Kisah Sukses Pemkot Semarang Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah Plastik

Written by

in

7cloud.asia – Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kota Semarang, baru-baru ini meluncurkan Fast Pyrolysis generasi kelima atau Faspol 5.0 yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar.

 

Proyek ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) yang memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat atau pengelola sampah plastik dalam memproduksi dan memanfaatkan petasol.

Ini menjadikan Kota Semarang sebagai pionir dalam penerapan regulasi pengelolaan sampah plastik menggunakan metode fast pyrolysis di Indonesia.

Regulasi ini sangat penting mengingat produk yang dihasilkan berupa bahan bakar minyak yang penggunaannya harus diatur dengan baik sehingga aman dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama nelayan dan petani.

Keberadaan Perwali ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk mengembangkan inovasi serupa.

Proses pengolahan sampah plastik dengan teknogil Faspol 5.0 dimulai dari pengumpulan sampah plastik residu yang tidak laku dijual.

Baca: Mengenal Faspol 5.0 pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar

Residu sampah plastik ini bersumber dari rumah tangga, lingkungan sekitar nelayan, rumah tangga, dan jejaring mitra bank sampah yang ada di Kota Semarang, kemudian dilanjutkan penyortiran.

Sampah plastik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaktor mesin Faspol 5.0 secara bertahap, hingga diperoleh crude oil yang membutuhkan waktu delapan hingga sepuluh jam.

Proses berikutnya berupa treatment penjernihan, esterifikasi, dan penyaringan. Proses ini juga melibatkan katalis pengganti bentonite buatan sendiri.

Selain mengurangi sampah plastik di lingkungan, inovasi ini juga mendukung ketahanan energi lokal.

Petasol memiliki cetane number di atas 50, melebihi standar solar (48), bahkan dapat mencapai 53 jika menggunakan sampah plastik yang berkualitas, bersih, kering tanpa campuran kotoran dan air.

Dengan kondisi seperti ini, kualitas bahan bakar yang dihasilkan hampir setara dengan Pertamina Dex (CN 53).

Baca: Upaya Pemerintah Kota Semarang menuju zero waste

Tersedia untuk Skala Rumah Tangga hingga Industri
Mesin Faspol 5.0 tersedia dalam beberapa kapasitas, yaitu 30, 50, dan 100 kilogram. Untuk skala rumah tangga atau komunitas kecil, mesin berkapasitas 30 kilogram dinilai cukup ideal.

Sementara untuk skala industri atau usaha yang lebih besar, mesin dengan kapasitas 100 kilogram dapat memberikan hasil optimal.

Harga mesin ini pun bervariasi, mulai dari Rp145 juta hingga Rp196 juta, tergantung kapasitasnya.

Aplikasi teknologi pirolisis multikondensor untuk konversi sampah plastik menjadi bahan bakar telah mendapatkan penghargaan sebagai juara Pertamina Foundation / PF Sains 2024 kategori Implementation.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, tim peneliti BRIN dan komunitas Bank Sampah Banjarnegara sebagai inventor, berharap teknologi ini dapat direplikasi di seluruh Indonesia.

Baca: Pembangunan ITF mahal Jakarta berpaling ke RDF

“Kami ingin menggerakkan pengelolaan sampah plastik dari lingkungan komunitas terkecil di kelurahan atau pedesaan, sehingga sampah tidak perlu lagi dibawa ke luar wilayah dan bertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA/TPS/TPST),” ujar Tri.

Saat ini, teknologi Faspol 5.0 sudah diterapkan di 53 lokasi di Indonesia. BRIN menargetkan setiap desa atau kecamatan dapat memiliki mesin Faspol sendiri, sehingga pengelolaan sampah plastik dapat dilakukan langsung di sumbernya.

Dengan demikian, distribusi sampah plastik ke tempat pembuangan akhir bisa diminimalisir, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Dengan penerapan replikasi teknologi Faspol 5.0, Semarang tidak hanya menjadi kota yang lebih bersih tetapi juga turut serta dalam membangun ketahanan energi berkelanjutan untuk Indonesia yang lebih hijau dan mandiri.

Kolaborasi riset pentaheliks antara BRIN, pemerintah daerah, swasta, BUMN, dan komunitas lokal ini membuktikan bahwa inovasi yang berorientasi pada lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dapat diwujudkan secara nyata.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *