilkannya, baik sampah organik maupun anorganik.

    Sampah plastik akan diolah menjadi kerajinan tangan, mulai dari tikar, tas belanja, taplak meja dan lainnya.

    Bahkan warga membuat paving block untuk mempercantik jalan-jalan kampung. Sedangkan bekas popok diolah menjadi pot tanaman.

    Limbah sampah sayur dan buah-buahan akan diolah menjadi kompos organik, sangat berguna untuk menyuburkan berbagai tanaman sayur di kebun yang dikelola secara swadaya.

    Baca Juga: Beragam Dampak Positif Program Kampung Iklim

    Limbah cair rumah tangga pun di daur ulang untuk mencuci motor dan lainnya, bahkan warga mengelola air tadah hujan untuk keperluan cuci tangan, wudhu, menyiram tanaman sayur, buah, bunga dan lainnya.

    Kampung Rawageni juga sukses mengelola bank sampah dan memanfaatkan setoran sampah untuk menghasilkan program-program pemberdayaan warga, sehingga warga mendapatkan manfaatnya seperti pemberian beasiswa anak yatim, pembayaran pajak bumi dan bangunan gratis.

    Warga juga bisa belanja di warung kelontong cukup dengan barter, sampah kardus
    ataupun plastik ditukar dengan berbagai kebutuhan dapur seperti beras, minyak
    goreng dan lainnya.

    Kemandirian Kampung Rawageni digagas oleh seorang lelaki sederhana bernama Sanusi, 47 tahun, yang sekaligus Ketua RW 07.

    Sanusi cuma jebolan SMP, namun mampu mengubah tujuh kampung yang kumuh, penuh
    sampah yang berserak menjadi kampung yang ramah lingkungan.

     

    Baca Juga: Program Kampung Iklim: Sebuah Upaya Adaptasi pada Perubahan Iklim

    Awalnya gagasan Sanusi sering menimbulkan pertentangan, namun dia tak surut mewujudkan impiannya menjadikan kampung Rawageni menjadi kampung zero sampah plastik.

    Tak hanya itu, Kampung Rawageni kini juga menjadi kampung bebas asap rokok, kampung anti narkoba, kampung ramah anak, kampung bebas PBB, 

    Kampung Rawageni terus bergerak menjadi kampung yang mandiri—berkat swadaya
    dan gotong-royong warganya.

    Tak ada keterlibatan Pemerintah Daerah Depok dalam mendukung pendanaan dan lainnya, di awal-awal perjuangan kampung Rawageni. Namun kini, kampung ini menjadi kampung percontohan dan berhasil membangkitkan warganya dari keterpurukan.

    Wilayah RW 07 yang membawahi enam RT kini dikenal sebagai kampung yang mandiri dan pernah meraih penghargaan kampung iklim tingkat nasional.

    Baca Juga: Setelah Puluhan Tahun Terpisah, Kini Kampung-kampung di Jakarta Selatan Terhubung oleh Jembatan

    Kesadaran ramah lingkungan dan hidup sehat digaungkan di seluruh RW 07. “Kita bekerja sama dan saling mendukung di setiap RT, meski kadang juga ada perbedaan dan ketidak-sepakatan,“ ujar Sanusi, Ketua RW 07.

    Memang tak mudah bagi Sanusi yang bertahun-tahun menjabat posisi sebagai Ketua RW, tanpa ada satupun generasi baru yang mau menggantikannya.

    “Semoga saya bukan Ketua RW seumur hidup,“kelakarnya.

    Namun kemampuannya dalam mengedukasi warga dan membuat perubahan itu justru
    menjadikannya piawai berbicara di depan publik, bahkan dia sering diundang oleh berbagai lembaga dan organisasi masyarakat sipil untuk mengajar training
    komunitas.

    Tidak cuma di sekitar Jabodetabek, Sanusi juga sering diundang ke kota-kota lainnya di Pulau Jawa.

    Penulis: Farida Indriastuti

  • Inovasi Warga Kampung Rawageni, Depok Mengolah Limbah Popok Bekas Menjadi Pot Tanaman Cantik

    Inovasi Warga Kampung Rawageni, Depok Mengolah Limbah Popok Bekas Menjadi Pot Tanaman Cantik

    7cloud.asia – Tangan mungil Muhammad Khoirul Muzaqi atau biasa disapa Zaki (11 tahun) cekatan mengaduk semen basah, lalu mencelupkan popok bekas sumbangan warga yang telah dicuci bersih.

    Siang itu, terik matahari ditutupi mendung tipis, namun cukup baik untuk mengeringkan hasil cetakan popok bekas yang akan dimanfaatkan menjadi pot tanaman oleh warga kampung Rawageni, Depok, Jawa Barat.

    Zaki, bocah SD memilih tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Dia lebih suka melukis pot tanaman dari popok bekas yang sudah kering dengan gambar yang lucu dan warna-warni.

    Pot tanaman dari limbah popok merupakan salah satu dari sederet kerajinan tangan lain berbahan sampah yang diproduksi warga Kampung Rawageni, Depok, Jawa Barat.

    “Lumayan kalau di jual harga per pot Rp7 ribu sampai Rp10 ribu, kadang pot-pot ini digunakan untuk cinderamata, kalau banyak tamu-tamu yang hadir dari luar kota atau luar pulau,“ ujar Edo Budi Santoso.

    Baca: Parongpong RAW Lab sukses mengolah limbah puntung rokok jadi perabotan

    Edo menggagas pengolahan popok bekas menjadi pot tanaman didorong rasa prihatinnya atas masalah lingkungan yang ditimbulkan popok bekas ini.

    Setidaknya 55 persen bahan popok bekas kemasan seperti pampers, berasal dari plastik yang sulit terurai.

    Menurut Edo, butuh 20 hingga 35 tahun lamanya untuk terurai. Sampah popok bekas juga mengandung senyawa kimia super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42 persen
    yang akan berubah gel jika terkena air.

    Jadi sebelum dibuat pot tanaman, gel ini terlebih dulu dipisahkan dari lapisan plastik yang ada.

    Gel ini, oleh Edo dikumpulkan ke dalam karung terpisah. Saat ini, dia sedang mencari cara untuk mengolah agar gel-gel itu bisa dimanfaatkan kembali di kemudian hari.

    Wilayah RW 07 yang membawahi enam RT memang dikenal sebagai kampung yang mandiri dan pernah meraih penghargaan kampung iklim tingkat nasional. Kampung Rawageni, sejak lama memegang prinsip “bebas sampah”.

    Baca: Robries mengolah sampah plastik jadi perabotan

    Termasuk popok bekas yang disebut salah satu sumber sampah terbesar diolah menjadi pot tanaman.

    Kemandirian kampung ini digagas Sanusi, 47 tahun, yang sekaligus Ketua RW 07. Laki-laki jebolan SMP ini mampu mengubah tujuh kampung yang kumuh, penuh
    sampah yang berserak menjadi kampung yang ramah lingkungan.

    Awalnya Sanusi hanya mengajak enam tetangganya untuk patungan dana dan secara swadaya membangun jalan kampung dengan semen.

    Maklumlah, saat itu jalan-jalan di kampung Rawageni masih tanah. Jika hujan akan becek dan sampah yang dibuang sembarangan akan memicu bau tak sedap.

    Edo adalah salah satu warga yang banyak membantu Sanusi aktif dalam berbagai gerakan lingkungan yang kreatif hingga melahirkan inovasi yang ramah lingkungan.

    Setiap akhir pekan Edo Budi Santoso terus mengajarkan anak-anak muda mencipta perubahan di kampung Rawageni, dari membuat taman bermain hingga mengolah sampah rumah tangga.

    Baca: Produk ramah lingkungan dari DemiBumi

    Selain memilah sampah, mengolah sampah dan memanfaatkannya sehingga memiliki nilai
    ekonomi.

    Kampung Rawageni kini menjadi ruang pembelajaran dalam mengelola lingkungan sehingga tercipta zero sampah.

    Tamu-tamu yang berkunjung ke kampung ini dari berbagai lapisan usia, bahkan
    datang dari berbagai kota dan pulau.

    Tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang melakukan studi banding terkait inovasi-inovasi ramah lingkungan yang dilakukan oleh warga kampung Rawageni.

    Replika-replika robot yang terbuat dari botol-botol plastik bekas, mural-mural
    edukatif yang dekat dengan alam menjadi etalase yang menyambut setiap tamu yang datang di Kampung Rawageni ini.

    Reporter: Farida Indriastuti

  • Tumpukan Sampah di Sungai Citarum Terangkat Semua, Warga Diimbau Tak Lagi Buang Sampah ke Sungai

    Tumpukan Sampah di Sungai Citarum Terangkat Semua, Warga Diimbau Tak Lagi Buang Sampah ke Sungai

    7cloud.asia – Satgas Gabungan mengatakan bahwa lautan sampah di Sungai Citarum, tepatnya di Jembatan Babakan Saapan (BBS), Batujajar, Bandung Barat, saat ini hanya tersisa di bantaran sungai.

    Sementara pulau sampah yang semula menyumbat aliran Sungai Citarum di kawasan Jembatan BBS tersebut sudah terangkat semua.

    “Saat ini, ada sejumlah sisa sampah masih tertumpuk di bantaran sungai untuk bertahap diangkut ke TPS,” kata Dansatgab Kolonel Kav. Edward Francis dalam keterangan di Bandung, Selasa (16/7/2024).

    Edward mengatakan pembersihan sampah yang menumpuk di Sungai Citarum di bawah kawasan Jembatan BBS itu sudah dapat diselesaikan pada Senin (15/7/2024).

    Pembersihan sampah di lokasi tersebut, kata Edward, melibatkan 215 personel gabungan dari TNI, Polri, Dinas Sumber Daya Air Jabar, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, dan masyarakat sekitar.

    Baca: BRIN sebut temuan mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan

    “Selama proses pembersihan sampah di Sungai Citarum berlangsung lancar dan tidak ada kendala,” katanya.

    Proses pembersihan menggunakan alat-alat berat dan ringan seperti berbagai jenis ekskavator, perahu, truk jungkit (dump truck), dan beberapa alat penunjang lainnya.

    “Aktivitas yang dilakukan adalah pengangkatan sampah ke bantaran, pengangkutan sampah ke TPS, lalu memasang alat penyekat sampah agar berkumpul di satu titik untuk memudahkan ekskavator bekerja,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Edward meminta masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai demi kenyamanan, kesehatan, dan kebaikan bersama.

    “Selanjutnya akan terus kita pantau. Kita tidak berhenti di sini,” tutur Edward.

    Baca: BRIN temukan kandungan obat aktif di Sungai Citarum

    Tumpukan sampah di kolong Jembatan Babakan Saapan (BBS), Batujajar, Bandung Barat menjadi sorotan. Badan sungai seluruhnya tertutup oleh sampah sejak beberapa waktu.

    Kondisi ini tak lepas dari kebiasaan warga di sepanjang aliran Sungai Citarum yang masih membuang sampah ke sungai Citarum. Sedimentasi sungai memperburuk situasi, karena aliran tersumbat.

    “Memang ini kan karena airnya turun, dan adanya sedimen dan terutama juga sampah ini kan kembali kepada kedisiplinan warga. Jadi kami mohon masyarakat jangan membuang sampah sembarangan, buanglah sampah pada tempatnya, dan ya ini akibatnya,” kata penjabat Gubernur Jabar, Bey beberapa waktu lalu.

    Jika aliran sungai lancar, sampah-sampah tersebut akan tertahan di ujung, namun karena volume sampah sudah meninggi ditambah sedimen, sampah tersebut bertumpuk di sepanjang aliran yang melintas di bawah jembatan BBS.

    Sumber:Antaranews.com