7cloud.asia – Cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang bulan Desember 2024 ini telah memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah di tanah air.
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat misalnya sempat lumpuh akibat banjir, longsor, dan pergeseran tanah. Akibat kejadian ini, sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
Beberapa hari terakhir, Bali juga dilanda badai Puting Beliung. Bahkan akibat puting beliung, 2 Warga Negara Asing (WNA) yang tengah mengunjungi kawasan objek wisata Monkey Forest di kawasan Ubud meninggal dunia karena tertimpa pohon yang tumbang.
Rumah-rumah warga di sejumlah wilayah di Bali lainnya juga dilaporkan rusak akibat cuaca ekstrem ini
Tidak hanya Bali, berbagai daerah lain di Indonesia juga menghadapi bencana hidrometeorologi yang berdampak pada keselamatan masyarakat dan kerusakan infrastruktur. Iwan berharap, upaya siaga bencana dilakukan secara efektif.
Baca: Banjir dan tanah longsor di Sukabumi terparah dalam 10 tahun terakhir
Menyoroti kondisi ini, Wakil Ketua Komisi V DPR Andi Iwan Darmawan Aras meminta pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur mitigasi kebencanaan demi menjaga keselamatan masyarakat.
“Melihat banyaknya ancaman bencana alam yang semakin meningkat, diperlukan respons yang lebih cepat serta koordinasi yang lebih baik dari setiap instansi terkait,” ujar Andi Iwan Darmawan Aras dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/12/2024).
Legislator dari dapil Sulawesi Selatan II tersebut juga menilai pemantauan dan sistem peringatan dini bencana perlu lebih ditingkatkan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai lembaga yang bertugas untuk mengawasi dan memantau kondisi cuaca dan iklim disebut memiliki peran krusial dalam memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat dan pihak berwenang.
“BMKG harus dapat memberikan peringatan dini dengan lebih efektif agar masyarakat dapat mempersiapkan diri dan mengurangi dampak kerusakan. Optimalkan media sosial dan akses digital yang dapat dilakukan agar informasi tersebar dengan cepat,” ungkapnya.
Dengan kondisi alam yang semakin tidak menentu akibat pemanasan global, Negara dituntut lebih responsif dan tanggap dalam menghadapi potensi bencana alam yang dapat terjadi kapan saja.
Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di Jawa Barat
Selain upaya mitigasi, diharapkan ada antisipasi dari sisi infrastruktur kebencanaan, seperti bangunan vital, fasilitas umum, sistem angkutan umum, telekomunikasi, dan sistem tenaga listrik yang dirancang untuk menahan dampak bencana alam.
Iwan mengatakan pemerintah harus memprioritaskan kebutuhan dan keamanan masyarakat saat terjadi bencana agar mereka merasa aman dan nyaman.
“Perlu adanya koordinasi antara BMKG, BNPB, TNI/Polri, Basarnas dan semua stakeholder guna meningkatkan kapasitas operasionalnya agar penanganan bencana dapat lebih efisien,” sebutnya.
“Koordinasi yang baik dapat mengurangi risiko, dan memastikan keselamatan masyarakat Indonesia,” imbuh Iwan Aras.
Pimpinan Komisi yang membidangi urusan infrastruktur dan transportasi itu pun mendukung upaya Pemerintah yang terus melakukan langkah-langkah mitigasi bencana.
Iwan juga mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam berkegiatan selama Indonesia masih menghadapi cuaca ekstrem. Tak lupa dia mengingatkan warga untuk bersama-sama mengurangi emisi karbon dari kegiatan sehari-hari mereka.
“Saatnya untuk meningkatkan upaya bersama demi Indonesia yang lebih aman dan siap menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi,” tuturnya.

Leave a Reply