Tag: Bencana hidrometeorologi

  • BMKG Minta Warga Jawa Tengah Waspadai Cuaca Ekstrem pada 11-13 November

    BMKG Minta Warga Jawa Tengah Waspadai Cuaca Ekstrem pada 11-13 November

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofiska (BMKG) mengimbau masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Tengah (Jateng) untuk mewaspadai cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi pada 11-13 November 2024.

    BMKG mengingatkan, cuaca ekstrem ini dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi.

    “Berdasarkan informasi dinamika atmosfer yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi (Stamet) Ahmad Yani Semarang pagi ini, potensi terjadinya cuaca ekstrem itu disebabkan oleh beberapa faktor,” kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stamet Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Senin (11/11/2024)

    Dalam hal ini, kata dia, aktifnya gelombang ekuatorial Rossby mendukung aktivitas konvektif di wilayah Jateng serta adanya wilayah pertemuan massa udara atau konvergen di tengah dan selatan Jateng.

    Selain itu, lanjut dia, kelembapan udara di berbagai ketinggian cenderung basah, berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan atau awan konvektif (cumulonimbus) yang menjulang hingga ke lapisan atas.

    Menurut dia, kondisi labilitas udara yang kuat di wilayah Jateng dan hangatnya suhu permukaan air laut di Laut Jawa bagian utara dan selatan menunjukkan adanya potensi penambahan massa uap air yang dapat meningkatkan aktivitas pertumbuhan awan hujan.

    “Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah Jateng pada 11-13 November,” katanya.

    BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode tiga hari ke depan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, puting beliung, pohon tumbang, dan sambaran petir,
    “Terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” kata Teguh.

    Lebih lanjut dia mengatakan sejumlah wilayah Jateng yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada hari Senin (11/11/2024) meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Semarang, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen.

    Wilayah Grobogan, Blora, Pati, Kudus, Pati, Jepara, Demak, Kendal bagian selatan, Batang bagian selatan, Pekalongan bagian selatan, Tegal, Brebes, Kota Magelang, Salatiga, Surakarta dan sekitarnya juga diminta mewaspadai cuaca ekstrem.

    Selanjutnya wilayah yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada hari Selasa (12/11/2024) meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo.

    Batang bagian selatan, Pekalongan bagian selatan, Pemalang bagian selatan, Tegal bagian selatan, Brebes bagian selatan dan sekitarnya juga berpotensi alami cuaca ekstrem.

    Sementara wilayah yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada hari Rabu (13/11/2024) meliputi Kabupaten Cilacap bagian utara, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Batang bagian selatan, Pekalongan bagian selatan, Pemalang bagian selatan, Tegal bagian selatan, Brebes bagian selatan, dan sekitarnya.

  • BMKG: Waspada, La Nina Hingga April 2025 Bisa Picu Bencana Hidrometeorologi

    BMKG: Waspada, La Nina Hingga April 2025 Bisa Picu Bencana Hidrometeorologi

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina akan terus berlangsung hingga April 2025. Masyarakat diimbau mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta, Jumat (22/11/2024) menjelaskan fenomena La Nina ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan antara 20 hingga 40 persen.

    “Kami mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapinya karena fenomena ini dapat berdampak signifikan pada kondisi cuaca. Utamanya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah perbukitan, lereng-lereng gunung, dataran tinggi, juga sepanjang bantaran sungai,” ungkap Dwikorita.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada bencana hingga Desember 2025

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan fenomena La Nina ini berpotensi mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung.

    Termasuk, lanjut dia, bencana banjir lahar hujan yang berpotensi terjadi ketika air hujan bercampur dengan material vulkanik dari gunung berapi.

    Lahar hujan ini berupa pasir, abu, dan bebatuan serta kayu atau pohon yang terjadi terutama untuk gunung api yang saat ini sedang atau baru saja mengalami erupsi.

    Karena itu, Dwikorita mengajak seluruh komponen baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat agar mewaspadai dan melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi.

    Baca: Awas bencana hidrometeorologi di musim hujan

    Fenomena La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.

    Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025. Dwikorita menjelaskan ada dua faktor utama yang mempengaruhi cuaca dan iklim di Indonesia pada tahun 2025.

    Pertama, adanya penyimpangan suhu muka laut di Samudra Pasifik, Samudra Hindia, dan perairan Indonesia.

    Penyimpangan suhu di wilayah ini berhubungan erat dengan fenomena La Nina Lemah, yang berpotensi menyebabkan peningkatan curah hujan di Indonesia.

    Kedua, adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga mempengaruhi distribusi hujan di wilayah Indonesia.

    Baca: BMKG keluarkan peringatan dini banjir di sejumlah wilayah

     

    Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan lautan, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia pada 2025 akan mengalami curah hujan tahunan dalam kategori normal, dengan jumlah berkisar antara 1.000 hingga 5.000 mm per tahun.

    Sebanyak 67% wilayah Indonesia diprediksi akan menerima curah hujan lebih dari 2.500 mm per tahun (kategori tinggi), meliputi sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan.

    Selain itu wilayah Bangka Belitung, Lampung bagian utara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, serta sebagian besar wilayah Papua juga akan menerima curah hujan yang tinggi.

    Sementara itu, 15% wilayah diprediksi mengalami curah hujan di atas normal, termasuk sebagian kecil Sumatera, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Maluku, dan Papua bagian tengah.

    Di sisi lain, 1% wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami curah hujan di bawah normal, seperti di Sumatera Selatan bagian barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara.

     

  • Memanen Air Hujan: Upaya Mitigasi Bencana Hidrometeorologi yang Makin Sering Terjadi

    Memanen Air Hujan: Upaya Mitigasi Bencana Hidrometeorologi yang Makin Sering Terjadi

    7cloud.asia – Perubahan iklim telah membuat potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor maupun kekeringan akan semakin sering terjadi.

    Bencana hidrometeorologi, yakni banjir di Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia yang terjadi setiap tahun, dan kekeringan pada musim kemarau intensitasnya makin sering terjadi.

    Masyarakat awam mengira, bencana hidrometeorologi disebabkan semata oleh hujan. Namun, sebenarnya bukanlah hujan sebagai penyebab utama dari banjir, melainkan bagaimana mengelola air hujan yang turun di Daerah Aliran Sungai (DAS) selanjutnya mengalir ke hilir.

    Selain cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi diperburuk oleh daya dukung lingkungan terutama di wilayah sekitar Daerah Aliran Sungai yang semakin berkurang.

    Karena itu dibutuhkan mendesak mitigasi bencana hidrometeorologi dari hulu ke hilir untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban.

    Daya dukung lingkungan harus diperkuat agar dapat menyerap dan mengalirkan air hujan sedekat mungkin dengan kondisi aslinya.

    Baca: Upaya kota Bandung untuk memanen air hujan

    Dilansir Tempo.co, peneliti di Pusat Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyebut salah satu konsep yang perlu diuji-coba diterapkan di kota-kota besar Indonesia untuk mencegah banjir, yaitu sistem penangkapan dan pemanenan air hujan atau rain water harvesting system.

    Sistem ini harus dibangun oleh setiap pabrik, gedung perkantoran, atau hotel, yang membutuhkan kebutuhan air yang besar. Salah satu negara yang telah menerapkan konsep memanen air hujan pada skala yang luas adalah Singapura.

    Melansir buku Memanen Air Hujan karya Agus Maryono (Dosen Teknik Sipil UGM), di Indonesia, sebagian besar masyarakat belum mengelola air hujan dengan baik.

    Di banyak tempat dilakukan perbaikan drainase yang intinya secepat-cepatnya “mengatuskan” air genangan akibat hujan.

    Air hujan dibuatkan “jalur cepat” dengan drainase konvensional untuk mengalir ke hilir. Semakin baik drainase konvensional di suatu tempat, semakin besarlah kemungkinan banjir yang akan terjadi di bagian hilirnya.

    Sebaliknya, semakin besar kemungkinan terjadinya kekeringan di bagian hulunya saat musim kemarau. Karena itu, beberapa waktu belakangan mulai dikenalkan drainase ramah lingkungan yang bisa maksimal memanen air hujan.

    Baca: Membangun waduk menjadi salah satu cara Pemprov Jakarta memanen air hujan

    Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air hujan dengan cara menampung, meresapkan, mengalirkan, dan memelihara dengan tidak minimbulkan gangguan aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologi lingkungan yang bersangkutan.

    Drainase ramah lingkungan dikenal dengan slogan drainase TRAP, yaitu Tampung, Resapkan, Alirkan, dan Pelihara air hujan.

    “Memanen air hujan merupakan bagian dari drainase ramah lingkungan pada bagian Tampung dan Resapkan,” tulis Agus dalam bukunya.

    Air hujan ditampung untuk dipakai sebagai sumber air bersih dan perbaikan lingkungan hidup, dan diresapkan untuk mengisi air tanah.

    Efek memanen air hujan di antaranya ialah berkurangnya banjir, berkurangnya kekeringan, berkurangnya masalah air bersih, berkurangnya penurunan muka air tanah, dan berkurangnya masalah lingkungan.

    Baca: Membangun waduk yang ramah lingkungan

    Praktik memanen air hujan, tak harus menggunakan teknologi modern, tapi bisa dilakukan secara tradisional di rumah-rumah warga.

    Adapun, penerapan konsep memanen air hujan di kota besar adalah dengan menyediakan tangki atau sumur-sumur artesis bawah tanah yang berguna untuk menampung air hujan.

    “Jika ini dilakukan pada setiap gedung-gedung besar maka dapat mereduksi signifikan limpasan air hujan,” kata Erna dikutip Tempo.co.

    Menurut Erma, air hujan yang ditampung itu juga tak hanya bisa mengurangi limpasan yang langsung menuju saluran drainase tapi juga dapat dimanfaatkan sebagai persediaan air yang bisa dimanfaatkan sebagai air bersih.

    Cara ini, kata Erma, sekaligus mengajak masyarakat dalam hal ini pelaku usaha untuk ikut berkontribusi terhadap solusi mengatasi banjir yang dipicu oleh hujan persisten maupun ekstrem.

    “Terbukti, Singapura yang juga mengalami hujan persisten dampak dari fenomena gangguan cuaca seperti Malaysia memiliki ketangguhan bencana hidrometeorologi sehingga negara tersebut tidak mengalami banjir,” ucapnya.

  • Bencana Hidrometeorologi Akibat Cuaca Ekstrem di Banten Tewaskan 9 Orang

    Bencana Hidrometeorologi Akibat Cuaca Ekstrem di Banten Tewaskan 9 Orang

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mencatat bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem di sejumlah tempat di Banten menelan sembilan korban meninggal.

    Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten Nana Suryana di Serang, Kamis (12/12/2024) menyatakan korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi tersebut terdapat di tiga wilayah kabupaten yakni Serang, Pandeglang, dan Lebak.

    “Informasi yang saya dapatkan sampai kemarin itu sekitar sembilan orang,” ujar Nana.

    Nana mengatakan korban jiwa tersebut akibat terseret arus banjir akibat curah hujan tinggi, tertimpa reruntuhan rumah, dan tertimpa pohon akibat puting beliung.

    Ia menyebutkan pada kasus terakhir di Kabupaten Serang, meski hujan pada Senin (9/12/2024) hanya sebentar, namun membuat tiga orang terseret arus Sungai Irigasi Baros.

    Selain itu Nana mengatakan di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, masih membutuhkan bantuan peralatan evakuasi akibat volume air yang meningkat. Sementara di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, banjir dinyatakan surut.

    Baca: Pulau Jawa waspada bencana hidrometeorologi hingga April 2025

    Nana mengatakan perlu ada normalisasi sungai untuk mencegah luapan air ke pemukiman warga, mengingat intensitas curah hujan tinggi beberapa waktu lalu menyebabkan 30 persen air lebih tinggi dari biasanya.

    Banjir dari Kabupaten Lebak dari luapan hilir sungai Ciberang, Ciliman, dan Cilemer, hingga sampai ke Kecamatan Patia dan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang.

    Kemudian banjir di Kecamatan Labuan dari luapan Sungai Cipunten Agung dimana aliran air turun dari Gunung Akarsari, Gunung Pulosari, Gunung Karang.

    Sementara di Kecamatan Mandalawangi, Pulosari, Cisata, termasuk Cisata kemarin (11/12/2024) juga terdampak aliran air gunung akibat hujan lebat.

    Nana mengatakan potensi bencana hidrometeorologi basah di Banten masih ada hingga akhir tahun 2024.

    Oleh karena itu dengan unsur Pentaheliks pihaknya akan melakukan teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan ke laut sebelum mencapai ke darat.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem di bulan Desember

    “Jadi jangan khawatir, misalnya supaya Jakarta tidak hujan, tidak kebanjiran, di Banten diturunkan hujan. Tapi di laut,” kata Nana.

    Warga Lebak, Banten diingatkan agar tetap mewaspadai fenomena pergerakan tanah yang sudah terjadi dalam sepekan terakhir akibat cuaca ekstrem.

    Fenomena pergerakan tanah ini terjadi di tiga lokasi akibat cuaca ekstrem yang menerjang di daerah itu,

    “Kita minta warga tetap waspada dan siaga bencana, karena cuaca buruk masih berpotensi dalam satu pekan ke depan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizky Pratama di Lebak, Kamis (12/12/2024)

    Ketiga lokasi bencana pergerakan tanah di Kabupaten Lebak antara lain di Desa Cidikit Kecamatan Bayah, Desa Penyaungan Kecamatan Cihara dan Desa Neglasari Kecamatan Cibeber.

    Masyarakat yang terdampak bencana pergerakan tanah itu masih tinggal di sejumlah tempat pengungsian.

  • Cuaca Ekstrem Picu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Daerah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

    Cuaca Ekstrem Picu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Daerah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang bulan Desember 2024 ini telah memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah di tanah air.

    Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat misalnya sempat lumpuh akibat banjir, longsor, dan pergeseran tanah. Akibat kejadian ini, sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

    Beberapa hari terakhir, Bali juga dilanda badai Puting Beliung. Bahkan akibat puting beliung, 2 Warga Negara Asing (WNA) yang tengah mengunjungi kawasan objek wisata Monkey Forest di kawasan Ubud meninggal dunia karena tertimpa pohon yang tumbang.

    Rumah-rumah warga di sejumlah wilayah di Bali lainnya juga dilaporkan rusak akibat cuaca ekstrem ini

    Tidak hanya Bali, berbagai daerah lain di Indonesia juga menghadapi bencana hidrometeorologi yang berdampak pada keselamatan masyarakat dan kerusakan infrastruktur. Iwan berharap, upaya siaga bencana dilakukan secara efektif.

    Baca: Banjir dan tanah longsor di Sukabumi terparah dalam 10 tahun terakhir

    Menyoroti kondisi ini, Wakil Ketua Komisi V DPR Andi Iwan Darmawan Aras meminta pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur mitigasi kebencanaan demi menjaga keselamatan masyarakat.

    “Melihat banyaknya ancaman bencana alam yang semakin meningkat, diperlukan respons yang lebih cepat serta koordinasi yang lebih baik dari setiap instansi terkait,” ujar Andi Iwan Darmawan Aras dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/12/2024).

    Legislator dari dapil Sulawesi Selatan II tersebut juga menilai pemantauan dan sistem peringatan dini bencana perlu lebih ditingkatkan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai lembaga yang bertugas untuk mengawasi dan memantau kondisi cuaca dan iklim disebut memiliki peran krusial dalam memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat dan pihak berwenang.

    “BMKG harus dapat memberikan peringatan dini dengan lebih efektif agar masyarakat dapat mempersiapkan diri dan mengurangi dampak kerusakan. Optimalkan media sosial dan akses digital yang dapat dilakukan agar informasi tersebar dengan cepat,” ungkapnya.

    Dengan kondisi alam yang semakin tidak menentu akibat pemanasan global, Negara dituntut lebih responsif dan tanggap dalam menghadapi potensi bencana alam yang dapat terjadi kapan saja.

    Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di Jawa Barat

    Selain upaya mitigasi, diharapkan ada antisipasi dari sisi infrastruktur kebencanaan, seperti bangunan vital, fasilitas umum, sistem angkutan umum, telekomunikasi, dan sistem tenaga listrik yang dirancang untuk menahan dampak bencana alam.

    Iwan mengatakan pemerintah harus memprioritaskan kebutuhan dan keamanan masyarakat saat terjadi bencana agar mereka merasa aman dan nyaman.

    “Perlu adanya koordinasi antara BMKG, BNPB, TNI/Polri, Basarnas dan semua stakeholder guna meningkatkan kapasitas operasionalnya agar penanganan bencana dapat lebih efisien,” sebutnya.

    “Koordinasi yang baik dapat mengurangi risiko, dan memastikan keselamatan masyarakat Indonesia,” imbuh Iwan Aras.

    Pimpinan Komisi yang membidangi urusan infrastruktur dan transportasi itu pun mendukung upaya Pemerintah yang terus melakukan langkah-langkah mitigasi bencana.

    Iwan juga mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam berkegiatan selama Indonesia masih menghadapi cuaca ekstrem. Tak lupa dia mengingatkan warga untuk bersama-sama mengurangi emisi karbon dari kegiatan sehari-hari mereka.

    “Saatnya untuk meningkatkan upaya bersama demi Indonesia yang lebih aman dan siap menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi,” tuturnya.

  • Perkiraan Puncak Musim Hujan di Jatim Februari 2025, Ini Mitigasi yang Dilakukan BMKG

    Perkiraan Puncak Musim Hujan di Jatim Februari 2025, Ini Mitigasi yang Dilakukan BMKG

    7cloud.asia – Puncak musim hujan di Jawa Timur (Jatim) diprediksi terjadi pada Februari 2025 mendatang. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan berbagai upaya mitigasi bencana.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan seluruh wilayah di Jawa Timur kini telah memasuki musim hujan dengan puncak musim hujan diprakirakan terjadi di Bulan Februari 2025.

    Prakiraan curah hujan sepanjang Desember 2024 – Januari 2025, wilayah Jawa Timur umumnya berada pada kategori menengah hingga sangat tinggi (201- >500mm) dengan sifat hujan normal hingga atas normal.

    Baca: Waspada cuaca ekstrem di Jawa Timur hingga Januari 2025

    Karena itu, masyarakat di Jawa Timur harus bersiap menghadapi potensi banjir, sejumlah wilayah juga berpotensi mengalami tanah bencana longsor, gelombang tinggi, serta banjir rob.

    “Kepada masyarakat kami mengimbau untuk senantiasa mengecek prakiraan cuaca lewat aplikasi InfoBMKG secara berkala. Peringatan dini cuaca akan disampaikan, sepekan dan diulang tiga hari sebelum kejadian, bahkan hingga tiga jam sebelum kejadian cuaca ekstrem,” terang Dwikorita di Surabaya beberapa waktu lalu.

    BMKG juga melakukan berbagai upaya mitigasi bencana diantaranya melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah Jawa Timur, dan stakeholder.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada cold surge, apa itu?

    Operasi ini lanjut Dwikorita, telah dimulai sejak 18 Desember lalu dengan menggunakan pesawat Cessna Caravan C208B-EX untuk menebarkan bahan penabur di awan guna memicu hujan di lokasi yang lebih aman.

    Tujuannya untuk mengendalikan curah hujan selama puncak musim hujan di zona rawan bencana.

    Selain itu, BMKG juga memastikan kesiapan alat pemantau cuaca seperti Automatic Weather Observing System (AWOS), Low Level Windshear Alert System (LLWAS), dan Marine Automatic Weather Station (MAWS) untuk menghadapi ancaman cuaca ekstrem di Jawa Timur.

    Baca: Banjir besar seperti tahun 2020 berpotensi terulang di Jakarta

    AWOS berperan penting dalam memantau kondisi cuaca di Bandara Juanda, khususnya untuk keselamatan penerbangan. LLWAS mendeteksi potensi windshear atau geser angin berbahaya yang dapat mengganggu penerbangan.

    Sedangkan MAWS untuk memantau cuaca maritim di Pelabuhan Tanjung Perak, memastikan keselamatan pelayaran dan kelancaran aktivitas pelabuhan.

    “Ini merupakan upaya BMKG untuk menjaga masyarakat selamat dalam setiap penerbangan maupun pelabuhan, terutama dari ancaman bahaya cuaca ekstrem, mohon doanya agar kita semua dapat menjalankan tugas dengan seksama, cermat, cepat, tepat, serta akurat,” tutupnya.

     

     

  • BNPB: Sebanyak 489 Orang Meninggal Akibat Bencana Alam Sepanjang 2024

    BNPB: Sebanyak 489 Orang Meninggal Akibat Bencana Alam Sepanjang 2024

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bampak bencana alam di seluruh Indonesia sepanjang 2024 menyebabkan 489 orang meninggal dunia.

    Selain itu 58 orang dilaporkan hilang, 11.538 orang luka atau sakit, dan lebih dari 6 juta orang menderita dan mengungsi akibat bencana alamvyang terjadi sepanjang 2024.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, bencana alam juga menyebabkan 60 ribu rumah rusak, 954 fasilitas umum rusak seperti satuan pendidikan, rumah ibadat dan fasilitas pelayan kesehatan.

    “Biasanya untuk korban jiwa itu biasa disebabkan oleh bencana-bencana non-hidrometeorologi seperti gempa, seperti bencana-bencana geologi lainnya, tetapi untuk 2024 itu yang paling signifikan adalah banjir dan tanah longsor,” ujar Muhari dalam Konferensi Pers Kaleidoskop Bencana 2024 dan Outlook Potensi Bencana 2024, Selasa (7/1/2025).

    Sepanjang 2024 terdapat 1.088 bencana banjir dan 135 bencana tanah longsor yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

    Korban meninggal dan hilang dalam bencana banjir bandang sebanyak 248 orang sedangkan bencana tanah longsor berjumlah 233 orang.

    Secara keseluruhan terjadi 2.107 bencana di Indonesia, menurun dibandingkan 2023. Bencana banjir bandang dan tanah longsor menjadi penyebab kematian terbanyak.

    Kejadian bencana alam mendominasi bencana di Indonesia sepanjang 2024 berupa bencana hidrometeorologi, yaitu sebesar 98,86 persen. Sedangkan bencana geologi sebanyak 1,14 persen.

    Muhari mengatakan, perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem turut berpengaruh pada kejadian bencana hidrometeorologi.

    “Beberapa tahun belakangan bencana hidrometeorologi baik kering maupun basah semakin sering terjadi,“ ujarnya.

    Dibandingkan 2023 yang mencatat sedikitnya 5.400 bencana, bencana alam yang terjadi pada 2024 lalu terjadi penurunan, yaitu menjadi 2.107 bencana.

    Namun, Muhari menegaskan, hal ini lebih dikarenakan mekanisme baru yang digunakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat mencatat kejadian bencana

    Dalam setahun terakhir, BNPB menggunakan Petunjuk Pelaksanaan Standar Data Kejadian dan Dampak Bencana Tahun 2023.

    Aturan tersebut, ujar Muhari, menetapkan standarisasi data kejadian dan dampak bencana yang minimal harus memenuhi salah satu dari enam kriteria.

    Kriteria itu adalah ada korban jiwa meninggal, ada korban terdampak, ada kerusakan bangunan dan seterusnya,

    ”Sehingga kita dapatkan di 2024 ini berdasarkan aturan dan regulasi yang baru itu pencatatan bencana secara keseluruhan itu 2.107 kali bencana di Indonesia,” papar Abdul Muhari.

     

  • Peringatan Dini BMKG: Cuaca Ekstrem Landa Jawa Tengah, Waspada Bencana

    Peringatan Dini BMKG: Cuaca Ekstrem Landa Jawa Tengah, Waspada Bencana

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Jawa Tengah. Masyarakat diimbau waspada potensi bencana hidrometeorologi.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, menjelaskan cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana ini berlangsung hingga Februari 2025.

    Sebagian besar wilayah Jawa Tengah akan mengalami puncak musim hujan hingga Februari. Namun, puncak musim hujan ini tidak serempak, terjadi bertahap mulai November, Desember, Januari, hingga Februari.

    “Hal ini membuat potensi bencana, seperti yang terjadi di Pekalongan, masih bisa terjadi. Oleh karena itu, langkah antisipasi terus kami tingkatkan,” jelas Dwikorita dalam rilis BMKG.

    Baca: Cuaca ekstrem berpotensi landa Jakarta dan beberapa wilayah hingga Februari 2025

    Dalam rapat yang dihadiri oleh Pejabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana tersebut, Dwikorita menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah bekerjasama dalam menghadapi potensi bencana.

    Apalagi saat ini wilayah Jawa Tengah berada pada puncak musim hujan yang diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2025.

    Dalam pemaparannya Dwikorita menerangkan kondisi cuaca ekstrem seperti ini terjadi dipengaruhi oleh kombinasi aktif beberapa fenomena atmosfer global, seperti La Nina lemah, Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), serta gelombang ekuatorial Kelvin dan Rossby.

    Kondisi ini diperkuat oleh fenomena astronomis, seperti fase bulan baru, yang menciptakan potensi peningkatan curah hujan, angin kencang, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir.

    Selain itu, kelembaban udara yang sangat basah serta aktivitas konvektif lokal turut memicu pembentukan awan hujan yang menjulang tinggi.

    Baca: Cuaca ekstrem landa Jawa Tengah, belasan warga meninggal

    Semua faktor ini menjadi pemicu utama peningkatan risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, banjir rob, dan angin kencang di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

    Selanjutnya Dwikorita menerangkan ketika berada di puncak musim hujan, maka curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat akan terjadi di berbagai wilayah, terutama di kawasan rawan bencana seperti Pekalongan, Batang, dan Boyolali.

    Di wilayah ini ancaman tanah longsor dan banjir bandang menjadi perhatian utama. Dwikorita mencontohkan Kabupaten Boyolali yang berada dalam kondisi kritis.

    Sebab, lanjut dia, dengan adanya jalur sungai di lereng Gunung Merbabu maka akan  sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi.

    Baca: Banjir dan longsor kerap melanda Jawa Tengah, ini dia penyebabnya

    Sebelumnya, Dwikorita bersama tim BMKG telah mengunjungi wilayah ini untuk meninjau langsung kondisi di lapangan dan memberikan arahan mengenai langkah mitigasi bencana.

    Selain ancaman hujan ekstrem, BMKG juga mengidentifikasi potensi banjir rob yang dapat melanda kawasan pesisir utara dan selatan Jawa Tengah.

    Pada kesempatan itu, Dwikorita mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tanda-tanda awal bencana, seperti retakan tanah, rembesan air dari lereng, atau pohon yang tiba-tiba miring.

    Jika tanda-tanda ini terdeteksi, masyarakat diimbau segera meninggalkan lokasi rawan dan melapor kepada pihak berwenang.

    Di sisi lain, masyarakat yang berada di pesisir diminta untuk menghindari aktivitas di dekat pantai saat terjadi pasang tinggi atau gelombang besar.

    Baca: Korban longsor di Pekalongan capai 17 orang

    “Kita semua harus bekerja sama untuk memastikan keselamatan masyarakat. Informasi yang kami sampaikan bukan hanya untuk meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga untuk membantu masyarakat mengambil langkah konkret dalam mengantisipasi bencana,” urainya.

    Sementara itu, pejabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengambil langkah-langkah antisipasi.

    Diantaranya melakukan pemetaan jalur evakuasi, memastikan kesiapan drainase di kawasan rawan longsor, dan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat hingga tingkat desa.

     

  • Banyaknya Alih Fungsi Lahan Picu Bencana Hidrometeorologi di Jawa Barat

    Banyaknya Alih Fungsi Lahan Picu Bencana Hidrometeorologi di Jawa Barat

    7cloud.asia – Provinsi Jawa Barat tercatat menempati posisi pertama terkait terjadinya bencana hidrometorologi se-Indonesia. Bencana hidrometeorologi itu seperti banjir, tanah longsor atau angin kencang.

    Berdasarkan data dari BPBD Jawa Barat, dari Januari 2025, sampai dengan Maret 2025 tercatat ada 324 bencana yang terdiri dari banjir (73 kejadian), tanah longsor (98 kejadian, dan cuaca ekstrem (153 kejadian).

    Dari jumlah tersebut, sebanyak 252 bencana hidrometeorologi selesai ditangani dan sisanya sedang dalam proses.

    Plt Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Anne Hermadiane Adnan, di Bandung, Rabu (12/3/2025) mengungkapkan, ada beberapa jenis bencana yang tercatat paling banyak terjadi di wilayah Jawa Barat.

    Baca: Bantaran sungai di Jawa Barat akan diklaim negara

    Misalnya banjir, longsor, angin kencang, dan beberapa lainnya yang termasuk bencana hidrometeorologi.

    Atas banyaknya kejadian ini, kata Anne, sedikitnya sembilan daerah telah menetapkan status tanggap darurat kebencanaan karena bencana yang terjadi di daerah tersebut tergolong berat dan besar.

    Sembilan daerah tersebut beberapa di antaranya yaitu Kabupaten Indramayu, Tasikmalaya, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, Sukabumi.

    Masyarakat dan pemerintah di sembilan daerah yang sudah menetapkan status tanggap darurat kebencanaan itu, harus melakukan mitigasi kebencanaan agar efek yang terjadi tidak makin besar.

    Atas berbagai kejadian bencana yang otomatis ada anggaran yang harus dikeluarkan, Anne mengatakan anggaran untuk penanganan dan mitigasi saat ini masih belum bisa diketahui.

    Baca: Kementerian Lingkungan Hidup akan tertibkan kawasan hulu

    “Nah, ini prakiraannya agak susah karena kami tidak tahu berapa, katakanlah prakiraan nominal yang dikeluarkan oleh logistik, kami juga didukung oleh BNPB. Kemudian oleh Kementerian Sosial dan beberapa instansi lainnya,” kata dia.

    Sementara untuk antisipasi terjadinya peristiwa kebencanaan, lanjut Anne, yaitu dengan memperbaiki infrastruktur atau tata ruang di wilayah resapan air.

    Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan membongkar objek wisata di kawasan puncak, Bogor.

    Kalau infrastruktur sekarang sudah digencar oleh Pak Gubernur ya, karena itu yang paling susah. Yang paling sulit itu adalah mitigasi struktural dan sosial.

    “Nah, sosial ini termasuk adalah perilaku masyarakat yang mengubah lahan untuk kegiatan sosial dan ekonomi,” katanya menambahkan.

  • Cuaca Hari Ini: Waspada! Cuaca Ekstrem Picu Bencana Berpotensi Melanda di Jawa Tengah Hingga 18 Maret

    Cuaca Hari Ini: Waspada! Cuaca Ekstrem Picu Bencana Berpotensi Melanda di Jawa Tengah Hingga 18 Maret

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem yang memicu terjadinya bencana hidrometeorologi berpotensi melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) hingga 18 Maret mendatang. Masyarakat diimbau waspada.

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) Ahmad Yani, Semarang mengamati adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia selatan Pulau Jawa menyebabkan terbentuknya daerah pertemuan dan belokan angin di wilayah Jateng.

    Melansir Antaranews, Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stamet Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo menjelaskan faktor lain yang memicu cuaca ekstrem adalah adanya gangguan gelombang Ekuatorial Rossby di sekitar Jateng.

    Baca: Waspada tsunami di terowongan selatan Kulonprogo

    Selain itu kelembapan udara di berbagai ketinggian cenderung basah sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan yang menjulang hingga ke lapisan atas.

    Adanya labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diamati di Jateng. “Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah Jateng pada tanggal 16-18 Maret 2025,” jelas Teguh.

    Selanjutnya Teguh mengungkapkan sejumlah wilayah Jateng yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem pada hari Senin (17/3/2025), cuaca ekstrem berpotensi terjadi di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Purworejo.

    Baca: Waspada cuaca ekstrem di sejumlah wilayah

    Cuaca ekstrem juga terjadi di wilayah Wonosobo, Kabupaten/Kota Magelang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Kota Surakarta, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Temanggung, Kabupaten Semarang, Batang.

    Selain itu, wilayah Kabupaten/Kota Pekalongan, Pemalang, Kabupaten/Kota Tegal, Brebes, dan sekitarnya juga berpotensi terjadi cuaca ekstrem.

    Kemudian pada Selasa (18/3/2025), cuaca ekstrem berpotensi terjadi di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Kabupaten/Kota Magelang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Kota Surakarta.

    Baca: Modifikasi cuaca di Jakarta diperpanjang hingga 20 Maret

    Cuaca ekstrem juga berpotensi melanda wilayah Karanganyar, Sragen, Kudus, Jepara, Demak, Temanggung, Kabupaten/Kota Semarang, Salatiga, Kendal, Batang, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Kabupaten Tegal, Brebes, dan sekitarnya.

    “Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam tiga hari ke depan yang dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, pohon tumbang, dan sambaran petir,” urainya.

    Sementara wilayah lainnya di Indonesia masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir.

    Baca: Waspada bencana di Pulau Jawa hingga April 2025

    Hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Jambi, Palembang, Jakarta, Serang, Bandung, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Palu, Manado, Ternate, Sorong, Manokwari dan Jayapura.      

    Hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Padang, Bengkulu, Mamuju, Makassar, Kendari dan Jayawijaya. Kemudian hujan berintensitas lebat berpeluang mengguyur Kota Nabire.

    Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Pekanbaru, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Mataram, Kupang, Palangkaraya, Tanjung Selor dan Merauke.