Tag: sampah plastik

  • Penerapan Prinsip Guna Ulang di Restoran dan Kafe Cukup Menjanjikan, Namun Tetap Hadapi Tantangan

    Penerapan Prinsip Guna Ulang di Restoran dan Kafe Cukup Menjanjikan, Namun Tetap Hadapi Tantangan

    7cloud.asia – Untuk mengurangi sampah plastik, salah satu tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memanfaatkan potensi guna ulang atau prinsip reuse di sektor perhotelah, bar dan kafe.

    Jan Lee, dalam tulisannya di Earth.org, sejumlah negara mulai mendorong restoran, bar, dan kafe di wilayahnya untuk beralih dari gelas dan piring sekali pakai yang murah ke barang-barang yang tahan lama dan dapat digunakan kembali.

    Dengan diluncurkannya peraturan baru tentang sampah plastik pada tahun 2024 di sejumlah kota di Eropa, Hong Kong, dan Toronto, Kanada, sejumlah pemerintah kota telah meluangkan energinya untuk mencari solusi bagi plastik sekali pakai seperti gelas dan mangkuk untuk dibawa pulang.

    Jan Lee menyenut, gerakan menuju guna ulang ini mungkin berubah dan akan semakin banyak yang melakukannya di masa yang akan datang.

    PR3, sebuah organisasi yang mempromosikan sistem penggunaan kembali dengan mengembangkan standar untuk mendukung ekonomi penggunaan kembali yang berkembang, telah mengembangkan standar untuk pencucian, inspeksi, dan pengemasan wadah untuk distribusi.

    Di bawah sistem CopoMais, gelas dikumpulkan secara teratur dan dibawa ke lokasi di luar tempat untuk dicuci, dan kemudian didistribusikan kembali ke bar.

    Pertanyaan terpenting adalah apakah sistem tersebut mencapai tujuannya untuk menghindari limbah plastik.

    Sementara Muuse, salah satu generasi baru bisnis yang menciptakan platform untuk meninggalkan plastik sekali pakai mengklaim bahwa platformnya telah mengalihkan 1,5 juta barang sekali pakai dari tempat pembuangan sampah.

    Satu barang yang dapat digunakan kembali sama dengan satu barang sekali pakai yang dihindari), dan telah menghindari 175.000 kilogram emisi gas rumah kaca dalam prosesnya.

    Bahkan tanpa mempertimbangkan tujuan lingkungan mereka, sistem guna ulang itu dapat memiliki manfaat yang tidak terduga untuk konsumennya.

    Dilansir Earth.org, seorang pemilik bar di kawasan wisata Bairro Alto, Lisabon mengungkapkan manfaat yang dirasakannya dengan gerakan ke guna ulang ini.

    Biasanya dia harus membersihkan radius lima meter di sekitar pintu saya setiap hari,

    Tetapi setelah gerakan guna ulang diterapkan di kawasan itu, dia mengatakan dengan adanya gelas yang dapat digunakan kembali yang dapat dikembalikan untuk mendapatkan deposit, orang akan melakukannya untuk dia.

    “Dan dengan itu, saya menghemat uang dan plastik. Dari perspektif ekonomi, ini sangat bagus,” kata Pinto,

    Selain itu, bagi pemerintah kota yang diwajibkan untuk melaporkan tentang sampah dan penggunaan gelas, sistem seperti CopoMais dapat menyediakan data yang dibutuhkan oleh tempat makan.

    Namun demikian, masih perlu dilihat bagaimana proyek-proyek ini akan berkembang.

    “Untuk menerapkan sistem baru, untuk mengubah perilaku, itu tidak mudah. ​​Kami masih belajar,” kata João Jalé, Manajer Bisnis di Tomra Reuse, penyedia RaaS yang berbasis di Norwegia.

  • Inovasi Peneliti ITB Mengubah Sampah Plastik Jadi Bahan Paving Ramah Lingkungan

    Inovasi Peneliti ITB Mengubah Sampah Plastik Jadi Bahan Paving Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Tingginya timbulan sampah terutama sampah plastik di Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil memicu masalah lingkungan dan mengancam potensi wisata daerah tersebut.

    Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Singkil, timbunan sampah plastik di Kecamatan Pulau Banyak mencapai 668 ton per tahun, dengan plastik menjadi jenis sampah terbanyak kedua, yakni 22 persen.

    Kondisi ini menjadi perhatian karena daerah tersebut memiliki potensi wisata bahari yang besar, namun menghadapi tantangan pengelolaan sampah dan pemeliharaan infrastruktur.

    Melalui program pengabdian masyarakat, Institut Teknologi Bandung (ITB), melalui tim Ganesha Operation Plastic (GaneOpTic) ikut turun tangan mengolah sampah plastik menjadi paving block ramah lingkungan.

    Hal ini tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mendukung kebutuhan infrastruktur masyarakat. Pengolahan ini menjadi upaya menjawab persoalan nyata di masyarakat melalui inovasi teknologi.

    Tim membawa alat smelter untuk mengolah limbah plastik menjadi paving block. Prosesnya diperlihatkan secara langsung kepada warga, mulai dari pemilahan dan pengeringan plastik, peleburan pada suhu tertentu, penuangan ke dalam cetakan, hingga proses pendinginan sampai menjadi paving block siap pakai.

    Baca: Industri FMCG Diminta Serius Kurangi Sampah Plastik

    Teknologi ini telah diterapkan di Desa Pulau Balai, salah satu pulau di Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, pada 2025.

    Di wilayah pesisir tersebut, sampah plastik menjadi salah satu persoalan masyarakat, selain kerusakan jalan dan keterbatasan infrastruktur.

    Dari Berbagai Perguruan Tinggi
    Program ini dijalankan oleh tim GaneOpTic ITB yang diketuai oleh Dr. Megawati Zunita, dari Teknik Kimia ITB.

    Tim ini juga melibatkan dosen peneliti dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Universitas Insan Budi Utomo (UIBU), serta Universitas Malikussaleh (Unimal).

    Kegiatan berlangsung pada 18–20 Agustus 2025. Dalam rangkaian program tersebut, tim menyerahkan alat smelter, memberikan materi mengenai daur ulang plastik, laut bebas sampah, dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus mendampingi warga dalam praktik langsung pembuatan paving block dari sampah plastik.

    Megawati mengatakan, banyaknya sampah plastik yang terbawa arus menumpuk di pesisir pantai Pulau Balai, sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu pulau dari Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil.

    Baca: Upaya Global dalam Mengurangi Sampah Plastik

    ”Tim ITB membawakan teknologi terapan, pembuatan paving block dari plastik, sekaligus menjawab kebutuhan infrastruktur trotoar yang juga menjadi tantangan.” ujarnya.

    Teknologi Menjadi Solusi Lingkungan
    Kehadiran teknologi ini menjadi solusi pengurangan timbulan sampah plastik dan material daur ulang untuk perbaikan jalan setapak, area fasilitas umum, hingga ruang-ruang publik skala ringan.

    Megawati Zunita mengatakan, paving block berbahan dasar plastik daur ulang ini relevan untuk wilayah pesisir dengan sejumlah keunggulan.

    “Tahan terhadap korosi dari air laut, tidak retak akibat reaksi sulfat, lebih fleksibel dengan perubahan suhu, relatif lebih ringan dibandingkan paving beton konvensional,” ujarnya.

    Ia mengatakan, dengan formulasi dan proses produksi yang tepat, paving block tersebut juga mampu memenuhi standar mutu untuk penggunaan jalan lingkungan dan area parkir ringan.

    Paving block hasil olahan sampah plastik juga memiliki potensi ekonomi. Produk tersebut dapat digunakan oleh warga setempat, sekaligus berpeluang dikembangkan menjadi usaha desa dengan menjualnya ke desa lain yang memiliki kebutuhan serupa.

    Hal inilah yang membuat program tersebut tidak hanya sebagai kegiatan pelatihan, melainkan langkah awal menuju kemandirian desa.

    Baca: Daur Ulang Tak Akan Mampu Imbangi Ledakan Sampah Plastik