Tag: aceh tamiang

  • Aceh Tamiang Sudah Bisa Diakses, Seperti Ini Kondisinya

    Aceh Tamiang Sudah Bisa Diakses, Seperti Ini Kondisinya

    7cloud.asia  Kabupaten Aceh Tamiang yang menjadi salah satu wilayah terparah di Tanah Rencong yang diterjang banjir bandang pada pekan lalu sempat menjadi perbincangan publik.

    Terputusnya jalur darat membuat daerah yang berada di perbatasan Sumatera Utara dan Aceh ini tidak bisa diakses bantuan.

    Selama beberapa hari awal bencana banjir Sumatera, Aceh Tamiang seolah terisolir dan tidak kunjung mendapat bantuan. 

    Ribuan rumah warga, fasilitas umum, jalan dan jembatan porak-poranda. Pengiriman bantuan juga terhambat jalur transportasi yang putus. Banyak warga yang belum mendapat bantuan logistik. 

    Baru dua hari ini bantuan mulai masuk seiring berhasil dibukanya jalur dari Langkat, Sumatera Utara.

    Baca Juga: Infrastruktur yang Rusak Akibat Banjir Sumatera Hambat Distribusi Bantuan

    Sejauh ini jumlah pengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 215.652 jiwa dan 39 orang meninggal dunia.

    Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi membantah informasi yang menyebut 250 warga di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru meninggal dunia tersapu banjir bandang beberapa hari lalu.

    “Saya pertegas, itu tidak benar (isu 250 warga Kampung Dalam meninggal). Jangan dipercaya, itu adalah informasi sesat,” kata Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi Kamis (4/12/2025) dikutip Antaranews.com

    Armia meminta masyarakat yang ingin mendapatkan data valid soal perkembangan penanganan bencana banjir di Aceh Tamiang, untuk datang langsung ke Posko Utama yang telah dibentuk pemerintah.

    “Kalau mau tanya data yang valid, silakan datang ke Posko Bicara Alam yang ada di perumahan Prabu Desa Paya Bedi,” ujarnya.

    Baca Juga: WALHI Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan yang Diduga Bertanggungjawab Atas Kerusakan Lingkungan

    Menurut Armia memang ada warga yang meninggal akibat bencana banjir di desa tersebut, tetapi tidak sebanyak seperti yang beredar. Kawasan tersebut juga bukan wilayah pedalaman.

    “Ada di Kampung Dalam yang meninggal di situ. Tetapi saya pikir tidak terlalu banyak,” ujarnya.

    Bahkan, kata dia, saat banjir melanda pertama, dirinya sempat menyeberangi sungai di wilayah tersebut, karena ia sempat terkurung banjir di daerah Karang Baru dekat Kantor BPBD.

    Dalam kesempatan ini, Armia menyebut pendistribusian logistik ke desa-desa terdampak banjir sudah banyak alat transportasi yang dapat digunakan, termasuk traktor untuk membawa bantuan ke wilayah sulit terakses.

    “Ini sudah ada banyak perlengkapan traktor kosong untuk mengirim terus ke kampung-kampung yang diperkirakan belum kita sentuh, terutama di daerah Tenggulun, Tamiang Hulu. Sungai Iyu dan Banda Mulia,” katanya.

     

     

  • Prajurit TNI dan Sukarelawan Bahu Membahu Bersihkan RSUD Aceh Tamiang

     

    7cloud.asia – Puluhan prajurit TNI dari Kodim 0117/Aceh Tamiang dikerahkan untuk membantu pemulihan operasional RSUD Aceh Tamiang pasca banjir pada akhir November lalu.

    Para prajurit TNI ini bahu membahu dengan sukarelawan bekerja keras memulihkan fasilitas pelayanan kesehatan pascabanjir besar yang melanda wilayah tersebut. 

    RSUD Aceh Tamiang menjadi salah satu lokasi paling terdampak dan membutuhkan penanganan segera agar dapat kembali memberikan layanan kepada masyarakat, Sabtu (6/12/2025).

    Dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (7/12/2025) Puspen TNi menyebutkan pada Kamis, 4 Desember 2025, sebanyak 35 prajurit TNI dikerahkan untuk membuka akses menuju rumah sakit yang tertutup puluhan kendaraan terseret banjir.

    Prajurit TNI bersama warga secara manual menyingkirkan kendaraan-kendaraan tersebut hingga akses utama RSUD kembali terbuka dan pembersihan dapat dimulai.

    Di dalam rumah sakit, prajurit mendapati seluruh ruangan dipenuhi lumpur setebal 40 sentimeter, sementara sebagian besar peralatan medis mengalami kerusakan akibat terjangan banjir.

    Mengingat urgensi situasi, Kodim 0117/Aceh Tamiang kemudian menambah kekuatan menjadi 80 personel pada 5 Desember 2025 serta mengerahkan satu unit mobil Damkar untuk mempercepat proses pembersihan.

    Hingga kini, RSUD Aceh Tamiang masih menampung sejumlah pasien di lantai dua yang tidak terdampak banjir. Namun pelayanan kesehatan terhambat karena minimnya peralatan medis yang dapat digunakan. 

    Opsi evakuasi pasien ke Medan tengah dipertimbangkan, sambil menunggu perbaikan akses transportasi yang saat ini belum sepenuhnya pulih.

    Dilansir BBC Indonesia, pada Sabtu (6/12/2025), atau 10 hari setelah banjir menerjang, tim gabungan yang terdiri dari anggota TNI, anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tamiang, dan para relawan mulai membersihkan beberapa ruangan di RSUD dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran.

    Salah satu ruangan yang mereka bersihkan adalah ruang Instalasi Gawat Darurat, agar bisa cepat digunakan kembali.

    Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, menyampaikan pembersihan rumah sakit ditargetkan selesai dalam waktu tiga hari.

    “Pembersihan RSUD kami targetkan tiga hari selesai, banyak tim gabungan yang membantu, semoga dilancarkan,” kata Armia.

    RSUD tersebut nantinya bakal dijadikan rumah sakit sementara. Selain itu, posko kesehatan akan dibangun tepat di sebelah posko pengungsi.

    Wartawan Saddam Husein yang melaporkan dari Kabupaten Aceh Tamiang melaporkan, bantuan obat-obatan mulai memasuki Aceh Tamiang per Sabtu (6/12/2025).

    Selain pembersihan RSUD dan pasokan obat-obatan, petugas PLN juga membawa genset berkapasitas 66.000 watt dan lampu-lampu emergency dari Kota Langsa ke Aceh Tamiang.

    Pada Sabtu (6/12/2025) malam, sebagian listrik di RSUD sudah kembali menyala.

    Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mengklaim, proses pendistribusian logistic ke Aceh Tamiang sudah tersalurkan melalui darat, laut dan udara.

    BNPB mengatakan total bantuan yang sudah terdistribusi ke Aceh Tamiang melalui udara mencapai 18,2 ton dan melalui laut mencapai 1,8 ton.

    “Distribusi logistik ke wilayah Aceh Tamiang terus dilakukan melalui jalur darat dan udara,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

     

     

  • Aliran Listrik di Aceh Tamiang Belum Pulih

    Aliran Listrik di Aceh Tamiang Belum Pulih

    7cloud.asia – Sejak banjir bandang dan tanah longsor terjadi pada Rabu (26/11/2025), hingga Sabtu (20/12/2025) atau tiga pekan pascabanjir, aliran listrik di Sekerak Kiri, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, belum kembali menyala.

    Kondisi tersebut membuat warga yang berada di pengungsian dan tenda darurat kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari mengisi daya handphone, memasak nasi, menonton televisi, hingga menyalakan lampu pada malam hari.

    Aceh Tamiang merupakan salah satu daerah yang paling parah merasakan dampak banjir Sumatera. 

    Bantuan Penerangan dari Donasi Pembaca Tim Kompas.com menyalurkan bantuan dari donasi pembaca Kompas.com kepada korban bencana Aceh Tamiang berupa genset, sembako, lampu solar cell, alat ibadah, buah-buahan, alas tikar, susu, pampers, hingga pakaian.

    Sebelumnya, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa Aceh Tamiang merupakan salah satu wilayah yang masih dalam tahap pemulihan sistem kelistrikan pascabencana.

    Kondisi tersebut menyebabkan pasokan listrik belum stabil sehingga dilakukan pemadaman secara bergantian.

    “Dalam pemulihan sistem interkoneksi kelistrikan Aceh, masih diperlukan manajemen beban untuk mengatur nyala dan padam secara bergantian sesuai tahapan pemulihan,” ujarnya kepada Kompas.com, dikutip Rabu (17/12/2025).

    Ia memastikan PLN terus berupaya mempercepat pemulihan sistem kelistrikan di Aceh di tengah medan yang berat.

    Pada sejumlah wilayah, termasuk Aceh Tamiang, pasokan listrik sementara disuplai melalui pembangkit diesel PLN dan diprioritaskan untuk fasilitas layanan umum seperti rumah sakit, PDAM, serta perkantoran publik.

    Sekretaris Desa Sekerak Kiri, Abdul Gofur, mengatakan warga terpaksa mengandalkan lampu minyak atau lilin setiap malam karena belum ada penerangan listrik.

    “Sampai hari ini belum ada penerangan. Warga kami pakai tisu campur minyak sayur atau lampu pakai minyak,” ujar Abdul Gofur usai menerima bantuan pembaca Kompas.com di Sekerak Kiri, Sabtu (20/12/2025).

    Menurut dia, bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah penerangan, seperti genset dan lampu tenaga surya. Selain itu, warga juga membutuhkan kelambu karena jumlah nyamuk meningkat drastis pascabanjir.

    “Kami butuh penerangan tapi yang perlu warga setelah banjir butuh kelambu karena nyamuk luar biasa, butuh selimut, alas tikar, bantal,” kata dia.

    Abdul Gofur mengungkapkan terima kasihnya atas bantuan Kompas.com yang sudah memberikan bantuan genset, sembako, lampu solar cell yang sangat bermanfaat untuk mereka

    Hal senada disampaikan Kepala Desa Tanjung Mancang, Tengku Saipul Bahri. Ia menyebut warga di desanya juga sangat membutuhkan genset karena listrik masih padam sejak banjir.

    “Alhamdulillah ini sangat dibutuhkan seperti logistik, penerangan dan alat ibadah yang digunakan untuk salat sangat kami butuhkan,” kata Saipul.

    Krisis Air Bersih dan Biaya Tinggi
    Selain listrik, Saipul mengungkapkan bahwa wilayahnya juga menghadapi krisis air bersih. Hingga tiga pekan pascabencana, pasokan air belum pulih dan pihak desa masih mencari donasi untuk pengeboran sumur.

    “Listrik belum merata, air sedang berusaha untuk donator pengeboran memang harga air dari Sibaulangit mahal Rp 2,8 juta satu tangki untuk satu dusun, ada lima dusun berarti lima tangki,” ucap dia.

    Warga Dusun Baru, Sekerak Kiri, Aris, mengaku terharu saat menerima bantuan genset dan lampu tenaga surya dari donasi pembaca Kompas.com. Pasalnya, listrik di wilayah tersebut masih padam hingga kini.

    “Alhamdulillah sangat terbantu, tadi ada penerangan terasa hampir tertegun, senang ada lampu tadi membawa kita semangat kembali,” kata Aris.

    Ia menyebut selama ini warga hanya mengandalkan lampu minyak atau lilin setiap malam. Menurutnya, listrik kemungkinan baru kembali menyala dalam waktu lama karena banyak instalasi kabel yang rusak parah akibat banjir.

    “Listrik belum menyala karena instalasi rusak parah, mungkin lama menyala sebulan belum tentu,” ujar dia. Selain penerangan, warga masih membutuhkan kelambu dan tempat tinggal yang layak.