Tag: anggrek

  • KLHK: Ada Potensi Besar untuk Menemukan Lebih Banyak Spesies Anggrek di Tanah Papua

    KLHK: Ada Potensi Besar untuk Menemukan Lebih Banyak Spesies Anggrek di Tanah Papua

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan terdapat potensi untuk menemukan lebih banyak spesies anggrek di Indonesia, terutama di Pulau Papua.

    Reza Saputra, Pengendali Ekosistem Hutan di Balai Besar KSDA Papua Barat mengatakan, potensi temuan anggrek ini karena hingga saat ini masih banyak wilayah di Papua yang belum terjamah eksplorasi.

    Anggrek, ujarnya adalah famili dengan diversitas tertinggi di Indonesia, ada lebih dari 3.820 spesies dan highgest diversity-nya paling tinggi ada di Kalimantan dan Papua.

    “Tapi kemungkinan di Kalimantan akan terbalap karena di Papua belum banyak yang tergali,” kata Reza dalam diskusi yang diadakan KLHK diikuti daring dari Jakarta, Jumat.

    Baca Juga: Mengenal Keanekaragaman Hayati Tanah Papua

    Laki-laki yang menjadi spesialis dalam bidang konservasi jenis anggrek itu mengatakan, Indonesia memiliki jumlah koleksi anggrek lebih sedikit dibandingkan negara tetangga Papua Nugini yang juga berada di Pulau Papua tersebut.

    Sampai dengan Mei 2024, katanya, terdapat 2.893 spesies anggrek liar di Pulau Papua dengan 30 spesies hibrida.

    Sebanyak 2.501 spesies anggrek itu endemik atau hanya ditemukan di wilayah tersebut atau 86,47 persen dari total jenis anggrek yang diketahui saat ini.

    “Diperkirakan terdapat lebih dari 3.000 jenis anggrek di Pulau Papua,” ujar Reza saat diskusi yang diadakan dalam rangka Pekan Keanekaragaman Hayati 2024 itu.

    Baca Juga: Salah Satu Keanekaragaman Hayati Indonesia: Punya Lebih dari 300 Jenis Pisang Lokal

    Ia mengatakan telah melakukan eksplorasi anggrek di 27 titik dalam periode 2016-2024 dengan beberapa lokasi belum dapat didatangi karena berada di zona merah.

    Dari eksplorasi itu telah ditemukan lima anggrek baru dan yang sudah terpublikasi.

    Terdapat pula lebih dari 16 catatan baru dan 20 spesies penemuan kembali dari eksplorasi di Papua, salah satunya jenis didymoplexis torricellensis yang baru ditemukan kembali setelah 114 tahun.

    Selain itu, terdapat total 23 spesies yang diduga baru hasil eksplorasi 2022-2024 yang dilakukan bersama dengan pihak lain, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Papua Barat, Universitas Papua, dan RBG Kew.

    Baca Juga: Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    “Jenis-jenis baru ini sudah kita laporkan ke Pak Dirjen (KSDAE Satyawan Pudyatmoko) dan kita ikut arahan rencana kita akan menamakan untuk masyarakat lokal atau dengan kearifan lokal di sana,” ucapnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Libatkan Masyakat Setempat, BRIN Mulai Eksplorasi Anggrek di Menoreh dan Nglanggeran

    Libatkan Masyakat Setempat, BRIN Mulai Eksplorasi Anggrek di Menoreh dan Nglanggeran

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Botani Terapan dan Pusat Riset Biosistematika dan Ekosistem dari Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan mengenalkan anggrek alam kepada masyakat di Menoreh dan Nglanggeran Yogyakarta.

    Tahap awal pengenalan anggrek alam tersebut dilakukan melalui kegiatan eksplorasi yang melibatkan masyarakat Menoreh dan Nglanggeran.

    “Eksplorasi ini merupakan langkah penting dari kegiatan konservasi genetik anggrek alam yang bertujuan mendata jenis anggrek alam yang ada di suatu lokasi tertentu,” jelas Istiana Prihatini dari Pusat Riset Botani Terapan, seperti dilansir di laman resmi BRIN.

    Pada kegiatan eksplorasi, pengoleksian tanaman hidup dilakukan untuk tujuan domestikasi dan disertai pembuatan herbarium basah dan kering.

    Peneliti dari Pusat Riset Botani Terapan, Latifa Nuraini mengatakan riset lanjutan akan mengarah pada biopotensi pemanfaatan lanjut anggrek alam khususnya dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

    “Selanjutnya anggrek alam hasil eksplorasi akan digunakan untuk riset sistematika, molekuler, dan pengembangan teknik perbanyakan melalui kultur jaringan (somatic embriogenesis),” tambah Latifa.

    Baca: Mengenal potensi anggrek tanah Papua

    Pakar anggrek dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Aninda Retno Utami Wibowo menyebut riset eksploratif pertama dilakukan di pegunungan Menoreh yaitu Desa Purwosari, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

    “Topografi wilayah tersebut berupa perbukitan, tercatat sekitar 500-800 mdpl dengan kondisi subur penuh dengan bermacam vegetasi,” terangnya.

    Ia menjelaskan, hasil eksplorasi mencatat sedikitnya terdapat 21 spesimen anggrek alam di Menoreh.

    Diantaranya adalah jenis Acriopsis liliifolia, Aerides odorata, Dendrobium mutabile, Liparis condylobulbon, dan kesemuanya termasuk dalam kategori II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

    “Artinya, saat ini 21 spesies anggrek tersebut tidak dalam keadaan terancam punah, namun bisa terancam punah apabila tidak adanya pengendalian perdagangan. Oleh karena itu, statusnya perlu dilindungi atau perlu dilakukan upaya konservasi,” papar Aninda.

    Baca: Tanaman tanduk rusa harganya ratusan juta rupiah

    Eksplorasi anggrek alam kedua dilakukan di gunung api purba desa Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Kondisi wilayah ini relatif tandus dan berbatu, sehingga banyak ditemukan anggrek terestrial. Dari hasil identifikasi, telah diketahui 22 spesimen anggrek alam Nglanggeran.

    Beberapa jenis merupakan anggrek terestrial yang menarik seperti Habenaria medusa dan Pecteilis susannae, juga ditemukan anggrek epifit yang menarik seperti Dendrobium stuartii.

    “Keadaan tanah di daerah Nglanggeran tersusun oleh batuan sedimen vulkanik menyebabkan daerah ini relatif tandus dan kering dengan suhu rata-rata 28,70C-33,80C, menyebabkan hanya sebagian kecil dari seluruh spesies anggrek yang mampu bertahan,” jelas Aninda.

    Menurut Aninda, jenis anggrek terestrial yang banyak ditemukan di“daerah ini memiliki umbi tersembunyi dan memiliki fase vegetatif dan generatif bergantian seperti Nervilia plicata dan Nervilia concolor.

    Baca: Mengenal lebih dekat bunga rafflesia patma

    Kini anggrek alam tersebut dirawat dan diperbanyak di Stasiun Penelitian Biodiversitas Fakultas Biologi UGM.

    Hasil perbanyakan anggrek alam akan dikembalikan ke daerah asal setelah melalui proses splitting atau perbanyakan secara alami.

    Melalui riset ini, BRIN dan ACIAR telah berperan dalam upaya pengenalan konservasi dan usaha perlindungan anggrek alam dengan dibangunnya dua greenhouse yaitu di Dusun Tegalsari Kulon Progo dan di Kampung Pitu Nglanggeran.

    “Greenhouse ini akan digunakan untuk merawat anggrek alam yang telah dikumpulkan dan diperbanyak di UGM,” kata Istiana.

    Menurut Istiana, kegiatan akan dilanjutkan dengan pengenalan anggrek alam, cara budi daya, dan tindakan penyelamatan terhadapnya dengan melibatkan masyarakat melalui pelatihan yang akan diselenggarakan pada pertengahan 2024.

    Baca: BRIN luncurkan tim ekspedisi untuk eksplorasi kekayaan flora tanah Kalimantan

    Selain itu, pihaknya juga akan menyerahkan greenhouse dan hasil koleksi anggrek alam kepada masyarakat di kedua daerah tersebut.

    “Kami berharap greenhouse dan koleksi anggrek alam tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk meningkatkan daya tarik wisata di kedua desa serta menjaga kelestarian anggrek alam,” ungkapnya.

    Di sisi lain, Istiana juga berharap kerja sama dengan UGM dan UNY dalam pengembangan ilmu anggrek alam dan pemanfaatannya tetap terjalin di masa mendatang.

    Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Fakultas Biologi UGM yang tergabung dalam kelompok BIOSC (Biology Orchid Study Club) di bawah bimbingan Endang Semiarti dan mahasiswa dari kelompok Herbiforus Fakultas MIPA UNY di bawah bimbingan Ixora Sartika.

    Yayasan Kanopi Indonesia juga turut berperan membuka komunikasi awal dengan masyarakat di desa Purwosari dan dalam kegiatan eksplorasi.

  • DLH Kota Semarang mengembangkan Taman Anggrek untuk Edukasi

    DLH Kota Semarang mengembangkan Taman Anggrek untuk Edukasi

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang mengembangkan Taman Anggrek yang terletak Jalan Tapak Raya, Tugurejo, Tugu, Semarang, sebagai sarana edukasi bagi masyarakat

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Semarang Diah Supartiningtias, di Semarang, mengatakan bahwa anggrek merupakan salah satu jenis tanaman yang tergolong sulit dalam hal perawatan.

    Namun, kata dia, jika memahami dan telaten dalam merawatnya maka tanaman anggrek bisa dengan mudah dibudidayakan.

    “Taman anggrek ini akan kami rawat. Nantinya jika berhasil, secara bertahap kami akan edukasi ke masyarakat hingga tingkat kelurahan di Kota Semarang tentang bagaimana cara mudah merawat tanaman anggrek,” katanya dikutip Antaranews.com Minggu, (9/6/2024).

    Baca Juga: Gandeng BRIN, Kota Semarang Olah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif

    Menurut dia, budi daya anggrek merupakan sebuah peluang tersendiri yang bisa dikembangkan oleh masyarakat, mengingat tidak mudah membudidayakannya.

    Dengan begitu, ia berharap nantinya bisa mengajak masyarakat membudidayakan tanaman anggrek sehingga bisa bernilai ekonomis.

    Ke depan, kata dia, Taman Anggrek juga akan dikembangkan dengan menambah beberapa varietas keanekaragaman hayati lainnya.

    Diah menjelaskan bahwa pengembangan Taman Anggrek itu sekaligus dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni.

    Baca Juga: Pemkot Semarang Bakal Revitalisasi Kawasan Pecinan: Dimulai dari Kelenteng Tay Kak Sie

    “Rencana ke depan di taman anggrek, kami tambah tanaman lainnya. Namun, dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia di tahun 2024, kami mengembangkan anggrek dulu saja,” katanya.

    Seiring peringatan Hari Lingkungan Sedunia, ia berharap semua lapisan masyarakat bisa mengendalikan dan mengelola lingkungan hidup dari segala bentuk pencemaran, baik itu pencemaran udara, air, maupun tanah.

    “Harapannya ekosistem akan terjaga, ke depannya lingkungan lebih sehat untuk warisan anak cucu kita nanti, ” katanya.

    Sedangkan untuk tantangan saat ini terkait kondisi lingkungan, Diah mengatakan tingkat kesadaran lingkungan dari para generasi muda sekarang ini masih rendah.

    Baca Juga: Penyandang Disabilitas Semarang Terima Bantuan Alat, Kebijakan Afirmatif Juga Dibutuhkan

    “Untuk itu kami mengajak masyarakat, terutama para generasi muda untuk meningkatkan kepedulian lingkungan, mulai dari dirinya sendiri hingga lingkungan sekitarnya,” katanya.

    Lebih lanjut, ia menambahkan DLH Kota Semarang juga akan lebih banyak turun ke masyarakat agar program kerja pemerintah terealisasi dengan baik.

    “Jadi, kami akan tahu bahwa masyarakat sudah bisa melakukan komposting sampah, biopori hingga memilah sampah sehingga bisa mengurangi jumlah sampah di TPA Jatibarang,” katanya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Peneliti BRIN Ingatkan Anggrek Spesies Baru Aerides Obyrneana Akan Jadi Buruan

    Peneliti BRIN Ingatkan Anggrek Spesies Baru Aerides Obyrneana Akan Jadi Buruan

    7cloud.asia – Anggrek spesies baru Aerides obyrneana yang baru dipublikasikan di jurnal Edinburgh Journal of Botany pada Mei lalu, diperkirakan akan diburu publik.

    Peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Destario Metusala mengatakan, anggrek Aerides obyrneana dianggap sebagai spesies endemik Sulawesi dengan jangkauan sebaran alami yang terbatas.

    Dengan ketersediaan data yang masih terbatas, status konservasi spesies baru ini diusulkan untuk masuk pada kategori kritis (Critically Endangered) berdasarkan kriteria IUCN Redlist (International Union for Conservation of Nature).

    Selain ancaman konversi habitat alami, kekhawatiran lain datang dari potensi ancaman pengambilan tak terkendali di alam untuk memenuhi permintaan perdagangan komersial.

    Destario mengatakan, biasanya, kemunculan spesies baru anggrek akan mendorong permintaan yang tinggi dari para hobiis untuk mendapatkannya.

    Baca Juga: Peneliti BRIN Temukan Spesies Anggrek Baru Endemik Sulawesi Diberi Nama Aerides Obyrneana

    Terlebih anggrek Aerides obyrneana ini memiliki bunga dengan bentuk bibir bunga dan kombinasi warna unik yang sangat atraktif. Bahkan bisa disebut sebagai spesies anggrek Aerides paling indah di Indonesia.

    “Maka dari itu, penting adanya kerjasama berbagai pihak, termasuk dari komunitas hobiis, untuk secara bersama-sama melakukan upaya pelestarian berkelanjutan agar perhiasan belantara ini tak kunjung punah,” pungkas Destario.

    Anggrek genus Aerides dikenal oleh para hobiis dengan nama lokal anggrek kuku macan. Nama yang terinspirasi dari bagian dagu bunga genus ini yang berbentuk konus meliuk dan berujung runcing layaknya kuku macan.

    Destario menjelaskan, sebelum spesies baru ini ditemukan, terdapat lima spesies Aerides tercatat dari Indonesia.

    Diantaranya spesies Aerides odorata yang tersebar luas di Sumatera, Jawa, Kalimantan, kepulauan Nusa Tenggara, hingga Sulawesi. Spesies Aerides endemik, A. timorana, tercatat dari kawasan kepulauan Nusa Tenggara.

    Baca Juga: Libatkan Masyakat Setempat, BRIN Mulai Eksplorasi Anggrek di Menoreh dan Nglanggeran

    Sedangkan tiga spesies endemik lainnya tercatat berasal dari Sulawesi, yaitu A. huttonii, A. inflexa, dan A. thibautiana. Sejauh ini belum ada catatan ilmiah keberadaan anggrek Aerides dari habitat alami di kawasan Maluku dan Papua.

    “Spesies baru ini memiliki sosok bunga atraktif dengan kombinasi warna yang langka di genusnya, yaitu sepal dan petalnya berwarna putih keunguan dengan bibir bunga berwarna kuning cerah kehijauan,” ujar Destario.

    Dilihat dari karakter bunganya, lanjut Destario, spesies baru anggrek dari Sulawesi ini mirip dengan spesies Aerides upcmae yang endemik Filipina dan juga A. houlletiana dari kawasan Indochina.

    Namun, Aerides obyrneana memiliki perbedaan mencolok pada cuping tengah bibir bunganya yang berbentuk kipas melebar serta terbelah membentuk 4 ruang, karakter kalus yang memanjang pada permukaan cuping tengah, serta perbedaan karakter ornamen kalus di bagian dalam dagu bunganya.

    Baca Juga: KLHK: Ada Potensi Besar untuk Menemukan Lebih Banyak Spesies Anggrek di Tanah Papua

    Destario mengungkapkan, “Epithet obyrneana” pada spesies baru ini diambil dari nama mendiang Peter O’Byrne, pemerhati anggrek dan penulis berbagai referensi taksonomi anggrek di kawasan Asia Tenggara, khususnya Sulawesi.

    “Ia juga sosok yang pertama kali mengajarkan taksonomi anggrek secara mendalam kepada saya,” lanjutnya.

    Sumber: brin.go.id

  • Peneliti BRIN Temukan Anggrek Akar Tak Berdaun Endemik Pulau Sumatra

    Peneliti BRIN Temukan Anggrek Akar Tak Berdaun Endemik Pulau Sumatra

    7cloud.asia – Banyak eksplorasi botani yang dilakukan selama ini lebih berfokus pada genus-genus anggrek yang populer, seperti Dendrobium, Phalaenopsis, dan Bulbophyllum. Sementara kelompok anggrek tak berdaun (leafless orchid) seringkali kurang mendapat perhatian.

    Peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Destario Metusala menjelaskan, pada 2019, dalam sebuah survei botani di Aceh, beberapa individu anggrek Chiloschista ditemukan tumbuh epifit pada pepohonan di perkebunan semi-terbuka yang berdekatan dengan hutan.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, penampakan anggrek ini didominasi oleh tumpukan akar fotosintetik yang warnanya menyerupai warna kulit batang pepohonan sehingga membuatnya sulit terlihat.

    Oleh karena itu, lanjut Destario, kemunculan organ bunganya yang kecil namun berwarna kuning cerah menjadi sangat penting untuk mendeteksi keberadaannya.

    Spesimen berbunga yang telah dikoleksi dan diobservasi lebih lanjut menunjukkan ciri khas morfologi bunga yang berbeda dengan spesies Chiloschista lainnya, terutama C. javanica dan C. sweelimii.

    Penelitian lebih lanjut mengonfirmasi bahwa anggrek dari Aceh tersebut merupakan spesies baru yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya, sekaligus menjadi catatan pertama keberadaan anggrek Chiloschista di Pulau Sumatra.

    Baca: Anggrek spesies baru Aerides Obyrneana jadi buruan kolektor

    Nama Chiloschista tjiasmantoi disematkan sebagai penghargaan kepada filantropis lingkungan Wewin Tjiasmanto atas dukungannya terhadap upaya pelestarian flora di Indonesia, khususnya Aceh.

    Destario menyebutkan bahwa anggrek C. Tjiasmantoi masuk dalam kategori Genting (Endangered) menurut kriteria IUCN Redlist. Hal itu karena diperkirakan luas area sebaran dan jumlah populasi yang terbatas, serta ancaman ekspansi perkebunan dan perubahan iklim.

    “Perluasan kawasan lindung di Aceh perlu segera dilakukan untuk melestarikan berbagai spesies tumbuhan yang terancam kepunahan, terutama spesies unik yang hanya ada di Propinsi Aceh,” tandasnya.

    Destario menjelaskan bahwa anggrek C. tjiasmantoi memiliki kuntum bunga dengan lebar 1-1.2 cm dan berwarna kuning dengan pola bintik jingga atau kemerahan. Dalam satu tangkai perbungaan yang panjang, dapat menghasilkan hingga 30 kuntum bunga yang mekar secara simultan.

    Spesies ini umumnya ditemukan pada ketinggian 700–1000 m dpl, tumbuh menempel di batang pepohonan yang tua pada habitat semi-terbuka, berangin, dan lembap. Musim berbunga biasanya terjadi pada pertengahan Juli serta awal November hingga akhir Desember.

    “Anggrek spesies baru ini telah berevolusi secara unik dengan mereduksi organ daunnya secara ekstrim sehingga proses fisiologi penting seperti fotosintesis dilakukan pada organ akarnya. Keunikan ini membuka peluang riset lanjutan untuk menelisik berbagai aspek biologinya” ungkap Destario.

    Baca: Peneliti BRIN mulai mengeksplorasi anggrek di Menoreh dan Nglanggeran

    Chiloschista tjiasmantoi Metusala, sp. nov., spesies baru anggrek endemik Aceh dari genus Chiloschista (Orchidaceae), merupakan kelompok anggrek epifit tak berdaun yang ditemukan di Aceh, Pulau Sumatra.

    Secara morfologi, bunga spesies baru ini menyerupai anggrek Chiloschista javanica yang endemik Jawa, tetapi memiliki beberapa perbedaan mencolok, seperti petal yang berbentuk oblong-obovate serta bentuk bibir bunga yang khas.

    Lebih lanjut, Destario mengungkapkan penyebutan anggrek tak berdaun, dikarenakan sepanjang daur hidupnya, anggrek tersebut dalam kondisi tanpa organ daun. “Semisal pun ditemukan daun, ukurannya amat sangat kecil, itupun hanya 1-2 helai saja dan akan segera gugur,” ucapnya.

    Dikatakan Destario salah satu genus yang ada di dalam kelompok anggrek tak berdaun adalah genus Chiloschista. Genus ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1832 dan kini mencakup 30 spesies yang tersebar dari Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia.

    Anggrek ini lebih dikenal oleh para hobiis di Indonesia dengan nama anggrek akar, mengingat penampakannya seperti sekumpulan akar-akar berwarna kehijauan.

    Sebelumnya, Indonesia diketahui hanya memiliki 4 spesies yang dapat ditemukan di Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku. Hingga kini, belum ada catatan keberadaan anggrek Chiloschista dari Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

    Baca: Potensi eksplorasi anggrek di tanah Papua

  • Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Temukan Dua Spesies Baru Anggrek Gastrodia

    Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Temukan Dua Spesies Baru Anggrek Gastrodia

    7cloud.asia – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berhasil mengidentifikasi dua spesies baru anggrek yang ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru.

    Dua spesies baru anggrek tersebut ditemukan pada awal Januari 2026 dan diberi nama Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis.

    Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar TNBTS, Toni Artaka menyatakan dua spesies anggrek ditemukan oleh petugas yang saat itu sedang melaksanakan patroli kawasan, sekaligus melakukan pengidentifikasian terhadap biodiversitas.

    “Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis sama-sama ditemukan pada awal Januari 2026 di lereng selatan Gunung Semeru. Keduanya adalah catatan atau temuan baru di TNBTS yang mana selama ini belum pernah terdata,” kata Toni Jumat (27/3/2026) seperti dikutip Antaranews.com.

    Dua spesies tanaman anggrek ditemukan pada habitat yang relatif sama, yaitu teduh, berhumus tebal, dan cukup lembab di ketinggian 1.000 sampai 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Baca: Peneliti BRIN temukan anggrek akar tak berdaun endemik Pulau Sumatera

    Berdasarkan rangkuman yang diterima dari Pengendali Ekosistem Hutan menyebutkan bahwa dua spesies anggrek tersebut memiliki ciri khas yang berbeda.

    Untuk spesies baru Gastrodia selabintanensis tercatat pada bagian perbungaan memiliki panjang antara 15-25 centimeter dengan 2-4 bunga atau kuntum.

    Kelopak bunga spesies itu memiliki warna coklat kehijauan dengan tekstur kasar serta berkutil.

    Ukuran mahkota bunga Gastrodia selabintanensis memiliki panjang empat centimeter dan lebar empat centimeter berwarna putih semu serta kuning.

    Sedangkan spesies Gastrodia biruensis bagian perbungaannya memiliki panjang 18-32 centimeter dan bunganya berjumlah tiga sampai lima kuntum.

    Baca: Anggrek spesies baru Aerides obyrneana jadi buruan kolektor

    Bagian kelopak spesies itu berwarna coklat kekuningan dan bertekstur halus. Ukuran mahkota bunga Gastrodia biruensis memiliki panjang 4-6 centimeter dan lebar 4-5 centimeter dengan warna putih serta oranye.

    Kedua jenis anggrek ini termasuk tumbuhan mycoheterotropic yang mana pertumbuhannya sangat bergantung pada habitat dan sulit mengembangkan pembiakan di luar habitat alaminya.

    Meski demikian pihak balai besar belum menetapkan nama atau penyebutan lokal untuk dua spesies tanaman tersebut.

    Temuan baru ini menambah daftar kekayaan flora di kawasan TNBTS menjadi 309 spesies anggrek.

    Toni menyampaikan pihaknya terus melakukan upaya konservasi di kawasan TNBTS sebagai langkah melindungi keberlanjutan habitat tanaman anggrek, khususnya Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis.

    Toni menambahkan, pihaknya juga terus melakukan pemetaan sebaran populasi dua jenis anggrek ini dengan cara identifikasi pada lokasi lain pada musim berbunga.

  • Ada Sekitar 5.000 Spesies Anggrek Alam di Indonesia, Sebagian Terancam Karena Habitatnya Rusak

    Ada Sekitar 5.000 Spesies Anggrek Alam di Indonesia, Sebagian Terancam Karena Habitatnya Rusak

    7cloud.asia – Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan anggrek terbesar di dunia, dengan sekitar 5.000 spesies anggrek alam yang tersebar di berbagai wilayah hutan tropis.

    Jumlah ini diperkirakan mencapai seperlima dari total sekitar 25.000 hingga 30.000 spesies anggrek liar di seluruh dunia, yang terbagi dalam sekitar 700 hingga 880 genus.

    Adapun suku anggrek-anggrekan (Orchidaceae) menjadi salah satu keluarga tumbuhan berbunga terbesar di planet Bumi.

    Kekayaan anggrek Indonesia ini merupakan aset keanekaragaman hayati nasional yang harus dijaga melalui penelitian dan konservasi.

    Di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, berbagai spesies anggrek dari seluruh Indonesia terus dikoleksi, dipelajari, didokumentasikan, dan dikonservasi untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.

    Salah satu penemuan terbaru peneliti BRIN adalah Chiloschista tjiasmantoi, spesies anggrek tanpa daun yang berasal dari Aceh. Selain itu, publikasi terbaru BRIN juga mencatat sepuluh rekaman baru anggrek yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

    Baca: Peneliti BRIN Temukan Anggrek Akar Tak Berdaun Endemik Pulau Sumatra

    Berbicara dalam workshop “Teknik Perawatan dan Budidaya Anggrek” yang dihelat BRIN beberapa waktu lalu, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Richa Kusuma Wati berharap semakin banyak inovasi yang dikembangkan untuk mendukung pelestarian anggrek Indonesia.

    Pelestarian ini khususnya spesies endemik anggrek yang kini menghadapi ancaman kehilangan habitat.

    “Saya berharap semakin banyak teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan anggrek-anggrek asli Indonesia, khususnya spesies yang langka dan endemik. Semoga semakin banyak peneliti muda maupun masyarakat yang ikut berkontribusi dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia agar tetap lestari,” ujarnya seperti dikutip di laman resmi brin.go.id.

    Melalui talkshow ini, BRIN tak hanya membekali masyarakat dengan pengetahuan praktis mengenai teknik budidaya anggrek, tetapi juga memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan salah satu keanekaragaman hayati Indonesia yang memiliki nilai ilmiah, ekologis, dan ekonomi.

    Cara merawat anggrek
    Dalam paparannya, Richa mengenalkan beberapa jenis anggrek yang populer, seperti Dendrobium, Phalaenopsis, Vanda, dan Paphiopedilum.

    Ia menjelaskan bahwa Vanda memerlukan paparan sinar matahari langsung dan umumnya ditanam menggantung tanpa media tanam yang padat.

    Baca: Anggrek Spesies Baru Aerides Obyrneana Jadi Buruan Kolektor

    Dendrobium membutuhkan cahaya cukup dengan media tanam berpori, seperti arang, pecahan genting, atau kulit pinus (pine bark), agar akar memperoleh sirkulasi udara yang baik dan tidak mudah membusuk.

    Sementara itu, menurutnya, Phalaenopsis atau anggrek bulan lebih cocok ditempatkan di area teduh dengan cahaya tidak langsung dan sirkulasi udara yang baik karena sensitif terhadap sinar matahari langsung.

    Adapun Paphiopedilum sebagai anggrek terestrial memerlukan media tanah atau lumut yang lembap dengan penyiraman yang lebih hati-hati agar terhindar dari pembusukan akar.

    Richa menjelaskan bahwa langkah pertama dalam merawat anggrek adalah mengenali jenisnya. Menurutnya, setiap spesies memiliki kebutuhan cahaya, media tanam, dan kelembapan yang berbeda sehingga teknik perawatannya tidak dapat disamaratakan.

    “Setiap jenis anggrek memiliki karakteristik tersendiri. Ada yang menyukai sinar matahari penuh, ada yang membutuhkan naungan, ada yang hidup sebagai epifit di pohon inang, bahkan ada yang tumbuh di tanah. Karena itu, cara perawatannya tidak bisa disamakan,” jelas Richa.

    Selain pemilihan media tanam, penyiraman juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan budidaya anggrek. Richa menyarankan penyiraman dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terik agar tanaman dapat menyerap air secara optimal.

    “Pada kondisi cuaca panas, terutama untuk Phalaenopsis, penyiraman dapat dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore.”Yang terpenting bukan hanya seberapa sering disiram, tetapi menyesuaikan kebutuhan masing-masing jenis anggrek dan kondisi lingkungannya,” ujarnya.