Tag: biodiversitas

  • BRIN Mulai Jalankan Program Ekspedisi untuk Mengeksplorasi Biodiversitas di Kalimantan Tahun Ini

    BRIN Mulai Jalankan Program Ekspedisi untuk Mengeksplorasi Biodiversitas di Kalimantan Tahun Ini

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun ini akan mulai fokus menjalankan program ekspedisi biodiversitas terestrial di Pulau Kalimantan untuk menemukan spesies atau taksa baru

    Program ekspedisi yang dilakukan BRIN di Kalimantan ini diharapkan dapat meningkatkan koleksi biodiversitas Indonesia.

    Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Bayu Adjie mengatakan alasan fokus ekspedisi itu di Kalimantan karena selama ini temuan taksa baru dari pulau tersebut masih sangat sedikit.

    “Kita punya pulau terbesar Kalimantan yang ternyata masih sangat jarang riset-riset biodiversitas di situ, bukannya tidak ada, tetapi relatif jarang, sehingga penemuan-penemuan jenis baru dari Kalimantan tidak banyak,” ujarnya di Jakarta, Rabu (28/2/2024).

    Baca: Mengenal biodiversitas Tanah Papua

    Bayu Adji mengatakan, dalam tiga sampai lima tahun ke depan pihaknya akan fokus untuk mengeksplorasi biodiversitas di Kalimantan.

    Ia mengatakan, selama ini riset spesies paling banyak dilakukan di Pulau Jawa yang telah dimulai sejak zaman kolonial, lalu riset di Garis Wallace.

    Garis Wallace yang mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua menarik minat para peneliti di seluruh dunia karena wilayah itu adalah garis perbatasan Asia dan Australia yang membuat biodiversitas di sana tampak unik.

    Menurut Bayu, dari data-data riset Belanda sampai sekarang ekspedisi ke Pulau Kalimantan tergolong sedikit hanya 1 sampai 2 ekspedisi saja sepanjang tahun.

    Baca: KLHK temukan spesies baru di Papua

    Selama tiga sampai lima tahun ke depan, BRIN akan membuat platform, menempatkan orang-orang (periset), dan merekrut pascasarjana untuk bergabung ke dalam ekspedisi biodiversitas terestrial di Pulau Kalimantan.
    ​​​​​
    “Kami ingin mencetak sebanyak mungkin taksonom-taksonom baru,” kata Bayu.

    Pada tahun 2023, BRIN berhasil menemukan 49 taksa baru dengan komposisi 96 persen spesies baru merupakan spesimen asal Indonesia.

    Jumlah taksa yang ditemukan di Kalimantan hanya 2 jenis. Adapun spesies terbanyak berasal dari Sulawesi mencapai 18 taksa, Papua sebanyak 7 taksa, dan Kepulauan Natuna 5 taksa.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Dilansir wikipedia, suatu takson (jamak: taksa) adalah pengelompokan makhluk hidup dengan makhluk hidup lain yang serupa yang diberi nama secara ilmiah, suatu kumpulan yang mencakup mahluk-makhluk hidup tertentu 

    Pada tahun 2024, BRIN menargetkan penemuan 50 taksa baru. Ekspedisi terbesar pencarian taksa baru tahun ini dilakukan di Pulau Kalimantan dengan jumlah mencapai 19 ekspedisi.

    “Setelah kami telusuri berbagai macam literatur ternyata penemuan-penemuan jenis baru di Kalimantan minim sekali,” kata Bayu.

    “Dengan ekspedisi, kami akan terus menambah koleksi-koleksi kami. Kenapa itu penting? itu adalah semacam dokumentasi kami. Itu penting untuk riset-riset taksonomi,” pungkasnya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    7cloud.asia =  Penemuan 49 spesies atau taksa baru pada tahun 2023, adalah bukti bahwa tanah Indonesia sangat kaya dan menjadi “surga” bagi penelitian biodiversitas atau keanekaragamanhayati. 

    Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Bayu Adjie mengatakan bahwa pengungkapan biodiversitas Nusantara, khususnya melalui penemuan spesies baru, menjadi salah satu prioritas utama BRIN.

    Meskipun hanya sebagian kecil dari cakupan riset biosistematika dan evolusi, penemuan jenis baru memiliki dampak besar dalam asesmen biodiversitas serta menarik perhatian publik dan media massa.

    Untuk itu, BRIN menarget jumlah penemuan spesies baru setiap tahunnya. Tahun 2024, BRIN menargetkan penemuan 50 jenis baru, termasuk dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme.

    Dalam mendukung upaya itu, berbagai skema pendanaan diluncurkan, seperti Rumah Program dan Riset dan Inovasi Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi.

    “Kami saat ini sedang mempersiapkan RIIM Invitasi Strategis Ekspedisi Biodiversitas Terestrial yang akan difokuskan di pulau Kalimantan,” ujar Bayu  seperti dilansir di laman resmi BRIN.

    Baca: BRIN luncurkan ekpedisi untuk eksplorasi keragaman biodiversitas di Kalimantan

    Menurut Bayu, sekitar 96 persen dari spesies baru yang ditemukan merupakan spesimen asal Indonesia.

    Ini terjadi karena fokus penelitian yang kuat pada spesies-spesies di Indonesia, yang terkenal dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya yang luar biasa.

    Meskipun sudah dieksplorasi sejak zaman kolonial, masih banyak yang belum terungkap di negeri ini, karena luasnya wilayah Indonesia dengan beragam ekosistem yang menjadi tempat penelitian biodiversitas.

    Lebih jauh, Bayu menjelaskan bahwa Indonesia demikian luas, terestrial maupun akuatik. Dengan demikian banyak tipe ekosistem, pulau-pulau, menjadi surga bagi penelitian biodiversitas.

    Menurutnya, negara-negara maju, rata-rata memiliki keanekaragaman hayati yang relatif rendah. Dengan SDM periset, anggaran dan infrastruktur yang maju bisa dianggap riset biodiversitas selesai di negaranya.

    Baca: Mengenal biodiversitas tanah Papua

    Sehingga mereka mengincar negara-negara dengan biodiversitas tinggi yang kebanyakan adalah negara berkembang untuk bekerja sama dalam riset biodiversitas.

    Untuk riset biodiversitas ini BRIN menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri, seperti lembaga riset, universitas, dan NGO.

    “Kolaborasi menjadi kunci untuk mengatasi kendala-kendala seperti SDM, anggaran, dan infrastruktur dalam riset biodiversitas,” tandas Bayu.

    Di sisi lain, setelah penemuan spesies tersebut, Bayu menjelaskan langkah selanjutnya yang dilakukan oleh BRIN adalah melakukan identifikasi dan studi lebih lanjut terhadap spesies baru tersebut.

    Hal ini meliputi studi biologinya, pemanfaatan atau bioprospeksi, serta upaya konservasi jika diperlukan.

    Baca: KLHK temukan spesies baru dari hutan Indonesia 

    Penemuan jenis baru membuka potensi baru dalam pemahaman kita akan keanekaragaman hayati dan mendesak perlunya perlindungan dan pelestarian spesies-spesies tersebut mengingat berbagai ancaman yang mereka hadapi.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Amir Hamidy menjelaskan proses pencarian dan identifikasi 49 taksa baru yang baru-baru ini diumumkan.

    Penemuan itu melalui serangkaian eksplorasi sebelumnya dan validasi spesimen yang ada, peneliti BRIN berhasil mengungkapkan keberadaan taksa-taksa baru yang mengagumkan.

    Dalam menentukan apakah sebuah taksa atau spesies merupakan taksa baru, Amir menekankan beberapa kriteria utama, termasuk karakter morfologi, molekuler, fisiologi, dan ekologi.

    “Pengamatan mendalam terhadap ciri-ciri ini membantu para peneliti dalam mengklasifikasikan dan mengidentifikasi spesies baru dengan akurat,” ungkapnya.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Waktu yang dibutuhkan untuk menentukan sebuah spesies baru sangat bervariasi, bisa kurang dari satu tahun atau bahkan lebih dari 30 tahun.

    Hal ini tergantung pada sejauh mana penelitian manusia telah mempelajari taksa atau spesies tersebut.

    Amir menerangkan dalam proses identifikasi, metode DNA Barcoding menjadi alat yang sangat berguna. Dengan menggunakan data sekuen DNA terkait, peneliti dapat dengan cepat membandingkan dan mem-validasi keberadaan spesies baru.

    Amir juga membagikan pengalamannya yang berkesan dalam penelitian dan eksplorasi biodiversitas di Indonesia.

    Menurutnya, setiap pengamatan menawarkan keunikan dan kekayaan keanekaragaman alam Nusantara yang memukau para peneliti.

  • Kelas Biodiversitas Belantara Foundation Manfaatkan Taman Kota sebagai Laboratorium Keanekaragaman Hayati

    Kelas Biodiversitas Belantara Foundation Manfaatkan Taman Kota sebagai Laboratorium Keanekaragaman Hayati

    7cloud.asia – Bertempat di Taman Heulang, Kelurahan Tanah Sareal, Kecamatan Tanah Sareal, Bogor Belantara Foundation menggelar peningkatan kapasitas generasi muda dalam mendata dan mengidentifikasi biodiversitas di lingkungan urban.

    Kegiatan yang dikemas dalam Belantara Biodiversity Class pada Sabtu (18/5/2024)  ini difokuskan untuk mengidentifikasi tumbuhan, kupu-kupu dan burung.

    Belantara Biodiversity Class ini digelar dengan bekerja sama dengan Prodi Biologi FMIPA, LPPM dan Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, komunitas KupuKita dan IUCN Indonesia Species Specialist Group (IdSSG).

    Belantara Biodiversity Class merupakan salah satu rangkaian kegiatan Biodiversitas Kini dan Nanti yang diselenggarakan guna memeriahkan World Species Congress 2024 dari IUCN program Reverse the Red yang diadakan pada 15 Mei lalu.

    Selain itu, Belantara Biodiversity Class juga dalam rangka menyambut hari keanekaragaman hayati internasional 2024 yang diperingati pada 22 Mei setiap tahunnya.

    Baca Juga: Pengamatan Belantara Foundation Temukan Tiga Burung Langka di Lapangan Banteng

    Tujuan utama Belantara Biodiversity Class adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan biodiversitas yang ada di sekitar khususnya di kawasan perkotaan.

    Kegiatan ini sekaligus untuk mendata dan mengidentifikasi potensi biodiversitas seperti tumbuhan, kupu-kupu dan burung yang ada di Taman Heulang.

    Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan 15 jenis burung dan 16 jenis kupu-kupu.

    Dari 15 jenis burung yang berhasil diidentifikasi, terdapat satu jenis burung, yaitu burung kipasan belang (Rhipidura javanica) yang masuk ke dalam kategori burung yang dilindungi oleh Permen LHK No.106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

    Berdasarkan status keterancaman, terdapat satu jenis burung, yaitu burung kacamata biasa (Zosterops melanurus) masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang berstatus rentan terhadap kepunahan atau Vulnerable (VU).

     

    Baca Juga: Jelang Hari Keanekaragaman Hayati: Lebih dari 44.000 Spesies Terancam Punah dari Muka Bumi.

    Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan bahwa Taman Heulang dipilih menjadi lokasi kegiatan karena merupakan taman terluas yang ada di Kota Bogor.

    Taman Heulang memiliki luas lebih kurang 2,8 hektare yang awalnya hanya dijadikan sebagai lapangan bola dan tidak terurus.

    Pemerintah Kota Bogor merevitalisasi lapangan tersebut menjadi sebuah taman pada 2015.

    Kini Taman Heulang punya potensi biodiversitas seperti jenis-jenis tumbuhan, burung dan kupu-kupu sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

    Dolly yang juga​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN menambahkan, keberadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan seperti Taman Heulang ini dapat dijadikan sebagai laboratorium alam.

    Baca Juga: Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    Di sini warga dapat menimba ilmu bagi pelajar khususnya bidang biologi terkait biodiversitas atau keanekaragaman hayati.

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni, dkk. pada 2018 yaitu terdapat setidaknya 17 jenis burung yang berhasil dijumpai di Taman Heulang.

    Data tersebut perlu dilakukan pemutakhiran setiap waktu untuk mengetahui apakah terjadi perubahan terhadap keberadaan jumlah jenis burung tersebut.

    Satwa liar seperti kupu-kupu dan burung memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistem. Misalnya, kupu-kupu berperan penting sebagai pollinator, yaitu agen penyerbuk alami bagi bunga.

    Burung dapat membantu dalam penyebaran biji (seeds dispersal) dan pengendali hama (biokontrol).

    Baca Juga: Taman Nasional Ujung Kulon dan Upaya Pelestarian Macan Tutul Jawa

    Selain itu, kupu-kupu dan burung dapat menjadi indikator baik atau tidaknya kualitas lingkungan (bioindikator).

    Sementara, pendiri komunitas KupuKita, Nurul L. Winarni mengajak dan mendorong masyarakat terutama generasi muda untuk terlibat dalam pendataan kupu-kupu yang ada di sekitar mereka.

    “Kami terus mendorong gerakan citizen science kupu-kupu, Sebuah kegiatan kerja ilmiah yang dilakukan masyarakat secara menyenangkan dengan dampingan ilmuwan profesional atau lembaga ilmiah” kata Nurul yang juga sebagai Head of Service and Development/Research Scientist Research Center for Climate Change Universitas Indonesia.

     

  • BRIN Gandeng Universitas Tanjungpura Ungkap Keanekaragaman Hayati Hutan Hujan Tropis dan Lahan Basah Kalbar

    BRIN Gandeng Universitas Tanjungpura Ungkap Keanekaragaman Hayati Hutan Hujan Tropis dan Lahan Basah Kalbar

    7cloud.asia – Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia dan salah satu pusat kehati tertinggi, Kalimantan (Borneo) menjadi magnet bagi penelitian keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

    Sayangnya, eksplorasi keanekaragaman hayati di Kalimantan masih kurang tergarap secara optimal (underexplored).

    Mengatasi kondisi ini, Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, Arif Nurkanto mengatakan pentingnya karja sama berbagai pihak terkait dengan keanekaragaman hayati.

    BRIN, ujarnya, menjalin kolaborasi dengan Universitas Tanjungpura (Untan). Kolaborasi ini melibatkan dua fakultas di Untan dalam kerangka riset bersama keanekaragaman hayati (kehati).

    Kerja sama BRIN dengan Fakultas Kehutanan dan MIPA Untan diharapkan akan mengeksplorasi dan mengungkap keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis dan lahan basah Kalimantan Barat (Kalbar).

    Baca: 11.000 hektare hutan mangrove di Berau dalam kondisi rusak

    Kerja sama ini menurutnya menjadi langkah strategis dalam mendukung riset keanekaragaman hayati di Kalimantan khususnya di Kalimantan Barat yang merupakan salah satu jantung dari hotspot biodiversitas dunia.

    “Hingga saat ini, kegiatan riset dan penemuan ilmiah di wilayah tersebut masih sangat terbatas. Sehingga, diperlukan upaya kolaboratif melalui ekspedisi ilmiah bersama yang melibatkan berbagai pihak,” ujar Arif, di Aula Bungur, Untan, Kalimantan Barat Selasa, (6/5/2025).

    Melalui kerja sama ini, diharapkan tidak hanya menghasilkan temuan-temuan penting dalam bidang biodiversitas, tetapi juga turut mencetak generasi muda berbakat dari Untan sebagai salah satu tuan rumah kawasan biodiversitas Kalimantan untuk menjadi taksonom andal di masa depan.

    Menurut Arif, keberadaan mereka akan mengisi kebutuhan pakar taksonomi Indonesia yang saat ini masih minim.

    Baca: Membangun ‘big data’ keanekaragaman hayati Indonesia

    “Harapan saya, mahasiswa dari Untan ini dapat menjadi calon-calon taksonom, baik di BRIN maupun di tempat lain. Kontribusi mereka kelak akan sangat penting dalam memperkuat kapasitas nasional dalam mempelajari dan melestarikan kehati Indonesia,” ujar Arif.

    Kerja sama ini untuk mendukung program Ekspedisi Biodiversitas Terestrial yang akan dilaksanakan pada 2025 hingga 2027 di Kalbar.

    Pada kesempatan ini, dua Peneliti PRBE BRIN, Bayu Adjie dan Amir Hamidy menyampaikan kuliah umum tentang “Pendekatan Ilmiah dan Kebijakan dalam Pengelolaan Kehati: dari Biosistematika hingga Regulasi Global”.

    Pada kuliah tersebut, diungkapkan bahwa saat ini terjadi fenomena linnean shortfall, yaitu adanya gap pengetahuan keanekaragaman hayati yang ada di alam dengan keanekaragaman hayati yang sudah dideskripsi atau diungkap.

    Baca: Turunnya populasi lebah mengancam keanekaragaman hayati

  • Mayoritas Biodiversitas Indonesia Berada di Laut, Tetapi Belum Terdata dengan Baik

    Mayoritas Biodiversitas Indonesia Berada di Laut, Tetapi Belum Terdata dengan Baik

    7cloud.asia – Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Budi Setiadi Daryono, mengatakan bahwa persebaran biodiversitas di Indonesia sebagian besar berada di wilayah laut.

    Oleh karena itu, pengumpulan data biodiversitas laut perlu menjadi prioritas utama karena hingga kini data yang tersedia masih terbatas dan belum tergarap secara optimal.

    Menurutnya, pendataan yang komprehensif tidak hanya penting untuk menjaga kelestarian ekosistem laut, tetapi juga untuk mengungkap potensi sumber daya hayati yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

    Kekayaan biodiversitas laut berperan penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan, kesehatan, dan industri.

    Dilansir ugm.ac.id, Budi mengatakan, eksplorasi dan identifikasi biodiversitas laut perlu didukung melalui riset yang berkelanjutan serta kebijakan konservasi yang konsisten.

    “Biodiversitas di laut adalah emas tersembunyi. Jika data sudah lengkap, harus didorong untuk konservasi berkelanjutan dan melihat potensinya yang ke depan dapat bermanfaat bagi pengembangan industri,” ujarnya.

    Baca: Nilai strategis ekosistem kawasan Wallacea untuk keanekaragaman hayati dunia

    Peneliti LIPI Suharsono, dalam bukunya Biodiversitas Laut Indonesia (2014), menyebut kekayaan biodiversitas laut Indonesia tak lepas dari posisi Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua samudera.

    Kondisi ini menciptakan efek semacam bendungan, yang memicu aliran air dari Samudera Pasifik di sisi utara menuju Samudera Hindia di sisi Selatan dan Barat. 

    Arus laut yang mengalir melalui selat-selat sepanjang Bali dan Nusa Tenggara ini berfungsi untuk menyebarkan berbagai anakan biota ke seluruh wilayah perairan Indonesia dan global  

    Penyebaran biota laut di Indonesia juga dipengaruhi oleh pola arus musiman yang dipengaruhi angin muson. Arus musiman ini menjamin adanya penyebaran larva biota laut dari barat ke timur dan sebaliknya.

    Indeks biodiversitas
    Budi memaparkan, saat ini Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) tengah menyusun Indeks Biodiversitas Indonesia termasuk bidiversitas laut.

    Baca: BRIN temukan 51 spesies baru sepanjang 2025

    Selama ini, ujarnya, data biodiversitas Indonesia telah tersedia di berbagai institusi seperti kementerian, lembaga riset, dan perguruan tinggi, namun belum terkelola secara terpadu dan sulit diakses publik.

    “Kolaborasi KOBI bersama UGM, kita mencoba menghimpun dan mengelola data tersebut agar bisa menjadi indeks biodiversitas nasional,” ucapnya.

    Untuk menyusun indeks ini setidakanya ada delapan indikator utama, antara lain sensus populasi spesies, estimasi populasi, kelengkapan populasi, indeks populasi, biomassa, catch per unit effort, serta indikator pendukung lainnya seperti proxies.

    Indikator-indikator ini berperan penting untuk mengetahui kondisi dan perkembangan keanekaragaman hayati dari waktu ke waktu.

    “Data tersebut digunakan untuk melihat status spesies, apakah terancam atau sudah punah. Selain itu, indeks ini juga dapat menunjukkan tren jumlah populasi sehingga dapat diketahui langkah penanganan yang tepat,” tuturnya.

    KOBI hadir untuk menghimpun, mengelola, serta menyusun data tersebut menjadi indeks biodiversitas nasional yang dapat digunakan untuk memantau status dan tren keanekaragaman hayati di Indonesia.

    Ia mengungkapkan, pada rentang tahun 2020 hingga 2024 telah terungkap 16.312 data keanekaragaman hayati yang terdiri dari 1.912 famili, 4.606 genus, dan 7.904 spesies.

    Budi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk melengkapi data keanekaragaman hayati serta menjaga kelestarian ekosistem.

    “Kita berharap data-data biodiversitas yang sudah ada terus dilengkapi, baik melalui data sekunder maupun data primer dari hasil eksplorasi. Negara perlu mensupport para ilmuwan dan pemerhati lingkungan agar kekayaan hayati Indonesia dapat terungkap dan tetap terjaga,” pungkasnya.