Tag: banjir bandang

  • Banjir Bandang Landa Nagan Raya, Puluhan Warga Mengungsi

    Banjir Bandang Landa Nagan Raya, Puluhan Warga Mengungsi

    7cloud.asia –  Puluhan warga di Kecamatan Beutong Ateuh, Banggalang Kabupaten Nagan Raya, Aceh mengungsi akibat bencana banjir bandang, yang terjadi Senin (28/8/2023) malam.

    Warga mengungsi setelah dua desa yakni Blang Meurandeh dan Babah Suak, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya dilanda banjir bandang.

    “Kami masih melakukan pendataan terhadap jumlah pasti warga yang mengungsi, belum bisa dipastikan jumlahnya,” kata Camat Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Rustam Effendi seperti dikutip Antaranews.com. 

    Baca: Ratusan KK di Aceh Tenggara terdampak banjir

    Rustam menyebutkan saat ini terdapat tiga lokasi di ibu kota kecamatan, yang menjadi lokasi pengungsian yaitu di sekitar kantor kecamatan, masjid, dan sekolah.

    Akibat musibah tersebut lima unit rumah toko (ruko) di Desa Blang Meurandeh dilaporkan rusak parah.

    Sementara, lima unit ruko lainnya rusak terdampak bencana banjir bandang yang terjadi saat warga sedang istirahat.

    Baca: Pendidikan yang memberi solusi bagi perubahan iklim

    Rustam juga menyebutkan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait guna memastikan langkah dan penanganan terhadap bencana alam yang terjadi di kawasan Gunung Singgah Mata, Kabupaten Nagan Raya itu.

    Hingga siang ini, dilaporkan tidak ada korban jiwa akibat bencana banjir bandang di Nagan Raya ini.

    Banjir bandang terjadi, setelah hujan daerah mengguyur sejumlah wilayah di Nagan Raya pada Senin kemarin. 

    Baca: El Nino percepat pelelehan salju abadi di Puncak Jaya

    Memasuki bulan Agustus 2023, hujan deras memang sering mengguyur sejumlah wilayah di Aceh, sehingga mengakibatkan banjir.

    Sebelumnya banjir juga terjadi di Aceh Tenggara yang mengakibatkan ribuan kepala keluarga terdampak. 

    Kondisi ini terjaid saat sebagian besar wilayah di Indonesia sedang mengalami kekeringan akibat dampak El Nino.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Hujan Deras Picu Banjir Bandang di Halmahera Tengah, Tambang Nikel Ikut Terdampak

    Hujan Deras Picu Banjir Bandang di Halmahera Tengah, Tambang Nikel Ikut Terdampak

    7cloud.asia – Saat sebagian besar wilayah Indonesia dilanda kekeringan akibat fenomena El Nino, sejumlah daerah justru mengalami banjir seperti yang terjadi di Halmahera Tengah.

    Hujan deras sejak Rabu (13/9/2023) memicu banjir bandang di sejumlah kecamatan di Halmahera Tengah, Maluku Utara.

    Kawasan industri pertambangan nikel, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Desa Lelilef, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara juga terdampak. 

    Hujan deras sejak Rabu (13/09/2023) pagi telah membuat debit air sungai meluap. Akibatnya Kecamatan Weda dan Weda Tengah, Halmahera Tengah terendam.

    Dilansir Antaranews, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, mengantisipasi dampak susulan banjir bandang ini, serta mengevakuasi warga yang terdampak banjir.

    Baca: Kemarau panjang akibatkan biaya tanam melonjak

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari menjelaskan banjir dengan ketinggian hingga 75 sentimeter menggenang dua kecamatan di kabupaten itu.

    “Petugas BPBD telah berada di lokasi untuk melakukan penanganan darurat. Di samping itu, petugas masih bersiaga untuk mengantisipasi dampak susulan atau pun upaya evakuasi warga,” papar Abdul.

    Data sementara mencatat empat unit rumah terdampak di Kecamatan Weda, sedangkan akses jalan di beberapa titik terendam dan tinggi permukaan air teramati hingga 75 cm.

    Abdul mengatakan meskipun banjir melanda dua kecamatan, kecamatan Weda dan Weda Tengah, namun belum ada warga yang mengungsi.

    Baca: Korban tewas akibat bendungan jebol di Libya diperkirakan mencapai puluhan ribu orang

    Hingga Rabu (13/9/2023) malam, hujan dengan intensitas ringan masih mengguyur di wilayah terdampak.

    Sebelumnya, BPBD Provinsi Maluku Utara telah mendapatkan informasi peringatan dini bahaya banjir bahwa periode 12-13 September 2023, potensi hujan lebat yang terjadi dapat menyebabkan banjir.

    Selanjutnya informasi ini sudah diteruskan kepada BPBD kabupaten dan masyarakat.

    “Melihat peringatan dini cuaca dua hari ke depan (14-15/9), Provinsi Maluku Utara masih berpotensi hujan lebat yang disertai petir atau kilat dan angin kencang,” urainya.

    Sedangkan pada Kabupaten Halmahera Tengah, wilayah ini masih berpeluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dua hari ke depan

    Baca: Banjir Hong Kong dipicu hujan deras terburuk dalam 139 tahun

    BNPB juga mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada dan siap siaga terhadap potensi bencana susulan.

    Tak hanya banjir, kesiapsiagaan juga diperlukan untuk menyikapi potensi bahaya lain yang dapat dipicu curah hujan tinggi, seperti tanah longsor.

    Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia sedang berada pada musim kemarau, keberadaan gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin menyebabkan awan hujan yang memicu terjadinya banjir di beberapa tempat di bagian utara garis Khatulistiwa.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Cuaca Ekstrem Picu Banjir Bandang di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Ekstrem Picu Banjir Bandang di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Kondisi ini mengakibatkan banjir bandang di Desa Batur dan Tajuk di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah sejak Jumat (24/11/2023).

    Cuaca ekstrem sejak Jumat sore hingga malam ditandai hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Jawa Tengah. 

    Melansir Antaranews, Kepala Desa Batur, Radix Wahyu Dwi Yuni Ariadi menjelaskan banjir bandang diduga akibat tersumbatnya saluran air di wilayah tersebut.

    “Dugaannya saluran air tersumbat sehingga air meluap ke permukiman,” ungkapnya.

    Baca: Peringatan dini BMKG cuaca ekstrem landa wilayah ini

    Tidak ada korban jiwa, namun banji bandang yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB tersebut menghanyutkan satu unit sepeda motor.

    Akibat banjir bandang, lanjut dia, akses menuju ke Desa Batur terganggu akibat lumpur yang menutupi jalan.

    Sementara Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Semarang, Mediarso Tri Soelistyo masih belum dapat memastikan wilayah yang terdampak banjir bandang.

    “Ini saya baru di lokasi, masih dilakukan pembersihan akses jalan menuju Desa Tajuk,” katanya.

    Baca: Banjir bandang landa nagan raya puluhan warga mengungsi

    Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat  agar waspada dengan potensi cuaca ekstrem.

    Sebab di bulan November terjadi peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan atau pancaroba.

    “Cuaca ekstrem berpotensi besar terjadi selama musim peralihan. Mulai dari hujan lebat disertai petir dan angin kencang serta hujan es,” kata Dwikorita.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan arah angin bertiup sangat bervariasi, sehingga mengakibatkan kondisi cuaca bisa dengan tiba-tiba berubah dari panas ke hujan atau sebaliknya.

    Baca: Banjir satu meter lebih di Aceh Selatan 1 balita tewas

    Namun, secara umum biasanya hujan akan turun jelang sore atau malam hari. Sedangkan cuaca di pagi hari cerah, kemudian siang hari mulai tumbuh awan.

    Dwikorita memaparkan awan Cumulonimbus (CB) biasanya tumbuh di saat pagi menjelang siang, bentuknya seperti bunga kol, warnanya ke abu-abuan dengan tepian yang jelas.

    Namun, menjelang sore hari, awan ini akan berubah menjadi gelap yang kemudian dapat menyebabkan hujan, petir, dan angin.

    “Curah hujan dapat menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Karenanya, kepada masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan yang rawan longsor, kami mengimbau untuk waspada dan berhati-hati,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kondisi Pegunungan Gundul Picu Banjir Bandang di Kudus

    Kondisi Pegunungan Gundul Picu Banjir Bandang di Kudus

    7cloud.asia – Banjir bandang menerjang Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (24/11/2023) lalu. Penyebabnya diduga karena kondisi pegunungan yang gundul.

    Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Munaji menjelaskan kondisi hutan di Pegunungan Kendeng gundul akibatnya air hujan tidak terserap ke tanah saat curah hujan tinggi.

    “Dengan kondisi pegunungan yang gundul, tentunya curah hujan tinggi menyebabkan banjir bandang karena airnya tidak terserap ke tanah, melainkan langsung turun ke aliran sungai setempat,” jelas Munaji seperti yang dilansir Antaranews, Sabtu (25/11/2023).

    baca: banjir bandang landa nagan raya puluhan warga mengungsi

    Lebih jauh Munaji mengatakan banjir bandang yang di Desa Wonosoco terjadi pada Jumat (24/11/2023) pukul 18.30 WIB hingga pukul 19.30 WIB.

    Saat itu, ketinggian air di perkampungan desa setempat mencapai 40 sentimeter.

    Di antaranya yang terdampak di Rukun Tetangga (RT) 1, 2, 3, dan RT 4 RW 1, serta membawa material lumpur dengan ketebalan antara 5-10 sentimeter.

    Jumlah rumah warga yang terdampak mencapai 41 rumah, namun tidak ada yang mengalami kerusakan.

    Sebelumnya, hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 18.15-19.00 WIB.

    baca: cuaca ekstrem picu banjir bandang di sejumlah wilayah

    “Sungai setempat juga tidak mampu lagi menampung debit air kiriman dari kawasan pegunungan. Kondisi ini diperparah dengan sedimentasi lumpur yang menyumbat jembatan di RT 3 RW 1 mengakibatkan air limpas ke jalan dan rumah warga,” paparnya.

    BPBD Kudus, langsung menuju tempat kejadian untuk melakukan pembersihan jalan dari lumpur dan beberapa rumah terdampak.

    Kondisi pegunungan yang gundul juga dibenarkan oleh Pemerhati lingkungan Universitas Muria Kudus (UMK), Hendy Hendro.

    Seharusnya, kata Hendy, pemerintah daerah setempat dapat mengantisipasi, khususnya di Desa Wonosoco yang memang gunungnya gundul.

    “Tentunya harus ada upaya mengurangi dampak gundulnya hutan yang ada di Pegunungan Kendeng karena berbagai faktor,” katanya.

    baca: peringatan dini bmkg cuaca ekstrem landa wilayah ini

    Di antaranya, karena alih fungsi lahan hutan, penambangan galian C, budidaya jagung atau tanaman semusim tanpa diimbangi dengan tanaman keras atau pohon.

    Selein itu, banjir bandang terjadi karena kurang maksimalnya fungsi terasering yang tugasnya mengurangi laju erosivitas dan laju air permukaan, serta kurangnya tutupan vegetasi khususnya tanaman keras.

    Karena itu, lanjut Hendy, pemerintah harus membantu merubah pola budidaya dari tanaman semusim yang dominan, menjadi tanaman keras produktif yang dominan.

    Selain itu juga melakukan reboisasi dengan memanfaatkan tanaman produktif non-kayu, menerapkan budidaya wanatani “agroforestri”.

    Pemerintah bersama masyarakat perlu melakukan recovery daerah pertambahan dengan menanami berbagai jenis pohon yang produktif non-kayu, serta membuat embung atau tampungan air di bekas penambangan. 

    Reporter: Nurakhmayani

                                         

  • Hujan Lebat Mengguyur Wilayah Sumbawa, Lebih dari 1800 jiwa Terdampak Banjir Bandang dan Longsor

    Hujan Lebat Mengguyur Wilayah Sumbawa, Lebih dari 1800 jiwa Terdampak Banjir Bandang dan Longsor

    7cloud.asia – Hujan lebat yang mengguyur wilayah hulu Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat (10/02/2024) sore menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor. Lebih dari 1800 jiwa terdampak.

    “Banjir bandang ini akibat hujan lebat yang terjadi di wilayah hulu Kabupaten Sumbawa sejak pukul 14.30 WITA,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa, Muhammad Nurhidayat.

    Melansir Antaranews, Nurhidayat menerangkan hujan lebat di wilayah hulu menyebabkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Samapuin hingga mulut kali Desa Labuhan Sumbawa meluap.

    Akibatnya banjir dengan cepat menggenangi rumah warga.”Karena debit air yang tinggi mengakibatkan meluapnya air dari tanggul,” katanya.

    Baca: Banjir di Grobogan rendam 2000 rumah

    Data sementara BPBD Kabupaten Sumbawa, sejumlah wilayah dan korban yang terdampak banjir, meliputi Kelurahan Bugis dengan  370 Kepala Keluarga (KK) atau 1.850 jiwa terdampak.

    Selain itu Kelurahan Samapuin meliputi RW 02 dengan 20 KK terdampak dan satu rumah hanyut.

    Sementara di RW 04/RT 06 10 terdampak dan RW 05 sebanyak 60 KK terdampak sehingga total 91 KK dengan 463 jiwa.

    Di Kelurahan Pekat meliputi RT 01 dengan 132 KK 132 atau 700 jiwa, RT 02 dengan 102 KK atau 500 jiwa, RT 03 dengan 194  KK 194 atau 1.000 jiwa, sehingga total 428 KK dengan  2.200 jiwa.

    Baca: BNPB lakukan modifikasi cuaca tangani banjir berhari-hari di Riau

    Kemudian di Kelurahan Brang Biji, meliputi RW 03/RT 08 dengan 73 KK, RW 03/RT 06 dengan 6 KK 6, RW 02/RT 06 dengan 7 KK, sehingga total terdampak sebanyak 86 KK dengan 344 jiwa.

    Kelurahan Brang Bara jumlah yang terdampak 365 KK dengan 978 jiwa dan Kelurahan Lempeh 149 KK dengan 617 jiwa.

    “Secara keseluruhan total yang terdampak banjir sebanyak 1.489 KK atau 6.278 jiwa dan tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.

    Tak hanya banjir bandang, Nurhidayat mengungkapkan ada dua titik yang tertimpa tanah longsor dekat PDAM Semongkat dan Berang Dara setelah jembatan area konservasi Demongkat.
    Baca: Hampir 500 jiwa mengungsi akibat banjir di Makassar

    Nurhidayat menjelaskan pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan desa/kelurahan/kecamatan tempat terdampak kejadian.

    Tak hanya itu pihaknya bersama unsur TNI/Polri, desa/kelurahan, kecamatan dibantu masyarakat setempat juga sudah langsung terjun ke lokasi.

    “Saat ini kondisi air perlahan surut dan warga mulai membersihkan rumah,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Banjir Bandang Terjang Tanah Datar, Pemerintah Tetapkan Masa Tanggap Darurat 14 Hari

    Banjir Bandang Terjang Tanah Datar, Pemerintah Tetapkan Masa Tanggap Darurat 14 Hari

    7cloud.asia – Banjir bandang menerjang Nagari Barulak, Kecamatan Tanjung Baru, Tanah Datar, Sumatera Barat pada Jum’at, (23/2) lalu. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari.

    “Selepas kita mendengarkan analisa, masukan dan saran dari Forkopimda dan instansi terkait, maka ditetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari ke depan,” ujar Bupati Tanah Datar, Eka Putra di Batusangkar, Minggu (25/02/2024).

    Melansir Antaranews, Eka menjelaskan sebelum penetapan status ini, pihaknya telah melakukan berbagai upaya penanganan awal bagi warga yang terdampak.

    Baca: Banjir di Bandar lampung mulai surut

    Diantaranya memberikan bantuan awal melalui Dinas Sosial dan BPBD Tanah Datar.

    Dalam masa tanggap darurat ini ia berharap tidak terjadi bencana susulan sehingga memudahkan petugas membersihkan material.

    “Kita telah mengambil langkah-langkah strategis dalam penanganan musibah ini, semoga beberapa hari ke depan cuaca baik, sehingga tidak terjadi bencana susulan,” jelasnya.

    Sementara Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Datar, dr. Ermon Revlin menjelaskan banjir bandang pada Jumat lalu berdampak pada tiga Jorong di Nagari Barulak.

    Baca: Curah hujan tinggi, waspada bencana

    Berdasarkan data BPBD sebanyak 27 unit rumah, dua mushala, dan puluhan hektar lahan pertanian terkena dampak banjir bandang di Nagari Barulak tersebut.

    “Sampai saat ini, diperkirakan 27 rumah, dua mushala, lima jembatan dan puluhan hektar lahan pertanian dan perkebunan masyarakat yang terdampak, dan saat ini petugas kami terus mendata terhadap potensi kerugian yang ditimbulkan musibah ini,” unkap Ermon.

    Reporter: Nurakhmayani
     

     

  • Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Afghanistan 315 Orang, PBB Kaitkan dengan Perubahan Iklim

    Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Afghanistan 315 Orang, PBB Kaitkan dengan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Korban akibat banjir bandang di di wilayah utara Provinsi Baghlan, Afghanistan terus bertambah.

    Otoritas setempat mengatakan pada Minggu (12/5/2024), jumlah korban tewas akibat banjir bandang yang terjadi Jumat (10/5/2024) itu bertambah menjadi sekurangnya 315 orang,

    Sementara lebih dari 1.600 orang luka-luka akibat banjir bandang itu.

    Kementerian Pengungsi Afghanistan mengumumkan jumlah korban terakhir itu melalui platform media sosial X.

    Mereka menyatakan, lebih dari 2.600 rumah telah “rusak sebagian dan keseluruhan” di provinsi tersebut, sejak bencana terjadi usai hujan musiman yang sangat deras.

    Baca Juga: Brasil Selatan Dilanda Banjir Terburuk dalam 80 Tahun Terakhir, 126 Orang Tewas

    Kementerian ini menekankan bahwa mereka melaporkan perhitungan awal dari kantor mereka di Provinsi Baghlan, dan menyebut bahwa kerugian material maupun manusia mungkin bisa bertambah.

    Program Pangan Dunia PBB mengatakan pada Minggu di akun X mereka, bahwa kebanyakan daerah terdampak di provinsi tersebut “tidak dapat diakses dengan truk”.

    Lembaga ini menggunakan “semua pilihan yang ada” termasuk keledai, “untuk mengirimkan makanan kepada korban selamat yang telah kehilangan segalanya.”

    Organisasi Migrasi Internasional mendukung data korban yang dilaporkan oleh otoritas Taliban di Afghanistan, dengan mengatakan bahwa korban meninggal telah melewati angka 300 dan diperkirakan akan terus bertambah.

    Baca Juga: WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    Badan ini mengatakan, banjir telah menghancurkan lebih dari 2 ribu rumah. IOM juga mengunggah di X,

    “Kami mengoperasikan 16 gudang di seluruh Afghanistan, dan kami bekerja sama dengan mitra kami untuk menyediakan bantuan penyelamatan jiwa bagi mereka yang terdampak.”

    Juru bicara Sekjen PBB mengutip pernyataan Antonio Guterres yang mengatakan bahwa dia sangat sedih atas korban jiwa dalam banjir banjdang di Baghlan dan mengirimkan rasa dukanya kepada seluruh keluarga korban.

    “PBB dan mitra-mitranya di Afghanistan berkoordinasi dengan otoritas de faktor Taliban, untuk membantu dengan cepat dan menyedian dukungan kedaruratan,” ujar juru bicara itu, Stephane Dujarric.

    Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Perempuan dan Kelompok Rentan Harus Dilibatkan dalam Mitigasi Bencana

    Para ahli mengaitkan curah hujan musiman yang tinggi di Baghlan dan banjir yang mengikutinya pada perubahan iklim.

    Bencana ini kurang diantisipasi pemerintahan Afghanistan yang tidak siaga dan penduduk lokal menjadi lengah.

    Deputi Perdana Menteri untuk Urusan Ekonomi Afghanistan, Abdul Ghani Baradar, berkunjung ke provinsi itu pada Minggu.

    Dia meninjau operasi penyelamatan, penyediaan bantuan medis, distribusi pangan darurat, dan pengaturan tempat pengungsian sementara, kata kantor pejabat ini.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Sumbar Bertambah menjadi 37 Orang, Walhi Menilai Pemerintah Lalai

    Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Sumbar Bertambah menjadi 37 Orang, Walhi Menilai Pemerintah Lalai

    7cloud.asia – Korban banjir bandang yang menerjang kawasan Kabupaten Agam, Tanah Datar dan Padang Pariaman, Sumatra Barat terus bertambah.

    Hingga Minggu (12/5/2024) malam, setidaknya 37 orang meninggal dan 17 orang lainnya hilang. Banjir bandang yang menerjang sejumlah kawasan di Gunung Marapi terjadi pada Sabtu (11/5/2024) malam.

    “Hingga pukul 21.00 WIB, korban yang meninggal di Kabupaten Agam dan Tanah Datar itu berjumlah 37 orang,” kata Kepala Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Padang, Abdul Malik, Abdul kepada VOA, Minggu (12/5/2024).

    Basarnas Padang mengatakan 19 orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di Kabupaten Agam, 9 orang di Tanah Datar, 7 orang di Padang Pariaman, dan 2 orang di Padang Panjang.

    “Sudah 35 orang di antaranya sudah teridentifikasi dan dua orang yang belum terindentifikasi oleh tim disaster victim identification (DVI),” ujar Abdul.

    Baca Juga: Tiga Wilayah di Sumatera Barat Banjir, 27 Orang Meninggal

    Menurut Abdul, para korban meninggal karena tertimpa material banjir bandang dan lahar dingin hingga terbawa arus sungai pada saat bencana alam itu terjadi.

    Saat ini, Basarnas Padang masih melakukan pencarian terhadap 17 orang yang belum ditemukan.

    “Korban yang masih dicari sampai sekarang berjumlah 17 orang. Itu 14 orang di Tanah Datar dan 3 orang di Agam,” ungkapnya.

    Kendati demikian, pencarian terhadap korban hilang dihentikan sementara lantaran hujan yang terjadi di lokasi banjir bandang dan lahar dingin.

    Masyarakat pun diimbau mengikuti arahan dari pemerintah terkait dengan pencarian keluarganya yang masih hilang.

    “Kondisi di lokasi hujan, kami mengkhawatirkan lahar dingin (kembali) turun.” jelas Abdul.

    Baca Juga: Brasil Selatan Dilanda Banjir Terburuk dalam 80 Tahun Terakhir, 126 Orang Tewas

    Abdul menambahkan, pihaknya masih tetap memantau karena ada masyarakat yang sedang melakukan pencarian.

    Dia mengimbau masyarakat tidak melakukannya, tapi ini tidak bisa larang karena pihak keluarganya ada yang belum ditemukan.

    “Namun kami berharap pihak-pihak keluarga mengikuti imbauan dari pemerintah,“ imbuhnya

    Upaya pencarian korban juga turut melibatkan tim penyelamat dari daerah, kepolisian, militer, dan relawan.

    Sementara itu WALHI Sumbar menyebut bencana akibat sikap pemerintah yang telah lalai dalam melestarikan fungsi lingkungan

    Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Barat, Wengki Purwanto, menilai banjir bandang dan aliran lahar dingin terjadi karena pemerintah lalai dalam melindungi dan melestarikan fungsi lingkungan.

    Baca Juga: WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    “Gagal dalam melakukan penataan ruang dan penyelenggaraan penanggulangan bencana. Risiko bencana ekologis di kawasan Lembah Anak telah sering diingatkan banyak pihak, bahkan rekomendasi-rekomendasi resmi telah diberikan kepada pemangku kebijakan,” kata Wengki dalam keterangan tertulisnya.

    Lebih jauh Walhi Sumbar menilai bencana alam itu juga terjadi karena adanya aktivitas yang mengakibatkan perubahan terhadap kawasan yang tidak sesuai dengan fungsi zona Taman Wisata Alam (TWA) Mega Mendung di Tanah Datar.

    Pemerintah pun diminta untuk bertanggung jawab atas bencana alam yang terjadi di kawasan Lembah Anai.

    “Pemerintah gagal dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana. Sebaliknya, masyarakat ditempatkan pada situasi rawan bencana dan akhirnya menjadi korban.“

    “Pemerintah harus betul-betul meninggalkan kebijakan yang menempatkan masyarakat dalam situasi rawan bencana,” pungkas Wengki.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Terima Keluhan Korban Banjir Bandang Luwu, Legislator Minta Perusahaan Terkait Bertanggung Jawab

    Terima Keluhan Korban Banjir Bandang Luwu, Legislator Minta Perusahaan Terkait Bertanggung Jawab

    7cloud.asia – Banyak perusahaan tambang di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan yang kurang peduli pada kondisi masyarakat sekitar.

    Hal ini terungkap dalam Kunjungan Kerja Spesifik dalam rangka pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana alam sebagai dampak kegiatan pertambangan di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

    Anggota Komisi IV DPR Muhammad Dhevy Bijak mengakui, hingga saat ini masih ada perusahaan yang beroperasi dan mengeksploitasi sumber daya alam Kabupaten Luwu, yang belum menunaikan komitmennya dengan baik.

    Dhevy juga menyinggung tragedi bencana banjir bandang dan tanah longsor yang memporak-porandakan beberapa kecamatan di Kabupaten Luwu serta memakan 14 korban jiwa.

    Baca Juga: Koalisi Masyarakat Sipil: Bencana Ekologis di Sulawesi Selatan Dipicu Kerusakan Hutan di Gunung Latimojong Akibat Konsesi Tambang

    Sehingga DPR memanggil perusahaan-perusahaan tersebut dan mempertanyakan kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan oleh mereka.

    “Dan kenapa bisa terjadi karena hulunya bencana alam yang terjadi di Kabupaten bumi terjadi di wilayah kawasan pertambangan perusahaan PT Masmindo,” ungkap Dhevy saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR ke Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (5/6/2024).

    Politisi Fraksi Partai Demokrat tersebut mengatakan bahwa banyak keluhan dari masyarakat yang berasal dari wilayah terdampak karena tidak merasakan adanya kehadiran perusahaan yang seharusnya bertanggung jawab pasca tragedi tersebut.

    Jadi, ujarnya, memang ada beberapa keluhan dari khususnya beberapa wilayah yang terdampak ada kurang lebih 18 desa atau ya 18 desa yang terdampak memang kehadiran dari perusahaan ini belum sebetulnya dirasakan oleh masyarakat.

    Baca Juga: Curah Hujan Tinggi di Sulawesi Selatan Mengakibatkan Longsor, Delapan Orang Tewas

    ”Bahwa pada saat terjadinya bencana alam harusnya yang terjun langsung juga dalam perusahaan tersebut memberikan kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah kabupaten Luwu ini,” tuturnya.

    Dhevy mendorong semua pihak yang berkaitan, termasuk pemerintah setempat turut mengambil andil dan mewujudkan formulasi mitigasi bencana akibat tambang untuk membantu masyarakat terdampak.

    Saya kira, ujarnya, kita semua harus memikirkan formulasi memikirkan cara bagaimana cara mengatasi bencana-bencana alam ini sehingga ini lagi tidak terjadi di kemudian hari

    “Karena baru kali ini terjadi longsor dan banjir di wilayah Kabupaten Luwu khususnya di wilayah Kecamatan Latimojong dan wilayah Kecamatan Suli barat dan wilayah Kecamatan Belopa,” tutupnya.

  • Banjir Bandang Terjang Ternate, 14 Orang Meninggal

    Banjir Bandang Terjang Ternate, 14 Orang Meninggal

    7cloud.asia – Banjir bandang melanda Kecamatan Rua, Kota Ternate, Maluku Utara, pada Minggu (25/08/2024) dini hari. Sebanyak 14 orang meninggal dan 2 orang lainnya selamat.

    “Empat belas meninggal dunia dan dua orang selamat,” ujar Direktur Operasi Basarnas, Edy Prakoso.

    melansir Antaranews, Edy menjelaskan data ini masih bersifat sementara dari personel SAR gabungan yang berada di lokasi. Jumlah korban kemungkinan dapat bertambah pula.

    Menurut Edy, saat ini tim SAR gabungan masih berupaya melakukan proses evakuasi sejumlah warga dari material bangunan yang roboh akibat diterjang banjir bandang pada pukul 03.30 WIT dini hari tadi.

    Baca: Banjir hingga 2 meter melanda Gorontalo

    Tim SAR gabungan tersebut terdiri dari personel Kantor SAR Ternate, TNI, Polri, BPBD, Tagana Pemerintah Kota Ternate, relawan dan warga Kelurahan Rua.

    Untuk melakukan evakuasi korban, kantor SAR Ternate mengerahkan dua unit mobil rescue, peralatan evakuasi, medis dan komunikasi.

    Pihaknya juga mengimbau masyarakat yang merasa ada anggota keluarganya hilang setelah bencana tadi dapat melapor ke petugas gabungan di lokasi bencana yang dipimpin oleh Kepala Kantor SAR Ternate, Fathur Rahman.

    Sementara itu, kondisi cuaca di Kecamatan Rua, Kota Ternate hari ini hujan dengan intensitas ringan dengan angin berkecepatan 2-6 knots dari arah selatan.