Mayoritas Biodiversitas Indonesia Berada di Laut, Tetapi Belum Terdata dengan Baik

Written by

in

7cloud.asia – Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Budi Setiadi Daryono, mengatakan bahwa persebaran biodiversitas di Indonesia sebagian besar berada di wilayah laut.

Oleh karena itu, pengumpulan data biodiversitas laut perlu menjadi prioritas utama karena hingga kini data yang tersedia masih terbatas dan belum tergarap secara optimal.

Menurutnya, pendataan yang komprehensif tidak hanya penting untuk menjaga kelestarian ekosistem laut, tetapi juga untuk mengungkap potensi sumber daya hayati yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Kekayaan biodiversitas laut berperan penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan, kesehatan, dan industri.

Dilansir ugm.ac.id, Budi mengatakan, eksplorasi dan identifikasi biodiversitas laut perlu didukung melalui riset yang berkelanjutan serta kebijakan konservasi yang konsisten.

“Biodiversitas di laut adalah emas tersembunyi. Jika data sudah lengkap, harus didorong untuk konservasi berkelanjutan dan melihat potensinya yang ke depan dapat bermanfaat bagi pengembangan industri,” ujarnya.

Baca: Nilai strategis ekosistem kawasan Wallacea untuk keanekaragaman hayati dunia

Peneliti LIPI Suharsono, dalam bukunya Biodiversitas Laut Indonesia (2014), menyebut kekayaan biodiversitas laut Indonesia tak lepas dari posisi Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua samudera.

Kondisi ini menciptakan efek semacam bendungan, yang memicu aliran air dari Samudera Pasifik di sisi utara menuju Samudera Hindia di sisi Selatan dan Barat. 

Arus laut yang mengalir melalui selat-selat sepanjang Bali dan Nusa Tenggara ini berfungsi untuk menyebarkan berbagai anakan biota ke seluruh wilayah perairan Indonesia dan global  

Penyebaran biota laut di Indonesia juga dipengaruhi oleh pola arus musiman yang dipengaruhi angin muson. Arus musiman ini menjamin adanya penyebaran larva biota laut dari barat ke timur dan sebaliknya.

Indeks biodiversitas
Budi memaparkan, saat ini Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) tengah menyusun Indeks Biodiversitas Indonesia termasuk bidiversitas laut.

Baca: BRIN temukan 51 spesies baru sepanjang 2025

Selama ini, ujarnya, data biodiversitas Indonesia telah tersedia di berbagai institusi seperti kementerian, lembaga riset, dan perguruan tinggi, namun belum terkelola secara terpadu dan sulit diakses publik.

“Kolaborasi KOBI bersama UGM, kita mencoba menghimpun dan mengelola data tersebut agar bisa menjadi indeks biodiversitas nasional,” ucapnya.

Untuk menyusun indeks ini setidakanya ada delapan indikator utama, antara lain sensus populasi spesies, estimasi populasi, kelengkapan populasi, indeks populasi, biomassa, catch per unit effort, serta indikator pendukung lainnya seperti proxies.

Indikator-indikator ini berperan penting untuk mengetahui kondisi dan perkembangan keanekaragaman hayati dari waktu ke waktu.

“Data tersebut digunakan untuk melihat status spesies, apakah terancam atau sudah punah. Selain itu, indeks ini juga dapat menunjukkan tren jumlah populasi sehingga dapat diketahui langkah penanganan yang tepat,” tuturnya.

KOBI hadir untuk menghimpun, mengelola, serta menyusun data tersebut menjadi indeks biodiversitas nasional yang dapat digunakan untuk memantau status dan tren keanekaragaman hayati di Indonesia.

Ia mengungkapkan, pada rentang tahun 2020 hingga 2024 telah terungkap 16.312 data keanekaragaman hayati yang terdiri dari 1.912 famili, 4.606 genus, dan 7.904 spesies.

Budi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk melengkapi data keanekaragaman hayati serta menjaga kelestarian ekosistem.

“Kita berharap data-data biodiversitas yang sudah ada terus dilengkapi, baik melalui data sekunder maupun data primer dari hasil eksplorasi. Negara perlu mensupport para ilmuwan dan pemerhati lingkungan agar kekayaan hayati Indonesia dapat terungkap dan tetap terjaga,” pungkasnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *