Tag: bioetanol

  • Indonesia Bisa Memangkas Emisi dengan Memanfaatkan Limbah Sawit Jadi Bioetanol

    Indonesia Bisa Memangkas Emisi dengan Memanfaatkan Limbah Sawit Jadi Bioetanol

    7cloud.asia – Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia turut menyumbang emisi dari limbah dari perkebunan maupun industri sawit.

    Volume limbah ini tak sedikit. Per ton tandan buah segar (TBS) yang diolah di pabrik minyak sawit akan menghasilkan limbah padat dalam bentuk pelepah sebanyak 0,135 – 0,15 ton dan tandan kosong 0,20 – 0,23 ton.

    Jika mengacu perhitungan tersebut, maka tahun lalu Indonesia menghasilkan 5 – 6,4 juta ton limbah pelepah dan 37,08 – 42,65 juta ton tandan kosong. Angka ini berasal dari produksi minyak sawit pada periode tersebut sebesar 44,5 juta metrik ton.

    Selama ini, sebagian besar limbah padat kelapa sawit hanya dimanfaatkan sebagai pupuk, bahan bakar padat, atau ditimbun di lahan perkebunan. Padahal, setiap kilogram dari timbunan tandan kosong berisiko melepaskan emisi 17,4 kg setara CO2 ke atmosfer..

    Nah, jika seluruh limbah tandan kosong dari produksi sawit 2021, maka emisi yang telah dihasilkan dari limbah tersebut sekitar 6,45 – 7,42 juta ton setara CO2.

    Baca: Plus minus biodiesel berbahan sawit

    Angka tersebut setara dengan dua kali lipat emisi yang dihasilkan dari sektor penerbangan dan maritim Indonesia pada 2016.

    Limbah ini semestinya bisa dimanfaatkan dengan cara yang lebih ramah lingkungan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

    Salah satu opsinya adalah melalui pengolahan limbah menjadi bahan baku pembuatan bioetanol. Material ini dapat dicampurkan ke dalam bensin atau bahkan menggantikannya.

    Penelitian bioetanol dari limbah sawit. Studi terkait pembuatan bioetanol dari tandan kosong sawit dan pelepah sawit telah dilakukan oleh lembaga riset maupun universitas.

    Di Pusat Riset Kimia, Badan Riset dan Inovasi Nasional telah melakukan penelitian mulai dari skala laboratorium maupun pilot project.

    Baca: Minyak sawit, antara isu ketahanan pangan dan isu lingkungan  

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan tim dari Badan Riset Nasional BRIN, penggunaan tandan kosong sawit hasil perlakuan awal sebanyak 250 gram per liter (g/L) akan diperoleh bioetanol sebesar 83,4 g/L.

    Sedangkan untuk 150 g/L pelepah sawit hasil perlakuan awal akan menghasilkan bioetanol sebanyak 59,2 g/L.

    Perlakuan awal dimulai dengan proses pencacahan dan penggilingan. Setelah tahapan tersebut, zat kayu atau lignin dalam limbah sawit dihilangkan melalui proses bertekanan tinggi dan penurunan suhu tinggi dengan larutan alkali (disebut juga alkali explosion).

    Tahapan ini juga bertujuan untuk menghilangkan pengotor dan meningkatkan kandungan selulosa pada limbah padat sawit.

    Tahap produksi bioetanol dari limbah sawit.
    Dalam tahapan inilah potensi bioetanol dari limbah sawit mulai tergambar. Jumlahnya sekitar 0,116 ton per ton tandan kering dan 0,138 ton/ton pelepah sawit.

    Baca: Insentif untuk daerah penghasil oksigen

    Kendati demikian, kandidat bioetanol itu masih harus diproses dalam tahap hidrolisis untuk mengubah selulosa menjadi glukosa.

    Kemudian, glukosa difermentasi untuk diubah menjadi bioetanol. Tahap setelah itu tahap pemurnian melalui proses distilasi dan dehidrasi untuk memperoleh kadar kemurnian bioetanol ≥ 99,5% sesuai standar untuk bahan bakar.

    Perlu ‘pemanis’ tambahan untuk menggalakkan bioetanol
    Sampai saat ini upaya pengembangan bioetanol dari limbah padat sawit masih sebatas penelitian dan tak kunjung dilirik oleh industri.

    Penyebabnya adalah ongkos produksi yang dianggap mahal, sekitar 0,58 US$ atau Rp 8.500 per liter. Harga ini masih lebih mahal dari harga eceran bensin premium (Rp 6.450) maupun pertalite (Rp 7.650) yang dijual PT Pertamina (Persero).

    Pemerintah sebenarnya memiliki program pencampuran 5% bioetanol dalam bensin atau disebut program E5. Program ini semestinya dimulai pada 2020. Sayang, sampai sekarang pelaksanaannya belum menunjukkan titik terang.

    Baca: Potensi Indonesia mendapatkan dana loss n damage

    Pemerintah seharusnya dapat menerapkan dan merealisasikan kebijakan program E5 agar iklim produksi bioetanol terus bertumbuh di tanah air. Indonesia dapat belajar dari Brazil yang sukses mencampurkan 25% etanol ke dalam bensin dalam program E25.

    Berbagai lembaga penelitian maupun universitas juga patut melanjutkan penelitian bioetanol untuk menekan ongkos produksi yang layak secara komersial.

    Harapannya, pemanfaatan bioetanol dapat membantu menekan dampak lingkungan industri kelapa sawit yang selama ini menjadi momok negatif di dunia internasional.

    Penulis: Eka Triwahyuni, Peneliti Pusat Riset Kimia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penulis adalah alumnus program RisetPRO bekerja sama dengan The Conversation Indonesia

  • Membedah Prospek dan Tantangan Proyek Bioetanol di Indonesia

    Membedah Prospek dan Tantangan Proyek Bioetanol di Indonesia

    7cloud.asia – Pada Jumat, 1 November 2024 lalu The Conversation Indonesia (TCID) menggelar diskusi publik bertajuk Bensin Hijau: Akankah Lestari dan Ekonomis?

    Diskusi yang berlangsung di auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini membedah prospek lingkungan dan ekonomi dalam proyek bioetanol presiden baru.

    Diskusi ini merupakan forum multi stakeholder pertama yang kami selenggarakan dengan melibatkan perwakilan pemerintah, peneliti, organisasi masyarakat sipil, akademisi, mahasiswa, asosiasi, hingga industri.

    Dimoderatori oleh Astrid Wibisono, selaku Deputy Director Development & Stakeholder Engagement TCID, beserta seluruh peserta yang hadir untuk bersama-sama meninjau prospek lingkungan dan ekonomi dari penggunaan bioetanol—bahan bakar alternatif yang digadang-gadang menjadi bensin ramah lingkungan masa depan.

    Diskusi juga membahas mengenai tantangan yang akan dihadapi pemerintahan Prabowo Subianto, seperti identifikasi bahan baku potensial, rantai pasok dan proses produksi, juga lokasi pengolahan, serta kebijakan pendukung lainnya.

    Hadir sebagai pemapar, Efendi Manurung (Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi, Kementerian ESDM), Refina Muthia Sundari (peneliti dari Traction Energy Asia), Soemitro Samadikoen (Ketum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia)

    Prabowo memang berambisi untuk menggenjot pengembangan bioetanol sebagai salah satu upaya swasembada energi.

    Bioetanol—yang dibuat dari sumber daya terbarukan dan tersebar di berbagai daerah di tanah air, seperti rumput laut, tebu, dan sorgum—sebetulnya menawarkan alternatif yang lebih bersih dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

    Namun, terdapat sejumlah tantangan ekonomi dalam pengembangan bioetanol karena masih terbatasnya riset serta belum optimalnya pengembangan skala komersial bahan bakar alternatif ini.

    Selain itu, pengembangan bioetanol berpotensi menggunakan banyak lahan sehingga berpeluang menciptakan persoalan lingkungan baru.

    Pentingnya perencanaan yang jelas
    Salah satu hal yang disoroti dalam diskusi ini adalah belum jelasnya peta jalan (roadmap) pemerintah dalam memenuhi target bioetanol.

    Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023, pemerintah menargetkan produksi 1,2 juta kiloliter bioetanol berbahan dasar tebu pada tahun 2030.

    Menanggapi hal ini, Soemitro, mewakili sudut pandang petani, mendorong pemerintah agar segera menyusun peta jalan sebagai basis perencanaan pengembangan bioetanol yang lebih jelas.

    Hal ini juga bertujuan untuk memperjelas partisipasi pemangku kepentingan utama, termasuk petani dan masyarakat lokal.

    “Karena menanam tebu tidak bisa buru-buru. Pemanfaatan tanaman tebu harus disertai dengan pembuatan pabrik. Karena itu, kebijakan ini memerlukan peta, arah strategi, dan pengkajian yang jelas, termasuk kultur alam (tanah untuk ditanami tebu) maupun masyarakat (yang terbiasa bertani),” tegas Soemitro.

    Pemerintah juga perlu menyiapkan upaya ekstra dan investasi yang tidak sedikit, termasuk potensi kegagalan produksi menggunakan tebu.

    Mewakili sudut pandang pemerintah, Efendi menyampaikan sejumlah rencana pengganti ketika pemenuhan target produksi bioetanol berbahan dasar tebu tak terlaksana.

    “Kami akan menyesuaikan strategi dengan mendorong produksi bioetanol dari jenis bahan baku yang lebih dekat dan ekonomis, seperti jagung, limbah batang sawit, dan pohon nipah. Namun, pengembangannya perlu dikaji lebih jauh,” kata Efendi.

  • Diskusi Bioetanol: Diversifikasi Bahan Mentah Jadi Kunci Mengurangi Emisi

    Diskusi Bioetanol: Diversifikasi Bahan Mentah Jadi Kunci Mengurangi Emisi

    7cloud.asia – Pada Jumat, 1 November 2024 lalu The Conversation Indonesia (TCID) menggelar diskusi publik bertajuk Bensin Hijau: Akankah Lestari dan Ekonomis?

    Diskusi yang berlangsung di auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini membedah prospek lingkungan dan ekonomi dalam proyek bioetanol presiden baru.

    Prodita Sabarini, Chief Executive Officer (CEO) The Conversation Indonesia, berharap diskusi publik ini dapat meningkatkan kesadaran publik terkait potensi tanaman tebu maupun bahan nabati lainnya sebagai bahan bakar alternatif.

    Sebagai media berbasis riset, ujarnya, The Conversation Indonesia berkomitmen untuk membuka ruang dialog bermakna yang inklusif untuk memfasilitasi pertukaran ide dan kolaborasi.

    ”Kami berharap diskusi publik ini dapat membantu mengidentifikasi gap riset untuk pengembangan bioetanol dan memicu kolaborasi multisektor untuk pencarian solusi bersama,” ujar Prodita.

    Hasil diskusi ini diharapkan dapat membantu Indonesia menavigasi pengembangan bioetanol yang tak hanya ekonomis, melainkan juga ramah lingkungan.

    Peneliti dari Traction Energy Asia, Refina Muthia Sundari mengungkapkan bahwa rencana pengembangan bioetanol berbasis gula, berisiko menciptakan emisi gas rumah kaca karena adanya penambahan lahan produksi tebu yang berasal dari kawasan hutan.

    Refina menyebutkan bahwa kondisi ini telah dialami Brasil. Jejak emisi terbesar negara ini berasal dari pengembangan bioetanol akibat aktivitas pertanian—seperti alih fungsi lahan dan penggunaan pupuk.

    Adapun jumlahnya mencapai hampir 60 persen dari total jejak emisi bioetanol.

    “Guna mengurangi emisi, Indonesia perlu memanfaatkan bioetanol yang berasal dari limbah, salah satunya cellulosic ethanol yang berasal dari tanaman kelapa sawit dalam negeri,” ujar Refina.

    Namun, lanjutnya, pemerintah perlu menerbitkan terlebih dahulu peraturan yang secara tegas membolehkan penggunaan limbah sebagai bahan baku bioetanol.

    Pemerintah juga perlu menerbitkan insentif khusus untuk membangun sejumlah fasilitas etanol di berbagai daerah

    Refina juga menggarisbawahi pentingnya diversifikasi untuk mengurangi emisi dalam produksi bioetanol.

    “Apabila tidak ada diversifikasi, justru akan semakin menjauhkan Indonesia dari target pengurangan emisi,” tegasnya.

    Selain mendengarkan pemaparan dari para pembicara, diskusi publik ini juga mengundang tanggapan dari para peserta yang hadir dalam sesi tanya jawab.

    Salah seorang penanya asal Merauke, Ewin mengungkapkan kekhawatirannya mengenai bagaimana pemerintah menjamin keberhasilan proyek bioetanol di Merauke, tanpa harus merugikan masyarakat setempat.

    Sementara itu, Amaliyah, dosen dari Universitas Telkom, mengungkapkan berdasarkan riset yang dia lakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan industri sawit di beberapa daerah, Indonesia berpotensi mengembangkan bioetanol dari limbah sawit melalui integrasi fasilitas produksi sistem pengolahan sawit dan limbah pulping.

    “Teknologi ini berpotensi mengembalikan modal pengembangan bioetanol dalam 5 tahun. Tapi, diperlukan keseriusan dari pemerintah untuk pengembangannya. Karena sampai hari ini riset kami belum didengar oleh pemerintah,” ujar Amaliyah.

  • Inovasi Teknologi untuk Kurangi Biaya Produksi Bioetanol Berbasis Limbah

    Inovasi Teknologi untuk Kurangi Biaya Produksi Bioetanol Berbasis Limbah

    7cloud.asia – Pengembangan bioetanol di Tanah Air saat ini masih berfokus pada tanaman pangan seperti sawit dan tebu. Singkong dan jagung juga mulai dibidik sebagai bahan baku.

    Padahal, ada banyak sekali potensi limbah yang bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi bioetanol termasuk limbah sawit, jagung, dan tebu.

    Melansir studi International Council on Clean Transportation (ICCT), potensi produksi etanol dari bahan baku residu sawit mencapai 2 juta kiloliter/tahun. Jika ditambah dengan pengolahan jerami, batang jagung, dan ampas tebu, potensi produksinya bisa mencapai 50 juta kiloliter/tahun.

    Penulis bersama sejumlah rekan peneliti mengkaji penghematan ongkos produksi bioetanol berbasis limbah. Sejumlah studi yang kami lakukan menunjukkan efisiensi pengembangan bioetanol dari limbah bisa dilakukan dengan beberapa inovasi teknologi dalam negeri.

    Mula-mula, kami meneliti cara mengolah limbah aren menjadi bioetanol dengan teknologi biorefinery menggunakan cairan ionik.

    Teknologi ini terbukti sangat efisien dan dilakukan dalam tiga tahap utama:
    1. Perlakuan awal dengan cairan ionik: Cairan ionik adalah senyawa yang keseluruhannya terdiri dari ion-ion dengan titik leleh di bawah 100°C.

    Cairan ionik dapat juga disebut sejenis garam yang tetap berada dalam bentuk cair pada suhu di bawah 100°C.

    Cairan ini berfungsi memecah struktur keras limbah yang mengandung lignoselulosa, sehingga bahan baku lebih mudah diolah menjadi bioetanol.

    2. Sakarifikasi enzimatik: Setelah strukturnya lebih lunak, selulosa (yang merupakan komponen dalam lignoselulosa) diubah menjadi gula sederhana dengan bantuan enzim.

    3. Fermentasi dan distilasi: Gula di fermentasikan menggunakan mikroorganisme untuk menghasilkan etanol.

    Hasil uji coba yang kami temukan dalam riset ini cukup tinggi, dengan konsentrasi etanol mencapai 90,6 g/L dan efisiensi konversi 96 persen. Artinya, hampir semua gula berhasil diubah menjadi bioetanol.

    Simulasi yang saya lakukan bersama sejumlah tim peneliti menggunakan perangkat lunak SuperPro Designer menunjukkan bahwa proses ini dapat menurunkan biaya produksi hingga 30 persen, menjadikannya lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.

    Untuk mempermudah proses pengolahan, kami juga telah merancang sistem hidrolisis terintegrasi dengan membuat tangki dengan sekat bergerak, sehingga pencampuran biomassa lebih efektif.

    Kami juga membuat pengaduk khusus yang bisa menangani limbah yang kental supaya enzim bekerja lebih efektif.

    Selain itu, kami pun merancang sistem kendali pintar yang bisa mengatur kekentalan limbah secara otomatis agar produksi lebih cepat dan efisien.

    Teknologi ini menawarkan fleksibilitas bagi pabrik baru maupun lama. Pabrik lama dapat mengadopsi teknik sakarifikasi Very High Gravity (VHG) tanpa perubahan besar pada infrastruktur, sementara pabrik baru dapat langsung mengintegrasikan desain tangki modern dan sistem kendali pintar sejak awal pembangunan.

    Kesimpulannya, dengan adopsi teknologi inovatif ini, tantangan teknis dalam produksi bioetanol G2 dapat diatasi sehingga menjadi lebih ekonomis dan efisien.

    Biaya produksi bioetanol juga sebenarnya sudah ditekan dengan sendirinya karena bahan baku yang jauh lebih murah dan tersedia melimpah. Jadi, tidak ada alasan untuk sulit mengembangkan bioetanol G2.

    Bioetanol generasi kedua berbasis limbah terbukti lebih menjamin keberlanjutan energi di masa depan. Banyak negara di dunia kini berlomba-lomba mengembangkan bioetanol generasi kedua, bahkan generasi ketiga dari alga.

    Saatnya Indonesia mengambil langkah serupa. Investasi dalam pengembangan bioetanol G2 adalah kunci menuju energi yang lebih hijau dan mandiri. Dukungan kebijakan seperti insentif pajak atau subsidi penelitian bakal mempercepat adopsi teknologi ini.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Dr. Eng. Ir. Amaliyah Rohsari Indah Utami, IPM (Dosen, Telkom University)

  • Mengkaji Produksi Bioetanol Berbasis Limbah

    Mengkaji Produksi Bioetanol Berbasis Limbah

    7cloud.asia – Pengembangan bioetanol di Tanah Air saat ini masih berfokus pada tanaman pangan seperti sawit dan tebu. Singkong dan jagung juga mulai dibidik sebagai bahan baku.

    Padahal, Indonesia memiliki banyak sekali potensi limbah yang bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi bioetanol termasuk limbah sawit, jagung, dan tebu.

    Melansir studi International Council on Clean Transportation (ICCT), potensi produksi etanol dari bahan baku residu sawit mencapai 2 juta kiloliter/tahun.

    Jika ditambah dengan pengolahan jerami, batang jagung, dan ampas tebu, potensi produksinya bisa mencapai 50 juta kiloliter/tahun.

    Pamanfaatan limbah atau bioetanol generasi kedua ini memiliki dua keuntungan sekaligus. Pertama, bioetanol yang dihasilkan lebih ramah lingkungan karena tidak perlu membuka lahan baru.

    Kedua, bahan baku utama tidak bersinggungan dengan pangan, sehingga tidak akan memunculkan konflik baru seperti kasus minyak goreng.

     

    Baca: Diversifikasi bahan mentah bioetanol untuk kurangi emisi

    Tapi sayangnya, sampai saat ini upaya pengembangan bioetanol dari limbah belum bisa menarik minat industri. Salah satu penyebab utamanya adalah ongkos produksi yang mahal.

    Namun, penelitian yang saya lakukan membuktikan bahwa biaya produksi sebenarnya bisa ditekan dengan adopsi teknologi yang tepat.

    Mengapa produksi bioetanol dari limbah perlu ongkos besar?
    Bioetanol generasi kedua (G2) adalah pengembangan dari bioetanol generasi pertama (G1) yang memiliki perbedaan pada bahan baku. Jika bioetanol G1 menggunakan tanaman pangan, bioetanol G2 berbasis selulosa, yang berasal dari limbah tanaman.

    Proses pengolahan bioetanol G2 memang lebih kompleks dibandingkan G1. Bioetanol G1 lebih mudah dibuat karena bahan bakunya, seperti tebu atau jagung, sudah mengandung gula yang bisa langsung di fermentasi (diubah menjadi alkohol oleh mikroorganisme).

    Sementara bioetanol G2 yang berasal dari limbah lebih sulit diolah, karena bahan bakunya seperti jerami, batang, atau kayu tanaman mengandung lignoselulosa—zat yang membuat tanaman kuat dan keras.

    Baca: Memangkas emisi dengan memanfaatkan limbah sawit jadi bioetanol

    Oleh karena itu, sebelum di fermentasi, pengolahan bioetanol dari limbah harus melalui dua langkah tambahan, yakni proses pra-perlakuan (pretreatment) untuk melemahkan struktur lignoselulosa agar lebih mudah dipecah.

    Setelah itu, akan dilanjutkan ke tahap hidrolisis untuk mengubah selulosa (salah satu komponen lignoselulosa) menjadi gula sederhana (glukosa) dengan bantuan enzim selulase.

    Dalam proses hidrolisis inilah beberapa potensi kendala teknis kerap terjadi, misalnya konsentrasi lignin yang tinggi bisa menghambat kerja enzim yang membantu mengubah selulosa menjadi gula.

    Selain itu, durasi proses hidrolisis juga cukup lama. Prosesnya bisa memakan waktu hingga 48 jam, sehingga bisa memperlambat proses produksi.

    Setelah proses hidrolisis selesai, barulah glukosa bisa di fermentasi untuk menghasilkan etanol. Dilanjutkan dengan proses distilasi (memisahkan etanol dari campuran fermentasi), pemurnian etanol, hingga pencampuran dengan bensin atau penggunaan langsung.

    Setiap proses pembuatan bioetanol tentunya membutuhkan teknologi khusus dan tenaga kerja, yang membutuhkan biaya.

    Karena proses yang kompleks, teknologi pengolahan bioetanol berbasis lignoselulosa juga lebih canggih atau satu tahap di atas teknologi generasi pertama dan harganya pasti sedikit lebih mahal.

    Dan saat ini, teknologi maupun enzim yang digunakan untuk pengolahan bioetanol G2 juga masih bergantung pada impor, yang mengakibatkan biaya produksinya tinggi.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Dr. Eng. Ir. Amaliyah Rohsari Indah Utami, IPM (Dosen, Telkom University)

  • Bisakah Kebijakan Biodiesel dan Bioetanol Jadi Solusi Mandiri Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak?

    Bisakah Kebijakan Biodiesel dan Bioetanol Jadi Solusi Mandiri Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak?

     

    7cloud.asia – Di saat banyak negara ketar-ketir karena melonjaknya harga minyak dunia, Indonesia sampai saat ini masih mampu bertahan untuk tidak menaikkan harga BBM dan menjaga stok dalam negeri.

    Sementara banyak negara di belahan dunia lain termasuk negara Asia dan tetangga kita seperti Filipina, Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Sri Lanka, dan Bangladesh sudah menyatakan darurat energi.

    Singapura bahkan terpaksa menaikkan harga BBM untuk menyesuaikan dengan harga minyak internasional.

    Di tengah krisis ini, The Economist menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara di Asia yang memiliki ketahanan energi kuat karena berkah kekayaan sumber daya alam dan berbagai sumber energi terbarukan.

    Namun dari sekian banyak opsi, sumber energi alternatif yang intens dikembangkan di dalam negeri adalah biodiesel dari kelapa sawit. Mulai Juli 2026, Indonesia akan meningkatkan mandatori biodiesel menjadi B50 berkandungan 50 persen solar dan 50 persen minyak sawit.

    Pertanyaannya apakah biodiesel bisa menjadi solusi jitu menggapai kemandirian energi di Indonesia di tengah fluktuasi harga minyak dunia?

    Sejauh apa perkembangan biodiesel nasional?

    Program pengembangan biodiesel bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dan meningkatkan ketahanan energi nasional.

    Produksi biodiesel di Indonesia terus mengalami kenaikan dari 3 juta ton pada 2017 menjadi sekitar 10,5 juta ton pada 2023. Dengan mandatori B40 saat ini, Indonesia berpotensi mengurangi impor solar hingga Rp404,32 triliun.

    Penggunaan biodiesel di Indonesia tidak hanya untuk sektor transportasi saja tapi turut mencakup semua mesin diesel seperti sektor alat dan mesin pertanian, kereta api, kapal laut serta alat dan mesin pertambangan. 

    Dari sisi biaya, ongkos produksi biodiesel dari kelapa sawit sebenarnya lebih mahal ketimbang solar dari minyak bumi.

    Namun selisih biaya produksi selama ini tidak langsung dibebankan kepada masyarakat, sebagian besar ditanggung pemerintah melalui insentif yang dibiayai dari dana pungutan ekspor kelapa sawit (BPDPKS).

    Insentif yang disertai aturan wajib pakai ini membuat pemakaian biodiesel dalam waktu 15 tahun ini mengalami kenaikan hampir 10 kali lipat dari 190 ribu kilo liter menjadi 15,6 juta kilo liter per tahun 2025.

    Realisasi ini sedikit demi sedikit mendekati angka konsumsi BBM nasional per tahun di kisaran 288,85 juta barel atau setara 46 juta kilo liter

    Tetap harus berhadapan dengan fluktuasi harga CPO

    Pemerintah terus meningkatkan campuran biodiesel hingga 50 persen (B50) untuk mengurangi ketergantungan pada minyak fosil. Namun, semakin besar porsi biodiesel, maka semakin banyak pula kebutuhan sawit.

    Akibatnya, permintaan sawit bakal naik, dan harga pun bisa terkerek naik. Di titik ini, pemerintah harus menanggung selisih ongkos produksi yaang semakin besar.

    Kebijakan biodiesel pada dasarnya memiliki risiko besar, karena selalu “ada harga yang harus dibayar” (trade off). Dalam kasus ini, pengembangan biodiesel bisa berpengaruh luas pada ketahanan pangan, mengingat kelapa sawit juga dipakai untuk bahan baku minyak goreng.

    Melansir Index Mundi, harga CPO dari tahun ke tahun bergerak naik turun layaknya minyak mentah. Dalam satu dekade terakhir, harganya melonjak dari 2.300 hingga sempat tembus harga tertinggi di angka 5 ribu ringgit atau senilai Rp8,5-18,5 juta per ton.

    Kenaikan harga ini disebabkan karena peningkatan konsumsi biodiesel dan juga penggunaan produk turunan minyak sawit di masyarakat. Karena berasal dari bahan yang sama, CPO seperti “rebutan dua dapur”: satu untuk energi, satu untuk pangan.

    Tak ayal risiko serupa bakal muncul pada bahan pangan lain seperti tebu, molase, singkong, dan aren yang digunakan sebagai bahan baku bioetanol (bahan campuran minyak sawit ke dalam bahan bakar bensin).

    Diversifikasi energi, bukan hanya biodiesel

    Pemerintah saat ini melakukan revisi terhadap target bauran energi baru terbarukan (EBT) dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengejar target bauran 17-21 persen. Namun realisasi EBT dalam laporan yang diterbitkan pada Januari 2026 baru mencapai 15,75 persen.

    Untuk mencapainya, fokus utama pemerintah pada tahun ini adalah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sampai dengan 100 Giga Watt (GW) dan optimalisasi Bahan Bakar Nabati (BBN) termasuk di dalamnya biodiesel.

    Selain itu penggunaan minyak sawit turut diupayakan melebar dengan penetapan bertahap mandatori E5 yang mencampur 5 persen bioetanol ke dalam bensin.

    Mengingat berbagai risiko di atas, kemandirian energi Indonesia tentu tidak bisa bergantung pada satu atau dua opsi saja. Dengan berbagai potensi sumber energi yang dimiliki Indonesia, diversifikasi energi bisa menjadi jalan menuju kemandirian energi.

    Syaratnya, kebijakan harus konsisten: mulai dari pengembangan riset energi, penguatan industri, hingga subsidi yang tepat sasaran.

    Sebagai negara dengan produksi sawit terbesar dunia, pemerintah tetap tidak boleh lengah terhadap pasokan minyak sawit nasional.

    Pengawasan dan kepastian pasokan terhadap badan usaha perlu ditingkatkan agar pemerintah tidak kecele dari aksi swasta yang lebih memilih mengekspor ketika harga sedang tinggi.

    Pun, dengan potensi risiko dari pasokan berbagai pangan bahan bioetanol. Langkah pemerintah yang menetapkan harga indeks pasar (HIP) dari BBN (Bahan Bakar Nabati) bioetanol perlu dimonitor dan dievaluasi secara berkala agar tidak terjadi kelangkaan pangan untuk dikonsumsi masyarakat.

     

    Anton Agus Setyawan, Profesor Ilmu Manajemen, Universitas Muhammadiyah Surakarta

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.