Tag: bahan bakar

  • Dunia Sedang Kembangkan Bahan Bakar Hidrogen dari Air, Ini Plus Minusnya

    Dunia Sedang Kembangkan Bahan Bakar Hidrogen dari Air, Ini Plus Minusnya

     

    Stasiun pengisian bahan bakar hidrogen 700 bar Air Liquide di Zaventem, Belgia. (Arturbraun/Wikimedia Commons)

    7cloud.asia – Dunia saat ini tengah berlomba-lomba menghasilkan bahan bakar atau energi ramah lingkungan.

    Salah satu energi ramah lingkungan yang tengah disorot di dalam maupun luar negeri adalah bahan bakar hidrogen hijau yang dibuat dari air.

    Bagaimana pengembangan bahan bakar hidrogen hijau yang ramah lingkungan dikembangkan, berikut kajian Denny Gunawan dan Michael Gunawan dari ARC Training Centre for the Global Hydrogen Economy, Particles and Catalysis Research Laboratory, UNSW Sydney yang telah terbit di The Conversation

     

    Jadi emisi hidrogen hijau ini berbeda dengan pembakaran energi fosil yang mengeluarkan emisi gas beracun atau pun gas rumah kaca.

    Baca: Indonesia serius jajaki pengembangan energi hidrogen

    Indonesia pun tak mau ketinggalan. Bulan lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan Peta Jalan Strategi Nasional Hidrogen termasuk hidrogen hijau guna mendorong terbentuknya ekosistem pemanfaatan hidrogen hijau di tanah air.

    Salah satu sektor yang menjadi sasaran adalah transportasi. Pemerintah turut berencana membangun sistem transportasi hijau – perpaduan kendaraan berbasis baterai listrik dan hidrogen di Ibu Kota Nusantara (IKN).

     

    Walau begitu, pengembangan hidrogen termasuk hidrogen hijau masih menuai pro dan kontra lantaran kelayakan teknis dan ongkosnya yang belum terjamin.

    Hidrogen, khususnya hidrogen hijau, mendapat banyak perhatian untuk bahan bakar kendaraan sebab dapat menekan kadar emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan kendaraan.

    Di samping itu, hidrogen memiliki kerapatan energi (energy density) sekitar 33,33 kilowatt jam per kilogram, lebih tinggi dari baterai listrik.

    Baca: Pengembangan enrgi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Kendaraan dengan bahan bakar hidrogen pun hanya membutuhkan waktu 3-5 menit untuk proses isi ulang hingga penuh.

    Ini jauh lebih cepat dari isi ulang daya baterai pada kendaraan listrik yang perlu waktu 20 menit – 1 jam untuk DC fast charging atau 4-10 jam untuk home charging.

    Kendati demikian, penggunaan hidrogen untuk kendaraan dinilai kurang efisien. Pasalnya, efisiensi produksi hidrogen dari elektrolisis air saat ini sekitar 75% dan konversi hidrogen ke listrik dalam sel tunam (sel bahan bakar atau fuel cell) sebesar 60%.

    Angka ini lebih rendah dibandingkan efisiensi energi baterai litium (acap digunakan kendaraan listrik) yang dapat mencapai 80%.

    Di sisi biaya, pembangunan infrastruktur hidrogen termasuk hidrogen hijau mulai dari produksi, penyimpanan, transportasi, dan pengisian ulang memerlukan dana yang besar.

    Baca: Tantangan penggunaan bus listrik untuk angkutan massal

    Akibatnya, harga bahan bakar hidrogen saat ini masih sangat tinggi dan kurang kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional saat ini.

    Di California, Amerika Serikat, harga hidrogen di stasiun pengisian mencapai $16 per gge (gasoline gallon equivalent), sekitar empat kali lipat harga bensin.

    Kendala lain adalah masih terbatasnya ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar hidrogen khususnya hidrogen hijau. Bahkan publik di negara maju belum melirik jenis kendaraan ini.

    Perkembangan teknologi hidrogen

    Salah satu teknologi kendaraan hidrogen yang sedang berkembang adalah kendaraan berbasis sel tunam.

    Dalam sel tunam, hidrogen bereaksi dengan oksigen menghasilkan energi listrik dan air sebagai produk samping. Sel tunam jenis membran penukar proton (PEM), misalnya, mampu memproduksi listrik sebesar 14 kilowatt jam per kilogram hidrogen.

    Baca: Ini yang dilakukan pemerintah untuk dorong pasar motor listrik

    Teknologi ini telah diterapkan pada mobil keluaran Toyota, Toyota Mirai. Sedan tersebut dikabarkan memecahkan rekor menggunakan 0,55 kg hidrogen untuk melaju sejauh 100 km.

    Indonesia juga sedang mengembangkan mobil hidrogen skala riset karya anak bangsa. Tim peneliti mobil hidrogen Antasena Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengenalkan prototipe mobil berbasis PEM dengan efisiensi 55,9%.

    Selain sel tunam, pemanfaatan hidrogen melalui pembakaran langsung menggunakan mesin pembakaran hidrogen internal juga telah dikembangkan.

    Perusahaan otomotif terkemuka dunia, BMW, memproduksi mobil BMW Hydrogen 7 yang dapat beroperasi menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar dengan efisiensi maksimum 42%.

    Teknologi pemanfaatan hidrogen untuk kendaraan juga dapat dilakukan melalui pencampuran hidrogen dengan bahan bakar diesel. 

    Baca: 

    Peneliti dari University of New South Wales menemukan bahwa mencampur hidrogen dengan bahan bakar diesel sebesar 20-90% pada mesin diesel silinder tunggal yang dimodifikasi mengurangi emisi karbon sebesar 85,9% dan meningkatkan efisiensi hingga 13,3%.

    Tidak hanya kendaraan pribadi, pengembangan hidrogen juga telah menyentuh kendaraan dengan beban kerja besar seperti bus, keretatruk dan kapal.

    Perusahaan otomotif terkemuka asal Jerman, Mercedes-Benz, merilis Mercedes-Benz eCitaro yang dapat melaju sejauh 400 km dengan hanya satu kali pengisian bahan bakar.

    Pada awal 2023, negara bagian New South Wales (NSW) di Australia melakukan lompatan dengan mengoperasikan bus berbahan bakar hidrogen sebagai transportasi umum.

     

    Bus berbahan bakar hidrogen di Malden Center. (El Dorado Axess)

    Masa depan hidrogen di sektor transportasi

    Meski sudah banyak dikembangkan, kelayakan kendaraan berbahan bakar hidrogen masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

    Beberapa pihak berpendapat bahwa kendaraan hidrogen tak mampu menyaingi keunggulan kendaraan listrik dalam hal efisiensi energi dan fleksibilitas.

    Ada juga pihak lain yang meyakini komersialisasi kendaraan hidrogen hanya menunggu waktu untuk membangun infrastruktur serta mengembangkan teknologi melalui riset.

    Terlepas dari perdebatan ini, kami menganggap baik kendaraan listrik maupun hidrogen memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri.

    Karena itu, kedua teknologi ini tidak seharusnya dipandang sebagai kompetitor satu sama lain.

    Ada jenis transportasi yang lebih layak menggunakan hidrogen dan jenis lainnya yang lebih cocok berbasiskan baterai listrik.

    Baca: Butuh waktu agar mobil listrik bisa eksis

    Misalnya, kendaraan pribadi seperti sedan kemungkinan akan lebih layak menggunakan baterai listrik sebab efisiensi energinya yang unggul dan beban kerja kendaraan pribadi yang relatif tidak terlalu besar.

    Sementara itu, bus, truk, dan kapal yang memiliki beban kerja dan jarak tempuh lebih besar akan lebih layak menggunakan hidrogen yang lebih ringan dengan waktu isi ulang lebih cepat.

    Bagi Indonesia, perpaduan sistem transportasi berbasis listrik dan hidrogen sangat diperlukan untuk mempercepat peralihan energi dari fosil ke sumber-sumber ramah lingkungan.

    Penerapan kedua jenis transportasi bersih ini memerlukan kebijakan dari pemerintah untuk mendorong investasi, membangun pasar, mengembangkan teknologi, serta menyediakan infrastruktur.

    Semua ini agar biaya mobil hidrogen dapat ditekan dan memberikan manfaat lingkungan serta ekonomi bagi masyarakat luas.

    Baca: Alasan untuk segera beralih ke mobil ramah lingkungan

  • Cara Kota Cilacap Ubah Sampah Jadi Batu Bara

    Cara Kota Cilacap Ubah Sampah Jadi Batu Bara

    7cloud.asia – Upaya penanganan  sampah menjadi bahan bakar mulai banyak dilakukan dilakukan di Indonesia.

    Salah satunya adalah fasilitas konversi sampah menjadi bahan bakar batu bara pabrik semen di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. 

    Konversi sampah menjadi energi atau bahan bakar semacam batu bara tersebut dilakukan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Refused Derived Fuel (RDF) Cilacap.

    Proses pengolahan sampah dimulai dari pencacahan hingga pengayakan dan pembuatan menjadi beriket batu bara.

    Baca: Jakarta pilih RDF ketimbang ITF untuk olah sampah, ini alasannya

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cilacap Sri Murniyati saat mendampingi Presiden Jokowi , Selasa (2/1/2024)mengatakan sampah yang terolah di TPST tersebut berasal dari 14 kecamatan di wilayah setempat.

    Fasilitas RDF Cilacap ini memanfaatkan 47.000 ton sampah jadi bahan bakar atau batu bara.

    “Cilacap terdiri dari 24 kecamatan, sampah yang diolah di TPST RDF ini berasal dari 14 kecamatan di sekitar TPST RDF,” ucapnya.

    Lebih lanjut Sri mengatakan bahwa mesin RDF yang ada di TPST tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 200 ton sampah.

    Baca: Bahaya di balik pengelolaan sampah dengan ditimbun

    “Namun saat ini belum dimaksimalkan sehingga baru 150 ton sampah per hari diolah,” katanya.

    Ia mengatakan sebanyak 60 ton batu bara mampu diproduksi menggunakan mesin RDF per hari dari total sampah yang terhimpun.

    Produk batu bara tersebut kemudian dimanfaatkan untuk bahan bakar tungku pembakaran bagi pabrik semen.

    “Sampah yang diolah jadi produk RDF 60 ton per hari dapat diproduksi,” katanya.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Sri mengatakan pembangunan TPST RDF Cilacap dilaksanakan sejak 2017 hingga 2018 dengan biaya pembangunan berkisar Rp84 miliar.

    Pendanaan sharing dari anggaran Kementerian PUPR senilai Rp27 miliar untuk infrastruktur bangunan gedung, kemudian Rp44 miliar dana dari Kementerian Lingkungan Hidup.

    “Kemudian dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah senilai Rp10 miliar, kemudian Pemkab Cilacap Rp3 miliar untuk pembebasan tanah,” katanya.

    Presiden Jokowi beserta rombongan meninjau lokasi ini pada Selasa (2/1/2024). Turut mendampingi Presiden Jokowi sejumlah menteri.

    Sumber: Antaranews.com

     

     

     

  • DLH DKI Jakarta Gandeng Pemasok Semen untuk Menyerap Bahan Bakar Hasil Sampah

    DLH DKI Jakarta Gandeng Pemasok Semen untuk Menyerap Bahan Bakar Hasil Sampah

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menggandeng dua pemasok (offtaker) industri semen untuk memanfaatkan bahan bakar hasil pengolahan sampah (refused derived fuel atau RDF).

    Kerja sama pemanfaatan bahan bakar sampah dituangkan dalam penandatanganan perjanjian antara Badan Layanan Umum Daerah Unit Pengelola Sampah Terpadu (BLUD UPST) dengan dua perusahaan offtaker industri semen 

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, 
    Kerja sama ini merupakan langkah maju Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam penanganan sampah.

    Menurut Asep kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari uji coba pemanfaatan bahan bakar sampah oleh Industri semen PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (PT Indocement) dan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) pada Juni 2023.

    “Ini merupakan langkah strategis dan semoga bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam pengolahan sampah,” ujar Asep, seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Alasan Pemprov DKI Jakarta lebih memilih RDF untuk mengolah sampah  

    Awal pembangunan pabrik RDF, kata Asep banyak mendapat kritikan dan pandangan negatif dari berbagai pihak.

    Namun, DLH DKI bisa membuktikan bahwa kualitas RDF yang dihasilkan sesuai dengan standar dan bisa diterima oleh industri semen.

    “Fasilitas RDF Plant berskala besar seperti ini belum ada sama sekali di Indonesia. Ujicoba atau trial and error melalui proses yang sangat panjang hingga akhirnya mencapai tahap kerja sama,” ucap Asep.

    Asep berharap dengan adanya kerja sama ini bisa membuktikan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan.

    Baca: Mengenal sistem RDF yang mengolah sampah menjadi bahan bakar

    Sementara itu, Direktur PT Indocement Hasan Imer mengapresiasi DLH DKI Jakarta yang mampu memproduksi RDF sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.

    Melalui ujicoba yang sudah berlangsung dari Juni 2023, kata Hasan, akhirnya pihaknya bersama DLH DKI bisa memulai untuk memaksimalkan penggunaan RDF secara komersial.

    Hasan menyebut kerja sama ini merupakan upaya mengurangi emisi karbon sekaligus membantu pemerintah dalam mengurangi sampah.

    “Kerja sama ini bukan hanya kesepakatan bisnis tapi sebagai komitmen bersama untuk mengurangi sampah,” kata Hasan.

    Baca: Mengenal semen ramah lingkungan

    Direktur Manufacturing SBI Soni Asrul Sani menyebut kerja sama ini merupakan wujud untuk memaksimalkan penggunaan energi alternatif yang sejalan dengan tujuan SBI.

    Bahan bakar alternatif seperti RDF ini, menurut Asrul bisa menggantikan bahan bakar utama yang selama ini digunakan.

    “Kita akan maksimalkan penggunaan RDF sebagai upaya menuju transisi ke energi alternatif,” ujar Soni.

    Permasalahan sampah di Jakarta dengan adanya kerja sama ini mulai ada titik terang.

    “Kerja sama antara pengelola sampah dengan offtaker akan menjadi penting karena ada kolaborasi yang berkesinambungan untuk masa depan yang lebih hijau, kata Soni.

    Sumber: Antaranews

  • Mengenal Faspol 5.0, Mesin Pengolah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Petasol

    Mengenal Faspol 5.0, Mesin Pengolah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Petasol

    7cloud.asia – Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kota Semarang meluncurkan Fast Pyrolysis generasi kelima atau Faspol 5.0.

    Faspol 5.0 (Faspol G-5) merupakan mesin pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar dengan menggunakan teknologi pirolisis multikondensor. Mesin ini tak lagi menggunakan pipa elbow/spiral, yang mencegah potensi sumbatan dan ledakan sehingga aman digunakan.

    Bahan bakar yang dihasilkan disebut petasol. Petasol memanfaatkan limbah plastik yang mengotori sungai dan irigasi untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif.

    Peluncuran Faspol 5.0 ini bertempat di Rumah Pompa Kalibanger, Lokasi Proses Pirolisis Sampah Plastik, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Selasa (18/2/2025).

    Dilansir di brin.go.id, metode Faspol 5.0 menawarkan solusi inovatif dalam pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan, dengan tujuan mendukung lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan, serta menyediakan alternatif energi.

    Baca: Upaya pemerintah Kota Semarang menuju zero waste

    Kepala Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup BRIN Nugroho Adi Sasongko menjelaskan, teknologi pirolisis multikondensor dikembangkan untuk memberikan solusi energi murah bagi petani, nelayan, meningkatkan efisiensi, sekaligus mengurangi limbah plastik.

    Sementara Peneliti Ahli Utama BRIN Tri Martini Patria yang juga Koordinator Kelompok Riset Valorisasi Sumber Daya dalam Ekonomi Sirkular Berkelanjutan menyampaikan, merk petasol telah memiliki hak cipta yang diusulkan Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian.

    Hal ini diusulkan dalam kesempatan diskusi ilmiah antara tim peneliti, mitra Bank Sampah Banjarnegara, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Dewan Pengarah BRIN di pertengahan 2023.

    “Petasol merupakan istilah untuk bahan bakar alternatif setara solar yang dihasilkan dari sampah plastik terutama jenis polietilena (PE),” ujarnya.

    Tri menyebut, teknologi mesin pirolisis Fastpol Gen 5 bisa berproduksi setiap hari untuk sampah meski kondisi basah dan kotor (paten terdaftar nomor P00202314623).

    Sedangkan katalis (bentonite teraktivasi garam) yang digunakan juga diproduksi buatan sendiri dan telah didaftarkan paten nomor P00202405655.

    Baca: Penggunaan teknologi radiasi dalam pengolahan sampah plastik

    Penelitian tentang pirolisis untuk pengolahan sampah plastik hingga kini masih terus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan Faspol dalam menghasilkan energi terbarukan.

    Peneliti OREM BRIN Heru Susanto yang juga mahasiwa degree by research S3 Universitas Gadjah Mada mengungkapkan, dengan teknologi fast pyrolysis yang digunakan dalam proses, telah efektif memenuhi standar bahan bakar setara minyak solar.

    Petasol dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan mesin pertanian dan kapal nelayan. Adapun, Faspol 5.0 mampu mengubah 100 kilogram sampah plastik menjadi 80 hingga 90 liter bahan bakar.

    “Mesin ini telah masuk dalam e-katalog LKPP dan siap digunakan di berbagai daerah di Indonesia,” kata Heru.

    Selain itu, mesin ini memiliki keunggulan seperti bisa memproses sampah plastik dalam kondisi kotor maupun basah. Namun, semakin kering dan bersih sampah akan meningkatkan rendemen dan mutu bahan bakar yang dihasilkan.

    “Bahan bakar yang dihasilkan dapat membantu penyediaan energi baru yang sangat mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan ketahanan energi,” ujar Heru.

     

  • Kisah Sukses Pemkot Semarang Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah Plastik

    Kisah Sukses Pemkot Semarang Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kota Semarang, baru-baru ini meluncurkan Fast Pyrolysis generasi kelima atau Faspol 5.0 yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar.

     

    Proyek ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) yang memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat atau pengelola sampah plastik dalam memproduksi dan memanfaatkan petasol.

    Ini menjadikan Kota Semarang sebagai pionir dalam penerapan regulasi pengelolaan sampah plastik menggunakan metode fast pyrolysis di Indonesia.

    Regulasi ini sangat penting mengingat produk yang dihasilkan berupa bahan bakar minyak yang penggunaannya harus diatur dengan baik sehingga aman dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama nelayan dan petani.

    Keberadaan Perwali ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk mengembangkan inovasi serupa.

    Proses pengolahan sampah plastik dengan teknogil Faspol 5.0 dimulai dari pengumpulan sampah plastik residu yang tidak laku dijual.

    Baca: Mengenal Faspol 5.0 pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar

    Residu sampah plastik ini bersumber dari rumah tangga, lingkungan sekitar nelayan, rumah tangga, dan jejaring mitra bank sampah yang ada di Kota Semarang, kemudian dilanjutkan penyortiran.

    Sampah plastik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaktor mesin Faspol 5.0 secara bertahap, hingga diperoleh crude oil yang membutuhkan waktu delapan hingga sepuluh jam.

    Proses berikutnya berupa treatment penjernihan, esterifikasi, dan penyaringan. Proses ini juga melibatkan katalis pengganti bentonite buatan sendiri.

    Selain mengurangi sampah plastik di lingkungan, inovasi ini juga mendukung ketahanan energi lokal.

    Petasol memiliki cetane number di atas 50, melebihi standar solar (48), bahkan dapat mencapai 53 jika menggunakan sampah plastik yang berkualitas, bersih, kering tanpa campuran kotoran dan air.

    Dengan kondisi seperti ini, kualitas bahan bakar yang dihasilkan hampir setara dengan Pertamina Dex (CN 53).

    Baca: Upaya Pemerintah Kota Semarang menuju zero waste

    Tersedia untuk Skala Rumah Tangga hingga Industri
    Mesin Faspol 5.0 tersedia dalam beberapa kapasitas, yaitu 30, 50, dan 100 kilogram. Untuk skala rumah tangga atau komunitas kecil, mesin berkapasitas 30 kilogram dinilai cukup ideal.

    Sementara untuk skala industri atau usaha yang lebih besar, mesin dengan kapasitas 100 kilogram dapat memberikan hasil optimal.

    Harga mesin ini pun bervariasi, mulai dari Rp145 juta hingga Rp196 juta, tergantung kapasitasnya.

    Aplikasi teknologi pirolisis multikondensor untuk konversi sampah plastik menjadi bahan bakar telah mendapatkan penghargaan sebagai juara Pertamina Foundation / PF Sains 2024 kategori Implementation.

    Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, tim peneliti BRIN dan komunitas Bank Sampah Banjarnegara sebagai inventor, berharap teknologi ini dapat direplikasi di seluruh Indonesia.

    Baca: Pembangunan ITF mahal Jakarta berpaling ke RDF

    “Kami ingin menggerakkan pengelolaan sampah plastik dari lingkungan komunitas terkecil di kelurahan atau pedesaan, sehingga sampah tidak perlu lagi dibawa ke luar wilayah dan bertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA/TPS/TPST),” ujar Tri.

    Saat ini, teknologi Faspol 5.0 sudah diterapkan di 53 lokasi di Indonesia. BRIN menargetkan setiap desa atau kecamatan dapat memiliki mesin Faspol sendiri, sehingga pengelolaan sampah plastik dapat dilakukan langsung di sumbernya.

    Dengan demikian, distribusi sampah plastik ke tempat pembuangan akhir bisa diminimalisir, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

    Dengan penerapan replikasi teknologi Faspol 5.0, Semarang tidak hanya menjadi kota yang lebih bersih tetapi juga turut serta dalam membangun ketahanan energi berkelanjutan untuk Indonesia yang lebih hijau dan mandiri.

    Kolaborasi riset pentaheliks antara BRIN, pemerintah daerah, swasta, BUMN, dan komunitas lokal ini membuktikan bahwa inovasi yang berorientasi pada lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dapat diwujudkan secara nyata.

  • Pemprov DKI Jakarta Berikan Insentif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor hingga Akhir Agustus 2025

    Pemprov DKI Jakarta Berikan Insentif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor hingga Akhir Agustus 2025

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan insentif perpajakan daerah berupa pengurangan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) kepada masyarakat Jakarta.

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menjelaskan, pemberian insentif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ini merupakan bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta dan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Menurut Pramono, masyarakat Jakarta bisa menikmati keringanan pajak bahan bakar hingga 31 Agustus 2025.

    “Dalam rangka hari ulang tahun Jakarta dan juga menyambut kemerdekaan Republik Indonesia. Kenapa itu diberikan keringanan. Keringanan diberikan sampai dengan tanggal 31 Agustus,” ujar Pramono di Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat (25/7/2025).

    Baca: Kebijakan pembatasan kendaraan bermotor di Jakarta 

    Lebih lanjut, Pramono menyampaikan, berdasarkan data penerimaan daerah menunjukkan bahwa perekonomian Jakarta tetap mengalami pertumbuhan meskipun di tengah ketidakpastian ekonomi global.

    Ia menyebut, hingga Juli ini penerimaan pajak Jakarta bahkan telah mencapai lebih dari 53 persen.

    “Karena bagaimanapun saya melihat karena saya membaca day by day bagaimana penerimaan Jakarta dibandingkan dengan daerah-daerah lain, termasuk tadi kami rapat, Jakarta sekarang ini di bulan Juli ini sudah penerimaannya mencapai lebih dari 53 persen,” kata dia.

    Kebijakan insentif perpajakan daerah berupa pengurangan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diberikan berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 542 Tahun 2025 tentang Pengurangan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan mulai berlaku sejak 22 Juli 2025.

    Baca: Kebijakan jalan berbayar atau ERP masih dikaji

    Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Lusiana Herawati mengatakan, kebijakan ini diambil sebagai langkah untuk menjaga stabilitas perekonomian, membantu mengendalikan inflasi, serta mendukung operasional pertahanan dan keamanan negara.

    Ia menyampaikan, kebijakan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap kondisi ekonomi masyarakat, sekaligus mendukung tugas strategis nasional.

    “Pengurangan PBBKB ini dapat menurunkan beban biaya bahan bakar, terutama bagi kendaraan umum dan kendaraan yang mendukung pertahanan negara. Harapannya, hal ini turut menjaga daya beli masyarakat dan mendorong efisiensi operasional di berbagai sektor,” ujarnya, Jumat (25/7/2025).

    Lusiana menambahkan, dengan adanya kebijakan ini, para wajib pajak bahan bakar kendaraan bermotor semakin patuh melaksanakan kewajibannya untuk melakukan pelaporan dan penyetoran pajak sesuai ketentuan yang berlaku, dengan memperhitungkan tarif pengurangan yang telah ditetapkan.

    Baca: DKI Jakarta targetkan 55 persen warga gunakan transportasi publik

    Dalam keputusan tersebut, terdapat tiga skema pengurangan pajak yang diberikan, yaitu:

    1. Pengurangan 50 persen untuk pengguna kendaraan pribadi.

    2. Pengurangan 50 persen untuk pengguna kendaraan umum.

    3. Pengurangan 80 persen untuk bahan bakar kendaraan yang digunakan mendukung alat utama sistem pertahanan dan keamanan antara lain seperti: tank, panser, kendaraan taktis, pesawat, serta ambulans dan kapal rumah sakit.