BRIN Gandeng Universitas Tanjungpura Ungkap Keanekaragaman Hayati Hutan Hujan Tropis dan Lahan Basah Kalbar

Written by

in

7cloud.asia – Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia dan salah satu pusat kehati tertinggi, Kalimantan (Borneo) menjadi magnet bagi penelitian keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

Sayangnya, eksplorasi keanekaragaman hayati di Kalimantan masih kurang tergarap secara optimal (underexplored).

Mengatasi kondisi ini, Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, Arif Nurkanto mengatakan pentingnya karja sama berbagai pihak terkait dengan keanekaragaman hayati.

BRIN, ujarnya, menjalin kolaborasi dengan Universitas Tanjungpura (Untan). Kolaborasi ini melibatkan dua fakultas di Untan dalam kerangka riset bersama keanekaragaman hayati (kehati).

Kerja sama BRIN dengan Fakultas Kehutanan dan MIPA Untan diharapkan akan mengeksplorasi dan mengungkap keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis dan lahan basah Kalimantan Barat (Kalbar).

Baca: 11.000 hektare hutan mangrove di Berau dalam kondisi rusak

Kerja sama ini menurutnya menjadi langkah strategis dalam mendukung riset keanekaragaman hayati di Kalimantan khususnya di Kalimantan Barat yang merupakan salah satu jantung dari hotspot biodiversitas dunia.

“Hingga saat ini, kegiatan riset dan penemuan ilmiah di wilayah tersebut masih sangat terbatas. Sehingga, diperlukan upaya kolaboratif melalui ekspedisi ilmiah bersama yang melibatkan berbagai pihak,” ujar Arif, di Aula Bungur, Untan, Kalimantan Barat Selasa, (6/5/2025).

Melalui kerja sama ini, diharapkan tidak hanya menghasilkan temuan-temuan penting dalam bidang biodiversitas, tetapi juga turut mencetak generasi muda berbakat dari Untan sebagai salah satu tuan rumah kawasan biodiversitas Kalimantan untuk menjadi taksonom andal di masa depan.

Menurut Arif, keberadaan mereka akan mengisi kebutuhan pakar taksonomi Indonesia yang saat ini masih minim.

Baca: Membangun ‘big data’ keanekaragaman hayati Indonesia

“Harapan saya, mahasiswa dari Untan ini dapat menjadi calon-calon taksonom, baik di BRIN maupun di tempat lain. Kontribusi mereka kelak akan sangat penting dalam memperkuat kapasitas nasional dalam mempelajari dan melestarikan kehati Indonesia,” ujar Arif.

Kerja sama ini untuk mendukung program Ekspedisi Biodiversitas Terestrial yang akan dilaksanakan pada 2025 hingga 2027 di Kalbar.

Pada kesempatan ini, dua Peneliti PRBE BRIN, Bayu Adjie dan Amir Hamidy menyampaikan kuliah umum tentang “Pendekatan Ilmiah dan Kebijakan dalam Pengelolaan Kehati: dari Biosistematika hingga Regulasi Global”.

Pada kuliah tersebut, diungkapkan bahwa saat ini terjadi fenomena linnean shortfall, yaitu adanya gap pengetahuan keanekaragaman hayati yang ada di alam dengan keanekaragaman hayati yang sudah dideskripsi atau diungkap.

Baca: Turunnya populasi lebah mengancam keanekaragaman hayati

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *