7cloud.asia – Sejumlah kisah inspiratif dari tokoh agama, tokoh adat, dan kelompok disabilitas dalam aksi lingkungan terungkap dalam acara diseminasi hasil kerja advokasi dan silaturahmi lintas iman di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (20/3/2025).
Acara ini bertujuan untuk memperkuat peran agama dan kepercayaan dalam upaya mitigasi perubahan iklim serta membangun kolaborasi lintas iman menuju Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Pendeta Jhon Victor Kainama, Kepala Biro lingkungan Hidup dan Kebencanaan Gereja Protestan Maluku (GPM) Ambon, yang hadir dalam acara ini membagikan pengalaman perjuangan gereja bersama masyarakat melawan eksploitasi tambang di Nusa Tenggara Timur.
“Kami dari GPM merasa harus terlibat dalam aktivisme lingkungan karena itu adalah bagian dari iman dan moral kami. Kita tidak mau hanya berada di mimbar saja,” ujarnya.
Pendeta Jhon menjelaskan bahwa wilayah kerja GPM tidak hanya di Provinsi Maluku, tetapi juga sampai dengan Maluku Utara. Kedua provinsi ini sering disebut dengan wilayah kepulauan Maluku.
“Kami mengadvokasi wilayah-wilayah pulau kecil yang terancam oleh nndustri ekstraktif, terutama pertambangan nikel,” tegasnya.
Baca: Dusun Sangurejo gunakan ‘framing’ agama untuk gerakkan aksi lingkungan
Sementara itu, Putu Ardana, tokoh adat Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, Bali, menceritakan perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan hutan suci mereka dari ekspansi investor.
“Leluhur kami memutuskan bahwa hutan dan danau itu adalah sumber hidup utama kita yang tidak boleh diotak-atik. Pesan itu ditulis dalam lontar dan diwariskan turun-temurun.” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa dirinya bersama dengan komunitas masyarakat adat Dalem Tamblingan siap untuk mempertahankan hutan suci dari berbagai ancaman.
Baginya, kekayaan hutan tidak bisa dikonversi dengan murah dan kepentingan jangka pendek. Hal ini karena hutan adalah rumah air, keanekaragaman hayati, dan sumber obat-obatan.
“Lebih jauh, hutan sangat bermakna secara spiritual,” tegasnya.
Indah Purwanti Mugianti, Kepala Sekolah dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Tia di Sawahlunto, menyampaikan apresiasi atas dilibatkannya kelompok disabilitas dalam acara ini.
Baca: Upaya konservasi masyarakat adat Dalem Tamblingan
“Selama ini, kelompok disabilitas tidak pernah dilibatkan dalam pembangunan, apalagi mitigasi perubahan iklim. Padahal, kami adalah kelompok yang paling rentan terdampak krisis iklim dan kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Indah mencontohkan bagaimana penyandang disabilitas tuna rungu tidak dapat mendengar peringatan bencana, sehingga membutuhkan sistem yang inklusif.
Acara ini menegaskan bahwa agama bukan hanya sekadar ritual, melainkan sumber daya moral yang dapat menggerakkan perubahan nyata.
Dengan solidaritas lintas iman, inklusivitas, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi contoh dunia dalam pembangunan rendah karbon.
Seperti kata pepatah Jawa, “Memayu hayuning bawana”—merawat keindahan dunia. Inilah saatnya agama menjadi tangan yang aktif, bukan hanya mulut yang berdoa.
Kolaborasi lintas agama dan kepercayaan telah membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual dapat menjadi kekuatan transformatif dalam menghadapi krisis iklim.
Dengan semangat gotong royong, Indonesia dapat mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Baca: Pentingnya mengembangkan pemikiran agama yang lebih pro-lingkungan

Leave a Reply