Tag: Aman

  • AMAN Khawatirkan Nasib Masyarakat Adat di Bawah Pemerintahan Prabowo-Gibran

    AMAN Khawatirkan Nasib Masyarakat Adat di Bawah Pemerintahan Prabowo-Gibran

    7cloud.asia – Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi tidak bisa menyembunyikan kecemasannya akan nasib masyarakat adat dalam lima tahun ke depan.

    Apalagi, dalam catatan AMAN selama 10 tahun pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi, kondisi yang dihadapi masyarakat adat semakin memburuk.

    AMAN mencatat dalam 10 tahun terakhir terdapat 687 konflik agraria yang merampas 11,07 juta hektare wilayah masyarakat adat.

    Konflik tersebut mengakibatkan hampir 1.000 anggota masyarakat adat dikriminalisasi, di mana 60 orang di antaranya menjadi korban kekerasan aparat penegak hukum dengan satu di antara mereka dilaporkan meninggal dunia.

    “Ketika kita kuat melawan dalam 10 tahun terakhir situasi terus memburuk dan dari catatan kami ada setidaknya 11,07 juta hektare wilayah adat yang dirampas. Dan di dalam 11,07 juta hekatere itu ada 687 kasus,” ungkap Rukka dalam konferensi pers di Jakarta Catatan Akhir Tahun (CATAHU) 2024, Kamis (19/12/2024).

    Baca: Pengesahan RUU Masyarakat Adat berikan kepastian hukum dan investasi

    Rukka menegaskan bahwa kasus ini adalah kasus yang dilaporkan, yang dicatat oleh AMAN karena ada banyak kasus-kasus yang tidak kami dapatkan laporannya.

    “Ada banyak sekali masyarakat adat yang mati, atau digusur diam-diam saja, karena mereka tidak punya akses untuk bersuara. Kampungnya jauh, tidak ada komunikasi sehingga kami juga tidak bisa menjangkau apalagi media,“ lanjutnya.

    Untuk tahun ini saja, tambahnya, AMAN mencatat terdapat 121 kasus yang telah merampas 2,8 juta hektare wilayah adat di 140 komunitas adat di berbagai sektor.

    Kasus-kasus ini termasuk konflik dengan konsesi perkebunan, konflik dengan konsesi tambang, dan konflik dengan proyek infrastruktur.

    Pergantian rezim kekuasaan pada tahun ini, kata Rukka, tidak bisa membuatnya cukup yakin akan ada perubahan yang berarti.

    Baca: Pengesahan RUU Masyarakat Adat ditunggu jutaan masyarakat adat

    Apalagi, menurutnya, dalam visi misi dari Prabowo-Gibran tidak ada satupun yang berpihak kepada masyarakat adat. Terlebih lagi, berbagai kebijakan yang ada bisa disebut mirip dengan kebijakan Presiden Jokowi sebelumnya.

    “Kenapa saya mengingatkan teman-teman untuk bahwa kita lima tahun ke depan tidak akan baik-baik? Karena seluruh kebijakan yang buruk sudah lahir dalam 10 tahun terakhir,“ imbuhnya.

    Jadi, Rukka melanjutkan, pemerintahan Prabowo ini tidak perlu (mengeluarkan kebijakan baru), apalagi kebijakan buruk yang harus dilahirkan karena sudah ada semua.

    Dia melihat saat ini Prabowo sudah kemana-kemana untuk mengundang investor dengan menjual hutan, tambang, termasuk food estate.

    Padahal food estate sendiri, ujarnya, justru menghancurkan hutan dan berbagai wilayah adat.

    Selain itu, ia juga menekankan bahwa militerisme sudah kembali di wilayah adat dan di seluruh Indonesia untuk mendukung proyek strategis nasional (PSN) khususnya food estate yang dibarengi dengan transmigrasi.

  • Catatan Akhir Tahun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Desakkan Sejumlah Hal ke Pemerintahan Prabowo

    Catatan Akhir Tahun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Desakkan Sejumlah Hal ke Pemerintahan Prabowo

    7cloud.asia – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyoroti sikap pemerintah baik pusat maupun daerah yang seolah tidak begitu peduli dengan masyarakat adat.

    Deputi 2 Sekjen AMAN Erasmus Cahyadi mencontohkan, dalam proses Pilkada tahun ini yang melibatkan 545 daerah pilkada, hanya 17 kabupaten dan provinsi saja yang menyinggung soal masyarakat adat.

    Hal ini sangat disayangkan mengingat Pilkada adalah kontestasi yang paling dekat dengan kepentingan masyarakat adat.

    Berbicara dalam konferensi pers di Jakarta Catatan Akhir Tahun (CATAHU) 2024, Kamis (19/12/2024), Erasmus juga membahas tentang RUU Masyarakat Adat yang mandek di DPR selama hampir 20 tahun.

    Harapan UU Masyarakat Adat agar bisa disahkan pada pemerintahan Prabowo-Gibran semakin tipis, katanya, mengingat hanya dua fraksi saja yang mengusulkan pembahasan RUU Masyarakat Adat ke dalam program legislasi nasional.

    Selain itu, para wakil rakyat tersebut, menurutnya, masih beranggapan bahwa UU Masyarakat Adat tidak diperlukan.

    Baca: Ada 476 juta masyarakat adat yang berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan

    Jadi di badan legislatif masih ada suara, suara kuno atau cara pandang kuno bahwa UU Masyarakat adat tidak perlu dan itu terus disuarakan dari 20 tahun yang lalu.

    “Utusan fraksi Golkar yang menyampaikan, bahwa UU ini tidak perlu karena sudah banyak UU yang mengatur masyarakat adat, dan orang seperti ini masih ada dari 20 tahun lalu sampai sekarang,” jelasnya.

    Masa Jabatan DPR Periode 2019-2024 Berakhir, 3 RUU Penting Masih Terabaikan
    Dengan berbagai situasi dan kondisi masyarakat adat saat ini, AMAN menuntut dan mendorong pemerintahan Prabowo-Gibran untuk melakukan beberapa hal:

    Pertama, mendesak pemerintahan Prabowo-Gibran untuk segera mengesahkan RUU Masyarakat Adat dalam 100 hari pertama pemerintahan.

    RUU Masyarakat Adat adalah amanat konstitusi dan akan menjadi landasan hukum yang kuat untuk mengakui dan melindungi hak masyarakat adat serta memberikan kepastian hukum atas wilayah adat yang selama ini diabaikan.

    Kedua, kata AMAN, mempercepat pengakuan hak atas wilayah adat, penyelesaian konflik agraria sekaligus menghentikan seluruh perampasan tanah untuk pembangunan PSN, bisnis pengusaha, dan kebijakan pro pemodal asing lainnya di atas wilayah adat.

    Baca: Pengesahan RUU Masyarakat Adat berikan kepastian hukum dan investasi

    Ketiga, AMAN mendesak Presiden Prabowo mencabut UU Cipta Kerja, UU Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya, UU Mineral dan Batubara, dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya yang mendiskriminasi masyarakat adat, petani, nelayan, buruh, perempuan dan kelompok-kelompok marjinal lainnya.

    Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam siaran persnya mengatakan, pemerintah Indonesia sangat mendukung keberadaan dan kesejahteraan masyarakat adat.

    Bukti itu salah satunya ditujukan dengan kunjungan kerja menteri LHK sebelumnya — Siti Nurbaya — bersama delegasi Bezos Earth Fund ke Hutan Adat Bukit Demulih, September lalu.

    Bezos Earth Fund adalah organisasi filantropi yang bertujuan untuk melindungi alam dan melawan perubahan iklim. Organisasi itu sendiri didirikan pada tahun 2020 oleh orang super kaya Amerika Serikat Jeff Bezos.

    Kunjungan KLHK dan Bezos Earth Fund bertujuan untuk melihat secara langsung kearifan lokal masyarakat adat dalam menjaga kelestarian hutan, serta mendiskusikan potensi dukungan dari organisasi itu dalam melestarikan hutan adat dan mendorong pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

    Di sana rombongan meninjau langsung beberapa titik lokasi yang menunjukkan kearifan lokal Masyarakat Adat Bukit Demulih dalam menjaga kelestarian hutan adatnya.

    Seusai kunjungan, rombongan berdiskusi dengan Masyarakat Adat Desa Demulih di Wantilan dengan menghadirkan sekitar 40 orang Masyarakat Adat, sebelum akhirnya rombongan pamit kembali ke Denpasar.

    Dalam diskusi, Siti menyampaikan pihaknya ingin memberikan gambaran mengenai upaya dan pencapaian KLHK dalam mengelola kawasan perhutanan sosial termasuk pengakuan terhadap masyarakat adat yang telah turun temurun memiliki sejarah kuat dalam mengelola suatu kawasan hutan adat.

    Selain itu, KLHK juga ingin berbagi kemajuan dalam perhutanan sosial, khususnya dalam pengakuan hukum atas hutan adat.

  • AMAN: Program Transisi Energi Bersih Sering Pinggirkan Masyarakat Adat

    AMAN: Program Transisi Energi Bersih Sering Pinggirkan Masyarakat Adat

    7cloud.asia – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyoroti dampak berbagai kebijakan pemerintah yang mengatasnamakan transisi energi bersih termasuk geothermal dan hilirisasi tambang mineral seperti nikel.

    AMAN menilai di balik proses untuk menghasilkan energi bersih tersebut, ada darah dan airmata masyarakat adat yang wilayahnya digunakan untuk mengeruk sumber daya alam itu.

    “Maksudnya saya energi itu jangan dihitung dari listriknya, geothermal kan nanti jadi listrik. Tapi bagaimana perampasan wilayah adat, kriminalisasi, itu adalah kekotoran-kekotoran dari energi bersih,“ ujar Deputi 2 Sekjen AMAN Erasmus Cahyadi dalam konferensi pers di Jakarta Catatan Akhir Tahun (CATAHU) 2024, Kamis (19/12/2024).

    Jadi, dia menandaskan, tidak yang ada yang pernah disebut energi bersih. Begitu juga soal pemerintah yang sekarang fokus hilirisasi.

    “Boleh jadi produk akhir dari sumber daya alam Indonesia bersih, tapi proses di hulunya sungguh kotor misalnya dengan membunuh orang,“ imbuhnya.

    Baca: Rekomendasi Koalisi Masyarakat Sipil untuk Transisi Energi Berkeadilan

    Jadi energi dan produk bersih seringkali hanya dilihat sebagai produk di ujung, dia tidak pernah dilihat sebagai suatu rangkaian proses dari hulu sampai ke hilir. Jadi klaim bersih sebenarnya tidak pernah terjadi.

    Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam siaran persnya mengatakan, pemerintah Indonesia sangat mendukung keberadaan dan kesejahteraan masyarakat adat.

    Bukti itu salah satunya ditujukan dengan kunjungan kerja menteri LHK sebelumnya — Siti Nurbaya — bersama delegasi Bezos Earth Fund ke Hutan Adat Bukit Demulih, September lalu.

    Bezos Earth Fund adalah organisasi filantropi yang bertujuan untuk melindungi alam dan melawan perubahan iklim. Organisasi itu sendiri didirikan pada tahun 2020 oleh orang super kaya Amerika Serikat Jeff Bezos.

    Kunjungan KLHK dan Bezos Earth Fund bertujuan untuk melihat secara langsung kearifan lokal masyarakat adat dalam menjaga kelestarian hutan

    Baca: Ada 476 juta masyarakat adat yang berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan

    Kunjungan itu sekaligus untuk mendiskusikan potensi dukungan dari organisasi itu dalam melestarikan hutan adat dan mendorong pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

    Di sana rombongan meninjau langsung beberapa titik lokasi yang menunjukkan kearifan lokal Masyarakat Adat Bukit Demulih dalam menjaga kelestarian hutan adatnya.

    Seusai kunjungan, rombongan berdiskusi dengan Masyarakat Adat Desa Demulih di Wantilan dengan menghadirkan sekitar 40 orang Masyarakat Adat, sebelum akhirnya rombongan pamit kembali ke Denpasar.

    Dalam diskusi, Siti menyampaikan pihaknya ingin memberikan gambaran mengenai upaya dan pencapaian KLHK dalam mengelola kawasan perhutanan sosial termasuk pengakuan terhadap masyarakat adat yang telah turun temurun memiliki sejarah kuat dalam mengelola suatu kawasan hutan adat.

    Selain itu, KLHK juga ingin berbagi kemajuan dalam perhutanan sosial, khususnya dalam pengakuan hukum atas hutan adat.

     

  • Sekolah Energi Bersih: Ruang Edukasi Menuju Transisi Energi yang Berkeadilan

    Sekolah Energi Bersih: Ruang Edukasi Menuju Transisi Energi yang Berkeadilan

    7cloud.asia – Program itu diberi nama Sekolah Energi Bersih. Program ini merupakan hasil kolaborasi Kanopi Hijau Indonesia dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu.

    Dan, program Sekolah Energi Bersih jilid 3 diluncurkan baru-baru ini. Ketua Kanopi Hijau Indonesia (KHI) Ali Akbar mengatakan, Sekolah Energi Bersih adalah ruang edukasi melawan energi fosil yang kotor.

    “Sekolah Energi Bersih jilid 3 sebagai ruang edukasi dan aksi nyata menuju transisi energi yang terbarukan, adil, dan berkelanjutan dengan melibatkan generasi muda dan komunitas sebagai aktor utamanya,” katanya di Bengkulu, Minggu (27/4/2025)

    Ali Akbar mengatakan program Sekolah Energi Bersih adalah bentuk nyata perlawanan terhadap proyek energi kotor PLTU batubara dengan mewujudkan transisi energi melalui dukungan masyarakat.

    “Krisis iklim yang melanda planet bumi tidak bisa lagi direspons dengan tindakan yang biasa-biasa saja, harus ada aksi revolusioner dari publik, sekolah energi bersih ini salah satu aksi itu,” kata Ali.

    Baca:ICEL tekankan transisi energi harus berkeadilan

    Oleh karena itu, sejak 2018 Kanopi Hijau Indonesia berkolaborasi dengan banyak pihak dan menggalang dukungan masyarakat luas untuk mewujudkan transisi energi berbasis komunitas.

    Sebelumnya program Sekolah Energi Bersih telah berhasil menggalang dukungan publik untuk memasang pembangkit energi terbarukan berupa panel surya di SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu.

    “Sekolah Energi Bersih jilid 2 berhasil memasang pembangkit energi terbarukan gabungan dari panel surya dan turbin angin di SMA Sint Carolus Kota Bengkulu,” ujarnya.

    Peluncuran Sekolah Energi Bersih jilid 3 dengan tema “Daulat Energi bagi Masyarakat Adat”, kata dia, menandai dimulainya tahapan pendidikan publik tentang energi bersih.

    “Selain itu, juga penggalangan dukungan publik melalui donasi untuk pengadaan pembangkit listrik energi bersih serta instalasi pembangkit energi bersih di Pusat Studi AMAN Bengkulu,” ucapnya.

    Baca: Pembangkit listrik mikro terbukti lebih berkelanjutan

    Anggota Dewan AMAN Deff Tri Hardianto mengatakan komunitas adat menjadi kelompok yang paling rentan terdampak atas krisis iklim yang saat ini melanda bumi.

    Oleh karena itu, AMAN Bengkulu terlibat dalam kolaborasi mewujudkan Sekolah Energi Bersih jilid 3 dengan melibatkan 76 komunitas adat yang ada di Provinsi Bengkulu.

    Ia mengatakan pembangkit energi terbarukan yang dipasang Sekretariat AMAN Bengkulu ini akan berfungsi menyediakan listrik bagi pusat pendidikan masyarakat adat di Bengkulu sebagai tempat belajar dan pelestarian adat budaya.

    Keberadaan pembangkit itu, kata dia, juga akan mendukung aktivitas 76 komunitas adat dalam pemulihan lingkungan berbasis energi bersih.

    Selanjutnya, penerangan yang bersumber dari energi bersih tersebut juga diproyeksikan menjadi laboratorium energi bersih bagi komunitas adat, menjadi contoh dan pusat edukasi transisi energi yang adil berkelanjutan.

    “Serta menjadi pendukung energi untuk pembelajaran dan dokumentasi adat untuk mendukung produksi konten lokal berbasis masyarakat adat,” ujarnya.