Tag: agama

  • Tradisi Buka Puasa Indonesia Mampu Satukan Tokoh Tiga Agama di AS

    Tradisi Buka Puasa Indonesia Mampu Satukan Tokoh Tiga Agama di AS

    7cloud.asia – Pemimpin agama dari tiga agama Ibrahim, agama-agama yang prinsip dasar kepercayaannya adalah monoteistis, atau bertuhankan satu yaitu Islam, Kristen dan Yahudi bertemu dalam buka puasa lintas agama ala Indonesia.

    Dalam buka puasa lintas agama yang digelar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC, Kamis (13/4/2023) malam waktu setempat atau Jumat waktu Indonesia itu, mereka menyampaikan pesan yang mencerahkan. 

    Berbagai tokoh dan perwakilan instansi pemerintah Amerika, asosiasi kemasyarakatan dan swasta, para duta besar negara-negara Islam dan ASEAN, serta beberapa pejabat tinggi Indonesia yang sedang menghadiri acara tahunan IMF/Bank Dunia Spring Meeting ikut hadir, antara lain Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

    Diwawancarai VOA, Direktur Imam Mohamed Magid, Executive Religious Director of All Dulles Area Muslim Society Center di Sterling, Virginia, mengatakan sangat gembira diundang dalam acara buka puasa ini.

    “Merupakan hal yang luar biasa kita dapat berbuka puasa di KBRI Indonesia yang terkenal ramah tamah, ditambah lagi dengan kehadiran tokoh dan pemimpin agama lain, terutama agama Islam, Kristen dan Yahudi, yang nanti akan sama-sama bicara tentang keragaman, keunikan dan kesamaan agama-agama Ibrahim ini.”

    Baca: Makna mudik tak sekadar sungkeman

    Imam Magid, demikian panggilan akrabnya, yang mengenakan baju batik tangan panjang berwarna biru kehijauan yang dibelinya ketika datang ke Jakarta bersama Presiden Barack Obama pada November 2010 lalu, menambahkan “acara ini benar-benar merefleksikan Indonesia, negara yang sangat indah, toleran, dan dikenal menerima orang lain dengan tangan terbuka.”

    Hal senada disampaikan Rabi David Saperstein, pemimpin komunitas Yahudi yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa Amerika Untuk Kebebasan Beragama Internasional.

    “Setiap kali diundang untuk datang dan bicara, saya dan komunitas kami merasa senang karena hubungan khusus kami dengan Indonesia. Komunitas masyarakat Yahudi sangat gembira dapat berbagi pengalaman, terutama karena tahun ini sangat istimewa mengingat kita merayakan hari besar di waktu bersamaan, yaitu Passover yang dirayakan warga Yahudi, Paskah yang dirayakan warga Kristen, dan Ramadan yang dijalankan warga Muslim. Ketiganya memperbarui kembali semangat spiritualitas kita bersama,” ujarnya.

    Pastur Senior Bruce Mitchell juga menyampaikan hal yang sama ketika berbicara dalam acara ini.

    Duta Besar Indonesia Untuk Amerika Rosan Roeslani menggarisbawahi urgensi acara seperti berbuka puasa bersama, atau dialog antar-keagamaan untuk menghadirkan Indonesia yang damai, toleran, saling menghormati.

    “Ini merupakan buka puasa bersama yang kami langsungkan setelah tiga tahun perebakan luas COVID-19. Jadi ketika kami memberitahu akan ada acara ini, banyak sekali tokoh yang ingin hadir, tetapi kami tetap harus membatasi,” tambahnya.

    Baca: Peran sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Rosan Roeslani juga memuji kebijakan baru beberapa kota di Amerika yang menjadikan Hari Raya Idulfitri sebagai hari libur sekolah, sehingga memberi kesempatan pada siswa-siswa Muslim untuk menjalankan ibadah hari besar mereka tanpa dihitung sebagai absen sekolah.

    “Saya menyambut baik karena ini menunjukkan kebesaran hati banyak pihak untuk mulai memahami Islam secara lebih luas, lebih dalam, lebih saling menghormati; dan ini yang harus terus disosialisasikan ke depan,” ujarnya.

    Dalam perspektif “agama Ibrahim,” maka agama Yahudi, Kristen dan Islam dinilai datang dari Tuhan melalui seorang rasul dan nabi pilihan yang membawa misi yang sama, yaitu tauhid atau monoteisme. Lewat ceramah singkat ketiga tokoh agama yang hadir dalam acara ini, disampaikan bahwa Yahudi diturunkan melalui Musa, Nasrani atau Kristen melalui Isa, dan Islam melalui Muhammad.

    Kedekatan ketiga agama itu tampak ketika ketiga utusan itu bertemu pada Ibrahim dan sama-sama mengakui Ibrahim sebagai “the foundation father’s” atau bapak para nabi, bagi agama tauhid, yang mengakui satu Tuhan.

    “Interfaith Iftar” ini diakhiri dengan doa dan buka puasa bersama, yang menyajikan berbagai makanan khas Indonesia, antara lain kambing guling yang disajikan secara utuh, ayam suwir Bali, sate ayam dan kambing, rendang, mie bakso hingga bubur sumsum. 

    Sumber: VOA Indonesia

  • Di Hari Jadinya yang ke-74, UGM Resmikan Kompleks Tempat Ibadah Semua Agama

    Di Hari Jadinya yang ke-74, UGM Resmikan Kompleks Tempat Ibadah Semua Agama

    7cloud.asia – Universitas Gadjah Mada kini telah memiliki rumah ibadah enam agama di lingkungan kampus.

    Komplek tempat ibadah di UGM ini dibangun di samping Masjid Kampus dan Mardliyyah Islamic Center yang telah lebih dulu dibangun.

    Rektor UGM telah meresmikan kompleks fasilitas kerohanian yang di dalamnya terdapat dua bangunan gereja, masing-masing untuk kegiatan kerohanian agama Katolik dan Kristen Protestan,

    Selain itu juga ada wihara untuk peribadatan agama Buddha, kelenteng untuk peribadatan agama Konghucu, serta pura untuk peribadatan agama Hindu. 

    Fasilitas kerohanian dibangun untuk mewadahi kegiatan-kegiatan kerohanian bagi sivitas UGM yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

    Baca: Pemaksaan berbusana atas nama agama

    Kompleks ini diresmikan Rektor dan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, Selasa (19/12) bertepatan dengan peringatan Dies Natalis ke-74 UGM.

    “Di UGM sendiri salah satu karakter yang kita bangun adalah inklusivitas. Kita memang heterogen, sehingga itu harus diwadahi termasuk dalam hal keberagamaan,” tutur Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia.

    Fasilitas kerohanian ini berlokasi di Jl. Podocarpus, Sendowo, berdekatan dengan salah satu asrama mahasiswa UGM. Fasilitas tersebut berdiri pada lahan seluas 5.994 M2, di dalamnya termasuk area terbuka hijau, plaza, serta area parkir. 

    Masing-masing bangunan peribadatan didesain menggunakan ciri dari masing-masing agama.

    Dua gereja yang telah berdiri masing-masing mampu menampung hingga 100 orang. Pura mampu menampung 50 orang, sedangkan wihara dan kelenteng masing-masing dapat menampung sekitar 40 orang.

    Baca: Siswi digunduli karena tak kenakan ciput

    Inisiasi Pembangunan fasilitas ini dimulai pada tahun 2020, pada kepemimpinan rektor sebelumnya, Prof. Ir. Panut Mulyono

    Peletakan batu pertama dilakukan pada 21 Mei 2022 di akhir masa kepemimpinannya, sementara proses pembangunan dimulai pada tanggal 24 Januari 2023 di bawah kepemimpinan rektor saat ini.

    “Ini akan menjadi tempat bagi sivitas untuk berdiskusi dan mempraktikkan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing,” imbuh Rektor. 

    Bangunan wihara, kelenteng, dan pura telah selesai dibangun pada tanggal 19 November lalu, sedangkan gereja dan fasilitas pendukungnya diselesaikan pada tanggal 16 Desember.

    Pembiayaan pembangunan fasilitas tersebut menggunakan dana masyarakat sejumlah Rp25 Miliar.

    Baca: Minat baca pada anak

    Ketua MWA UGM, Prof. Dr. Pratikno menerangkan makna penting fasilitas ini, yang sejalan dengan jati diri dan semangat UGM.

    “Terima kasih atas kerja keras sehingga ini bisa terwujud, sebuah kebanggaan yang luar biasa. Kalau di GIK kita menjulang tinggi, di sinilah kita mengakar kuat. Sejak awal mahasiswa masuk ke sini sudah terekspose dengan keberagaman, ini akan menjadi modal besar bagi Indonesia ke depan,” tuturnya. 

    Pratikno berharap, komunitas keagamaan di lingkup UGM dapat menghidupkan fasilitas ini dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna.

    Ia juga berharap inisiatif ini dapat menginspirasi institusi pendidikan lainnya untuk ikut mewadahi para sivitas dalam menekuni kegiatan keagamaan sekaligus merayakan keberagaman. 

    “Kita bisa mendorong kebinekaan dari UGM. Harapannya ini terus diperluas di universitas lain, sehingga kesadaran akan perbedaan tetapi tetap bersatu menguat di antara anak muda kita,” tambahnya. 

    Sumber: ugm.ac.id, Penulis: Gloria

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Konsep Mencintai Lingkungan yang Diterapkan Enam Agama di Indonesia

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Konsep Mencintai Lingkungan yang Diterapkan Enam Agama di Indonesia


    7cloud.asia – Dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2024, GreenFaith Indonesia melaksanakan kegiatan Tur Rumah Ibadah dengan berkunjung dan berdialog ke Rumah Ibadah enam agama di Indonesia.

    Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan mengatakanToleransi umat beragama di Indonesia tidak cukup hanya dipelajari melalui buku dan dialog panjang di media, tetapi pengalaman belajar langsung dalam rumah ibadah tentang iklim menjadi salah satu kunci mempererat umat lintas agama.

    Krisis iklim tidak mengenal perbedaan agama, karena itulah tanggung jawab untuk mencegah semakin buruknya dampak, menjadi milik semua umat.

    GreenFaith Indonesia, sebagai organisasi nirlaba internasional bekerja dengan kelompok multi agama dengan fokus pada pendidikan tentang keadilan iklim dari perspektif agama berbeda dan melakukan kampanye agar umat melakukan aksi nyata merawat alam.

    Kegiatan Tur Rumah Ibadah dilaksanakan selama 2 hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 8-9 Juni 2024.

    Hari pertama lokasi kunjungan Tur ini, dimulai dari kunjungan ke Pura Adhitya Jaya – Rawamangun, kemudian ke GIPB Paulus – Taman Sunda Kelapa, dan diakhiri dengan kunjungan ke Yayasan Buddha Tzu Chi – Pantai Indah Kapuk.

    Baca: Tur Rumah Ibadah Hari Lingkungan Hidup Sedunia, agama ajarkan mencintai Bumi

    Hari kedua, rute Tur dimulai dari kunjungan ke Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah – Menteng Raya, kemudian ke Masjid Istiqlal – Jakarta Pusat, kemudian ditutup dengan doa bersama di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin – Jakarta Selatan.

    Pinandita Pengayah Pura Adhitya Jaya, I Gde Wiyadnya, mengatakan bagi umat Hindu, alam semesta adalah refleksi manusia itu sendiri.

    “Semua yang ada di alam semesta terdiri dari 5 elemen atau kami sebut Panca Mahabhuta, yakni elemen pertiwi, udara, cairan, ruang, dan panas. Kalau kelima elemen tersebut di alam semesta ada yang terganggu maka akan berpengaruh ke diri kita, begitu pun sebaliknya,” ungkapnya.

    Untuk menjaga keseimbangan elemen Panca Mahabhuta, urai Gde, dibutuhkan Tri Hita Karana, di mana manusia perlu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

    Konsep Tri Hita Karana kemudian diadopsi ketika membangun rumah ibadah umat Hindu.

    Baca: Greenfaith Indonesia ajak anak muda aktif dalam aksi lingkungan

    Di GPIB Paulus, Rommi Matheos selaku Pendeta GPIB Paulus, menjelaskan iman Kristen meyakini bahwa dunia ini adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan selama 6 hari.

    Di mana hari ke 7 manusia diminta untuk istirahat, atau tidak bekerja atau disebut dengan hari Sabat.

    “Tuhan ingin supaya manusia tidak hanya bekerja tetapi juga harus mengistirahatkan diri dan memperhatikan bumi, di sinilah tumbuh kesadaran untuk kita menyelamatkan lingkungan,” ungkapnya.

    Terkait konsep ajaran keselamatan itu sendiri, lanjut Pendeta Mattheos, Tuhan memerintahkan upaya memelihara ciptaanNya, adalah untuk keselamatan dunia dan alam.

    Sebagai langkah nyata dari ajaran Iman Kristen, Gereja GPIB Paulus menjalankan program layanan Gerakan Masyarakat dan Lingkungan atau Germasa sebagaimana diputuskan di persidangan Sinode yang diselenggarakan tiap tahun.

    “Di GPIB Paulus kami ketika beribadah sudah tidak lagi pakai kertas, namun mulai paperless, dan kami sediakan tempat sampah pilah agar jemaat mampu memilah sampah sesuai jenisnya,” ungkap Pendeta Mattheos.

    Baca: Mengenl konsep masjid ramah lingkungan yang dikembangkan Muhammadiyah

    Di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi, Juny Leong Min Wu, Relawan insan Buddha Tzu Chi, menceritakan sejarah, nilai ajaran, serta kiprah Madzhab Tzu Chi di Indonesia dalam bidang pendidikan, sosial, kemanusiaan, hingga lingkungan hidup.

    Tokoh penggerak Madzhab Tzu Chi yakni Master Cheng Yen, merupakan seorang Bhikkhuni atau pemimpin agama Buddha perempuan asal Taiwan.

    Inspirasi ‘Hidup berdampingan dengan bumi’ menjadi nilai ajaran Master Cheng Yen terkait pelestarian lingkungan.

    Sudah sejak 1990, insan Tzu Chi melakukan pemilahan dan mengelola sampah menjadi barang berguna.

    “Mengubah sampah menjadi emas, dan emas menjadi cinta kasih, adalah semangat yang diajarkan Master Cheng Yen,” kata Juny.

    Persoalan sampah harus diatasi bersama dan menjadi tanggung jawab setiap orang dan relawan Tzu Chi aktif aktif mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dan daur ulang di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.

    Baca: Hari lingkungan hidup sedunia: upaya dunia melawan penggurunan

    Di hari kedua kegiatan Tur Rumah Ibadah, peserta belajar tentang aksi nyata mewujudkan keadilan iklim lewat energi terbarukan di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sudah menggunakan solar atap sebagai sumber energi alternatifnya.

    “Langkah nyata ini mampu mengurangi biaya pemakaian listrik dari fosil. Jika solar panelnya berfungsi secara maksimal, biaya pengeluaran listrik per bulannya bisa lebih hemat Rp15 juta, dari yang biasanya lebih dari Rp40 juta per bulan,” ungkap Hening, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

    Gerakan Muhammadiyah dilandasi oleh spirit yang termaktub dalam Al Maun termasuk dalam gerakan melestarikan lingkungan.

    Al Maun, ujar Hening, adalah salah satu surat di dalam Al Quran yang menjadi spirit gerakan Muhammadiyah untuk memperhatikan dan menyantuni saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim.

    Kini berkembang menjadi ‘Green Al Maun’, di mana Muhammadiyah melihat fakir, miskin, dan yatim akibat terdampak krisis iklim,” kata Hening.

    Muhammadiyah memiliki Majelis Lingkungan Hidup sejak 18 tahun lalu, dengan harapan Muhammadiyah berkontribusi menyadarkan umatnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

    Baca: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dunia diingatkan dampak perubahan iklim pada anak-anak

    Tidak hanya solar atap, gedung ini juga memiliki saluran pengelolaan air limbah yang digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan kendaraan.

    Pengetahuan tentang energi peserta semakin bertambah dari kunjungan ke Masjid Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini dilengkapi dengan solar atap berkekuatan lebih dari 15 kilowatt peak yang memasok 16% kebutuhan listrik masjid.

    Pemanfaatan solar atap di gedung Masjid Istiqlal ini sudah berlangsung sejak 2019 lalu dengan sistem on grid atau terhubung dengan saluran listrik dari PLN.

    Saparwadi, Kepala Humas dan Protokol Badan Pengelola Masjid Istiqlal menyampaikan bahwa pada tahun 2022, Masjid Istiqlal telah mendapatkan penghargaan Green Mosque pertama di dunia dari International Finance Corporation (IFC).

    “Bangunan Masjid Istiqlal Jakarta yang memiliki luas 4 hektar dan tanah 9,6 hektar ini, kini sudah menggunakan 504 solar panel yang alhamdulillah telah membantu menghemat anggaran hingga 100 juta rupiah dari total rata-rata 200 juta rupiah perbulannya,” ungkap Saparwadi.

    Selain pemanfaatan energi matahari, Masjid Istiqlal juga melakukan konservasi air dengan cara menghemat jumlah debit air wudhu yang keluar dan mengolahnya kembali untuk digunakan menyiram pohon dan tanaman di area masjid.

    Dari Masjid Istiqlal, peserta bertemu Romo Pandita Mettiko, di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin / Wihara Amarvabhumi.

    Klenteng yang sudah berusia lebih dari 100 tahun ini bertahan di tengah gedung-gedung pencakar langit di tengah kota Jakarta. Sebuah bukti nyata bagaimana kehidupan duniawi harus diimbangi hubungan manusia dengan Tian / Tuhan dan alam sekitar yang terus menerus berubah.

    “Manusia yang memelihara bumi, ia menyediakan jalan ke surga. Lingkungan yang bersih dan lestari akan nyaman ditinggali bagi semua, namun jika rusak maka kita semua terkena dampaknya,“ ungkap Romo Pandita Mettiko.

    “Kalau kita tidak bersaudara dalam iman, kita masih bisa bersaudara dalam kemanusiaan, mari bersama-sama kita rawat lingkungan hidup kita,” imbuhnya.

  • Bagaimana Agama dan Gender Menyokong Adaptasi Iklim Warga Pantura di Jawa Tengah

    Bagaimana Agama dan Gender Menyokong Adaptasi Iklim Warga Pantura di Jawa Tengah

    7cloud.asia – Dimensi agama dan gender seringkali luput dalam perbincangan, penelitian, dan proses penyusunan kebijakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

    Padahal, mengacu pada karakter masyarakat Indonesia, terdapat nilai-nilai keagamaan dan dinamika gender yang berkontribusi, baik positif maupun negatif, dalam upaya individu atau komunitas kala beradaptasi dengan perubahan iklim.

    Artikel di The Conversation menunjukkan bagaimana dimensi agama dan gender memengaruhi proses adaptasi masyarakat, yakni di wilayah pesisir utara (Pantura) Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    Kawasan ini mengalami perubahan garis pantai yang masif akibat pembabatan hutan mangrove, pembangunan tata kota, dan kenaikan muka air laut, yang membawa dampak multidimensi pada masyarakat, khususnya kelompok perempuan.

    Dalam konteks agama, kawasan pantura secara historis lekat dengan syiar agama Islam. Demak, misalnya, adalah lokasi kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni Kesultanan Demak. Ada juga Kesultanan Cirebon yang didirikan oleh salah satu Wali Songo, Sunan Gunungjati.

    Dalam konteks dinamika gender, terdapat jejak historis tokoh perempuan seperti Raden Siti Jaenab (Indramayu-Cianjur), Ratu Kalinyamat (Jepara), Kartini (Jepara-Rembang), yang menunjukkan bahwa perempuan eksis dan berpengaruh dalam perjuangan dan pemajuan bangsa.

    Bersamaan dengan itu, terdapat juga dinamika gender negatif seperti interpretasi agama bias gender, faktor kultural (stereotipe macak, manak, masak atau bersolek, melahirkan, dan memasak), maupun politik (propaganda ideologi gender), yang menempatkan perempuan sebagai makhluk domestik.

    Faktor agama dan dinamika gender ini tidak bisa kita lepaskan saat berupaya memahami masyarakat di pantura.

    Baca: Adaptasi iklim warga pantura di Jawa Barat

    Dampak perubahan iklim dirasakan oleh warga Desa Bedono dan Timbulsloko di pesisir Demak, Jawa Tengah. Dua desa pesisir ini mengalami abrasi sejak tahun 1990an saat banjir rob mulai menenggelamkan sawah dan akses jalan.

    Warga desa kemudian melakukan berbagai model adaptasi seperti meninggikan makam, menanam mangrove, dan membangun jembatan. Bentuk adaptasi tersebut tidak bisa dipisahkan dari dimensi agama dan gender yang saling beririsan.

    Di Demak, terdapat figur penyebar Islam yang lekat dengan adaptasi masyarakat pesisir, yaitu Kyai Mudzakir. Makam sang Kiai yang terletak di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, kini menjadi destinasi Ziarah yang dikenal dengan makam terapung.

    Upaya meninggikan makam oleh keluarga Kyai Mudzakir dan warga sekitar, membawa berkah tersendiri pada warga. Banyak peziarah yang mengunjungi makam keramat tersebut.

    Fenomena ini menjadi penguat bahwa agama dapat berkontribusi secara tidak langsung pada proses adaptasi iklim, melalui hadirnya wisata ziarah yang membantu penghidupan warga desa.

    Perempuan Demak juga melakukan upaya adaptasi iklim, salah satunya karena motivasi keagamaan. Misalnya adalah aksi Mak Jah di Desa Bedono.

    Ia memilih bertahan dan menanam bakau di dusunnya yang telah tenggelam, yakni Dukuh Rejosari Senik. Tujuannya untuk menjaga berkah Kiai Mudzakir dan desanya.

    Upaya Mak Jah membuahkan hasil yang tidak main-main. Dukuh Rejosari Senik diresmikan sebagai cagar alam yang berfungsi menahan laju abrasi di Desa Bedono.

    Baca: Cara nelayan Demak atasi kenaikan permukaan air laut

    Kemudian, di Desa Timbulsloko terdapat kelompok perempuan yang terhubung dengan jejaring advokasi gerakan Puspita Bahari.

    Para perempuan ini mengumpulkan uang sumbangan setiap kali melakukan pertemuan kelompok dan iuran pengajian. Uang tersebut digunakan untuk membangun jembatan dan membuka akses jalan di desa.

    Para perempuan juga berinisiatif merawat makam leluhur dan meninggikan masjid di desanya yang mayoritas dilakukan secara swadaya.

    Mereka menunjukkan bentuk-bentuk perlawanan sehari-hari (everyday resistance) seperti menggunakan pembalut kain dan menanam, meski tidak ada lagi tanah di rumah sekeliling mereka.

    Perempuan dan perlawanan sehari-hari
    Terdapat fakta menarik bahwa penyebaran nilai-nilai agama dan lingkungan kepada kalangan perempuan justru terjadi di luar forum keagamaan formal seperti pengajian.

    Di Desa Pantai Bahagia, obrolan mengenai agama dan keberlanjutan lingkungan terjadi di sela-sela proses pembuatan produk oleh Kebaya. Di Desa Bedono, perbincangan mengenai lingkungan ditemukan saat para sukarelawan dan peziarah mengunjungi Mak Jah di Bedono.

    Di Desa Timbulsloko, percakapan mengenai krisis iklim di kalangan perempuan justru dipicu karena kegelisahan mereka yang tidak bisa lagi beribadah di musala sekitar rumah dan melakukan aktivitas sosial karena banjir rob.

    Mereka berbincang ketika belanja, mengantar anak sekolah, dan saat pertemuan kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan tentang agama dan adaptasi di kalangan perempuan ternyata justru kuat dan dapat ditemukan dalam proses keseharian.

    Sebaliknya, forum keagamaan formal belum menjawab kebutuhan warga untuk beradaptasi perubahan iklim.

    Misalnya, forum-forum pengajian—baik di Desa Pantai Bahagia, Bedono, dan Timbulsloko—belum memasukan persoalan krisis iklim atau perubahan lingkungan sebagai pembahasan.

    Selain itu, dalam forum sosial keagamaan, perempuan kerap ditempatkan pada peran-peran domestik, seperti menyediakan makanan dan minuman selama kegiatan.

    Mengacu pada fakta tersebut, diseminasi tentang perubahan lingkungan dan persoalan iklim di kalangan perempuan mengambil pola yang lebih cair dan informal.

    Ketika forum sosial-keagamaan tidak memberikan ruang untuk diskusi, perempuan menemukan cara yang lebih hangat dan seringkali lebih kuat, yaitu dalam obrolan sehari-hari.

    Pada akhirnya, isu agama dan gender dalam krisis iklim perlu dilihat secara politis dan tidak bisa ditinggalkan dalam konteks kebijakan iklim di Indonesia.

    Indonesia sedang merumuskan dokumen aksi iklim yang terbaru. Momen ini sepatutnya menjadi kesempatan kita untuk memasukkan isu agama dan gender dalam upaya meredam dan bertahan di tengah krisis iklim.

    Penulis: Aliyuna Pratistiv(Dosen Universitas Padjadjaran) dan Andi Misbahul Pratiwi (PhD Candidate, School of Geography University of Leeds)

  • Ngaji Ramadan: Puasa Dikenal di Semua Agama dan Bukan Monopoli Umat Islam

    Ngaji Ramadan: Puasa Dikenal di Semua Agama dan Bukan Monopoli Umat Islam

    7cloud.asia – Ibadah puasa ternyata bukan monopoli umat Islam, meskipun terkait puasa ini umat Islam memiliki romantisme dan estetika tersendiri terhadap bulan suci Ramadan.

    Namun esensi puasa tetaplah universal dan tidak dapat dimiliki secara sepihak. Bahkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 secara jelas puasa merujuk kepada bangsa, kaum, generasi sebelum kita dan sebelum Rasulullah lahir.

    Itu bukti bahwa pada dasarnya kebudayaan dan peradaban, dan agama di masa silam jauh-jauh hari telah juga diperintah berpuasa. Adalah hal yang tidak berdasar jika puasa dimonopoli sebagai kepunyaan suatu kaum belaka.

    Dilansir di mubadalah.id, puasa adalah laku lintas makhluk. Puasa sebagai sebuah ritual ibadah, sekaligus penggemblengan lahir-batin untuk meraih peningkatan kualitas diri dan keselamatan, pada hakikatnya tidak pandang agama.

    Bahkan puasa secara esensial—dalam konteks menahan dan mengendalikan diri—telah telanjur sublim ke dalam hampir semua aspek kehidupan. Puasa hewan, engkau akan ingat dengan puasa ular, ulat dan kepompong.

    Hewan lain juga punya kecenderungan naluriah yang khas terkait puasa sesuai Sunnatullah. Sebagaimana beberapa mamalia berhibernasi, menjalani lockdown, physical distancing, menempuh tirakat ash-habul kahfi dalam rentang waktu tertentu.

    Baca: Puasa sekadar menahan lapar atau transformasi diri?

    Puasa laut, pasang-surutnya dan tenang-tsunaminya. Lalu puasa angin, hembus sepoi dan dera badainya. Puasa air, rintik damainya sampai banjir bandangnya. Selain itu, puasa api, hangat-mematangkan hingga membumi-hanguskan. Semesta sejatinya berpuasa. Bahkan Tuhan pun juga berpuasa.

    “Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya matahari atau tidak. Allah memelihara kesehatan tubuh kita dari detik ke detik meskipun ketika bangun pagi hanya ada satu dua belaka hamba-Nya yang mengucapkan syukur bahwa matanya masih bisa melek. Allah sendiri ‘berpuasa’. Kalau tidak, kita sudah dilenyapkan oleh-Nya hari ini, karena sangat banyak alasan rasional untuk itu.” (Emha Ainun Nadjib, dalam buku “Tuhan pun Berpuasa”, hlm. 52)

    Maka puasa tidak hanya tak pandang agama. Bahkan ia juga tidak hanya manusia yang menjalaninya. Namun lebih jauh dari itu, hewan, tetumbuhan, seluruh semesta dan bahkan Tuhan sendiri juga ‘berpuasa’.

    Puasa dan laku manusia agung
    Siddhartha Gautama berpuasa dengan menidakkan istana dan memilih ‘terjun bebas’ ke ladang tandus kehidupan rakyat kecil. Ibrahim bin Adham seorang sufi yang mantan sultan pun melakukan hal yang mirip.

    Terlebih para Nabi, puasa telah merasuk ke dalam seluruh tindak perilaku agung beliau-beliau. Juga mohon tidak kaget, sssttt…akan saya bisiki dan jangan bilang-bilang: bahkan orang gila pun selalu berpuasa.

    Tidak peduli gondrong compang-camping, atau rapi klimis berdasi sekalipun, siapa saja bisa berpuasa. Tanpa pandang suku, ras, agama, warna kulit, corak bola-mata, selera pakaian, preferensi channel kesukaan, dan drakor genre apa. Puasa sangat membuka diri dan siap menerima untuk siapapun bisa menjalaninya.

    Baca: Kapan datangnya malam Lailatul Qadar

    Dialektika Puasa-Berbuka
    Dasarnya, dialektika puasa-berbuka dapat ditemukan di mana saja. Umpamanya dengan pertanyaan ini: bukankah bersikap ramah di tengah gelombang amarah itu merupakan puasa?

    Sama halnya saat kita memilih saling mengasihi sesama di tengah pusaran permusuhan dan perseteruan antarumat manusia, adalah juga puasa.

    Silakan sebutkan satu hal positif apa saja, engkau akan terantuk kesadaran kecil bahwa itu puasa. Kejujuran, tidak lain adalah puasa dari kebohongan. Atau boleh engkau berikan satu sifat yang engkau sangka negatif, akan diungkap bahwa itu juga puasa.

    Saat seseorang marah, sejatinya dia sedang berpuasa dari kesabaran dan keramahan—atau pada sayap makna lain, tindakan tersebut menunjukkan bahwa engkau sedang berbuka.

    Ketika seseorang “geram” pada ketidakadilan, “berontak” pada segala bentuk penindasan, bukankah itu adalah sekaligus puasa dari kesabaran diperlakukan tidak adil dan berbuka dengan menu ‘geram dan berontak’?

    Mengamuk pada pelbagai jenis diskriminasi dan pelecehan, juga bisa kita artikan sebagai puasa dari rasa nriman dan legowo atas segala warna nasib. Bukankah itu hakikatnya sama saja puasa?

    Baca: Self care saat puasa Ramadan

    Kemudian jika mengacu pada Al-Qur’an, puncak pencapaian dari puasa adalah taqwa. Kualitas ruhaniah yang senantiasa berkesadaran secara utuh, taat dan waspada dengan dan kepada Allah—yang kemudian kita terjemahkan menjadi i’tikad melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi seluruh laranganNya.

    Meski begitu, metadinamika ulang-aling antara puasa-berbuka akan tetap memerlukan reorientasi kiblat hati ke mana akan menuju. Sangkan paraning dumadi. Asal muasal segala (kejadian) dan penciptaan: Allah.

    Maka kualitas taqwa hanya bersifat tersemogakan dan karenanya Allah menyuruh umat Muslim rutin melisankan ihdinas-shirathal mustaqim sekurang-kurangnya 17 kali sehari.

    Hal itu mengandung suatu simbolisme bahwa kebenaran kita, sehebat apapun kedudukan kita, ternyata pada dasarnya bersifat relatif.

    Yang bisa kita usahakan adalah melanggengkan etos berpuasa kita agar la’allakum tattaqun lebih memungkinkan diberikan Allah kepada kita.

    Dan sejauh apapun langkah pikiran, pencapaian spiritual, dan setinggi apapun maqam kita, hanya rendah hati—sebagai bentuk puasa—yang mampu menyelamatkan kita dari dosa favorit Iblis yang bernama “kesombongan”.

    Sebab karena kesombongannyalah, Iblis diusir dan dihukum menyesatkan manusia hingga hari kiamat.

  • Ngaji Ramadan: Pentingnya Reformasi Pemikiran Keagamaan yang Pro-lingkungan

    Ngaji Ramadan: Pentingnya Reformasi Pemikiran Keagamaan yang Pro-lingkungan

    7cloud.asia – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafiq A Mughni, MA menyoroti pentingnya reformasi pemikiran keagamaan yang lebih pro-lingkungan.

    Hal ini diungkapkannya saat membuka acara diseminasi hasil kerja advokasi dan silaturahmi lintas iman di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, pada Kamis 20 Maret 2025.

    Acara ini bertujuan untuk memperkuat peran agama dan kepercayaan dalam upaya mitigasi perubahan iklim serta membangun kolaborasi lintas iman menuju Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.

    “Persoalan lingkungan dan krisis iklim adalah persoalan besar bagi Muhammadiyah. Kita perlu memahami agama secara komprehensif, bukan hanya dalam konteks hubungan dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan alam. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi,” ujarnya.

    Dalam kesempatan ini Syafiq mengkritik praktik ibadah yang memicu kemubaziran yang masih marak, terutama saat bulan Ramadan dan Lebaran, di mana sampah makanan meningkat hingga 20 persen.

    Baca: Di dusun Sangurejo, ‘framing’ agama ampuh gerakkan aksi lingkungan

    “Ini menunjukkan bahwa kita belum memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan. Kita perlu menghidupkan kembali spirit green Ramadan dan mengubah pola hidup kita agar lebih ramah lingkungan,” tambahnya.

    Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, memaparkan hasil kerja advokasi yang berlangsung sejak Januari hingga Maret 2025.

    “Kami telah menyelesaikan serangkaian kerja advokasi di Jakarta, Sawahlunto (Sumatera Barat), Pekanbaru (Riau), Ambon (Maluku), dan melalui platform online. Melalui kerja ini, kami ingin melihat bagaimana keterlibatan lintas agama dan kepercayaan dapat berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim,” ujarnya.

    Hening menjelaskan bahwa agama memiliki peran sentral dalam menggerakkan kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan.

    “Agama menjadi penjaga moral dalam melestarikan, mengelola, dan memuliakan lingkungan dengan tanggung jawab, kepedulian, keadilan, dan keberlanjutan. Nilai-nilai ini diambil dari ayat-ayat dalam kitab suci,” jelasnya.

    Baca: Agama dan gender menyokong adaptasi iklim warga Pantura

    Hasil kerja advokasi ini menghasilkan sejumlah rekomendasi kebijakan lingkungan untuk Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Kelembagaan Organisasi Keagamaan dan Koalisi Lintas Iman

    Rekomendasi itu antara lain evaluasi terhadap kebijakan yang melanggengkan kerusakan lingkungan, penguatan kebijakan dan regulasi berorientasi lingkungan, penguatan dukungan dan pendanaan program lingkungan.

    Serta peningkatan kolaborasi dan koordinasi lintas sektor, penghargaan dan integrasi jaringan lintas iman, peningkatan kapasitas dan advokasi kebijakan, serta strategi komunikasi dan dukungan bagi kelompok rentan.

    Muhammadiyah telah menginisiasi Eco Bhinneka untuk mendorong kerukunan umat beragama di Indonesia melalui pendekatan lingkungan.

    Pada tahun 2025, Eco Bhinneka Muhammadiyah dan Oxford Policy Management Limited (OPML) melaksanakan kegiatan konsultasi tentang kerja advokasi dalam keterlibatan keagamaan dan lintas iman untuk memitigasi dan mengelola risiko lingkungan di Sawahlunto (Sumatera Barat), Pekanbaru (Riau), dan Ambon (Maluku).

    Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran agama dan lintas iman dalam mengelola risiko lingkungan dan perubahan iklim. Eco Bhinneka Muhammadiyah bekerja sama dengan GreenFaith Indonesia dalam menjalankan program ini.

  • Kisah Inspiratif Tokoh Agama dan Tokoh Adat dalam Aksi Lingkungan

    Kisah Inspiratif Tokoh Agama dan Tokoh Adat dalam Aksi Lingkungan

    7cloud.asia – Sejumlah kisah inspiratif dari tokoh agama, tokoh adat, dan kelompok disabilitas dalam aksi lingkungan terungkap dalam acara diseminasi hasil kerja advokasi dan silaturahmi lintas iman di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (20/3/2025).

    Acara ini bertujuan untuk memperkuat peran agama dan kepercayaan dalam upaya mitigasi perubahan iklim serta membangun kolaborasi lintas iman menuju Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.

    Pendeta Jhon Victor Kainama, Kepala Biro lingkungan Hidup dan Kebencanaan Gereja Protestan Maluku (GPM) Ambon, yang hadir dalam acara ini membagikan pengalaman perjuangan gereja bersama masyarakat melawan eksploitasi tambang di Nusa Tenggara Timur.

    “Kami dari GPM merasa harus terlibat dalam aktivisme lingkungan karena itu adalah bagian dari iman dan moral kami. Kita tidak mau hanya berada di mimbar saja,” ujarnya.

    Pendeta Jhon menjelaskan bahwa wilayah kerja GPM tidak hanya di Provinsi Maluku, tetapi juga sampai dengan Maluku Utara. Kedua provinsi ini sering disebut dengan wilayah kepulauan Maluku.

    “Kami mengadvokasi wilayah-wilayah pulau kecil yang terancam oleh nndustri ekstraktif, terutama pertambangan nikel,” tegasnya.

    Baca: Dusun Sangurejo gunakan ‘framing’ agama untuk gerakkan aksi lingkungan

    Sementara itu, Putu Ardana, tokoh adat Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, Bali, menceritakan perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan hutan suci mereka dari ekspansi investor.

    “Leluhur kami memutuskan bahwa hutan dan danau itu adalah sumber hidup utama kita yang tidak boleh diotak-atik. Pesan itu ditulis dalam lontar dan diwariskan turun-temurun.” ujarnya.

    Ia melanjutkan bahwa dirinya bersama dengan komunitas masyarakat adat Dalem Tamblingan siap untuk mempertahankan hutan suci dari berbagai ancaman.

    Baginya, kekayaan hutan tidak bisa dikonversi dengan murah dan kepentingan jangka pendek. Hal ini karena hutan adalah rumah air, keanekaragaman hayati, dan sumber obat-obatan.

    “Lebih jauh, hutan sangat bermakna secara spiritual,” tegasnya.

    Indah Purwanti Mugianti, Kepala Sekolah dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Tia di Sawahlunto, menyampaikan apresiasi atas dilibatkannya kelompok disabilitas dalam acara ini.

    Baca: Upaya konservasi masyarakat adat Dalem Tamblingan

    “Selama ini, kelompok disabilitas tidak pernah dilibatkan dalam pembangunan, apalagi mitigasi perubahan iklim. Padahal, kami adalah kelompok yang paling rentan terdampak krisis iklim dan kerusakan lingkungan,” ujarnya.

    Indah mencontohkan bagaimana penyandang disabilitas tuna rungu tidak dapat mendengar peringatan bencana, sehingga membutuhkan sistem yang inklusif.

    Acara ini menegaskan bahwa agama bukan hanya sekadar ritual, melainkan sumber daya moral yang dapat menggerakkan perubahan nyata.

    Dengan solidaritas lintas iman, inklusivitas, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi contoh dunia dalam pembangunan rendah karbon.

    Seperti kata pepatah Jawa, “Memayu hayuning bawana”—merawat keindahan dunia. Inilah saatnya agama menjadi tangan yang aktif, bukan hanya mulut yang berdoa.

    Kolaborasi lintas agama dan kepercayaan telah membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual dapat menjadi kekuatan transformatif dalam menghadapi krisis iklim.

    Dengan semangat gotong royong, Indonesia dapat mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

    Baca: Pentingnya mengembangkan pemikiran agama yang lebih pro-lingkungan

  • Pandangan Tokoh Lintas Agama Terkait Penambangan di Pulau Kecil

    Pandangan Tokoh Lintas Agama Terkait Penambangan di Pulau Kecil

    7cloud.asia – Green Faith Indonesia mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kebijakan untuk menghentikan seluruh aktivitas pertambangan yang merusak di pulau-pulau kecil sebagai bentuk tanggung jawab moral, spiritual, dan konstitusional.

    Seruan ini bukan hanya suara masyarakat sipil, tapi suara iman lintas agama yang melindungi ciptaan Tuhan.

    Maka, demi keadilan antargenerasi, martabat masyarakat adat, dan kesetiaan kita pada ajaran suci setiap agama, kami menyerukan: Cabut seluruh IUP yang merusak pulau kecil. Lindungi bumi, hormati iman, dan pulihkan masa depan.

    Berikut pandangan sejumlah tokoh lintas iman tentang penambangan di pualu-pulau kecil yang terbukti sangat merusak lingkungan sebagaimana diungkap dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Kamis (12/6/2025)

    Dalam ajaran Hindu, konsep Tri Hita Karana menekankan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.

    “Apa yang dilakukan tambang hari ini melanggar keseimbangan itu. Ketika bhuwana agung (alam semesta) dirusak, maka bhuwana alit (jiwa manusia) pun ikut tercemar,” ungkap Hening Parlan yang juga Direktur Green Faith Indonesia

    Baca: Ratusan hektare hutan di Raja Ampat rusak akibat tambang nikel

    Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA, menyatakan kesedihan mendalam atas kerusakan lingkungan di Raja Ampat dalam khotbah Misa Hari Raya Pentakosta pada 8 Juni 2025 di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika, Papua Tengah.

    “Perasaan saya tercabik-cabik. Raja Ampat yang selama ini dimuliakan sebagai mahakarya ciptaan Tuhan, kini dilukai oleh kerakusan manusia,” ujarnya.

    Ia mengecam aktivitas tambang nikel sebagai bentuk kekerasan terhadap alam dan masyarakat Papua, dan menyebutnya sebagai bagian dari ketamakan oligarki&quot yang menghancurkan keharmonisan antara manusia dan ciptaan Tuhan.

    Pdt. Prof. Binsar Pakpahan, Ph.D, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta (STFT Jakarta) menyebut eksploitasi sumber daya alam secara membabi buta sebagai buah dari keserakahan struktural yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

    “Gerakan hidup ugahari—hidup cukup dan sederhana—harus menjangkau dunia korporasi dan pengambil kebijakan. Tidak cukup hanya berkhotbah di mimbar gereja, tetapi juga harus menyuarakan perlawanan terhadap sistem yang menormalisasi perusakan lingkungan,” tegasnya.

    Ia mengingatkan bahwa alam adalah titipan Tuhan yang harus dipelihara, bukan dijarah atas nama pertumbuhan ekonomi.

    Baca: Perjuangan Masyarakat Adat Halmahera Timur lindungi ruang hidup mereka dari gempuran tambang nikel

    “Tuhan menciptakan bumi ini sebagai rumah bersama, bukan sebagai ladang eksploitasi. Ketika keserakahan mengambil alih nurani, maka umat beriman wajib berdiri membela ciptaan,” tutupnya.

    Dari Muslim, Roy Murtadho, pengasuh Pondok Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar menyampaikan kepedihannya melihat banyak pemimpin yang tidak mencerminkan pandangan yang tidak berpihak pada masyarakat dan lingkungan.

    “Seharusnya banyak pemimpin bangs aini berjuang untuk melindungi ekosistem, bukan justru membela kepentingan tambang, karena ini menunjukkan dilema etika yang menunjukkan bahwa ada kesenjangan pemahaman antara kepentingan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

    Dampak negative mencakup kerusakan habitat, pencemaran, dan penurunan kualitas air
    yang ini mengandung konsekuensi jangka panjang pada lingkungan dan generasi.” ungkap Roy.

    Romo Ferry Sutrisna Widjaja Imam Katolik yang bekerja di Eco Camp yang dikelola Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang bersifat lintas agamavmengingat Paus Fransiskus dalam Laudato Si yang bertanya dunia macam apa yang akan kita tinggalkan bagi anak cucu kita generasi yang akan datang ?

    Apakah hati kita masih bisa mendengarkan jeritan alam yang dirusak dan jeritan masyarakat lokal yang dirugikan oleh eksploitasi pertambangan ekstraktif khususnya di pulau-pulau kecil yang tidak bertanggungjawab ? Pertanyaan mendalam dari Romo Ferry, terkait penambangan di pulau-pulau kecil.

    Baca: Tambang nikel berdampak buruk pada lingkungan di Sulawesi

    Putu Ardana, Adat Dalem Tamblingan juga ikut menyampaikan empati dan keprihatinannya atas apa yang dialami masyarakat adat di Raja Ampat.

    Berkaca dari Masyarakat Adat Dalem Tamblingan (MADT) dimana mereka memiliki Prasasti Ugrasena yang bertarikh 922 M yang didalam prasasti tersebut meyakini adanya keimanan masyarakat adat tersebut juga unik yang disebut “Piagem Gama Tirta”, keimanan yang memuliakan air dan menjaga harmoni dengan alam.

    Lokasi – Lokasi pegunungan dan Masyarakat adat di berbagai wilayah tanah air termasuk di Raja Ampat pasti memiliki kearifan lokal dalam menjaga bumi dan kemudian rusak karena industri.

    Sedangkan Upasaka Titha Sukho dari Pengerak Peduli Generasi Agama Budha menyampaikan bahwa merusak hutan tempat tinggal para makhluk berarti menentang Dhamma dan menanam benih penderitaan atau karma buruk, karena merusak hutan sama saja kita menghancurkan tempat tinggal, tempat mencari makan untuk hidup.

    Ajaran Buddha jelas melarang manusia merusak hutan atau alam karena itu melanggar aturan moral dan menimbulkan penderitaan baik bagi diri sendiri atau semua makhluk sebagaimana dalam Jataka 247 (tittira jataka) Buddha.

    Jataka ini menjelaskan bahwa manusia harus melindungi hewan-hewan dan alam yang ada untuk keberlangsungan kehidupan dan tanpa menimbulkan penderitaan baru.

    Baca: Organisasi Masyarakat Sipil tolak ekspansi tambang nikel