Perjalanan Kampung Rawageni dari Kampung Kumuh Menjadi Kampung Bebas Sampah yang Mandiri

Written by

in

7cloud.asia – Kampung Rawageni, Depok, Jawa Barat sejak lama memegang prinsip “bebas sampah”. Nyaris tidak ada sampah berserak di jalanan kampung Rawageni.

Semua warga Kampung Rawageni yang memiliki luas 17,77 hektare ini
mengolah sendiri sampah yang dihasilkannya, baik sampah organik maupun anorganik.

Sampah plastik akan diolah menjadi kerajinan tangan, mulai dari tikar, tas belanja, taplak meja dan lainnya.

Bahkan warga membuat paving block untuk mempercantik jalan-jalan kampung. Sedangkan bekas popok diolah menjadi pot tanaman.

Limbah sampah sayur dan buah-buahan akan diolah menjadi kompos organik, sangat berguna untuk menyuburkan berbagai tanaman sayur di kebun yang dikelola secara swadaya.

Baca Juga: Beragam Dampak Positif Program Kampung Iklim

Limbah cair rumah tangga pun di daur ulang untuk mencuci motor dan lainnya, bahkan warga mengelola air tadah hujan untuk keperluan cuci tangan, wudhu, menyiram tanaman sayur, buah, bunga dan lainnya.

Kampung Rawageni juga sukses mengelola bank sampah dan memanfaatkan setoran sampah untuk menghasilkan program-program pemberdayaan warga, sehingga warga mendapatkan manfaatnya seperti pemberian beasiswa anak yatim, pembayaran pajak bumi dan bangunan gratis.

Warga juga bisa belanja di warung kelontong cukup dengan barter, sampah kardus
ataupun plastik ditukar dengan berbagai kebutuhan dapur seperti beras, minyak
goreng dan lainnya.

Kemandirian Kampung Rawageni digagas oleh seorang lelaki sederhana bernama Sanusi, 47 tahun, yang sekaligus Ketua RW 07.

Sanusi cuma jebolan SMP, namun mampu mengubah tujuh kampung yang kumuh, penuh
sampah yang berserak menjadi kampung yang ramah lingkungan.

 

Baca Juga: Program Kampung Iklim: Sebuah Upaya Adaptasi pada Perubahan Iklim

Awalnya gagasan Sanusi sering menimbulkan pertentangan, namun dia tak surut mewujudkan impiannya menjadikan kampung Rawageni menjadi kampung zero sampah plastik.

Tak hanya itu, Kampung Rawageni kini juga menjadi kampung bebas asap rokok, kampung anti narkoba, kampung ramah anak, kampung bebas PBB, 

Kampung Rawageni terus bergerak menjadi kampung yang mandiri—berkat swadaya
dan gotong-royong warganya.

Tak ada keterlibatan Pemerintah Daerah Depok dalam mendukung pendanaan dan lainnya, di awal-awal perjuangan kampung Rawageni. Namun kini, kampung ini menjadi kampung percontohan dan berhasil membangkitkan warganya dari keterpurukan.

Wilayah RW 07 yang membawahi enam RT kini dikenal sebagai kampung yang mandiri dan pernah meraih penghargaan kampung iklim tingkat nasional.

Baca Juga: Setelah Puluhan Tahun Terpisah, Kini Kampung-kampung di Jakarta Selatan Terhubung oleh Jembatan

Kesadaran ramah lingkungan dan hidup sehat digaungkan di seluruh RW 07. “Kita bekerja sama dan saling mendukung di setiap RT, meski kadang juga ada perbedaan dan ketidak-sepakatan,“ ujar Sanusi, Ketua RW 07.

Memang tak mudah bagi Sanusi yang bertahun-tahun menjabat posisi sebagai Ketua RW, tanpa ada satupun generasi baru yang mau menggantikannya.

“Semoga saya bukan Ketua RW seumur hidup,“kelakarnya.

Namun kemampuannya dalam mengedukasi warga dan membuat perubahan itu justru
menjadikannya piawai berbicara di depan publik, bahkan dia sering diundang oleh berbagai lembaga dan organisasi masyarakat sipil untuk mengajar training
komunitas.

Tidak cuma di sekitar Jabodetabek, Sanusi juga sering diundang ke kota-kota lainnya di Pulau Jawa.

Penulis: Farida Indriastuti

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *