Pola Asuh Buruk Picu Maraknya Bullying atau Perundungan Kepada Anak

Written by

in

7cloud.asia –  Pola asuh buruk menjadi salah satu penyebab terjadinya perundungan atau bullying terhadap anak, yang belakangan ini semakin marak.

“Banyak orang tua yang secara tidak sadar melakukan bullying terhadap anak-anak mereka,” kata Psikolog Anak Universitas Padjajaran Fitrian Hararti menyebutnya dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (9/11/2023).

Salah satu contoh perundungan atau bullying yang dilakukan orang tua adalah membanding-bandingkan kemampuan anak dengan orang lain.

Bullying menurut Fitrian, juga terjadi saat orang tua melontarkan komentar merendahkan untuk mendorong atau memotivasi anak.

“Misalnya ‘kamu itu masa enggak bisa sih, si itu aja sudah bisa, ih cengeng gitu aja nangis.’ Padahal setiap anak itu unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda,” ujar Fitrian.

Baca: Orang tua bisa memutus rantai bullying dari rumah

Menurutnya ketika di dalam rumah orang tua sudah terbiasa melakukan perundungan atau bullying, maka anak berpotensi menjadi korban dari tindakan serupa di luar rumah.

Lebih buruk ia juga bisa melakukan perundungan atau bullying kepada orang lain karena kurang kepercayaan diri.

Bahkan, ancaman yang lebih besar adalah anak meniru tindakan orang tuanya dan melakukan perundungan di luar rumah.

“Anak adalah peniru ulung dan orang tua adalah modelnya, jadi jangan berharap punya anak yang baik berakhlak mulia dan cerdas kalau orang tuanya sendiri tidak cerdas mendidik anak,” katanya.

Baca: Sekolah di Gowa ini punya ekskul antibullying

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada 2021 menunjukkan bahwa empat dari 100 anak usia dini pernah mendapatkan pengasuhan tidak layak. 

Berdasarkan Indeks Perlindungan Anak, Indonesia menargetkan menekan persentase anak usia dini yang pernah mendapatkan pengasuhan tidak layak menjadi 3,47 persen pada 2024.

Sementara pada 2020 tercatat 3,64 persen anak mendapatkan pengasuhan tidak layak dan 3,73 persen pada 2018.

Guna mencapai target tersebut, pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah menetapkan indikator persentase balita dengan pengasuhan tidak layak.

Baca: Hanya tamat SMP, ini pandangan Atta Halilintar soal pendidikan

Kementerian PPPA memiliki penguatan 257 layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk melakukan edukasi dan konsultasi konseling pengasuhan ke keluarga yang dilakukan oleh konselor dan psikolog.

Layanan tersebut diberikan guna melakukan perubahan perilaku orangtua agar bisa memberikan pengasuhan positif tanpa kekerasan.

Konseling ini sekaligus untuk memperkuat ketahanan keluarga, juga mendukung pencegahan anak dari kekerasan dan penelantaran.

Sumber: Antaranwes.com

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *