Tag: bersepeda

  • Pemerintah Kota Mojokerto Kampanyekan Bersepeda ke Sekolah untuk Kurangi Polusi Udara

    Pemerintah Kota Mojokerto Kampanyekan Bersepeda ke Sekolah untuk Kurangi Polusi Udara

    7cloud.asia – Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto,, Jawa Timur, mendorong budaya bersepeda kepada pelajar di kota itu.

    Alih-alih menggunakan motor, Pemerintah Kota Mojokerto mengajak para pelajar untuk menggunakan sepeda saat berangkat ke sekolah.

    Pasalnya, bersepeda sangat baik untuk kesehatan sekaligus menciptakan lingkungan kota yang bersih polusi dan sehat.

    Penjabat (Pj) Wali Kota Mojokerto M Ali Kuncoro di Kota Mojokerto, Jumat, mengatakan dengan bersepeda ke sekolah akan membuat para pelajar menjadi sehat dan bugar.

    “Ini adalah bagian kita mengkampanyekan bagaimana adik-adik semangat untuk berolahraga, kita ingin generasi ke depan sehat dan bugar,” ungkap Ali Kuncoro saat kampanye “Bike To School” di SMP Negeri 2 Kota Mojokerto.

    Baca: Bersepeda cara warga mengenali kotanya

    Ia mengemukakan dengan bersepeda juga dapat membantu mengurangi emisi karbon dan mendukung upaya Pemerintah Net Zero Emissions (NZE) 2060.

    “Selain itu dengan bersepeda maka bisa mengurangi kendaraan bermesin di jalan-jalan. Ketika itu berkurang maka akan mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas serta polusi,” ucapnya.

    Apalagi, menurutnya, dengan sistem zonasi di mana penerimaan siswa didasarkan pada jarak rumah ke sekolah maka akan lebih mudah bagi siswa membudayakan bersepeda ke sekolah.

    “Dengan sistem zonasi, tidak ada siswa yang rumahnya jauh, maka biasakanlah untuk naik sepeda ke sekolah,” ujarnya.

    Baca: Daftar kota ramah untuk pesepeda dunia

    Pada kesempatan ini Wali Kota Mojokerto itu berpesan kepada para siswa agar tidak ada lagi perundungan dan persekusi di lingkungan sekolah.

    “Kampanye Bike To School ini juga menggandeng Komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia,” ujarnya.

    Dalam kesempatan itu sejumlah siswa diajak bersepeda berkeliling Kota Mojokerto dengan pengawalan dari petugas Dinas Perhubungan (Dishub) kota setempat.

    Salah satu siswa, Wina mengaku senang dengan kegiatan tersebut karena selama ini ia selalu diantarkan oleh orang tua saat berangkat dan pulang sekolah.

    “Bisa bersepeda jadi lebih sehat,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Kota-kota di Afrika Berlomba Kembangkan Jalur untuk Pesepeda dan Pejalan Kaki

    Kota-kota di Afrika Berlomba Kembangkan Jalur untuk Pesepeda dan Pejalan Kaki

    7cloud.asia – Dari pusat kota Addis Ababa (Ethiopia) yang ramai hingga perbukitan indah Kigali (Rwanda), kota-kota di Afrika mengubah mobilitas perkotaan dengan merangkul warga yang bersepeda dan berjalan kaki.

    Dengan dukungan teknis dari UNEP, UN-Habitat, dan Institut Kebijakan Transportasi dan Pembangunan (ITDP), sejumlah kota di Afrika mulai meningkatkan fasilitas untuk pejalan kaki dan pesepeda.

    Dengan dukungan teknis dari UNEP dan sejumlah organisasi yang mengadvokasi mobilitas aktif di seluruh dunia, kota-kota di Afrika mengintegrasikan jalur sepeda ke dalam perencanaan perkotaan.

    Langkah ini sekaligus memastikan perjalanan yang lebih lancar dan aman menuju ekonomi hijau, udara yang lebih bersih, dan masyarakat yang lebih sehat.

    Bersepeda dan berjalan kaki dinilai bakal mengubah cara perjalanan harian, memangkas emisi, dan menciptakan masyarakat kota yang lebih sehat dan lebih hijau.

    Dengan mengintegrasikan jalur bersepeda ke dalam jaringan perkotaan, mereka memprioritaskan keselamatan, aksesibilitas, dan tanggung jawab lingkungan sambil mengurangi emisi, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan membina kota yang lebih inklusif.

    Baca: Kota Addis Ababa pangkas polusi dengan membangun fasilitas bagi peseda dan pejalan kaki

    Di Ethiopia, Kementerian Transportasi dan Logistik negara tersebut menyusun Strategi Transportasi Non-Motor 2020-2029.

    Addis Ababa telah membuat langkah signifikan sejak meluncurkan Proyek Koridor Kota pada tahun 2022. Ibu kota Ethiopia telah membangun lebih dari 60 kilometer jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang dilindungi

    Mereka juga berencana untuk memperluas lebih dari 76 kilometer jalur sepeda dan 200 kilometer jalur pejalan kaki pada tahap berikutnya.

    Hawassa dan kota-kota lain di seluruh negeri mengikuti, meluncurkan proyek koridor dengan fasilitas berkualitas tinggi untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda.

    Selain Addis Ababa, kota lain di Afrika juga tengah mendorong pengembangan fasilitas untuk pejalan kaki dan pesepeda adalah ibu kota Mesir, Kairo. Mesir
    berniat memperkuat infrastruktur pejalan kaki.

    Mesir juga akan menjadikan bersepeda lebih dari sekadar moda rekreasi, dengan menjadikan mobilitas aktif sebagai bagian integral dari transportasi perkotaan.

    Baca: Empat kota di dunia yang mengutamakan pejalan kaki

    Prakarsa Sepeda Kairo memimpin dengan 255 sepeda sewaan bertenaga surya di 25 stasiun, yang menawarkan pembayaran dan pembayaran berbasis aplikasi. Program ini akan diperluas hingga 500 sepeda di 45 stasiun, membantu Mesir mencapai tujuan iklimnya.

    Kota terbesar ketiga di Kenya, Kisumu, telah mengambil langkah tegas menuju masa depan yang ramah sepeda dengan Rencana Mobilitas Berkelanjutan, yang juga dikembangkan dengan panduan kebijakan UN-Habitat dan ITDP.

    Kota ini membayangkan jalur pejalan kaki sepanjang 100 km, lintasan sepeda sepanjang 31 kilometer, dan skema berbagi sepeda dengan 400 sepeda.

    Tahap pertama Proyek Segitiga Kisumu telah memperkenalkan jalur pejalan kaki dan infrastruktur pejalan kaki berkualitas tinggi, dengan tambahan 8,1 km infrastruktur ramah sepeda yang sedang dibangun dengan pendanaan Bank Dunia.

    Saat pesepeda papan atas dunia tiba di Rwanda untuk Kejuaraan Dunia UCI pada September 2025, mereka akan menemukan kota yang membangun masa depan dengan bersepeda sebagai pusatnya.

    “Di Kigali, mayoritas penumpang sudah mengandalkan transportasi tak bermotor,” kata Sheila Uwase, seorang Insinyur di Balai Kota Kigali. “Tujuan kami adalah meningkatkan keselamatan dan aksesibilitas bagi semua pengguna jalan.”

    Baca: Daftar kota ramah bagi pesepeda di dunia

    Sejak 2016, Kigali telah menyelenggarakan hari bebas mobil dua minggu sekali pada hari Minggu, untuk menumbuhkan budaya bersepeda.

    Kota ini telah menetapkan zona bebas mobil dan jalur sepeda sepanjang 13 km di Kawasan Pusat Bisnisnya dan sekarang mencatat lebih dari 1.500 pesepeda per jam di jalan-jalan utama, dengan rencana untuk memperluas jaringan sepeda di sepanjang jalan dan jalur air.

    PBB meluncurkan Rencana Aksi Pan Afrika pertama untuk Mobilitas Aktif di Forum Perkotaan Dunia

    Pada tahun 2021, Kementerian Infrastruktur Rwanda mengembangkan Kebijakan Transportasi Nasional yang baru; Bagian transportasi non-motornya menggabungkan panduan kebijakan dari UNEP dan ITDP dengan dukungan dari Yayasan Fia.

    Rekomendasi utama meliputi penerapan infrastruktur bersepeda yang dilindungi secara fisik, menyediakan penyeberangan pejalan kaki yang aman di permukaan tanah sebagai pengganti jembatan penyeberangan, mengurangi tarif sepeda, dan memperkenalkan sistem berbagi sepeda.

    Baca: Sepeda adalah wujud transportasi sehat dan ramah lingkungan

    Perjalanan dengan sepeda bukan sekadar perubahan yang ramah lingkungan, tetapi juga perubahan bagi kota dan tata kelola kota.

    Berbagai penelitian menunjukkan, pembangunan infrastruktur bersepeda sepuluh kali lebih hemat jika dibanding pembangunan kereta bawah tanah dalam upaya menurunkan emisi karbon.

    Selain itu, setiap kilometer yang ditempuh dengan bersepeda menghasilkan manfaat ekonomi dan kesehatan, mengurangi kemacetan, meningkatkan kualitas udara, dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes.

    “Sistem berbagi sepeda semakin mendukung mobilitas tanpa emisi, membuat perjalanan singkat dan konektivitas jarak dekat ke transportasi umum lebih mudah diakses”, tegas Carly Gilbert-Patrick, Ketua Tim Mobilitas Aktif, Digitalisasi, dan Integrasi Moda UNEP

    Infrastruktur bersepeda dan berjalan kaki juga bertujuan untuk menyelamatkan nyawa.

    Laporan Status Afrika 2025 tentang Keselamatan Jalan Raya mengungkapkan bahwa, meskipun hanya memiliki 3 persen dari armada kendaraan global, Afrika menyumbang 24 persen dari kematian jalan raya global dengan 259.601 kematian setiap tahunnya.

    Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak akan fasilitas pejalan kaki dan pesepeda yang lebih aman untuk melindungi pengguna jalan yang rentan.

    Baca: Cara Kota Bogota dan Warsawa mengatasi polusi udara

  • Ketatnya Aturan Bersepeda di Jepang, Simak Denda dan Sanksi bagi Pesepeda yang Melanggar Aturan

    Ketatnya Aturan Bersepeda di Jepang, Simak Denda dan Sanksi bagi Pesepeda yang Melanggar Aturan

    7cloud.asia – Baru-baru ini pihak Kepolisian Jepang telah merilis buku panduan tentang denda dan sanksi bagi pesepeda yang melanggar aturan lalu lintas.

    Mulai 1 April 2026, pesepeda berusia 16 tahun ke atas akan mendapat “tilang biru” jika melakukan pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan, misalnya menggunakan ponsel saat bersepeda.

    Jika denda tidak dibayar sesuai waktu yang ditetapkan, maka pelanggar akan menghadapi tuntutan hukum.

    Panduan yang dirilis 4 September itu juga menjelaskan bahwa sanksi untuk pelanggaran ringan tetap mengacu pada kebijakan lama, yakni peringatan. Namun, denda bisa diberlakukan jika pesepeda dianggap membahayakan orang lain.

    Contoh pelanggaran ringan adalah bersepeda di trotoar yang dilarang, membawa payung saat bersepeda, atau tidak menyalakan lampu saat bersepeda pada malam hari.

    Baca: Daftar kota ramah bersepeda di dunia

    Penjelasan soal larangan bersepeda di trotoar muncul setelah pemerintah meminta pendapat publik, yang sebagian besar menolak rencana awal mengenakan denda 6.000 yen (sekitar Rp667.000) untuk pelanggaran tersebut.

    Tilang biru akan diberikan untuk pelanggaran seperti menggunakan ponsel saat bersepeda (denda 12.000 yen), menerobos palang pintu kereta api yang tertutup (7.000 yen), atau bersepeda tanpa rem (5.000 yen).

    Sementara itu, pelanggaran berat seperti bersepeda dalam kondisi mabuk tetap akan dikenai “tilang merah,” yang diancam dengan hukuman pidana.

    Jepang menerapkan aturan yang ketat bagi pesepeda. Dan, bersepeda menjadi salah satu moda transportasi yang jamak ditemukan di kota-kota besar di Jepang.

    Baca: Kota-kota di Afrika berlomba kembangkan jalur pesepeda dan pejalan kaki

    Berikut sejumlah aturan bersepeda di Jepang sebagaimana kami kutip dari matcha-jp.com:

    1. Dilarang melakukan kegiatan lain saat bersepeda
    Aturan ini termasuk melakukan kegiatan “sambilan” seperti menggunakan ponsel, menggunakan payung dan mendengarkan musik dengan earphone atau headphone adalah hal yang dilarang.

    2. Mematuhi aturan dan etika
    Jalur sepeda di Jepang berada di sisi kiri jalan. Selain itu, beberapa jalan memiliki jalur khusus sepeda. Akan tetapi, jika tidak ada, pada dasarnya sepeda melaju di jalur mobil.

    3. Dilarang berboncengan
    Jika ingin menaikkan anak di sepeda sendiri, wajib memasang kursi balita pada bagian depan atau belakang sepeda. Orang dewasa yang berusia lebih dari 16 tahun, diperbolehkan menaikkan hingga maksimal 2 orang balita berusia kurang dari 6 tahun.

    4. Dilarang bersepeda dalam kondisi mabuk
    Sama dengan larangan keras menyetir mobil dalam kondisi mabuk, kepolisian Jepang juga melarang bersepeda setelah minum alkohol. Ini diterapkan juga untuk menjaga keselamatan orang di sekitar.

    Baca: Sepeda, moda transportasi sehat dan ramah lingkungan

    5. Wajib menyalakan lampu saat bersepeda di malam hari
    Lampu sepeda tidak hanya berfungsi untuk menerangi arah jalan, tetapi juga sebagai penanda orang sekitar dan mobil jika ada sepeda yang sedang melaju.

    6. Dilarang parkir sembarangan!
    Jika memarkir sepeda di tempat yang bukan merupakan parkir, maka sepeda Anda akan disita oleh otoritas setempat. Dibutuhkan waktu dan biaya untuk mengambilnya karena tempat penyitaan sepeda ini terletak jauh dari stasiun.

    7. Parkir wajib tempat yang disediakan
    Di Jepang juga ada tempat untuk memarkir sepeda yang disebut “churinjo” yang biasanya terdapat di depan stasiun dan supermarket. Sejumlah tempat wisata seperti Kuil Nanzenji di Kyoto, Nagato, dan lainnya juga menyediakan parkir sepeda gratis.

    Jika tidak menemukan tempat parkir sepeda gratis, pesepeda biasanya menggunakan tempat parkir berbayar. Biasanya terpasang mesin kasir otomatis dan biayanya berbeda bergantung daerah.

    Sumber: Antaranews.com/Kyodo

  • Tren Bersepeda Meredup Padahal Efektif Turunkan Emisi dari Sektor Transportasi

    Tren Bersepeda Meredup Padahal Efektif Turunkan Emisi dari Sektor Transportasi

    7cloud.asia – Saat pandemi Covid-19, sekitar tahun 2020 hingga 2022 lalu, tren bersepeda atau gowes sempat ‘booming’ di Indonesia.

    Bersepeda bukan cuma dipakai untuk berolahraga tetapi juga menjadi pilihan transportasi harian masyarakat urban, khususnya kalangan anak muda.

    Tren bike to work dan bike sharing tumbuh pesat, terutama di kota-kota besar. Sayangnya, begitu pandemi mereda, tren ini juga perlahan redup. Padahal kalau tren bersepeda berlanjut, sepeda bisa menjadi solusi ampuh mengurangi emisi dari sektor transportasi.

    Sebuah studi menyebut, jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark (sekitar 1,6 kilometer per hari), maka emisi karbon global bisa berkurang hingga 414 juta ton.

    Atau jika semua orang mengadopsi cara hidup orang Belanda yang bersepeda 2,6 kilometer setiap hari, emisi yang berkurang bisa lebih banyak lagi—mencapai 686 juta ton. Dampaknya besar sekali, bukan?

    Perkembangan urban cycling
    Anak muda punya peran penting dalam mempopulerkan budaya bersepeda, baik sebagai target maupun penggerak penurunan emisi dari sektor transportasi

    Sebagai kelompok demografis terbesar, jika sebagian besar anak muda mengadopsi budaya bersepeda, maka dampaknya akan masif terhadap kebiasaan masyarakat secara keseluruhan.

    Di Indonesia, komunitas bike to work (B2W) adalah salah satu penggerak utama kampanye penggunaan sepeda untuk aktivitas sehari-hari, terutama bagi pekerja kantoran dan profesional muda.

    Baca: Jakarta sudah miliki peta bersepeda

    Selain itu, ada pula inisiatif bike-sharing—layanan sewa berbagi sepeda—yang awalnya dimulai di Bandung oleh komunitas bike.bdg bersama Bandung Creative City Forum (BCCF) pada 2012.

    Sayangnya, layanan ini sempat mati suri sebelum dihidupkan kembali oleh pemerintah setempat dengan nama Bike on the Street Everybody Happy (Boseh) pada 2017.

    Dinas Perhubungan Kota Bandung selaku pengelola Boseh menghadirkan 30 shelter yang tersebar di seluruh Bandung. Namun pada 2024, tercatat 13 shelter sudah tidak aktif lagi.

    Di Jakarta, layanan ini juga sempat berkembang, peminatnya cukup tinggi terutama saat pandemi Covid-19. Namun kini, kondisinya terbengkalai dan tak terawat karena manajemen yang buruk.

    Tantangan menerapkan budaya bersepeda
    Secara umum, ada beberapa tantangan utama yang membuat sepeda selama ini sulit diadopsi sebagai moda transportasi utama yang mudah, aman, dan nyaman, di antaranya;

    1. Infrastruktur dan konektivitas terbatas
    Infrastruktur untuk bersepeda di Indonesia kurang mendukung. Jalur sepeda masih terbatas.

    Di DKI Jakarta, misalnya, jalur sepeda hanya sepanjang 313,6 kilometer, terdiri dari 23,2 km jalur sepeda di trotoar dan 258 km lajur sepeda berbagi. Di Kota Bandung jauh lebih pendek lagi, hanya sekitar 20 kilometer yang tersebar di 16 ruas jalan.

    Idealnya, panjang jalur sepeda harus sesuai dengan kebutuhan mobilitas penduduk dan cakupan area perkotaan. Kota dengan kebijakan ramah sepeda biasanya memiliki jalur sepeda sekitar 10-30 persen dari total panjang jalan.

    Baca: Bersepeda jadi cara warga menikmati kotanya

    Selain itu, konektivitas dengan moda transportasi lain seperti bus dan kereta saat ini juga belum optimal, sehingga membuat sepeda kurang praktis digunakan sebagai moda transportasi utama.

    2. Keamanan kurang terjamin
    Dari segi keamanan, parkir sepeda yang aman di fasilitas publik dan perkantoran juga minim. Jangankan sepeda milik pribadi, layanan bike-sharing saja misalnya, sering menghadapi masalah pencurian dan vandalisme.

    3. Iklim dan fasilitas kurang mendukung
    Dari segi kenyamanan, faktor iklim tropis yang panas sering menjadi kendala bagi pengguna sepeda dalam mobilitas sehari-hari. Sementara itu, fasilitas seperti shower dan ruang ganti di kantor masih minim.

    Belum lagi, jalur sepeda kerap digunakan sebagai tempat parkir atau dilintasi kendaraan lain, sehingga rawan konflik dan mengurangi kenyamanan pesepeda.

    Bagaimana menarik minat anak muda bersepeda?
    Untuk meningkatkan minat masyarakat terutama anak muda untuk bersepeda, wajib hukumnya untuk menyediakan fasilitas yang mudah, aman, dan nyaman bagi pengendara sepeda.

    Belajar dari negara maju, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendesain kota yang ramah pesepeda, yakni dengan menyediakan jalur sepeda yang luas dan terhubung dengan sistem transportasi umum.

    Rambu khusus, lampu lalu lintas, dan parkir sepeda yang memadai juga harus disediakan. Dalam hal ini, pemerintah bisa menggandeng sektor swasta dan komunitas untuk membangun infrastruktur.

    Kebijakan pendukung juga harus disiapkan. Pemerintah bisa mengadopsi regulasi yang memberikan prioritas bagi pesepeda di persimpangan tertentu, insentif bagi pekerja yang menggunakan sepeda untuk mobilitas harian, serta kampanye edukasi keselamatan bersepeda sejak dini.

    Baca: Jakarta asuk 100 besar kota ramah sepeda di dunia

    Pemerintah harus berinvestasi di bidang ini. Paris menjadi contoh sukses bagaimana investasi yang serius dalam infrastruktur bersepeda bisa mengubah pola mobilitas dan sukses menjadikan sepeda sebagai sarana transportasi baru sejak masa pandemi.

    Paris menggelontorkan dana 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,59 triliun selama empat tahun sejak 2023. Hasilnya, menurut Paris Region Institute, kini 11,2 persen perjalanan di dalam kota dilakukan dengan sepeda, sedangakan pengguna mobil hanya 4,3 persen.

    Di Indonesia, komunitas B2W berhasil melobi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengembangkan skema insentif bagi pesepeda pada momen peringatan World Bicycle Day Juni 2024 lalu.

    Singkatnya, para pesepeda berlomba mengumpulkan angka carbon saved melalui aplikasi Strava sebanyak mungkin, yang kemudian bisa ditukarkan dengan insentif tertentu.

    Namun, inisiatif ini masih sebatas momentum. Sepeda seharusnya menjadi bagian dari strategi besar pengurangan emisi karbon.

    Berbekal kepedulian tinggi terhadap lingkungan, anak muda bisa menjadi motor penggerak utama perubahan dari ‘candu bermotor’ menuju mobilitas berkelanjutan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Angga Marditama Sultan Sufanir (Assistant Professor, Politeknik Negeri Bandung)

  • Indeks Copenhagenize 2025 Ungkap Kota Ramah Sepeda di Dunia

    Indeks Copenhagenize 2025 Ungkap Kota Ramah Sepeda di Dunia

    7cloud.asia – Enam tahun setelah dibuat peringkat kota ramah sepeda, dan setelah pandemi yang mengubah kebiasaan mobilitas harian, muncul pertanyaan kota-kota global mana yang benar-benar berinvestasi dalam mentransformasi jalanan mereka untuk para pesepeda? Dan kota mana yang tertinggal?

    Jawabannya terungkap dalam Indeks Copenhagenize 2025 – EIT Urban Mobility Edition yang dirilis November 2025 lalu.

    Dari 150 kota yang telah dipilih sebelumnya, 100 kota dari 44 negara dievaluasi, menjadikan peringkat ini sebagai tolok ukur global yang unik, menampilkan pusat-pusat kota dari setiap benua.

    Dilansir eiturbanmobility.eu, Indeks Copenhagenize 2025 yang dirilis baru-baru ini mengungkap, setidaknya 100 kota di seluruh dunia yang sedang mentransformasi jalanan mereka untuk mengembangkan bersepeda sebagai solusi mobilitas utama.

    Indeks Copenhagenize – edisi EIT Urban Mobility yang merupakan inisiatif dari Institut Inovasi dan Teknologi Eropa (EIT) sebuah badan Uni Eropa ini penuh dengan data dan kisah baru dari seluruh dunia bersepeda.

    Indeks Copenhagenize 2025 menunjukkan kematangan global dalam kebijakan bersepeda. Bersepeda tidak lagi diperlakukan sebagai isu mobilitas khusus, tetapi sebagai penggerak lintas sektor untuk aksi iklim, kesehatan masyarakat, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

    Baca: Tren bersepeda di Indonesia meredup

    Di berbagai benua, terlihat adanya pergeseran dari proyek percontohan menuju program jangka panjang yang lebih terstruktur, yang tertanam dalam rencana ketahanan dan mobilitas berkelanjutan yang lebih luas.

    Namun, kesenjangan antara ambisi dan implementasi tetap lebar, dengan stabilitas pendanaan, kesinambungan politik, dan kapasitas teknis muncul sebagai pembeda utama antara kota-kota peringkat atas dan menengah.

    Peringkat internasional ini menyatukan kota-kota dari setiap benua, mewakili beragam bentuk perkotaan, iklim, dan ekonomi. Iklim saja tidak menentukan apakah sebuah kota dapat menjadi ramah sepeda atau tidak.

    Dari panas dan kelembapan Singapura dan Dubai hingga musim dingin yang dingin dan bersalju di Helsinki, Kota Québec, dan Minneapolis, semuanya telah layak mendapatkan tempat mereka dalam peringkat ini.

    Kota-kota ini menunjukkan bahwa bersepeda dapat berkembang di mana saja, dan bahwa sepeda telah menjadi alat yang ampuh dalam mengatasi perubahan iklim.

    Baca: Daftar kota ramah sepeda di dunia

    Di luar iklim atau topografi, prediktor terkuat keberhasilan bersepeda adalah investasi berkelanjutan yang didukung oleh tata kelola antar departemen yang efektif.

    Kota-kota yang memperlakukan bersepeda sebagai sebuah sistem – mengintegrasikan infrastruktur, komunikasi, dan pemantauan – secara konsisten mencapai hasil yang lebih tinggi dan lebih stabil.

    Meskipun kota-kota bersepeda bersejarah telah berinvestasi selama beberapa dekade, banyak kota peringkat teratas saat ini mencapai posisi mereka dengan melakukan perubahan kebijakan yang menentukan, yakni beralih dari inisiatif sederhana menjadi menjadikan bersepeda sebagai pilar utama pembangunan perkotaan.

    Dengan memanfaatkan sepenuhnya manfaat bersepeda, kota-kota ini mentransformasi mobilitas dan kualitas hidup perkotaan, menyesuaikan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang sebenarnya, dan memungkinkan orang dari segala usia dan latar belakang untuk bersepeda setiap hari.

    Kota-kota Eropa mendominasi Indeks Copenhagenize 2025 ini karena beberapa alasan, termasuk komitmen politik yang kuat — yang sering kali didorong dan didukung oleh warga setempat — untuk berinvestasi dalam transisi ekologis.

    Baca: Membangun kesadaran bersepeda sebagai transportasi sehat dan ramah lingkungan

    Namun, kemajuan tidak seragam. Beberapa kota yang pernah dipuji sebagai pelopor bersepeda, khususnya di Eropa dan Amerika, telah memperlambat investasi mereka atau mengurangi ambisi, dan oleh karena itu tidak lagi termasuk di antara yang terdepan.

    Demikian pula, di beberapa bagian Global Selatan, jalan-jalan yang dulunya penuh dengan pesepeda kini semakin banyak dilalui kendaraan bermotor seiring dengan kemajuan pembangunan ekonomi.

    Bersepeda sehari-hari terjebak dalam paradoks: peningkatan pendapatan dan peningkatan penggunaan kendaraan bermotor mengurangi penggunaan sepeda tepat ketika pemerintah mulai berinvestasi dalam infrastruktur.

    Hal ini menggarisbawahi pentingnya memposisikan bersepeda bukan sebagai moda transportasi yang dibutuhkan, tetapi sebagai pilihan transportasi yang diinginkan, efisien, dan modern.

    Pergeseran ini menyoroti kebutuhan berkelanjutan akan pengumpulan data yang kuat dan peningkatan kapasitas di antara pemerintah daerah, untuk membalikkan penurunan dan mendukung pertumbuhan bersepeda.